Thursday, March 29, 2012

Siejinkwie dan Perjalanan Persahabatan

Hal yang paling menyenangkan di bulan ulang tahun adalah menerima hadiah dari seorang sahabat. Adalah Adi Marsiela yang tahun ini memberiku hadiah istimewa: mengajakku menonton Sin Jie Kwie di Negeri Ajaib, sebuah pertunjukkan teater produksi ke 126, Teater Koma di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 24 Maret 2012 lalu. Sebuah pertunjukkan yang diangkat dari roman karya Tiokengjian dan Lokdanchung dan disadur serta disutradarai oleh Nano Riantiarno, ini berlangsung hampir lima jam dengan sela istirahat 15 menit. 

Kami berangkat dari Bandung, Sabtu siang, berkereta ke Gambir menembus sore yang cerah. Langit sepanjang perjalanan begitu indah. Kebahagianku menerima hadiah ini, terasa gempita diiringi derap kereta Argo Parahyangan  yang membawa kami ke ibukota. Aku selalu suka bunyi kereta. Sejak melakukan perjalanan kereta ke Malang bersama cik Rani dua tahun lalu, baru sekarang aku melakukan kembali perjalanan kereta dengan seorang sahabat. Setiap detiknya begitu berharga, karena detik demi detik itulah yang mengantar kami bertukar cerita dan membuat ikatan persahabatan kami menjadi lebih erat. 

Kurang lebih setengah enam kurang, kereta memasuki stasiun Gambir. Kami memutuskan berjalan kaki dari stasiun menuju Cikini. Langit meredup dan Jakarta sore itu cukup bersahabat. Tidak segerah biasanya. Masih ada waktu untuk menikmati soto lamongan dan melihat-lihat buku di kedai buku Yoserizal Manua, sebelum pertunjukkan dimulai. 

***
Foto Adi Marsiela
Pertunjukkan dibuka dengan kemunculan dalang Tavip yang diperankan oleh Budi Ros, ke panggung. Sang Dalang, memberi pengantar kisah Sinjinkwie di Negeri Sihir. Kisah ini sebenarnya bagian terakhir dari trilogi Sinjinkwie yang digarap oleh Teater Koma. Trilogi bagian pertama  dipentaskan pada bulan Februari 2010 dengan judul Siejinkwie (Ceng Tang), sementara bagian kedua diberi judul Siejinkwie Kena Fitnah yang digelar pada Maret 2011. Sementara jika kisah Siejinkwie ini dipentaskan secara lengkap dalam pertunjukan wayang potehi  dengan durasi 2 jam, bisa memakan waktu lebih dari 60 hari. 

Kisah Siejinkwie dimulai dari Lisbin, Raja Agung Tang yang bermimpi berjumpa dengan ksatria berbaju putih penunggang kuda putih. Ksatria itu menyelamatkan jiwanya dari ancaman golok  Kaseobun, jendral utama Kolekok. Berdasarkan ramalan penasehat Raja, Ciebokkong, nama ksatria itu adalah Siejinkwie yang berasal dari Desa Liongbun. 

Tanpa diketahui Lisibin, Siejinkwie ternyata sudah direkrut sebagai anggota Pasukan Dapur Tang. Meski posisinya sebagai pasukan dapur, Siejinkwie punya banyak jasa dalam perang Kolekok itu. Namun, semua jasa Siejinkwie oleh Thiosukwie, komandannya yang serakah itu, diaku sebagai jasa menantunya, supaya Thiosukwie dan mantunya mendapat keuntungan dari klaim itu. Ketika kebusukan Thiosukwie akhirnya terbongkar, ia dan keluarganya akhirnya di hukum mati. Sementara karena prestasinya itu, Siejinkwie dianugrahi gelar Raja Muda yang berkuasa penuh atas wilayah Sansee. 

Sementara dalam lakon Siejinkwie Kena Fitnah, Siejinkwie dijebloskan ke dalam penjara akibat fitnah putri Thiosukwie, Thiobiejin. Dendam kesumat mendorong Biejin merancang siasat keji bersama sepupunya, Thiojin. Siasat itu didukung oleh suami Biejin, pangeran Litocong, yang juga Paman Raja Lisibin. Tapi pada saat yang bersamaan, datang ancaman perang dari  Negeri Seeliang atau Tartar Barat. Tantangan perang diprovokasi oleh Jendral Saupotong, Panglima Angkatan Perang Seeliang. 


Foto Adi Marsiela

Konspirasi Biejin terungkap, dia dibunuh mati oleh Siekimlian, putri Siejinkwie. Sedang Litocong, atas prakarsa Thiakauwkim dibakar dalam sebuah genta kuno. Siejinkwie dibebaskan dari penjara dan direkrut menjadi panglima besar yang memimpin seluruh Angkatan Perang Tang. Dia diberi tugas oleh Lisibin untuk menghukum jendral majenun Seeliang, Saupotong. 

Siejinkwie di Negeri Sihir, menjadi kisah penutup yang menceritakan Sietengsan, putra Siejinkwie dan Hwanlihoa, perempuan perkasa putri jendral Tartar. Tengsan dan Lihoa diramal bakal jadi pasangan abadi, namun jalan berliku dan tragedi harus mereka lalui, sampai kisahnya berakhir dengan kebahagiaan. 

***

Foto Adi Marsiela

Foto Adi Marsiela

Pementasan Siejinkwie di Negeri Sihir selama bulan Maret 2012 ini, bertepatan dengan ulang tahun Teater Koma yang ke 35th. Kelompok teater yang didirikan di Jakarta, 1 Maret 1977, oleh Nano Riantiarno itu, termasuk kelompok teater yang bukan hanya bertahan namun juga dapat berkembang dan mewarnai jagat teater Indonesia. 

Pertunjukan Siejinkwie ini, kental dipengaruhi budaya Jawa. Hal ini ditunjukan bukan hanya ditandai dengan  kehadiran dalang, namun juga penggunaan batik sebagai desain utama kostum pertunjukan ini. Rima Ananda, desainer kostum pertunjukan ini, perlu menyediakan 350 potong baju untuk kepentingan pertunjukan ini. Untuk meriset motif batik yang digunakan, N. Riantiarno dan kru, mempelajari motid batik pesisir dan melakukan perjalanan budaya ke Trusmi-Cirebon, Pekalongan, Semarang, Jepara, Rembang, Lasem, Solo dan Yogjakarta, termasuk juga mengunjungi klenteng-klenteng pesisir utara Jawa. 

Tata artistik panggung, Teater Koma, mengadaptasi bentuk artistik Opera Cina dan komposisi musik yang juga biasa mainkan di opera-opera Cina.  Keduanya ditata sedemikian apik dan rapi oleh Teater Koma. Aku sempat berandai-andai, jika ada panggung pertunjukan seperti Lincoln Center, pertunjukan ini pasti akan terasa jauh megah dan kolosal. Namun pengandaianku ini, tidak mengubah kepuasanku terhadap penggarapan artistik pertunjukan ini. Termasuk juga keseriusan dalam penataan rias yang dipikirkan dengan sangat cermat oleh Subarkah Hadisarjana. 

Kehadiran dalang Tavip, selain mencoba mengadaptasi pertunjukan wayang kulit Cina-Jawa, juga untuk mensiasati durasi pertunjukan agar tidak terlalu lama. Pendekatan wayang kulit Cina-Jawa ini, untuk menghidupkan kembali hasil akulturasi budaya Cina dan Jawa yang selama ini sudah dianggap punah akibat represi politik Orde Baru yang melarang ekspresi kultural ini dipertontonkan kepada publik. 

***

Foto Adi Marsiela

Menonton Siejinkwie di Negeri Sihir, menambah kesadaran yang mengental tentang rentang keragaman budaya Indonesia yang sedemikian luas. Rasanya, aku ga akan mungkin menemukan pertunjukan Siejinkwie dengan nuansa peranakan Jawa yang kental, jika kisah ini diadaptasi oleh peranakan Malaysia atau Singapura. Meski secara politik, komunitas Cina mengalami represi politik berkali-kali, namun kisah-kisah seperti Siejinkwie membuktikan bahwa represi itu tidak berhasil mencerai berai pembauran budaya antara komunitas Cina dengan budaya lain yang ada di Indonesia. Pertunjukan ini membuatku beruntung menjadi orang Indonesia yang memiliki modal kekayaan budaya itu. Jadi untuk apa membesar-besarkan persoalan perbedaan, jika perbedaan ini sesungguhnya berkah yang memperkaya kehidupan dan kekayaan budaya yang membangun identitasku sebagai warga negara Indonesia. 

***

Waktu menunjukan hampir pk. 01.00 dini hari, ketika kami tiba di Utan Kayu, rumah seorang kawan yang memberi kami tumpangan menginap. Lelah segera menyergap. Mungkin karena perjalanan dan lima jam pertunjukan yang membutuhkan konsentrasi ketika menontonnya. Malam itu, kami pulas di tempat tidur masing-masing. terlenakan kepekatan hari itu: persahabatan, perjalanan, pertunjukan dan semua yang jalin jemalin menandai waktu menjelang usiaku genap 35 tahun. 

Yang bisa kukatakan, tak lain bahwa setiap persahabatan adalah berkah dan karunia yang membuat hidup lebih hidup sampai usia ini. Karena pergulatan persahabatan selalu mematangkan mengentalkan rasa kehidupan kami. 

Dan memiliki sahabat seperti Adi adalah berkah yang selalu kusyukuri.




Sinopsis di salin dari buku program pertunjukan Siejinkwie




Tuesday, March 13, 2012

The Rum Diary (2011): Kebimbangan Johnny Deep Atas Hunter S. Thompson

 *    *    *
Sutradara: Bruce Robinson

Bagi penggemar Hunter S. Thompson, seperti aku, film yang diangkat dari buku karangan Hunter, tentunya sangat wajib untuk di tonton. Apalagi Johnny Deep yang selama ini dikenal sebagai sahabat dekat Hunter S. Thompson, berperan sebagai tokoh utamanya.  Komentarku tentang film ini tentunya sangat dipengaruhi oleh film Fear and Loathing in Las Vegas, sebuah film yang diangkat dari karya Hunter yang lain.

Filmnya berkisah tentang Paul Kemp, seorang jurnalis Amerika yang pindah ke Puerto Rico untuk bekerja di surat kabar setempat. Sesungguhnya Kemp bukanlah seorang jurnalis, ia seorang penulis yang karyanya seringkali di tolak oleh banyak penerbit. Kepindahannya ke Puerto Rico, untuk mengadu peruntungannya yang akhirnya mendamparkan dia ke dalam lingkungan kerja surat kabar lokal dimana karir seorang jurnalis akan berakhir sebagai alkoholik, seperti rekan Kemp, Moberg yang diperankan oleh Giovanni Ribisi.

Sementara surat kabar tempat Kemp bekerja adalah surat kabar yang tidak jelas sikap politiknya. Memilih untuk main aman. Sementara, Puerto Rico ada pada masa dimana serbuan para pemilik modal asing, membabi buta dan merebut hak hidup penduduk aslinya. Sampai kemudian, Kemp berkenalan dengan Sanderson yang diperankan oleh Aaron Eackhart, seorang broker investasi yang punya ambisi memperkaya diri yang sedemikian besarnya. Kemp ditawari Sanderson untuk menjadi kolaboratornya, dengan menulis berita-berita yang dapat mempermudah Sanderson mencapai tujuan. Sanderson menawarkan uang dan fasilitas yang menggiurkan, Kemp menerima, bukan semata-mata karena uang, namun Kemp diam-diam jatuh cinta pada Chenault (Amber Hart), kekasih Sanderson.

Kemp melibatnya Sala (Michael Rispoli), teman Kemp yang juga sesama jurnalis dalam mengerjakan pekerjaannya untuk Sanderson. Setelah mengetahui bahwa Sanderson ingin merampas banyak lahan milik penduduk demi kepentingan investasi, Sala kemudian mengambil peran sebagai polisi moral bagi Kemp. Urusan Kemp dengan Sanderson menjadi kacau balau, ketika Chenault juga ternyata jatuh cinta pada Kemp dan secara terbuka menunjukkannya. Sanderson marah dan dengan kekuasaan yang dimilikinya, ia menutup surat kabar tempat Kemp bekerja.

***

Sebenenarnya, persoalan yang ingin disampaikan di film ini sangatlah menarik. Sebagai penulis ceritanya, Hunter S. Thompson, sangat kritis terhadap persoalan seperti ini. Membandingkan dengan Fear and Loathing in Las Vegas, meski itu tentang film perjalanan dua orang sahabat dan petualangan mereka menjajal segala macam obat-obatan terlarang, namun sangat kental terasa, bahwa itu bukan film tentang petualangan drugs semata. Narasi anti perang Vietnam, sangatlah kuat di film itu. Drugs hanyalah dampak dari kebingungan masyarakat muda Amerika pada saat itu dalam menyikapi kebijakan politik luar negeri negaranya.

Aku belum membaca buku The Rum Diary, tapi aku yakin, Hunter juga punya maksud politik seperti itu. Keberpihaknya pada komunitas latin Amerika, di Fear and Loathing in Las Vegas ditunjukkan dengan sangat jelas dari persabahatannya dengan Dr. Gonzo yang mengambil karakter dari sahabat nyata Hunter, Oscar Costa, seorang aktivis Brown Liberation. Sementara di Rum Diary, dengan memilih Puerto Rico dan masalah penguasaan lahan pun, sudah jelas Hunter memiliki tendensi politik yang kuat lewat kisah ini. Namun sayangnya, sang sutradara Bruce Robinson, lebih memilih mengeksekusi cerita ini kedalah petualangan romantis antara Kemp dan Chenault.

Padahal aktor-aktor pendukungnya kurasa berperan dengan cukup baik. Hanya saja, Johnny Deep sepertinya sulit keluar dari stereotipe Raoul Duke di Fear and Loathing in Las Vegas dan Jack Sparrow, Pirate of The Carribean. Aku tidak merasa Johnny bermain maksimal di film ini. Mungkin karena di film ini Hunter tidak bisa lagi ia tanyai dan menjadi mentor baginya. Sehingga menjadi jurnalis yang "Hunter S. Thompson" banget itu, sepertinya Johnny nampak kebingungan.

***

Dalam film yang diadaptasi dari tulisan seseorang, apalagi penulisnya punya karakter yang sangat kuat seperti Hunter S. Thompson,  baik Johnny maupun Bruce Robinson, punya keleluasaan untuk melakukan interpretasi. Semua berpulang dari pilihan yang akan diambil: akan patuh pada bukunya, atau hanya menjadikan buku sebagai pijakan. Namun, ketika ragu menjatuhkan pilihan semua akan terasa. Kepiawaian akting dan keindahan set terasa tidak maksimal.

Tapi terlepas dari kekurangannya, film ini masih enak untuk dinikmati..

Wednesday, March 07, 2012

Ibuku Seluas Samudra


Hari ini ibuku genap 71 tahun. Namun dia yang memberiku hadiah super istimewa. Sebuah dukungan yang aku tau, itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Dia percaya, bahwa seberbeda keyakinan  apapun yang akan mendampingiku nanti, dia akan selalu mendukungku. Karena ibu percaya, itulah jalan kebaikan yang harus aku perjuangkan. Sebagai ibu bekal berharga yang ia berikan padaku adalah  kesempatan dan kepercayaan  padaku untuk berjuang dengan pilihan-pilihan hidupku. Dunia boleh menentang pilihanku, namun restu ibu yang akan selalu menemaniku.

Terima kasih ibu, kau beri aku tauladan atas kebesaran dan keluasan hatimu.
Selamat ulang tahun.

Ibuku dasar samudera
tempat lautan berpijak
dan sauh melabuh

Monday, March 05, 2012

Membebaskan Pertanyaan

Suatu pagi di jendela gudang selatan foto oleh vitarlenology
Katanya setinggi-tingginya maaf adalah ketika kita mampu menerima dengan iklas ketika orang lain tidak bisa mengerti niat baik kita. Tapi ternyata itu sulit. Meski ketika berhasil mencobanya hati terasa lebih longgar karena kita akan terhindar dari banyak pertanyaan tentang mengapa orang lain tidak bisa mengerti kita. 

Ternyata, tidak semua hal yang tidak kita mengerti perlu dipelihara sebagai pertanyaan yang menggantung dan membebani. Seringkali ketika pertanyaan-pertanyaan itu dibiarkan menyesaki hati, dia malah mengungkung pikiran dan rasa untuk leluasa mencari jawab. Bebaskan saja pertanyaan-pertanyaan itu. Biarkan waktu yang menjawabnya. Siapa tau, ketika kita iklaskan, waktu malah memberikan jawabannya dan hidup menunjukkan jalan pengertian baru atas apa yang sulit kita pahami selama ini.

Semakin bertambah usia, semakin banyak hal yang perlu di lepaskan, di iklaskan.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails