Skip to main content

Siejinkwie dan Perjalanan Persahabatan

Hal yang paling menyenangkan di bulan ulang tahun adalah menerima hadiah dari seorang sahabat. Adalah Adi Marsiela yang tahun ini memberiku hadiah istimewa: mengajakku menonton Sin Jie Kwie di Negeri Ajaib, sebuah pertunjukkan teater produksi ke 126, Teater Koma di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 24 Maret 2012 lalu. Sebuah pertunjukkan yang diangkat dari roman karya Tiokengjian dan Lokdanchung dan disadur serta disutradarai oleh Nano Riantiarno, ini berlangsung hampir lima jam dengan sela istirahat 15 menit. 

Kami berangkat dari Bandung, Sabtu siang, berkereta ke Gambir menembus sore yang cerah. Langit sepanjang perjalanan begitu indah. Kebahagianku menerima hadiah ini, terasa gempita diiringi derap kereta Argo Parahyangan  yang membawa kami ke ibukota. Aku selalu suka bunyi kereta. Sejak melakukan perjalanan kereta ke Malang bersama cik Rani dua tahun lalu, baru sekarang aku melakukan kembali perjalanan kereta dengan seorang sahabat. Setiap detiknya begitu berharga, karena detik demi detik itulah yang mengantar kami bertukar cerita dan membuat ikatan persahabatan kami menjadi lebih erat. 

Kurang lebih setengah enam kurang, kereta memasuki stasiun Gambir. Kami memutuskan berjalan kaki dari stasiun menuju Cikini. Langit meredup dan Jakarta sore itu cukup bersahabat. Tidak segerah biasanya. Masih ada waktu untuk menikmati soto lamongan dan melihat-lihat buku di kedai buku Yoserizal Manua, sebelum pertunjukkan dimulai. 

***
Foto Adi Marsiela
Pertunjukkan dibuka dengan kemunculan dalang Tavip yang diperankan oleh Budi Ros, ke panggung. Sang Dalang, memberi pengantar kisah Sinjinkwie di Negeri Sihir. Kisah ini sebenarnya bagian terakhir dari trilogi Sinjinkwie yang digarap oleh Teater Koma. Trilogi bagian pertama  dipentaskan pada bulan Februari 2010 dengan judul Siejinkwie (Ceng Tang), sementara bagian kedua diberi judul Siejinkwie Kena Fitnah yang digelar pada Maret 2011. Sementara jika kisah Siejinkwie ini dipentaskan secara lengkap dalam pertunjukan wayang potehi  dengan durasi 2 jam, bisa memakan waktu lebih dari 60 hari. 

Kisah Siejinkwie dimulai dari Lisbin, Raja Agung Tang yang bermimpi berjumpa dengan ksatria berbaju putih penunggang kuda putih. Ksatria itu menyelamatkan jiwanya dari ancaman golok  Kaseobun, jendral utama Kolekok. Berdasarkan ramalan penasehat Raja, Ciebokkong, nama ksatria itu adalah Siejinkwie yang berasal dari Desa Liongbun. 

Tanpa diketahui Lisibin, Siejinkwie ternyata sudah direkrut sebagai anggota Pasukan Dapur Tang. Meski posisinya sebagai pasukan dapur, Siejinkwie punya banyak jasa dalam perang Kolekok itu. Namun, semua jasa Siejinkwie oleh Thiosukwie, komandannya yang serakah itu, diaku sebagai jasa menantunya, supaya Thiosukwie dan mantunya mendapat keuntungan dari klaim itu. Ketika kebusukan Thiosukwie akhirnya terbongkar, ia dan keluarganya akhirnya di hukum mati. Sementara karena prestasinya itu, Siejinkwie dianugrahi gelar Raja Muda yang berkuasa penuh atas wilayah Sansee. 

Sementara dalam lakon Siejinkwie Kena Fitnah, Siejinkwie dijebloskan ke dalam penjara akibat fitnah putri Thiosukwie, Thiobiejin. Dendam kesumat mendorong Biejin merancang siasat keji bersama sepupunya, Thiojin. Siasat itu didukung oleh suami Biejin, pangeran Litocong, yang juga Paman Raja Lisibin. Tapi pada saat yang bersamaan, datang ancaman perang dari  Negeri Seeliang atau Tartar Barat. Tantangan perang diprovokasi oleh Jendral Saupotong, Panglima Angkatan Perang Seeliang. 


Foto Adi Marsiela

Konspirasi Biejin terungkap, dia dibunuh mati oleh Siekimlian, putri Siejinkwie. Sedang Litocong, atas prakarsa Thiakauwkim dibakar dalam sebuah genta kuno. Siejinkwie dibebaskan dari penjara dan direkrut menjadi panglima besar yang memimpin seluruh Angkatan Perang Tang. Dia diberi tugas oleh Lisibin untuk menghukum jendral majenun Seeliang, Saupotong. 

