Wednesday, March 27, 2013

#Nepaldiary Pelajaran Pelayanan di Namaste Children House

perayaan happy holi di Namaste Children House, Pokhara, Nepal foto oleh vitarelnology

Sudah lebih dari seminggu jadi sukarelawan di Namaste Children House di Pokhara, Nepal. Sebagai sukarelawan banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Mulai dari membantu di dapur mempersiapakan apa yang akan dimasak, cuci piring, membantu bocah-bocah itu mandi, bermain bersama, membantu belajar sampai proyek mengecat bangunan lantai dasarnya. Benar-benar pekerjaan yang dilakukan sehari-hari oleh pengasuh, bedanya ini pengasuh paruh waktu yang hanya datang setengah hari dan itu pun hanya selama tiga minggu saja.

Sekitar tujuh puluh anak  tinggal di Namaste Children House. Usia mereka mulai 4 tahun sampai 18 tahun. Namaste menyekolahkan mereka di sekolah swasta dengan pertimbangan kualitasnya lebih baik. Harapannya ketika anak-anak ini lulus nanti bisa meneruskan sekolah atau bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik. Sayangnya kegiatanku sebagai sukarelawan di sini bertepatan dengan saat  ujian kenaikan kelas. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk belajar. Pengelola Namaste cukup disiplin dalam menerapkan waktu belajar. Termasuk juga waktu makan, istirahat, main, semua terjadwal dengan baik. Mungkin hampir mirip dengan sekolah berasrama, bedanya ga ada orang tua tempat mereka kembali. 

Ada dua 'ibu' yang menjadi penanggung jawab rumah (house mother) dan lima orang 'kakak' (didi) yang mengurusi anak-anak ini sehari-hari. Dari mulai urusan rumah tangga sampai urusan pelajaran, seperti layaknya ibu dan kakak yang mengurusi anak dan adik-adik mereka. Kehadiran para sukarelawan ini sangat membantu ibu dan kakak dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari mereka. Bagi para sukarelawan pengalaman ini, justru jadi pengalaman yang istimewa, juga untukku. 

Anak-anak di Namaste Children House sendiri sudah terbiasa dengan kehadiran sukarelawan dari seluruh dunia. Itu sebabnya mereka cukup terbuka menerima kehadiran para sukarelawan. Bagi mereka sukarelawan seperti kunjungan teman baru yang disambut suka cita, namun tidak perlu terlalu dalam, karena pada waktunya tamu-tamu ini akan pergi dan  kembali pada rutinitasnya dan  menyimpan Nepal dan foto-foto mereka sebagai kenangan. 

Lewat IVHQ saja, dua kali dalam sebulan datang rombongan sukarelawan, sebagian tentu saja di tempatkan di Namaste. Tidak sedikit pula sukarelawan yang datang langsung sebagai sukarelawan tanpa melalui organisasi sukarelawan seperti IVHQ (btw, IVHQ ini ga punya program ke Indonesia). Dari uang yang mereka dapat dari sukarelawan, Namaste mengaku bisa menutup biaya pengeluaran untuk staf  yang mencapai 9% dari total pengeluaran mereka. Sebenernyan uang yang dibayarkan ini kembali lagi ke sukarelawan. Karena selama tiga minggu di sini tempat menginap, sarapan dan makan malam ditanggung dari biaya yang aku bayarkan, Sebagian lagi uang tersebut digunakan untuk membantu organisasi tuan rumah. Bagi Nepal, sepertinya kehadiran sukarelawan dari berbagai belahan dunia bisa dikatakan strategis, karena bisa jadi salah satu 'sumber dana sosial' sekaligus sumber tenaga kerja sosial gratisan yang selama ini tidak dapat disediakan oleh pihak pemerintah. 

Tak jarang lewat sukarelawan mereka memperoleh akses ke lembaga donor lain yang bisa membantu keberlangsungan organisasi ini. Tidak sedikit sukarelawan ini kemudian kembali lagi ke Namaste dan membawa sumbangan dan bantuan lain, seperti efek Multi Level Marketing. Dan lagi-lagi Namaste bisa melihat peluang itu dengan baik. Untuk membangun  pusat kegiatan komunitas, setiap orang bisa menyumbangkan 50 euro untuk setiap batu bata yang mereka gunakan untuk membangun pusat komunitas mereka. Setiap nama penyumbang di tulis pada setiap batu bata, sesuai dengan jumlah yang merek sumbangkan. Kemudian batu bata ini akan menjadi dinding pada bangunan utama ruang komunitas yang akan mereka bangun. Salah satu cara sederhana untuk mengapresiasi bentuk dukungan sekecil apapun. Sejauh yang teramati dan aku ga membandingkannya dengan organisasi lain, Namaste ini cukup baik dan terbuka secara manajemen. Kurasa ini juga bagian dari strategi mereka untuk membangun kredibilitas dan kepercayaan dari para pendukungnya.

Dan sepertinya menjadi sukarelawan adalah hal biasa bagi orang-orang di negara maju sana. Mereka menghabiskan waktu liburan sekolah atau kuliahnya, juga mengisi waktu luangnya dengan pergi menjadi sukarelawan. Pengalaman sebagai sukarelawan ini juga menjadi CV penting bagi mereka ketika hendak melanjutkan kuliah atau untuk jenis pekerjaan tertentu. 

Aku melihatnya ini bukan perkara karena mereka berasal dari negara maju, kemudian punya kesempatan untuk melakukan itu, tapi menurutku ini perkara membangun kebiasaan pelayanan terhadap sesama manusia. Kalau dari segi biaya, kelas menengah Indonesia mampu kok membayar biaya sukarelawan seperti ini. Ini perkara mindset aja. Melakukan perjalanan sambil melayani dan mengenal kebudayaan serta kebiasaan tempat lain, kurasa akan jauh lebih bermakna. Mungkin sudah saatnya menjadi sukarelawan masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, apalagi di sekolah-sekolah mahal yang biayanya ga masuk akal. Ga perlu jadi sukarelawan di negeri orang, di negeri sendiri, pergi ke pulau lain selain Jawa atau pergi ke daerah pelosok, ga kalah bermakna.  Setidaknya pengalaman melayani ini jadi penting ketika suatu hari nanti mereka jadi pejabat, mereka tau seperti apa pekerjaan melayani itu. 

Ya, bagiku kadang harus pergi jauh terlebih dahulu mengambil jarak dan menemukan kesadaran ini. 


Wednesday, March 20, 2013

#nepaldiary Sukarelawan Di Negeri Atap Dunia

foto oleh vitarlenology
Salah satu cara melakukan perjalanan dan berinteraksi lebih dengan budaya serta masyarakat setempat adalah menjadi sukarelawan. Banyak organisasi Internasional yang memang mengkhususkan diri mengurusi orang-orang yang tertarik menjadi sukarewalan. Salah satunya adalah International Volunteer HQ (IVHQ) yang bermarkas di New Zeland. 

Didirikan oleh Daniel Radcliffe, sukarelawan yang pernah bergabung dalam Peace Corps. IVHQ didirikan akhir 2006. Daniel ingin membantu calon-calon sukarelawan ini dengan harga terjangkau. Banyak teman di Indonesia menyangka bahwa program seperti ini sukarelawan dibayar, padahal untuk program sukarelawan seperti ini, sukarelawan justru membayar pada organisasi yang akan menjadi tuan rumah mereka. 

Seorang teman yang sering melakukan perjalanan sempat berkomentar, menjadi sukarelawandan membayar itu seperti komersialisasi sukarelawan. Mungkin ada benarnya, tapi kurasa selama menemukan organisasi perantara seperti IVHQ dengan harga yang masuk akal, kurasa sebagai sukarelawan pemula, justru akan terbantu apalagi jika kita belum pernah datang ke negara yang bersangkutan. Salah satu sukarelawan yang sama-sama mengikuti program ini dan memiliki pengalaman mengikuti program serupa dengan organisasi yang berbeda, mengatakan IVHQ cukup murah untuk program sejenis dengan fasilitas yang kurang lebih sama dengan yang diberikan organisasi sejenis. 

Organisasi seperti IVHQ menjadi perantara untuk membantu para sukarelawan ini menuju tempat tujuan  yang dipilih: Afrika, Amerika Selatan, Asia dengan jangka waktu yang juga bisa dipilih mulai dari seminggu sampai enam bulan. Ada organisasi mitra di setiap negara yang akan mengatur dan bertanggung jawab pada keberadaan dan program yang dijalankan oleh relawan,

Seperti yang kulakukan di Nepal. IVHQ memiliki mitra organisasi lokal bernama Hope and Home. Organisasi ini yang bertanggung jawab mengurusiku sejak aku mendarat di Kathmandhu sampai waktu penempatanku. Selama tiga minggu aku di tempatkan di Namaste Orphanage House dan tuan rumahku inilah yang kemudian bertanggung jawab pada keberadaanku sebagai sukarelawan. Setelah program selesai, Namaste akan menyerahkan tanggung jawab keberadaanku kembali pada Hope and Home. 

Sebagai pelancong yang ga terlalu militan dan penikmat perjalanan yang santai :D program seperti ini membebabaskanku dari urusan itenerary dan akomodasi selama keberadaanku di Nepal, semuanya sudah termasuk ke dalam biaya program yang aku bayarkan pada IVHQ. Mulai dari jemputan dari bandara menuju hostel di Katmandhu, perjalanan-perjalanan yang menjadi bagian dari orientasi relawan, akomodasi dan konsumsi selama menjalani program 3 minggu. Aku tinggal menjalani dan di waktu libur, aku masih punya keleluasaan untuk mengekplorasi tempat yang ingin aku kunjungi. Program sukarelawan seperti ini bukan program jalan-jalan estafet dari satu tempat wisata yang satu ke tempat wisata yang lain, bukan. aku lebih punya waktu dan kesempatan untuk mengenal lebih jauh satu sisi kehidupan masyarakat Nepal dalam hal ini aku memilih mengenali dan mengalami lebih jauh kehidupan panti asuhan dan syukurlah aku punya pengalaman sebagai tantenya Akum dan Gendis heheheheh.. pengalaman mengasuh anak-anak dan pekerjaan domestik yang menyertainya sangat membantuku menjalani program sukarelawan ini.

Hal terpenting ketika mengikuti program ini adalah ' berharap seminimal' mungkin. Sebagai relawan aku mesti siap menghadapi situasi seburuk apapun. Memang, organisasi tuan rumah akan berusaha memberikan yang terbaik yang mereka mampu. Namun usaha terbaik mereka kadang belum tentu sesuai dengan apa yag diharapkan. Ketika berharap seminimal mungkin, segala yang didapatkan akan lebih bisa diterima tanpa keluhan. Dan saat menerimanya tanpa keluhan, aku akan lebih bisa menikmati banyak hal yang kualami di sini. 

Himalayan Guest House, Phokara,  20 Maret 2013

Saturday, March 16, 2013

#nepaldiary Chitlang Dan Doa Berterima Ganesh Himal

sunset di Chitlang foto vitarlenology (simin)
Hari baru itu bisa dimulai dari bangun tidur, membuka jendela dan memandang hamparan perbukitan di sebuah daerah pegunungan di Nepal, bernama Chitlang. Hamparan hutan hijau, berpadu  bukit-bukit berundak-undak coklat, dan rumah-rumah tradisional Nepal tersusun rapi diantara undakan bukit, seperti foto pemandangan di kalender. Pada pandangan yang lain, kicau burung-burung lokal bertenger dan berterbangan dari satu pohon peach ke pohon peach yang lain, menari megisi lagu pagi dalam damai dan indahnya Chitlang. Hari menjadi benar-benar baru bagi orang asing sepertiku di tempat yang juga asing untukku. Kebaruan hari yang menambah kosa makna kata bahagia yang bisa datang dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda.

Chitlang, menjadi bagian dari orientasi program volunteer yang menyenagkan, Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari ibukota Nepal, Kathmandu_sekitar 27 KM. Namun jalanan yang harus ditempuh bukanlah jalan yang mudah. Dibutuhkan supir berpengalaman dan benar-benar handsl untuk bisa melintasi jalanan berbatu, tikungan tajam dan tanjakan serta turunan curam untuk bisa sampai di balik gunung dan mencapai Chitlang. Hebatnya, supir-supir jurusan Chitlang ini bisa  mengemudikan kendaraannya, melalui tikungan tajam, menggendalikan kemudi dengan satu tangan dan tangan satunya pegang telepon genggam dan konsetrasi dibagi dua antara memperhatikan jalan sambil sibuk bicara lewat telepon. Semua bisa ia lakukan bersama. LUAR BISA!

Ngomong-ngomong soal telepon genggam, aku sempet degdegan ketika dua orang penumpang orang Nepal yang duduk di sebelahku dari Kuala Lumpur - Kathmandu, tak henti-hentinya bicara lewat telpon genggamnya, bahkan sampai detik-detik saat pesawat akan tinggal landaspun, masih saja sibuk  menelepon, sampai-sampai kru pesawat harus membentak mereka untuk mematikan telponnya.
Dan yang membuatku tegang, mereka ga mematikan telpon genggamnya, hanya menaruhnya di saju dan saat pesawat di udara, sesekali mereka cek inbox smsnya. Waduh!!!! bener-bener bikin keringat
dingin. Kan konyol juga kalau terjadi kecelakaan pesawat karena kebandelan penumpang seperti itu. Amit-amit!

Kembali ke perjalanan Chitlang, setelah sampai ke puncak dan sebelum menuruni lembah ke tempat tujuan, sejauh mata memandang, ketika langit biru jenih, aku bisa memandang jajaran pegunungan Ganesh Himal yang masih rangkaian pegunungan Himalaya. Sebagian dari Ganesh Himal ini, masuk ke wilayah Tibet. Dan ini jadi bahagia yang lain, memandang jajaran Ganesh Himal sambil berdoa: "Ya Tuhan, terima kasih telah Engkau berikan aku kesempatan menatap bagian dari gunung tertinggi di dunia, yang menjadi bukti kuasa dan kebesaranMu, maka izinkan aku menitipkan doa dan kebahagiaanku untuk orang-orang yang aku kasihi. Sampaikan bahagiaku pada mereka, kabulkanlah doa dan harapan mereka, sebagaimana Engkau selalu mengabulkan doa dan harapanku.Amin."

Sampai di balai desa, kelompok sukarelawan dari berbagai negara termasuk aku salah satunya ini, disambut oleh Durga Didi, Amma (ibu) tetua desa yang menyematkan 'tika'  dan bunga selamat datang kepada semua tamu.Tika adalah tanda merah yang di tempelkan di jidat yang terbuat dari beras mentah dengan campuran bubuk berwarna merah. Dalam tradisi Hindu ini 'tika' menjadi semacam tanda pemberkatan sesuai dengan situasi dan kondisi. 'Tika selamat datang, menandakan. bahwa aku dipersilahkan dan diberkati sebagai tamu di Chitlang. Dan 'Tika' ini bukan hanya untuk orang asing saja, turis-turis lokal juga disambut dengan 'tika'.

Durga Didi, menyajikan hidangan makan siang menu khas Nepal: nasi (seperti nasi ketan), tumis sayur semacam saosin, sup yang berupa kuah kental seperti kacang hijau namun gurih, ayam bumbu tomat (perlu diingat sapi adalah binatang suci, tidak mungkin di hidangkan sebagai makanan di Nepal), tak lupa hidangan pencuci mulutnya irisan umbi seperti lobak tapi radanya manis dan renyah seperti bengkoang. Buatku yang ga terlalu suka masakan India, masakan Nepal, meski sangat dipengaruhi oleh makanan India, namun rasanya menurutku lebih 'mild'. Aku menduga-duga, jangan-
jangan karena Nepal lebih nyampur antara budaya Hindu dan Budhanya, jadi makananya juga mungkin yang  bisa diterima oleh lidah Hindu dan Budha, mungkin loh ya, baru dugaan seperti makanan Cina dan makanan peranakan di Indonesia, kan beda banget rasanya karena sudah tercampur pengaruh budaya lain. Dan aku jadi ingat dosen matakuliah Komunikai Antar Budaya, Prof. Dedi Mulyana, salah satu cara untuk bisa beradaptasi dengan cepat dengan budaya baru adalah lewat makanan. Kalau makanannya bisa diterima dengan baik, maka budayanya pun akan lebih mudah kita terima, dan begitu pula sebaliknya.

Daya tarik lain dari Chitlang adalah danau Indra Sarobar. Meski dapat ditempuh dengan kendaraan, namun rute 'trekking' lebih asyik untuk ditempuh. Mendaki bukit, menuruni lembah untuk sampai pada danau dengan latar pemandangan yang cantik, dengan waktu tempuh kurang lebih 45 menit. Danau ini mengingatkanku pada situ patengan atau danau di kawah Gn Galunggung, Tipikal danau di pegunungan. Bedanya danau ini di bendung untuk pembangkit listrik. Sebagian kebutuhan listrik di Nepal dipenuhi lewat pembangkit listrik tenaga air .

Dan rasanya kurang lengkap jika sampai danau Indra Sarobar, tapi tidak berperahu ke seberang dan melindasi danau lewat jembatan gantung yang menghubungkan desa satu dengan lainnya yg terpisah oleh danau. Ujung jembatan langsung terhubung dengan desa. Untuk sampai ke balai pertemuan, aku harus jalan melintasi desa dan berpapasan dengan warga desa. Menyapa mereka dengan sapaan "Namaste" mejadi sopan-santun yang biasa dilakukan ketika saling berpapasan.

Saat matahari perlahan turun dan angin dingin Himalaya menyusup masuk ke pori-pori, keakraban antara sesama sukarelawan pun terbangun, Permainan-permainan yang menghangatkan malam, api unggun keakraban dan cerita-cerita hantu yang justru disambut gelak tawa, membangun rasa bersama bahwa kami: aku dan teman-teman sukarelawan dari belahan dunia yang berbeda ini, datang dengan keinginan yang sama: ingin berbagi.

Saat dingin semakin menggigit dan lelah menyergap, kehangatan rumah Durga Didi menaungi malam di Chitlang yang mungkin hanya ku alami sekali saja sepanjang hidupku. Saat terbangun esok, aku kosa makna baru tentang  kebahagiaan istimewaku yang datang dalam bentuk yang berbeda-beda.

'Indahnya hidupmu..'
'Di bikin indah dong..'
'Hidupku indah oleh hal lain..!'

Ya, hidupmu, hidupku, hidup kita, menyimpan keindahan masing-masing. Berterima pada hidup, lalu temukan keindahannya.

Peace Guest House Katmandhu, 16 Maret 2013



Thursday, March 14, 2013

#nepaldiary Perjalanan Sinkronisasi Diri

foto oleh vitarlenology



Tahun ini dibuka oleh nasehat seorang sahabat tentang sinkronisasi antara rasionalitas dan rasa, hati dan pikiran. Kebetulan lain, Desember lalu, Arumdayu ngajak jalan-jalan ke Nepal. Dalam bayangan kami berdua, biar lebih berguna, sekalian aja mendaftar sebagai sukarelawan. Tapi waktu itu masih wacana. Kebulatan tekad untuk pergi justru muncul setelah obrolan soal sinkronisasi di malam pergantian tahun.

Arum ga jadi pergi. Aku memutuskan tetap pergi dan awal Januari mulai serius mencari informasi soal program sukalawan internasional ini, termasuk juga mencari tiket. Lalu aku menemukan program sukarelawan internasional ini. Aku rasa program ini cocok banget dengan soal sinkronisasi diri. Selain itu membayangkan ulang tahun sambil memandang gunung Himalaya, rasanya itu kok ya gimana gitu, hehehhehe.. (soal membayangkan hal-hal seperti ini yg termasuk kategori ga mungkin tp beberapa tahun kemudian jadi kenyataan, aku selalu ingat sahabatku, Tanto. Dia teman yg asyik banget buat mengkhayal bersama. Bagi kami sungguh membahagiaka ketika apa yg dulu dianggap ga mungkin, ternyata jadi kenyataan). Dan sepertinya semesta mendukung. Banyak pintu terbuka dan tidak disangka-sangka, memudahkan perjalanan ini.

Belajar dari pengalaman perjalanan Asia Tenggara th 2010 lalu, dimana tiga minggu lebih sibuk mikirin dai tempat satu ke tempat lainnya dan hanya sekedar datang dan menikmati pemandangan, rasanya kok kurang berkesan. Makanya program sukarelawan ini bisa menjawab keinginanku untuk lebih berinteraksi bulan hanya dengan tempat tapi  juga dengan masalahnya (ternyata riset lapagan studi etnografi di Sembakung bener-bener menimbulkan ketagihan). Menjadi sukarelawan memungkinkan aku untuk mendapatkan pengalaman etnogtafi  ini kembali tanpa tekanan deadline laporan tentu saja... (colek mas HB hahaha).

Nepal menginspirasiku sejak SD, sejak membaca Kisah Petualangan Tintin Di Tibet. Dan Tintin di Tibet adalah salah satu favoritku di samping Hiu Hiu Laut Merah, karena lebih emosional dan persahabatan Tintin dan kapten Haddock diuji di episode ini. Juga khayalan soal pergi ke Himalaya di masa romantika jaman kuliah dulu ahayyy!!! Dan daripada India, sepertinya Nepal lebih menyenangkan juga. Thanks to Air Asia yg menyediakan rute ke Kathmandu dengan harga terjangkau (pesanan sponsor banget :D). Dan daripada India, Nepal jadi pilihan yang jauh lebih mungkin buatku. Membayangkan India perutku langsung mules dan ga tahan dengan panas dan kepadatannya, meski secara kultur India sangat-sangat menarik. 

Untuk menjalani proses sinkronisasi diri, kurasa prinsip studi etnografi sangat bisa di terapkan. Aku jadi ingat omongan mas Pudjo, seorang dosen antropologi UGM yang pernah bilang, studi etnografi itu prinsipnya seperti prinsip nabo khidir, nabi penjaga air. Lihat saja, jangan dulu banyak bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Lihat, perhatikan dan resapi, karena menurut mas Pudjo itu akan membantu untuk mengerti dan memahami. Pertanyaan yang buru-buru dilontarkan akan menginterupsi proses untuk mendapatkan pengertian itu. Dan kurasa sinkronisasi diri justru akan terlihat ketika aku kembali pulang, kembali ke ruti nitas, kembali pada semua keseharian. Setiap perjalanan itu seperti menambah cara untuk merasakan bahwa setiap hari adalah hari baru.

* tulisan ini terbit atas dukungan 'simin' dan tentu saja pemiliknya yg super legowo itu :)))

Tuesday, March 05, 2013

Kapanpun, Kalau Mau..!

Phnom Penh, foto oleh vitarlenology

"Kamu bisa bahagia kapanpun, kalau mau!"  -Agustinus Wibowo-

Kata-kata ini muncul tak sengaja dari perbincangan bersama  Agustinus saat ia berkunjung ke Bandung. Dan sampai saat ini, kata-katanya itu nempel di kepalaku. Ya, kapanpun, kalau mau. Kalau ga mau? berarti ga akan menemukan kapan yang disebut sebagai 'kapanpun' itu.

Bukankah bahagia itu bisa datang setiap detik bersama dengan setiap hembusan nafas? kebahagiaan-kebahagiaan yang sederhana, tanpa syarat dan pamrih. Namun, jika kebahagiaan itu bisa begitu sederhana, mengapa banyak orang merasa sulit merasa bahagia? Dan mengapa kebahagiaan mesti dipersulit kalau ia bisa datang dengan mudah.

Aku menyakini bahwa kebahagiaan itu selalu datang dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan memang benar ia bisa datang kapanpun. Menjadi 'kebahagiaan' ketika yang datang dan berbeda-beda itu mau aku terima sebagai kebahagiaan. Kalau tidak mau, ya tidak akan terasa sebagai sebuah kebahagiaan. Itu sebabnya sebagian orang bisa merasakan kebahagiaan dari hal-hal sederhana dan sebagian lagi harus lewat kerumitan yang tak tertahankan untuk merasakannya.

Persoalannya, aku seringkali membatasi kapan 'kapanpun' itu bisa datang. Seringkali aku terjebak dalam banyak persyaratan yang aku buat sendiri untuk menentukan waktu yg disebut 'kapanpun' itu. Dan seringkali persyaratan yang menentukan 'kapanpun' memagari kemauanku untuk menerima kebahagiaan. Itu pula sebabnya, mengapa sebagian orang berkata 'Aku bisa bahagia kalau sudah begini dan begitu'.

Pada titik ini, orang bisa saja mendebat, bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya penuh penderitaan sehingga sulit untuk merasa bahagia. Hal ini juga bisa dengan mudah dipatahkan, karena ada orang yang hidupnya penuh penderitaan tapi dia bisa dengan mudah merasakan kebahagiaan. Berarti penderitaan bukan alasan yang bisa menjauhkan diri dengan kebahagiaan. Demikian pula sebaliknya. Apakah ketika hidup dalam kemewahaan, kemudahaan akan membuat orang otomatis jadi bahagia? ternyata tidak. Banyak orang yang hidup bergelimang harta dan segala keinginannya dengan sangat mudah dapat dipenuhi, namun tetap saja sulit menemukan bahagia. Berarti pula, bukan kemudahan dan gelimang harta yang menentukan 'kapanpun' bahagia itu bisa datang.

Dulu aku merasa mungkin bahagia itu memang harus disertai syarat biar terasa rasanya dan harus datang pada waktu yang tepat, biar sahih rasanya sebagai sebuah kebahagiaan. Tapi semakin kesini, aku semakin menyangsikan hal itu, mungkin karena aku merasa sudah cukup dengan sejumlah persyaratan yang telah aku tetapkan sendiri.  Karena ga tau batas maksimal dari persyaratan yang kita tentukan sendiri, alih-alih  menjadi syarat  yang terjadi malah semacam dramatisasi atas nama mencapai kebahagiaan. Ketika aku merasa begitu banyak syarat yang aku upayakan untuk mencapai kebahagiaan, namun yang  ingin dicapai tak kunjung tercapai juga, aku lalu mengutuk diri bahwa kebahagiaan itu sesuatu yang begitu sulit bahkan niscaya. Padahal, kebahagiaan itu bisa tanpa syarat dan mudah saja, seperti menghirup udara segar dan menikmati hembusan angin di daun-daun.

Mungkin persyaratanku untuk menerima kebahagiaan ini terlalu banyak dipengaruhi 'fairy tales' dimana perjuangan, penderitaan, pengorbanan menjadi jalan untuk menebus sebuah kebahagiaan. Mungkin semestinya perjuangan, penderitaan, pengorbanan bukan untuk menebus kebahagiaan, tapi sebagai cara untuk mendalami rasanya. Jika tujuannya untuk menebus, berarti aku tidak merasakan kebahagiaan lalu membutuhkan semua jalan itu, untuk dapat merasakan kebahagiaan. Namun jika aku memilih semua jalan itu untuk mendalami rasa dari kebahagiaan itu, berarti aku sebelumnya sudah merasakan kebahagiaan dan semua jalan penderitaan, pengorbana, akan membuatku semakin paham dengan seluk belum rasa dari kebahagiaan itu.  Bahagia menjadi tanpa syarat. Perjuangan meraihnya adalah kemauanku untuk merasakan kedalaman dan keragaman rasa dari kebahagiaan itu.

Ya, rasanya setiap orang punya standar tertentu dan perlu mencapai standar itu terlebih dahulu untuk   punya kemauan mendapatkan kebahagiaan yang 'kapanpun' itu. Persoalan standar ini, rasanya sangat erat dengan soal bagaimana  aku  menentukan seberapakah cukup itu. Jika sudah berkecukupan, rasanya tidak ada alasan untuk tidak mau menerima kebahagiaan yang bisa datang kapan pun itu..

'

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails