Saturday, July 28, 2012

#30hari30film Cerita Dari Tapal Batas (2011) Sebuah Upaya Mencari Batas Permasalahan Tapal Batas

Dokumenter. Sutradara: Wisnu Adi
* * *

Tidak banyak film dokumenter yang menceritakan tentang persoalan di perbatasan wilayah Indonesia dan Malaysia. Itu sebabnya film dokumenter yang mengangkat persoalan seperti ini tentunya sulit untuk menahan dorongan menceritakan banyak hal yang membuatnya kurang fokus dan kehilangan kekuatan untuk 'mengganggu' penontonnya.

Adalah Cerita Dari Tapal Batas garapan sutradara Wisnu Adi yang mencoba mengangkat beberapa persoalan di perbatasan Kalimantan dengan Malaysia. Ada tiga orang tokoh yang mewakili persoalan-persoalan di wilayah perbatasan ini. Masalah ketidakmerataan pendidikan di pedalaman menjadi problematika klasik yang dalam film ini disuarakan oleh Martini, guru SD yang telah mengajar selama 8 tahun di daerah Entikong. Dengan gaji yang tidak seberapa, Martini harus merangkap peran sebagai guru, kepala sekolah, petugas administrasi dan memegang beberapa kelas sekaligus. Penyebabnya, karena kurangnya tenaga pengajar di desa terluar dan terjauh di wilayah perbatasan ini. Bukan hanya Martini yang mengalami masalah sejenis, Kusnadi, petugas kesehatan pun demikian adanya. Gaji yang diberikan pemerintah setiap bulannya, tentu saja tidak sepadan jika di bandingkan dengan semangat pengabdian, beban dan cakupan kerjanya yang begitu luas dengan medan tempuh yang cukup berat. Sementara Ella, korban traffiking di Singkawang, hadir sebagai salah satu tokoh yang mewakili akibat dari ketidamerataan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan, perdagangan manusia menjadi tawaran untuk menyelesaikan persoalan itu. Ini sama artinya menyelesaikan masalah dengan masalah.

Pada kenyataannya, persoalan di perbatasan jauh lebih banyak daripada tiga persoalan yang diangkat di film ini. Tiga persoalan yang diangkat menurut Wisnu Adi di film ini  cukup menjadi tantangan bagi warga perbatasan untuk bertaruh dengan nasionalismenya, karena mencari penghidupan di negara tetangga, Malaysia lebih menjanjikan. Wisnu Adi berusaha menampilkan kontras ini dan menyatakan secara gamblang dalam narasinya bahwa ini semua adalah salah pemerintah.

Jika dokumenter ini dimaksudkan untuk memberi gambaran umum persoalan diperbatasan, kurasa film ini cukup berhasil. Namun, jika penonton menuntut (setidaknya aku) gambaran persoalan yang lebih mendalam, film ini menjadi gagal fokus. Ketika persoalan yang coba dihadirkan di film ini, sebenarnya cukup berat dan setiap masalah memiliki dimensi yang berbeda. Membuat masalah pendidikan, kesehatan dan perdagangan manusia berhadap-hadapan dalam satu film menurutku membuat argumentasi untuk menjelaskan sebab musabab persoalan menjadi kurang mendalam. Mungkin akan lebih kuat jika satu saja persoalan yang diambil, tapi dieksplorasi dengan lebih dalam.

Tapi aku bisa mengerti, godaan untuk menceritakan banyak persoalan di wilayah seperti Entikong pasti sangat kuat. Sutradara, penulis naskah dan juga produser mesti tega untuk memilah mana yang menjadi fokus. Misalnya, jika masalah pendidikan yang dipilih sebagai fokus, kurasa sosok Martini akan menjadi lebih kuat karena problematikanya bisa lebih tergambarkan dan tidak hanya sekedar terkatakan saja. Begitu pula jika memilih Kusnadi atau Ella sebagai tokoh.

Selain persoalan gagal fokus, ada hal lain yang bagiku cukup mengganggu yaitu teks yang dibacakan oleh narator. Dalam sebuah dokumenter, narasi yang mengantarkan atau menyambungkan persoalan itu menjadi penting. Narasi itu yang mewakili perspektif film maker terhadap persoalan yang dia angkat. Adakah perspektif baru dalam melihat persoalan yang semua orang secara umum telah mengetahuinya. Ataukah film maker hanya mengulang perspektif kebanyakan pihak? Dalam film ini, aku tidak melihat kebaruan dalam memandang persoalan-persoalan di perbatasan ini. Karena kesan yang aku peroleh setelah menontonnya, malah membuat aku berpikir: 'ya memang banyak persoalan di perbatasan, mau digimanain lagi?' seolah tidak ada jalan keluar dan akhirnya masalah diterima sebagaimana adanya.

Aku percaya bahwa sebuah dokumenter bisa disebut berhasil ketika ia bisa menemukan perspektif baru dan kreativitasnya dalam memandang persoalan sehingga penonton senantiasa menemukan aktualitas dari persoalan tersebut. Keberhasilan lebih jauh ketika dokumenter ini bisa menawarkan solusi atau setidaknya harapan yang bisa membuat penonton terbangkitkan kesadarannya untuk berpartisipasi menemukan solusinya. Ya, penonton tau bahwa persoalan-persoalan itu adalah bukti ketidakmampuan pemerintah untuk mengurus warganya, tapi apa yang bisa dilakukan warga yang lain yang berkelimpahan fasilitas dan akses untuk mengatasi kesenjangan tersebut. Memang dalam mengangkat permasalahan seperti ini ke dalam sebuah film dokumenter, cara pandang pembuatnya menjadi sangat menentukan, karena dialah yang membingkai kembali persoalan itu dengan maksud dan tujuannya masing-masing. Terlepas dari segala kekurangnya, upaya mengangkat persoalan di perbatasan  lewat dokumenter ini tetap patut diacungi jempol.

#30hari30film Pull My Daisy - Film 28 Minutes - 1959: Ketika Robert Frank & Alfred Leslie Menafsir Jack Kerouac

Sutradara Robert Frank & Alfred Leslie
Story by Jack Kerouac
Lyrics by Jack Kerouac & Allen Ginsberg
* * * *

Koleksi film sahabatku ini: bu Tita & Pak Agus, selalu membuatku girang gemirang. Salah satu yang terbaru yang kutemukan selama di Yogja adalah film ini. Film pendek berdurasi 28 menit dengan narasi ditulis dan di bacakan oleh Jack Kerouac dan filmnya sendiri digarap oleh Robert Frank dan Alfred Leslie. Mereka semua adalah seniman-seniman di masa beat generation. 

Pull My Daisy merupakan naskah drama Jack Kerouac yang tak pernah di pentaskan. Di ambil dengan menggunakan kamera 16mm, hitam putih di loft studio milik pelukis Alfred Leslie, 4th Avenue, Manhattan, New York City.  Proses penggambilan gambarnya sendiri dimulai sejak bulan Januari 1959 sampai April 1959. Hanya satu orang aktris profesional yang terlibat dalam proyek film pendek ini. Sisanya, aktor dan aktris yang bermain adalah teman-teman sendiri, hanya dengan menggunakan satu kamera dan satu lampu saja. Meski begitu, tidak ada yang tidak dibayar kecuali Frank dan Leslie. Untuk membuat film ini mereka menghabiskan dana $15.000.  Meski semangat dari beat generation adalah spontanitas dalam berkarya, meski durasinya pendek saja, Frank dan Leslie mengaku mereka merencanakan film ini dengan sangat matang.

Filmnya sendiri berkisah tentang  penyair Allen Ginsberg, Peter Orlovsky dan Gregory Corso  ketiganya berperan sebagai diri sendiri juga seniman Larry Rivers (berperan sebagai Milo), Alice Neel (sebagai ibu bishop), musisi David Amram, Richard Bellamy (sebagai Bishop), Delphine Seyrig (istri Milo), Sally Gross (saudara perempuan bishop juga Pablo Frank (anak Robert Frank yang berperan sebagai anak dari pasangan Milo dan istrinya). Semua tokohnya berkumpul dalam sebuah acara makan malam yang digagas oleh istri Milo dengan Bishop sebagai tamu istimewa, dimana sang Bishop menceritakan tentang jalan kereta api brakeman. 

