Skip to main content

Ketika Menjadi Aktivis Adalah Hobi


Tulisan ini pernah dipublikasikan di Pro Aktif Online


Hobi seperti apakah yang cocok untuk para aktivis? Pertanyaan ini muncul ketika saya diminta menulis soal hobi untuk para aktivis untuk laman ini. Saya kira, siapa pun, dari latar belakang apapun, baik aktivis maupun bukan, bisa bebas memilih hobi untuk dijalaninya. Karena hobi adalah pilihan bebas. Ia menjadi aktivitas yang dikerjakan dengan senang hati di waktu luang. Apapun bentuk kegiatannya, selama aktivitas itu bisa memberikan kesenangan bisa disebut hobi. 

Sebelum membicarakan bagaimanakah hobi untuk para aktivis ini, saya akan terlebih dahulu membicarakan soal hobi, terutama yang hobi yang merupakan keterampilan tangan. Selain memberikan kesenangan, aktivitas ini bisa melatih kemampuan motorik dan keahlian dalam membuat sesuatu. Misalnya saja menjahit, merajut, automotif, pertukangan, apapun kegiatan yang membutuhkan keterampilan tangan. 

Banyak orang merasa, aktivitas ini terlalu merepotkan untuk dilakukan, membuang waktu, tenaga, uang dan tidak ada gunanya, karena pekerjaan jauh lebih penting dari kegiatan di waktu luang. Tapi banyak pula yang kemudian justru ketika menekuni hobi, pekerjaan menjadi tidak lagi menarik bahkan seringkali hobi menggantikan pekerjaan. Sebenarnya, tidak harus seekstrem itu. Banyak juga yang kemudian bisa menemukan keseimbangan dari pekerjaan dan hobi di waktu luang. Hobi menjadi penyeimbang, ketika hidup tidak hanya melulu soal pekerjaan.  


Jika ditelisik lebih jauh, hobi bukan sekedar perkara mengisi waktu luang. Ada banyak kesempatan untuk belajar mengaktualisasikan diri lewat kegiatan hobi. Sejak memilih hobi apa yang kita sukai untuk dijalani, itu seperti menemukan sebagian ‘jati diri’. Karena banyak kegiatan hobi yang mencerminkan minat, bakat, karakter serta kepribadian kita. Misalnya, untuk orang yang menyukai aturan, logika dan pengulangan, merajut mungkin cocok untuk dilakukan. Sementara untuk orang yang senang kebebasan dan ekspresi suka-suka, membuat kolase mungkin lebih bisa dinikmatinya. 

Lewat hobi, kita juga belajar membangun ide dan gagasan serta mengeksekusinya menjadi sesuatu yang nyata. Bahkan bukan sekedar eksekusi, karena pada perjalanannya, mencoba dan gagal menjadi hal yang lumrah terjadi. Ketika kita punya ide membuat baju hangat rajutan. Kita akan membayangkan bentuknya, mencari polanya lalu mulai merajutnya. Meski seringkali hasilnya meleset dari yang kita bayangkan. Pilihan alat yang tidak tepatlah, salah memilih bahan dan membaca pola, banyak penyebab yang membuat hasil tidak sesuai harapan. 

Namun bagi orang-orang yang menekuni hobi, harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan ini, tidak membuat patah semangat. Karena ada kecintaan, antusiasme serta loyalitas pada aktivitas seperti ini. Ketika gagal, bukan berarti menyerah, namun jadi semangat untuk mencoba kembali sampai menemukan hasil yang diharapkan. Bahkan seringkali, hasil bukanlah tujuan, namun proses mencoba, gagal lalu berhasil itu yang membuat kegiatan di waktu luang ini menjadi penyeimbang pelipur stres. Lewat hobi, kita bisa mengasah daya tahan kita untuk mencoba terus dan bangkit dari kegagalan. Hal yang seringkali ditemukan, dari proses mencoba terus ini, kita seringkali menemukan cara yang lebih tepat dan efisien ketika mengeksekusi gagasan. Karena ketahanan yang terbangun, memberi kesempatan kepada kita untuk menganalisis dan merevisi kesalahan-kesalahan. 

Hobi juga kerap mengajarkan para pelakunya menghargai jerih payah diri sendiri dari karya sesederhana apapun itu. Karena kita tahu, di balik sebuah hasil yang terlihat sederhana, kerapkali prosesnya tidaklah sederhana bahkan tidak jarang sangatlah rumit. Ketika kita bisa mengapresiasi diri sendiri, tentunya akan lebih mudah bagi kita untuk mengapresiasi karya orang lain. 

Hobi juga membuat kita bisa lebih mengapreasi waktu. Setiap orang memiliki waktu yang sama 24 jam. Tidak ada yang diberi waktu lebih dari itu. Tapi mengapa ada orang yang bisa meluangkan waktu untuk hobi dan tidak? Karena sesungguhnya waktu luang adalah ‘state of mind’, kesadaran dan cara kita memandang waktu itu itu sendiri. Selalu ada yang luang di antara yang penuh, selalu ada jeda di antara waktu yang berhimpitan. Persoalannya ada pada: apakah kita bersedia memanfaatkan jeda dan keluangan itu untuk menjalankan hobi kita?

***

Berkaitan dengan pertanyaan awal di tulisan ini, soal hobi untuk para aktivis, sesungguhnya pertanyaan yang menarik bukan seperti apa kegiatan yang cocok sebagai hobi para aktivis ini. Bayangkan jika aktivisme merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan perubahan sosial dan politik dan dilakukan oleh para aktivis ini dilakukan dengan semangat hobi, mungkin saja hasilnya akan sangat berbeda, ketimbang dilakukan sebagai pekerjaan. 

Bayangkan, upaya-upaya perubahan dilakukan dengan penuh suka cita, dedikasi, rasa cinta, daya tahan untuk tidak menyerah ketika gagal dan tentunya semangat untuk terus mencoba dan menemukan metode yang tepat. Juga ketika perubahan tidak melulu sesuatu yang besar dan hebat. Dengan semangat hobi, upaya-upaya kecil, sederhana dan tampak tidak heroik namun memiliki ketahanan dan konsistensi untuk terus menerus dilakukan, bisa menjadi pondasi kuat dari upaya perubahan itu sendiri. Apalagi di era ketika media sosial menjadi panggung eksistensi yang riuh, perubahan sederhana dalam hening justru sering kehilangan apresiasi. 

Jika untuk mencapai perubahan setiap orang bisa melakukannya dengan caranya masing-masing, itu berarti setiap orang bisa menyebut dirinya sebagai aktivis. Apapun yang kita lakukan pasti memiliki dampak dalam seluruh sendi kehidupan. Dan itu artinya pula, bahwa perubahan bisa dilakukan setiap hari, setiap saat, dalam waktu luang maupun dalam waktu yang penuh, selama ada dalam kesadaran bahwa sekecil apapun yang kita lakukan bisa berkontribusi pada perubahan. 

Jadi jika ditanya hobi seperti apa yang cocok untuk para aktivis? Jawabannya bisa jadi, menjadi aktivis adalah hobi itu sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Hidup di Bandung Dasawarsa 80an - 90an

'Burako alm. jegger bonpis' foto by bapakku
Tiba-tiba saja, Bebeng bertanya: "Hey Len, maneh teh lainna budak SMP 20? Atuh gudang beas?" (hey len, bukankah kamu anak SMP 20? Gudang beras ya?). Aku yang ditanya begitu langsung balik menuding Bebeng " Hah? maneh teh budak 20 oge?" tawaku dan tawa Bebeng meledak. Tiba-tiba saja, aku dan Bebeng (yang setiap hari nongkrong di kantor AJI Bandung alias tetangga kamar tobucil) punya kesamaan sejarah, karena bersekolah di SMP yang sama. SMP yang sama sekali bukan SMP favorit (biasanya SMPN 4 tetangga kami, meledek anak-anak SMPN 20 dengan sebuatan sekolah gudang beras. SMPN 20 ini terletak persis di stasiun Cikudapateh).
Kenangan kami, ternyata ga jauh beda. Tentang: betapa 'beling'nya daerah kami di jaman remaja dulu. Anak-anak SMPN 20 Bandung (Jl. Centeh, Bandung) pasti ga asing dengan daerah-daerah di sekitarnya: Cinta Asih, Samoja, Gang Warta, Cicadas, Cibangkong, Karees, Cibunut, Alani, Kosambi, Babaka…

The Ballad of Jack and Rose

Entah kenapa aku senang sekali mengulang dan mengulang dan mengulang menonton film The Ballad Jack and Rose. Kisah bapak dan anak, hidup di sebuah tempat terpencil dengan idealisme tinggalan jaman hippies, sebagai environmentalis. Sampai akhirnya realitas berkata, “Rose, ayahmu Jack Slavin, sekarat sayang. Kau tak akan hidup selamanya bersamanya. Dia akan mati, dan kau harus terima kenyataan itu.” Yeah right, apakah aku pernah membayangkan bapakku mati? tentu saja tidak. Bahkan Rose sekalipun, meski dikisah itu, Rose tau, kondisi paru-paru Jack sudah sedemikian parahnya. Tapi saat kematian itu datang, rasanya terlalu berat untuk bisa menerima itu. Diriku sendiri, di detik-detik terakhir kematiannya, sulit mempercayai bahwa hal itu terjadi di depan mataku. Kukira, semua anak perempuan yang sangat-sangat sangat menyayangi bapaknya, tak pernah membayangkan bapaknya kan mati suatu hari nanti. Begitu pula sundea temanku, si anak bapak, yang tak bisa membayangkan, bahwa suatu hari nanti dia…

Antares (2004)

* * *

Aku agak surprise ketika alur cerita film ini ternyata seperti Amores Perros, hanya saja dalam tempo yang lebih lambat. Film Austria berbahasa Jerman garapan Gotz Spielman ini, terbagi dalam tiga kisah yang tokoh-tokohnya terhubung dalam ketidak sengajaan.

Bermula dari Eva (Petra Morze), seorang suster yang terjebak dalam kehidupan rutin bersama suaminya dan anak perempuannya. Pertemuan Eva kembali, dengan Thomasz (Andres Patton), mengobarkan kembali affair yang pernah terjalin diantara mereka. Eva menemukan kegairahan baru di antara kejenuhan rumah tangganya. Sampai akhirnya dengan dingin Eva menelepon suaminya dan mengaku bahwa ia memiliki kekasih lain. Respon suaminya saat itu adalah 'mengapa? bukankah rumah tangga kita baik-baik saja?

Kisah kedua, berkisah tentang sonja, seorang pramuniaga yang sangat pencemburu pada kekasihnya. Kisah Sonja ini terhubung dengan kisah Eva, ketika Eva bertemu Sonja di supermarket, dimana Sonja adalah kasir yang melayaninya. Saat itu, konsumen…