Sunday, October 07, 2012

Pilihan Antara Hobi Dan (Atau) Serius Berbisnis

foto diambil dari sini 

Kelly Rand di buku Handmade to Sell membuat dikotomi (pemisahan) yang menarik antara penggiat hobi dan pembisnis. Dikotomi yang dibuat Kelly ini untuk menjawab pertanyaan mendasar yang seringkali muncul: mengapa kita membuat barang buatan tangan/handmade.

Menurut Kelly, penggiat hobi bisa di cirikan sebagai berikut:
  • Membuat barang buatan tangan di waktu luang
  • Membuat barang buatan tangan itu untuk dipakai sendiri atau untuk teman dan kerabat.
  • Biasanya memberikan cuma-cuma barang buatan tangan sebagai hadiah.
  • Membuat barang buatan tangan sebagai pelepas ketegangan atau stres.
  • Membuat barang buatan tangan sebagai sarana penyaluran kreativitas.
  • Menjual barang buatan tangan biasanya hanya sekedar untuk mencari kesenangan dan tambahan uang saku.
  • Dalam konteks negara maju, membuat barang buatan tangan sebagai hobi, bahan-bahan yang dibeli, pelatihan yang diikuti serta biaya yang dikeluarkan untuk proses produksinya, tidak mungkin dimasukan ke dalam variabel yang dapat mengurangi pajak yang harus dibayar oleh individu yang bersangkutan.

Sementara orang yang memang serius berbisnis dengan barang buatan tangannya, diindetifikasikan Kelly sebagai:
  • Orang yang membuat barang buatan tangan sebagai pekerjaan sehari hari.
  • Barang buatan tangan yang dihasilkan biasanya dijual pada konsumen yang tidak dikenal sebelumnya. 
  • Orang yang membuat barang buatan tangan tidak cukup mampu untuk memberikan karyanya secara cuma-cuma. 
  • Proses membuat barang buatan tangan ini, alih-alih sebagai pengusir stres justru malah menjadi sumber stres. 
  • Kreativitas justru jadi terbatas karena dituntut membuat sesuai dengan keinginan konsumen.
  • Jualan adalah tujuan utama dari kegiatan membuat barang buatan tangan. Ada target pendapatan yang dikejar.
  • Dalam konteks negara maju, membuat barang buatan tangan, bahan-bahan yang dibeli, pelatihan yang diikuti serta biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi dapat dimaksukan ke dalam variabel yang dapat mengurangi pajak dari pendapatan. 

Pada kenyataannya, dikotomi ini tidak sekaku yang dipaparkan Kelly. Kadang keduanya bisa jadi motif yang bercampur jadi satu dari hobi mejadi serius berbisnis. Di satu sisi, bisnis yang dibangun dari hobi biasanya punya semangat yang lebih dari sekedar mencari uang. Namun di sisi lain, uang kerap kali justru menjadi godaan untuk menjadikannya sebagai motif utama dalam pergeseran itu_ hobi menjadi bisnis. 

***

Hal yang pertama kali mesti disadari dari berbisnis berdasarkan hobi yang kita tekuni adalah ini bisnis yang komoditas utamanya adalah sentuhan tangan kita. Identitas yang 'kita banget' menjadi penting. Karena itu yang kemudian akan membedakan antara barang buatan kita dengan orang lain. Dan tentunya identitas itu dibangun dari keahlian kita dalam membuatnya. Keahlian yang bukan sekedar persoalan penguasaan teknis, tapi juga bagaimana si pembuatnya memberi rasa pada benda yang dia buat (miriplah kaya seniman, kalau seniman sudah menyerahkan karyanya pada artisan rasa seninya pasti hilang dari karyanya). 

Aku pribadi lebih senang mendefinisikan crafter atau si pembuat handmade ini sebagai 'empu' alias seseorang yang sangat ahli dalam membuat sesuatu. Bisa saja ada seribu orang membuat benda yang sama, namun jika dikerjakan oleh seorang empu, apa yang dia buat akan jauh lebih 'outstanding' dan beda dibandingkan 999 lainnya. Dan biasanya seseorang yang mendalami hobi tertentu biasanya akan memiliki kemampuan dan pengetahuan yang mendalam dari apa yang ia tekuni.  Dari sini kita bisa mendapatkan pemahaman bahwa bisnis yang dibangun dari hobinya tentunya menjadi usaha yang komoditasnya adalah sesuatu yang dihasilkan dari kecintaan, keahlian dan pengetahuan yang mendalam yang kemudian membuat komoditas itu berbeda dengan komoditas sejenis lainnya. 

Berdasarkan pengalaman pribadi yang kujalani, ketika makin banyak orang tertarik dengan barang-barang buatan tangan yang aku buat, makin sibuklah aku melayani pesanan-pesanan orang-orang ini. Waktu kemudian menjadi hal penting dipertaruhkan. Jika sebagai penggiat hobi, waktu adalah keleluasaan untuk mendalami dan menggali. Lantas membuat tidak sama dengan tuntutan orang lain yang harus dipatuhi sebagai komitmen produsen kepada konsumen. Sementara sebagai pembisnis, waktu adalah target, persoalan komitmen produsen kepada konsumen. Membuat sama dengan memenuhi sejumlah tuntutan orang lain. 

Ketika waktu adalah keleluasaan, kreativitas dan inovasi-inovasi jadi memiliki ruang gerak yang cukup. Sementara ketika waktu menjadi persoalan komitmen produsen dan konsumen, persoalan kreativitas dan inovasi menjadi persoalan negosiasi. Kepuasan hasil karya tidak lagi aku yang menentukan, tapi ada orang lain atau konsumen yang menjadi ukuran lain dalam menentukan kepuasan (OOT: kok aku tiba-tiba jadi inget jargon seni untuk seni dan seni untuk masyarakat :D). Jika persoalan negosiasi ini tidak bisa berjalan seimbang, kita sebagai pembuat justru hanya menjadi sekedar tukang eksekusi dari keinginan orang lain. Ketika beralih dari hobi menjadi bisnis, hal yang paling fundamental yang menurutku harus dikuatkan adalah posisi tawar dari soal negosiasi ini. Seberapa jauh aku bisa membangun kepercayaan terhadap konsumen, bahwa ide yang aku tawarkan dan aku realisasikan itu memang istimewa. Itu sebabnya, empu itu lebih dari sekedar desainer, karena dia juga mampu mengerjakannya. Kok keliatannya jadi rumit dan sulit ya? 

Sebenarnya ga serumit dan sesulit itu juga. Ini persoalan prinsip mendasar dalam menjalankan kegiatan hobi yang kemudian menjadi bisnis. Seolah rumit dan sulit karena berhubungan dengan bagaimana aku membangun 'harga' bagi diriku sendiri dengan keahlian dan gagasanku. Apakah aku rela hanya menjadi sekedar tukang, atau aku seperti empu yang setiap karya buatanku adalah istimewa. Hal ini jadi pilihan yang menurutku harus ditentukan di awal. Pilihan ini yang menurutku akan menentukan motif dan semangat yang menjaga bisnis ini punya misi dan tidak sekedar melulu persoalan mencari uang. 

Tapi bukan berarti juga harus merasa bersalah, ketika lebih memilih pencapaian materi dari usaha berdasarkan hobi ini. Tidak ada pilihan yang salah selama resikonya disadari dan diterima dengan tanggung jawab.  Sebuah pilihan menurutku menjadi salah ketika kita tidak mau menanggung resikonya atau hanya mau mengambil keuntungannya saja tapi tidak mau menanggung resiko dari pilihan tersebut. Kita tinggal menghitung resiko saja, resiko mana yang paling sanggup kita tanggung, itu yang kemudian bisa menjawab pilihan mana yang bisa kita ambil. 

Saturday, August 25, 2012

Dilarang Gondrong!


Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an
Penulis : Aria Wiratma Yudhistira
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun 2010

Pernah, pada masa Orde Baru, pemerintahan Soeharto begitu anti terhadap rambut gondrong. Bahkan Soeharto pernah memerintahkan dibentuknya Bakorperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong). 

Antipati yang sedemikian besar terhadap rambut gondrong ini menjadi kajian sejarah yang menarik dalam buku yang ditulis Aria Wiratma Yudhistira. 

Buku ini merupakan hasil skripsinya sebagai mahasiswa di jurusan sejarah Universitas Indonesia, diberi judul: Dilarang Gondrong! Praktik kekuasaan Orde baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an.

Aria mencatat, pernyataan Pangkopkamtib pada tanggal 1 Oktober 1973 dalam sebuah acara perbincangan di TVRI, menyatakan bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi Onverschillig alias acuh tak acuh (hlm 1). Pernyataan ini selanjutnya menjadi pembenaran atas tindakan anti rambut gondrong. Meski di sisi lain, protes dari kalangan muda pun bermunculan. Seperti yang terjadi pada tanggal 10 Oktober 1973 dan dilakukan oleh 11 orang delegasi Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (DM-ITB), dengan dipimpin Muslim Tampubolon sebagai ketua perwakilan mahasiswa, mereka mendatangi DPR-RI di Jakarta untuk memprotes pernyataan Pangkopkamtib tersebut (hlm. 2). Untuk itu, selanjutnya buku ini mencoba untuk fokus dalam menelisisk, bagaimana praktek kekuasaan (Orde Baru) diterapkan kepada para pemuda pada masa itu.

Ketika membicarakan anak muda, Aria berpegang pada  dua jenis pengelompokan anak muda. Pertama yang bersikap apatis terhadap  persoalan politik, dan kedua yang memiliki kesadaran tiinggi terhadap persoalan bangsa. atau yang disebut sebagai kelompok mahasiswa. (hal 11). Sementara dua kelompok anak muda ini, berada dalam lingkungan yang menurut penelitian Saya Shiraishi: “bapak”, “ibu” dan “anak” serta Soeharto sebagai “Bapak Tertinggi” (Supreme Father). Dengan demikian orang tua memiliki kedudukan dominan dikarenakan pengalaman hidupnya menuntut penghormatan dari anak-anaknya (hlm. 10)  Dengan menempatkan Soerharto sebagai ‘bapak Orde Baru’ maka tertutuplah kesempatan bahwa revolusi di Indonesia dipegang oleh generasi muda, seperti yang telah terjadi sebelumnya (hal. 33).

Sementara, pada saat Orde Baru mulai membangun pondasinya di era 1960-an, di Amerika Utara dan Eropa berkembang budaya tandingan yang dimotori oleh anak-anak muda. Di Amerika Serikat, gerakan hak sipil orang kulit hitam, gerakan perempuan, gerakan orang-orang hispanik dan penduduk asli Indian, menjadi cara bagi generasi muda menentang budaya dominan dan tatanan sosial yang telah mapan yang dibangun setelah Perang Dunia II (hal. 40). Munculnya perang dingin antara dua blok kekuatan usai Perang Dunia II; Amerika dan Uni Sovyet, menumbuhkan kejenuhan dan semangat damai anti perang di kalangan anak muda Amerika Serikat, Kanada dan Eropa Utara. Hippies lalu muncul sebagai sebuah gagasan tentang cara hidup atau cara pandang alternatif atau berbeda dengan kehidupan yang dominan berlaku pada saat itu. Kaum hippies ini menjadi mudah dikenali karena secara kasat mata dapat dilihat dari penampilannya yang eksentrik: rambut panjang, jenggot yang dibiarkan tak dicukur, pakaian longgar aneka warna (psikedelik), sandal, kalung, gelang dan perempuannya tidak memakai bra (hal. 42-43).

Ketika pengaruh hippies ini masuk ke Indonesia dengan gaya hidup bohemian, menjadi persoalan karena dianggap mengganggu ketentraman umum oleh pemerintah (hal. 45). Bahkan Menteri Dalam Negeri Amir Machmud dalam harian Suara  Karya, 22 Januari 1972, mengatakan “Meskipun bagsa Indonesia tekenal ramah tamah, tetapi terhadap hippies tak perlu ramah dan pada waktunya nanti akan dilarang.” (hal. 46).

Dalam buku ini, Aria melihat bahwa semangat flower generation yng dibawa oleh kaum hippies ini, ketika masuk dan mempengaruhi gaya hidup muda-mudi Indonesia, lebih pada persoalan imitasi gaya hidup dan penampilan daripada simbol pemberontakan terhadap kemapanan seperti yang terjadi di negara asalnya. Perbedaan ini menurut Aria dikarenakan Indonesia masih berada dalam tahap transisi, sehingga “kemapanan” secara budaya, ekonomi serta politik belum tercapai (hal. 54). Namun Aria juga memaparkan bahwa sebagian generasi muda juga menolak ketika disebut tenggelam  dalam kebudayaan atau pengaruh barat dan terjerumus dalam dekadensi moral karenanya. Bagi kalangan generasi muda yang membantah, “Kebudajaan kami bukanlah kebudajaan Indonesia atau kebudajaan Barat, melainkan kebudajaan internasional” (hal. 95).

Tuduhan dekadensi moral terhadap gaya hidup generasi muda pada saat itu, juga tidak lepas dari pencitraan yang dibangun oleh media massa. Lewat judul-judul pemberitaan yang mendeskreditkan rambut gondrong seperti yang dimuat di harian Pos Kota pada  Oktober 1973: ”7 Pemuda Gondrong Merampok Biskota”, “Waktu Mabuk Di Pabrik Peti Mati: 6 Pemuda Gondrong Perkosa 2 Wanita”. Juga yang muncul di harian lain seperti Angkatan Bersenjata pada tahun yang sama: “5 Pemuda Gondrong Memeras Pakai Surat Ancaman”. Citra buruk diterakan pada rambut gondrong sehingga identik dengan kriminal dan pelaku kejahatan (bab 5). Upaya mengkriminalisasikan rambut gondrong menjadi salah satu cara Orde Baru pada saat itu mengontrol gejolak dan ketidakpuasan  generasi muda terhadap kekuasaan pada saat itu.

Yang menarik dari buku ini adalah tidak banyak kajian sejarah yang menghubungkan persoalan gaya hidup serta kontrol terhadap tubuh laki-laki sebagai cara untuk mempertahankan status quo dalam kekuasaan Orde Baru. Rambut gondrong bukan lagi sekedar keinginan tampil beda. Ketika gaya hidup ini dilakukan secara komunal dengan mengadopsi semangat perlawanan atas kemapanan, maka rambut gondrong bisa dianggap sebagai ancaman serius bagi penguasa. (Tarlen Handayani)

Friday, August 24, 2012

Apa Kabar Drawing Hari Ini?


gambar atas kebaikan R.E. Hartanto


G. Sidharta Soegijo (alm), pematung yang semasa hidupnya mengajar di FSRD ITB, pernah mengatakan “Salah satu cara yang paling langsung untuk menghubungkan proses berpikir, yang berlangsung secara abstrak, dengan bentuk visual, yang konkret, adalah melalui gambar.” Itu sebabnya jika membicarakan seni gambar tentu saja terkait dengan bagaimana seniman mengkerangkakan  gagasan-gagasan sebelum menjadi karya yang lebih utuh.

Sebagai sebuah kerangka karya, gambar atau drawing seringkali tenggelam di bawah medium atau seni yang di dukung olehnya. Timbul tenggelamnya gambar dalam perkembangan seni rupa, sangat dipengaruhi oleh pendekatan pemikiran yang membentuk fase-fase perkembangan seni rupa. Misalnya saja, pada masa Renesans dimana seni lukis menjadi kategori seni tinggi. Otomatis menggambar menjadi bagian yang penting yang harus dikuasai. Sementara dalam perkembangan seni moderen, gambar tidak lagi menjadi sebuah kemampuan yang harus dikuasai secara teknis. Karena seniman tidak lagi dituntut untuk menguasai kemampuan gambar secara anatomis. Sketsa untuk memvisualisasikan konsep saja sudah cukup. Kecenderungan ini berlangsung dari masa seni rupa moderen sampai masa memasuki seni rupa kontemporer. 

Sementara dalam perkembangan seni rupa kontemporer yang membuka beragam kemungkinan dalam ekspresi artistic, pada prakteknya gambar lebih banyak digunakan sebagai salah satu pilihan cara untuk menampilkan gagasan visual ketimbang pendekatan yang dipilih seniman untuk menemukan esensi dan sublimasi ekspresi visual yang dilakoni nya.

Itu sebabnya menurut R.E. Hartanto, seniman yang senang sekali membuat 'doodling' di buku kerjanya mengatakan: “Perkembangan drawing itu seperti bara, terus menyala tapi tidak akan menjadi kobaran api yang besar. Seni gambar akan selalu mendapat tempat, meski definisi mendapat tempat ini sangat bisa diperdebatkan." Menurut seniman yang akrab di panggil Tanto ini menambahkan bahwa sifat drawing yang 'versatile' atau dapat digunakan untuk berbagai fungsi dan kepentingan ini, membuat drawing menjadi  fleksibel.

Agung Hujatnika, kurator Selasar Sunaryo menilai, ada masanya dalam perjalanan kekaryaan seniman, drawing itu menjadi sesuatu yang ‘cool’ dan menjadi medium yang dipilih. “Ada masa dimana Agus Suwage banyak membuat drawing di atas kertas, sebelum melukis di atas kanvas jadi pilihan medium berikutnya,” Agung mencontohkan.

Meskipun sifatnya yang fleksibel dan fungsinya yang cukup beragam, tidak banyak seniman menjadikan gambar sebagai metode utamanya dalam berkarya.

“Di Bandung,awal tahun 1990an sampai pertengahan 1990, drawing bisa dikatakan menonjol sebagai sebuah seni yang otonom. Tisna Sanjaya menurut saya banyak menginspirasi seniman lain untuk menggunakan medium drawing dalam berkarya, termasuk kelompok Gerbong, Nandang Gawe, Dodi Rosadi,” ungkap Agung. Situasi ini menurut Agung karena ada seni lukis tidak lagi superior. Situasi sosial politik yang berkembang pada saat itu juga ikut membentuk tema-tema yang dieksplorasi melalui medium ini.

 “Pada karya Rosyid dan Pramuhendra, kita bisa menemukan imbas dominasi pasar seni rupa yang berkembang saat ini. Seniman-seniman ini menggunakan drawing sebagai teknik untuk membuat karya di atas kanvas,” ungkap Heru Hikayat, kurator seni rupa yang tinggal di Bandung. Heru juga  menjelaskan pengamatannya terhadap perkembangan drawing ini. “Secara isi yang politis juga masih tetap ada seperti karya-karyanya Isa Perkasa, tapi yang sangat personal juga ada. Realisme fotografi dan pengaruh komik-komik jepang punya pengaruh dalam gaya.”

Jika menyinggung soal penerimaan karya-karya drawing ini, Heru melihat bahwa drawing menjadi salah satu pilihan yang mulai di pertimbangkan. “Penerimaan pasar sudah lebih moderat dan membuka apresiator yang lebih luas, karena sekarang ini selera pasar juga sudah lebih beragam tidak melulu lukisan saja yang dicari kolektor.”

Di sisi lain, Agung Hujatnika melihat bahwa mayoritas kolekter tetap saja menjatuhkan pilihan pada lukisan. “Karena mengkoleksi drawing itu sulit perawatannya. Apalagi di negara tropis dengan kelembaban yang tinggi seperti Indonesia. Karya drawing di atas kertas menjadi mudah rusak di bandingkan karya lukis,” Agung menjelaskan.

Setelah tahun 2000an, seiring dengan berkembangnya wacana seni rupa kontemporer yang membuka banyak pilihan medium dalam berkarya, Agung melihat bahwa fanatisme terhadap satu medium semakin memudar. Sebagai sebuah wacana masa awal 1990 bagi drawing, tidak akan terulang lagi. “ Bukan hanya drawing, semua medium dalam seni rupa, secara wacana sudah selesai, karena sudah pernah di coba.” 

Saat ini, ketika seni memberi keleluasaan dan berbagai pilihan, keragam medium ini justru menjadi tantangan seniman untuk melahirkan karya yang sesuai dengan karakteristik mediumnya. “Drawing menjadi salah satu pilihan otonom dari banyak pilihan lain. Seniman bisa lebih bebas menggunakan banyak medium sekaligus. Dan medium-medium ini posisinya menjadi sejajar satu sama lain,” kata Agung.

Bagi seniman seperti R.E. Hartanto, kesejajaran posisi drawing ini dengan medium seni yang lain, justru membuat drawing bisa dengan leluasa memanfaatkan beragam media untuk membangun apresiasi penikmatnya. “Menurut saya, drawing justru harus muncul di segala media dari tembok WC, blog, galeri sampai museum bergengsi yang penting kalau buat saya, karya itu bisa diapresiasi seluas mungkin,” tambah Tanto. (Tarlen Handayani)

Tulisan ini pernah dimuat di lembar Khazanah, Pikiran Rakyat, 15 April 2012

Kolase ‘Mbeling’ Ala Amenk


‘Gelora sanubari ini terpancar begitu bahagia tatkala cara ungkap si ayang tumpah ruah merona indah bersama hadiah jadian yang baru tiga bulan ini, memang cukup spesial dan begitu mewah kelihatannya tapi aku tidak begitu menginginkannya aku ingin cinta yang murni dari dia tanpa melihat dari fisik & materi aku mencintaimu apa adanya ayang, kawinilah diriku seperti kucing garong’

Barisan teks itu melengkapi gambar sepasang kekasih yang tengah memandang hadiah spesial: sebuah mobil bertuliskan ‘Aku Cinta Kamyu’. Mufti Priyanka menjuduli karya tersebut ‘Cinta yang Tipikal’, karya gambar akrilik di atas kanvas, tahun 2011. Sekilas, kesan picisan terasa kuat, namun jika di tilik lebih jauh ada sesuatu yang janggal, rasa ganjil dari perpaduan teks yang terpatah-patah dan gambar ilustratif ini. 

Gambar atas kebaikan Mufty Priyanka

Mufti Priyanka atau yang akrab di sapa Amenk, lahir di Bandung 5 Juli 1980. Tercatat sebagai alumnus Jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI angkatan 1998. Selama ini Amenk dikenal sebagai seniman yang konsisten menggeluti gambar sebagai pendekatan utama kekaryaannya dengan menggunakan tinta cina di atas kertas sebagai medium utamanya. Herry Sutresna atau yang lebih dikenal dengan nama Ucok Homicide, menyebut Amenk sebagai ‘korban penculikan alien yang barat-sentris.’ Dimana Amenk kadang-kadang bisa menyaru sebagai punk,  kadang-kadang hip-hop, namun seringkali metal dan bokep dengan semangat kampring yang kentara jelas. Sebuah gambaran yang cukup absurd.

Keabsurdan yang  nyata seperti dalam karya ‘Can’t Get Enough Annoying’, tinta cina di atas kertas, Amenk menggambarkan seorang anak punk dengan rompi berlambang ‘Anarki’, mencium tangan polisi bernama Sunyoto. Hal yang mungkin saja terjadi dalam dunia nyata, tapi sungguh janggal adanya jika sampai menyaksikannya.

“Tahun 2007 waktu boom lukisan, terus karya-karya seniman-seniman muda banyak di cari dan sold out, saya merasa kok gini-gini aja. Makanya saya coba melukis. Saya mah naïf aja, sebagai seniman ngora hayang sold out oge. Tapi trus muncul masukan dan kritik dari sahabat-sahabat saya.. ieu mah lain maneh menk..  dan itu bikin saya stress. Proses berkarya di kanvas itu tidak pernah terselesaikan, akhirnya saya balik lagi ke drawing,” Amenk mengungkapkan.

Sepintas gambar-gambarnya Amenk ini mengingatkan pada karya Raymond Pettibon, seniman Amerika yang juga kakak dari Greg Ginn mantan pentolan band punk berpengaruh, Black Flag. Ada kesamaan dari karya Pettibon dan Amenk dimana keduanya sama-sama komikal, subyeknya cukup mengganggu serta teks-teks yang ambigu. Amenk mengaku, Pettibon memberi pengaruh yang kuat dalam karyanya.

“Pettibon mempengaruhi saya karena kesamaan visi dan pendekatan, tapi karena Pettibon juga pelaku dalam komunitas punk, jadi narasinya beda karena dia seperti membuat pernyataan dari yang dia wakili. Kalau saya lebih mengadopsi. saya ga pernah sadar, saya berkarya untuk siapa, untuk publik mana, dan tidak terbebani oleh itu. sebenarnya kalau dibilang karya saya mewakili semangat zaman, saha oge nu diwakili, untuk zaman yang mana juga?  ada asumsi bahwa karya saya selalu ngepunk, saya kan lain budak punk dan karya saya juga ga selalu mengacu ke si punk itu sendiri.. “ jelas Amenk.

Gambar atas kebaikan Mufty Priyanka 

Selain Pettibon, secara visual Amenk juga banyak dipengaruhi oleh Winston Smith dan Frank Kozik. Pengaruh para seniman subkultur barat ini bercampur dengan kesukaannya pada komik-komik karya Tatang S., novel-novel picisan Nick Carter, Eni Erow, majalah Aktuil, juga hobinya terhadap barang-barang vintage, serta pergaulanannya dengan teman-teman berlatar belakang sastra Indonesia yang membawanya pada teks-teks ‘mbeling’ yang terpatah-patah. Ketika menemukan majalah komik foto copy-an ‘Daging Tumbuh’ buatan seniman asal Yogjakarta, Eko Nugroho, Amenk seperti menemukan tawaran lain dari jalan kekaryaannya yang selama ini dia cari. Semua itu bercampur menjadi satu, seperti potongan-potongan yang terpisah-pisah, namun ketika disusun dalam sebuah kolase, melahirkan karakter khas dari karya-karyanya

“Saya ada di dunia yang saya ciptakan saya sendiri, tapi saya juga suka ga sadar bahwa kondisi itu justru jadi kekuatan orang lain untuk menafsir karya saya. Saya mah irisan-irisan kecil dari pergesekan nilai-nilai kultur yang ada di kota bandung. Saya juga teu ngahaja-haja hayang di sebut siga kumaha..” tambah Amenk.

Kekonsistenan ini membuat perjalanan Amenk dalam perkembangan seni rupa di Bandung, menarik untuk di cermati. Di tengah lompatan-lompatan pilihan artistic dan medium yang banyak dilakukan oleh seniman-seniman seangkatannya, Amenk seperti ‘keukeuh’ (tapi santai) berjalan pada jalur yang ia yakini. Semangat ‘mbeling’ yang dibawa pada karya-karyanya justru membuat para penikmatannya bisa bebas berjumpalitan menafsirkan karyanya. Bahkan ketika karyanya dinikmati seringan menikmati komik picisan sekalipun, Amenk tidak berkeratan. “Pada akhirnya saya harus meyakini apa yang saya kerjakan ini harus sesuatu yang enjoi, buat saya juga buat yang menikmati.” (Tarlen Handayani)


Tulisan ini pernah dimuat di lembar Khazanah Pikiran Rakyat, Minggu, 15 April 2012

Hari ini, teman baikku, Amenk, sedang berduka. Ayahnya meninggal dunia. Semoga Amenk diberi ketabahan dan kekuatan untuk menghadapi kehilangan ini.. 

Monday, August 20, 2012

#MovieComment Detachment (2011): Renungan Seorang Guru Pengganti


* * * *
Sutradara: Tony Kaye

A child's intelligent heart can fathom the depth of many dark places, but can it fathom the delicate moment of its own detachment? -Henry Barthes-

Lima menit pertama menonton film ini komentar spontan yang muncul adalah film ini 'berat'. Dialog-dialognya sejak awal langsung mengajak penonton merenung, betapa  menjadi pendidik bukanlah hal mudah.

Friday, August 17, 2012

#30hari30film Buffalo 66 (1998): 'Selalu Tentang Vincent Gallo'


* * * * 
Sutradara: Vincent Gallo

Apapun yang diperankan oleh Vincent Gallo, selalu terasa mengganggu. Mengganggu bukan dalam arti nyesek karena keseluruhan film memberi dampak emosi yang sedemikan dalam setelah usai menonton, tapi mengganggu dalan arti karena sosok Vincent Gallonya sendiri juga secara penampilan dan gesture memang mengganggu. Kok, ada ya orang yang bisa seperti itu? Hingga seringkali, ceritanya biasa-biasa saja, tapi Vincent Gallo selalu berhasil membuatnya menjadi tidak biasa. 

Thursday, August 16, 2012

#30hari30film Lord of The Flies (1963)

* * * * 1/2
Sutradara: Peter Brook



Bayangkan 30 orang anak laki-laki, terdampar di sebuah pulau karena pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Tiga puluh orang anak ini mesti memikirkan cara bagaimana bertahan hidup dan mencari pertolongan. Sebuah film yang diangkat dari novel karya William Colding dan digarap oleh sutradara Peter Brook.

Saturday, July 28, 2012

#30hari30film Cerita Dari Tapal Batas (2011) Sebuah Upaya Mencari Batas Permasalahan Tapal Batas

Dokumenter. Sutradara: Wisnu Adi
* * *

Tidak banyak film dokumenter yang menceritakan tentang persoalan di perbatasan wilayah Indonesia dan Malaysia. Itu sebabnya film dokumenter yang mengangkat persoalan seperti ini tentunya sulit untuk menahan dorongan menceritakan banyak hal yang membuatnya kurang fokus dan kehilangan kekuatan untuk 'mengganggu' penontonnya.

Adalah Cerita Dari Tapal Batas garapan sutradara Wisnu Adi yang mencoba mengangkat beberapa persoalan di perbatasan Kalimantan dengan Malaysia. Ada tiga orang tokoh yang mewakili persoalan-persoalan di wilayah perbatasan ini. Masalah ketidakmerataan pendidikan di pedalaman menjadi problematika klasik yang dalam film ini disuarakan oleh Martini, guru SD yang telah mengajar selama 8 tahun di daerah Entikong. Dengan gaji yang tidak seberapa, Martini harus merangkap peran sebagai guru, kepala sekolah, petugas administrasi dan memegang beberapa kelas sekaligus. Penyebabnya, karena kurangnya tenaga pengajar di desa terluar dan terjauh di wilayah perbatasan ini. Bukan hanya Martini yang mengalami masalah sejenis, Kusnadi, petugas kesehatan pun demikian adanya. Gaji yang diberikan pemerintah setiap bulannya, tentu saja tidak sepadan jika di bandingkan dengan semangat pengabdian, beban dan cakupan kerjanya yang begitu luas dengan medan tempuh yang cukup berat. Sementara Ella, korban traffiking di Singkawang, hadir sebagai salah satu tokoh yang mewakili akibat dari ketidamerataan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan, perdagangan manusia menjadi tawaran untuk menyelesaikan persoalan itu. Ini sama artinya menyelesaikan masalah dengan masalah.

Pada kenyataannya, persoalan di perbatasan jauh lebih banyak daripada tiga persoalan yang diangkat di film ini. Tiga persoalan yang diangkat menurut Wisnu Adi di film ini  cukup menjadi tantangan bagi warga perbatasan untuk bertaruh dengan nasionalismenya, karena mencari penghidupan di negara tetangga, Malaysia lebih menjanjikan. Wisnu Adi berusaha menampilkan kontras ini dan menyatakan secara gamblang dalam narasinya bahwa ini semua adalah salah pemerintah.

Jika dokumenter ini dimaksudkan untuk memberi gambaran umum persoalan diperbatasan, kurasa film ini cukup berhasil. Namun, jika penonton menuntut (setidaknya aku) gambaran persoalan yang lebih mendalam, film ini menjadi gagal fokus. Ketika persoalan yang coba dihadirkan di film ini, sebenarnya cukup berat dan setiap masalah memiliki dimensi yang berbeda. Membuat masalah pendidikan, kesehatan dan perdagangan manusia berhadap-hadapan dalam satu film menurutku membuat argumentasi untuk menjelaskan sebab musabab persoalan menjadi kurang mendalam. Mungkin akan lebih kuat jika satu saja persoalan yang diambil, tapi dieksplorasi dengan lebih dalam.

Tapi aku bisa mengerti, godaan untuk menceritakan banyak persoalan di wilayah seperti Entikong pasti sangat kuat. Sutradara, penulis naskah dan juga produser mesti tega untuk memilah mana yang menjadi fokus. Misalnya, jika masalah pendidikan yang dipilih sebagai fokus, kurasa sosok Martini akan menjadi lebih kuat karena problematikanya bisa lebih tergambarkan dan tidak hanya sekedar terkatakan saja. Begitu pula jika memilih Kusnadi atau Ella sebagai tokoh.

Selain persoalan gagal fokus, ada hal lain yang bagiku cukup mengganggu yaitu teks yang dibacakan oleh narator. Dalam sebuah dokumenter, narasi yang mengantarkan atau menyambungkan persoalan itu menjadi penting. Narasi itu yang mewakili perspektif film maker terhadap persoalan yang dia angkat. Adakah perspektif baru dalam melihat persoalan yang semua orang secara umum telah mengetahuinya. Ataukah film maker hanya mengulang perspektif kebanyakan pihak? Dalam film ini, aku tidak melihat kebaruan dalam memandang persoalan-persoalan di perbatasan ini. Karena kesan yang aku peroleh setelah menontonnya, malah membuat aku berpikir: 'ya memang banyak persoalan di perbatasan, mau digimanain lagi?' seolah tidak ada jalan keluar dan akhirnya masalah diterima sebagaimana adanya.

Aku percaya bahwa sebuah dokumenter bisa disebut berhasil ketika ia bisa menemukan perspektif baru dan kreativitasnya dalam memandang persoalan sehingga penonton senantiasa menemukan aktualitas dari persoalan tersebut. Keberhasilan lebih jauh ketika dokumenter ini bisa menawarkan solusi atau setidaknya harapan yang bisa membuat penonton terbangkitkan kesadarannya untuk berpartisipasi menemukan solusinya. Ya, penonton tau bahwa persoalan-persoalan itu adalah bukti ketidakmampuan pemerintah untuk mengurus warganya, tapi apa yang bisa dilakukan warga yang lain yang berkelimpahan fasilitas dan akses untuk mengatasi kesenjangan tersebut. Memang dalam mengangkat permasalahan seperti ini ke dalam sebuah film dokumenter, cara pandang pembuatnya menjadi sangat menentukan, karena dialah yang membingkai kembali persoalan itu dengan maksud dan tujuannya masing-masing. Terlepas dari segala kekurangnya, upaya mengangkat persoalan di perbatasan  lewat dokumenter ini tetap patut diacungi jempol.

#30hari30film Pull My Daisy - Film 28 Minutes - 1959: Ketika Robert Frank & Alfred Leslie Menafsir Jack Kerouac

Sutradara Robert Frank & Alfred Leslie
Story by Jack Kerouac
Lyrics by Jack Kerouac & Allen Ginsberg
* * * *

Koleksi film sahabatku ini: bu Tita & Pak Agus, selalu membuatku girang gemirang. Salah satu yang terbaru yang kutemukan selama di Yogja adalah film ini. Film pendek berdurasi 28 menit dengan narasi ditulis dan di bacakan oleh Jack Kerouac dan filmnya sendiri digarap oleh Robert Frank dan Alfred Leslie. Mereka semua adalah seniman-seniman di masa beat generation. 

Pull My Daisy merupakan naskah drama Jack Kerouac yang tak pernah di pentaskan. Di ambil dengan menggunakan kamera 16mm, hitam putih di loft studio milik pelukis Alfred Leslie, 4th Avenue, Manhattan, New York City.  Proses penggambilan gambarnya sendiri dimulai sejak bulan Januari 1959 sampai April 1959. Hanya satu orang aktris profesional yang terlibat dalam proyek film pendek ini. Sisanya, aktor dan aktris yang bermain adalah teman-teman sendiri, hanya dengan menggunakan satu kamera dan satu lampu saja. Meski begitu, tidak ada yang tidak dibayar kecuali Frank dan Leslie. Untuk membuat film ini mereka menghabiskan dana $15.000.  Meski semangat dari beat generation adalah spontanitas dalam berkarya, meski durasinya pendek saja, Frank dan Leslie mengaku mereka merencanakan film ini dengan sangat matang.

Filmnya sendiri berkisah tentang  penyair Allen Ginsberg, Peter Orlovsky dan Gregory Corso  ketiganya berperan sebagai diri sendiri juga seniman Larry Rivers (berperan sebagai Milo), Alice Neel (sebagai ibu bishop), musisi David Amram, Richard Bellamy (sebagai Bishop), Delphine Seyrig (istri Milo), Sally Gross (saudara perempuan bishop juga Pablo Frank (anak Robert Frank yang berperan sebagai anak dari pasangan Milo dan istrinya). Semua tokohnya berkumpul dalam sebuah acara makan malam yang digagas oleh istri Milo dengan Bishop sebagai tamu istimewa, dimana sang Bishop menceritakan tentang jalan kereta api brakeman. 

Semua tokohnya tidak ada yang berbicara secara langsung, karena Jack Kerouac berperan sebagai 'dalang' yang menuturkan kisahnya dari awal sampai akhir dengan gambar hitam putih dan gerakan mulut tokoh-tokohnya sesuai dengan apa yang dinarasikan Kerouac. Film ini menjadi komentar bagi berbagai persoalan seperti golongan konservatif Amerika, protes terhadap industrialisasi, masalah pendidikan, anti semit, seksualitas dan pembagian peran berdasarkan gender, agama dan juga patriotisme. Itu sebabnya dilm ini oleh Libary of Congress pada tahun 1996, masuk dalam kategori koleksi "budaya, sejarah atau kategori seni yang cukup penting". 

Ketertarikanku pada karya beat generation dan karena aku menyukai 'On The Road'nya Jack Kerouac, film ini menjadi penting untuk menangkap semangat beat generation lewat film yang dibuat langsung oleh mereka. Tentu saja akan sangat berbeda ketika mencoba menangkap semangat itu, lewat penafsiran generasi sesudahnya. Termasuk juga bagaimana bee boob jazz menjadi ciri musikalitas yang menonjol dari generasi ini. Aku sendiri masih mencerna  soal semangat dari karya-karya beat generation ini, sedang mencoba mencerna karya-karya dari seniman di generasi ini selain Jack Kerouac tentunya. 

Pull My Daisy
Tip My Cup
All My Doors are open
Cut my thoughts for coconuts
All my eggs are broken


Hop my heart song
Harp my height
Seraphs hold me steady
Hip my angel
Hype my light
Lay it on the needy


Pull My Daisy
Lyrics by Jack Kerouac and Allen Ginsberg
Music by David Amram
Singer: Anita Ellis

Thursday, July 26, 2012

#30hari30film Shame (2011) "We're Not Bad People. We Just Come From a Bad Place"


Sutradara: Steve McQueen
* * * *

Pertama-tama perlu kukatakan bahwa film ini buatku termasuk dalam kategori film yang menimbulkan efek samping: gangguan perasaan sesudah menontonnya. Bukan semata-mata karena Michael Fassbender menjadi pecandu seks di film ini yang membuat dia tampil full frontal nude, tapi juga karena keseluruhan filmnya memang berhasil mengganggu.

Berkisah tentang Brandon (Michael Fassbender), lelaki tiga puluhan, New Yorker kelas menengah  yang sukses, dengan pekerjaan mapan, apartemen di daerah upper west side, ganteng, charming dan selalu dengan mudah memikat hati perempuan. Nyaris sempurna. Kecuali satu hal bahwa ia kecanduan seks. Bisa di manapun, kapanpun dan dengan siapapun bahkan dengan dirinya sendiri. Sampai-sampai komputer di tempat kerjanya, berkali-kali harus dibersihkan dari serangan virus ganas akibat terlalu sering mengakses situs-situs dan layanan porno via online. Tapi jangan buru-buru mengira ini film semata-mata tentang seks. Bukan itu. Setiap adegan seks di film ini justru menjadi gambaran tragedi yang dialami tokohnya. Selain itu, film ini juga menggambarkan bagaimana kakak beradik berusaha mengatasi kepahitan masa lalu mereka dengan cara dan kerapuhannya masing-masing.

Steve McQueen sutradara asal Inggris ini,  menggambarkan kekosongan tokohnya dengan sangat baik. Perjalanan Brandon di atas subway, malam hari setelah petualangan seksnya. Perjumpaan Brandon dengan wajah-wajah keseharian, mempertegas kehampaannya di tengah keramaian sekelilingnya.
Juga ketika berada di dalam apartemennya yang begitu 'clean' dan malam-malam yang Brandon habiskan untuk menikmati situs porno atau memuaskan dirinya sendiri.

Mengingatkanku pada rasa kesepian yang pernah sekali dua kali mampir saat merasakan tinggal di tengah hingar bingar New York yang tidak pernah tidur. Sampai-sampai temanku yang tinggal lama di kota ini berseloroh: 'Kamu bisa menemukan hiburan apapun di kota ini, tapi dengan mudah kota ini membuatmu merasa kesepian.Ya, aku menemukan secuplik rasa yang sama itu pada tokoh Brandon.

McQueen menggambarkannya  New York yang gelap, riuh sekaligus hampa dengan visual yang cukup puitik. Sehingga semua adegan seks dengan perempuan-perempuan yang muncul sepintas lalu di film ini menjadi representasi kekosongan atas kepuasan yang selama ini Brandon cari, namun tak pernah berhasil ia temukan. Juga bagaimana McQueen menampilkan kesunyian Brandon dari gambar-gambar ketika Brandon membelakangi kamera atau tercenung dalam ruangan-ruangan sepi dan sendiri.

Kehadiran Sissy (Carey Mulligan), adik perempuan Brandon yang begitu labil, mengarahkan cerita pada kenyataan bahwa dua orang kakak beradik ini memiliki kekosongan yang sama dan mereka isi dengan cara berbeda. Adegan ketika Sissy menyanyikan lagu New York New York di sebuah klab tempat ia bekerja, begitu syahdu dan terdengar getir. Hubungan emosional kakak dan adik digambarkan dengan sangat kuat di adegan ini, saat Brandon meneteskan air mata mendengarkan adiknya menyanyi. Mereka seperti sedang merasakan kepedihan dan kekosongan yang sama yang selama ini mereka sangkal.

Sissy mewakili perempuan yang sangat ingin di cintai dan bergantung secara emosional pada pasangannya. Ia akan memohon-mohon untuk kembali ketika pasangannya meninggalnya. Sementara Brandon, justru sangat anti pada hubungan. Justru saat ia menemukan perempuan yang ingin serius berhubungan dengannya, Brandon malah tidak bisa bercinta dengannya. Bagi Brandon, seks tidak lagi terasa sebagai upaya menemukan keterhubungan yang intim, tapi seks justru candu yang melumpuhkannya untuk bisa menemukan keterhubungan emosi yang sublim.

McQueen memilih untuk tidak cerewet dan gamblang dalam menceritakan asal-usul persoalan tokoh-tokohnya. Yang ia ceritakan adalah Brandon dan Sissy pada saat ini. Masa lalu mereka hanya cukup dijelaskan dengan satu kalimat yang diucapkan Sissy di mesin perekam pesan di apartemen Brandon: "We're not bad people. We just come from a bad place." Menurutku kalimat itu cukup kuat untuk menjelaskan semuanya, selebihnya ekspresi kekosongan yang mereka alamilah yang menjelaskan seberapa buruk tempat mereka berasal hingga menimbulkan kehampaan jiwa sebesar itu. Penonton bisa mengira-ngiranya sendiri.

McQueen membawa pada pemahaman bagaimana laki-laki lebih cenderung menelan sendiri kepahitan-kepahitan dalam hidupnya dan mencoba menaklukkan kepedihannya dengan menjadikan seks dengan sebanyak mungkin perempuan sebagai upaya penaklukan itu. Meski dalam karakter Brandon, semakin berupaya menaklukkan, semakin besar kekosongan dan kepedihan itu. Fassbender dengan sangat baik mengekpresikan kepedihan itu pada saat seks mencapai klimaksnya. Bagiku, seluruh adegan seks yang dilakukan Brandon seperti adegan pemerkosaan. Brandon diperkosa oleh candu rasa hampa yang tidak pernah membuatnya menemukan pengisi kekosongan itu. Untuk aktingnya di film ini, Fassbender mendapatkan banyak nominasi di berbagai festival termasuk  sebagai aktor terbaik Golden Globe Award 2012. Serta mendapatkan banyak pujian dari para kritikus.

Sementara lewat Sissy, McQueen mencoba menggambarkan bagaimana perempuan cenderung menyakiti dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri atas kepedihan yang tidak pernah ia inginkan, lewat percobaan-percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Kemudian hubungan mereka sebagai kakak adik dengan kepahitan yang sama  di masa lalu, berusaha membereskannya dengan cara masing-masing, karena si kakak menolak untuk berengkuhan dan menyelesaikan kepahitan itu bersama-sama.

Kurasa, dialog ini antara Sissy dan Brandon dalam film ini mencerminkan betapa rapuhnya dua orang kakak beradik ini, mereka seperti korban kapal karam, terapung-apung di lautan. Berusaha saling menolong dalam ketakutan dan keputusasaan.

Sissy: I'm trying, I'm trying to help you.
Brandon: How are you helping me, huh? How are you helping me? How are you helping me? Huh? Look at me. You come in here and you're a weight on me. Do you understand me? You're a burden. You're just dragging me down. How are you helping me? You can't even clean up after yourself. Stop playing the victim.
Sissy:  I'm not playing the victim. If I left, I would never hear from you again. Don't you think that's sad? Don't you think that's sad? You're my brother. 

Sampai akhir film, McQueen tidak berusaha menyimpulkan apa-apa  dan memutuskan apapun dengan tokoh-tokohnya. Ia seperti menyajikan sepenggal kisah kehidupan Brandon dan Sissy tanpa perlu menambahkan prolog dan epilog.

Yang aku sukai dari film-film dengan cerita seperti ini, apalagi ketika sutradaranya sangat paham apa dan bagaimana mengisahkannya juga ketika aktor-aktornya sangat mengerti bagaimana memerankannya, adalah  penonton bisa mendapatkan referensi perasaan yang tidak ia dapatkan dari pengalaman hidupnya sehari-hari. Bahwa ada berbagai macam kekosongan dan ada berbagai cara untuk mengisinya, dari yang paling positif sampai paling negatif sekalipun. Film seperti ini menjadi semacam referensi tentang perbendaharaan perasaan manusia yang berjuta-juta ragam dan rasa itu. Dan biasanya sutradara yang berhasil menurutku, adalah yang bisa menghadirkan perbendaharaan itu dengan cara yang manusiawi, wajar, tidak melebih-lebihkan dan menyerahkan kesimpulan pada pemahaman penonton. Kurasa, Steve McQueen lewat film ini, termasuk sutradara yang berhasil menambah perbendaharaan itu.



#30hari30film Salmon Fishing in The Yemen (2011) Diplomasi Ikan Salmon Ala Hallstorm


Sutradara: Lasse Hallstrom
* * *

Ini film yang cukup menarik dan mudah dinikmati. Seperti halnya film-film Lasse Hallstrom yang lain (Chocolate, My Life as a Dog, What's Eating Gilbert Grapes, Dear John, Cider House Rule). Formula dramanya masih sama seperti film-filmnya yang lain. Yang membuatnya berbeda adalah variasi cerita yang ia pilih. Kali ini, Hallstrom memilih diplomasi ikan salmon sebagai latar belakang cerita yang menjadi pondasi konflik tokoh-tokohnya. Ewan McGregor dan Emily Blunt menjadi tokoh utamanya.

Ewan McGregor yang berperan sebagai Dr. Alfred Jones ahli perikanan, tiba-tiba dihubungi oleh Harriet (Emily Blunt) yang bekerja untuk Sheik Muhammed (Amr Waked). Harriet mengatakan dalam emailnya bahwa Sheik ingin mengembangkan ikan ikan salmon di Yaman dan ia membutuhkan ahli perikanan seperti Jones. Semula Jones menganggap ide Sheik ini tidak masuk akal, bagaimana mungkin ikan salmon bisa hidup di cuaca panas seperti Yaman. Jones menolak mentah-mentah gagasan itu. Sampai pemeberitaan mengabarkan pecah perang di Afganistan. Pemerintah Inggris perlu berita positif untuk menjaga kepentingan mereka di negara-negara Timur Tengah. Patricia Maxwell ( Kristin Scott Thomas), sekretaris Pedana Mentri Inggris urusan media, menemukan tawaran Sheik Muhammed soal 'Salmon Fishing in The Yemen'. Maxwell menganggap tawaran dari Sheik akan menjadi kerjasama yang baik antara Inggris dan Yaman untuk membangun berita positif antara kedua negara. PM Inggris menyetujui bahwa Inggris harus membantu Sheik Muhammed mewujudkan proyek salmonnya itu.

Maka Jones yang bekerja di Departemen Perikanan Inggris, dipaksa untuk mengepalai proyek ini. Jones pun menerimanya dengan terpaksa karena ia dibayar dua kali lipat dari pendapatannya selama ini untuk mengerjakan proyek ini. Di sisi lain, Jones sendiri sedang mengalami krisis dalam rumah tangganya, istrinya, Marry (Rachel Striling) menganggap apa yang dikerjakan Jones, sesuatu yang tidak ada gunanya dan tidak cukup menghasilkan. Di sisi lain, Harriet yang baru berpacaran tiga minggu dengan kekasihnya Robert (Tom Mison), harus menghadapi kenyataan bahwa kekasihnya harus pergi meninggalkannya karena panggilan tugas sebagai tentara ke Afganistan.

Proyek salmon ini yang kemudian mendekatkan Jones dan Harriet dengan Sheik sebagai pihak yang menjaga mereka berdua. Sheik mengajarkan tentang cita-cita harapan yang menurut orang lain tidak mungkin itu, mesti diimani, diyakini, karena dengan begitu cita-cita dan harapan akan menemukan kekuatan untuk menjadi kenyataan.

***

Hallstrom di film ini menggambarkan Sheik Muhammed sebagai sosok yang optimis dengan cita-cita dan harapannya. Seolah Hallstrom ingin mengubah imej tokoh arab dalam film hollywood yang biasanya antagonis dan teroris menjadi sebaliknya. Pandangan terhadap sosok arab di film ini menjadi lebih positif dan bukan objek bulan-bulanan. Justru arab dan barat bisa saling melengkapi (seperti itu pesan moral yang dibawa Hallstrom lewat film ini). Karena ini drama yang cukup mudah dinikmati, Ewan McGregor tidak menampilkan kemampuan maksimalnya dalam berakting (jika di bandingkan Young Adam atau Transpotting), begitu juga dengan Emily Blunt, tapi keduanya punya chemistry yang membuat film ini menurutku enak untuk dinikmati dan ga menimbulkan 'efek samping' (misalnya perasaan sesak atau nyeri sesudahnya). Film ini menurutku sejenis film drama yang begitu selesai ya sudah. Tidak terlalu meninggalkan kesan mendalam. Menghiburlah. Buat yang ingin nonton dan ga ingin terlalu mikir tapi juga ga mau nonton film yang terlalu cetek, menurutku film ini bisa jadi pilihan yang pas.

Wednesday, July 25, 2012

#30hari30film Food, Inc (2008) Ketika Ketahanan Pangan Diruntuhkan Kerakusan Industri


Dokumenter. Sutradara: Robert Kenner 
* * * * 1/2

Film ini sengaja kupilih, relevan dengan isu kelangkaan kedelai yang membuat para pengusaha tahu dan tempe menghentikan produksinya. Selama ini Indonesia bergantung pada impor kedelai dari Amerika. Ketika Amerika mengalami gagal panen kedelai akibat kekeringan, bukan hanya masyakarat Amerika yang merasakan akibatnya, tapi rakyat Indonesia yang pun merasakan akibatnya. 

Film besutan Robert Kenner ini didasarkan pada laporan investigasi Eric Schllosser, penulis buku Fast Food Nation, dan menjelaskan bagaimana industrialisasi pangan menciptakan ketergantungan pangan pada perusahaan multinasional dan melumpuhkan ketahanan pangan global.  

Industrialisasi pangan dimulai sejak tahun 1930 ketika Amerika memperkenalkan makanan cepat saji. Saat itu Mc Donald memperkenalkan restoran Drive-in dan membawa fabrikasi makanan di dapur mereka.  Mental keseragaman dan harga murah di perkenalkan dalam pola makan baru yang dibawa oleh industri ini. 

Seiring berkembangnya industri makanan cepat saji, Mc D menjadi  pembeli terbesar ayam, babi, sapi, kentang, selad, tomat, di dunia. Kebutuhan ini membuka peluang bagi perusahaan penyedia daging. Pada tahun 1970 lima perusahaan daging sapi kemasan, mengontrol 25% dari pasar keseluruhan, sekarang empat perusahaan besar mengontrol 80% dari pasar keseluruhan. Bukan hanya dominasi pasar yang berubah, namun cara memproduksi makanan tersebut juga berubah.   

Tyson, misalnya, perusahaan pengepakan makanan terbesar di dunia. Industri ini mengubah bagaimana ayam di kembangkan. Bandingkan pada tahun 1950  dibutuhkan  70 hari untuk mengembangkan ayam sehingga siap potong, tahun 2008, hanya 48 hari saja sampai ayam siap untuk di potong. Dan lebih dari itu, perusahaan ini mendesain ulang ayam, sehingga menghasilkan daging dada yang lebih besar dibandingkan dengan ayam yang tumbuh secara alami. 

Nilai ekonomi yang luar biasa besar dalam industri pangan ini, membuat kuantitas produksi menjadi prioritas, tak peduli apakah makanan yang dihasilkan 'layak makan' atau tidak. Industri ini juga mengubah pola hubungan kemitraan dengan para peternak yang menjadi pemasok komoditas mereka. Perusahaan kemudian menciptakan ketergantungan dan sistem monopoli untuk bisa mengontrol para peternak dengan memberikan hutang bantuan modal. Petani/peternak akhirnya menjadi budak perusahaan. 

Faktanya  rata-rata setiap orang Amerika memakan 200 pound (atau 100kg) daging per tahun dan itu tidak mungkin bisa dipenuhi jika ternak tidak diberi pakan yang murah dan membuat ternak bisa lebih cepat di panen.

Dari penjelasan Michael Pollan penulis buku The Omnivore's Dilemma Secara alami sapi tidak diciptakan untuk memakan jagung. Sapi adalah pemakan rumput.Salah satu alasan kenapa mereka diberi makan jagung, karena jagung lebih murah dari rumput dan jagung dapat membuat sapi tumbuh dengan cepat dengan lemak yang lebih banyak. Meski konsekuensinya pertumbuhan bakteri e-coli bermutasi dalam tubuh sapi tumbuh lebih pesat dan kasus keracunana makanan karena bakteri e-coli menjadi kasus yang semakin banyak di jumpai dan tak jarang merenggut jiwa.

Makanan menjadi persoalan bagaimana para saintis merekayasa dan menemukan rasa yang mirip dengan makanan aslinya. Dan Larry Johnson dari Center for Crops Utilization Research IOWA State University menyatakan bahwa pada saat ini hampir 90% makanan kemasan yang ada di supermarket mengandung jagung dan kedelai. jagung menajdi bahan dasar dari berbagai jenis makanan: saus, keju, krim, batere (!!), selai kacang, saus salad, coca cola, krim keju, jeli, gula rendah kalori, sirup, jus, pampers, fast food. dan tak ketinggalan bahwa jagung adalah bahan utama untuk pakan ternak. 

Industri pangan ini selalu berusaha menemukan cara untuk lebih efisien, namun setiap langkah efisiensi yang mereka tempuh, selalu membawa masalah baru. Misalnya sapi yang selama ini digemukkan dengan pakan jagung, kemudian ternak ini melakukan diet jagung dan diberi makan rumput selama 5 hari, maka ternak-ternak ini akan menumpahkan 80% dari bakteri E-coli di dalam usus mereka. Alih-alih industri melakukan upaya alamiah untuk meningkatkan kualitas daging sapi, mereka justru memilih melakukan pendekatan yang lebih sistematis dengan pendekatan teknologi dengan mencampurkan amoniak dan amoniak hidroksida untuk membunuh bakteri e-coli dengan cara mencampurkannya ke dalam daging yang sudah di potong. 

Fakta lain yang dihadapi oleh negara maju: Banyak warga di negara maju, seperti Maria Gonzales tidak lagi memikirkan apakah makanan yang mereka makan sehat atau tidak. Mereka lebih memilih makananan cepat saji daripada memasak sendiri makanan yang mereka makan karena persoalan waktu, karena bagi warga imigran seperti Maria Gonzales, waktu adalah uang. Selain itu, harga makanan kemasan yang jauh lebih murah daripada makanan segar, membuat pola makan kebanyakan orang berubah dan menciptakan ketergantungan lebih besar pada makanan siap saji yang telah di rekayasa. Itu pula sebabnya 1 dari 3 orang anak amerika yang lahir setelah tahun 2000 berpotensi mengidap diabetes. 

Kerita NAFTA membuat hampir sejuta petani jagung di Meksiko kehilangan mata pencahariannya karena jagung yang mereka hasilkan tidak dapat bersaing dengan jagung murah dari amerika. Para petani yang kehilangan pekerjaan ini terpaksa menjadi imigran gelap dan di rekrut oleh perusahaan pengolahan dan pengepakan daging di amrika dengan upah yang murah. Pemerintah amerika selama bertahun-tahun tutup mata terhadap persoalan para imigran gelap yang bekerja di perusahaan pengolahan daging itu. Mereka bahkan membuat kesepakatan untuk merazia dan menangkap 15 orang imigran gelap per hari, karena itu tidak akan mempengaruhi produktivitas perusahaan2 itu. Pemerintah sendiri enggan menindak perusahaan dan lebih memilih menekan para pekerja gelap itu. 

Tahun 1980 Mahkamah Agung Amerika membuat UU tentang paten terhadap mahluk hidup dan UU ini memberi peluang untuk mempatenkan berbagai jenis tanamanan sebagai sumber pangan.  Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh Monsanto Corporation, sebuah perusahaan kimia yang memproduksi DDT, Agent orange zat kimia yang dipakai untuk membunuh di Vietnam, dan mereka mengembangkan produk yang mereka sebut sebagai "Round Up",  zat yang digunakan untuk menyemprot bibit kedelai tahan hama. 

Tahun 1996, Monsanto mulai memasarkan bibit kedelai Roundup ini dan hanya 2% dari kedelai yang ditanam menggunakan paten yang diproduksi oleh Monsanto ini. Pada perkembangannya tahun 2008, lebih dari 90% kedelai yang ditanam di Amerika menggunakan bibit yang telah dipatenkan oleh Monsanto. Sekarang setiap petani kedelai dilarang menggunakan  bibit mereka sendiri, karena jika hal itu sampai terjadi, orang-orang dari Monsanto akan mendatangi dan mengintimidasi petani. Petani mau tidak mau harus menggunakan bibit yang telah di patenkan oleh Monsanto, jika ada yang melanggar, petani dapat dikenai tuduhan pelanggaran paten. Monsanto mengontrol para petani untuk memproduksi bibit kedelai mereka sendiri. 

Pollan mengatakan apa yang dilakukan oleh Monsanto persis seperti yang dilakukan Microsoft dalam soal hak kekayaan intelektual. Dan kini di Amerika hampir tidak ada lagi yang disebut dengan bibit milik publik, semua telah di patenkan dan petani harus tunduk terhadap paten tersebut. Monsanto mengontrol produksi kedelai dari benih sampai ke supermarket. 


Bukan hanya kontrol terhadap para petani, Monsanto juga menempatkan orang-orangnya dalam posisi penting pemerintahan amerika. Sebut saja Clarence Thomas, ketika MA yang menjabat sejak tahun 1991, sebelumnya dia adalah pengacara perusahanan untuk Monsanto, Dia lah yang mengambil keputusan penting tentang aturan perundang-undangan pengaturan benih dalam pertanian di Amerika. Dia punya peranan penting dalam pelarangan petani Amerika memiliki tabungan benihnya sendiri. Selain itu, orang-orang Monsanto sangat dekat dengan sistem administrasi pemerintahan Amerika sejak 25 tahun terakhir. Para penguasa ini dengan kekuasaannya justru menentang dan menekan petani, buruh dan menjadi bagian dari konspirasi untuk menyembunyikan kenyataan sesungguhnya tentang industri makanan. 

Efisiensi lewat jumlah varietas tanaman yang terbatas (hanya bibit yang telah terbukti produktivitas tinggi saja yang dikembangkan), penguasaan hak oleh sedikit perusahaan, bukannya tanpa resiko, sistem kontrol yang memberi hak istimewa pada segelintir orang  ini justru sangat riskan terhadap setiap guncangan yang ada. Tanpa di sadari, industri pangan ini memiliki ketergantungan yang sangat besar pada minyak bumi, karena seluruh mesin produksinya dijalankan dengan menggunakan bahan bakar minyak. Otomatis,guncangan harga minyak bumi di pasaran dunia dapat mempengaruhi stabilitas industri pangan.

Monopolistik industri pangan multinasional ini, tidak hanya menciptakan ketergantungan di negara tempat industri ini berada: Amerika, tapi juga menciptakan ketergantungan pangan dunia pada pada industri ini. Ketahanan pangan dunia sangat dipengaruhi oleh stabilitas industri pangan multinasional ini. Sifatnya yang monopolistik dengan didukung oleh regulasi dan UU Amerika yang ekspansif ke seluruh dunia, justru merusak kemampuan setiap negara untuk membangun sendiri ketahanan pangan mereka. 

Indonesia adalah contoh kongkrit. Selain pemerintahnya yang disetir oleh kekuatan modal asing, membuat Indonesia yang kaya dengan keragaman pangan terpaksa harus menurut pada sistem penyeragaman industri pangan multinasional ini. 

Di akhir film, justru Kenner memberikan tawaran jalan keluar yang siapapun bisa melakukannya: Pemberdayaan konsumen. Semua hegemoni industri pangan ini akan terpatahkan jika konsumennya sadar dan menuntut industri jujur terhadap produk makanan yang mereka sajikan. Karena industrialisasi panganlah yang menyebabkan manusia kehilangan hubungan yang paling sublim: pengetahuan tentang asal usul makanan yang kita makan selama ini. 

Di Amerika, jalan tengah yang dilakukan oleh sebagaian kelompok yang mempedulikan soal kualitas makanan ini adalah dengan membangun industri tandingan: makanan organik dan mendistribusikan pilihan tersebut melalui Wall Mart. Konsumen kemudian diberi pilihan, meski harus mengeluarkan biaya ekstra. Bagaimanapun juga jika kita mau jujur, makanan murah yang kita makan selama ini, tidaklah semurah yang di bayangkan jika kita tambahkan biaya lingkungan, biaya kesehatan.Saat ini sangat sulit untuk bilang bahwa makanan yang benar-benar sehat itu bisa kita beli dengan harga yang murah. 

Bagaimana dengan di Indonesia? sebuah negeri yang sangat kaya dengan keragaman hayati dan berbagai macam varietas tanaman pangan? Pemahaman yang kuperoleh ketika menonton film ini untuk kesekian kalinya adalah pangan adalah masalah identitas. You are what you eat. Ketika kita lebih memilih produk-produk organik impor sebagai jaminan makanan sehat daripada produk lokal yang ditumbuhkan oleh petani lokal, berarti ada persoalan dengan cara kita mendefinisikan diri. Pilihan kita terhadap makanan, juga adalah pilihan atas keberpihakan kita. Sebelum berkoar-koar dan protes tentang betapa impotennya pemerintah kita dalam membangun ketahanan pangan, mari kita cek dulu pilihan-pilihan kita dan bagaimana kita mendefinisikan diri kita sendiri lewat makanan yang kita makan. 



LinkWithin

Related Posts with Thumbnails