Siejinkwie di Negeri Sihir, menjadi kisah penutup yang menceritakan Sietengsan, putra Siejinkwie dan Hwanlihoa, perempuan perkasa putri jendral Tartar. Tengsan dan Lihoa diramal bakal jadi pasangan abadi, namun jalan berliku dan tragedi harus mereka lalui, sampai kisahnya berakhir dengan kebahagiaan. 

***

Foto Adi Marsiela

Foto Adi Marsiela

Pementasan Siejinkwie di Negeri Sihir selama bulan Maret 2012 ini, bertepatan dengan ulang tahun Teater Koma yang ke 35th. Kelompok teater yang didirikan di Jakarta, 1 Maret 1977, oleh Nano Riantiarno itu, termasuk kelompok teater yang bukan hanya bertahan namun juga dapat berkembang dan mewarnai jagat teater Indonesia. 

Pertunjukan Siejinkwie ini, kental dipengaruhi budaya Jawa. Hal ini ditunjukan bukan hanya ditandai dengan  kehadiran dalang, namun juga penggunaan batik sebagai desain utama kostum pertunjukan ini. Rima Ananda, desainer kostum pertunjukan ini, perlu menyediakan 350 potong baju untuk kepentingan pertunjukan ini. Untuk meriset motif batik yang digunakan, N. Riantiarno dan kru, mempelajari motid batik pesisir dan melakukan perjalanan budaya ke Trusmi-Cirebon, Pekalongan, Semarang, Jepara, Rembang, Lasem, Solo dan Yogjakarta, termasuk juga mengunjungi klenteng-klenteng pesisir utara Jawa. 

Tata artistik panggung, Teater Koma, mengadaptasi bentuk artistik Opera Cina dan komposisi musik yang juga biasa mainkan di opera-opera Cina.  Keduanya ditata sedemikian apik dan rapi oleh Teater Koma. Aku sempat berandai-andai, jika ada panggung pertunjukan seperti Lincoln Center, pertunjukan ini pasti akan terasa jauh megah dan kolosal. Namun pengandaianku ini, tidak mengubah kepuasanku terhadap penggarapan artistik pertunjukan ini. Termasuk juga keseriusan dalam penataan rias yang dipikirkan dengan sangat cermat oleh Subarkah Hadisarjana. 

Kehadiran dalang Tavip, selain mencoba mengadaptasi pertunjukan wayang kulit Cina-Jawa, juga untuk mensiasati durasi pertunjukan agar tidak terlalu lama. Pendekatan wayang kulit Cina-Jawa ini, untuk menghidupkan kembali hasil akulturasi budaya Cina dan Jawa yang selama ini sudah dianggap punah akibat represi politik Orde Baru yang melarang ekspresi kultural ini dipertontonkan kepada publik. 

***

Foto Adi Marsiela

Menonton Siejinkwie di Negeri Sihir, menambah kesadaran yang mengental tentang rentang keragaman budaya Indonesia yang sedemikian luas. Rasanya, aku ga akan mungkin menemukan pertunjukan Siejinkwie dengan nuansa peranakan Jawa yang kental, jika kisah ini diadaptasi oleh peranakan Malaysia atau Singapura. Meski secara politik, komunitas Cina mengalami represi politik berkali-kali, namun kisah-kisah seperti Siejinkwie membuktikan bahwa represi itu tidak berhasil mencerai berai pembauran budaya antara komunitas Cina dengan budaya lain yang ada di Indonesia. Pertunjukan ini membuatku beruntung menjadi orang Indonesia yang memiliki modal kekayaan budaya itu. Jadi untuk apa membesar-besarkan persoalan perbedaan, jika perbedaan ini sesungguhnya berkah yang memperkaya kehidupan dan kekayaan budaya yang membangun identitasku sebagai warga negara Indonesia. 

***

Waktu menunjukan hampir pk. 01.00 dini hari, ketika kami tiba di Utan Kayu, rumah seorang kawan yang memberi kami tumpangan menginap. Lelah segera menyergap. Mungkin karena perjalanan dan lima jam pertunjukan yang membutuhkan konsentrasi ketika menontonnya. Malam itu, kami pulas di tempat tidur masing-masing. terlenakan kepekatan hari itu: persahabatan, perjalanan, pertunjukan dan semua yang jalin jemalin menandai waktu menjelang usiaku genap 35 tahun. 

Yang bisa kukatakan, tak lain bahwa setiap persahabatan adalah berkah dan karunia yang membuat hidup lebih hidup sampai usia ini. Karena pergulatan persahabatan selalu mematangkan mengentalkan rasa kehidupan kami. 

Dan memiliki sahabat seperti Adi adalah berkah yang selalu kusyukuri.




Sinopsis di salin dari buku program pertunjukan Siejinkwie




Comments

Nia Janiar said…
Wah, mbak Tarlen, selamat ulang tahun! #salahfokus. Hadiahnya keren sekali! :D
budiros said…
Tarlen,

Selamat atas ultahnya, selamat atas hadiahnya. Bulan september minta hadiah lagi, kami pentas lagi di GBB.

salam,
Budi Ros
Aduh Pak Budi, satu kehormatan nih di komen sama pak dalang langsung heheheheh.. terima kasih sudah memberikan pertunjukan yang meninggalkan kesan mendalam :)

Popular posts from this blog

Hidup di Bandung Dasawarsa 80an - 90an

'Burako alm. jegger bonpis' foto by bapakku
Tiba-tiba saja, Bebeng bertanya: "Hey Len, maneh teh lainna budak SMP 20? Atuh gudang beas?" (hey len, bukankah kamu anak SMP 20? Gudang beras ya?). Aku yang ditanya begitu langsung balik menuding Bebeng " Hah? maneh teh budak 20 oge?" tawaku dan tawa Bebeng meledak. Tiba-tiba saja, aku dan Bebeng (yang setiap hari nongkrong di kantor AJI Bandung alias tetangga kamar tobucil) punya kesamaan sejarah, karena bersekolah di SMP yang sama. SMP yang sama sekali bukan SMP favorit (biasanya SMPN 4 tetangga kami, meledek anak-anak SMPN 20 dengan sebuatan sekolah gudang beras. SMPN 20 ini terletak persis di stasiun Cikudapateh).
Kenangan kami, ternyata ga jauh beda. Tentang: betapa 'beling'nya daerah kami di jaman remaja dulu. Anak-anak SMPN 20 Bandung (Jl. Centeh, Bandung) pasti ga asing dengan daerah-daerah di sekitarnya: Cinta Asih, Samoja, Gang Warta, Cicadas, Cibangkong, Karees, Cibunut, Alani, Kosambi, Babaka…

The Ballad of Jack and Rose

Entah kenapa aku senang sekali mengulang dan mengulang dan mengulang menonton film The Ballad Jack and Rose. Kisah bapak dan anak, hidup di sebuah tempat terpencil dengan idealisme tinggalan jaman hippies, sebagai environmentalis. Sampai akhirnya realitas berkata, “Rose, ayahmu Jack Slavin, sekarat sayang. Kau tak akan hidup selamanya bersamanya. Dia akan mati, dan kau harus terima kenyataan itu.” Yeah right, apakah aku pernah membayangkan bapakku mati? tentu saja tidak. Bahkan Rose sekalipun, meski dikisah itu, Rose tau, kondisi paru-paru Jack sudah sedemikian parahnya. Tapi saat kematian itu datang, rasanya terlalu berat untuk bisa menerima itu. Diriku sendiri, di detik-detik terakhir kematiannya, sulit mempercayai bahwa hal itu terjadi di depan mataku. Kukira, semua anak perempuan yang sangat-sangat sangat menyayangi bapaknya, tak pernah membayangkan bapaknya kan mati suatu hari nanti. Begitu pula sundea temanku, si anak bapak, yang tak bisa membayangkan, bahwa suatu hari nanti dia…

Antares (2004)

* * *

Aku agak surprise ketika alur cerita film ini ternyata seperti Amores Perros, hanya saja dalam tempo yang lebih lambat. Film Austria berbahasa Jerman garapan Gotz Spielman ini, terbagi dalam tiga kisah yang tokoh-tokohnya terhubung dalam ketidak sengajaan.

Bermula dari Eva (Petra Morze), seorang suster yang terjebak dalam kehidupan rutin bersama suaminya dan anak perempuannya. Pertemuan Eva kembali, dengan Thomasz (Andres Patton), mengobarkan kembali affair yang pernah terjalin diantara mereka. Eva menemukan kegairahan baru di antara kejenuhan rumah tangganya. Sampai akhirnya dengan dingin Eva menelepon suaminya dan mengaku bahwa ia memiliki kekasih lain. Respon suaminya saat itu adalah 'mengapa? bukankah rumah tangga kita baik-baik saja?

Kisah kedua, berkisah tentang sonja, seorang pramuniaga yang sangat pencemburu pada kekasihnya. Kisah Sonja ini terhubung dengan kisah Eva, ketika Eva bertemu Sonja di supermarket, dimana Sonja adalah kasir yang melayaninya. Saat itu, konsumen…