Thursday, February 21, 2013

Pekerjaan Menuju Bahagia

foto oleh vitarlenology


"Hal terbaik di dunia ini adalah sesuatu yang dikerjakan oleh tangan."

Tulisan itu tanpa sengaja kutemukan di sebuah rajutan tangan milik seorang teman. Tentu saja aku membenarkan sekaligus meyakininya. Apalagi setelah beberapa tahun terakhir ini, aku memutuskan untuk fokus dalam urusan pekerjaan tangan ini (baca: sebagai penjilid alias book binder).

Sejak kecil aku membuat mainanku sendiri. Kesenangan ini memang terkondisikan oleh lingkungan keluarga. Ibuku meski bekerja di kantor, ia selalu menjahit sendiri baju untuk anak-anaknya. Sementara bapakku itu hobinya otomotif dan sangat senang mobil tua. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam sampai tengah malam, sepulang kantor hanya untuk mengutak-atik Opel Rekord Olympia tahun 1954nya itu. Selain terkondisikan, karena kedua orang tuaku bukan orang tua yang cukup berlebihan untuk membelikan mainan atau kesukaan anak-anaknya. Bapak lebih senang membelikan buku cara membuat atau buku aneka percobaan-percobaan daripada mainan terbaru. Saat masih kanak-kanak, kondisi ini adalah terasa sebagai penderitaan. Karena membuat mainan sendiri menjadi desakan keadaan meski lama-lama jadi kebiasaan yang mulai bisa dinikmati bahkan menjadi kemewahan di saat dewasa, karena keleluasaan untuk mencoba dan bereksplorasi sejak kecil, tidak semua anak bisa mendapatkannya.

Mungkin memang sudah tertulis di garis tanganku, bahwa pekerjaanku tak akan pernah lepas dari pekerjaan tangan. Meksi banyak pekerjaan pernah aku coba dari yang ga pake mikir sampai yang harus bener-bener mikir karena mengerjakan penelitian. Namun rupanya, selalu ada yang kurang ketika apa yang kukerjakan tidak melibatkan pekerjaan tangan. Pekerjaan tangan yang kumaksud di sini adalah membuat atau menciptakan sesuatu. Itu sebabnya setelah menjalani bermacam pekerjaan, akhirnya selain mengurusi tobucil, menjadi penulis lepas, aku memutuskan menjadi penjilid  buku (book binder). Karena ketiganya bisa saling pengisi dan menyeimbangkan.

Sebagai penjilid aku menikmati sekali proses dari mulai membayangkan aku ingin membuat notebook seperti apa. Kemudian mempelajari tekniknya, memahami karakter bahannya lalu mengeksekusi semuanya dengan membuatnya sesuai dengan bayangan yang ada di kepalaku. Ketika notebook itu selesai seperti yang kubayangkan, bagiku itu sebuah pencapaian. Persoalan apakah notebook itu bisa di jual dan menghasilkan uang atau tidak, itu perkara lain. Proses penciptaannya menjadi lebih penting buatku. Untuk menyeimbangkan pekerjaan tangan, pekerjaan menulis yang lebih banyak menggunakan otak untuk berpikir dan menuangkan pikiran itu ke dalam kata-kata itu seperti proses penggodogan ide dan gagasan lalu menuangkannya ke dalam kata-kata sebagai sebuah konsep hasil berpikir. Sementara menjadi book binder itu seperti mengeksekusi pekerjaan berpikir sebagai penulis menjadi sesuatu yang tiga dimensional, bisa teraba hasilnya. Itu sebabnya dari sekian banyak hobi yang pernah aku jalani, akhirnya aku memilih menekuni book binding, karena begitu erat kaitannya dengan dunia tulis menulis dan kebiasaanku menulis buku harian.  

Dan buatku ternyata bekerja dengan membuat sesuatu lewat pekerjaan tangan, uang yang kuhasilkan darinya terasa lebih nikmat. Mungkin karena aku tau persis setiap rupiah yang aku dapatkan dari membuat notebook, adalah jerih payahku dan tidak mengambil hak orang lain. Selain itu aku juga menikmati prosesnya. Hasilnya lebih bisa aku nikmati. Lebih 'jadi daging' kalo istilah ibuku. Buatku sebuah pekerjaan bisa dinikmati hasilnya ketika aku bisa mendapatkan fasilitas untuk merasakan kebahagiaan.

Jadi untuk apa menjalani pekerjaan jika hasilnya tidak mengantarkanku merasakan bahagia. Dan kebahagiaan bagi setiap orang itu berbeda-beda. Bahkan bagi orang yang sama pun, kebahagiaan itu akan selalu datang dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda. Itu sebabnya pekerjaan punya peran penting dalam mendefinisikan kebahagiaan setiap orang bahkan pekerjaan bisa mendefinisikan kemanusiaan seseorang.

Monday, February 04, 2013

Searching for Sugar Man (2012): Perjalanan Menemukan Rodriguez

dokumenter musik * * * * *
Sutradara:  

Searching for Sugar Man (2012) adalah film dokumenter yang membuatku 'WOW!!' di akhir film. WOW!!  karena heran, takjub sekaligus sulit untuk percaya, bahwa ada manusia dengan kisah hidup seperti Rodriguez di dunia ini. Berawal dari rasa penasaran Stephen 'Sugar' Segerman seorang penggemar fanatik dan Craig Bartholomew Strydom, jurnalis musik atas rumor kematian musisi idola mereka yang bernama Rodriguez_ seorang musisi ballad dari era 70an asal Amerika yang begitu terkenal di Afrika Selatan. Selama ini lagu-lagu Rodriguez di album Cold Fact, menjadi lagu wajib perjuangan para penentang politik Apartheid di Afrika Selatan. Mungkin kalau di Indonesia lagu-lagu Rodriguez di Aftika Selatan seperti lagu-lagunya Iwan Fals di masa Orde Baru.

Namun siapakah Rodriguez ini? Sosoknya begitu misterius. Sepanjang karirnya sebagai musisi, hampir tidak pernah ada pemberitaan tentang Rodriguez. Album Cold Fact hanya terjual 50 keping saja. Padahal produsernya menyebut-nyebut musik Rodriguez jauh baik dari Marvin Gaye sekalipun. Selebihnya tak ada yang tau asal-usul dan kisah kehidupan penyanyi ini, selain bahwa Rodriguez berasal dari Amerika Serikat. Misteri inilah yang membuat, banyak orang berspekulasi tentang siapa Rodriguez. Para penggemarnya menyakini gambaran sosok Rodriguez, justru dari lirik-lirik lagunya, karena inilah sumber tertulis satu-satunya yang bisa ditemukan dan ditafsir. Salah satu lagunya, menceritakan tentang seorang penyanyi yang merasa gagal lalu bunuh diri setelah konser pertamanya. Lirik ini membuat penggemarnya berkeyakinan bahwa Rodriguez sudah mati.

Sebagai jurnalis Craig melakukan penelusuran untuk memecahkan misteri Rodriguez. Jika benar Rodriguez telah mati, Craig ingin mengetahui, dimanakah kuburnya. Mulailah Craig menelusuri setiap tempat yang pernah disebut Rodriguez dalam lagunya. Craig sempat melacak Rodriguez sampai London, Amsterdam, New York,  di lokasi yang disebut-sebut Rodriguez dalam lagunya. Sampai-sampai Craig memasang iklan mencari Rodriguez di kotak susu. Namun sia-sia. Tak ada orang yang tau mengenai keberadaan penyanyi bernama lengkap Sixto Diaz Rodriguez ini. Ketika hampir menyerah, Craig justru menemukan sebuah daerah bernama Deerborn di pinggiran Detroit yang luput dari perhatiannya. Pergilah Craig kesana dan bertemulah ia dengan beberapa produser rekaman yang terlibat dalam penggarapan album Rodriguez.

Di belahan dunia yang lain_Afrika Selatan, Stephen Segerman sebagai pengelola situs dan forum para penggemar Rodriguez, mendapatkan kejutan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Eva Rodriguez, anak perempuan Rodriguez, tak sengaja menemukan situs yang dikelola Stephen dan terkaget-kaget dengan berita 'rumor' tentang kematian ayahnya. Eva pun menghungi Stephen, menjelaskan bahwa rumor itu tidak benar. Ayahnya masih hidup, tinggal di Detroit dan baik-baik saja.

Craig pun mendapatkan kabar yang sama seperti yang diterima Stephen dari salah satu produser yang mengatakan Rodriguez masih hidup, tidak lagi bekerja sebagai musisi tapi sebagai kontraktor yang melayani pembongkaran bangunan tua, sebelum di ratakan dan dibangun kembali. Kehidupannya begitu sederhana bahkan bisa dikatakan hidup dalam kemiskinan.

Setelah terhubung dengan Rodriguez, Stephen mengorganisir konser pertama Rodriguez di Afrika Selatan dengan penonton puluhan ribu penonton pada tahun 1998. Tiket konser terjual habis. Penggemarnya tak sabar ingin menyaksikan langsung idola mereka. Sementara Rodriguez tidak pernah membayangkan seperti apa apresiasi penggemarnya di Afrika Selatan. Saat Rodriguez muncul di panggung, penggemarnya dari beberapa generasi itu, seperti melihat idola mereka bangkit dari kubur. Rodriguez bahkan mendapatkan penghargaan Platinum untuk penjualan album Cold Fact  di Afrika Selatan.



Rodriguez tidak pernah menyangka bahwa lagu dan sosoknya sedemikian besar di Afrika Selatan. Bahkan pemerintahan apartheid sempat melarang beberapa lagu Rodriguez karena dianggap dapat mendorong tindakan subversif (seperti lagu-lagu Iwan Fals di masa Orde Baru). Jauh di wilayah suburban Detroit, penyanyi berdarah Mexico ini, menganggap karirnya di bidang musik sudah tamat, bersamaan dengan dua albumnya yang dianggap gagal. Rodiguez memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya seperti halnya kelas pekerja di Detroit lainnya. Bekerja keras untuk kelangsungan hidup keluarganya. Ia bahkan hampir tidak pernah membicarakan soal kehidupannya sebagai musisi pada anak-anaknya. Di kalangan rekan kerjanya, Rodriguez dikenal sebagai sosok yang sangat membumi dan pekerja keras. Ia aktif terlibat dalam perjuangan serikat pekerja dan minoritas latin di lingkungannya. Rodriguez bahkan sempat mencalonkan diri sebagai walikota dengan tujuan menjadi wakil yang menyuarakan hak-hak kelas pekerja dan minoritas. Rodriguez juga mendidik ketiga putrinya dengan mengutamakan pendidikan dan memperkenalkan anak-anak mereka pada seni sejak kecil.

Setelah dokumenter ini beredar dan menjadi salah satu nominasi dokumenter terbaik Academy Award 2013, tiba-tiba saja publik Amerika tersadar akan kehadiran superstar yang 'tersembunyi' selama lebih dari 40 tahun. Seiring dengan banyaknya penghargaan untuk dokumenter ini dan review yang positif dari media-media besar Amerika seperti The New York Times, The Rolling Stones Magazine, sosok Rodriguez muncul ke permukaan  dan musiknya mendapatkan apresiasi luas dari publik Amerika. Kini Rodriguez seperti menjalani dua kehidupan yang sangat berbeda satu sama lain: musisi yang tiba-tiba mendapat sorotan luas dan seorang pekerja konstruksi yang memilih tetap tinggal di rumah sederhana  yang telah ia tempati selama 40 tahun terakhir. Kesuksesan materi yang tiba-tiba datang padanya, tak membuatnya silau dan kehilangan pegangan atau mendadak jadi OKB! (Orang Kaya Baru). Rodriguez  membuktikan bahwa kesuksesan itu perkara mental dan bagi Rodriguez butuh 40 tahun lebih untuk mempersiapkan mentalitas sukses itu.



"Musicians want to be heard. So I’m not hiding. But I do like to leave it there onstage and be myself, in that sense. Because some people carry it with them."  Rodriguez -Rolling Stone

Sunday, February 03, 2013

Beasts of The Southern Wild (2012)


* * * * *
Sutradara: Benh Zeitlin


Hush Puppy berlari sesana kemari. Mejelajahi semestanya di antara monster-monster dari selatan yang hidup bersamanya. Tanpa takut, tanpa ragu di tengah dunia yang ia pijak bisa runtuh sewaktu-waktu. Hush Puppy hanya perlu memastikan ayahnya hadir dalam kekuatan dan kerapuhannya sekaligus. 

"Semua Ayah di dunia ini boleh mati, tapi tidak dengan Ayahku."
"Tidak Hush Puppy. Ayahmu yang ini sama seperti yang Ayah lain, dia juga akan mati."


Tak ada kesan glamour dan mewah sama sekali. Beasts of The Southern Wild yang dikategorikan sebagai film berbiaya rendah ini, menampilkan suasana daerah selatan yang kental: 'kampung di pedalaman', miskin, kumuh, terabaikan, namun penghuninya begitu akrab dan hangat satu sama lain. Dengan narasi serta sinematografi terasa begitu 'magical' namun sekaligus begitu 'riil', lekat dan membumi. 

Badai dan banjir menjadi tragedi yang justru diterima bukan dengan tangis dan airmata oleh tokoh-tokohnya. Kekuatan film ini justru karena semua persoalan itu hadir dalam pandangan Hush Puppy yang lebih optimis sekaligus imajinatif dalam takaran yang pas. Mungkin karena di sini Hush Puppy tidak berusaha menjadi tokoh 'bocah sok tau' yang seolah-olah mengerti semuanya. Di sini Hush Puppy menerima dunianya dalam kepolosan dan ketidak mengertiannya. Sepanjang film adalah cerita bagaimana Hush Puppy berusaha menemukan kembali cintanya pada sang ayah yang begitu temperamental sekaligus juga mencari keberanian ketika Hush Puppy harus menerima kenyataan bahwa ayahnya sedang sekarat. Semua tragedi dan kesedihan itu hadir lewat  Hush Puppy  sebagai harapan dan inspirasi.

Tidak ada aktor dan aktris terkenal yang hadir di film ini. Ben Zeitlin sengaja menghadirkan orang-orang di sekitar lokasi pembuatan filmnya, sebagai bintangnya. Wink, ayah Hush Puppy, diperankan oleh Dwight Henry, pemilik toko roti yang diundang casting, saat kru film menghabiskan waktu-waktu sarapan mereka selama proses produksi di toko roti milik Henry. 

Beast of the Southern Wild adalah film perdana Benh Zeitlin, sutradara sekaligus penulis naskah dan langsung mendapatkan 4 nominasi Academy Award 2013 dalam kategori film terbaik, sutradara terbaik, aktris terbaik dan naskah terbaik.  Quvenzhane Wallis memerankan Hush Puppy dengan begitu memukau. Padahal bocah berusia 9 tahun ini belum pernah berakting sama sekali sebelumnya. Bakat aktingnya begitu istimewa, Quvenzhane bisa menghayati perannya dengan sangat baik dan aktingnya sebagai Hush Puppy begitu natural. Prestasinya sebagai nominator aktris terbaik Academy Award 2013  membuat Quvenzhane mencatat sejarah sebagai aktris termuda yang pernah masuk dalam nominasi aktris terbaik Academy Award.

gambar dari sini
Hubungan Hush Puppy dan ayahnya, mengingatkanku pada film The Ballad Jack and Rose dalam langgam dan mood yang berbeda, namun metafor imajinasinya terasa mirip meski tak sama. Pada Beast and The Southern Wild, ketakutan kehilangan ayah itu adalah imajinasi tentang babi hutan yang mengejar-ngejar Hush Puppy, sampai akhirnya Hush Puppy punya keberanian menghadapinya. Sementara dalam Ballad Jack and Rose, ketakutan kehilangan ayah adalah cerita tentang banteng yang sewaktu-waktu bisa datang dan membawa Rose pergi, meninggalkan ayahnya. Sebagai anak ayah, film dengan cerita hubungan ayah dan anak perempuan selalu terasa lebih emosional.Bagiku film ini termasuk film yang 'mengganggu' dan tidak mudah dilupakan.


LinkWithin

Related Posts with Thumbnails