Monday, October 05, 2015

Menjadi Penjilid dan Perjalanan Menemukan Fokus

Playing The Building, foto vitarlenology 2008
Suatu hari, ketika berkunjung untuk pertama kalinya ke markas besar Etsy, di Brooklyn, NYC, tahun 2008, Vanessa Bertonzi yang saat itu bekerja sebagai humasnya Etsy, bertanya padaku "Setelah pulang dari Amerika, apa yang akan kamu lakukan?" Saat itu spontan aku menjawab, "Aku mau jadi desainer stationery." Padahal, aku belum sekalipun punya pengalaman ikut kelas menjilid buku atau hal-hal yang sifatnya mengasah keterampilanku menjilid buku. 

Jawabanku lebih didasarkan pada kesukaanku akan stationery terutama sekali notebook dan alat-alat tulis. Desain Stationery seperti apa yang ingin aku buat, itupun masih kabur. Namun rupanya, jawabanku itu seperti mantra untuk diriku sendiri dan patok yang ditancapkan, bahwa perjalanan fokusku dimulai dari situ. Menemukan kelas book binding di Etsy Lab pada saat itu, seperti terminal awal yang akhirnya membawaku menelusuri ‘book binding’ sebagai fokus yang ingin aku dalami. Pertanyaan atas logika dasar, bagaimanakah menjilid buku itu, terjawab di kelas ini. Aku menemukan bahwa keterampilan inilah yang kucari selama ini.

***

Menemukan fokus atas minat dan keahlian yang aku tekuni, seringkali tidaklah mudah. Perlu melalui masa untuk mencoba keragaman minat terlebih dahulu. Sampai kemudian di satu titik ada kebutuhan untuk mendalami salah satu dari yang banyak itu dan 'menguasai satu keahlian' dan menjadi salah satu yang terbaik di bidangnya. Seiring bertambahnya usia seseorang menjadi semakin mengerucut dan menseleksi keinginannya yang beraneka ragam, karena umur membawa banyak pertimbangan dan tempo hidup yang melambat, membuat kemampuan melakukan banyak sekaligus pun menjadi berkurang. Dari situlah akhirnya setelah kembali dari Amerika tahun 2008, memutuskan untuk fokus mendalami 'book binding (menjilid buku), setelah di tahun-tahun sebelumnya, aku mencoba segala macam keterampilan: mulai merajut, menjahit, cross stitch, makrame dan cetak. 

Kembali ke Indonesia, tantangan lain yang sangat besar adalah: bagaimana menemukan pekerjaan yang sejalan dengan visi dan misi Tobucil yaitu mendukung gerakan literasi di tingkat lokal secara mandiri. Ada beberapa alasan penting yang kemudian menjadi pondasi untuk menemukan fokus itu. Pertama adalah alasan yang cukup personal. Sejak kecil, aku senang sekali menulis buku harian. Bagiku, buku harian adalah teman setia dalam suka dan duka. Menulis buku harian sangat membantuku melalui masa-masa tersulit dalam hidupku dan menjagaku untuk tidak jadi gila. 

Menulis buku harian buatku adalah proses menguraikan keruwetan jalan pikiranku sendiri dan membantuku melihat rekam jejak perjalanan kehidupanku. Selain itu sejak tahun 2002 salah satu pekerjaan yang aku tekuni adalah ‘Toekang Tjetak’ alias mengerjakan berbagai macam pekerjaan cetakan, selain menjadi penulis dan periset lepas. Pekerjaan sebagai ‘toekang tjetak’ ini mengajarkan aku  seluk beluk cetak mencetak benar-benar dari nol. Dari ga tau apapun, sampai akhirnya bisa menghitung ongkos cetak dan mengatur efisiensi bidang cetak. Dan ternyata sejak kecil aku memang punya ketertarikan pada buku bukan saja isinya, tapi juga sebagai hasil karya grafis dan sebagai sebuah bentuk. 

Kedua, aku melihat ada hubungannya dengan visi Tobucil mendukung gerakan literasi. Mengajak orang membiasakan menulis, itu bagian dari gerakan literasi. Dan memulai kebiasaan menulis bisa jadi dari hal yang paling dekat dan personal: menulis buku harian. Dengan menulis buku harian, kita bisa belajar mensistematiskan dan membuat struktur dari cara kita berpikir. Mengasah logika dan mengasah rasa bahasa.  Akhirnya aku mencoba mengerucutkan definisi dari 'menjadi desainer stationery'  buatku adalah memilih untuk menjadi desainer notebook yang kemudian lebih mengerucut lagi adalah menjadi book binder (penjilid buku). 

Mendalami teknik menjilid buku, membuat buku catatan yang 'personal' dan membuat orang mau menuliskan eksplorasi dirinya di situ. Hal ini yang kemudian menjadi misiku ketika menjalani pilihan sebagai penjilid buku. Setelah memutuskan menjadi book binder, itu seperti merumuskan tujuan perjalanan setelah sampai di terminal. 

Mulai mendalami teknik menjilid buku pun, tidak serta merta fokus itu bisa  di capai begitu saja.  Mendalami teknik menjilid buku di Indonesia, sama artinya dengan berjalan di jalan setapak dan awalnya lebih banyak sendirian, karena sedikit sekali orang di negara ini yang tertarik untuk mendalaminya. Hampir tidak ada komunitasnya apalagi tantangan yang bertujuan untuk mengeksplorasi keahilian ini. Internet dan buku-buku kemudian menjadi sumber pengetahuan untuk menggali lebih jauh keterampilan menjilid buku. Mencoba berbagai macam bahan, juga menggabungkan beberapa teknik untuk menemukan teknikku sendiri. Selain itu teman-teman satu minat lebih mudah ditemukan di jejaring sosial lewat internet. Flickr (waktu itu belum muncul instagram) menjadi jejaring sosial yang pada awal-awal mempertemukan aku dengan para penjilid di seluruh dunia dengan karya-karyanya. 

Belakangan instagram dan pinterest, lebih erat lagi memperantarai interaksi untuk saling memperbaharui keahlian masing-masing antar sesama penjilid buku. Pada titik ini, aku menyadari, ketika berusaha untuk fokus di satu bidang tertentu, sesungguhnya kita tidak benar-benar sendiri. Di dunia ini akan selalu ada orang lain yang mencari fokus yang sama. Tantangannya ada pada bagaimana caranya untuk bisa saling menemukan dan setiap orang punya triknya sendiri.

Perjalanan untuk tetap fokus juga seperti memakai sebuah kaca mata minus yang lama-lama ukuran fokusnya berubah. Ketika ukurannya sudah tidak pas lagi, perlu pergi ke dokter mata, untuk menemukan ukuran fokus yang pas dan nyaman untuk dipakai. Begitu pula ketika fokus dengan satu bidang tertentu. Yang membuat fokus tetap nyaman untuk dijalani adalah kemampuan untuk mengetahui ukuran-ukuran dari fokus yang di pilih. Seberapa ukuran yang di gunakan untuk mengecek diri sendiri bahwa kita masih tetap berada pada fokus yang ditentukan. 

Sahabatku si pembalap gadungan, pernah bilang bahwa sebuah pengukuran itu, selalu mempunyai ‘rentang’ yang terdiri dari nilai terendah dan teratas. Karena fokus itu dinamis, ia selalu bergerak menyesuri rentang terendah dan teratasnya. Selama masih ada di dalam rentang itu, berarti masih ada dalam fokus. Tapi ketika tidak berhasil mencapai nilai terendah dari rentang fokus berarti kehilangan fokus. Begitu pun sebaliknya, ketika bisa mendekati nilai teratas dari rentang fokus, berarti benar-benar sedang sangat fokus. Bagaimana cara mengetahui apakah kita sedang ada pada nilai terendah atau teratas dari rentang fokus yang dipilih? Aku biasanya menguji dengan memberi tantangan pada diri sendiri. Misalnya seperti tantangan #14harimenjiliddengancinta yang aku buat di instagramku. Buatku, tantangan seperti ini penting, karena aku perlu melecut diri sendiri untuk terus belajar dan mengeksplorasi keahlianku sendiri. Termasuk menguji apakah aku bisa konsisten selama 14 hari mencoba pola-pola baru?. Makin sering tantangan ini diberikan pada diri sendiri, makin mudah untuk mengetahui apakah fokusku sedang ada pada titik rendah atau titik teratas. 

Hal lain yang aku temukan dari perjalanan menemukan fokus adalah berbagi. Bagiku mengajarkan kembali pengetahuan yang aku dalami, itu seperti merawat kesuburan tanah dimana aku akarku bisa tumbuh dengan baik. Ketika mengajar, ada kesadaran, bahwa aku harus terus belajar. Meski yang diajarkan adalah hal yang sama dan sudah aku kuasai, tapi selalu ada sisi baru yang aku temukan ketika mengajar dan kepercayaan diriku yang bertambah kuat. Jadi ketika ada yang bertanya padaku, ‘apakah kamu tidak takut, orang lain jadi bisa membuat produk yang sama dan kamu jadi punya banyak pesaing?’ aku selalu menjawabnya dengan analogi resep masakan. Ada satu resep masakan yang sama, tapi ketika dimasak oleh seratus orang yang bebeda, rasanya mungkin mirip, tapi nuasanya tetap berbeda. Untuk bidang-bidang yang tidak banyak orang menggelutinya, mengajarkan ilmu yang dimiliki, akan membangun ruang  dan dimana aku tidak lagi berjalan sendirian. Aku jadi punya teman belajar bersama dan itu akan terasa jauh lebih menyenangkan daripada berjalan sendirian.

***

Belajar fokus juga berarti belajar mencinta apa yang dikerjakan dan belajar menemukan keiklasan ketika mengerjakannya. Kesadaran bahwa pekerjaan menjilid buku ini ternyata lebih aku cintai dari pekerjaan yang lain, itu bisa aku buktikan, ketika aku bosan dan hampir putus asa, aku selalu selalu menemukan cara dan semangat baru untuk kembali. 

Sunday, May 10, 2015

Perjumpaan Cara Pandang Berbeda Dalam 'Kultur Membuat'

Jika dirunut lebih jauh kultur membuat ini, sesungguhnya tidak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan  keseharian sejak dahulu kala. Semua pengetahuan tradisional (di barat dan di timur) dengan teknonologi sederhana, aplikatif dan kebijaksanaan terhadap lingkungan sekitarnya, menciptakan gaya hidup yang seimbang lahir, batin juga dengan lingkungan sekitarnya. Masyarakat tradisional memiliki pengetahuan dan cara untuk menemukan keadilan hidup yang selaras dengan lingkungan. ‘Membuat’ bukan semata-mata memenuhi tuntutan seseorang untuk menjadi ‘produktif’, namun lebih jauh dari itu, ‘membuat’ membangun ideologi dan pemenuhan diri secara spiritual dimana ‘membuat’ memberi perasaan berdaya kepada setiap individu yang melakukannya. Membuat juga menciptakan pemahaman akan proses yang membutuhkan waktu, tolerasi atas kegagalan, juga kesadaran bahwa sesuatu itu tidak bisa diperoleh dengan cara instan. Sikap seperti ini yang menumbukan kemampuan untuk menjaga diri dari keserakahan.

Namun peradaban moderen membawa gaya hidup dan nilai-nilai kemanusiaan kearah yang berbeda.Ketika teknologi dan peradaban manusia bergerak ke fase moderen, teknologi menjadi dominan, menggantikan tenaga manusia, melahirkan komoditas dan kosumenrisme lalu melupakan kebijaksanaan hidup yang selaras dengan lingkungan. Ilmu pengetahuan jadi rezim kekuasaan dan dikuasai oleh para pemilik modal. Ilmu pengetahuan dan teknologi lantas hanya menjadi alat untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dari penyakit sosial masyarakat moderen bernama konsumerisme.  Ketika situasi itu menjadi dominan dalam keseharian, kerinduan ‘spiritual’ dari proses membuat memunculkan kembali semangat untuk ‘membuat’ untuk mengembalikan lagi nilai-nilai diri untuk merasa berdaya.

Di barat, budaya konsumerisme dan keterlepasan hubungan antar manusia yang diambil alih oleh teknologi, memunculkan gerakan subkultur dari orang-orang yang ingin kembali pada  ‘kultur membuat’. Gerakan ini berusaha mengembalikan teknologi dan ilmu pengetahuan pada aplikasi keseharian yang lebih sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Sains yang begitu rumit dan jauh dari jangkauan, berusaha di dekatkan kembali oleh komunitas-komunitas ‘peretas’ untuk dibagikan secara luas kepada masyarakat secara luas. Teknologi informasi dan internet menjadi kendaraan untuk menyebarkan semangat dari kultur membuat ini dan menghubungkan antara satu komunitas dangan komunitas lainnya.

Indonesia sebagai target market terbesar dari teknologi informasi dan internet ini, tentunya tidak terlepas dari target gerakan 'kultur membuat'. Sebagai negara besar dengan kekayaan tradisi dimana gaya hidup tradisional bisa berjalan bersama dengan gaya hidup moderen, 'kultur membuat' yang datang dari semangat moderenitas barat lantas berinteraksi dengan 'kultur membuat' yang telah lama ada dan melekat dalam keseharian hidup masyarakat di Indonesia. Misalnya saja dalam acara Hackteria Festival, bulan April 2014 lalu. Acara ini mencoba mempertemukan komunitas dan invididu dari Eropa, Asia dan Amerika, bertemu, bertukar ilmu dan pengetahuan juga pandangan tentang semangat dari 'kultur membuat' lewat dialog, lokakarya dan perbincangan personal.

Meski tidak mudah, namun upaya membangun jembatan antara 'semangat kultur membuat' yang datang dari barat dan timur perlu terus menerus dilakukan. Kesenjangan moderenitas di Barat dan Timur serta perbedaan filosofis dari kultur membuat itu sendiri, tanpa disadari melahirkan perbedaan definisi yang bisa mementahkan dari tujuan gerakan kultur membuat itu sendiri_ demokratisasi teknologi, sains, ilmu pengetahuan dan mengaplikasikannya dalam keseharian serta membangun gaya hidup yang mandiri dan berkelanjutan.

Selama ini kita seringkali menerima semua itu begitu saja dan sebagaimana adanya (taken for granted), tanpa kesadaran bahwa  ada pengetahuan dan teknologi aplikatif sederhana yang ketika kita kuasai bisa membuat kita merasa berdaya. Bahkan kita seringkali tidak menyadari bahwa pengetahuan dan teknologi dari kultur membuat itu, sesungguhnya telah kita miliki. Tanpa kesadaran itu, seringkali kita justru hanya sekedar mengamini semangat kultur membuat sebagai sesuatu yang datang dari barat dan menihilkan 'kultur membuat' yang telah melekat dalam keseharian kita. Alih-alih membangun kemandirian gaya hidup yang berkelanjutan, kita malah terjajah definisi 'membuat' itu sendiri.

Saya justru merasa jauh lebih beruntung, bahwa di Indonesia gaya hidup tradisional dan moderen bisa hidup bersama-sama dan justru saling melengkapi. Kita justru masih memiliki sumber-sumber pengetahuan dan kebijaksanaan termasuk sumber daya alam untuk hidup lebih baik seperti yang ditawarkan oleh gerakan 'kultur membuat' ini dan membangun kemandirian definisi 'membuat' yang sesuai dengan konteks kehidupan keseharian kita di sini.


(Tulisan ini rencananya akan diterbitkan dalam Kompilasi Esai Hackteria Festival 2014 yang tak kunjung terbit :D  ya sudah tulisan versi belum di edit, diterbitkan di sini). 

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails