Skip to main content

Menjadi Penjilid dan Perjalanan Menemukan Fokus

Playing The Building, foto vitarlenology 2008
Suatu hari, ketika berkunjung untuk pertama kalinya ke markas besar Etsy, di Brooklyn, NYC, tahun 2008, Vanessa Bertonzi yang saat itu bekerja sebagai humasnya Etsy, bertanya padaku "Setelah pulang dari Amerika, apa yang akan kamu lakukan?" Saat itu spontan aku menjawab, "Aku mau jadi desainer stationery." Padahal, aku belum sekalipun punya pengalaman ikut kelas menjilid buku atau hal-hal yang sifatnya mengasah keterampilanku menjilid buku. 

Jawabanku lebih didasarkan pada kesukaanku akan stationery terutama sekali notebook dan alat-alat tulis. Desain Stationery seperti apa yang ingin aku buat, itupun masih kabur. Namun rupanya, jawabanku itu seperti mantra untuk diriku sendiri dan patok yang ditancapkan, bahwa perjalanan fokusku dimulai dari situ. Menemukan kelas book binding di Etsy Lab pada saat itu, seperti terminal awal yang akhirnya membawaku menelusuri ‘book binding’ sebagai fokus yang ingin aku dalami. Pertanyaan atas logika dasar, bagaimanakah menjilid buku itu, terjawab di kelas ini. Aku menemukan bahwa keterampilan inilah yang kucari selama ini.

***

Menemukan fokus atas minat dan keahlian yang aku tekuni, seringkali tidaklah mudah. Perlu melalui masa untuk mencoba keragaman minat terlebih dahulu. Sampai kemudian di satu titik ada kebutuhan untuk mendalami salah satu dari yang banyak itu dan 'menguasai satu keahlian' dan menjadi salah satu yang terbaik di bidangnya. Seiring bertambahnya usia seseorang menjadi semakin mengerucut dan menseleksi keinginannya yang beraneka ragam, karena umur membawa banyak pertimbangan dan tempo hidup yang melambat, membuat kemampuan melakukan banyak sekaligus pun menjadi berkurang. Dari situlah akhirnya setelah kembali dari Amerika tahun 2008, memutuskan untuk fokus mendalami 'book binding (menjilid buku), setelah di tahun-tahun sebelumnya, aku mencoba segala macam keterampilan: mulai merajut, menjahit, cross stitch, makrame dan cetak. 

Kembali ke Indonesia, tantangan lain yang sangat besar adalah: bagaimana menemukan pekerjaan yang sejalan dengan visi dan misi Tobucil yaitu mendukung gerakan literasi di tingkat lokal secara mandiri. Ada beberapa alasan penting yang kemudian menjadi pondasi untuk menemukan fokus itu. Pertama adalah alasan yang cukup personal. Sejak kecil, aku senang sekali menulis buku harian. Bagiku, buku harian adalah teman setia dalam suka dan duka. Menulis buku harian sangat membantuku melalui masa-masa tersulit dalam hidupku dan menjagaku untuk tidak jadi gila. 

Menulis buku harian buatku adalah proses menguraikan keruwetan jalan pikiranku sendiri dan membantuku melihat rekam jejak perjalanan kehidupanku. Selain itu sejak tahun 2002 salah satu pekerjaan yang aku tekuni adalah ‘Toekang Tjetak’ alias mengerjakan berbagai macam pekerjaan cetakan, selain menjadi penulis dan periset lepas. Pekerjaan sebagai ‘toekang tjetak’ ini mengajarkan aku  seluk beluk cetak mencetak benar-benar dari nol. Dari ga tau apapun, sampai akhirnya bisa menghitung ongkos cetak dan mengatur efisiensi bidang cetak. Dan ternyata sejak kecil aku memang punya ketertarikan pada buku bukan saja isinya, tapi juga sebagai hasil karya grafis dan sebagai sebuah bentuk. 

Kedua, aku melihat ada hubungannya dengan visi Tobucil mendukung gerakan literasi. Mengajak orang membiasakan menulis, itu bagian dari gerakan literasi. Dan memulai kebiasaan menulis bisa jadi dari hal yang paling dekat dan personal: menulis buku harian. Dengan menulis buku harian, kita bisa belajar mensistematiskan dan membuat struktur dari cara kita berpikir. Mengasah logika dan mengasah rasa bahasa.  Akhirnya aku mencoba mengerucutkan definisi dari 'menjadi desainer stationery'  buatku adalah memilih untuk menjadi desainer notebook yang kemudian lebih mengerucut lagi adalah menjadi book binder (penjilid buku). 

Mendalami teknik menjilid buku, membuat buku catatan yang 'personal' dan membuat orang mau menuliskan eksplorasi dirinya di situ. Hal ini yang kemudian menjadi misiku ketika menjalani pilihan sebagai penjilid buku. Setelah memutuskan menjadi book binder, itu seperti merumuskan tujuan perjalanan setelah sampai di terminal. 

Mulai mendalami teknik menjilid buku pun, tidak serta merta fokus itu bisa  di capai begitu saja.  Mendalami teknik menjilid buku di Indonesia, sama artinya dengan berjalan di jalan setapak dan awalnya lebih banyak sendirian, karena sedikit sekali orang di negara ini yang tertarik untuk mendalaminya. Hampir tidak ada komunitasnya apalagi tantangan yang bertujuan untuk mengeksplorasi keahilian ini. Internet dan buku-buku kemudian menjadi sumber pengetahuan untuk menggali lebih jauh keterampilan menjilid buku. Mencoba berbagai macam bahan, juga menggabungkan beberapa teknik untuk menemukan teknikku sendiri. Selain itu teman-teman satu minat lebih mudah ditemukan di jejaring sosial lewat internet. Flickr (waktu itu belum muncul instagram) menjadi jejaring sosial yang pada awal-awal mempertemukan aku dengan para penjilid di seluruh dunia dengan karya-karyanya. 

Belakangan instagram dan pinterest, lebih erat lagi memperantarai interaksi untuk saling memperbaharui keahlian masing-masing antar sesama penjilid buku. Pada titik ini, aku menyadari, ketika berusaha untuk fokus di satu bidang tertentu, sesungguhnya kita tidak benar-benar sendiri. Di dunia ini akan selalu ada orang lain yang mencari fokus yang sama. Tantangannya ada pada bagaimana caranya untuk bisa saling menemukan dan setiap orang punya triknya sendiri.

Perjalanan untuk tetap fokus juga seperti memakai sebuah kaca mata minus yang lama-lama ukuran fokusnya berubah. Ketika ukurannya sudah tidak pas lagi, perlu pergi ke dokter mata, untuk menemukan ukuran fokus yang pas dan nyaman untuk dipakai. Begitu pula ketika fokus dengan satu bidang tertentu. Yang membuat fokus tetap nyaman untuk dijalani adalah kemampuan untuk mengetahui ukuran-ukuran dari fokus yang di pilih. Seberapa ukuran yang di gunakan untuk mengecek diri sendiri bahwa kita masih tetap berada pada fokus yang ditentukan. 

Sahabatku si pembalap gadungan, pernah bilang bahwa sebuah pengukuran itu, selalu mempunyai ‘rentang’ yang terdiri dari nilai terendah dan teratas. Karena fokus itu dinamis, ia selalu bergerak menyesuri rentang terendah dan teratasnya. Selama masih ada di dalam rentang itu, berarti masih ada dalam fokus. Tapi ketika tidak berhasil mencapai nilai terendah dari rentang fokus berarti kehilangan fokus. Begitu pun sebaliknya, ketika bisa mendekati nilai teratas dari rentang fokus, berarti benar-benar sedang sangat fokus. Bagaimana cara mengetahui apakah kita sedang ada pada nilai terendah atau teratas dari rentang fokus yang dipilih? Aku biasanya menguji dengan memberi tantangan pada diri sendiri. Misalnya seperti tantangan #14harimenjiliddengancinta yang aku buat di instagramku. Buatku, tantangan seperti ini penting, karena aku perlu melecut diri sendiri untuk terus belajar dan mengeksplorasi keahlianku sendiri. Termasuk menguji apakah aku bisa konsisten selama 14 hari mencoba pola-pola baru?. Makin sering tantangan ini diberikan pada diri sendiri, makin mudah untuk mengetahui apakah fokusku sedang ada pada titik rendah atau titik teratas. 

Hal lain yang aku temukan dari perjalanan menemukan fokus adalah berbagi. Bagiku mengajarkan kembali pengetahuan yang aku dalami, itu seperti merawat kesuburan tanah dimana aku akarku bisa tumbuh dengan baik. Ketika mengajar, ada kesadaran, bahwa aku harus terus belajar. Meski yang diajarkan adalah hal yang sama dan sudah aku kuasai, tapi selalu ada sisi baru yang aku temukan ketika mengajar dan kepercayaan diriku yang bertambah kuat. Jadi ketika ada yang bertanya padaku, ‘apakah kamu tidak takut, orang lain jadi bisa membuat produk yang sama dan kamu jadi punya banyak pesaing?’ aku selalu menjawabnya dengan analogi resep masakan. Ada satu resep masakan yang sama, tapi ketika dimasak oleh seratus orang yang bebeda, rasanya mungkin mirip, tapi nuasanya tetap berbeda. Untuk bidang-bidang yang tidak banyak orang menggelutinya, mengajarkan ilmu yang dimiliki, akan membangun ruang  dan dimana aku tidak lagi berjalan sendirian. Aku jadi punya teman belajar bersama dan itu akan terasa jauh lebih menyenangkan daripada berjalan sendirian.

***

Belajar fokus juga berarti belajar mencinta apa yang dikerjakan dan belajar menemukan keiklasan ketika mengerjakannya. Kesadaran bahwa pekerjaan menjilid buku ini ternyata lebih aku cintai dari pekerjaan yang lain, itu bisa aku buktikan, ketika aku bosan dan hampir putus asa, aku selalu selalu menemukan cara dan semangat baru untuk kembali. 

Comments

Tanti Amelia said…
selalu suka mengunjungi blog ini. Sarat ilmu

Popular posts from this blog

Hidup di Bandung Dasawarsa 80an - 90an

'Burako alm. jegger bonpis' foto by bapakku
Tiba-tiba saja, Bebeng bertanya: "Hey Len, maneh teh lainna budak SMP 20? Atuh gudang beas?" (hey len, bukankah kamu anak SMP 20? Gudang beras ya?). Aku yang ditanya begitu langsung balik menuding Bebeng " Hah? maneh teh budak 20 oge?" tawaku dan tawa Bebeng meledak. Tiba-tiba saja, aku dan Bebeng (yang setiap hari nongkrong di kantor AJI Bandung alias tetangga kamar tobucil) punya kesamaan sejarah, karena bersekolah di SMP yang sama. SMP yang sama sekali bukan SMP favorit (biasanya SMPN 4 tetangga kami, meledek anak-anak SMPN 20 dengan sebuatan sekolah gudang beras. SMPN 20 ini terletak persis di stasiun Cikudapateh).
Kenangan kami, ternyata ga jauh beda. Tentang: betapa 'beling'nya daerah kami di jaman remaja dulu. Anak-anak SMPN 20 Bandung (Jl. Centeh, Bandung) pasti ga asing dengan daerah-daerah di sekitarnya: Cinta Asih, Samoja, Gang Warta, Cicadas, Cibangkong, Karees, Cibunut, Alani, Kosambi, Babaka…

The Ballad of Jack and Rose

Entah kenapa aku senang sekali mengulang dan mengulang dan mengulang menonton film The Ballad Jack and Rose. Kisah bapak dan anak, hidup di sebuah tempat terpencil dengan idealisme tinggalan jaman hippies, sebagai environmentalis. Sampai akhirnya realitas berkata, “Rose, ayahmu Jack Slavin, sekarat sayang. Kau tak akan hidup selamanya bersamanya. Dia akan mati, dan kau harus terima kenyataan itu.” Yeah right, apakah aku pernah membayangkan bapakku mati? tentu saja tidak. Bahkan Rose sekalipun, meski dikisah itu, Rose tau, kondisi paru-paru Jack sudah sedemikian parahnya. Tapi saat kematian itu datang, rasanya terlalu berat untuk bisa menerima itu. Diriku sendiri, di detik-detik terakhir kematiannya, sulit mempercayai bahwa hal itu terjadi di depan mataku. Kukira, semua anak perempuan yang sangat-sangat sangat menyayangi bapaknya, tak pernah membayangkan bapaknya kan mati suatu hari nanti. Begitu pula sundea temanku, si anak bapak, yang tak bisa membayangkan, bahwa suatu hari nanti dia…

Little Children (2006)

****1/2

(kalo akhir-akhir ini aku begitu membabi buta membuat review film, ini dalam rangka festival film akhir tahun yang sudah aku lakukan dalam dua tahun terakhir ini. selama desember ini aku menonton film sebanyak-banyaknya.. yang jelas dokumentasi tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.. heheheh minimal ada usaha bikin review)

Pertama, poster film yang dibintangi Patrick Wilson dan Kate Winslet ini menggodaku untuk menontonnya. Kedua, tentu saja tema perselingkuhan dan drama rumah tangga, selalu menarik untuk cermati. Menambah ilmu dan referensi untuk memahami kehidupan berumah tangga. Itu sebabnya film ini jadi pilihan. Todd Field, sang sutradara, menggarap film ini sebagai gambaran kehidupan rumah tangga moderen kelas menengah di Amerika, tapi kukira cerita ini terjadi juga disini. Brad Adamson (Patrick Wilson), sarjana hukum lulusan Harvard yang gagal jadi pengacara. Akibatnya, dia harus mengambil peran sebagai bapak rumah tangga yang mengurus anak laki-lakinya.Sementara ist…