Semua tokohnya tidak ada yang berbicara secara langsung, karena Jack Kerouac berperan sebagai 'dalang' yang menuturkan kisahnya dari awal sampai akhir dengan gambar hitam putih dan gerakan mulut tokoh-tokohnya sesuai dengan apa yang dinarasikan Kerouac. Film ini menjadi komentar bagi berbagai persoalan seperti golongan konservatif Amerika, protes terhadap industrialisasi, masalah pendidikan, anti semit, seksualitas dan pembagian peran berdasarkan gender, agama dan juga patriotisme. Itu sebabnya dilm ini oleh Libary of Congress pada tahun 1996, masuk dalam kategori koleksi "budaya, sejarah atau kategori seni yang cukup penting". 

Ketertarikanku pada karya beat generation dan karena aku menyukai 'On The Road'nya Jack Kerouac, film ini menjadi penting untuk menangkap semangat beat generation lewat film yang dibuat langsung oleh mereka. Tentu saja akan sangat berbeda ketika mencoba menangkap semangat itu, lewat penafsiran generasi sesudahnya. Termasuk juga bagaimana bee boob jazz menjadi ciri musikalitas yang menonjol dari generasi ini. Aku sendiri masih mencerna  soal semangat dari karya-karya beat generation ini, sedang mencoba mencerna karya-karya dari seniman di generasi ini selain Jack Kerouac tentunya. 

Pull My Daisy
Tip My Cup
All My Doors are open
Cut my thoughts for coconuts
All my eggs are broken


Hop my heart song
Harp my height
Seraphs hold me steady
Hip my angel
Hype my light
Lay it on the needy


Pull My Daisy
Lyrics by Jack Kerouac and Allen Ginsberg
Music by David Amram
Singer: Anita Ellis

Thursday, July 26, 2012

#30hari30film Shame (2011) "We're Not Bad People. We Just Come From a Bad Place"


Sutradara: Steve McQueen
* * * *

Pertama-tama perlu kukatakan bahwa film ini buatku termasuk dalam kategori film yang menimbulkan efek samping: gangguan perasaan sesudah menontonnya. Bukan semata-mata karena Michael Fassbender menjadi pecandu seks di film ini yang membuat dia tampil full frontal nude, tapi juga karena keseluruhan filmnya memang berhasil mengganggu.

Berkisah tentang Brandon (Michael Fassbender), lelaki tiga puluhan, New Yorker kelas menengah  yang sukses, dengan pekerjaan mapan, apartemen di daerah upper west side, ganteng, charming dan selalu dengan mudah memikat hati perempuan. Nyaris sempurna. Kecuali satu hal bahwa ia kecanduan seks. Bisa di manapun, kapanpun dan dengan siapapun bahkan dengan dirinya sendiri. Sampai-sampai komputer di tempat kerjanya, berkali-kali harus dibersihkan dari serangan virus ganas akibat terlalu sering mengakses situs-situs dan layanan porno via online. Tapi jangan buru-buru mengira ini film semata-mata tentang seks. Bukan itu. Setiap adegan seks di film ini justru menjadi gambaran tragedi yang dialami tokohnya. Selain itu, film ini juga menggambarkan bagaimana kakak beradik berusaha mengatasi kepahitan masa lalu mereka dengan cara dan kerapuhannya masing-masing.

Steve McQueen sutradara asal Inggris ini,  menggambarkan kekosongan tokohnya dengan sangat baik. Perjalanan Brandon di atas subway, malam hari setelah petualangan seksnya. Perjumpaan Brandon dengan wajah-wajah keseharian, mempertegas kehampaannya di tengah keramaian sekelilingnya.
Juga ketika berada di dalam apartemennya yang begitu 'clean' dan malam-malam yang Brandon habiskan untuk menikmati situs porno atau memuaskan dirinya sendiri.

Mengingatkanku pada rasa kesepian yang pernah sekali dua kali mampir saat merasakan tinggal di tengah hingar bingar New York yang tidak pernah tidur. Sampai-sampai temanku yang tinggal lama di kota ini berseloroh: 'Kamu bisa menemukan hiburan apapun di kota ini, tapi dengan mudah kota ini membuatmu merasa kesepian.Ya, aku menemukan secuplik rasa yang sama itu pada tokoh Brandon.

McQueen menggambarkannya  New York yang gelap, riuh sekaligus hampa dengan visual yang cukup puitik. Sehingga semua adegan seks dengan perempuan-perempuan yang muncul sepintas lalu di film ini menjadi representasi kekosongan atas kepuasan yang selama ini Brandon cari, namun tak pernah berhasil ia temukan. Juga bagaimana McQueen menampilkan kesunyian Brandon dari gambar-gambar ketika Brandon membelakangi kamera atau tercenung dalam ruangan-ruangan sepi dan sendiri.

Kehadiran Sissy (Carey Mulligan), adik perempuan Brandon yang begitu labil, mengarahkan cerita pada kenyataan bahwa dua orang kakak beradik ini memiliki kekosongan yang sama dan mereka isi dengan cara berbeda. Adegan ketika Sissy menyanyikan lagu New York New York di sebuah klab tempat ia bekerja, begitu syahdu dan terdengar getir. Hubungan emosional kakak dan adik digambarkan dengan sangat kuat di adegan ini, saat Brandon meneteskan air mata mendengarkan adiknya menyanyi. Mereka seperti sedang merasakan kepedihan dan kekosongan yang sama yang selama ini mereka sangkal.

Sissy mewakili perempuan yang sangat ingin di cintai dan bergantung secara emosional pada pasangannya. Ia akan memohon-mohon untuk kembali ketika pasangannya meninggalnya. Sementara Brandon, justru sangat anti pada hubungan. Justru saat ia menemukan perempuan yang ingin serius berhubungan dengannya, Brandon malah tidak bisa bercinta dengannya. Bagi Brandon, seks tidak lagi terasa sebagai upaya menemukan keterhubungan yang intim, tapi seks justru candu yang melumpuhkannya untuk bisa menemukan keterhubungan emosi yang sublim.

McQueen memilih untuk tidak cerewet dan gamblang dalam menceritakan asal-usul persoalan tokoh-tokohnya. Yang ia ceritakan adalah Brandon dan Sissy pada saat ini. Masa lalu mereka hanya cukup dijelaskan dengan satu kalimat yang diucapkan Sissy di mesin perekam pesan di apartemen Brandon: "We're not bad people. We just come from a bad place." Menurutku kalimat itu cukup kuat untuk menjelaskan semuanya, selebihnya ekspresi kekosongan yang mereka alamilah yang menjelaskan seberapa buruk tempat mereka berasal hingga menimbulkan kehampaan jiwa sebesar itu. Penonton bisa mengira-ngiranya sendiri.

McQueen membawa pada pemahaman bagaimana laki-laki lebih cenderung menelan sendiri kepahitan-kepahitan dalam hidupnya dan mencoba menaklukkan kepedihannya dengan menjadikan seks dengan sebanyak mungkin perempuan sebagai upaya penaklukan itu. Meski dalam karakter Brandon, semakin berupaya menaklukkan, semakin besar kekosongan dan kepedihan itu. Fassbender dengan sangat baik mengekpresikan kepedihan itu pada saat seks mencapai klimaksnya. Bagiku, seluruh adegan seks yang dilakukan Brandon seperti adegan pemerkosaan. Brandon diperkosa oleh candu rasa hampa yang tidak pernah membuatnya menemukan pengisi kekosongan itu. Untuk aktingnya di film ini, Fassbender mendapatkan banyak nominasi di berbagai festival termasuk  sebagai aktor terbaik Golden Globe Award 2012. Serta mendapatkan banyak pujian dari para kritikus.

Sementara lewat Sissy, McQueen mencoba menggambarkan bagaimana perempuan cenderung menyakiti dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri atas kepedihan yang tidak pernah ia inginkan, lewat percobaan-percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Kemudian hubungan mereka sebagai kakak adik dengan kepahitan yang sama  di masa lalu, berusaha membereskannya dengan cara masing-masing, karena si kakak menolak untuk berengkuhan dan menyelesaikan kepahitan itu bersama-sama.

Kurasa, dialog ini antara Sissy dan Brandon dalam film ini mencerminkan betapa rapuhnya dua orang kakak beradik ini, mereka seperti korban kapal karam, terapung-apung di lautan. Berusaha saling menolong dalam ketakutan dan keputusasaan.

Sissy: I'm trying, I'm trying to help you.
Brandon: How are you helping me, huh? How are you helping me? How are you helping me? Huh? Look at me. You come in here and you're a weight on me. Do you understand me? You're a burden. You're just dragging me down. How are you helping me? You can't even clean up after yourself. Stop playing the victim.
Sissy:  I'm not playing the victim. If I left, I would never hear from you again. Don't you think that's sad? Don't you think that's sad? You're my brother. 

Sampai akhir film, McQueen tidak berusaha menyimpulkan apa-apa  dan memutuskan apapun dengan tokoh-tokohnya. Ia seperti menyajikan sepenggal kisah kehidupan Brandon dan Sissy tanpa perlu menambahkan prolog dan epilog.

Yang aku sukai dari film-film dengan cerita seperti ini, apalagi ketika sutradaranya sangat paham apa dan bagaimana mengisahkannya juga ketika aktor-aktornya sangat mengerti bagaimana memerankannya, adalah  penonton bisa mendapatkan referensi perasaan yang tidak ia dapatkan dari pengalaman hidupnya sehari-hari. Bahwa ada berbagai macam kekosongan dan ada berbagai cara untuk mengisinya, dari yang paling positif sampai paling negatif sekalipun. Film seperti ini menjadi semacam referensi tentang perbendaharaan perasaan manusia yang berjuta-juta ragam dan rasa itu. Dan biasanya sutradara yang berhasil menurutku, adalah yang bisa menghadirkan perbendaharaan itu dengan cara yang manusiawi, wajar, tidak melebih-lebihkan dan menyerahkan kesimpulan pada pemahaman penonton. Kurasa, Steve McQueen lewat film ini, termasuk sutradara yang berhasil menambah perbendaharaan itu.



#30hari30film Salmon Fishing in The Yemen (2011) Diplomasi Ikan Salmon Ala Hallstorm


Sutradara: Lasse Hallstrom
* * *

Ini film yang cukup menarik dan mudah dinikmati. Seperti halnya film-film Lasse Hallstrom yang lain (Chocolate, My Life as a Dog, What's Eating Gilbert Grapes, Dear John, Cider House Rule). Formula dramanya masih sama seperti film-filmnya yang lain. Yang membuatnya berbeda adalah variasi cerita yang ia pilih. Kali ini, Hallstrom memilih diplomasi ikan salmon sebagai latar belakang cerita yang menjadi pondasi konflik tokoh-tokohnya. Ewan McGregor dan Emily Blunt menjadi tokoh utamanya.

Ewan McGregor yang berperan sebagai Dr. Alfred Jones ahli perikanan, tiba-tiba dihubungi oleh Harriet (Emily Blunt) yang bekerja untuk Sheik Muhammed (Amr Waked). Harriet mengatakan dalam emailnya bahwa Sheik ingin mengembangkan ikan ikan salmon di Yaman dan ia membutuhkan ahli perikanan seperti Jones. Semula Jones menganggap ide Sheik ini tidak masuk akal, bagaimana mungkin ikan salmon bisa hidup di cuaca panas seperti Yaman. Jones menolak mentah-mentah gagasan itu. Sampai pemeberitaan mengabarkan pecah perang di Afganistan. Pemerintah Inggris perlu berita positif untuk menjaga kepentingan mereka di negara-negara Timur Tengah. Patricia Maxwell ( Kristin Scott Thomas), sekretaris Pedana Mentri Inggris urusan media, menemukan tawaran Sheik Muhammed soal 'Salmon Fishing in The Yemen'. Maxwell menganggap tawaran dari Sheik akan menjadi kerjasama yang baik antara Inggris dan Yaman untuk membangun berita positif antara kedua negara. PM Inggris menyetujui bahwa Inggris harus membantu Sheik Muhammed mewujudkan proyek salmonnya itu.

Maka Jones yang bekerja di Departemen Perikanan Inggris, dipaksa untuk mengepalai proyek ini. Jones pun menerimanya dengan terpaksa karena ia dibayar dua kali lipat dari pendapatannya selama ini untuk mengerjakan proyek ini. Di sisi lain, Jones sendiri sedang mengalami krisis dalam rumah tangganya, istrinya, Marry (Rachel Striling) menganggap apa yang dikerjakan Jones, sesuatu yang tidak ada gunanya dan tidak cukup menghasilkan. Di sisi lain, Harriet yang baru berpacaran tiga minggu dengan kekasihnya Robert (Tom Mison), harus menghadapi kenyataan bahwa kekasihnya harus pergi meninggalkannya karena panggilan tugas sebagai tentara ke Afganistan.

Proyek salmon ini yang kemudian mendekatkan Jones dan Harriet dengan Sheik sebagai pihak yang menjaga mereka berdua. Sheik mengajarkan tentang cita-cita harapan yang menurut orang lain tidak mungkin itu, mesti diimani, diyakini, karena dengan begitu cita-cita dan harapan akan menemukan kekuatan untuk menjadi kenyataan.

***

Hallstrom di film ini menggambarkan Sheik Muhammed sebagai sosok yang optimis dengan cita-cita dan harapannya. Seolah Hallstrom ingin mengubah imej tokoh arab dalam film hollywood yang biasanya antagonis dan teroris menjadi sebaliknya. Pandangan terhadap sosok arab di film ini menjadi lebih positif dan bukan objek bulan-bulanan. Justru arab dan barat bisa saling melengkapi (seperti itu pesan moral yang dibawa Hallstrom lewat film ini). Karena ini drama yang cukup mudah dinikmati, Ewan McGregor tidak menampilkan kemampuan maksimalnya dalam berakting (jika di bandingkan Young Adam atau Transpotting), begitu juga dengan Emily Blunt, tapi keduanya punya chemistry yang membuat film ini menurutku enak untuk dinikmati dan ga menimbulkan 'efek samping' (misalnya perasaan sesak atau nyeri sesudahnya). Film ini menurutku sejenis film drama yang begitu selesai ya sudah. Tidak terlalu meninggalkan kesan mendalam. Menghiburlah. Buat yang ingin nonton dan ga ingin terlalu mikir tapi juga ga mau nonton film yang terlalu cetek, menurutku film ini bisa jadi pilihan yang pas.

Wednesday, July 25, 2012

#30hari30film Food, Inc (2008) Ketika Ketahanan Pangan Diruntuhkan Kerakusan Industri


Dokumenter. Sutradara: Robert Kenner 
* * * * 1/2

Film ini sengaja kupilih, relevan dengan isu kelangkaan kedelai yang membuat para pengusaha tahu dan tempe menghentikan produksinya. Selama ini Indonesia bergantung pada impor kedelai dari Amerika. Ketika Amerika mengalami gagal panen kedelai akibat kekeringan, bukan hanya masyakarat Amerika yang merasakan akibatnya, tapi rakyat Indonesia yang pun merasakan akibatnya. 

Film besutan Robert Kenner ini didasarkan pada laporan investigasi Eric Schllosser, penulis buku Fast Food Nation, dan menjelaskan bagaimana industrialisasi pangan menciptakan ketergantungan pangan pada perusahaan multinasional dan melumpuhkan ketahanan pangan global.  

Industrialisasi pangan dimulai sejak tahun 1930 ketika Amerika memperkenalkan makanan cepat saji. Saat itu Mc Donald memperkenalkan restoran Drive-in dan membawa fabrikasi makanan di dapur mereka.  Mental keseragaman dan harga murah di perkenalkan dalam pola makan baru yang dibawa oleh industri ini. 

Seiring berkembangnya industri makanan cepat saji, Mc D menjadi  pembeli terbesar ayam, babi, sapi, kentang, selad, tomat, di dunia. Kebutuhan ini membuka peluang bagi perusahaan penyedia daging. Pada tahun 1970 lima perusahaan daging sapi kemasan, mengontrol 25% dari pasar keseluruhan, sekarang empat perusahaan besar mengontrol 80% dari pasar keseluruhan. Bukan hanya dominasi pasar yang berubah, namun cara memproduksi makanan tersebut juga berubah.   

Tyson, misalnya, perusahaan pengepakan makanan terbesar di dunia. Industri ini mengubah bagaimana ayam di kembangkan. Bandingkan pada tahun 1950  dibutuhkan  70 hari untuk mengembangkan ayam sehingga siap potong, tahun 2008, hanya 48 hari saja sampai ayam siap untuk di potong. Dan lebih dari itu, perusahaan ini mendesain ulang ayam, sehingga menghasilkan daging dada yang lebih besar dibandingkan dengan ayam yang tumbuh secara alami. 

Nilai ekonomi yang luar biasa besar dalam industri pangan ini, membuat kuantitas produksi menjadi prioritas, tak peduli apakah makanan yang dihasilkan 'layak makan' atau tidak. Industri ini juga mengubah pola hubungan kemitraan dengan para peternak yang menjadi pemasok komoditas mereka. Perusahaan kemudian menciptakan ketergantungan dan sistem monopoli untuk bisa mengontrol para peternak dengan memberikan hutang bantuan modal. Petani/peternak akhirnya menjadi budak perusahaan. 

