Monday, April 18, 2011

Ibu, Bapak dan Sinkronisasi Keyakinan

Saat kondisi bapakku tiba-tiba kritis dan sakratul maut datang menjelang, ibuku bertanya pada bapakku:
"Pak, Kamu ingin menghadap Tuhan ditunggui pastor atau orang-orang mesjid? Ibu ikhlas, kalau bapak, mau kembali menghadap Tuhan dalam Katolik, ibu tidak akan menghalangi.."
Bapakku dengan nafas terakhirnya yang tersengal-sengal, menjawab:
"Bapak ingin menghadap Tuhan dalam Islam. Bapak sudah yakin bu.."

 ***

Saat menikahi ibuku, bapakku menyetujui mengikuti agama ibuku daripada tetap dalam Katolik. Dua kalimat syahadat menjadi mas kawin pernikahan mereka. Namun pindah agama bukan persoalan mengganti tulisan di KTP atau kartu identitas dari agama A mejadi B. Bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan tiada rasul selain Muhamad, tidak serta merta mengiringi berpindahnya sebuah keyakinan. Meski pindah agama, bapakku membesarkan anak-anaknya tetap dalam disiplin dan logika Katolik yang begitu kental. Bapakku memang tidak pernah mengemukakan doktrin-doktrin Katolik, tapi yang dia ajarkan dan contohkan pada anak-anaknya adalah ajaran Katolik yang sejak kecil sampai dia menikah dengan ibuku telah terinternalisasikan dalam diri dan menjadi nilai-nilai kehidupannya yang tidak begitu saja bisa dicabut dan diganti dengan yang baru.

Sementara bagi ibuku, berpindahnya keyakinan bapakku dari Katolik menjadi Islam, tidak bisa diartikan sebagai sebuah "kemenangan" seperti yang diyakini para pemeluk agama yang konservatif tentang keyakinan meng'islamkan' orang-orang non muslim. Justru yang dihadapi jauh lebih sulit, karena ini menyangkut perpindahan keyakinan yang telah menjadi logika, cara pandang, disiplin. Meski pada akhirnya solat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, namun disiplin Katoliknya tidak pernah bisa hilang. Dan aku menyaksikan bagaimana bapakku berusaha menemukan sinkronisasi disiplin Katolik yang menjadi laku hidupnya itu dengan keyakinannya yang baru. Aku bisa merasakannya, bahwa itu bukan jalan yang mudah. Bukan hanya bapakku saja yang berusaha, ibu dan anak-anaknya pun berusaha.

Pergantian keyakinan seperti sebuah proses sinkronisasi yang membutuhkan waktu seumur hidup, terhitung sejak keyakinan itu dinyatakan berganti. Pergantian itu baru bisa dilihat berhasil atau tidak, justru diputuskan pada saat nafas terakhir dihembuskan. Sinkronisasi keyakinan dari yang lama kepada yang baru, tidak hanya berdampak pada individu yang melakukannya pergantian itu, tapi orang-orang di sekelilingnya yang menjadi bagian dari sistem bernama keluarga.

Aku beruntung, mendengar langsung keputusan yang luar biasa dari bapakku. Ia menyatakan dirinya berhasil menemukan sinkronisasi itu, setelah berpindah selama 28 tahun. Dan ibuku, dengan penuh keberanian dan kelegaan hati, siap menerima apapun keputusan bapakku dengan keyakinannya itu. Ibuku bisa membuat bapakku berganti keyakinan di atas kertas, tapi Ibuku tidak pernah bisa menjamin apakah bapakku berhasil berganti atau tidak, sampai keputusan itu tiba di penghujung hidup bapakku. Bagiku ini adalah pelajaran menemukan Tuhan yang dilandasi oleh kebesaran hati dan keiklasan kedua orang tuaku.


***

Aku sering bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya berpindah ketika seseorang berganti keyakinan, selain soal nama Tuhan. Jika pada keyakinannya yang lama, seseorang berhasil menginternalisasikan kebaikan dan kasih Tuhan dalam hidupnya, mungkin sinkronisasi yang diperlukan ada pada konsep Tuhan itu sendiri. Dan proses itu seringkali sangat personal, karena seseorang perlu menyelam ke kedalaman dirinya untuk memeriksa dirinya dan pemahamannya tentang Tuhan, sampai akhirnya dia menemukan pemahaman yang baru. Proses ini ga bisa di nilai dari penampilan dan pencitraan saja. Seseorang bisa berbohong pada jutaan orang dan menyebut dirinya orang yang shaleh, namun sesungguhnya dia tak pernah bisa membohongi dirinya sendiri, kecuali dia hatinya tidak lagi bisa merasakan, karena terbiasa berbohong.


Jadi buat apa memaksa seseorang berpindah keyakinan, jika yang berpindah hanya sebutan dan tampilannya saja. Apalagi memaksakan lewat jalan kekerasan. Buat apa berlabel Islam, jika keyakinan yang terejawantahkan dalam perilaku dan disiplin kesehariannya tidak singkron dengan  nilai-nilai yang diajarkan Islam itu sendiri. Mengapa tidak memberikan contoh laku dan pemahaman yang memberi rasa damai, berkat kebaikan, Rahman dan Rahim, sehingga jika memang tergerak untuk berpindah, orang melakukannya dengan sukarela karena ingin menemukan kebaruan dalam perjumpaannya dengan Tuhan. Bukankah ketika menawarkan sebuah keyakinan selalu ada alasan bahwa ini demi kebaikan yang lebih baik dengan iming-iming surga di dalamnya. Mari kembali memeriksa, apakah memang surga yang membawa kedamaian yang selama ini diiming-imingkan? jangan-jangan kebaikan yang kita tawarkan, malah memberikan neraka bagi yang menerimanya.


(Begitu muak dengan orang-orang di sekelilingku yang merasa paling beriman dari orang lain, merasa paling berhak atas surga, lalu menyalah-nyalahkan orang lain..)

Thursday, April 07, 2011

I Follow You Into The Dark *)


If there's no one beside you when your soul embarks
Then I'll follow you into the dark - Death Cab for Cutie -

Hal yang cukup mengagetkan namun sekaligus bisa dimengerti di awal bulan ini adalah James Franco mendelete account twitternya. Setelah sebulan setengah, James 'berkicau' pada para penggemarnya lewat foto-foto, video aktivitas dia sehari-hari_ sehingga aku yang ada di Bandung, tiba-tiba bisa merasa menjadi teman dekatnya. Bagaimana tidak, keseharian James yang selama ini (sebelum dia buka account twitter) adalah sesuatu yang jauh dan hanya dalam bayangan belaka, setelah bertwitter ria, tiba-tiba sampai isi email buat James saja, penggemarnya bisa tau.

Aku rasa mendelete account dengan lebih dari empat ratus ribu follower, bukan hal mudah. Memutuskan  untuk tidak lagi 'dibuntuti' empat ratus ribu pengikut, menurutku itu tindakan yang sangat berani. Itu sama artinya dengan mengambil resiko mengecewakan empat ratus ribu pengikut yang 'tertarik' pada sosoknya sebagai selebriti.

Orang-orang seperti James Franco yang mendapat 'beban' (bisa juga bukan suatu beban) perhatian penggemar atau pengikut (orang-orang yang punya kepentingan atau harapan padanya). Seringkali dia posisikan pada situasi yang serba salah. James menurutku punya motivasi tinggi untuk terus menerus mengejar standar dan pencapaian yang lebih baik dan ia bekerja keras untuk itu. Kerja keras yang sebenarnya bisa dilakukan oleh semua orang, namun persoalannya, ada yang memilih melakukannya ada yang tidak. Ketika sosok seperti James Franco menjadi tampak bersinar di antara yang lain karena kerja kerasnya, prestasi yang dia raih seolah-olah menjadi garis utopia yang dirasakan banyak orang dan mustahil untuk mencapainya.

Orang-orang lantas lupa, bahwa pencapaian seorang James Franco bukanlah sebuah sihir atau sulap yang tiba-tiba datang. Sehingga orang-orang mulai memproyeksikan 'utopia' itu pada James Franco, mengganggap bahwa James adalah wakil mereka, dimana mereka dapat menyandarkan harapan mereka padanya. Hey, James juga manusia biasa. Bukan rasul atau manusia pilihan Tuhan untuk membawa misi suci menyebarkan tugas mulia berbekal jaminan mujizat langsung dari Tuhan. Dia hanya manusia biasa yang kebetulan punya banyak keinginan dan ia bekerja keras untuk meraihnya.

***

Tulisan ini tidak bermaksud membela James Franco secara khusus dari sisi seorang penggemar. Karena terus terang aja, hampir setiap pagi ketika terhubung dengan internet, twitternya James Franco yang aku buka sejak ia membua account di twitter pertama kali. Ketika tiba-tiba twitternya menghilang, aku seperti kehilangan. Tapi kehilangan apa? Pertanyaan ini  menggangguku. Justru yang dilakukan oleh James itu membuatku berpikir lagi soal: keinginan, kerja keras dan pengakuan. Seringkali apa yang menjadi cita-cita dan keinginan, diupayakan dengan kerja keras dan pengorbanan, sampai akhirnya keinginan dan cita-cita itu berhasil di capai dan diraih, lalu menempatkannya dalam barisan 'orang-orang yang dianggap luar biasa'. Apa yang teraih itu dianggap sebagai mujizat yang tidak semua orang bisa melakukannya. Yang tidak melakukannya menganggap pencapaian 'orang-orang luar biasa' ini sebagai sesuatu yang sangat berat dan tidak mungkin dicapai oleh mereka. Bahkan sebagian menganggap, sudah cukup 'orang-orang luar biasa' ini yang bisa meraihnya dengan begitu mereka sudah merasa terwakili.

Secara sepihak, 'orang-orang luar biasa' ini dipilih sebagai 'wakil', tanpa mereka pernah ditanya, apakah mereka bersedia atau tidak. Secara sepihak juga mereka diadili dan disalahkan jika tidak dapat memenuhi harapan orang-orang yang merasa terwakili. Tak heran, banyak 'orang-orang luar biasa' yang di cap selebriti ini membuat keputusan-keputusan bodoh dengan hidupnya, karena lelah dengan label itu. Mereka dirayakan, tanpa tau mengapa mereka harus dirayakan. Mereka dipuja sedemikian rupa tanpa para pemuja ini mau melihat kenyataan, bahwa mereka ga pantas-pantas amat untuk dirayakan.Para pengikut ini seringkali melihat apa yang ingin dilihatnya dan menutup mata terhadap hal-hal yang tidak ingin mereka lihat.

Menurutku, menjadi 'orang luar biasa' yang biasa-biasa saja, jauh lebih sulit daripada menjadi 'orang luar biasa' dan bergaya luar biasa. Menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja bagi orang yang luar biasa, sama artinya dengan memilih untuk tidak menggunakan kemudahan dan segala fasilitas yang bisa dia dapatkan. Menolak hal-hal seperti ini sama artinya dengan melawan ego dan hawa nafsu. Menjadi biasa-biasa juga berarti menampilkan diri seperti diri sendiri menginginkannya, bukan karena orang lain menginginkannya.

Media sosial yang berkembang sekarang ini, membuat hal-hal yang biasa-biasa justru menjadi luar biasa. Proses yang rumit dan panjang kadang berdarah-darah untuk menjadi luar biasa, sepertinya tidak lagi menjadi penting. Tidak perlu seperti James Franco yang harus bersekolah untuk mendapatkan dua gelar master dan mengorbankan waktu hura-huranya sebagai selebriti, untuk mengikuti perkuliahan program doktoralnya sehingga dia bisa disebut aktor yang luar biasa. Tidak perlu. Keluar biasaannya dalam persepektif para pengikut ini sama absurdnya dengan merayakan sesuatu tanpa tau apa yang sesungguhnya dirayakan. Banyaknya pengikut di jejaring media sosial, menjadi komoditas ekonomi yang bisa di'jual'. Bukan hal yang aneh, jika ada cerita tweetnya orang terkenal ternyata disponsori oleh kepentingan para pengiklan.

***

Keputusan James Franco dengan account twitternya, membuatku berpikir bagaimana keluar biasaan ini menjadi biasa-biasa saja. Ketika James asyik ngetweet, aku bisa melihat James dari yang menunjukkan bahwa dia juga manusia biasa saja. Tapi mungkin (ini dugaanku), jarak yang begitu dekat ini, lama-lama bisa menjadi sangat mengerikan bagi James. Keluar biasaannya ini menjadi tanpa jarak dan membuat empat ratus ribu pengikutnya seperti dibatasi oleh seutas tali tipis bernama twitter dengan sosok James Franco. Siapa yang bisa menjamin hubungan yang biasa antara orang yang luar biasa dengan para pengikutnya ini bisa berjalan setara, adil dan saling menghormati satu sama lain. Tidak ada satupun yang bisa menjaminnya, karena masing-masing melihatnya dengan cara berbeda. Jika ingin bertahan dalam situasi yang tidak fair ini, ya ikuti saja aturan main salah satu pihak atau jangan pernah masuk dalam permainan ini sama sekali. Lalu aku juga mau jadi pengikut seperti apa? Kebiasaan seperti apa yang akan aku tampilkan dihadapan para pengikutku? Jika diterawang, di ujung hubungan diikuti dan mengikuti ini yang ada hanya gelap..


*) judul diambil dari judul lagu Death Cab for Cutie

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails