Saturday, October 29, 2011

Menjadi Kecil Itu Pilihan


Tobucil jepretan Chandra Mirtamiharja
Aku sering sekali di tanya, apakah suatu hari nanti tobucil akan menjadi tobusar alias toko buku besar? meski seringnya kujawab sambil bercanda, tapi aku serius ketika bilang, tobucil akan tetap menjadi tobucil. Karena tobucil tetap memilih menjadi kecil. Sebagaian yang mendengar jawabanku bisa menerima meski mungkin ga ngerti-ngerti amat dengan maksudku 'tetap menjadi kecil' , tapi sebagian lagi biasanya langsung protes dan merasa aneh dan menganggapku tidak punya cita-cita besar dan tidak mau mengambil resiko menjadi besar. Biasanya aku akan balik berkata pada mereka yang merasa aneh itu, 'memilih tetap kecil itu bukan pilihan yang mudah loh.'

Mungkin ada teman-teman yang kemudian bertanya, 'mengapa menjadi kecil itu bukan pilihan yang mudah?' bukankan kecil  itu sepele, remeh dan sederhana? Ketika memulai sebuah usaha dari hal yang kecil, remeh dan sederhana, itu menjadi hal yang mudah dilakukan. Namun jika sebuah usaha sudah berlangsung sepuluh tahun dan tetap memilih jadi kecil, hal ini tidak lagi jadi pilihan yang mudah.

Dalam menjalankan usaha, waktu akan membawa kita pada masa pertumbuhan dan tempaan. Tahun-tahun pertama (tobucil dua tahun pertama) adalah masa bulan madu, dimana semangat masih menggebu-gebu, energi masih melimpah ruah, kesulitan dan masalah belum menjadi hantaman berarti, kerjasama masih terasa manis dan romantis. Ketika masa bulan madu berakhir, masa tempaanpun dimulai. Usaha yang kita bangun seperti dipaksa masuk ke dalam kawah candradimuka. Kongsi yang bubarlah, modal habis keuntungan belum juga nampak, mulai bosan karena usaha seperti jalan di tempat, tuntutan kebutuhan pragmatis (apalagi bagi yang sudah berkeluarga), jika tak tahan dengan tempaannya, ya kelaut aja. Usaha bubar jalan dan mungkin malah bikin kapok seumur-umur. Sementara jika berhasil menjalani semua tempaan itu, usaha kita akan naik tingkat. Kita akan menemukan formula untuk bertahan hidup dan bukan hanya itu saja, pintu-pintu menuju kesempatan yang lebih besar tiba-tiba terbuka lebar. Tiba-tiba segalanya jadi mudah, segalanya jadi mungkin dan kita merasa mampu menjalankan segalanya (padahal baru lulus tingkat satu doang). Seperti anak yang baru duduk di bangku kuliah dan merasa tahu banyak hal. Cobaannya bukan lagi hal-hal yang sulit, tapi cobaan datang dalam bentuk tawaran-tawaran yang menggiurkan.

Dari pengalaman menjalankan tobucil ini adalah fase yang justru sangat berbahaya. kalau tidak hati-hati dalam memilih dan mengambil kesempatan, resikonya adalah kehilangan fokus. Semangat yang muncul biasanya adalah semangat aji mumpung: 'mumpung ada kesempatan bla bla bla..' Kesalahan yang seringkali dilakukan pada fase ini adalah kita seringkali lupa mengukur diri. Seperti orang yang puasa hanya menahan lapar dan haus. Ketika waktu berbuka puasa tiba, segala makanan dan minuman yang ada masuk mulut. Akibatnya kekenyangan dan malah sakit perut. Kita yang baru menapaki anak tangga kedua, seringkali ingin buru-buru loncat lima anak tangga sekaligus, tanpa menyadari bahwa langkah yang paling lebar yang bisa kita lakukan hanya untuk melewati dua anak tangga sekaligus, bukan lima.

Dalam hal ini, aku termasuk yang percaya apa yang diperoleh dengan cara cepat, akan mudah lepas atau hilang, tapi apa yang diperoleh dengan susah payah, akan tahan lebih lama. Pada titik ini, sebenarnya kita akan dihadapkan pada pilihan menjadi besar dengan segera (besar secara revolusioner) atau menjadi besar sesuai dengan kecepatan alami  (evolutif)? Dua-duanya mengandung resiko. Ketika memilih menjadi cepat dengan segera, banyak hal dalam diri kita harus mengalami revolusi, termasuk orang-orang yang mendukung usaha kita. Pertanyaannya: sanggupkah kita? sanggupkah mereka? apa dampaknya jika revolusi itu harus terjadi? Dalam menjalankan usaha, tidak semua hal bisa dijawab dengan hitung-hitungan matematis. Intuisi dan kata hati tidak dapat diabaikan begitu saja. Pertanyaan-pertanyaan tadi bisa mendapat jawaban yang akurat, jika kita mau jujur mendengarkan intuisi yang didukung oleh perhitungan matematis. Bahkan kamu  yang terlahir dengan bakat petaruh handal sekalipun, pasti akan mengikuti intuisi dan perhitungan untuk menggandakan taruhan terbesar yang kamu mampu. Ini yang disebut dengan mengukur resiko. Kalau kamu dengan jujur dan yakin, sanggup menanggung resiko yang paling besar, maka jangan ragu memilih jalan menjadi besar secara revolusioner.

Menjadi besar secara revolusioner ini, bukan hanya persoalan resiko saja yang perlu kamu hitung, tapi juga persoalan percepatan sesudahnya. Maksudku, jika kamu yang biasanya mengerjakan pekerjaan dengan skala 1sampai dengan 10, lalu kamu secara revolusioner meningkatkan kapasitasmu menjadi 10.000 sampai 100.000 itu artinya kamu akan sulit untuk kembali lagi pada skala 1 sampai 10. Pada level berikutnya, kamu harus bertahan pada skala 10.000 sampai 100.000 atau menaikkannya menjadi 1.000.000. Semakin besar skalanya, semakin besar pula bebannya. Jika usahamu berdasarkan passion, biasanya pilihan ini membuatmu kewalahan menjaga passion. Target kuantitas menjadi lebih penting daripada persoalan passion dalam kualitas. Sejauhmana kamu sanggup memikulnya? Ini bukan persoalan takut atau tidaknya mengambil resiko, tapi kemampuan kamu untuk menghitung resiko mejadi penting. Aku inget omongannya Bucek Depp, sebagai orang yang menggemari olah raga ekstrem, Bucek pernah bilang bahwa seorang petualang itu harus mengenal rasa takut, biar dia bisa mengenali batas kemampuan maksimalnya. Seorang petualang yang tak mengenal rasa takut itu justru berbahaya, buat dirinya sendiri maupun orang lain, karena ga punya kendali.

Bagaimana halnya dengan menjadi besar dengan kecepatan alami (evolutif)? Biasanya ini berlaku bagi orang yang menjalankan usaha dengan mempertahankan kecepatan yang konstan karena takut passionnya tak terjaga, seperti menapaki anak tangga satu demi satu untuk sampai di atas. Sabar adalah kuncinya. Di satu sisi, akan memakan waktu yang lebih lama untuk sampai di tingkat berikutnya, dibandingkan dengan yang menjadi besar dengan cara cepat, tapi ketahanan kita ketika menjalaninya akan lebih terjaga. Di saat orang lain yang berlari atau loncat beberapa anak tangga sekaligus kelelahan, kita masih bisa melaju dengan energi yang tetap terjaga. Kita dapat menaikkan skala sedikit demi sedikit, sesuai dengan kemampuan kita.

Jika usaha yang kita lakukan berdasarkan pada passion, pilihan ini akan menjaga passion yang kita miliki karena beban yang harus kita jalani, masih diambang batas wajar. Disebut wajar karena kita tau batas maksimal yang bisa kita lakukan pada saat ini. Perlu diingat, batas maksimal itu bukanlah harga mati yang tidak dapat berubah. Dia bisa meningkat atau juga menurun tergantung dari upaya yang kita lakukan. Ketika kita terus belajar meningkatkan kemampuan  dan memberi tantangan pada diri sendiri untuk menguji kemampuan yang kita miliki, otomatis yang disebut batas maksimal itu akan semakin jauh. Maksimal itu seperti garis cakrawala, ketika kita terus berjalan mendekatinya, dia akan terus menjauh. Untuk mencapai yang terjauh itu, perlu waktu dan kesabaran.

***

Lalu dimanakah letak kesulitannya memilih untuk tetap menjadi kecil? Aku bisa menjelaskannya dengan analogi orang yang berdiet untuk menjaga kesehatan. Dia tau dia bisa memakan apapun yang ada di hadapannya, tapi dia memilih untuk menseleksi dan membantasi porsinya. Seminggu pertama masih terasa mudah, namun memasuki minggu kedua pilihan makanan yang beragam itu menjadi godaan yang berat untuk hindari. Dan yang paling bisa mendisiplinkan adalah dirinya sendiri.


Seperti nasehat bijaknya Seth Godin,

" Don't be small because you can't figure out how to get big. Consider being small because it might be better."

Dan tobucil memilih untuk tidak menjadi tobusar, bukan karena tidak mampu menjadi besar, tapi tobucil meyakini, passionnya ada pada yang kecil itu. Mengutip tulisan salah satu peserta klab menulis feature tentang tobucil: Menjadi kecil itu indah, menjadi kecil itu tidak mudah. Begitulah tobucil.


Museum Punya Siapa?

foto oleh vitarlenology
Beberapa waktu lalu, seorang teman memberitahukan bahwa sebuah museum pemerintah di Bandung membuka lowongan sukarelawan. Berbekal niat, ingin mengamalkan ilmu dan pengalaman permuseuman yang pernah kuperoleh beberapa tahun lalu, aku pun mendaftar sebagai sukarelawan. Rasanya sayang aja kalau ilmu dan pengalamanku itu tidak kuamalkan di museum di kota tempat tinggalku ini.

Baru ikut dua kali pertemuan, aku udah nyaris putus asa. Museum yang kutemukan tidak seperti yang kuharapkan (aku sempat menyalahkan diri sendiri, menganggap diriku bodoh karena menaruh harapan pada museum pemerintah). Fakta yang kutemukan, seorang kepala museum pemerintah itu merangkap kerja sebagai kurator museum, artistik, humas, programer, bendahara, bahkan eksekutor urusan teknis. Akibatnya, sulit sekali menemukan kualitas pada proses penyelenggaraan pameran yang serius, karena pekerjaan yang tumpang tindih itu tadi. Padahal referensi yang dijadikan acuan dalam penyelenggaraan pameran dan program cukup canggih. Cita-citanya selalu apa yang dilakukan museum-museum besar di Eropa, namun apa boleh buat, biasanya cita-cita kandas karena persoalan keterbatasan dalam mengeksekusi dan juga konsep yang kedodoran.

Di satu sisi menjadikan museum di Eropa sebagai acuan, bisa memberikan semangat bahwa ada standar tinggi yang perlu di kejar. Namun disisi lain, rasanya kok ga realistis. Dengan sikap pemerintah yang seringkali mendadak amnesia terhadap sejarah atau hanya mencuplik sejarah sepotong-sepotong demi legitimasi kekuasaan, strategi kebudayaan yang ga jelas, dan kebijakan-kebijakan  yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan yang serba sumir dan samar, pengelola museum yang sangat birokratis,  serta dampaknya pada cara pemerintah mengelola kesejarahan itu sendiri lewat museum; rasanya itu jadi alasan yang cukup kuat untuk menjadi putus asa dan skeptis pada dunia permuseuman di negeri ini (karena aku yakin kondisi museum pemerintah di tempat lain, bisa jadi lebih buruk dari si museum yang ada di Bandung ini).

Pada titik ini aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah aku akan termasuk ke dalam pihak yang putus asa dan skeptis atau yang masih menyimpan harapan meski ga tau harus bagaimana.

***

Sebelum tulisan ini menjadi kesinisan berkepanjangan, aku mencoba menggali kembali pengalaman mengikuti workshop pengembangan audience museum di Kuala Lumpur, pengalaman mengobservasi pengembangan audience museum di NYC, summer intern di program dewasa Brooklyn Museum juga pengalaman mengunjungi berbagai museum di beberapa negara kalau aku melakukan perjalanan. Dari deretan pengalaman ini, aku tidak sedang berusaha mengkontraskan kondisi museum di luar negeri sana dengan di sini. Aku justru menemukan beberapa pendekatan yang dilakukan oleh museum berdasarkan amatan dan pengalamanku yang berkaitan dengan museum.

Pertama, museum yang dikelola dengan pendekatan kekuasaan. Museum ini seperti museum-museum yang dikelola oleh pemerintah, tujuannya untuk memberi legitimasi pada penguasa yang sedang berkuasa. Biasanya sangat propaganda dan tidak memberi banyak pilihan tafsir terhadap peristiwa atau kesejarahan yang ditampilkan. Museum menjadi etalase kekuasaan, seperti sebuah lemari yang menyimpan benda-benda para penguasa. Tidak dapat sembarangan di buka, tapi juga seringkali tidak terlalu diperhatikan pemiliknya. Kurasi atau pemilihan karya didasarkan pada selera atau kepentingan penguasa, bukan pada metodologi riset yang sahih. Museum seperti ini biasanya lebih melayani kekuasaan daripada masyarakat. Yang penting ada dan biasanya tidak terlalu ambil pusing dengan ada atau tidaknya pengunjung yang datang.

Kedua, museum yang dikelola dengan pendekatan komunitas. Museum ini biasanya dikelola oleh organisasi masyarakat yang bekerjasama dengan pemerintah dan menjadikan komunitas juga masyarakat sebagai pihak yang harus dilayani oleh museum ini. Museum menjadi ruang yang merepresentasikan komunitas. Keberadaannya pun biasanya didukung oleh komunitasnya lewat donasi sukarela dari komunitas pendukungnya. Museum dengan pendekatan seperti ini, sangat menjaga hubungan baik mereka dengan pengunjung atau komunitasnya. Program-program yang dijalankan oleh museum juga biasanya didasarkan pada kebutuhan komunitasnya. Para pendukung dan sponsor biasanya sangat memperhatikan bagaimana museum ini berdampak bagi komunitasnya. Jumlah pengunjung dari sebuah pameran menjadi salah satu indikator penting, sukses tidaknya sebuah pameran. Biasanya pula, museum seperti ini memiliki audience yang memiliki tingkat apresiasi yang lebih baik, karena dialog yang terjadi antara museum dan audiencenya berlangsung dua arah. Museum menjadi ruang belajar bersama antar komunitas.

Ketiga, museum yang dikelola dengan menggabungkan pendekatan kekuasaan dan komunitas. Museum-museum seperti ini sangat sadar bahwa legitimasi kekuasaan tidak mungkin diperoleh dari komunitas pendukungnya. Biasanya museum-museum pribadi yang kemudian membuka dirinya untuk umum, menjadi semacam etalase pencitraan perorangan atau kelompok tertentu. Museum seperti ini, seringkali mengalami persoalan kesulitan mencari sponsor dan komunitas pendukung, jika strategi pengelolaannya tidak berimbang antara kepentingan pemiliknya dan komunitasnya. Museum seperti ini sangat bergantung pada sekuat apa individu ini mampu mengelola pencitraannya. Karena membangun pencitraan lewat museum bukanlah hal yang mudah dan murah.

***

Dari apa yang kuamati dan kualami, komunitas sebenarnya  menjadi hal yang sangat penting dalam keberlangsungan sebuah museum. Secara pribadi aku sangat berpihak pada museum yang dikelola dengan pendekatan komunitas atau minimal museum yang melakukan pendekatan kekuasaan dan komunitas. Bagiku, komunitas menjadi jawaban dari pertanyaan klasik: 'museum itu sesungguhnya punya siapa?' 

Indikator yang paling sederhana adalah dari program museum itu sendiri. Kita bisa melihat perbedaan pendekatan ini dari program yang ada di museum itu sendiri. Seberapa banyak program-program yang berkaitan dengan publik, masyarakat atau komunitas. Interaksi dengan publik, masyarakat atau komunitas ini sesungguhnya yang membuat museum yang menyimpan artefak masa lalu itu berdialog dengan masa kini dan yang akan datang.

Museum yang hanya melayani kepentingan penguasa, seperti kumpulan koleksi kuno yang makin lama makin kehilangan makna dan konteks jaman dengan penikmatnya.  Apa gunanya artefak-artefak itu dipajang bertahun-tahun dalam satu ruangan yang sama dengan keterangan yang sama tanpa kontekstualisasi terhadap kekinian (sayangnya museum-museum yang dikelola pemerintah Indonesia banyak sekali yang seperti itu, apalagi museum-museum daerah). Padahal kekuasaan pun mestinya menyadari bahwa dirinya bagian dari proses estafet yang panjang. Kekuasaan sekarang, jika mau sedikit cerdas, bisa belajar banyak dari kekuasaan di masa lalu untuk mencari cara melanggengkannya di masa datang. Dan museum sesungguhnya bisa menjadi ruang belajar itu.

Sementara museum yang mampu berdialog terus menerus dengan masyarakat atau komunitasnya, seperti sebuah jembatan dari masa lalu, masa kini dan yang akan datang, sehingga membantu masyarakat atau komunitas penikmatnya memberi pegangan yang jelas atas kesejarahan dan identitas mereka sebagai bagian dari komunitas yang diwakili oleh museum. Aku jadi ingat bagaimana Queens Museum di Queens borough New York City, menyelenggarakan program kursus bahasa inggris bagi komunitas hispanik dengan pengantar bahasa Spanyol. Lokasi museum ini memang terletak di wilayah komunitas hispanik dan sebagian komunitas itu memang tidak bisa berbahasa Inggris. Itu sebabnya museum punya tugas untuk membuat program yang sesuai dengan kebutuhan komunitasnya.

Kadang ironis,  aku justru mendapatkan pemahaman baru tentang ke Indonesiaanku saat mengunjungi museum di luar negeri yang menempatkan artefak budaya Indonesia sebagai bagian dari kesejarahan mereka. Bagiku, penting untuk mengetahui bagaimana Indonesia sebagai bagian dari identitasku, dipandang dan ditempatkan dalam bagian sejarah orang lain. Dengan begitu, sebagai warga negara aku jadi belajar bagaimana seharusnya identitas kebangsaanku, aku bangun. Karena secara personal, setiap individu pasti membutuhkan orang lain untuk memvalidasi dirinya: apa arti aku dalam hidupmu, apakah kamu 'melihatku', apakah 'kamu mendengar suaraku? Dan dalam konteks yang lebih besar, setiap kebudayaan, bangsa  bahkan peradaban pun membutuhkan budaya, bangsa dan perabadan lain untuk memvalidasi dirinya, salah satunya museum memiliki peran untuk itu. Museum menurutku bukan hanya etalase artefak kebudayaan semata, tapi bagaimana cara budaya itu memandang dirinya sendiri dan orang lain yang sejatinya dapat direpresentasikan lewat museum.

***
Sampai titik ini, apa yang aku sampaikan mungkin masih terlalu abstrak. Pendekatan komunitas yang menurutku jawaban untuk menjawab pertanyaan museum itu punya siapa? membutuhkan strategi komunikasi yang mengakomodasi sebanyak mungkin kebutuhan dan kepentingan komunitas (kalaupun tidak seluruh kepentingan dapat terakomodasi). Strategi ini pun perlu dijabarkan dalam program-program yang membangun dan memperkuat jembatan terhadap komunitasnya. Setidaknya program dari komunitas pendukung museum dapat menambal kekurangan-kekurangan yang ada seperti keterbatasan sumber daya seperti halnya ketumpang tindihan tugas seorang kepala museum.

Jadi sepertinya aku tidak boleh buru-buru skeptis dan kehilangan harapan tehadap museum di kotaku. Jika ide-ideku yang berpihak pada museum dengan pendekatan komunitas sulit diterima oleh museum yang bersangkutan, aku sebenarnya tetap bisa mengambil semangatnya dan merealisasikannya dalam bentuk program yang bisa aku jalankan di komunitas pendukung museum itu, di tobucil misalnya. Aku tinggal menyambungkannya dengan apa yang si museum upayakan. Jika saat ini baru seutas tali dan bukan jembatan kokoh yang dapat menyambungkannya, mestinya tidak jadi masalah yang penting ada yang menyambungkan. Lama-lama jika tali temali yang menyambung semakin banyak, jembatan yang terbangun bisa menjadi lebih kuat, karena lewat jembatan itulah harapan tentang permuseuman di negeri ini bisa tetap ada dan standar tinggi seperti museum-museum di Eropa sana, sedikit demi sedikit bisa di dekati. Semoga.


Gudang Selatan,
00.03

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails