Thursday, September 18, 2014

Harga Jargon Kota Kreatif

Tulisan ini dipublikasikan di halaman Teropong Pikiran Rakyat, 7 April 2014. Tulisan yang dipublikasikan di blog ini adalah versi sebelum di edit oleh redaksi. 

" Warga Indonesia yang suka, desain, musik, arsitektur, film, ke Bandung aja, nanti kantornya, sewanya saya murahin, pajaknya saya kurangin, PBBnya saya kurangi, yang penting datang ke Bandung anak-anak muda yang gaul, yang produktif,  karena Bandung ini 2,6 juta, 60%nya di bawah 40 tahun, cuacanya nyaman, jadi berbisnis yang ekonomi kreatif itu  cocok," begitulah 'Jualan' walikota Bandung, Ridwan Kamil di sebuah acara talkshow televisi nasional, baru-baru ini (12/3/2014).

Tahun 2007, British Council menobatkan Bandung sebagai salah satu kota kreatif di Asia. Sejak saat itu jargon Bandung Kota Kreatif menjadi identitas Bandung yang baru. Usaha-usaha yang dirintis komunitas anak muda di pertengahan tahun 90-an, kemudian menjadi sektor andalan dari pengembangan industri dan ekonomi kreatif di Kota Bandung. Kreativitas anak muda ini menjadi ladang ekonomi baru yang seolah-olah tidak akan habis dieksploitasi.

Namun pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari komoditas kreatif anak muda Bandung ini bukanlah tanpa konsekuensi. Masih tertancap dalam ingatan, peristiwa tragis 9 Februari 2008, ketika 10 orang meninggal dalam konser musik di gedung AACC, Bandung. Peristiwa tragis ini merupakan benturan keras dari pergeseran cara melihat kreativitas anak muda Bandung, dari komunitas menjadi komoditas (penulis pernah menuliskan hal ini di Pikiran Rakyat, 18/2/2008 ‘Dari Militansi Ke Komodifikasi’). Ketika di pertengahan 90-an kegiatan konser musik seperti ini diusung dengan semangat kolektivitas, komunalitas dan kemandirian komunitas, satu dekade kemudian kegiatan seperti ini menjadi komoditas ekonomi baru, dimana komunitas pendukungnya dianggap sebagai target pasar oleh para sponsor, benturan sosial dari perubahan karakter yang memakan korban jiwa pun tak bisa dihindari.

"Usaha-usahanya ini kan awalnya muncul dari komunitas musik, clothing-clothing ini awalnya muncul untuk mendukung komunitas musik. Tapi ketika akhirnya berdiri sendiri, si komunitas musiknya sendiri di tinggalkan. Dan ketika usaha ini mengalami penurunan, mereka ramai-ramai mendekati kembali komunitas musik. Akhirnya ikatan yang terbangun ya sebatas sponsorship.  Jadi modelnya hanya bisa endorsment doang, karena usaha ini ga ada keterikatan dengan fans base si komunitas musik. tujuannya hanya menjadikan fans base itu sebagai pasar," ungkap Iit yang mendirikan Omuniuum, toko dan brand di tahun 2003 bersama suaminya Tri Juniantoro. Omuniuum juga menjadi titik distribusi merchandise band, tiket pertunjukan musik dan juga 'konsultan' untuk beberapa band lokal di Bandung.

Usaha yang dibangun oleh komunitas pun bergeser ketika dilihat dalam bingkai yang disebut industri kreatif. Usaha skala komunitas, bergeser menjadi usaha skala industri dengan konsekuensi hukum suplly dan demand. Pasar dan kekuatan kapital mengambil alih kendali. Komunitas lantas menjadi target pasar, hubungan antara anggota komunitas lambat laun menjadi hubungan transaksional ketimbang hubungan saling berbagi. Pola komunikasi dan interaksi di dalam dan antar komunitas pun berubah. Pola interaksi tatap muka, kini lebih banyak diperantarai teknologi dan sosial media. Ruang-ruang pertemuan dan pertukaran ide serta gagasan pun menjadi semakin terbatas. Ada bahasa non verbal yang kemudian hilang. Komunitas pun mengalami pendangkalan makna ketika hanya dilihat dari sebesar apa jumlah pengikut mereka di sosial media. Dan militansi yang menjadi sikap, perlahan-lahan luntur oleh tuntutan pertumbuhan yang kerap kali di nilai dari besaran nilai ekonominya.

 “ Seringkali brand yang merintis dari kecil dengan semangat komunitas, ketika usahanya berkembang dan menjadi besar, sifatnya berubah dan menjadi seperti kemapanan yang dulu pada awalnya mereka lawan.” Jelas Siscarose  yang mendirikan usaha vendor dan brand/merek clothing MoKaw bersama suaminya Danu Purwoko di tahun 2008.

Pertumbuhan diperjelas oleh data yang  dikemukakan Arief Anshory Yusuf dalam artikel opininya di Pikiran Rakyat  (8/1/2014). Dalam tulisan itu Arief mempertanyakan: Kota Bandung (Sebenarnya) Untuk Siapa? Sebuah pertanyaan yang didasarkan pada angka pertumbuhan ekonomi Bandung dalam 5 tahun terakhir sekitar 8% per tahun, namun pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga di Kota Bandung secara riil hanya meningkat 4,1 % saja. Termasuk juga peningkatan jumlah orang miskin di Kota Bandung dari 103.000 menjadi 111.000 orang. Arief membahas ketimpangan angka pertumbuhan dan konsumsi rumah tangga ini karena dua faktor. Pertama karena meningkatnya kepemilikan aset-aset produksi  dan kedua adanya ketimpangan dimana pertumbuhan itu hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

Sebagai contoh, laju peningkatan harga properti di Kota Bandung, banyak dikeluhkan oleh usaha-usaha yang berasal dari komunitas ini. Harga sewa setiap tahun bisa naik sampai 100%. Bahkan kecenderungan yang ada saat ini, pemilik propertilah yang mengendalikan usaha-usaha seperti ini.

Sebagai vendor sekaligus pemilik brand, Siesca menjelaskan bahwa hingar bingar pemberitaan media, Bandung sebagai Kota Kreatif, berdampak pada laju peningkatan harga properti di Bandung. “ Sebenarnya di satu sisi, cukup terbantu dengan pemberitaan di media tentang Bandung Kota Kreatif dan liputan-liputan tentang pertumbuhan distro dan nilai ekonomi dari usaha ini, tapi di sisi lain, ketika itu dibaca oleh pemilik properti, harga sewa toko dan tempat produksi jadi naik berkali-kali lipat karena mereka melihat ini sebagai bisnis yang menguntungkan.  Kalau tempat produksi bisa tetap low profile maksudnya tidak harus di lokasi yang strategis, tapi itu juga harga sewanya selalu mengalami kenaikan, sementara toko yang menjual brand, karena lokasinya mesti strategis, kenaikan harga sewa tempatnya seringkali gila-gilaan dan ga masuk akal. Padahal yang seringkali di diliput pendapatannya sampai ratusan bahkan milyaran rupiah, itu sebetulnya nilai omset bukan keuntungan bersihnya. Jadi ya pemberitaan itu bisa berdampak negatif dan positif juga. Dan sekarang ini kecenderungannya yang jadi pemodal distro itu yang punya tempat dan biasanya bagi hasil."

"Bayangkan jika harga sewa toko kecil saja 150 juta setahun, dan itu bisa naik lagi harganya di tahun berikutnya, mana mampu usaha ini membayarnya. Akhirnya banyak pemilik properti atau vendor dengan modal besar yang bayarin sewanya dan mereka jadi pemilik modal utamanya. Sekarang justru kecenderungnya, vendor yang buka outlet dan bikin brand sendiri. Kalau vendor punya satu jenis kain, semua brand kecenderungannya akan pakai kain yang sama, " Ungkap Tri. "Bahkan ada vendor yang menawarkan produk yang sudah jadi dan tinggal dipasangin brand aja, jadi kreativitas sekarang ini lebih banyak ditentukan oleh vendor yang punya modal besar," tambah Iit.


Konsekuensinya menurut Arief Anshory Yusuf, Kota Bandung dalam 10 sampai 20 tahun ke depan akan mengalami runtuhnya ikatan sosial dan ketimpangan ekonomi ini akan menjadi sumber dari berbagai penyakit sosial dan meningkatnya angka kejahatan. Dan Ini semua akan membuat Bandung semakin tidak nyaman untuk ditinggali.

No comments:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails