Saturday, August 25, 2012

Dilarang Gondrong!


Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an
Penulis : Aria Wiratma Yudhistira
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun 2010

Pernah, pada masa Orde Baru, pemerintahan Soeharto begitu anti terhadap rambut gondrong. Bahkan Soeharto pernah memerintahkan dibentuknya Bakorperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong). 

Antipati yang sedemikian besar terhadap rambut gondrong ini menjadi kajian sejarah yang menarik dalam buku yang ditulis Aria Wiratma Yudhistira. 

Buku ini merupakan hasil skripsinya sebagai mahasiswa di jurusan sejarah Universitas Indonesia, diberi judul: Dilarang Gondrong! Praktik kekuasaan Orde baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an.

Aria mencatat, pernyataan Pangkopkamtib pada tanggal 1 Oktober 1973 dalam sebuah acara perbincangan di TVRI, menyatakan bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi Onverschillig alias acuh tak acuh (hlm 1). Pernyataan ini selanjutnya menjadi pembenaran atas tindakan anti rambut gondrong. Meski di sisi lain, protes dari kalangan muda pun bermunculan. Seperti yang terjadi pada tanggal 10 Oktober 1973 dan dilakukan oleh 11 orang delegasi Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (DM-ITB), dengan dipimpin Muslim Tampubolon sebagai ketua perwakilan mahasiswa, mereka mendatangi DPR-RI di Jakarta untuk memprotes pernyataan Pangkopkamtib tersebut (hlm. 2). Untuk itu, selanjutnya buku ini mencoba untuk fokus dalam menelisisk, bagaimana praktek kekuasaan (Orde Baru) diterapkan kepada para pemuda pada masa itu.

Ketika membicarakan anak muda, Aria berpegang pada  dua jenis pengelompokan anak muda. Pertama yang bersikap apatis terhadap  persoalan politik, dan kedua yang memiliki kesadaran tiinggi terhadap persoalan bangsa. atau yang disebut sebagai kelompok mahasiswa. (hal 11). Sementara dua kelompok anak muda ini, berada dalam lingkungan yang menurut penelitian Saya Shiraishi: “bapak”, “ibu” dan “anak” serta Soeharto sebagai “Bapak Tertinggi” (Supreme Father). Dengan demikian orang tua memiliki kedudukan dominan dikarenakan pengalaman hidupnya menuntut penghormatan dari anak-anaknya (hlm. 10)  Dengan menempatkan Soerharto sebagai ‘bapak Orde Baru’ maka tertutuplah kesempatan bahwa revolusi di Indonesia dipegang oleh generasi muda, seperti yang telah terjadi sebelumnya (hal. 33).

Sementara, pada saat Orde Baru mulai membangun pondasinya di era 1960-an, di Amerika Utara dan Eropa berkembang budaya tandingan yang dimotori oleh anak-anak muda. Di Amerika Serikat, gerakan hak sipil orang kulit hitam, gerakan perempuan, gerakan orang-orang hispanik dan penduduk asli Indian, menjadi cara bagi generasi muda menentang budaya dominan dan tatanan sosial yang telah mapan yang dibangun setelah Perang Dunia II (hal. 40). Munculnya perang dingin antara dua blok kekuatan usai Perang Dunia II; Amerika dan Uni Sovyet, menumbuhkan kejenuhan dan semangat damai anti perang di kalangan anak muda Amerika Serikat, Kanada dan Eropa Utara. Hippies lalu muncul sebagai sebuah gagasan tentang cara hidup atau cara pandang alternatif atau berbeda dengan kehidupan yang dominan berlaku pada saat itu. Kaum hippies ini menjadi mudah dikenali karena secara kasat mata dapat dilihat dari penampilannya yang eksentrik: rambut panjang, jenggot yang dibiarkan tak dicukur, pakaian longgar aneka warna (psikedelik), sandal, kalung, gelang dan perempuannya tidak memakai bra (hal. 42-43).

Ketika pengaruh hippies ini masuk ke Indonesia dengan gaya hidup bohemian, menjadi persoalan karena dianggap mengganggu ketentraman umum oleh pemerintah (hal. 45). Bahkan Menteri Dalam Negeri Amir Machmud dalam harian Suara  Karya, 22 Januari 1972, mengatakan “Meskipun bagsa Indonesia tekenal ramah tamah, tetapi terhadap hippies tak perlu ramah dan pada waktunya nanti akan dilarang.” (hal. 46).

Dalam buku ini, Aria melihat bahwa semangat flower generation yng dibawa oleh kaum hippies ini, ketika masuk dan mempengaruhi gaya hidup muda-mudi Indonesia, lebih pada persoalan imitasi gaya hidup dan penampilan daripada simbol pemberontakan terhadap kemapanan seperti yang terjadi di negara asalnya. Perbedaan ini menurut Aria dikarenakan Indonesia masih berada dalam tahap transisi, sehingga “kemapanan” secara budaya, ekonomi serta politik belum tercapai (hal. 54). Namun Aria juga memaparkan bahwa sebagian generasi muda juga menolak ketika disebut tenggelam  dalam kebudayaan atau pengaruh barat dan terjerumus dalam dekadensi moral karenanya. Bagi kalangan generasi muda yang membantah, “Kebudajaan kami bukanlah kebudajaan Indonesia atau kebudajaan Barat, melainkan kebudajaan internasional” (hal. 95).

Tuduhan dekadensi moral terhadap gaya hidup generasi muda pada saat itu, juga tidak lepas dari pencitraan yang dibangun oleh media massa. Lewat judul-judul pemberitaan yang mendeskreditkan rambut gondrong seperti yang dimuat di harian Pos Kota pada  Oktober 1973: ”7 Pemuda Gondrong Merampok Biskota”, “Waktu Mabuk Di Pabrik Peti Mati: 6 Pemuda Gondrong Perkosa 2 Wanita”. Juga yang muncul di harian lain seperti Angkatan Bersenjata pada tahun yang sama: “5 Pemuda Gondrong Memeras Pakai Surat Ancaman”. Citra buruk diterakan pada rambut gondrong sehingga identik dengan kriminal dan pelaku kejahatan (bab 5). Upaya mengkriminalisasikan rambut gondrong menjadi salah satu cara Orde Baru pada saat itu mengontrol gejolak dan ketidakpuasan  generasi muda terhadap kekuasaan pada saat itu.

Yang menarik dari buku ini adalah tidak banyak kajian sejarah yang menghubungkan persoalan gaya hidup serta kontrol terhadap tubuh laki-laki sebagai cara untuk mempertahankan status quo dalam kekuasaan Orde Baru. Rambut gondrong bukan lagi sekedar keinginan tampil beda. Ketika gaya hidup ini dilakukan secara komunal dengan mengadopsi semangat perlawanan atas kemapanan, maka rambut gondrong bisa dianggap sebagai ancaman serius bagi penguasa. (Tarlen Handayani)

Friday, August 24, 2012

Apa Kabar Drawing Hari Ini?


gambar atas kebaikan R.E. Hartanto


G. Sidharta Soegijo (alm), pematung yang semasa hidupnya mengajar di FSRD ITB, pernah mengatakan “Salah satu cara yang paling langsung untuk menghubungkan proses berpikir, yang berlangsung secara abstrak, dengan bentuk visual, yang konkret, adalah melalui gambar.” Itu sebabnya jika membicarakan seni gambar tentu saja terkait dengan bagaimana seniman mengkerangkakan  gagasan-gagasan sebelum menjadi karya yang lebih utuh.

Sebagai sebuah kerangka karya, gambar atau drawing seringkali tenggelam di bawah medium atau seni yang di dukung olehnya. Timbul tenggelamnya gambar dalam perkembangan seni rupa, sangat dipengaruhi oleh pendekatan pemikiran yang membentuk fase-fase perkembangan seni rupa. Misalnya saja, pada masa Renesans dimana seni lukis menjadi kategori seni tinggi. Otomatis menggambar menjadi bagian yang penting yang harus dikuasai. Sementara dalam perkembangan seni moderen, gambar tidak lagi menjadi sebuah kemampuan yang harus dikuasai secara teknis. Karena seniman tidak lagi dituntut untuk menguasai kemampuan gambar secara anatomis. Sketsa untuk memvisualisasikan konsep saja sudah cukup. Kecenderungan ini berlangsung dari masa seni rupa moderen sampai masa memasuki seni rupa kontemporer. 

Sementara dalam perkembangan seni rupa kontemporer yang membuka beragam kemungkinan dalam ekspresi artistic, pada prakteknya gambar lebih banyak digunakan sebagai salah satu pilihan cara untuk menampilkan gagasan visual ketimbang pendekatan yang dipilih seniman untuk menemukan esensi dan sublimasi ekspresi visual yang dilakoni nya.

Itu sebabnya menurut R.E. Hartanto, seniman yang senang sekali membuat 'doodling' di buku kerjanya mengatakan: “Perkembangan drawing itu seperti bara, terus menyala tapi tidak akan menjadi kobaran api yang besar. Seni gambar akan selalu mendapat tempat, meski definisi mendapat tempat ini sangat bisa diperdebatkan." Menurut seniman yang akrab di panggil Tanto ini menambahkan bahwa sifat drawing yang 'versatile' atau dapat digunakan untuk berbagai fungsi dan kepentingan ini, membuat drawing menjadi  fleksibel.

Agung Hujatnika, kurator Selasar Sunaryo menilai, ada masanya dalam perjalanan kekaryaan seniman, drawing itu menjadi sesuatu yang ‘cool’ dan menjadi medium yang dipilih. “Ada masa dimana Agus Suwage banyak membuat drawing di atas kertas, sebelum melukis di atas kanvas jadi pilihan medium berikutnya,” Agung mencontohkan.

Meskipun sifatnya yang fleksibel dan fungsinya yang cukup beragam, tidak banyak seniman menjadikan gambar sebagai metode utamanya dalam berkarya.

“Di Bandung,awal tahun 1990an sampai pertengahan 1990, drawing bisa dikatakan menonjol sebagai sebuah seni yang otonom. Tisna Sanjaya menurut saya banyak menginspirasi seniman lain untuk menggunakan medium drawing dalam berkarya, termasuk kelompok Gerbong, Nandang Gawe, Dodi Rosadi,” ungkap Agung. Situasi ini menurut Agung karena ada seni lukis tidak lagi superior. Situasi sosial politik yang berkembang pada saat itu juga ikut membentuk tema-tema yang dieksplorasi melalui medium ini.

 “Pada karya Rosyid dan Pramuhendra, kita bisa menemukan imbas dominasi pasar seni rupa yang berkembang saat ini. Seniman-seniman ini menggunakan drawing sebagai teknik untuk membuat karya di atas kanvas,” ungkap Heru Hikayat, kurator seni rupa yang tinggal di Bandung. Heru juga  menjelaskan pengamatannya terhadap perkembangan drawing ini. “Secara isi yang politis juga masih tetap ada seperti karya-karyanya Isa Perkasa, tapi yang sangat personal juga ada. Realisme fotografi dan pengaruh komik-komik jepang punya pengaruh dalam gaya.”

Jika menyinggung soal penerimaan karya-karya drawing ini, Heru melihat bahwa drawing menjadi salah satu pilihan yang mulai di pertimbangkan. “Penerimaan pasar sudah lebih moderat dan membuka apresiator yang lebih luas, karena sekarang ini selera pasar juga sudah lebih beragam tidak melulu lukisan saja yang dicari kolektor.”

Di sisi lain, Agung Hujatnika melihat bahwa mayoritas kolekter tetap saja menjatuhkan pilihan pada lukisan. “Karena mengkoleksi drawing itu sulit perawatannya. Apalagi di negara tropis dengan kelembaban yang tinggi seperti Indonesia. Karya drawing di atas kertas menjadi mudah rusak di bandingkan karya lukis,” Agung menjelaskan.

Setelah tahun 2000an, seiring dengan berkembangnya wacana seni rupa kontemporer yang membuka banyak pilihan medium dalam berkarya, Agung melihat bahwa fanatisme terhadap satu medium semakin memudar. Sebagai sebuah wacana masa awal 1990 bagi drawing, tidak akan terulang lagi. “ Bukan hanya drawing, semua medium dalam seni rupa, secara wacana sudah selesai, karena sudah pernah di coba.” 

Saat ini, ketika seni memberi keleluasaan dan berbagai pilihan, keragam medium ini justru menjadi tantangan seniman untuk melahirkan karya yang sesuai dengan karakteristik mediumnya. “Drawing menjadi salah satu pilihan otonom dari banyak pilihan lain. Seniman bisa lebih bebas menggunakan banyak medium sekaligus. Dan medium-medium ini posisinya menjadi sejajar satu sama lain,” kata Agung.

Bagi seniman seperti R.E. Hartanto, kesejajaran posisi drawing ini dengan medium seni yang lain, justru membuat drawing bisa dengan leluasa memanfaatkan beragam media untuk membangun apresiasi penikmatnya. “Menurut saya, drawing justru harus muncul di segala media dari tembok WC, blog, galeri sampai museum bergengsi yang penting kalau buat saya, karya itu bisa diapresiasi seluas mungkin,” tambah Tanto. (Tarlen Handayani)

Tulisan ini pernah dimuat di lembar Khazanah, Pikiran Rakyat, 15 April 2012

Kolase ‘Mbeling’ Ala Amenk


‘Gelora sanubari ini terpancar begitu bahagia tatkala cara ungkap si ayang tumpah ruah merona indah bersama hadiah jadian yang baru tiga bulan ini, memang cukup spesial dan begitu mewah kelihatannya tapi aku tidak begitu menginginkannya aku ingin cinta yang murni dari dia tanpa melihat dari fisik & materi aku mencintaimu apa adanya ayang, kawinilah diriku seperti kucing garong’

Barisan teks itu melengkapi gambar sepasang kekasih yang tengah memandang hadiah spesial: sebuah mobil bertuliskan ‘Aku Cinta Kamyu’. Mufti Priyanka menjuduli karya tersebut ‘Cinta yang Tipikal’, karya gambar akrilik di atas kanvas, tahun 2011. Sekilas, kesan picisan terasa kuat, namun jika di tilik lebih jauh ada sesuatu yang janggal, rasa ganjil dari perpaduan teks yang terpatah-patah dan gambar ilustratif ini. 

Gambar atas kebaikan Mufty Priyanka

Mufti Priyanka atau yang akrab di sapa Amenk, lahir di Bandung 5 Juli 1980. Tercatat sebagai alumnus Jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI angkatan 1998. Selama ini Amenk dikenal sebagai seniman yang konsisten menggeluti gambar sebagai pendekatan utama kekaryaannya dengan menggunakan tinta cina di atas kertas sebagai medium utamanya. Herry Sutresna atau yang lebih dikenal dengan nama Ucok Homicide, menyebut Amenk sebagai ‘korban penculikan alien yang barat-sentris.’ Dimana Amenk kadang-kadang bisa menyaru sebagai punk,  kadang-kadang hip-hop, namun seringkali metal dan bokep dengan semangat kampring yang kentara jelas. Sebuah gambaran yang cukup absurd.

Keabsurdan yang  nyata seperti dalam karya ‘Can’t Get Enough Annoying’, tinta cina di atas kertas, Amenk menggambarkan seorang anak punk dengan rompi berlambang ‘Anarki’, mencium tangan polisi bernama Sunyoto. Hal yang mungkin saja terjadi dalam dunia nyata, tapi sungguh janggal adanya jika sampai menyaksikannya.

“Tahun 2007 waktu boom lukisan, terus karya-karya seniman-seniman muda banyak di cari dan sold out, saya merasa kok gini-gini aja. Makanya saya coba melukis. Saya mah naïf aja, sebagai seniman ngora hayang sold out oge. Tapi trus muncul masukan dan kritik dari sahabat-sahabat saya.. ieu mah lain maneh menk..  dan itu bikin saya stress. Proses berkarya di kanvas itu tidak pernah terselesaikan, akhirnya saya balik lagi ke drawing,” Amenk mengungkapkan.

Sepintas gambar-gambarnya Amenk ini mengingatkan pada karya Raymond Pettibon, seniman Amerika yang juga kakak dari Greg Ginn mantan pentolan band punk berpengaruh, Black Flag. Ada kesamaan dari karya Pettibon dan Amenk dimana keduanya sama-sama komikal, subyeknya cukup mengganggu serta teks-teks yang ambigu. Amenk mengaku, Pettibon memberi pengaruh yang kuat dalam karyanya.

“Pettibon mempengaruhi saya karena kesamaan visi dan pendekatan, tapi karena Pettibon juga pelaku dalam komunitas punk, jadi narasinya beda karena dia seperti membuat pernyataan dari yang dia wakili. Kalau saya lebih mengadopsi. saya ga pernah sadar, saya berkarya untuk siapa, untuk publik mana, dan tidak terbebani oleh itu. sebenarnya kalau dibilang karya saya mewakili semangat zaman, saha oge nu diwakili, untuk zaman yang mana juga?  ada asumsi bahwa karya saya selalu ngepunk, saya kan lain budak punk dan karya saya juga ga selalu mengacu ke si punk itu sendiri.. “ jelas Amenk.

Gambar atas kebaikan Mufty Priyanka 

Selain Pettibon, secara visual Amenk juga banyak dipengaruhi oleh Winston Smith dan Frank Kozik. Pengaruh para seniman subkultur barat ini bercampur dengan kesukaannya pada komik-komik karya Tatang S., novel-novel picisan Nick Carter, Eni Erow, majalah Aktuil, juga hobinya terhadap barang-barang vintage, serta pergaulanannya dengan teman-teman berlatar belakang sastra Indonesia yang membawanya pada teks-teks ‘mbeling’ yang terpatah-patah. Ketika menemukan majalah komik foto copy-an ‘Daging Tumbuh’ buatan seniman asal Yogjakarta, Eko Nugroho, Amenk seperti menemukan tawaran lain dari jalan kekaryaannya yang selama ini dia cari. Semua itu bercampur menjadi satu, seperti potongan-potongan yang terpisah-pisah, namun ketika disusun dalam sebuah kolase, melahirkan karakter khas dari karya-karyanya

“Saya ada di dunia yang saya ciptakan saya sendiri, tapi saya juga suka ga sadar bahwa kondisi itu justru jadi kekuatan orang lain untuk menafsir karya saya. Saya mah irisan-irisan kecil dari pergesekan nilai-nilai kultur yang ada di kota bandung. Saya juga teu ngahaja-haja hayang di sebut siga kumaha..” tambah Amenk.

Kekonsistenan ini membuat perjalanan Amenk dalam perkembangan seni rupa di Bandung, menarik untuk di cermati. Di tengah lompatan-lompatan pilihan artistic dan medium yang banyak dilakukan oleh seniman-seniman seangkatannya, Amenk seperti ‘keukeuh’ (tapi santai) berjalan pada jalur yang ia yakini. Semangat ‘mbeling’ yang dibawa pada karya-karyanya justru membuat para penikmatannya bisa bebas berjumpalitan menafsirkan karyanya. Bahkan ketika karyanya dinikmati seringan menikmati komik picisan sekalipun, Amenk tidak berkeratan. “Pada akhirnya saya harus meyakini apa yang saya kerjakan ini harus sesuatu yang enjoi, buat saya juga buat yang menikmati.” (Tarlen Handayani)


Tulisan ini pernah dimuat di lembar Khazanah Pikiran Rakyat, Minggu, 15 April 2012

Hari ini, teman baikku, Amenk, sedang berduka. Ayahnya meninggal dunia. Semoga Amenk diberi ketabahan dan kekuatan untuk menghadapi kehilangan ini.. 

Monday, August 20, 2012

#MovieComment Detachment (2011): Renungan Seorang Guru Pengganti


* * * *
Sutradara: Tony Kaye

A child's intelligent heart can fathom the depth of many dark places, but can it fathom the delicate moment of its own detachment? -Henry Barthes-

Lima menit pertama menonton film ini komentar spontan yang muncul adalah film ini 'berat'. Dialog-dialognya sejak awal langsung mengajak penonton merenung, betapa  menjadi pendidik bukanlah hal mudah.

Friday, August 17, 2012

#30hari30film Buffalo 66 (1998): 'Selalu Tentang Vincent Gallo'


* * * * 
Sutradara: Vincent Gallo

Apapun yang diperankan oleh Vincent Gallo, selalu terasa mengganggu. Mengganggu bukan dalam arti nyesek karena keseluruhan film memberi dampak emosi yang sedemikan dalam setelah usai menonton, tapi mengganggu dalan arti karena sosok Vincent Gallonya sendiri juga secara penampilan dan gesture memang mengganggu. Kok, ada ya orang yang bisa seperti itu? Hingga seringkali, ceritanya biasa-biasa saja, tapi Vincent Gallo selalu berhasil membuatnya menjadi tidak biasa. 

Thursday, August 16, 2012

#30hari30film Lord of The Flies (1963)

* * * * 1/2
Sutradara: Peter Brook



Bayangkan 30 orang anak laki-laki, terdampar di sebuah pulau karena pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Tiga puluh orang anak ini mesti memikirkan cara bagaimana bertahan hidup dan mencari pertolongan. Sebuah film yang diangkat dari novel karya William Colding dan digarap oleh sutradara Peter Brook.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails