Monday, September 26, 2011

Mari Mulai Mengatur Ide

foto by vitarlenology
Ketika memulai Tobucil, tahun 2001 lalu, aku memulainya dengan semangat, antusiasme dan ide-ide yang membludak. Belum selesai satu ide di jalankan, sudah muncul banyak ide yang lain. Rasanya ingin menjalankan semua ide-ide itu dalam satu waktu sekaligus.

Awalnya mengikuti perjalanan ide di saat memulai usaha, sangatlah menyenangkan dan menggairahkan.  Namun ketika guliran ide menjadi seperti bola salju yang kian membesar, aku menjadi kewalahan dan akhirnya terlibas olehnya. Aku tidak lagi bisa mengendalikan ide-ide itu, tapi ide-ide itulah yang mengendalikan aku.

Aku merasakan tanda-tanda  ketika aku  dikuasai oleh ide adalah ketika aku merasa kewalahan dengan ide-ide  itu sendiri. Terlalu banyak ide yang menggelinding, sampai-sampai aku ga tau ide mana dulu yang perlu di realisasikan.  Aku jadi kehilangan kemampuan untuk membuat skala prioritas, karena semua ide sangat menggoda dan menarik perhatian. Semua ide seperti minta di realisasikan dalam waktu yang bersamaan. Ide-ide itu seperti antrian orang-orang yang berebut  mendapatkan karcis masuk. Padahal ide sebenarnya bisa 'antri' dengan lebih tertib dan satu persatu mendapat tiket masuk. Akulah yang seharusnya mengatur antrian ide-ide itu melalui skala prioritas. Percayalah, ternyata ide itu bisa menunggu dengan sabar dan justru membutuhkan waktu untuk menjadi lebih matang.

***

Mengapa mengendalikan ide yang membludak itu menjadi penting dalam memulai sebuah usaha?  Mengacu pada pengalamanku sendiri, aku memulai tobucil dengan sumber daya yang sangat terbatas. Modalnya hanya semangat dan idealisme. keduanya sama abstraknya dengan ide. Waktu itu aku ga punya pengetahuan tata kelola atau pun ilmu bisnis sama sekali apalagi modal finansial yang mencukupi. Aku hanya mengandalkan intuisi dan sumber daya finansial yang sangat terbatas.

Di satu sisi, keterbatasan sumber daya ini bisa menjadi hambatan, jika aku tidak berhasil menjembatani antara keterbatasan  itu dengan ide yang mengalir sedemikian deras. Di sisi lain, keterbatasan justru yang membantuku untuk lebih bisa mengendalikan ide-ide itu. Mana ide yang paling realistis untuk di jalankan terlebih dahulu sesuai dengan kemampuan? sehingga bisa membuatku fokus, mengerjakan ide-ide itu satu persatu.  Percayalah, ketika satu ide selesai dikerjakan sesuai kapasitas , sumber daya akan berkembang dan bertambah mengikuti antrian ide.

Antrian ide itu seperti tangga yang menyambungkan lantai satu dengan lantai yang lain. Ketika kita ingin sampai di lantai dua, kita mesti memulainya dari anak tangga pertama. Pada anak tangga pertama, kita akan menemukan keyakinan dan kepercayaan diri bahwa ternyata  kita bisa memulai merealisasikan ide yang berdesak-desakan di kepala. Setiap hal besar di dunia ini selalu di mulai dari langkah pertama.

 Pada anak tangga kedua, keyakinan kita akan menjadi lebih kuat. Perasaan optimis bisa sampai lantai dua  menjadi semakin besar. Dan jangan kaget, ketika sampai tengah-tengah, akan muncul keraguan yang dapat menggoyahkan semua semangat, optimisme dan keyakinan diri itu tadi. Saat menoleh ke belakang, kita melihat sudah banyak anak tangga yang berhasil dilalui. Namun saat menatap ke depan, ternyata masih banyak anak tangga yang mesti di tapaki untuk bisa sampai ke lantai dua. Sementara kelelahan  mulai menghinggapi  dan sumber daya terasa menipis, sedangkan perjalanan masih panjang.

Tidak ada salahnya untuk berhenti sejenak. Nikmati segala kelelahan itu, tarik pembelajaran dengan melihat kekurangan dan kelebihan cara kita menapakinya dari setiap anak tangga yang telah berhasil dilalui.  Sambil menyusun koreksi dan revisi dari setiap kekurangan untuk menapaki sisa anak tangga di depan dengan cara yang lebih baik dan lebih efisien.

Menantang diri sendiri dengan pertanyaan: 'lanjut atau cukup sampai di sini? juga sangat diperlukan. Pertanyaan itu akan membantu kita untuk  belajar menghitung resiko dari pilihan lanjut atau berhenti itu tadi. Tidak ada pilihan yang tidak mengandung resiko. Bahkan memilih bahagia pun ada resikonya. Belajar menakar kemampuan diri untuk menghadapi resiko, itu akan membantu  melatih daya tahan kita untuk memperjuangkan ide-ide yang ingin di realisasikan ke depannya. Jangan jadikan resiko menjadi halangan atau ketakutan untuk melangkah. Jadikan resiko sebagai teman yang memandu mengenali batas  dan kapasitas maksimal diri kita. Petualang yang tangguh itu bukan petualang tanpa rasa takut. Tanpa rasa takut, seorang petualang justru bisa membahayakan dirinya bahkan orang lain. Sesungguhnya, ketika menapaki anak tangga itu, kita sekaligus belajar mengenali ketakutan kita sendiri.

Jadi jangan pernah takut dengan ide-ide yang membludak penuh semangat, karena yang perlu dilakukan adalah membuat ide-ide itu antri dengan tertib dan terealisir satu per satu seperti tongkat estafet yang berpindah dari pelari satu ke pelari lain dengan jarak yang makin lama makin mendekati tujuan. Sehingga  diri ini terus tumbuh dan mengantarkan  pada cita-cita. @vitarlenology


Tulisan ini di bagikan pula melalui blog design by vitarlenology, tobucil handmade 

Dua Puluh Tahun Tumbuh Bersama Pearl Jam



Tulisan yang aku posting di sini adalah versi sebelum di edit redaksi majalah Tempo, versi majalah bisa di baca dengan mengklik gambar di atas

Saat Eric Clapton sibuk menyanyikan Tears in Heaven di panggung MTV Video Music Award 1992, Eddie Vedder  (vokalis Pearl Jam) dan Kurt Cobain (vokalis Nirvana), malah sibuk berdansa dengan mesra di belakang panggung. Orang-orang di sekelilingnya tampak tidak mempedulikan mereka. Usai berdansa, mereka berdua berpelukan layaknya dua orang sahabat. Gambaran ini jauh dari gembar-gembor media yang saat itu justru sibuk memposisikan Pearl Jam dan Nirvana sebagai rival  yang saling bermusuhan.

Cameron Crowe, jurnalis dan sutradara yang dikenal lewat film Singles (1992), Jerry McGuire (1996), Almost Famous (2000)  menyusun kembali footage sepanjang 1200 jam menjadi film dokumenter berdurasi 109 menit dengan judul PJ20.  Film ini diputar sekali saja secara serentak di seluruh dunia pada tanggal 20 September, termasuk Indonesia. Upaya Pearl Jam Indonesia (fans club PJ di Indonesia), bersama Bioskop Merdeka dan Heaven Records sebagai penyelenggara, berhasil mengundang antusiasme lima ratus penggemar yang  memadati studio XXI, Epicentrum Jakarta, meski pemutaran terlambat satu jam dari yang sudah ditentukan.

Pada dasawarsa 90-an, Seattle Sound adalah kiblat musik sulit dihindari. Grunge yang dipopulerkan media sebagai aliran musik dari Seattle, menempatkan Soundgarden, Pearl Jam, Nirvana, Alice in Chains, sebagai idola baru yang mendunia. Perkembangan dan dinamika sosial Seattle Sound ini di jelaskan dengan sangat baik dalam film dokumenter berbeda garapan Doug Pray, Hype! di tahun 1996.

Adalah Stone Gossard (gitar) dan Jeff Ament (bas) pada tahun 1988, bersama Andrew Wood sang vokalis, membentuk band yang mereka namai Mother Love Bone (MLB). Karisma Andrew Wood melejitkan MLB dan menjadikannya band paling menjanjikan di Seattle pada saat itu. Kematian Andrew Wood yang tiba-tiba pada tanggal 19 Maret 1990 akibat overdosis heroin, memporak porandakan band yang tengah sibuk mempersiapkan debut album mereka. Setelah kematian Wood, Gossard dan Ament mencoba membentuk format band baru. Lewat tangan Jack Irons (mantan drummer Red Hot Chili Peppers), single demo yang digarap Gossard dan Ament sampai ke tangan Eddie Vedder dan menerbangkan pemuda  pemalu yang bekerja sebagai penjaga malam asal San Diego ini ke Seattle untuk bergabung bersama Stone Gossard, Jeff Ament, Mike McCready  dan membentuk band yang kemudian mereka beri nama Pearl Jam.

Crowe tidak hanya berusaha meluruskan kesimpang siuran ‘mitos perselisihan’ PJ dengan Nirvana, namun memperjelas kekuatan PJ sebagai sebuah band yang bisa menyuarakan kegelisahan individu generasinya. Eddie Vedder sebagai vokalis dengan karismanya menjadi juru bicara tanpa rasa takut dan tidak mengenal kompromi, ketika berhadapan dengan kekuatan yang berusaha mendikte proses PJ dalam berkarya dan mengganggu kedekatan mereka dengan para penggemarnya seperti yang mereka lalukan terhadap Ticket Master. Keterlibatan PJ pada aktivisme sosial: keberpihakan mereka pada Pro Choice, dukungan terhadap pembebasan Tibet, West Memphis Three dan mantan kandidat presiden Ralp Nader, juga sikap anti perang dan kebijakan Bush. Sikap seperti ini yang menjadikan PJ sebagai band yang konsisten terhadap keberpihakannya namun sekaligus menjadi band paling sulit dimengerti.

Matt Cameron (mantan drummer Sundgarden) yang semula berada di luar PJ, namun akhirnya ditarik masuk sebagai drumer, lewat PJ20 mengakui bahwa PJ bukan band yang mengambil pengaruh dari luar mereka, namun justru kekuatan karakter para anggotanya sendiri  yang saling mempengaruhi dan membentuk mereka. Pergulatan untuk terus menjadi diri mereka sendiri tanpa kehilangan harmoni untuk bertahan dan berkembang hidup bersama selama dua puluh tahun menjadikan Pearl Jam termasuk satu dari sedikit band besar yang dengan kerendahan hati mengkritisi diri sendiri serta eksistensi mereka  secara terbuka kepada penggemarnya.

Bagi penggemar berat PJ yang sudah khatam membaca biografi mereka, retrospektif sejarah yang ditampilkan lewat PJ20, seperti cerita yang diulang-ulang untuk menguak yang tersembunyi, memperjelas yang samar dan menemukan makna baru dari peristiwa yang sama. Sebelumnya, Crowe pernah memproduseri video dokumenter Pearl Jam: Single Video Theory ketika menjalani proses rekaman album Yield pada tahun 1998. Sebagian footage di  film ini kembali di tampilkan pada PJ20. Meskipun demikian Crowe berhasil membawa penggemar beratnya pada perspektif baru dan  pemahaman yang lebih dalam tentang PJ sebagai sebuah band. Namun bagi penggemar yang lebih akrab dengan musiknya dari pada sepak terjangnya, Crowe berhasil memberikan rangkuman yang komprehensif tentang sepak terjang PJ selama 20 tahun tanpa melebih-lebihkannya. Terasa sekali bahwa film ini dibuat oleh seseorang yang sangat mengenal PJ bukan hanya sebagai sebuah band, namun juga PJ secara personal.

Sebagai penggemar yang seluruh masa remajanya dipengaruhi oleh mereka, film ini menjadi momen untuk merenungkan kembali  apa yang membuat saya bersedia menunggu  17 tahun untuk bisa menyaksikan konser di Madison Square Garden , NYC, 2008 lalu dan melakakukan perjalanan spiritual ke Seattle hanya untuk merasakan udara yang menghidupi kreativitas mereka. Apa arti     bertahan sampai 20 tahun, saya kira bukan hanya personil PJ saja yang merenungkan itu,  namun penggemar setianya pun pulang menonton sambil mencoba menemukan jawaban dalam diri mereka masing-masing.


Tarlen Handayani, Penggemar berat Pearl Jam sehari-hari bekerja untuk Tobucil & Klabs.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails