Saturday, March 16, 2013

#nepaldiary Chitlang Dan Doa Berterima Ganesh Himal

sunset di Chitlang foto vitarlenology (simin)
Hari baru itu bisa dimulai dari bangun tidur, membuka jendela dan memandang hamparan perbukitan di sebuah daerah pegunungan di Nepal, bernama Chitlang. Hamparan hutan hijau, berpadu  bukit-bukit berundak-undak coklat, dan rumah-rumah tradisional Nepal tersusun rapi diantara undakan bukit, seperti foto pemandangan di kalender. Pada pandangan yang lain, kicau burung-burung lokal bertenger dan berterbangan dari satu pohon peach ke pohon peach yang lain, menari megisi lagu pagi dalam damai dan indahnya Chitlang. Hari menjadi benar-benar baru bagi orang asing sepertiku di tempat yang juga asing untukku. Kebaruan hari yang menambah kosa makna kata bahagia yang bisa datang dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda.

Chitlang, menjadi bagian dari orientasi program volunteer yang menyenagkan, Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari ibukota Nepal, Kathmandu_sekitar 27 KM. Namun jalanan yang harus ditempuh bukanlah jalan yang mudah. Dibutuhkan supir berpengalaman dan benar-benar handsl untuk bisa melintasi jalanan berbatu, tikungan tajam dan tanjakan serta turunan curam untuk bisa sampai di balik gunung dan mencapai Chitlang. Hebatnya, supir-supir jurusan Chitlang ini bisa  mengemudikan kendaraannya, melalui tikungan tajam, menggendalikan kemudi dengan satu tangan dan tangan satunya pegang telepon genggam dan konsetrasi dibagi dua antara memperhatikan jalan sambil sibuk bicara lewat telepon. Semua bisa ia lakukan bersama. LUAR BISA!

Ngomong-ngomong soal telepon genggam, aku sempet degdegan ketika dua orang penumpang orang Nepal yang duduk di sebelahku dari Kuala Lumpur - Kathmandu, tak henti-hentinya bicara lewat telpon genggamnya, bahkan sampai detik-detik saat pesawat akan tinggal landaspun, masih saja sibuk  menelepon, sampai-sampai kru pesawat harus membentak mereka untuk mematikan telponnya.
Dan yang membuatku tegang, mereka ga mematikan telpon genggamnya, hanya menaruhnya di saju dan saat pesawat di udara, sesekali mereka cek inbox smsnya. Waduh!!!! bener-bener bikin keringat
dingin. Kan konyol juga kalau terjadi kecelakaan pesawat karena kebandelan penumpang seperti itu. Amit-amit!

Kembali ke perjalanan Chitlang, setelah sampai ke puncak dan sebelum menuruni lembah ke tempat tujuan, sejauh mata memandang, ketika langit biru jenih, aku bisa memandang jajaran pegunungan Ganesh Himal yang masih rangkaian pegunungan Himalaya. Sebagian dari Ganesh Himal ini, masuk ke wilayah Tibet. Dan ini jadi bahagia yang lain, memandang jajaran Ganesh Himal sambil berdoa: "Ya Tuhan, terima kasih telah Engkau berikan aku kesempatan menatap bagian dari gunung tertinggi di dunia, yang menjadi bukti kuasa dan kebesaranMu, maka izinkan aku menitipkan doa dan kebahagiaanku untuk orang-orang yang aku kasihi. Sampaikan bahagiaku pada mereka, kabulkanlah doa dan harapan mereka, sebagaimana Engkau selalu mengabulkan doa dan harapanku.Amin."

Sampai di balai desa, kelompok sukarelawan dari berbagai negara termasuk aku salah satunya ini, disambut oleh Durga Didi, Amma (ibu) tetua desa yang menyematkan 'tika'  dan bunga selamat datang kepada semua tamu.Tika adalah tanda merah yang di tempelkan di jidat yang terbuat dari beras mentah dengan campuran bubuk berwarna merah. Dalam tradisi Hindu ini 'tika' menjadi semacam tanda pemberkatan sesuai dengan situasi dan kondisi. 'Tika selamat datang, menandakan. bahwa aku dipersilahkan dan diberkati sebagai tamu di Chitlang. Dan 'Tika' ini bukan hanya untuk orang asing saja, turis-turis lokal juga disambut dengan 'tika'.

Durga Didi, menyajikan hidangan makan siang menu khas Nepal: nasi (seperti nasi ketan), tumis sayur semacam saosin, sup yang berupa kuah kental seperti kacang hijau namun gurih, ayam bumbu tomat (perlu diingat sapi adalah binatang suci, tidak mungkin di hidangkan sebagai makanan di Nepal), tak lupa hidangan pencuci mulutnya irisan umbi seperti lobak tapi radanya manis dan renyah seperti bengkoang. Buatku yang ga terlalu suka masakan India, masakan Nepal, meski sangat dipengaruhi oleh makanan India, namun rasanya menurutku lebih 'mild'. Aku menduga-duga, jangan-
jangan karena Nepal lebih nyampur antara budaya Hindu dan Budhanya, jadi makananya juga mungkin yang  bisa diterima oleh lidah Hindu dan Budha, mungkin loh ya, baru dugaan seperti makanan Cina dan makanan peranakan di Indonesia, kan beda banget rasanya karena sudah tercampur pengaruh budaya lain. Dan aku jadi ingat dosen matakuliah Komunikai Antar Budaya, Prof. Dedi Mulyana, salah satu cara untuk bisa beradaptasi dengan cepat dengan budaya baru adalah lewat makanan. Kalau makanannya bisa diterima dengan baik, maka budayanya pun akan lebih mudah kita terima, dan begitu pula sebaliknya.

Daya tarik lain dari Chitlang adalah danau Indra Sarobar. Meski dapat ditempuh dengan kendaraan, namun rute 'trekking' lebih asyik untuk ditempuh. Mendaki bukit, menuruni lembah untuk sampai pada danau dengan latar pemandangan yang cantik, dengan waktu tempuh kurang lebih 45 menit. Danau ini mengingatkanku pada situ patengan atau danau di kawah Gn Galunggung, Tipikal danau di pegunungan. Bedanya danau ini di bendung untuk pembangkit listrik. Sebagian kebutuhan listrik di Nepal dipenuhi lewat pembangkit listrik tenaga air .

Dan rasanya kurang lengkap jika sampai danau Indra Sarobar, tapi tidak berperahu ke seberang dan melindasi danau lewat jembatan gantung yang menghubungkan desa satu dengan lainnya yg terpisah oleh danau. Ujung jembatan langsung terhubung dengan desa. Untuk sampai ke balai pertemuan, aku harus jalan melintasi desa dan berpapasan dengan warga desa. Menyapa mereka dengan sapaan "Namaste" mejadi sopan-santun yang biasa dilakukan ketika saling berpapasan.

Saat matahari perlahan turun dan angin dingin Himalaya menyusup masuk ke pori-pori, keakraban antara sesama sukarelawan pun terbangun, Permainan-permainan yang menghangatkan malam, api unggun keakraban dan cerita-cerita hantu yang justru disambut gelak tawa, membangun rasa bersama bahwa kami: aku dan teman-teman sukarelawan dari belahan dunia yang berbeda ini, datang dengan keinginan yang sama: ingin berbagi.

Saat dingin semakin menggigit dan lelah menyergap, kehangatan rumah Durga Didi menaungi malam di Chitlang yang mungkin hanya ku alami sekali saja sepanjang hidupku. Saat terbangun esok, aku kosa makna baru tentang  kebahagiaan istimewaku yang datang dalam bentuk yang berbeda-beda.

'Indahnya hidupmu..'
'Di bikin indah dong..'
'Hidupku indah oleh hal lain..!'

Ya, hidupmu, hidupku, hidup kita, menyimpan keindahan masing-masing. Berterima pada hidup, lalu temukan keindahannya.

Peace Guest House Katmandhu, 16 Maret 2013



2 comments:

Evi Sri Rezeki said...

berbagi merupakan petualangan yang menyenangkan ^_^

rambutkriwil said...

Danau yang indah, pemandangan yg terasa mendamaikan. Aaaa wish to be there!!!

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails