Friday, November 22, 2013

Sokola Rimba (2013): 'Kisah Guru Menemukan Murid'




* * * *

Sutradara: Riri Riza

Apalah artinya guru tanpa murid dan murid tanpa guru. Keduanya bisa saling menemukan dan saling mengisi.

Setelah sekian lama, akhirnya menemukan juga film Indonesia yang cukup menggugah. 'Sokola Rimba', film garapan sutradara Riri Riza dan di produseri oleh Mira Lesmana ini diangkat dari kisah perjuangan 'guru anak rimba' Butet Manurung dengan Prisia Nasution sebagai pemerannya dan anak-anak Suku Anak Dalam yang tampil begitu natural sebagia murid-muridnya.

Sokola Rimba mengisahkan suka duka Butet Manurung merintis Sakola Rimba untuk anak-anak Suku Anak Dalam yang tinggal di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, Sumatera yang dimulainya sejak tahun 1999. Mulanya Butet bekerja untuk sebuah LSM yang mengurusi perluasan Taman Nasional dimana tugas yang diemban Butet adalah melakukan pendampingan pada masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Nasional. Namun pada prakteknya, pekerjaan itu membawa Butet pada kenyataan bahwa pendidikan menjadi hal penting yang dibutuhkan bagi masyarakat Suku Anak Dalam atau yang lebih dikenal dengan sebutan Orang Rimba untuk bisa berhadapan dengan perubahan dan kebijakan pemerintah tentang Taman Nasional.

Dengan mengajarkan membaca dan menulis pada Nengkabau, Nyungsang Bungo, Beindah serta anak-anak rimba di hilir Sungai Makekal yang harus ditempuhnya dalam 7 jam perjalanan, Butet meyakini hal itu akan menjadi bekal bagi mereka untuk menghadapi perubahan. Selama ini Orang Rimba tidak memiliki akses terhadap pendidikan dan pengalami pembodohan oleh sistem yang tidak berpihak pada mereka dan pada akhirnya Orang Rimba menjadi pihak yang banyak dirugikan oleh kebijakan pemerintah mengenai Taman Nasional. Mereka sering dibodohi dalam perjanjian kerjasama para pengelola aset Taman Nasional dengan masyarakat adat. Akibatnya, ruang hidup mereka seringkali tergusur dan akses mereka terhadap Sumber Daya Alam menjadi sangat-sangat terbatas. Padahal masyarakat Suku Anak Dalam, seperti halnya masyarakat adat lainnya, mengambil sumber daya alam hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kearifan lokal membuat mereka sangat paham apa arti 'cukup'.

Upaya mendirikan Sokola Rimba, tidak hanya mendapatkan tentangan dari pemimpin LSM tempat Butet bekerja, namun dari sebagian Orang Rimba sendiri yang masih percaya bahwa sekolah itu adalah kutukan. Butuh waktu dan pengorbanan ketika akhirnya Orang Rimba dapat menerima akses pendidikan yang Butet tawarkan.  Pada perjalanannya, Butet justru merasa dialah yang belajar banyak dari Orang Rimba yang selama ini selalu dianggap terbelakang dan bodoh. Mereka justru memiliki kepintaran dan kecerdasan yang tidak dimiliki orang-orang kota yang hidup dalam moderenitas.

***

Selama ini tidak banyak film Indonesia yang mencoba memotret kehidupan masyarakat adat yang ada di pelosok Indonesia. Sokola Rimba, menurutku menjadi film yang cukup penting yang mencoba memotret itu. Dengan mengambil lokasi di Taman Nasional Bukit Duabelas dan menampilkan Orang Rimba sebagai aktor dan aktris di film ini, penonton seperti disuguhi 'dokumenter' keseharian Orang Rimba dengan cerita yang tidak dilebih-lebihkan.

Memang ada sosok Butet Manurung yang sosoknya sudah sedemikian terkenal sebagai tokoh utama dalam film ini, namun anak-anak rimba yang menjadi aktor dadakan dan berperan begitu alami di film ini, membuat film ini menjadi utuh dan Butet menjadi tokoh yang berusaha tampil apa adanya tanpa bertendensi menjadi superhero  pembawa cahaya bagi anak-anak rimba. Menurutku, mengangkatnya ke layar lebar dapat menjadi upaya memperkenalkan Butet kepada khalayak yang lebih luas dan memberi inspirasi serta semangat perubahan bagi para penontonnya. Atau sekedar memberi sekelumit gambaran kenyataan hidup Orang Rimba, itu pun cukup penting sekalian perkara memberi inspirasi.

Meski tampil tidak terlalu mendalam, kritikan terhadap kebijakan Taman Nasional yang seringkali melupakan masyarakat adat sebagai penghuninya, desakan industri kelapa sawit, laju modernitas yang sulit dibendung ketika merangsek masuk sampai ke pedalaman, juga persoalan bagaimana sosok seperti Butet dapat hadir dan bertahan dengan misinya berkat dukungan lembaga donor asing, menjadi realitas yang di potret berhadap-hadapan dengan kepolosan dan kesederhanaan hidup Orang Rimba. Dan sepertinya di film ini Riri Riza dan Mira Lesmana, cukup berhati-hati untuk tidak memberi porsi 'kepahlawanan' yang berlebihan pada sosok Butet Manurung, karena mungkin Butet Manurung sendiri tidak mengingingkan hal itu.

Bagiku pribadi, ketika sosok peneliti asing yang mengatakan 'Kitalah yang butuh mereka, bukan mereka yang membutuhkan kita,' justru menjadi kenyataan yang menampar. Ketika 'kita (sebagaian masyakarat Indonesia yang beruntung mendapat akses pendidikan, ekonomi dan pengetahuan dan memiliki akses untuk melakukan perubahan)  selalu harus disadarkan oleh 'orang lain (baca: bangsa lain)' tentang betapa berharganya apa yang bangsa ini miliki. Juga kenyataan lembaga donor asinglah yang pada akhirnya mau membiayai cita-cita Butet Manurung atau perusahaan air minum multinasional (yang disisi lain memonopoli sumber-sumber air masyarkat) yang justru mau mendukung film seperti ini. Pertanyaan klasik dan dilematis yang selalu muncul;  mengapa harus mereka? mengapa harus bangsa lain? mengapa tidak bangsa ini sendiri yang lebih memberikan mendukung dan menyemangati cita-cita anak bangsa seperti Butet Manurung. Atau para filantropi Indonesia yang kelebihan duit dan punya idealisme mendukung perfilman Indonesia. Ironisnya lagi, sosok atasan Butet (yang aku lupa namanya) menjadi tipikal gambaran pekerja LSM yang bekerja hanya berdasarkan pesanan sponsor.

Yang ampuh dari film seperti ini pada akhirnya memang 'gangguan pertanyaan' yang ditimbulkan setelah menontonnya. Karena aku meyakini sebuah karya yang baik adalah karya yang setidaknya mampu mengusik penikmatnya untuk mempertanyakan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang ingin disampaikan lewat karya itu. Demikian pula dengan Sokola Rimba, yang menurutku berhasil menggangguku dengan pertanyaan klasik dan dilematis yang sesungguhnya bisa diubah subjek pertanyaannya menjadi; mengapa bukan aku? mengapa bukan kamu? yang mau mendukung cita-cita dan inspirasi perubahan seperti ini.

Monday, June 24, 2013

Catatan Dua Belas Tahun Tobucil



Jika ditanya bagaimana rasanya menjalani Tobucil selama 12 tahun? aku pasti menjawab, biasa-biasa saja. Biasa karena, masa-masa sulit  membangun pondasi Tobucil sudah terlampaui di sepuluh tahun pertama. Sepuluh tahun berikutnya adalah menjawab masa pertumbuhan, mau tumbuh seperti apa?

Ketika menengok kembali perjalanan Tobucil selama 12 tahun, aku tidak pernah membayangkan Tobucil seperti saat ini. Aku hanya berusaha menjalaninya sebaik yang aku mampu. Setelah ditinggalkan oleh dua pendiri lainnya, aku hanya berusaha menjawab tantangan pada diriku sendiri: 'jika setelah ditinggalkan aku berhenti, aku tidak akan pernah bisa menjalani persoalan hidup yang lebih besar dari Tobucil'. Dan upaya menjawab tantangan itu  kemudian mengantarkanku sampai waktu 12 tahun. 

Aku ingat, di awal tahun 2000 an, ketika Tobucil baru saja berdiri, banyak orang melabeli Tobucil sebagai  'Toko Buku Alternatif' atau 'Ruang Alternatif'. Tobucil pada saat itu, hadir sebagai alternatif  dari cara memaknai sebuah gerakan literasi. Sejak awal Tobucil menyatakan diri 'mendukung gerakan literasi di tingkat lokal'. Literasi bagi Tobucil bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis, namun juga kemampuan membaca diri, lingkungan dan persoalan di sekeliling kita. Pemaknaan literasi seperti ini yang menjadi semangat dari perjalanan dua belas tahun Tobucil. Itu sebabnya kegiatan Tobucil tidak melulu teks dalam bentuk buku, namun lebih luas daripada itu. Tobucil menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan, pemikiran dan penafsiran, semuanya bisa bertemu dan saling mengasah dan mematangkan. Meski pun proses mengasah dan mematangkan itu seringkali harus dimulai dari diri sendiri dan lingkaran yang paling dalam terlebih dahulu. 

Dua belas tahun juga mengajarkan tentang apa arti komitmen dan berjalan bersama. Jika bubarnya perkongsian dengan para pendiri atau organiasi mitra bisa disebut sebagai salah satu hal yang sulit yang harus dilalui, aku mengiyakan itu. Masa-masa ditinggalkan dua pendiri lain dan perpindahan Tobucil dari Kyai Gede Utama ke Jl. Aceh (2003-2007) menjadi soal belajar bahwa membangun sebuah cita-cita bersama itu jauh lebih sulit daripada sekedar menyusunnya sebagai konsep. Setiap orang menafsir mimpi bersama secara berbeda. Memaksakan tafsir yang sama hanya akan merusak mimpi itu sendiri. Pada akhirnya memang sulit mempercayai bahwa mimpi yang benar-benar sama itu ada. Yang ada adalah kesepakatan dan komitmen untuk menjalani sebuah impian secara bersama-sama. Karena sebuah mimpi memiliki banyak dimensi, memiliki banyak tafsir. Setiap dimensi, setiap tafsir akan membawa pada cara yang berbeda. Komitmen dan kelegaan hati menjadi penting untuk menerima perbedaan cara, sepanjang semua itu bertujuan mewujudkan impian yang telah disepakati. Komitmen berarti sama-sama bekerja keras mewujukan mimpi dan idealisme sesuai dengan tafsirnya masing-masing. 

Tahun 2007, ketika pindah ke jalan Aceh (tempat ketiga), Tobucil mereposisi diri dengan menjadikan literasi sebagai bagian dari keseharian. Proses membaca diri dan lingkungan bergerak lebih jauh melalui kegiatan aktualisasi diri. Kegiatan dan pendekatan hobi menjadi pilihan. Lewat hobi seseoarang lebih mudah berinisiatif,  tidak takut untuk mencoba dan gagal lalu mencoba lagi. Lewat hobi pula seseorang bisa dengan senang hati berbagi dan menularkan ilmu, semangat serta pengalamannya. Menjadikan literasi menjadi bagian dari keseharian artinya menjadikan aktualisasi diri sebagai bagian dari proses berkontribusi pada perubahan. Karena setiap perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil di tingkat individu. Itu sebabnya Tobucil tidak akan pernah menjadi Tobusar (Toko Buku Besar), karena Tobucil percaya setiap hal besar selalu berawal dari hal kecil. Tobucil memilih perannya menjadi tempat memulai hal-hal kecil itu. Di tengah definisi 'kemajuan dan kesuksesan adalah menjadi besar', pilihan menjadi kecil selama dua belas tahun ini justru mengajarkan Tobucil bagaimana mendefinisikan kemajuan dan kesuksesannya sendiri dengan menjaga komitmen dan konsistensi. Istiqomah dengan tujuan, pilihan dan cara. 

Membangun kemandirian finansial, termasuk soal yang sulit untuk dikerjakan, namun akhirnya menemukan cara menyelesaikannya. Pertanyaan yang paling mendasar dari persoalan ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat substansial: 'Bagaimana mungkin seseorang bisa mandiri dalam berpikir dan bertindak, jika untuk makan saja masih minta sama orang lain, bukan dari hasil keringat sendiri ?'. Pertanyaan substansial ini ketika berusaha untuk di jawab oleh  Tobucil sebagai sebuah ruang, menjadi berkali lipat sulitnya. Karena ada sistem untuk mencapai kemandirian yang harus dibangun, ada ketetapan hati untuk berkata tidak pada para sponsor yang menawarkan kemudahan tapi melumpuhkan semangat untuk mandiri dan juga perhitungan dimana investasi pendiri bukanlah investasi seumur hidup (alias nombok selamanya), tapi sebuah modal awal yang harus dikembalikan. 

Dua belas tahun ternyata waktu yang cukup singkat untuk menemukan sistem kemandirian itu, mengujinya termasuk  juga memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Kemandirian finansial bagi tobucil adalah alat yang substansial untuk sampai pada tujuan literasi yang dimaksud oleh Tobucil. Bagaimana sebuah tujuan bisa tercapai jika alat atau caranya justru berlawananan dengan tujuan itu sendiri. Mungkin keyakinan Tobucil ini akan terasa naif untuk sebagian orang, karena Tobucil tidak melihat dukungan donor atau sponsor sebagai sebuah peluang. Namun bagi Tobucil ini adalah persoalan menjadi diri sendiri secara organik, membangun harga diri dan keyakinan bahwa kita mampu. 

'Kenaifan' itu akhirnya di kompromikan ketika memasuki dasawarsa kedua, koperasi menjadi pilihan yang diambil. Meski koperasi ini berdiri di luar Tobucil, namun keberadaannya seperti jaring pengaman di masa trial and error membangun sistem kemandirian finansial Tobucil tanpa melemahkan tujuan kemandirian finansial yang berusaha di capai oleh Tobucil. 

Upaya membangun kemandirian finansial juga yang membuat Tobucil enggan menjawab pertanyaan: 'berapa banyak orang yang pernah atau terlibat dalam kegiatan Tobucil selama dua belas tahun ini?' Pertanyaan ini biasanya diajukan untuk menilai 'tingkat kesuksesan' Tobucil sebagai sebuah ruang berkomunitas. Di jaman superfisial seperti sekarang ini, jumlah follower seolah-olah menentukan nilai dan kredibilitas sebuah gerakan. Padahal seringkali banyaknya follower hanya memberi gema pada apa yang kita lakukan dan tidak juga membuat esensi dari gagasannya tertangkap dengan jelas. Seperti nilai baik buruk yang makin lama makin ditentukan oleh suara mayoritas.

Meski memiliki datanya, aku selalu menjawab 'banyak' tanpa mau menyebutkan jumlah angkanya. Bagiku, setiap orang yang berinisiatif bergabung dalam program yang ditawarkan oleh Tobucil, terlalu berharga jika harus disederhanakan dalam angka dan statistik yang biasanya penting untuk menyakinkan para sponsor atau lembaga donor. Lebih jauh lagi, jumlah pengikut ini seringkali dianggap menentukan sejauh mana apa yang kita lakukan berdampak dan berpengaruh pada khalayak luas. Itu sebabnya jika ditanya, seberapa jauh Tobucil telah membuat perubahan pada masyarakat? dengan santai aku pasti menjawab: silahkan tanya pada orang-orang yang pernah berkegiatan di Tobucil. 

Dua belas tahun ini seperti sebuah perjalanan untuk tetap menyakini hal-hal yang sederhana. Tobucil memilih perannya di sini dan setiap orang bebas memilih perannya masing-masing. Ketika semuanya di jalankan sepenuh hati dan suka cita, aku yakin sebesar dan sekecil apapun itu, pasti akan memberi dampak pada sekelilingnya. 


Wednesday, March 27, 2013

#Nepaldiary Pelajaran Pelayanan di Namaste Children House

perayaan happy holi di Namaste Children House, Pokhara, Nepal foto oleh vitarelnology

Sudah lebih dari seminggu jadi sukarelawan di Namaste Children House di Pokhara, Nepal. Sebagai sukarelawan banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Mulai dari membantu di dapur mempersiapakan apa yang akan dimasak, cuci piring, membantu bocah-bocah itu mandi, bermain bersama, membantu belajar sampai proyek mengecat bangunan lantai dasarnya. Benar-benar pekerjaan yang dilakukan sehari-hari oleh pengasuh, bedanya ini pengasuh paruh waktu yang hanya datang setengah hari dan itu pun hanya selama tiga minggu saja.

Sekitar tujuh puluh anak  tinggal di Namaste Children House. Usia mereka mulai 4 tahun sampai 18 tahun. Namaste menyekolahkan mereka di sekolah swasta dengan pertimbangan kualitasnya lebih baik. Harapannya ketika anak-anak ini lulus nanti bisa meneruskan sekolah atau bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik. Sayangnya kegiatanku sebagai sukarelawan di sini bertepatan dengan saat  ujian kenaikan kelas. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk belajar. Pengelola Namaste cukup disiplin dalam menerapkan waktu belajar. Termasuk juga waktu makan, istirahat, main, semua terjadwal dengan baik. Mungkin hampir mirip dengan sekolah berasrama, bedanya ga ada orang tua tempat mereka kembali. 

Ada dua 'ibu' yang menjadi penanggung jawab rumah (house mother) dan lima orang 'kakak' (didi) yang mengurusi anak-anak ini sehari-hari. Dari mulai urusan rumah tangga sampai urusan pelajaran, seperti layaknya ibu dan kakak yang mengurusi anak dan adik-adik mereka. Kehadiran para sukarelawan ini sangat membantu ibu dan kakak dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari mereka. Bagi para sukarelawan pengalaman ini, justru jadi pengalaman yang istimewa, juga untukku. 

Anak-anak di Namaste Children House sendiri sudah terbiasa dengan kehadiran sukarelawan dari seluruh dunia. Itu sebabnya mereka cukup terbuka menerima kehadiran para sukarelawan. Bagi mereka sukarelawan seperti kunjungan teman baru yang disambut suka cita, namun tidak perlu terlalu dalam, karena pada waktunya tamu-tamu ini akan pergi dan  kembali pada rutinitasnya dan  menyimpan Nepal dan foto-foto mereka sebagai kenangan. 

Lewat IVHQ saja, dua kali dalam sebulan datang rombongan sukarelawan, sebagian tentu saja di tempatkan di Namaste. Tidak sedikit pula sukarelawan yang datang langsung sebagai sukarelawan tanpa melalui organisasi sukarelawan seperti IVHQ (btw, IVHQ ini ga punya program ke Indonesia). Dari uang yang mereka dapat dari sukarelawan, Namaste mengaku bisa menutup biaya pengeluaran untuk staf  yang mencapai 9% dari total pengeluaran mereka. Sebenernyan uang yang dibayarkan ini kembali lagi ke sukarelawan. Karena selama tiga minggu di sini tempat menginap, sarapan dan makan malam ditanggung dari biaya yang aku bayarkan, Sebagian lagi uang tersebut digunakan untuk membantu organisasi tuan rumah. Bagi Nepal, sepertinya kehadiran sukarelawan dari berbagai belahan dunia bisa dikatakan strategis, karena bisa jadi salah satu 'sumber dana sosial' sekaligus sumber tenaga kerja sosial gratisan yang selama ini tidak dapat disediakan oleh pihak pemerintah. 

Tak jarang lewat sukarelawan mereka memperoleh akses ke lembaga donor lain yang bisa membantu keberlangsungan organisasi ini. Tidak sedikit sukarelawan ini kemudian kembali lagi ke Namaste dan membawa sumbangan dan bantuan lain, seperti efek Multi Level Marketing. Dan lagi-lagi Namaste bisa melihat peluang itu dengan baik. Untuk membangun  pusat kegiatan komunitas, setiap orang bisa menyumbangkan 50 euro untuk setiap batu bata yang mereka gunakan untuk membangun pusat komunitas mereka. Setiap nama penyumbang di tulis pada setiap batu bata, sesuai dengan jumlah yang merek sumbangkan. Kemudian batu bata ini akan menjadi dinding pada bangunan utama ruang komunitas yang akan mereka bangun. Salah satu cara sederhana untuk mengapresiasi bentuk dukungan sekecil apapun. Sejauh yang teramati dan aku ga membandingkannya dengan organisasi lain, Namaste ini cukup baik dan terbuka secara manajemen. Kurasa ini juga bagian dari strategi mereka untuk membangun kredibilitas dan kepercayaan dari para pendukungnya.

Dan sepertinya menjadi sukarelawan adalah hal biasa bagi orang-orang di negara maju sana. Mereka menghabiskan waktu liburan sekolah atau kuliahnya, juga mengisi waktu luangnya dengan pergi menjadi sukarelawan. Pengalaman sebagai sukarelawan ini juga menjadi CV penting bagi mereka ketika hendak melanjutkan kuliah atau untuk jenis pekerjaan tertentu. 

Aku melihatnya ini bukan perkara karena mereka berasal dari negara maju, kemudian punya kesempatan untuk melakukan itu, tapi menurutku ini perkara membangun kebiasaan pelayanan terhadap sesama manusia. Kalau dari segi biaya, kelas menengah Indonesia mampu kok membayar biaya sukarelawan seperti ini. Ini perkara mindset aja. Melakukan perjalanan sambil melayani dan mengenal kebudayaan serta kebiasaan tempat lain, kurasa akan jauh lebih bermakna. Mungkin sudah saatnya menjadi sukarelawan masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, apalagi di sekolah-sekolah mahal yang biayanya ga masuk akal. Ga perlu jadi sukarelawan di negeri orang, di negeri sendiri, pergi ke pulau lain selain Jawa atau pergi ke daerah pelosok, ga kalah bermakna.  Setidaknya pengalaman melayani ini jadi penting ketika suatu hari nanti mereka jadi pejabat, mereka tau seperti apa pekerjaan melayani itu. 

Ya, bagiku kadang harus pergi jauh terlebih dahulu mengambil jarak dan menemukan kesadaran ini. 


Wednesday, March 20, 2013

#nepaldiary Sukarelawan Di Negeri Atap Dunia

foto oleh vitarlenology
Salah satu cara melakukan perjalanan dan berinteraksi lebih dengan budaya serta masyarakat setempat adalah menjadi sukarelawan. Banyak organisasi Internasional yang memang mengkhususkan diri mengurusi orang-orang yang tertarik menjadi sukarewalan. Salah satunya adalah International Volunteer HQ (IVHQ) yang bermarkas di New Zeland. 

Didirikan oleh Daniel Radcliffe, sukarelawan yang pernah bergabung dalam Peace Corps. IVHQ didirikan akhir 2006. Daniel ingin membantu calon-calon sukarelawan ini dengan harga terjangkau. Banyak teman di Indonesia menyangka bahwa program seperti ini sukarelawan dibayar, padahal untuk program sukarelawan seperti ini, sukarelawan justru membayar pada organisasi yang akan menjadi tuan rumah mereka. 

Seorang teman yang sering melakukan perjalanan sempat berkomentar, menjadi sukarelawandan membayar itu seperti komersialisasi sukarelawan. Mungkin ada benarnya, tapi kurasa selama menemukan organisasi perantara seperti IVHQ dengan harga yang masuk akal, kurasa sebagai sukarelawan pemula, justru akan terbantu apalagi jika kita belum pernah datang ke negara yang bersangkutan. Salah satu sukarelawan yang sama-sama mengikuti program ini dan memiliki pengalaman mengikuti program serupa dengan organisasi yang berbeda, mengatakan IVHQ cukup murah untuk program sejenis dengan fasilitas yang kurang lebih sama dengan yang diberikan organisasi sejenis. 

Organisasi seperti IVHQ menjadi perantara untuk membantu para sukarelawan ini menuju tempat tujuan  yang dipilih: Afrika, Amerika Selatan, Asia dengan jangka waktu yang juga bisa dipilih mulai dari seminggu sampai enam bulan. Ada organisasi mitra di setiap negara yang akan mengatur dan bertanggung jawab pada keberadaan dan program yang dijalankan oleh relawan,

Seperti yang kulakukan di Nepal. IVHQ memiliki mitra organisasi lokal bernama Hope and Home. Organisasi ini yang bertanggung jawab mengurusiku sejak aku mendarat di Kathmandhu sampai waktu penempatanku. Selama tiga minggu aku di tempatkan di Namaste Orphanage House dan tuan rumahku inilah yang kemudian bertanggung jawab pada keberadaanku sebagai sukarelawan. Setelah program selesai, Namaste akan menyerahkan tanggung jawab keberadaanku kembali pada Hope and Home. 

Sebagai pelancong yang ga terlalu militan dan penikmat perjalanan yang santai :D program seperti ini membebabaskanku dari urusan itenerary dan akomodasi selama keberadaanku di Nepal, semuanya sudah termasuk ke dalam biaya program yang aku bayarkan pada IVHQ. Mulai dari jemputan dari bandara menuju hostel di Katmandhu, perjalanan-perjalanan yang menjadi bagian dari orientasi relawan, akomodasi dan konsumsi selama menjalani program 3 minggu. Aku tinggal menjalani dan di waktu libur, aku masih punya keleluasaan untuk mengekplorasi tempat yang ingin aku kunjungi. Program sukarelawan seperti ini bukan program jalan-jalan estafet dari satu tempat wisata yang satu ke tempat wisata yang lain, bukan. aku lebih punya waktu dan kesempatan untuk mengenal lebih jauh satu sisi kehidupan masyarakat Nepal dalam hal ini aku memilih mengenali dan mengalami lebih jauh kehidupan panti asuhan dan syukurlah aku punya pengalaman sebagai tantenya Akum dan Gendis heheheheh.. pengalaman mengasuh anak-anak dan pekerjaan domestik yang menyertainya sangat membantuku menjalani program sukarelawan ini.

Hal terpenting ketika mengikuti program ini adalah ' berharap seminimal' mungkin. Sebagai relawan aku mesti siap menghadapi situasi seburuk apapun. Memang, organisasi tuan rumah akan berusaha memberikan yang terbaik yang mereka mampu. Namun usaha terbaik mereka kadang belum tentu sesuai dengan apa yag diharapkan. Ketika berharap seminimal mungkin, segala yang didapatkan akan lebih bisa diterima tanpa keluhan. Dan saat menerimanya tanpa keluhan, aku akan lebih bisa menikmati banyak hal yang kualami di sini. 

Himalayan Guest House, Phokara,  20 Maret 2013

Saturday, March 16, 2013

#nepaldiary Chitlang Dan Doa Berterima Ganesh Himal

sunset di Chitlang foto vitarlenology (simin)
Hari baru itu bisa dimulai dari bangun tidur, membuka jendela dan memandang hamparan perbukitan di sebuah daerah pegunungan di Nepal, bernama Chitlang. Hamparan hutan hijau, berpadu  bukit-bukit berundak-undak coklat, dan rumah-rumah tradisional Nepal tersusun rapi diantara undakan bukit, seperti foto pemandangan di kalender. Pada pandangan yang lain, kicau burung-burung lokal bertenger dan berterbangan dari satu pohon peach ke pohon peach yang lain, menari megisi lagu pagi dalam damai dan indahnya Chitlang. Hari menjadi benar-benar baru bagi orang asing sepertiku di tempat yang juga asing untukku. Kebaruan hari yang menambah kosa makna kata bahagia yang bisa datang dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda.

Chitlang, menjadi bagian dari orientasi program volunteer yang menyenagkan, Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari ibukota Nepal, Kathmandu_sekitar 27 KM. Namun jalanan yang harus ditempuh bukanlah jalan yang mudah. Dibutuhkan supir berpengalaman dan benar-benar handsl untuk bisa melintasi jalanan berbatu, tikungan tajam dan tanjakan serta turunan curam untuk bisa sampai di balik gunung dan mencapai Chitlang. Hebatnya, supir-supir jurusan Chitlang ini bisa  mengemudikan kendaraannya, melalui tikungan tajam, menggendalikan kemudi dengan satu tangan dan tangan satunya pegang telepon genggam dan konsetrasi dibagi dua antara memperhatikan jalan sambil sibuk bicara lewat telepon. Semua bisa ia lakukan bersama. LUAR BISA!

Ngomong-ngomong soal telepon genggam, aku sempet degdegan ketika dua orang penumpang orang Nepal yang duduk di sebelahku dari Kuala Lumpur - Kathmandu, tak henti-hentinya bicara lewat telpon genggamnya, bahkan sampai detik-detik saat pesawat akan tinggal landaspun, masih saja sibuk  menelepon, sampai-sampai kru pesawat harus membentak mereka untuk mematikan telponnya.
Dan yang membuatku tegang, mereka ga mematikan telpon genggamnya, hanya menaruhnya di saju dan saat pesawat di udara, sesekali mereka cek inbox smsnya. Waduh!!!! bener-bener bikin keringat
dingin. Kan konyol juga kalau terjadi kecelakaan pesawat karena kebandelan penumpang seperti itu. Amit-amit!

Kembali ke perjalanan Chitlang, setelah sampai ke puncak dan sebelum menuruni lembah ke tempat tujuan, sejauh mata memandang, ketika langit biru jenih, aku bisa memandang jajaran pegunungan Ganesh Himal yang masih rangkaian pegunungan Himalaya. Sebagian dari Ganesh Himal ini, masuk ke wilayah Tibet. Dan ini jadi bahagia yang lain, memandang jajaran Ganesh Himal sambil berdoa: "Ya Tuhan, terima kasih telah Engkau berikan aku kesempatan menatap bagian dari gunung tertinggi di dunia, yang menjadi bukti kuasa dan kebesaranMu, maka izinkan aku menitipkan doa dan kebahagiaanku untuk orang-orang yang aku kasihi. Sampaikan bahagiaku pada mereka, kabulkanlah doa dan harapan mereka, sebagaimana Engkau selalu mengabulkan doa dan harapanku.Amin."

Sampai di balai desa, kelompok sukarelawan dari berbagai negara termasuk aku salah satunya ini, disambut oleh Durga Didi, Amma (ibu) tetua desa yang menyematkan 'tika'  dan bunga selamat datang kepada semua tamu.Tika adalah tanda merah yang di tempelkan di jidat yang terbuat dari beras mentah dengan campuran bubuk berwarna merah. Dalam tradisi Hindu ini 'tika' menjadi semacam tanda pemberkatan sesuai dengan situasi dan kondisi. 'Tika selamat datang, menandakan. bahwa aku dipersilahkan dan diberkati sebagai tamu di Chitlang. Dan 'Tika' ini bukan hanya untuk orang asing saja, turis-turis lokal juga disambut dengan 'tika'.

Durga Didi, menyajikan hidangan makan siang menu khas Nepal: nasi (seperti nasi ketan), tumis sayur semacam saosin, sup yang berupa kuah kental seperti kacang hijau namun gurih, ayam bumbu tomat (perlu diingat sapi adalah binatang suci, tidak mungkin di hidangkan sebagai makanan di Nepal), tak lupa hidangan pencuci mulutnya irisan umbi seperti lobak tapi radanya manis dan renyah seperti bengkoang. Buatku yang ga terlalu suka masakan India, masakan Nepal, meski sangat dipengaruhi oleh makanan India, namun rasanya menurutku lebih 'mild'. Aku menduga-duga, jangan-
jangan karena Nepal lebih nyampur antara budaya Hindu dan Budhanya, jadi makananya juga mungkin yang  bisa diterima oleh lidah Hindu dan Budha, mungkin loh ya, baru dugaan seperti makanan Cina dan makanan peranakan di Indonesia, kan beda banget rasanya karena sudah tercampur pengaruh budaya lain. Dan aku jadi ingat dosen matakuliah Komunikai Antar Budaya, Prof. Dedi Mulyana, salah satu cara untuk bisa beradaptasi dengan cepat dengan budaya baru adalah lewat makanan. Kalau makanannya bisa diterima dengan baik, maka budayanya pun akan lebih mudah kita terima, dan begitu pula sebaliknya.

Daya tarik lain dari Chitlang adalah danau Indra Sarobar. Meski dapat ditempuh dengan kendaraan, namun rute 'trekking' lebih asyik untuk ditempuh. Mendaki bukit, menuruni lembah untuk sampai pada danau dengan latar pemandangan yang cantik, dengan waktu tempuh kurang lebih 45 menit. Danau ini mengingatkanku pada situ patengan atau danau di kawah Gn Galunggung, Tipikal danau di pegunungan. Bedanya danau ini di bendung untuk pembangkit listrik. Sebagian kebutuhan listrik di Nepal dipenuhi lewat pembangkit listrik tenaga air .

Dan rasanya kurang lengkap jika sampai danau Indra Sarobar, tapi tidak berperahu ke seberang dan melindasi danau lewat jembatan gantung yang menghubungkan desa satu dengan lainnya yg terpisah oleh danau. Ujung jembatan langsung terhubung dengan desa. Untuk sampai ke balai pertemuan, aku harus jalan melintasi desa dan berpapasan dengan warga desa. Menyapa mereka dengan sapaan "Namaste" mejadi sopan-santun yang biasa dilakukan ketika saling berpapasan.

Saat matahari perlahan turun dan angin dingin Himalaya menyusup masuk ke pori-pori, keakraban antara sesama sukarelawan pun terbangun, Permainan-permainan yang menghangatkan malam, api unggun keakraban dan cerita-cerita hantu yang justru disambut gelak tawa, membangun rasa bersama bahwa kami: aku dan teman-teman sukarelawan dari belahan dunia yang berbeda ini, datang dengan keinginan yang sama: ingin berbagi.

Saat dingin semakin menggigit dan lelah menyergap, kehangatan rumah Durga Didi menaungi malam di Chitlang yang mungkin hanya ku alami sekali saja sepanjang hidupku. Saat terbangun esok, aku kosa makna baru tentang  kebahagiaan istimewaku yang datang dalam bentuk yang berbeda-beda.

'Indahnya hidupmu..'
'Di bikin indah dong..'
'Hidupku indah oleh hal lain..!'

Ya, hidupmu, hidupku, hidup kita, menyimpan keindahan masing-masing. Berterima pada hidup, lalu temukan keindahannya.

Peace Guest House Katmandhu, 16 Maret 2013



Thursday, March 14, 2013

#nepaldiary Perjalanan Sinkronisasi Diri

foto oleh vitarlenology



Tahun ini dibuka oleh nasehat seorang sahabat tentang sinkronisasi antara rasionalitas dan rasa, hati dan pikiran. Kebetulan lain, Desember lalu, Arumdayu ngajak jalan-jalan ke Nepal. Dalam bayangan kami berdua, biar lebih berguna, sekalian aja mendaftar sebagai sukarelawan. Tapi waktu itu masih wacana. Kebulatan tekad untuk pergi justru muncul setelah obrolan soal sinkronisasi di malam pergantian tahun.

Arum ga jadi pergi. Aku memutuskan tetap pergi dan awal Januari mulai serius mencari informasi soal program sukalawan internasional ini, termasuk juga mencari tiket. Lalu aku menemukan program sukarelawan internasional ini. Aku rasa program ini cocok banget dengan soal sinkronisasi diri. Selain itu membayangkan ulang tahun sambil memandang gunung Himalaya, rasanya itu kok ya gimana gitu, hehehhehe.. (soal membayangkan hal-hal seperti ini yg termasuk kategori ga mungkin tp beberapa tahun kemudian jadi kenyataan, aku selalu ingat sahabatku, Tanto. Dia teman yg asyik banget buat mengkhayal bersama. Bagi kami sungguh membahagiaka ketika apa yg dulu dianggap ga mungkin, ternyata jadi kenyataan). Dan sepertinya semesta mendukung. Banyak pintu terbuka dan tidak disangka-sangka, memudahkan perjalanan ini.

Belajar dari pengalaman perjalanan Asia Tenggara th 2010 lalu, dimana tiga minggu lebih sibuk mikirin dai tempat satu ke tempat lainnya dan hanya sekedar datang dan menikmati pemandangan, rasanya kok kurang berkesan. Makanya program sukarelawan ini bisa menjawab keinginanku untuk lebih berinteraksi bulan hanya dengan tempat tapi  juga dengan masalahnya (ternyata riset lapagan studi etnografi di Sembakung bener-bener menimbulkan ketagihan). Menjadi sukarelawan memungkinkan aku untuk mendapatkan pengalaman etnogtafi  ini kembali tanpa tekanan deadline laporan tentu saja... (colek mas HB hahaha).

Nepal menginspirasiku sejak SD, sejak membaca Kisah Petualangan Tintin Di Tibet. Dan Tintin di Tibet adalah salah satu favoritku di samping Hiu Hiu Laut Merah, karena lebih emosional dan persahabatan Tintin dan kapten Haddock diuji di episode ini. Juga khayalan soal pergi ke Himalaya di masa romantika jaman kuliah dulu ahayyy!!! Dan daripada India, sepertinya Nepal lebih menyenangkan juga. Thanks to Air Asia yg menyediakan rute ke Kathmandu dengan harga terjangkau (pesanan sponsor banget :D). Dan daripada India, Nepal jadi pilihan yang jauh lebih mungkin buatku. Membayangkan India perutku langsung mules dan ga tahan dengan panas dan kepadatannya, meski secara kultur India sangat-sangat menarik. 

Untuk menjalani proses sinkronisasi diri, kurasa prinsip studi etnografi sangat bisa di terapkan. Aku jadi ingat omongan mas Pudjo, seorang dosen antropologi UGM yang pernah bilang, studi etnografi itu prinsipnya seperti prinsip nabo khidir, nabi penjaga air. Lihat saja, jangan dulu banyak bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Lihat, perhatikan dan resapi, karena menurut mas Pudjo itu akan membantu untuk mengerti dan memahami. Pertanyaan yang buru-buru dilontarkan akan menginterupsi proses untuk mendapatkan pengertian itu. Dan kurasa sinkronisasi diri justru akan terlihat ketika aku kembali pulang, kembali ke ruti nitas, kembali pada semua keseharian. Setiap perjalanan itu seperti menambah cara untuk merasakan bahwa setiap hari adalah hari baru.

* tulisan ini terbit atas dukungan 'simin' dan tentu saja pemiliknya yg super legowo itu :)))

Tuesday, March 05, 2013

Kapanpun, Kalau Mau..!

Phnom Penh, foto oleh vitarlenology

"Kamu bisa bahagia kapanpun, kalau mau!"  -Agustinus Wibowo-

Kata-kata ini muncul tak sengaja dari perbincangan bersama  Agustinus saat ia berkunjung ke Bandung. Dan sampai saat ini, kata-katanya itu nempel di kepalaku. Ya, kapanpun, kalau mau. Kalau ga mau? berarti ga akan menemukan kapan yang disebut sebagai 'kapanpun' itu.

Bukankah bahagia itu bisa datang setiap detik bersama dengan setiap hembusan nafas? kebahagiaan-kebahagiaan yang sederhana, tanpa syarat dan pamrih. Namun, jika kebahagiaan itu bisa begitu sederhana, mengapa banyak orang merasa sulit merasa bahagia? Dan mengapa kebahagiaan mesti dipersulit kalau ia bisa datang dengan mudah.

Aku menyakini bahwa kebahagiaan itu selalu datang dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan memang benar ia bisa datang kapanpun. Menjadi 'kebahagiaan' ketika yang datang dan berbeda-beda itu mau aku terima sebagai kebahagiaan. Kalau tidak mau, ya tidak akan terasa sebagai sebuah kebahagiaan. Itu sebabnya sebagian orang bisa merasakan kebahagiaan dari hal-hal sederhana dan sebagian lagi harus lewat kerumitan yang tak tertahankan untuk merasakannya.

Persoalannya, aku seringkali membatasi kapan 'kapanpun' itu bisa datang. Seringkali aku terjebak dalam banyak persyaratan yang aku buat sendiri untuk menentukan waktu yg disebut 'kapanpun' itu. Dan seringkali persyaratan yang menentukan 'kapanpun' memagari kemauanku untuk menerima kebahagiaan. Itu pula sebabnya, mengapa sebagian orang berkata 'Aku bisa bahagia kalau sudah begini dan begitu'.

Pada titik ini, orang bisa saja mendebat, bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya penuh penderitaan sehingga sulit untuk merasa bahagia. Hal ini juga bisa dengan mudah dipatahkan, karena ada orang yang hidupnya penuh penderitaan tapi dia bisa dengan mudah merasakan kebahagiaan. Berarti penderitaan bukan alasan yang bisa menjauhkan diri dengan kebahagiaan. Demikian pula sebaliknya. Apakah ketika hidup dalam kemewahaan, kemudahaan akan membuat orang otomatis jadi bahagia? ternyata tidak. Banyak orang yang hidup bergelimang harta dan segala keinginannya dengan sangat mudah dapat dipenuhi, namun tetap saja sulit menemukan bahagia. Berarti pula, bukan kemudahan dan gelimang harta yang menentukan 'kapanpun' bahagia itu bisa datang.

Dulu aku merasa mungkin bahagia itu memang harus disertai syarat biar terasa rasanya dan harus datang pada waktu yang tepat, biar sahih rasanya sebagai sebuah kebahagiaan. Tapi semakin kesini, aku semakin menyangsikan hal itu, mungkin karena aku merasa sudah cukup dengan sejumlah persyaratan yang telah aku tetapkan sendiri.  Karena ga tau batas maksimal dari persyaratan yang kita tentukan sendiri, alih-alih  menjadi syarat  yang terjadi malah semacam dramatisasi atas nama mencapai kebahagiaan. Ketika aku merasa begitu banyak syarat yang aku upayakan untuk mencapai kebahagiaan, namun yang  ingin dicapai tak kunjung tercapai juga, aku lalu mengutuk diri bahwa kebahagiaan itu sesuatu yang begitu sulit bahkan niscaya. Padahal, kebahagiaan itu bisa tanpa syarat dan mudah saja, seperti menghirup udara segar dan menikmati hembusan angin di daun-daun.

Mungkin persyaratanku untuk menerima kebahagiaan ini terlalu banyak dipengaruhi 'fairy tales' dimana perjuangan, penderitaan, pengorbanan menjadi jalan untuk menebus sebuah kebahagiaan. Mungkin semestinya perjuangan, penderitaan, pengorbanan bukan untuk menebus kebahagiaan, tapi sebagai cara untuk mendalami rasanya. Jika tujuannya untuk menebus, berarti aku tidak merasakan kebahagiaan lalu membutuhkan semua jalan itu, untuk dapat merasakan kebahagiaan. Namun jika aku memilih semua jalan itu untuk mendalami rasa dari kebahagiaan itu, berarti aku sebelumnya sudah merasakan kebahagiaan dan semua jalan penderitaan, pengorbana, akan membuatku semakin paham dengan seluk belum rasa dari kebahagiaan itu.  Bahagia menjadi tanpa syarat. Perjuangan meraihnya adalah kemauanku untuk merasakan kedalaman dan keragaman rasa dari kebahagiaan itu.

Ya, rasanya setiap orang punya standar tertentu dan perlu mencapai standar itu terlebih dahulu untuk   punya kemauan mendapatkan kebahagiaan yang 'kapanpun' itu. Persoalan standar ini, rasanya sangat erat dengan soal bagaimana  aku  menentukan seberapakah cukup itu. Jika sudah berkecukupan, rasanya tidak ada alasan untuk tidak mau menerima kebahagiaan yang bisa datang kapan pun itu..

'

Thursday, February 21, 2013

Pekerjaan Menuju Bahagia

foto oleh vitarlenology


"Hal terbaik di dunia ini adalah sesuatu yang dikerjakan oleh tangan."

Tulisan itu tanpa sengaja kutemukan di sebuah rajutan tangan milik seorang teman. Tentu saja aku membenarkan sekaligus meyakininya. Apalagi setelah beberapa tahun terakhir ini, aku memutuskan untuk fokus dalam urusan pekerjaan tangan ini (baca: sebagai penjilid alias book binder).

Sejak kecil aku membuat mainanku sendiri. Kesenangan ini memang terkondisikan oleh lingkungan keluarga. Ibuku meski bekerja di kantor, ia selalu menjahit sendiri baju untuk anak-anaknya. Sementara bapakku itu hobinya otomotif dan sangat senang mobil tua. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam sampai tengah malam, sepulang kantor hanya untuk mengutak-atik Opel Rekord Olympia tahun 1954nya itu. Selain terkondisikan, karena kedua orang tuaku bukan orang tua yang cukup berlebihan untuk membelikan mainan atau kesukaan anak-anaknya. Bapak lebih senang membelikan buku cara membuat atau buku aneka percobaan-percobaan daripada mainan terbaru. Saat masih kanak-kanak, kondisi ini adalah terasa sebagai penderitaan. Karena membuat mainan sendiri menjadi desakan keadaan meski lama-lama jadi kebiasaan yang mulai bisa dinikmati bahkan menjadi kemewahan di saat dewasa, karena keleluasaan untuk mencoba dan bereksplorasi sejak kecil, tidak semua anak bisa mendapatkannya.

Mungkin memang sudah tertulis di garis tanganku, bahwa pekerjaanku tak akan pernah lepas dari pekerjaan tangan. Meksi banyak pekerjaan pernah aku coba dari yang ga pake mikir sampai yang harus bener-bener mikir karena mengerjakan penelitian. Namun rupanya, selalu ada yang kurang ketika apa yang kukerjakan tidak melibatkan pekerjaan tangan. Pekerjaan tangan yang kumaksud di sini adalah membuat atau menciptakan sesuatu. Itu sebabnya setelah menjalani bermacam pekerjaan, akhirnya selain mengurusi tobucil, menjadi penulis lepas, aku memutuskan menjadi penjilid  buku (book binder). Karena ketiganya bisa saling pengisi dan menyeimbangkan.

Sebagai penjilid aku menikmati sekali proses dari mulai membayangkan aku ingin membuat notebook seperti apa. Kemudian mempelajari tekniknya, memahami karakter bahannya lalu mengeksekusi semuanya dengan membuatnya sesuai dengan bayangan yang ada di kepalaku. Ketika notebook itu selesai seperti yang kubayangkan, bagiku itu sebuah pencapaian. Persoalan apakah notebook itu bisa di jual dan menghasilkan uang atau tidak, itu perkara lain. Proses penciptaannya menjadi lebih penting buatku. Untuk menyeimbangkan pekerjaan tangan, pekerjaan menulis yang lebih banyak menggunakan otak untuk berpikir dan menuangkan pikiran itu ke dalam kata-kata itu seperti proses penggodogan ide dan gagasan lalu menuangkannya ke dalam kata-kata sebagai sebuah konsep hasil berpikir. Sementara menjadi book binder itu seperti mengeksekusi pekerjaan berpikir sebagai penulis menjadi sesuatu yang tiga dimensional, bisa teraba hasilnya. Itu sebabnya dari sekian banyak hobi yang pernah aku jalani, akhirnya aku memilih menekuni book binding, karena begitu erat kaitannya dengan dunia tulis menulis dan kebiasaanku menulis buku harian.  

Dan buatku ternyata bekerja dengan membuat sesuatu lewat pekerjaan tangan, uang yang kuhasilkan darinya terasa lebih nikmat. Mungkin karena aku tau persis setiap rupiah yang aku dapatkan dari membuat notebook, adalah jerih payahku dan tidak mengambil hak orang lain. Selain itu aku juga menikmati prosesnya. Hasilnya lebih bisa aku nikmati. Lebih 'jadi daging' kalo istilah ibuku. Buatku sebuah pekerjaan bisa dinikmati hasilnya ketika aku bisa mendapatkan fasilitas untuk merasakan kebahagiaan.

Jadi untuk apa menjalani pekerjaan jika hasilnya tidak mengantarkanku merasakan bahagia. Dan kebahagiaan bagi setiap orang itu berbeda-beda. Bahkan bagi orang yang sama pun, kebahagiaan itu akan selalu datang dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda. Itu sebabnya pekerjaan punya peran penting dalam mendefinisikan kebahagiaan setiap orang bahkan pekerjaan bisa mendefinisikan kemanusiaan seseorang.

Monday, February 04, 2013

Searching for Sugar Man (2012): Perjalanan Menemukan Rodriguez

dokumenter musik * * * * *
Sutradara:  

Searching for Sugar Man (2012) adalah film dokumenter yang membuatku 'WOW!!' di akhir film. WOW!!  karena heran, takjub sekaligus sulit untuk percaya, bahwa ada manusia dengan kisah hidup seperti Rodriguez di dunia ini. Berawal dari rasa penasaran Stephen 'Sugar' Segerman seorang penggemar fanatik dan Craig Bartholomew Strydom, jurnalis musik atas rumor kematian musisi idola mereka yang bernama Rodriguez_ seorang musisi ballad dari era 70an asal Amerika yang begitu terkenal di Afrika Selatan. Selama ini lagu-lagu Rodriguez di album Cold Fact, menjadi lagu wajib perjuangan para penentang politik Apartheid di Afrika Selatan. Mungkin kalau di Indonesia lagu-lagu Rodriguez di Aftika Selatan seperti lagu-lagunya Iwan Fals di masa Orde Baru.

Namun siapakah Rodriguez ini? Sosoknya begitu misterius. Sepanjang karirnya sebagai musisi, hampir tidak pernah ada pemberitaan tentang Rodriguez. Album Cold Fact hanya terjual 50 keping saja. Padahal produsernya menyebut-nyebut musik Rodriguez jauh baik dari Marvin Gaye sekalipun. Selebihnya tak ada yang tau asal-usul dan kisah kehidupan penyanyi ini, selain bahwa Rodriguez berasal dari Amerika Serikat. Misteri inilah yang membuat, banyak orang berspekulasi tentang siapa Rodriguez. Para penggemarnya menyakini gambaran sosok Rodriguez, justru dari lirik-lirik lagunya, karena inilah sumber tertulis satu-satunya yang bisa ditemukan dan ditafsir. Salah satu lagunya, menceritakan tentang seorang penyanyi yang merasa gagal lalu bunuh diri setelah konser pertamanya. Lirik ini membuat penggemarnya berkeyakinan bahwa Rodriguez sudah mati.

Sebagai jurnalis Craig melakukan penelusuran untuk memecahkan misteri Rodriguez. Jika benar Rodriguez telah mati, Craig ingin mengetahui, dimanakah kuburnya. Mulailah Craig menelusuri setiap tempat yang pernah disebut Rodriguez dalam lagunya. Craig sempat melacak Rodriguez sampai London, Amsterdam, New York,  di lokasi yang disebut-sebut Rodriguez dalam lagunya. Sampai-sampai Craig memasang iklan mencari Rodriguez di kotak susu. Namun sia-sia. Tak ada orang yang tau mengenai keberadaan penyanyi bernama lengkap Sixto Diaz Rodriguez ini. Ketika hampir menyerah, Craig justru menemukan sebuah daerah bernama Deerborn di pinggiran Detroit yang luput dari perhatiannya. Pergilah Craig kesana dan bertemulah ia dengan beberapa produser rekaman yang terlibat dalam penggarapan album Rodriguez.

Di belahan dunia yang lain_Afrika Selatan, Stephen Segerman sebagai pengelola situs dan forum para penggemar Rodriguez, mendapatkan kejutan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Eva Rodriguez, anak perempuan Rodriguez, tak sengaja menemukan situs yang dikelola Stephen dan terkaget-kaget dengan berita 'rumor' tentang kematian ayahnya. Eva pun menghungi Stephen, menjelaskan bahwa rumor itu tidak benar. Ayahnya masih hidup, tinggal di Detroit dan baik-baik saja.

Craig pun mendapatkan kabar yang sama seperti yang diterima Stephen dari salah satu produser yang mengatakan Rodriguez masih hidup, tidak lagi bekerja sebagai musisi tapi sebagai kontraktor yang melayani pembongkaran bangunan tua, sebelum di ratakan dan dibangun kembali. Kehidupannya begitu sederhana bahkan bisa dikatakan hidup dalam kemiskinan.

Setelah terhubung dengan Rodriguez, Stephen mengorganisir konser pertama Rodriguez di Afrika Selatan dengan penonton puluhan ribu penonton pada tahun 1998. Tiket konser terjual habis. Penggemarnya tak sabar ingin menyaksikan langsung idola mereka. Sementara Rodriguez tidak pernah membayangkan seperti apa apresiasi penggemarnya di Afrika Selatan. Saat Rodriguez muncul di panggung, penggemarnya dari beberapa generasi itu, seperti melihat idola mereka bangkit dari kubur. Rodriguez bahkan mendapatkan penghargaan Platinum untuk penjualan album Cold Fact  di Afrika Selatan.



Rodriguez tidak pernah menyangka bahwa lagu dan sosoknya sedemikian besar di Afrika Selatan. Bahkan pemerintahan apartheid sempat melarang beberapa lagu Rodriguez karena dianggap dapat mendorong tindakan subversif (seperti lagu-lagu Iwan Fals di masa Orde Baru). Jauh di wilayah suburban Detroit, penyanyi berdarah Mexico ini, menganggap karirnya di bidang musik sudah tamat, bersamaan dengan dua albumnya yang dianggap gagal. Rodiguez memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya seperti halnya kelas pekerja di Detroit lainnya. Bekerja keras untuk kelangsungan hidup keluarganya. Ia bahkan hampir tidak pernah membicarakan soal kehidupannya sebagai musisi pada anak-anaknya. Di kalangan rekan kerjanya, Rodriguez dikenal sebagai sosok yang sangat membumi dan pekerja keras. Ia aktif terlibat dalam perjuangan serikat pekerja dan minoritas latin di lingkungannya. Rodriguez bahkan sempat mencalonkan diri sebagai walikota dengan tujuan menjadi wakil yang menyuarakan hak-hak kelas pekerja dan minoritas. Rodriguez juga mendidik ketiga putrinya dengan mengutamakan pendidikan dan memperkenalkan anak-anak mereka pada seni sejak kecil.

Setelah dokumenter ini beredar dan menjadi salah satu nominasi dokumenter terbaik Academy Award 2013, tiba-tiba saja publik Amerika tersadar akan kehadiran superstar yang 'tersembunyi' selama lebih dari 40 tahun. Seiring dengan banyaknya penghargaan untuk dokumenter ini dan review yang positif dari media-media besar Amerika seperti The New York Times, The Rolling Stones Magazine, sosok Rodriguez muncul ke permukaan  dan musiknya mendapatkan apresiasi luas dari publik Amerika. Kini Rodriguez seperti menjalani dua kehidupan yang sangat berbeda satu sama lain: musisi yang tiba-tiba mendapat sorotan luas dan seorang pekerja konstruksi yang memilih tetap tinggal di rumah sederhana  yang telah ia tempati selama 40 tahun terakhir. Kesuksesan materi yang tiba-tiba datang padanya, tak membuatnya silau dan kehilangan pegangan atau mendadak jadi OKB! (Orang Kaya Baru). Rodriguez  membuktikan bahwa kesuksesan itu perkara mental dan bagi Rodriguez butuh 40 tahun lebih untuk mempersiapkan mentalitas sukses itu.



"Musicians want to be heard. So I’m not hiding. But I do like to leave it there onstage and be myself, in that sense. Because some people carry it with them."  Rodriguez -Rolling Stone

Sunday, February 03, 2013

Beasts of The Southern Wild (2012)


* * * * *
Sutradara: Benh Zeitlin


Hush Puppy berlari sesana kemari. Mejelajahi semestanya di antara monster-monster dari selatan yang hidup bersamanya. Tanpa takut, tanpa ragu di tengah dunia yang ia pijak bisa runtuh sewaktu-waktu. Hush Puppy hanya perlu memastikan ayahnya hadir dalam kekuatan dan kerapuhannya sekaligus. 

"Semua Ayah di dunia ini boleh mati, tapi tidak dengan Ayahku."
"Tidak Hush Puppy. Ayahmu yang ini sama seperti yang Ayah lain, dia juga akan mati."


Tak ada kesan glamour dan mewah sama sekali. Beasts of The Southern Wild yang dikategorikan sebagai film berbiaya rendah ini, menampilkan suasana daerah selatan yang kental: 'kampung di pedalaman', miskin, kumuh, terabaikan, namun penghuninya begitu akrab dan hangat satu sama lain. Dengan narasi serta sinematografi terasa begitu 'magical' namun sekaligus begitu 'riil', lekat dan membumi. 

Badai dan banjir menjadi tragedi yang justru diterima bukan dengan tangis dan airmata oleh tokoh-tokohnya. Kekuatan film ini justru karena semua persoalan itu hadir dalam pandangan Hush Puppy yang lebih optimis sekaligus imajinatif dalam takaran yang pas. Mungkin karena di sini Hush Puppy tidak berusaha menjadi tokoh 'bocah sok tau' yang seolah-olah mengerti semuanya. Di sini Hush Puppy menerima dunianya dalam kepolosan dan ketidak mengertiannya. Sepanjang film adalah cerita bagaimana Hush Puppy berusaha menemukan kembali cintanya pada sang ayah yang begitu temperamental sekaligus juga mencari keberanian ketika Hush Puppy harus menerima kenyataan bahwa ayahnya sedang sekarat. Semua tragedi dan kesedihan itu hadir lewat  Hush Puppy  sebagai harapan dan inspirasi.

Tidak ada aktor dan aktris terkenal yang hadir di film ini. Ben Zeitlin sengaja menghadirkan orang-orang di sekitar lokasi pembuatan filmnya, sebagai bintangnya. Wink, ayah Hush Puppy, diperankan oleh Dwight Henry, pemilik toko roti yang diundang casting, saat kru film menghabiskan waktu-waktu sarapan mereka selama proses produksi di toko roti milik Henry. 

Beast of the Southern Wild adalah film perdana Benh Zeitlin, sutradara sekaligus penulis naskah dan langsung mendapatkan 4 nominasi Academy Award 2013 dalam kategori film terbaik, sutradara terbaik, aktris terbaik dan naskah terbaik.  Quvenzhane Wallis memerankan Hush Puppy dengan begitu memukau. Padahal bocah berusia 9 tahun ini belum pernah berakting sama sekali sebelumnya. Bakat aktingnya begitu istimewa, Quvenzhane bisa menghayati perannya dengan sangat baik dan aktingnya sebagai Hush Puppy begitu natural. Prestasinya sebagai nominator aktris terbaik Academy Award 2013  membuat Quvenzhane mencatat sejarah sebagai aktris termuda yang pernah masuk dalam nominasi aktris terbaik Academy Award.

gambar dari sini
Hubungan Hush Puppy dan ayahnya, mengingatkanku pada film The Ballad Jack and Rose dalam langgam dan mood yang berbeda, namun metafor imajinasinya terasa mirip meski tak sama. Pada Beast and The Southern Wild, ketakutan kehilangan ayah itu adalah imajinasi tentang babi hutan yang mengejar-ngejar Hush Puppy, sampai akhirnya Hush Puppy punya keberanian menghadapinya. Sementara dalam Ballad Jack and Rose, ketakutan kehilangan ayah adalah cerita tentang banteng yang sewaktu-waktu bisa datang dan membawa Rose pergi, meninggalkan ayahnya. Sebagai anak ayah, film dengan cerita hubungan ayah dan anak perempuan selalu terasa lebih emosional.Bagiku film ini termasuk film yang 'mengganggu' dan tidak mudah dilupakan.


LinkWithin

Related Posts with Thumbnails