Faktanya  rata-rata setiap orang Amerika memakan 200 pound (atau 100kg) daging per tahun dan itu tidak mungkin bisa dipenuhi jika ternak tidak diberi pakan yang murah dan membuat ternak bisa lebih cepat di panen.

Dari penjelasan Michael Pollan penulis buku The Omnivore's Dilemma Secara alami sapi tidak diciptakan untuk memakan jagung. Sapi adalah pemakan rumput.Salah satu alasan kenapa mereka diberi makan jagung, karena jagung lebih murah dari rumput dan jagung dapat membuat sapi tumbuh dengan cepat dengan lemak yang lebih banyak. Meski konsekuensinya pertumbuhan bakteri e-coli bermutasi dalam tubuh sapi tumbuh lebih pesat dan kasus keracunana makanan karena bakteri e-coli menjadi kasus yang semakin banyak di jumpai dan tak jarang merenggut jiwa.

Makanan menjadi persoalan bagaimana para saintis merekayasa dan menemukan rasa yang mirip dengan makanan aslinya. Dan Larry Johnson dari Center for Crops Utilization Research IOWA State University menyatakan bahwa pada saat ini hampir 90% makanan kemasan yang ada di supermarket mengandung jagung dan kedelai. jagung menajdi bahan dasar dari berbagai jenis makanan: saus, keju, krim, batere (!!), selai kacang, saus salad, coca cola, krim keju, jeli, gula rendah kalori, sirup, jus, pampers, fast food. dan tak ketinggalan bahwa jagung adalah bahan utama untuk pakan ternak. 

Industri pangan ini selalu berusaha menemukan cara untuk lebih efisien, namun setiap langkah efisiensi yang mereka tempuh, selalu membawa masalah baru. Misalnya sapi yang selama ini digemukkan dengan pakan jagung, kemudian ternak ini melakukan diet jagung dan diberi makan rumput selama 5 hari, maka ternak-ternak ini akan menumpahkan 80% dari bakteri E-coli di dalam usus mereka. Alih-alih industri melakukan upaya alamiah untuk meningkatkan kualitas daging sapi, mereka justru memilih melakukan pendekatan yang lebih sistematis dengan pendekatan teknologi dengan mencampurkan amoniak dan amoniak hidroksida untuk membunuh bakteri e-coli dengan cara mencampurkannya ke dalam daging yang sudah di potong. 

Fakta lain yang dihadapi oleh negara maju: Banyak warga di negara maju, seperti Maria Gonzales tidak lagi memikirkan apakah makanan yang mereka makan sehat atau tidak. Mereka lebih memilih makananan cepat saji daripada memasak sendiri makanan yang mereka makan karena persoalan waktu, karena bagi warga imigran seperti Maria Gonzales, waktu adalah uang. Selain itu, harga makanan kemasan yang jauh lebih murah daripada makanan segar, membuat pola makan kebanyakan orang berubah dan menciptakan ketergantungan lebih besar pada makanan siap saji yang telah di rekayasa. Itu pula sebabnya 1 dari 3 orang anak amerika yang lahir setelah tahun 2000 berpotensi mengidap diabetes. 

Kerita NAFTA membuat hampir sejuta petani jagung di Meksiko kehilangan mata pencahariannya karena jagung yang mereka hasilkan tidak dapat bersaing dengan jagung murah dari amerika. Para petani yang kehilangan pekerjaan ini terpaksa menjadi imigran gelap dan di rekrut oleh perusahaan pengolahan dan pengepakan daging di amrika dengan upah yang murah. Pemerintah amerika selama bertahun-tahun tutup mata terhadap persoalan para imigran gelap yang bekerja di perusahaan pengolahan daging itu. Mereka bahkan membuat kesepakatan untuk merazia dan menangkap 15 orang imigran gelap per hari, karena itu tidak akan mempengaruhi produktivitas perusahaan2 itu. Pemerintah sendiri enggan menindak perusahaan dan lebih memilih menekan para pekerja gelap itu. 

Tahun 1980 Mahkamah Agung Amerika membuat UU tentang paten terhadap mahluk hidup dan UU ini memberi peluang untuk mempatenkan berbagai jenis tanamanan sebagai sumber pangan.  Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh Monsanto Corporation, sebuah perusahaan kimia yang memproduksi DDT, Agent orange zat kimia yang dipakai untuk membunuh di Vietnam, dan mereka mengembangkan produk yang mereka sebut sebagai "Round Up",  zat yang digunakan untuk menyemprot bibit kedelai tahan hama. 

Tahun 1996, Monsanto mulai memasarkan bibit kedelai Roundup ini dan hanya 2% dari kedelai yang ditanam menggunakan paten yang diproduksi oleh Monsanto ini. Pada perkembangannya tahun 2008, lebih dari 90% kedelai yang ditanam di Amerika menggunakan bibit yang telah dipatenkan oleh Monsanto. Sekarang setiap petani kedelai dilarang menggunakan  bibit mereka sendiri, karena jika hal itu sampai terjadi, orang-orang dari Monsanto akan mendatangi dan mengintimidasi petani. Petani mau tidak mau harus menggunakan bibit yang telah di patenkan oleh Monsanto, jika ada yang melanggar, petani dapat dikenai tuduhan pelanggaran paten. Monsanto mengontrol para petani untuk memproduksi bibit kedelai mereka sendiri. 

Pollan mengatakan apa yang dilakukan oleh Monsanto persis seperti yang dilakukan Microsoft dalam soal hak kekayaan intelektual. Dan kini di Amerika hampir tidak ada lagi yang disebut dengan bibit milik publik, semua telah di patenkan dan petani harus tunduk terhadap paten tersebut. Monsanto mengontrol produksi kedelai dari benih sampai ke supermarket. 


Bukan hanya kontrol terhadap para petani, Monsanto juga menempatkan orang-orangnya dalam posisi penting pemerintahan amerika. Sebut saja Clarence Thomas, ketika MA yang menjabat sejak tahun 1991, sebelumnya dia adalah pengacara perusahanan untuk Monsanto, Dia lah yang mengambil keputusan penting tentang aturan perundang-undangan pengaturan benih dalam pertanian di Amerika. Dia punya peranan penting dalam pelarangan petani Amerika memiliki tabungan benihnya sendiri. Selain itu, orang-orang Monsanto sangat dekat dengan sistem administrasi pemerintahan Amerika sejak 25 tahun terakhir. Para penguasa ini dengan kekuasaannya justru menentang dan menekan petani, buruh dan menjadi bagian dari konspirasi untuk menyembunyikan kenyataan sesungguhnya tentang industri makanan. 

Efisiensi lewat jumlah varietas tanaman yang terbatas (hanya bibit yang telah terbukti produktivitas tinggi saja yang dikembangkan), penguasaan hak oleh sedikit perusahaan, bukannya tanpa resiko, sistem kontrol yang memberi hak istimewa pada segelintir orang  ini justru sangat riskan terhadap setiap guncangan yang ada. Tanpa di sadari, industri pangan ini memiliki ketergantungan yang sangat besar pada minyak bumi, karena seluruh mesin produksinya dijalankan dengan menggunakan bahan bakar minyak. Otomatis,guncangan harga minyak bumi di pasaran dunia dapat mempengaruhi stabilitas industri pangan.

Monopolistik industri pangan multinasional ini, tidak hanya menciptakan ketergantungan di negara tempat industri ini berada: Amerika, tapi juga menciptakan ketergantungan pangan dunia pada pada industri ini. Ketahanan pangan dunia sangat dipengaruhi oleh stabilitas industri pangan multinasional ini. Sifatnya yang monopolistik dengan didukung oleh regulasi dan UU Amerika yang ekspansif ke seluruh dunia, justru merusak kemampuan setiap negara untuk membangun sendiri ketahanan pangan mereka. 

Indonesia adalah contoh kongkrit. Selain pemerintahnya yang disetir oleh kekuatan modal asing, membuat Indonesia yang kaya dengan keragaman pangan terpaksa harus menurut pada sistem penyeragaman industri pangan multinasional ini. 

Di akhir film, justru Kenner memberikan tawaran jalan keluar yang siapapun bisa melakukannya: Pemberdayaan konsumen. Semua hegemoni industri pangan ini akan terpatahkan jika konsumennya sadar dan menuntut industri jujur terhadap produk makanan yang mereka sajikan. Karena industrialisasi panganlah yang menyebabkan manusia kehilangan hubungan yang paling sublim: pengetahuan tentang asal usul makanan yang kita makan selama ini. 

Di Amerika, jalan tengah yang dilakukan oleh sebagaian kelompok yang mempedulikan soal kualitas makanan ini adalah dengan membangun industri tandingan: makanan organik dan mendistribusikan pilihan tersebut melalui Wall Mart. Konsumen kemudian diberi pilihan, meski harus mengeluarkan biaya ekstra. Bagaimanapun juga jika kita mau jujur, makanan murah yang kita makan selama ini, tidaklah semurah yang di bayangkan jika kita tambahkan biaya lingkungan, biaya kesehatan.Saat ini sangat sulit untuk bilang bahwa makanan yang benar-benar sehat itu bisa kita beli dengan harga yang murah. 

Bagaimana dengan di Indonesia? sebuah negeri yang sangat kaya dengan keragaman hayati dan berbagai macam varietas tanaman pangan? Pemahaman yang kuperoleh ketika menonton film ini untuk kesekian kalinya adalah pangan adalah masalah identitas. You are what you eat. Ketika kita lebih memilih produk-produk organik impor sebagai jaminan makanan sehat daripada produk lokal yang ditumbuhkan oleh petani lokal, berarti ada persoalan dengan cara kita mendefinisikan diri. Pilihan kita terhadap makanan, juga adalah pilihan atas keberpihakan kita. Sebelum berkoar-koar dan protes tentang betapa impotennya pemerintah kita dalam membangun ketahanan pangan, mari kita cek dulu pilihan-pilihan kita dan bagaimana kita mendefinisikan diri kita sendiri lewat makanan yang kita makan. 



Monday, July 23, 2012

#30hari30film The Art of The Steal (2009): Negara dan Perebutan Koleksi Karya Seni

* * * * 

Jika beberapa minggu lalu, majalah Tempo sempat menurunkan laporan utama tentang skandal lukisan palsu milik kolektor seni terkemuka di Indonesia, Dr. Oei Hong Djin,  dokumenter ini juga berkisah tentang skandal koleksi karya seni moderenisme dan pos impresionisme ternama yang secara sistematis diambil alih oleh negara.

Adalah Dr. Albert C. Barnes, seorang pencinta seni yang memiliki koleksi karya dari seniman-seniman moderenisme dan impresionisme dunia seperti Renoir, Cezanne, Matisses, Picasso, Modigliani. Total koleksinya Albert Barnes berjumlah sekitar 9000 karya yang nilainya mencapai $ 25 juta dolar. Semasa hidupnya Barnes menyimpan seluruh koleksinya itu di kediamannya di Lower Merion. Semasa hidupnya, Barnes lebih menyukai membukakan pintu kepada masyarakat biasa: pelajar, mahasiswa. tukang ledeng, masyarakat kelas bawah yang ingin menikmati karya seni koleksinya itu daripada kalangan elit yang menurut Barnes tidak cukup tulus untuk menikmati seni sebagai seni, bukan sebagai prestise tertentu. Sebelum meninggal karena kecelakaan di tahun 1951, Barners menuliskan di surat wasiatnya tentang bagaimana nasib koleksinya tersebut setelah dia meninggal. Mengingat Barnes tidak memiliki anak atau ahli waris yang bisa diserahi koleksi karya seninya yang sangat berharga itu.

Masalah di mulai ketika The Barnes Foundation, yayasan yang dibentuk untuk mengelola koleksi karya seninya itu, tidak sanggup lagi membiayai perawatan dan pengelolaan rumah Barnes yang di jadikan museum pribadi dan terbuka untuk umum. Masalah lain yang muncul juga adalah para tetangga di sekitar kediaman Barnes merasa terganggu dengan aktivitas museum yang seringkali parkir dan keramaiannya dianggap mengusik kenyamanan di sekelilingnya. Belum lagi perpecahan suara yang terjadi di dalam yayasan itu sendiri tentang langkah-langkah apa yang harus di tempuh untuk menyelamatkan koleksi itu tanpa menyalahi surat wasiat yang sudah ditulis Barnes. 

Persoalannya bertambah pelik, ketika ada pihak-pihak lain seperti saingan bisnis Barnes yang merasa berkepentingan untuk mengambil alih koleksi ini setelah Barnes meninggal. Dalam tubuh yayasan sendiri terjadi persaingan kuasa, pihak-pihak yang semestinya memiliki hak untuk mengelola aset koleksi Barnes, seperti Lincoln University, 'disingkirkan' sehingga suaranya tidak lagi memiliki pengaruh. Upaya-upaya yang dianggap sebagai penyelamatan, kemudian dicurigai sebagai usaha untuk merebut aset tersebut tanpa mempedulikan wasiat yang ditulis oleh Barnes. 

Bukan hanya itu, negara bagian lewat keputusan gubernur Pennsylvania, Edward G. Rendell, ikut mendesak pihak-pihak yang ditunjuk oleh surat wasiat untuk mundur dalam penentuan nasib koleksi berharga Barnes ini. Sampai akhirnya di tahun 2007, pemerintah kota Philadelphia mengambil koleksi Barnes dan memindahkannya ke museum kota dan dipamerkan sebagai koleksi kota Philadelphia. 

***

Persoalan yang diangkat dalam dokumenter ini masih kontroversial hingga kini. Kelompok yang berpihak pada isi surat wasiat Barnes, merasa koleksi tersebut di rampas dengan cara yang sangat sistematis oleh sebagai pihak yayasan atas dukungan negara bagian dengan aturan-aturan yang dibuat untuk melegitimasi pengambilalihan koleksi itu. Don Argott, sang sutradara, dianggap berat sebelah dalam memandang persoalan ini. Ia dianggap tidak memberi kesempatan pada pihak-pihak yang 'dituduh' berkonspirasi dalam pengambil alihan koleksi karya seni tersebut. Namun Argott membantah, dalam filmnya ia berusaha memberi sebanyak mungkin pandangan mengenai persoalan ini dan menyerahkan kesimpulannya kepada pemirsa. 

Bagiku, dokumenter ini seperti laporan investigasi yang mencoba menguak duduk perkaranya sejelas mungkin. Persoalan dimana titik pijak perkara itu dibedah, itu perdebatan yang lain. Kurasa, sama seperti investigasi yang di tulis di majalah Tempo, film ini juga mampu membuka pandangan yang berbeda tentang perkara siapa yang berhak mengapresiasi sebuah karya seni dan juga persoalan kapital serta investasi yang selalu membayang-bayangi ketulusan apresiasi. Namun masih adakah ketulusan dalam mengapresiasi sebuah karya seni?

Sunday, July 22, 2012

#30hari30film The September Issue (2009) Anna Wintour & The Making of Vogue

Dokumenter. Sutradara R.J. Cutler
* * * *

Film ini sengaja kupilih untuk kutonton kembali hari ini. Menyambung Bill Cunningham di hari kemarin. Bagi siapapun yang ingin terjun ke dalam dunia fashion dan mengetahui bagaimana sebuah trend diciptakan, film ini wajib tonton.

Sebuah dokumenter yang bukan hanya membedah bagaimana edisi bulan September 2007 majalah Vouge diterbitkan, tapi juga mengajak  penonton lebih mengenal Anna Wintour, chief editor majalah Vouge sekaligus orang paling berpengaruh dalam industri fashion dunia. Edisi bulan September 2007 ini menjadi edisi penting dalam sejarah penerbitkan majalah fashion karena tebalnya mencapai 840 halaman. Biasanya edisi September akan terbit dengan halaman paling tebal dibandingkan dengan halaman-halaman bulan yang lain dan menjadi edisi paling dinantikan. Lebih dari 9 juta copy bisa terjual hanya untuk edisi bulan September saja. Tak heran, perlu lima bulan sebelumnya untuk menyiapkan edisi ini.

Anna Wintour tentunya menjadi pihak yang paling bertanggung jawab untuk penerbitan edisi paling menentukan setiap tahunnya. Pada edisi inilah, dunia fashion bisa melihat perkembangan trend fashion berikutnya. Sampai-sampai Wintour mendapat julukan sebagai 'Paus'nya dunia fashion. Setiap desainer seolah-olah harus mendapat restu dari Wintour. Itu sebabnya, bukan hal aneh, jika desainer sampai panas dingin dan gemeteran jika harus presentasi di depan Wintour.

Sosoknya yang dingin dan perfeksionis menuntut orang-orang yang bekerja dengannya harus mencapai standar yang diinginkannya. Apa yang bagus menurut bawahannya bisa tidak berarti sama sekali buat Wintour. Selama ini, seleranya tidak pernah meleset. Apa yang diamini Wintour, itulah yang benar bagi industri fashion dunia. Wintour  sangat sadar dengan tugasnya sebagai orang yang menciptakan imajinasi baru tentang fashion. Dan edisi September adalah edisi dimana imajinasi-imajinasi baru itu di presentasikan.

Selain Wintour,  Grace Coddington _creative director Vogue, menjadi tokoh penting dalam dokumenter ini. Meski Coddington dan Wintour seringkali berbeda pendapat dan sama-sama keras kepala, namun keduanya saling melengkapi. Tanpa Coddington, Wintour mengaku, semua imajinasi tentang fashion sulit tervisualisasikan. Coddington menurut Wintour memiliki kegeniusan serta kemampuan yang tidak dimiliki banyak orang, untuk memvisualisasikan imajinasi-imajinasi itu untuk  hadir kehadapan pembacanya.

Sosok Anna Wintour sebelumnya sempat di fiksikan dalam film Devils Wears Prada (2006) yang diperankan dengan sangat baik oleh Meryl Streep. Sosok Miranda Priestly diangkat dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh asisten pribadi Anna Wintour; Lauren Wisberger. Lewat The September Issue,  Cutler sang sutradara seolah ingin membumikansosok Anna Wintour yang  terlanjur dimitoskan lewat Devils Wears Prada. Dokumenter ini menampilkan Wintour lewat bagaimana ia bekerja, juga sisi pribadinya yang lain yang selama ini tidak banyak diketahui orang.

Wintour terlahir sebagai anak sulung dari Charles Wintour, seorang editor di surat kabar London Evening Standard. Bakatnya di dunia fashion, membuat ayahnya mengarahkan ia untuk masuk kedunia fashion. Sebelum sampai di posisinya yang sekarang Wintour sempat malang melintang sebagai jurnalis fashion di majalah seperti Harper's Bazaar, Viva, New York, sampai akhirnya ia bekerja untuk Vogue.


Dalam film ini pula, Cutler merekam pengakuan Wintour; meski majalah Vogue berhasil dianggap sebagai 'bible'nya dunia fashion, menurut Wintour itu semua tidak serta merta membuat saudara-saudaranyamengamini kesuksesannya. "Saudara-saudara saya memandang apa yang saya lakukan ini sebagai sesuatu yang lucu dan tidak serius." Bahkan anak perempuan Wintour yang diwawancarai di film ini, Kathrine, enggan mengikuti profesi ibunya, karena menurut dia dunia fashion adalah dunia yang aneh dan tidak menarik minatnya sama sekali.

Jika salah satu koleganya mengatakan bahwa Anna Wintour  bukanlah sosok yang mudah untuk di jangkau karena ia memang tidak membiarkan dirinya terjangkau oleh sembarangan orang juga komentar dan kritikan terhadap sosok Wintour sendiri, justru membuat dokumenter berhasil memperlihatkan sisi Wintour yang lebih manusiawi. Lewat film ini Cutler justru bisa memberikan alasan yang jelas sehingga sosok Anna Wintour  bisa lebih di pahami apalagi dengan posisi dan tanggung jawabnya yang sedemikian besar pada indutri fashion dunia. Lebih dari itu semua, film ini justru membuktikan tanpa standar profesionalisme yang tinggi dan visi redaksi yang kuat, sebuah media tidak akan bisa bertahan dan menemukan kelasnya. Jika Vogue tidak punya chief editor seperti Anna Wintour, mungkin pengaruhnya pada perkembangan industri fashion dunia tidak akan sebesar sekarang ini. 

Friday, July 20, 2012

#30hari30film Bill Cunningham New York (2010): Merekam Jejak Sang Fotografer Jalanan

Dokumenter. 
Sutradara Richard Press
* * * *

Bill Cunningham memberi pelajaran berharga tentang bekerja dengan passion. Fotografer yang mendedikasikan hidupnya memotret fashion jalanan kota New York ini, menghampiriku lewat dokumenter berjudul Bill Cuningham New York yang dibesut Richard Press. Cunningham_ Opa-opa berusia lebih dari 80 tahun, bekerja untuk harian The New York Times. Foto-fotonya yang muncul di halaman akhir pekan, seperti sebuah ramalan: Apa yang dipotret Cunningham hari ini, akan menjadi trend fashion dunia dalam beberapa bulan ke depan. 

Sosoknya begitu mengejutkan bagiku: charming, penuh semangat, bersahaja dan taat pada keyakinannya, begitu down to earth, kemana-mana naik sepeda. Tidak suka hal-hal yang fancy, up scale dan mahal. Sangat bertolak belakang dengan dunia fashion dan teman-temannya  dari kalangan sosialita New York, Paris, yang begitu glamour dan superfisial. Sepanjang hidupnya, Cunningham mengaku tidak pernah terlibat dengan hubungan romantis dengan perempuan manapun. Sebagai pemeluk khatolik yang taat, agama menjadi panduan penting dalam hidupnya. Wajahnya berubah serius ketika membicarakan soal ini.

"Fashion itu seperti senjata ketika manusia berperang menghadapi realitas hidup yang keras dan pahit. Lewat fashion, kita bisa melihat bagaimana dia bisa  bertahan hidup," pandangan itulah yang kemudian mendasari Cunningham, tak pernah bosan memotret fashion dari jalanan, cat walk, sampai sosialita masyarakat New York. Bagi sebagian orang, Cunningham menjadi pencatat perkembangan fashion yang begitu tekun dan fokus. Cunningham tidak pernah tertarik dengan gaya hidup orang-orang di dunia fashion, selebritas atau glamournya dunia fashion. Hal ini ia buktikan dengan disetiap acara gala atau pesta-pesta perayaan kalangan fashionista New York, Cunningham tidak pernah meneguk setetespun atau mencicipi secuil pun hidangan yang mereka sajikan. "Saya datang untuk bekerja, bukan untuk berpesta, " jelas Cunningham tentang kebiasaannya itu. Cunningham hanya tertarik pada fashion sebagai pakaian yang menandai bagaimana seseorang berkembang dan bertahan hidup. Tidak lebih dan tidak kurang. 

Menurutku, Richard Press berhasil membuat penontonnya memahami sekaligus merasakan passion Bill Cunningham dengan pekerjaannya itu. Seperti sebuah feature profil, Press berhasil menguak banyak sisi Cunningham yang selama ini tidak banyak orang mengetahuinya, lewat footage-footage yang akrab namun tetap menjunjung tinggi privasi Cunningham. Aku sendiri juga ga tau, siapa itu Cunningham sebelum menonton dokumenter ini. Setelah menontonnya, aku merasakan passion yang sedemikian besar itu dan terinspirasi olehnya. Bagi yang mendambakan bekerja dengan penuh passion, integritas, totalitas dan profesionalitas, Bill Cunningham lewat film ini bisa jadi salah satu teladan. 

Thursday, July 19, 2012

Postcards From The Zoo: Lana Dalam Kumpulan Kartu Pos

gambar di ambil dari sini

* * *
Sutradara Edwin
Seorang bocah perempuan celingukan dengan ransel mungilnya, memanggil-manggil "bapak! bapak!" namun yang dipanggil tidak sedikitpun menyahut apalagi menampakkan batang hidungnya. Si bocah yang mirip Dora the Explorer itu, terus mencari bapaknya dari kandang ke kandang, menjelajah kebun binatang, sampai larut malam hingga pagi, tanpa tangis tanpa ketakutan. Kebun Binantang seperti dunia baru yang ia temukan dan ia jelajahi dengan kepolosannya, jengkal demi jengkal dengan kaki mungilnya. Begitulah adegan pembuka film garapan sutradara Edwin yang diberi judul Postcard from The Zoo.

Bocah perempuan itu bernama Lana. Kebun Binatang kemudian menjadi tepat ia tumbuh dewasa,  bersama jerapah, harimau, leopard, beruang madu, ular-ular dan para penghuni resmi maupun tidak resmi, Kebun Binatang Ragunan. Bapak yang ia panggil-panggil dulu, tak pernah menampakkan diri hingga ia besar. Lana menjadi gadis yang tumbuh dan dibesarkan oleh Kebun Binatang Ragunan beserta seluruh penghuninya.

Cerita memang tidak berhenti sampai di situ. Di Kebun Binatang inilah, Lana bertemu dengan tokoh-tokoh absurd: Om Dave (diperankan Dave Lumenta yang dalam kehidupan nyata adalah doktor antropologi sekaligus seniman soundscape), penduduk gelap yang tidak di ceritakan dengan jelas apa yang sesungguhnya ia lakukan di situ (penonton hanya bisa menebak-nebak: mungkin ia peneliti karena sibuk merekam suara-suara binatang atau entahlah..), sementara Mas Tukang Sulap (diperankan Nicolas Saputra), muncul sebagai koboi misterius jago sulap yang kemudian membawa Lana keluar dari Kebun Binatang itu, lalu menghilang ketika masuk ke dalam sebuah kotak.

Di film ini, mas koboi pesulap adalah jembatan bagi Lana untuk keluar masuk antara dunia Kebun Binatang dan dunia manusia yang memuja nafsu kebinatangan lewat petualangan Lana bekerja di panti pijat plus plus.

***

Terus terang aja, bukan hal mudah untuk mengerti apa yang diinginkan Edwin dengan film ini. Penonton termasuk aku, menebak-nebak dalam alur logika yang terpotong-potong. Dan menimbulkan perasaan kebingungan tak tentu arah dalam pikiran penonton tentang apa yang sesungguhnya ingin diceritakan oleh Edwin. Apakah ini sebuah kebingungan yang disengaja? biar filmnya terasa lebih 'nyeni' atau  kebingungan yang ditimbulkan akibat cacat logika? Dalam tanya jawab yang dilakukan setelah pemutaran film berlangsung, lewat Skype, Edwin menjawab: "Ya, film kan tidak selamanya harus dimengerti." Jawaban yang menurutku cukup egois, karena mestinya ada jawaban atau argumentasi lain yang lebih bisa membangun dialog dengan penonton. Jika pertanyaan yang muncul masih berkutat pada 'jadi pesan yang ingin disampaikan oleh film ini sebenarnya apa?' itu berarti belum berhasil membangun jembatan komunikasi antara kreator dan penikmatnya. Karena pertanyaan yang ditanyakan masih sangat mendasar.

Bagiku kemudian, film ini seperti menceritakan tentang Lana dalam kiriman-kiriman kartu pos.  Sepotong-potong tentang Lana, seperti halnya orang berkirim kabar lewat kartu pos. Pada kartu pos, aku seringkali lebih terpukau pada gambar kartu posnya itu sendiri bahkan perangko dan capnya daripada isinya. Biasanya karena kabarnya terlalu pendek dan sekedar permukaan belaka, sapaan basa-basi, atau kalimat-kalimat yang ga utuh sebagai sebuah kisah yang dikabarkan. Terasa banyak bagian yang hilang dan tidak utuh, ketika ingin membaca sebuah kisah pada kumpulan kartu pos. Misalnya saja soal perpindahan waktu antara Lana kecil dan Lana besar. Aku merasakan kekacauan yang waktu pada perpindahan ini, mengapa? karena Dave Lumenta yang hadir pada saat Lana kecil, masih sama dengan Dave Lumenta ketika Lana dewasa. Apakah hanya Lana yang tumbuh dan berkembang? bagaimana dengan tokoh Dave tidak menua sama sekali. Ketidak konsistenan ini  menurutku, mengacaukan pemahaman penonton.

Meski demikian, menurutku penggarapan artistiknya bagus. Suasana yang dibangun di Postcard from the Zoo mengingatkanku pada  film 'Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Live' (2010) yang berhasil menyabet film terbaik di Festival Film Cannes 2010. Cuma lagi-lagi persoalan bercerita yang seringkali mengganggu. Banyak kok cerita-cerita absurd yang dibangun dengan ketaatan pada logika. Dan kurasa akan sangat percuma, jika membuat film dengan susah payah, kemudian membiarkan penontonya ga menangkap maksud si pembuatnya.

Tuesday, July 17, 2012

The Flowers of War (2011): Pilihan Menjadi Korban atau Pahlawan Sekaligus

* * * *
Sutradara: Zhang Yimou 

Nasiblah yang menjebak John Miller (Christian Bale) bersama para perempuan ini dalam sebuah gereja di Nanking, di tengah-tengah ganasnya pendudukan Jepang di Cina pada sekitar tahun 1937. Dua kelompok perempuan_ yang satu para perempuan penghibur dan satunya murid-murid biara dengan kepolosan serta keluguannya. John Miller sendiri seorang perias mayat (mortician) yang datang ke gereja itu untuk meminta imbalan atas keahliannya, ketika salah satu pendeta di gereja itu meninggal. Pada saat itu, Jepang tidak akan sembarangan mengusik 'orang barat'. Karenanya kehadiran Miller seperti juru selamat yang diutus Tuhan untuk menentukan nasib para perempuan ini. 

Sementara Jepang begitu ganasnya mengobrak-abrik Nanking. Memperkosa banyak sekali perempuan Cina. Bahkan gereja pun tak luput dari incaran, meski dalam kesepakatan gereja menjadi tempat yang tidak boleh diusik. Namun kesepakatan di tengah keganasan perang bisa setiap saat dilanggar. Murid-murid perempuan itu bisa kapanpun menjadi mangsa kebrutalan para tentara Jepang.

John Miller dihadapkan pada situasi dimana ia mau tidak mau mesti melibatkan diri dalam upaya penyelamatan. Ia terpaksa menyamar sebagai pendeta yang bertanggung jawab terhadap gereja itu, sambil memikirkan cara mengeluarkan perempuan-perempuan itu, bukan hanya dari gereja namun membawa mereka keluar dari Nanking.

Namun mesti diingat juga, film ini bukan film yang menempatkan John Miller sebagai pahlawan tanpa cacat dalam sebuah misi penyelamatan dengan sempurna. Jangan berharap Christian Bale akan memerankan tokoh superhero seperti Batman. Di sini Miller dihadapakan pada pilihan yang pelik, ketika komandan pasukan Jepang, 'mengundang' murid-murid perempuan itu untuk menyanyi dalam pesta perayaan pendudukan Jepang di Nanking. Miller tahu apa artinya undangan itu dan murid-murid perempuan yang masih polos dan lugu itu. Datang ke pesta itu, berarti menyerahkan mereka kedalam kebiadaban perang dan nafsu binatang pasukan Jepang. Meski Miller berusaha keras menolak undangan itu, namun siapa yang bisa melawan kehendak penguasa perang? Yang kemudian harus dilakukan adalah membuat pilihan bagaimana situasi yang tak mungkin dihindari ini harus dihadapi.

Di sini kemudian cerita bagiku menjadi menarik sekaligus mengundang perenungan. Kelompok perempuan penghibur itu dengan semangat patriotisme melawan penjajah, mereka bersedia menggantikan murid-murid perempuan itu memenuhi undangan tentara Jepang. "Mereka profesional dan mereka tahu apa yang harus dilakukan," jelas Miller kepada murid-murid lugu itu saat mereka menghawatirkan bagaimana nasib 'kakak-kakak perempuan' mereka. Meski Miller sendiri sesungguhnya tidak terlalu yakin keputusan para perempuan penghibur ini adalah keputusan yang tepat. Di luar gereja ia menyaksikan bagaimana biadabnya tentara Jepang memperlakukan perempuan sebagai pemuas nafsu dan kebrutalan sekaligus. Yu Mo, pemimpin kelompok para perempuan itu yang membuat Miller jatuh hati sejak pertama kali bertemu. " Ini saatnya kita melakukan sesuatu yang berarti pada negara," begitulah Yu Mo berusaha meyakinkan teman-temannya. keputusan yang sangat heroik sekaligus tragis. Karena meski tidak diceritakan, penonton bisa menebak bagaimana nasib para perempuan ini akan berakhir.

***

Yang sangat menarik buatku dari film ini adalah bagaimana John Miller, menjadi laki-laki yang harus menghadapi kenyataaan  bagaimana perang bisa begitu sangat brutal terharap para perempuan. Bahkan dalam kebrutalan dan keganasan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dalam film ini Miller seperti seorang suami yang harus menyaksikan istrinya diperkosa dan dianiaya oleh para penjahat di depan matanya dan dihadapkan pada pilihan menyelamatkan istri atau anak perempuannya. Sementara sebagai laki-laki yang semestinya punya kuasa untuk melindungi keduanya perempuan, namun ia tau ia harus memilih salah satu diantara mereka karena ia tak punya banyak kuasa.

Bahkan Miller sendiri hampir-hampir menyerah pada kuasa nafsu ketika ia begitu sangat menginginkan Yu Mo. Kurasa Christian Bale sekali lagi berhasil membuktikan kegamangan itu lewat totalitas aktingnya. Penonton bisa merasakan kegetiran atas ketidak berdayaannya, saat di akhir film airmata John Miller mengambang saat truk yang dikemudikannya melaju membawa nasib murid-murid perempuan menempuh jalan penyelamatannya. Dan jalan itu tak mungkin bisa tertempuh tanpa pengorbanan perempuan-perempuan yang harga dirinya sempat ia hargai dengan beberapa lembar uang ala kadarnya.

Ketika Yu Mo menyatakan bahwa inilah saatnya melakukan tindakan yang berarti untuk negara dengan mengorbankan diri mereka pada keganasan nafsu tentara Jepang, serta mereta aku membayangkan para Jungun Ianfu yang nasibnya ga jauh berbeda dengan yang dialami Yu Mo dan kawan-kawannya. Pertanyaan yang muncul di benakku adalah apakah mereka itu korban atau pahlawan? sulit bagiku untuk menjawabnya. Karena dalam situasi perang sebrutal itu, tidak adil rasanya menghakimi motif dari sebuah tindakan dan keputusan. Setiap orang seperti dipilih secara acak oleh nasib untuk menjadi korban sekaligus pahlawan bagi dirinya dan juga orang lain. Karena dalam perang, manusia akan dihadapkan pada pilihan-pilihan ekstrim untuk bertahan hidup dan mempertahankan kemanusiaannya.

Sama sulitnya menjawab apakah John Miller seorang pahlawan atau korban dalam cerita ini. Dia ada di dua situasi itu sekaligus. Dan mungkin menjadi korban  atau pahlawan tidak lagi menjadi penting, karena bertahan dengan kemanusiaanlah yang kemudian menjadi lebih penting.

***
Sebagai penggemar karya-karya Zhang Yimou, menurutku ia  selalu berhasil menampilkan keindahan sinema dalam setiap kisah yang ia filmkan. Keindahan itu menurutku bukan dalam rangka untuk bergenit-genit dengan cerita. Bahasa visual Yimou, justru membangun karakter dari cara ia mengisahkan cerita lewat filmnya. Kecermatannya menggarap detail dan rasa artistiknya membuat para penikmat filmnya bisa menemukan kekhasan dari karyanya namun sekaligus menemukan kebaruan-kebaruan dari eksplorasi artistik dan gaya berceritanya. Sekali lagi Zhang Yimou di film ini menunjukkan kelasnya. 




Tuesday, July 03, 2012

Mwathirika dan Rasa Kehilangan yang Universal

Foto dokumentasi Papermoon Puppet Theatre by Arul

Yang seringkali hilang, itu karena kita seringkali enggan membicarkannya dan menganggap seolah-olah hal itu tidak pernah ada. Mwathirika, sebuah pementasan teater boneka, garapan Papermoon Puppet Theatre, sebuah kelompok teater boneka asal Yogjakarta, mencoba mengangkat sejarah kehilangan dan kehilangan sejarah. Pementasan yang digelar di auditorium IFI (Institut Francais Indesia), Bandung, 15 -16 Juni lalu, sesak dan padat oleh penonton dan juga kesan yang ditinggalkannya.

Kisahnya sederhana saja. Tentang dua orang kakak adik Tupu dan Moyo juga ayah mereka yang bertangan satu, Baba. Mereka bertiga bertetangga dengan Haki, seorang ayah yang tinggal berdua saja dengan anak perempuannya yang pemalu dan duduk di kursi roda_ Lacuna. Di awal pertujukan, penonton diberi tahu, bahwa Mwathirika dipersembahkan untuk korban peristiwa 1965 dan semua korban dari kekacauan politik yang ada diseantero jagat. Adegan dibuka dengan  pemutaran video di layar lebar seorang orator, berpropaganda tanpa kata-kata dengan penuh semangat. Lima orang pemain boneka muncul dengan topeng dan balon-balon merah di tangan, menyambut sang orator dengan gegap gempita, memberi gambaran besar situasi sosial dimana ideologi dirayakan sedemikian rupa pada saat itu.

Seperti hari-hari yang lain, kehidupan Tupu dan Moyo seperti layaknya kehidupan anak-anak pada umumnya. Kakak adik ini bermain, bercanda, berselisih dalam semangat persaudaraan dimana yang satu menjaga yang lain. Kehadiran tetangga menggenapi semangat tenggang rasa, saling membantu satu sama lain. Gegap gempita ideologi bagi mereka adalah kemeriahan badut keliling, hiburan kampung yang mereka nikmati apa adanya dan tanpa curiga.

Sampai suatu malam, keributan yang tak jelas asal usulnya, mengubah nasib kedua keluarga itu kearah yang sama sekali berbeda. Entah siapa yang melakukannya dan dengan alasan apa.  Baba menemukan pintu rumahnya, ditandai dengan gambar segitiga merah. Ia mencoba membersihkannya namun tidak berhasil. Sementara Baba tidak menemukan tanda yang sama di pintu rumah Haki.

Ternyata tanda bukan sekedar bentuk tanpa makna. Segitiga merah berarti tanda afiliasi pada apa yang diwakili oleh tanda itu. Seperti halnya tanda bintang daud yang diterakan pada orang-orang Yahudi pada zaman pendudukan Nazi, di Eropa. Ketika gegap gempita ideologi merah berakhir, tesingkir oleh ideologi baru dan semua yang berafiliasi dengan tanda merah itu harus menyingkir pula, di sinilah tragedi dimulai.

Saat ideologi baru, ingin menghapus semua tanda ideologi merah yang dianggap berafiliasi kepadanya, setiap orang mencari selamat. Semangat tenggang rasa menguap entah kemana. Dua orang tentara datang dan bertanya pada Haki, siapakah pemilik rumah bertanda segitiga merah itu? Haki menunjuk Baba. Yang ditunjuk sedang sibuk membetulkan mainan anak bungsunya, Tupu. Tentara itu meminta Baba ikut bersama mereka. Moyo sebagai anak tertua merasa masalah menghampiri mereka. Namun ia tak kuasa ketika ayahnya dibawa oleh tentara.

Dalam kebisuan pertunjukan Mwathirika, penonton dibawa dalam suasana mencekam yang menghinggapi Tupu dan Moyo. Bahkan Haki, tetangga mereka yang selama ini begitu baik pun, tak lagi membolehkan Lacuna bermain bersama mereka setelah Baba pergi. Hari berganti-hari, kakak beradik ini menunggu kepulangan ayah mereka, namun setelah berbulan-bulan menunggu dan mencari, yang ditunggu seperti hilang di telan bumi.

Keceriaan Tupu berganti dengan kemuraman dan harapan yang semakin tipis untuk bertemu ayah mereka kembali. Suara peluit yang biasa Tupu bunyikan penuh semangat, semakin lirih dan getir terdengar. Sementara di luar sana, semua orang yang ditandai, di sukabumikan satu persatu. Lalu Baba? Entahlah.

Mwathrika diambil dari bahasa Swahili yang artinya ‘korban’. Lewat tokoh anak kecil Tupu dan Moyo, perasaan korban tampil lebih universal dengan kegetiran, kesedihan, keperihan dan tragedi yang bisa dirasakan siapa saja. Dengan penggarapan artistik yang pas, cerita yang fokus dan tidak berlebihan, Papermoon justru berhasil menemukan kekuatan sebagai pertunjukan yang memukau dan menggedor rasa para penontonnya. Usai pertunjukan keharuan dan perasaan sesak tergambar jelas di wajah para penonton. “ Kebayang kalau anak saya mengalami apa yang dialami Tupu dan Moyo, “ ungkap Elin, salah satu penonton yang juga ibu dari dua anak. Mata Elin terlihat sembab usai keluar dari auditorium.

Maria Tri Sulistyani atau yang akrab dipanggil Ria bersama suaminya, Iwan Effendi yang juga perupa, mengawali Papermoon Puppet Theatre pada tahun 2006 lewat pementasan boneka untuk anak-anak di kampung tempat mereka tinggal. Dalam perkembangannya, teater boneka menjadi media eksperimen seni bagi publik dan persoalan yang lebih luas, termasuk pula mengangkat tema sejarah 1965 yang untuk sebagian orang masih dianggap sangat sensitif. “Selama ini, kita hidup dalam ketakutan atas mitos sejarah masa itu. Itu yang bikin kita enggan membicarakan dan mempelajarinya, padahal tanpa mengetahuinya, kita tidak akan pernah memahaminya dan bukan tidak mungkin sejarah yang sama bisa terulang kembali,” jelas Iwan mengenai tema 1965. September mendatang, Papermoon akan menggelar pentas keliling Mwathrika di Amerika Serikat.  *** Tarlen Handayani

Tulisan ini dimuat di lembar Khazanah, Harian Pikiran Rakyat, 24 Juni 2012

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails