Tuesday, December 27, 2011

Secangkir Kopi Dari Playa, Ketika Ideologi Kehilangan Rasa Cinta


Jarak dari Minggiran dan Kedai Kebun, kurang dari 500m, namun malam itu (19/12) Yogjakarta basah. Hujan tak kunjung berhenti, meski rintik tapi cukup kerap. Dari lima tiket yang sengaja kubeli, hanya dua saja yang ternyata terpakai. Tanpa Akum, Gendis memutuskan ikut meski terlihat ragu. Mas Sudi, mengantarkan aku dan Gendis ke Kedai Kebun, tempat berkumpul para penonton yang akan menonton pertunjukkan Papermoon Puppet Theatre: Secangkir Kopi Dari Playa. Sesampai di Kedai Kebun, antusiasku bertambah karena bertemu teman-teman. Sementara mata Gendis mulai berkaca-kaca ketika menyadari dialah satu-satunya anak kecil di ruangan itu. "Tante aku mau pulang," katanya hampir terisak. Aku tidak bisa memaksanya tetap ikut menonton pertunjukkan ini. Ya sudah, aku hubungi mas Sudi untuk menjemput Gendis kembali. Tak lama malah bapaknya muncul. Rupanya Gendis mengsms bapaknya juga, minta di jemput.

Bapaknya Gendis datang dengan temannya, Lipi, seorang seniman perempuan dari Bangladesh. Lipi begitu antusias ketika diberi tahu soal pertunjukkan puppet yang akan kami tonton bersama. Ada tiga tiket menganggur di tanganku. Sepertinya sebelum pertunjukkan dimulai aku harus jadi 'calo' dulu nih. Aku akan merasa berdosa jika tiga tiket ini nganggur sia-sia di tanganku. Beberapa menit kemudian datanglah Dua orang yang ingin sekali menonton namun sudah kehabisan tiket. Penjaga tiket memberitahukan pada mereka bahwa aku masih punya tiga tiket menganggur. Akhirnya hanya satu tiket saja di tanganku. Berharap masih ada yang membutuhkannya sebelum waktu pertunjukkan di mulai.

Sampai Pk. 19.45 tak ada penonton susulan yang datang. Pemandu perjalanan bernama Wulang Sunu, meminta para penonton yang berjumlah 19 orang itu untuk masuk ke dalam bis, karena pertunjukkan bukan di Kedai Kebun, namun di sebuat tempat yang sangat dirahasiakan. Persis seperti perjalanan wisata, Sunu menjelaskan hal-hal menarik yang di lewati sepanjang jalan, termasuk warung angkringan favoritnya dengan menu sate usus kesukaannya. Mini bus membawa para penonton masuk ke jalan Imogiri dan berhenti di sebuah toko barang antik yang lebih menyerupai gudang. Rasanya agak janggal, mengunjungi toko barang antik di malam hari dengan penerangan lampu TL yang membuat barang-barang antik itu terlihat sangat tua dan muram. Salah satu pengelola toko datang menyambut tamu-tamu dan sibuk mempromosikan mebel-mebel antik yang ada di situ. Tidak ada tanda-tanda pertunjukkan akan di gelar di tempat itu. Sunu kemudian mengajak penonton untuk kembali menaiki bis. Masih ada barang antik lainnya yang bisa di tengok di gudang belakang, hanya saja jalan menuju ke gudang itu tergenang air. Aku perhatikan Lipi yang duduk di sebelahkan. Dia tampak penasaran dalam diamnya.

Bis pun beranjak membawa tamu-tamu ke gudang belakang yang terlihat lebih rapi. Kursi-kursi dan bangku-bangku lama tertata rapi menghadap ke depan, ke susunan barang-barang antik dimana di atasnya lampion warna-warni tergantung. Ooo.. rupanya di sini pertunjukkan itu akan di mulai. Tapi benarkah? keraguan sempat muncul karena tempat itu tidak seperti panggung pertunjukkan pada umumnya. Lebih tampak seperti tumpukan barang antik daripada sebuah panggung pertunjukkan. Lagi pula lampion-lampion itu mati, penerangan hanya lampu TL saja dan mas-mas pengelola toko antik kembali melanjutkan promosi barang-barang antik yang dia jual.

Lima menit nyerocos soal barang antiknya, tiba-tiba lampu mati total. Gudang antik itu gelap gulita. Dalam gelap, si mas meminta maaf kepada para tamu " maaf ya mba-mba dan mas-mas semua, listriknya ga kuat nih. Sabarnya, coba kita nyalakan lagi." Di tengah para tamu yang masih terkaget-kaget dalam kegelapan, tiba-tiba lampion-lampion menyala terang, empat orang yang memegang dua boneka berdiri di antara tumpukan lemari, meja dan kursi di depan penonton dan siap memainkan lakon Secangkir Kopi Dari Playa.

foto diambil dari sini
Adalah pemuda bernama Wi bersama kekasihnya, berkasih mesra, mengikat janji lewat cincin pertunangan, sampai tahun 1959 lewat siaran RRI pemerintah Republik Indonesia mengumumkan kerjasama dengan pemerintah Moscow untuk mengirimkan para pelajar Indonesia melakukan tugas belajar di sana. Wi, salah satu yang beruntung untuk menunaikan tugas negara, menjadi duta bangsa menuntut ilmu di negara komunis bernama Uni Sovyet. Dengan janji akan kembali dan membangun hidup bersama setelah tugas belajar usai, Wi pun berangkat membawa bekal cintanya pada kekasih hati. Tahun berganti tahun, cinta merangkai kisah lewat surat menuyurat. Romantis, manis, lengket seperti aromanis merentang dalam utas-utas benang cinta meski ada jarak memisahkan.

Sampai satu hari, benang-benang cinta yang merentang itu terputus sama sekali oleh sebuah berita pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang memutuskan kerjasama apapun yang mengusung ideologi komunis. Wi si pemuda pelajar tiba-tiba saja tergantung di ujung seutas tali cinta yang putus oleh ideologi. Kisah yang merangkai lewat hantaran surat menyurat tiba-tiba terhenti, kabar pun tak mungkin terdengar lagi. Bukan hanya cinta yang terkatung-katung tanpa kepastian terpisah jurang ideologi, namun hidup Wi juga tak menentu. Wi tidak bisa membali ke Republik Indonesia tanah air, tanah cintanya. Ia terjebak di negeri asing di mana jembatan yang menghubungkannya dengan tanah tumpah darahnya terputus oleh situasi politik dan perbedaan ideologi.

Sementara sang kekasih yang menunggu dan menunggu tanpa kepastiaan dan harapan bahwa jembatan penghubung pada kekasih hatinya, Wi, akan tersambung kembali, terpaksa memutuskan menerima tawaran pemuda lain yang ingin membangun jembatan menuju hatinya. Biarkan kisah cintanya dengan Wi, tersimpan dalam di bagian hatinya yang tersembunyi. Hidup yang terus melaju menuntutnya menerima pinangan lelaki lain dan membangun hidup bersamanya di atas puing-puing impian cintanya bersama Wi.

Tahun demi tahun berlalu. Cintanya yang sedemikian besar pada kekasihnya menjadi cahaya di ujung lorong gelap yang penjang yang terus membuat Wi berusaha bersusah payah menjangkaunya. Tak peduli berapa lama waktu yang ia perlukan. Berpuluh-puluh tahun kemudian setelah berusaha tak kenal lelah, akhirnya Wi mendapatkan passport warga negara Indonesia. Perjumpaan dengan kekasihnya hanya tinggal beberapa langkah lagi. Namun di manakah kamu, sang kekasih?

Sang kekasih yang menua seiring waktu, menemukan bahagia yang lain. Bayang-bayang Wi yang kerap muncul dalam buih kopi yang di nikmatinya setiap pagi bersama lelakinya yang lain. Begitu pula Wi yang juga menua dan tetap bersetia pada cintanya. Dia seperti pangeran yang menunggu janji sang putri yang akan membukakan jendelanya di hari ke 100, namun sang pangeran memutuskan pergi di hari ke 99. Mungkin bagi Wi, kesejatian cintanya ada pada janji yang terus di genggamnya sampai ia mati nanti. Biarkan perempuan itu membangun hidup yang lain, karena kesejatian cinta sang kekasih ada pada saat ia mengenang Wi pada setiap cangkir kopi yang di nikmatinya setiap hari.

Di angkat dari kisah cinta yang nyata seorang pemuda bernama Widodo, seorang pria kelahiran Jawa Timur, 2 September 1940 mantan mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas Gajah Mada yang mengenyam pendidikan S2 di Institut Metalurgi Baja di Moskow, Uni Sovyet. Sang kekasih adalah anak sulung Direktur Perusahaan Soda dan Garam Negara di Jakarta pada tahun 1960-an. Sang kekasih belakangan diketahui sudah berkeluarga dan memiliki 4 orang cucu. Wi berharap suatau hari nanti masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan pujaan hatinya itu. Kini Wi berusia 71 tahun, memilih untuk tidak menikah dan bekerja sebagai salah satu ahli metalurgi di Playa, Havana, Kuba.

Sesudah pertunjukkan usai. Aku tak kuasa menahan haru. Bahkan keharuan itu masih kurasakan sampai saat ini. Jarang sekali aku bisa menangis haru karena sebuah pertunjukkan kalau bukan karena pertunjukkan itu begitu istimewa. Pertunjukkan bisu ini menurutku jauh lebih kuat memberi imajinasi rasa kepada para penonton untuk menafsir seperti apa rasa cinta yang dipisahkan ideologi ini. Tanpa berusaha menjadi komentator sosial, Papermoon justru berhasil menyampaikan betapa ideologi yang secara nalar mengajarkan cinta kasih tapi lupa pada rasa cinta itu sendiri. Itu sebabnya pada setiap jaman ideologi kerap memisahkan kisah cinta manusia yang mengamini ajarannya.  Pertunjukan yang merespon tempat (site specific performance), sangat terasa tergarap dengan sangat baik dengan takaran yang sangat pas: artistik yang pas dan tidak berlebihan, cerita yang pas, cara menampilkan realitas yang pas (ga lebay). Takaran yang pas ini justru berhasil meninggalkan kesan yang sangat mendalam kepada penonton (setidaknya aku). Kurasa sebuah pertunjukkan yang berhasil adalah pertunjukkan yang bisa 'mengganggu' penontonnya setiap kali mengingatnya. Dan Secangkir Kopi Dari Playa berhasil 'menggangguku' sampai saat ini.

Terima kasih Ria dan teman-teman Papermoon untuk pertunjukkan yang begitu istimewa dan menjadi  inspirasi bagi kami para penonton.


Tentang Secangkir Kopi Dari Playa bisa di lihat di sini
Tentang Papermoon bisa di lihat di sini 



Saturday, October 29, 2011

Menjadi Kecil Itu Pilihan


Tobucil jepretan Chandra Mirtamiharja
Aku sering sekali di tanya, apakah suatu hari nanti tobucil akan menjadi tobusar alias toko buku besar? meski seringnya kujawab sambil bercanda, tapi aku serius ketika bilang, tobucil akan tetap menjadi tobucil. Karena tobucil tetap memilih menjadi kecil. Sebagaian yang mendengar jawabanku bisa menerima meski mungkin ga ngerti-ngerti amat dengan maksudku 'tetap menjadi kecil' , tapi sebagian lagi biasanya langsung protes dan merasa aneh dan menganggapku tidak punya cita-cita besar dan tidak mau mengambil resiko menjadi besar. Biasanya aku akan balik berkata pada mereka yang merasa aneh itu, 'memilih tetap kecil itu bukan pilihan yang mudah loh.'

Mungkin ada teman-teman yang kemudian bertanya, 'mengapa menjadi kecil itu bukan pilihan yang mudah?' bukankan kecil  itu sepele, remeh dan sederhana? Ketika memulai sebuah usaha dari hal yang kecil, remeh dan sederhana, itu menjadi hal yang mudah dilakukan. Namun jika sebuah usaha sudah berlangsung sepuluh tahun dan tetap memilih jadi kecil, hal ini tidak lagi jadi pilihan yang mudah.

Dalam menjalankan usaha, waktu akan membawa kita pada masa pertumbuhan dan tempaan. Tahun-tahun pertama (tobucil dua tahun pertama) adalah masa bulan madu, dimana semangat masih menggebu-gebu, energi masih melimpah ruah, kesulitan dan masalah belum menjadi hantaman berarti, kerjasama masih terasa manis dan romantis. Ketika masa bulan madu berakhir, masa tempaanpun dimulai. Usaha yang kita bangun seperti dipaksa masuk ke dalam kawah candradimuka. Kongsi yang bubarlah, modal habis keuntungan belum juga nampak, mulai bosan karena usaha seperti jalan di tempat, tuntutan kebutuhan pragmatis (apalagi bagi yang sudah berkeluarga), jika tak tahan dengan tempaannya, ya kelaut aja. Usaha bubar jalan dan mungkin malah bikin kapok seumur-umur. Sementara jika berhasil menjalani semua tempaan itu, usaha kita akan naik tingkat. Kita akan menemukan formula untuk bertahan hidup dan bukan hanya itu saja, pintu-pintu menuju kesempatan yang lebih besar tiba-tiba terbuka lebar. Tiba-tiba segalanya jadi mudah, segalanya jadi mungkin dan kita merasa mampu menjalankan segalanya (padahal baru lulus tingkat satu doang). Seperti anak yang baru duduk di bangku kuliah dan merasa tahu banyak hal. Cobaannya bukan lagi hal-hal yang sulit, tapi cobaan datang dalam bentuk tawaran-tawaran yang menggiurkan.

Dari pengalaman menjalankan tobucil ini adalah fase yang justru sangat berbahaya. kalau tidak hati-hati dalam memilih dan mengambil kesempatan, resikonya adalah kehilangan fokus. Semangat yang muncul biasanya adalah semangat aji mumpung: 'mumpung ada kesempatan bla bla bla..' Kesalahan yang seringkali dilakukan pada fase ini adalah kita seringkali lupa mengukur diri. Seperti orang yang puasa hanya menahan lapar dan haus. Ketika waktu berbuka puasa tiba, segala makanan dan minuman yang ada masuk mulut. Akibatnya kekenyangan dan malah sakit perut. Kita yang baru menapaki anak tangga kedua, seringkali ingin buru-buru loncat lima anak tangga sekaligus, tanpa menyadari bahwa langkah yang paling lebar yang bisa kita lakukan hanya untuk melewati dua anak tangga sekaligus, bukan lima.

Dalam hal ini, aku termasuk yang percaya apa yang diperoleh dengan cara cepat, akan mudah lepas atau hilang, tapi apa yang diperoleh dengan susah payah, akan tahan lebih lama. Pada titik ini, sebenarnya kita akan dihadapkan pada pilihan menjadi besar dengan segera (besar secara revolusioner) atau menjadi besar sesuai dengan kecepatan alami  (evolutif)? Dua-duanya mengandung resiko. Ketika memilih menjadi cepat dengan segera, banyak hal dalam diri kita harus mengalami revolusi, termasuk orang-orang yang mendukung usaha kita. Pertanyaannya: sanggupkah kita? sanggupkah mereka? apa dampaknya jika revolusi itu harus terjadi? Dalam menjalankan usaha, tidak semua hal bisa dijawab dengan hitung-hitungan matematis. Intuisi dan kata hati tidak dapat diabaikan begitu saja. Pertanyaan-pertanyaan tadi bisa mendapat jawaban yang akurat, jika kita mau jujur mendengarkan intuisi yang didukung oleh perhitungan matematis. Bahkan kamu  yang terlahir dengan bakat petaruh handal sekalipun, pasti akan mengikuti intuisi dan perhitungan untuk menggandakan taruhan terbesar yang kamu mampu. Ini yang disebut dengan mengukur resiko. Kalau kamu dengan jujur dan yakin, sanggup menanggung resiko yang paling besar, maka jangan ragu memilih jalan menjadi besar secara revolusioner.

Menjadi besar secara revolusioner ini, bukan hanya persoalan resiko saja yang perlu kamu hitung, tapi juga persoalan percepatan sesudahnya. Maksudku, jika kamu yang biasanya mengerjakan pekerjaan dengan skala 1sampai dengan 10, lalu kamu secara revolusioner meningkatkan kapasitasmu menjadi 10.000 sampai 100.000 itu artinya kamu akan sulit untuk kembali lagi pada skala 1 sampai 10. Pada level berikutnya, kamu harus bertahan pada skala 10.000 sampai 100.000 atau menaikkannya menjadi 1.000.000. Semakin besar skalanya, semakin besar pula bebannya. Jika usahamu berdasarkan passion, biasanya pilihan ini membuatmu kewalahan menjaga passion. Target kuantitas menjadi lebih penting daripada persoalan passion dalam kualitas. Sejauhmana kamu sanggup memikulnya? Ini bukan persoalan takut atau tidaknya mengambil resiko, tapi kemampuan kamu untuk menghitung resiko mejadi penting. Aku inget omongannya Bucek Depp, sebagai orang yang menggemari olah raga ekstrem, Bucek pernah bilang bahwa seorang petualang itu harus mengenal rasa takut, biar dia bisa mengenali batas kemampuan maksimalnya. Seorang petualang yang tak mengenal rasa takut itu justru berbahaya, buat dirinya sendiri maupun orang lain, karena ga punya kendali.

Bagaimana halnya dengan menjadi besar dengan kecepatan alami (evolutif)? Biasanya ini berlaku bagi orang yang menjalankan usaha dengan mempertahankan kecepatan yang konstan karena takut passionnya tak terjaga, seperti menapaki anak tangga satu demi satu untuk sampai di atas. Sabar adalah kuncinya. Di satu sisi, akan memakan waktu yang lebih lama untuk sampai di tingkat berikutnya, dibandingkan dengan yang menjadi besar dengan cara cepat, tapi ketahanan kita ketika menjalaninya akan lebih terjaga. Di saat orang lain yang berlari atau loncat beberapa anak tangga sekaligus kelelahan, kita masih bisa melaju dengan energi yang tetap terjaga. Kita dapat menaikkan skala sedikit demi sedikit, sesuai dengan kemampuan kita.

Jika usaha yang kita lakukan berdasarkan pada passion, pilihan ini akan menjaga passion yang kita miliki karena beban yang harus kita jalani, masih diambang batas wajar. Disebut wajar karena kita tau batas maksimal yang bisa kita lakukan pada saat ini. Perlu diingat, batas maksimal itu bukanlah harga mati yang tidak dapat berubah. Dia bisa meningkat atau juga menurun tergantung dari upaya yang kita lakukan. Ketika kita terus belajar meningkatkan kemampuan  dan memberi tantangan pada diri sendiri untuk menguji kemampuan yang kita miliki, otomatis yang disebut batas maksimal itu akan semakin jauh. Maksimal itu seperti garis cakrawala, ketika kita terus berjalan mendekatinya, dia akan terus menjauh. Untuk mencapai yang terjauh itu, perlu waktu dan kesabaran.

***

Lalu dimanakah letak kesulitannya memilih untuk tetap menjadi kecil? Aku bisa menjelaskannya dengan analogi orang yang berdiet untuk menjaga kesehatan. Dia tau dia bisa memakan apapun yang ada di hadapannya, tapi dia memilih untuk menseleksi dan membantasi porsinya. Seminggu pertama masih terasa mudah, namun memasuki minggu kedua pilihan makanan yang beragam itu menjadi godaan yang berat untuk hindari. Dan yang paling bisa mendisiplinkan adalah dirinya sendiri.


Seperti nasehat bijaknya Seth Godin,

" Don't be small because you can't figure out how to get big. Consider being small because it might be better."

Dan tobucil memilih untuk tidak menjadi tobusar, bukan karena tidak mampu menjadi besar, tapi tobucil meyakini, passionnya ada pada yang kecil itu. Mengutip tulisan salah satu peserta klab menulis feature tentang tobucil: Menjadi kecil itu indah, menjadi kecil itu tidak mudah. Begitulah tobucil.


Museum Punya Siapa?

foto oleh vitarlenology
Beberapa waktu lalu, seorang teman memberitahukan bahwa sebuah museum pemerintah di Bandung membuka lowongan sukarelawan. Berbekal niat, ingin mengamalkan ilmu dan pengalaman permuseuman yang pernah kuperoleh beberapa tahun lalu, aku pun mendaftar sebagai sukarelawan. Rasanya sayang aja kalau ilmu dan pengalamanku itu tidak kuamalkan di museum di kota tempat tinggalku ini.

Baru ikut dua kali pertemuan, aku udah nyaris putus asa. Museum yang kutemukan tidak seperti yang kuharapkan (aku sempat menyalahkan diri sendiri, menganggap diriku bodoh karena menaruh harapan pada museum pemerintah). Fakta yang kutemukan, seorang kepala museum pemerintah itu merangkap kerja sebagai kurator museum, artistik, humas, programer, bendahara, bahkan eksekutor urusan teknis. Akibatnya, sulit sekali menemukan kualitas pada proses penyelenggaraan pameran yang serius, karena pekerjaan yang tumpang tindih itu tadi. Padahal referensi yang dijadikan acuan dalam penyelenggaraan pameran dan program cukup canggih. Cita-citanya selalu apa yang dilakukan museum-museum besar di Eropa, namun apa boleh buat, biasanya cita-cita kandas karena persoalan keterbatasan dalam mengeksekusi dan juga konsep yang kedodoran.

Di satu sisi menjadikan museum di Eropa sebagai acuan, bisa memberikan semangat bahwa ada standar tinggi yang perlu di kejar. Namun disisi lain, rasanya kok ga realistis. Dengan sikap pemerintah yang seringkali mendadak amnesia terhadap sejarah atau hanya mencuplik sejarah sepotong-sepotong demi legitimasi kekuasaan, strategi kebudayaan yang ga jelas, dan kebijakan-kebijakan  yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan yang serba sumir dan samar, pengelola museum yang sangat birokratis,  serta dampaknya pada cara pemerintah mengelola kesejarahan itu sendiri lewat museum; rasanya itu jadi alasan yang cukup kuat untuk menjadi putus asa dan skeptis pada dunia permuseuman di negeri ini (karena aku yakin kondisi museum pemerintah di tempat lain, bisa jadi lebih buruk dari si museum yang ada di Bandung ini).

Pada titik ini aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah aku akan termasuk ke dalam pihak yang putus asa dan skeptis atau yang masih menyimpan harapan meski ga tau harus bagaimana.

***

Sebelum tulisan ini menjadi kesinisan berkepanjangan, aku mencoba menggali kembali pengalaman mengikuti workshop pengembangan audience museum di Kuala Lumpur, pengalaman mengobservasi pengembangan audience museum di NYC, summer intern di program dewasa Brooklyn Museum juga pengalaman mengunjungi berbagai museum di beberapa negara kalau aku melakukan perjalanan. Dari deretan pengalaman ini, aku tidak sedang berusaha mengkontraskan kondisi museum di luar negeri sana dengan di sini. Aku justru menemukan beberapa pendekatan yang dilakukan oleh museum berdasarkan amatan dan pengalamanku yang berkaitan dengan museum.

Pertama, museum yang dikelola dengan pendekatan kekuasaan. Museum ini seperti museum-museum yang dikelola oleh pemerintah, tujuannya untuk memberi legitimasi pada penguasa yang sedang berkuasa. Biasanya sangat propaganda dan tidak memberi banyak pilihan tafsir terhadap peristiwa atau kesejarahan yang ditampilkan. Museum menjadi etalase kekuasaan, seperti sebuah lemari yang menyimpan benda-benda para penguasa. Tidak dapat sembarangan di buka, tapi juga seringkali tidak terlalu diperhatikan pemiliknya. Kurasi atau pemilihan karya didasarkan pada selera atau kepentingan penguasa, bukan pada metodologi riset yang sahih. Museum seperti ini biasanya lebih melayani kekuasaan daripada masyarakat. Yang penting ada dan biasanya tidak terlalu ambil pusing dengan ada atau tidaknya pengunjung yang datang.

Kedua, museum yang dikelola dengan pendekatan komunitas. Museum ini biasanya dikelola oleh organisasi masyarakat yang bekerjasama dengan pemerintah dan menjadikan komunitas juga masyarakat sebagai pihak yang harus dilayani oleh museum ini. Museum menjadi ruang yang merepresentasikan komunitas. Keberadaannya pun biasanya didukung oleh komunitasnya lewat donasi sukarela dari komunitas pendukungnya. Museum dengan pendekatan seperti ini, sangat menjaga hubungan baik mereka dengan pengunjung atau komunitasnya. Program-program yang dijalankan oleh museum juga biasanya didasarkan pada kebutuhan komunitasnya. Para pendukung dan sponsor biasanya sangat memperhatikan bagaimana museum ini berdampak bagi komunitasnya. Jumlah pengunjung dari sebuah pameran menjadi salah satu indikator penting, sukses tidaknya sebuah pameran. Biasanya pula, museum seperti ini memiliki audience yang memiliki tingkat apresiasi yang lebih baik, karena dialog yang terjadi antara museum dan audiencenya berlangsung dua arah. Museum menjadi ruang belajar bersama antar komunitas.

Ketiga, museum yang dikelola dengan menggabungkan pendekatan kekuasaan dan komunitas. Museum-museum seperti ini sangat sadar bahwa legitimasi kekuasaan tidak mungkin diperoleh dari komunitas pendukungnya. Biasanya museum-museum pribadi yang kemudian membuka dirinya untuk umum, menjadi semacam etalase pencitraan perorangan atau kelompok tertentu. Museum seperti ini, seringkali mengalami persoalan kesulitan mencari sponsor dan komunitas pendukung, jika strategi pengelolaannya tidak berimbang antara kepentingan pemiliknya dan komunitasnya. Museum seperti ini sangat bergantung pada sekuat apa individu ini mampu mengelola pencitraannya. Karena membangun pencitraan lewat museum bukanlah hal yang mudah dan murah.

***

Dari apa yang kuamati dan kualami, komunitas sebenarnya  menjadi hal yang sangat penting dalam keberlangsungan sebuah museum. Secara pribadi aku sangat berpihak pada museum yang dikelola dengan pendekatan komunitas atau minimal museum yang melakukan pendekatan kekuasaan dan komunitas. Bagiku, komunitas menjadi jawaban dari pertanyaan klasik: 'museum itu sesungguhnya punya siapa?' 

Indikator yang paling sederhana adalah dari program museum itu sendiri. Kita bisa melihat perbedaan pendekatan ini dari program yang ada di museum itu sendiri. Seberapa banyak program-program yang berkaitan dengan publik, masyarakat atau komunitas. Interaksi dengan publik, masyarakat atau komunitas ini sesungguhnya yang membuat museum yang menyimpan artefak masa lalu itu berdialog dengan masa kini dan yang akan datang.

Museum yang hanya melayani kepentingan penguasa, seperti kumpulan koleksi kuno yang makin lama makin kehilangan makna dan konteks jaman dengan penikmatnya.  Apa gunanya artefak-artefak itu dipajang bertahun-tahun dalam satu ruangan yang sama dengan keterangan yang sama tanpa kontekstualisasi terhadap kekinian (sayangnya museum-museum yang dikelola pemerintah Indonesia banyak sekali yang seperti itu, apalagi museum-museum daerah). Padahal kekuasaan pun mestinya menyadari bahwa dirinya bagian dari proses estafet yang panjang. Kekuasaan sekarang, jika mau sedikit cerdas, bisa belajar banyak dari kekuasaan di masa lalu untuk mencari cara melanggengkannya di masa datang. Dan museum sesungguhnya bisa menjadi ruang belajar itu.

Sementara museum yang mampu berdialog terus menerus dengan masyarakat atau komunitasnya, seperti sebuah jembatan dari masa lalu, masa kini dan yang akan datang, sehingga membantu masyarakat atau komunitas penikmatnya memberi pegangan yang jelas atas kesejarahan dan identitas mereka sebagai bagian dari komunitas yang diwakili oleh museum. Aku jadi ingat bagaimana Queens Museum di Queens borough New York City, menyelenggarakan program kursus bahasa inggris bagi komunitas hispanik dengan pengantar bahasa Spanyol. Lokasi museum ini memang terletak di wilayah komunitas hispanik dan sebagian komunitas itu memang tidak bisa berbahasa Inggris. Itu sebabnya museum punya tugas untuk membuat program yang sesuai dengan kebutuhan komunitasnya.

Kadang ironis,  aku justru mendapatkan pemahaman baru tentang ke Indonesiaanku saat mengunjungi museum di luar negeri yang menempatkan artefak budaya Indonesia sebagai bagian dari kesejarahan mereka. Bagiku, penting untuk mengetahui bagaimana Indonesia sebagai bagian dari identitasku, dipandang dan ditempatkan dalam bagian sejarah orang lain. Dengan begitu, sebagai warga negara aku jadi belajar bagaimana seharusnya identitas kebangsaanku, aku bangun. Karena secara personal, setiap individu pasti membutuhkan orang lain untuk memvalidasi dirinya: apa arti aku dalam hidupmu, apakah kamu 'melihatku', apakah 'kamu mendengar suaraku? Dan dalam konteks yang lebih besar, setiap kebudayaan, bangsa  bahkan peradaban pun membutuhkan budaya, bangsa dan perabadan lain untuk memvalidasi dirinya, salah satunya museum memiliki peran untuk itu. Museum menurutku bukan hanya etalase artefak kebudayaan semata, tapi bagaimana cara budaya itu memandang dirinya sendiri dan orang lain yang sejatinya dapat direpresentasikan lewat museum.

***
Sampai titik ini, apa yang aku sampaikan mungkin masih terlalu abstrak. Pendekatan komunitas yang menurutku jawaban untuk menjawab pertanyaan museum itu punya siapa? membutuhkan strategi komunikasi yang mengakomodasi sebanyak mungkin kebutuhan dan kepentingan komunitas (kalaupun tidak seluruh kepentingan dapat terakomodasi). Strategi ini pun perlu dijabarkan dalam program-program yang membangun dan memperkuat jembatan terhadap komunitasnya. Setidaknya program dari komunitas pendukung museum dapat menambal kekurangan-kekurangan yang ada seperti keterbatasan sumber daya seperti halnya ketumpang tindihan tugas seorang kepala museum.

Jadi sepertinya aku tidak boleh buru-buru skeptis dan kehilangan harapan tehadap museum di kotaku. Jika ide-ideku yang berpihak pada museum dengan pendekatan komunitas sulit diterima oleh museum yang bersangkutan, aku sebenarnya tetap bisa mengambil semangatnya dan merealisasikannya dalam bentuk program yang bisa aku jalankan di komunitas pendukung museum itu, di tobucil misalnya. Aku tinggal menyambungkannya dengan apa yang si museum upayakan. Jika saat ini baru seutas tali dan bukan jembatan kokoh yang dapat menyambungkannya, mestinya tidak jadi masalah yang penting ada yang menyambungkan. Lama-lama jika tali temali yang menyambung semakin banyak, jembatan yang terbangun bisa menjadi lebih kuat, karena lewat jembatan itulah harapan tentang permuseuman di negeri ini bisa tetap ada dan standar tinggi seperti museum-museum di Eropa sana, sedikit demi sedikit bisa di dekati. Semoga.


Gudang Selatan,
00.03

Monday, September 26, 2011

Mari Mulai Mengatur Ide

foto by vitarlenology
Ketika memulai Tobucil, tahun 2001 lalu, aku memulainya dengan semangat, antusiasme dan ide-ide yang membludak. Belum selesai satu ide di jalankan, sudah muncul banyak ide yang lain. Rasanya ingin menjalankan semua ide-ide itu dalam satu waktu sekaligus.

Awalnya mengikuti perjalanan ide di saat memulai usaha, sangatlah menyenangkan dan menggairahkan.  Namun ketika guliran ide menjadi seperti bola salju yang kian membesar, aku menjadi kewalahan dan akhirnya terlibas olehnya. Aku tidak lagi bisa mengendalikan ide-ide itu, tapi ide-ide itulah yang mengendalikan aku.

Aku merasakan tanda-tanda  ketika aku  dikuasai oleh ide adalah ketika aku merasa kewalahan dengan ide-ide  itu sendiri. Terlalu banyak ide yang menggelinding, sampai-sampai aku ga tau ide mana dulu yang perlu di realisasikan.  Aku jadi kehilangan kemampuan untuk membuat skala prioritas, karena semua ide sangat menggoda dan menarik perhatian. Semua ide seperti minta di realisasikan dalam waktu yang bersamaan. Ide-ide itu seperti antrian orang-orang yang berebut  mendapatkan karcis masuk. Padahal ide sebenarnya bisa 'antri' dengan lebih tertib dan satu persatu mendapat tiket masuk. Akulah yang seharusnya mengatur antrian ide-ide itu melalui skala prioritas. Percayalah, ternyata ide itu bisa menunggu dengan sabar dan justru membutuhkan waktu untuk menjadi lebih matang.

***

Mengapa mengendalikan ide yang membludak itu menjadi penting dalam memulai sebuah usaha?  Mengacu pada pengalamanku sendiri, aku memulai tobucil dengan sumber daya yang sangat terbatas. Modalnya hanya semangat dan idealisme. keduanya sama abstraknya dengan ide. Waktu itu aku ga punya pengetahuan tata kelola atau pun ilmu bisnis sama sekali apalagi modal finansial yang mencukupi. Aku hanya mengandalkan intuisi dan sumber daya finansial yang sangat terbatas.

Di satu sisi, keterbatasan sumber daya ini bisa menjadi hambatan, jika aku tidak berhasil menjembatani antara keterbatasan  itu dengan ide yang mengalir sedemikian deras. Di sisi lain, keterbatasan justru yang membantuku untuk lebih bisa mengendalikan ide-ide itu. Mana ide yang paling realistis untuk di jalankan terlebih dahulu sesuai dengan kemampuan? sehingga bisa membuatku fokus, mengerjakan ide-ide itu satu persatu.  Percayalah, ketika satu ide selesai dikerjakan sesuai kapasitas , sumber daya akan berkembang dan bertambah mengikuti antrian ide.

Antrian ide itu seperti tangga yang menyambungkan lantai satu dengan lantai yang lain. Ketika kita ingin sampai di lantai dua, kita mesti memulainya dari anak tangga pertama. Pada anak tangga pertama, kita akan menemukan keyakinan dan kepercayaan diri bahwa ternyata  kita bisa memulai merealisasikan ide yang berdesak-desakan di kepala. Setiap hal besar di dunia ini selalu di mulai dari langkah pertama.

 Pada anak tangga kedua, keyakinan kita akan menjadi lebih kuat. Perasaan optimis bisa sampai lantai dua  menjadi semakin besar. Dan jangan kaget, ketika sampai tengah-tengah, akan muncul keraguan yang dapat menggoyahkan semua semangat, optimisme dan keyakinan diri itu tadi. Saat menoleh ke belakang, kita melihat sudah banyak anak tangga yang berhasil dilalui. Namun saat menatap ke depan, ternyata masih banyak anak tangga yang mesti di tapaki untuk bisa sampai ke lantai dua. Sementara kelelahan  mulai menghinggapi  dan sumber daya terasa menipis, sedangkan perjalanan masih panjang.

Tidak ada salahnya untuk berhenti sejenak. Nikmati segala kelelahan itu, tarik pembelajaran dengan melihat kekurangan dan kelebihan cara kita menapakinya dari setiap anak tangga yang telah berhasil dilalui.  Sambil menyusun koreksi dan revisi dari setiap kekurangan untuk menapaki sisa anak tangga di depan dengan cara yang lebih baik dan lebih efisien.

Menantang diri sendiri dengan pertanyaan: 'lanjut atau cukup sampai di sini? juga sangat diperlukan. Pertanyaan itu akan membantu kita untuk  belajar menghitung resiko dari pilihan lanjut atau berhenti itu tadi. Tidak ada pilihan yang tidak mengandung resiko. Bahkan memilih bahagia pun ada resikonya. Belajar menakar kemampuan diri untuk menghadapi resiko, itu akan membantu  melatih daya tahan kita untuk memperjuangkan ide-ide yang ingin di realisasikan ke depannya. Jangan jadikan resiko menjadi halangan atau ketakutan untuk melangkah. Jadikan resiko sebagai teman yang memandu mengenali batas  dan kapasitas maksimal diri kita. Petualang yang tangguh itu bukan petualang tanpa rasa takut. Tanpa rasa takut, seorang petualang justru bisa membahayakan dirinya bahkan orang lain. Sesungguhnya, ketika menapaki anak tangga itu, kita sekaligus belajar mengenali ketakutan kita sendiri.

Jadi jangan pernah takut dengan ide-ide yang membludak penuh semangat, karena yang perlu dilakukan adalah membuat ide-ide itu antri dengan tertib dan terealisir satu per satu seperti tongkat estafet yang berpindah dari pelari satu ke pelari lain dengan jarak yang makin lama makin mendekati tujuan. Sehingga  diri ini terus tumbuh dan mengantarkan  pada cita-cita. @vitarlenology


Tulisan ini di bagikan pula melalui blog design by vitarlenology, tobucil handmade 

Dua Puluh Tahun Tumbuh Bersama Pearl Jam



Tulisan yang aku posting di sini adalah versi sebelum di edit redaksi majalah Tempo, versi majalah bisa di baca dengan mengklik gambar di atas

Saat Eric Clapton sibuk menyanyikan Tears in Heaven di panggung MTV Video Music Award 1992, Eddie Vedder  (vokalis Pearl Jam) dan Kurt Cobain (vokalis Nirvana), malah sibuk berdansa dengan mesra di belakang panggung. Orang-orang di sekelilingnya tampak tidak mempedulikan mereka. Usai berdansa, mereka berdua berpelukan layaknya dua orang sahabat. Gambaran ini jauh dari gembar-gembor media yang saat itu justru sibuk memposisikan Pearl Jam dan Nirvana sebagai rival  yang saling bermusuhan.

Cameron Crowe, jurnalis dan sutradara yang dikenal lewat film Singles (1992), Jerry McGuire (1996), Almost Famous (2000)  menyusun kembali footage sepanjang 1200 jam menjadi film dokumenter berdurasi 109 menit dengan judul PJ20.  Film ini diputar sekali saja secara serentak di seluruh dunia pada tanggal 20 September, termasuk Indonesia. Upaya Pearl Jam Indonesia (fans club PJ di Indonesia), bersama Bioskop Merdeka dan Heaven Records sebagai penyelenggara, berhasil mengundang antusiasme lima ratus penggemar yang  memadati studio XXI, Epicentrum Jakarta, meski pemutaran terlambat satu jam dari yang sudah ditentukan.

Pada dasawarsa 90-an, Seattle Sound adalah kiblat musik sulit dihindari. Grunge yang dipopulerkan media sebagai aliran musik dari Seattle, menempatkan Soundgarden, Pearl Jam, Nirvana, Alice in Chains, sebagai idola baru yang mendunia. Perkembangan dan dinamika sosial Seattle Sound ini di jelaskan dengan sangat baik dalam film dokumenter berbeda garapan Doug Pray, Hype! di tahun 1996.

Adalah Stone Gossard (gitar) dan Jeff Ament (bas) pada tahun 1988, bersama Andrew Wood sang vokalis, membentuk band yang mereka namai Mother Love Bone (MLB). Karisma Andrew Wood melejitkan MLB dan menjadikannya band paling menjanjikan di Seattle pada saat itu. Kematian Andrew Wood yang tiba-tiba pada tanggal 19 Maret 1990 akibat overdosis heroin, memporak porandakan band yang tengah sibuk mempersiapkan debut album mereka. Setelah kematian Wood, Gossard dan Ament mencoba membentuk format band baru. Lewat tangan Jack Irons (mantan drummer Red Hot Chili Peppers), single demo yang digarap Gossard dan Ament sampai ke tangan Eddie Vedder dan menerbangkan pemuda  pemalu yang bekerja sebagai penjaga malam asal San Diego ini ke Seattle untuk bergabung bersama Stone Gossard, Jeff Ament, Mike McCready  dan membentuk band yang kemudian mereka beri nama Pearl Jam.

Crowe tidak hanya berusaha meluruskan kesimpang siuran ‘mitos perselisihan’ PJ dengan Nirvana, namun memperjelas kekuatan PJ sebagai sebuah band yang bisa menyuarakan kegelisahan individu generasinya. Eddie Vedder sebagai vokalis dengan karismanya menjadi juru bicara tanpa rasa takut dan tidak mengenal kompromi, ketika berhadapan dengan kekuatan yang berusaha mendikte proses PJ dalam berkarya dan mengganggu kedekatan mereka dengan para penggemarnya seperti yang mereka lalukan terhadap Ticket Master. Keterlibatan PJ pada aktivisme sosial: keberpihakan mereka pada Pro Choice, dukungan terhadap pembebasan Tibet, West Memphis Three dan mantan kandidat presiden Ralp Nader, juga sikap anti perang dan kebijakan Bush. Sikap seperti ini yang menjadikan PJ sebagai band yang konsisten terhadap keberpihakannya namun sekaligus menjadi band paling sulit dimengerti.

Matt Cameron (mantan drummer Sundgarden) yang semula berada di luar PJ, namun akhirnya ditarik masuk sebagai drumer, lewat PJ20 mengakui bahwa PJ bukan band yang mengambil pengaruh dari luar mereka, namun justru kekuatan karakter para anggotanya sendiri  yang saling mempengaruhi dan membentuk mereka. Pergulatan untuk terus menjadi diri mereka sendiri tanpa kehilangan harmoni untuk bertahan dan berkembang hidup bersama selama dua puluh tahun menjadikan Pearl Jam termasuk satu dari sedikit band besar yang dengan kerendahan hati mengkritisi diri sendiri serta eksistensi mereka  secara terbuka kepada penggemarnya.

Bagi penggemar berat PJ yang sudah khatam membaca biografi mereka, retrospektif sejarah yang ditampilkan lewat PJ20, seperti cerita yang diulang-ulang untuk menguak yang tersembunyi, memperjelas yang samar dan menemukan makna baru dari peristiwa yang sama. Sebelumnya, Crowe pernah memproduseri video dokumenter Pearl Jam: Single Video Theory ketika menjalani proses rekaman album Yield pada tahun 1998. Sebagian footage di  film ini kembali di tampilkan pada PJ20. Meskipun demikian Crowe berhasil membawa penggemar beratnya pada perspektif baru dan  pemahaman yang lebih dalam tentang PJ sebagai sebuah band. Namun bagi penggemar yang lebih akrab dengan musiknya dari pada sepak terjangnya, Crowe berhasil memberikan rangkuman yang komprehensif tentang sepak terjang PJ selama 20 tahun tanpa melebih-lebihkannya. Terasa sekali bahwa film ini dibuat oleh seseorang yang sangat mengenal PJ bukan hanya sebagai sebuah band, namun juga PJ secara personal.

Sebagai penggemar yang seluruh masa remajanya dipengaruhi oleh mereka, film ini menjadi momen untuk merenungkan kembali  apa yang membuat saya bersedia menunggu  17 tahun untuk bisa menyaksikan konser di Madison Square Garden , NYC, 2008 lalu dan melakakukan perjalanan spiritual ke Seattle hanya untuk merasakan udara yang menghidupi kreativitas mereka. Apa arti     bertahan sampai 20 tahun, saya kira bukan hanya personil PJ saja yang merenungkan itu,  namun penggemar setianya pun pulang menonton sambil mencoba menemukan jawaban dalam diri mereka masing-masing.


Tarlen Handayani, Penggemar berat Pearl Jam sehari-hari bekerja untuk Tobucil & Klabs.

Saturday, August 27, 2011

Pertanggung Jawaban Energi

Singapore Art Museum, Agustus 2011. Photo by Vitarlenology

"Please take responsibility for the energy you bring into this space."

Hampir setahun terakhir ini, aku belajar Tai Chi. Sebuah ilmu bagaimana mengolah energi yang ada dalam diri yang menemukan keseimbangannya dengan energi semesta. Hal yang memotivasiku untuk belajar Tai Chi yang biasanya populer dilakukan oleh para orang tua adalah sebuah adegan di film (aku lupa judulnya) yang diperankan oleh Jet Li. Di film itu, Jet Li mengalami gangguan jiwa setelah di kalahkan oleh musuhnya. Dalam kondisi seperti itu yang dilakukannya adalah memandangi bagaimana air di dalam baskom bergerak-gerak mengikuti angin yang bertipu. Dari situ, Jet Li justru menemukan rahasia untuk mengalahkan musuh yaitu melawan musuh dengan energi si musuh itu sendiri. Semakin besar energi musuh yang digunakan untuk menyerangnya, semakin besar pula energi yang didapatkannya untuk menyerang balik si musuh. Jadi sebenernya Jet Li, tidak mengeluarkan energi sama sekali. Dia hanya meminjam energi musuh. Di Tai Chi, prinsip-prinsip ini dipelajari dan dipraktekan dalam gerakan-gerakannya. Bagaimana mengambil energi dari sekeliling, mengembalikannya dan juga menyimpan yang baik dan membuang yang merusak. Aku masih sangat-sangat pemula dalam ber Tai Chi. Namun yang kurasakan, semakin kupelajari, semakin aku menyadari energiku sendiri dan bagaimana berhubungan dengan energi alam semesta.

***

Dalam keseharian, ternyata prinsip dasar Tai Chi ini sangat bisa di aplikasikan. Ambil saja contoh dalam soal berhubungan dengan orang lain. Hubungan-hubungan yang hanya menguras dan merusak energi kita, sebaiknya dihindari atau diputuskan jika sudah terlanjur terhubung dengan energi yang seperti itu. Melalukannya memang tidak semudah menganjurkannya, tapi berdasarkan pengalaman ternyata ga sesulit yang dibayangkan juga. Sesungguhnya jika mau jujur, kita sendiri bisa merasakan apakah ketika berhubungan dengan orang lain, energi kita berkembang dan menjadi lebih besar atau justru terkuras habis dan lelah pada akhirnya? Dan jika dilatih kita bisa mengotrol energi yang kita lepaskan ketika kita berinteraksi dengan orang lain dan semesta tanpa menjadi berpura-pura. Energi kita itu jujur dan apa adanya, karena dia terpancar langsung dari mata hati. Aku bisa berpura-pura hepi, padahal yang terpancar justru sebaliknya.

Quote yang kudapatkan dari show terakhir Oprah ini, membuatku merenung. Rasanya selama ini, aku tidak sungguh-sungguh menyadari bahwa sekecil apapun energi yang kupancarkan pada sekelilingku, aku memiliki tanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkannya. Energi yang begitu abstrak itu, seringkali luput dari kesadaranku. Seolah-olah ketika memasuki ruang, hanya keberadaan fisik yang perlu bertanggung jawab. Aku sering kali lupa bahwa energi yang mencapai dan mengisi ruang itu terlebih dahulu sebelum fisik menjangkaunya, juga tak luput dari kesadaran untuk bertanggung jawab.

Kesadaran ini akan membuat aku, sebagai kesatuan diri dan energi yang menyertainya, menjadi tidak sembarangan melepaskan energi-energi negatif kedalam ruang kehadiranku. Seperti temanku yang psikolog itu pernah bilang bahwa: "dunia ini mengalami defisit energi positif." Terlalu banyak drama, terlalu banyak kesedihan, terlalu banyak keputusasaan yang membuat ruang kehadiran diri menjadi sesak dipenuhi energi negatif yang dilepaskan tanpa tanggung jawab dan kesadaran. Bagaimanapun, kesadaran adalah kelebihan manusia yang tidak dimiliki mahluk lainnya. Dengan kesadaran, manusia memiliki kemampuan untuk memilih untuk melepaskan energi positif atau negatif pada ruang keberadaan dirinya. Tai Chi yang kupelajari, mengajarkan aku bagaimana bertanggung jawab dengan energi yang kubawa pada ruang keberadaan diriku dan menetralisir pengaruh-pengaruh energi negatif yang menghampiriku.

Aku sadar, bahwa sebagai manusia aku seringkali tidak menyadari bahwa energi yang kubawa menyakiti banyak orang atau merusak dan negatif buat sekelilingku. Namun kesadaran yang senantiasa terjaga, bisa menjaga apakah energi negatif merusak yang kulepaskan itu lebih banyak jumlahnya atau lebih sedikit. Semakin merasa banyak energi negatif yang dilepaskan, bisa jadi motivasi untuk lebih banyak lagi melepaskan energi positif untuk menetralisirnya. Intinya adalah keseimbangan, Yin dan Yang. Tidak ada yang sempurna di dunia ini dan tidak ada pula keseimbangan yang tetap. Seperti keseimbangan yang ada dalam semesta yang terus bergerak dan mencapai titik yang benar-benar seimbanga hanya dalam hitungan sepersekian saja, sisanya adalah pergerakan menuju keseimbangan itu sendiri. Menjaga keseimbangan itu seperti hukum kekekalan energi :
"Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tapi tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan (konversi energi)". Hukum Kekekalan Energi (Hukum I Termodinamika) 
Keseimbangan ada pada bagaimana perubahan bentuk ke bentuk lain itu berdampak pada sekelilingnya dan kesadaran seperti masinis yang menentukan kemana perubahan itu akan menuju. Jika sekarang ini, hidup terasa makin sulit dan absurd, pragmatis dan menihilkan harapan, aku memilih untuk melawan itu dengan berusaha lebih bertanggung jawab terhadap pada energi yang kulepaskan, sekecil apapun itu. Membagi lebih banyak energi positif dengan cara sesederhana apapun itu. Dalam kaitannya dengan tanggung jawab dalam melepaskan energi, kampanye 'hidup hijau' atau greenlifestyle bisa dimulai dengan kesadaran untuk melepaskan energi pada sekeliling kita dengan lebih bertanggung jawab.

Gudang Selatan,
27 Agustus 2011

Sunday, June 19, 2011

Only a Dad

My Dad

By Edgar Albert Guest 1881–1959
 
Only a dad, with a tired face,
Coming home from the daily race,
Bringing little of gold or fame,
To show how well he has played the game,
But glad in his heart that his own rejoice
To see him come, and to hear his voice.

Only a dad, with a brood of four,
One of ten million men or more.
Plodding along in the daily strife,
Bearing the whips and the scorns of life,
With never a whimper of pain or hate,
For the sake of those who at home await.

Only a dad, neither rich nor proud,
Merely one of the surging crowd
Toiling, striving from day to day,
Facing whatever may come his way,
Silent, whenever the harsh condemn,
And bearing it all for the love of them.

Only a dad, but he gives his all
To smooth the way for his children small,
Doing, with courage stern and grim,
The deeds that his father did for him.
This is the line that for him I pen,
Only a dad, but the best of men.
 
Puisi ini diambil dari  sini

Saturday, June 11, 2011

Hey Para Orang Tua, Kejujuran Macam Apa yang Ingin Kau Ajarkan Pada Anak-anakmu?

Orang tua murid seorang sisa SD berinisial AL yang melaporkan kecurangan sekolah, karena membiarkan muridnya mencontek masal pada saat ujian, malah dilabrak banyak orang tua murid lainnya. Akibat laporan ini, kepala sekolah dicopot dari jabatannya. Para orang tua murid yang marah ini, tidak terima orang tua AL melaporkan kecurangan itu dan membuat ujian akhir terancam harus di ulang lagi. Orang tua AL yang berprofesi sebagai buruh dan penjahit ini, malah dimaki-maki. Reaksi ini membuat orang tua AL minta maaf karena tidak bermaksud mempermalukan nama sekolah. (Baca berita lebih lengkapnya di sini dan di sini).

Aku bener-bener terpaku bisu. MASYARAKAT  MACAM APA INI???? yang salah dibenarkan, yang benar malah disalahkan. Semula aku masih mengira, apa ini mimpi buruk? karena film-film Hollywood yang sering dituduh merusak moral generasi muda, sejauh yang aku tonton justru mengajarkan nilai moral sebaliknya: 'Kejujuran adalah hal penting yang harus kamu bela sampai mati sekalipun'. Dan yang terjadi pada orang tua AL, justru berlawanan dengan keyakinan soal kejujuran.

Aku memang belum pernah punya anak, tapi aku sampai sekarang  adalah seorang anak. Orang tuaku mengajarkan kejujuran adalah keutamaan nilai sebagai manusia. Kejujuran itu penuh resiko, tapi jika dipegang teguh, ada kualitas yang bisa diraih sebagai manusia. Ada kepatuhan  pada Tuhan yang tidak pernah bisa dibohongi. Ketika mendengar berita ini, aku sungguh terpukul. Apa  yang dilakukan oleh orang tua AL tentu saja tak bisa dibantah kebenarannya. Namun, ketika kebenaran ini harus berbenturan dengan kepentingan banyak orang, keuntungan banyak orang, mengapa kebenaran itu yang harus mengalah pada keuntungan mayoritas yang sesungguhnya mayoritaspun tau bahwa itu adalah kecurangan. Sedihnya lagi, mengapa orang tua AL yang harus minta maaf, bukannya orang tua murid yang lain yang sudah bersalah mengajarkan anaknya berbuat curang. Kenyataan ini bener-bener jauh lebih buruk dari mimpi buruk sekalipun. Kerena ini real dan nyata. Sementara mimpi buruk, aku bisa bangun dan terbebas darinya.

Ketika orang tuaku mengajarkan pondasi kejujuran, aku akan sangat protes ketika mereka melakukan tindakan yang menyalahi atau berseberangan dengan ajaran mereka. Aku menggugat mereka karena mereka tidak konsisten. Aku protes dengan menjadi tidak patuh, karena kepatuhan pada aturan yang tidak ditegakkan adalah sia-sia. Sekarang, jika pondasi itu sendiri tidak dibangun, bagaimana bisa seorang anak mengetahui bahwa apa yang diajarkan oleh orang tuanya secara moral tidak dapat dibenarkan?

Aku yakin, para orang tua yang marah ini, pasti mencaci maki para perampok (koruptor terlalu halus) uang negara. Aku yakin, para orang tua yang marah ini, pasti tidak terima jika dirinya di tidak adili. Aku jadi ga ngerti, kejujuran macam apa yang kemudian diajarkan mereka pada anak-anaknya? haruskan meminta maaf pada kebenaran yang kita pertahankan?

Dilain kesempatan, aku mendengar cerita dari temanku yang berusaha menjadi kepala sekolah yang jujur dan tidak mau terlibat dalam sistem yang curang. Waktu itu dia diminta untuk memberikan kunci jawaban pada murid-muridnya, biar lulus semua di ujian akhir.Temanku itu malah mendapat intimidasi. Untungnya, temanku ini punya keberanian untuk bertahan pada prinsipnya. Saat itu ketika ada beberapa muridnya yang ga lulus, dia terima dengan santai. Ketidak lulusan muridnya itu, justru menjadi bahan koreksi buat temanku memperbaiki diri dan kualitas sekolahnya. Temanku itu bilang padaku: "Kejujuran apa yang patut untuk diajarkan pada seorang murid, jika aku sebagai kepala sekolah tidak bisa berlaku jujur. Aku bisa mencurangi orang lain dan membohonginya, tapi aku ga pernah bisa berbohong pada diriku sendiri, bahwa yang kulakukan sangat tidak patut."

Kepada para orang tua, apa yang penting kemudian: membesarkan anak yang dianggap pintar karena curang atau pintar karena dia jujur? Mari tengok diri sendiri lalu bertanya pada nurani kita: kejujuran macam apa yang kita yakini?  Jangan-jangan kita termasuk kaum oportunis yang kita cela-cela setiap hari: Jujur ketika kita diuntungkan dan menggadaikan  kejujuran itu  karena tidak mau kehilangan keuntungan? Dengan mentolelir kecurangan-kecurangan sedari kecil, seperti yang dilakukan para orang tua yang marah itu, sesungguhnya kita sedang mempersiapakan anak-anak kita menjadi koruptor di masa datang. Apa memang itu yang akan dipilih?

Monday, April 18, 2011

Ibu, Bapak dan Sinkronisasi Keyakinan

Saat kondisi bapakku tiba-tiba kritis dan sakratul maut datang menjelang, ibuku bertanya pada bapakku:
"Pak, Kamu ingin menghadap Tuhan ditunggui pastor atau orang-orang mesjid? Ibu ikhlas, kalau bapak, mau kembali menghadap Tuhan dalam Katolik, ibu tidak akan menghalangi.."
Bapakku dengan nafas terakhirnya yang tersengal-sengal, menjawab:
"Bapak ingin menghadap Tuhan dalam Islam. Bapak sudah yakin bu.."

 ***

Saat menikahi ibuku, bapakku menyetujui mengikuti agama ibuku daripada tetap dalam Katolik. Dua kalimat syahadat menjadi mas kawin pernikahan mereka. Namun pindah agama bukan persoalan mengganti tulisan di KTP atau kartu identitas dari agama A mejadi B. Bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan tiada rasul selain Muhamad, tidak serta merta mengiringi berpindahnya sebuah keyakinan. Meski pindah agama, bapakku membesarkan anak-anaknya tetap dalam disiplin dan logika Katolik yang begitu kental. Bapakku memang tidak pernah mengemukakan doktrin-doktrin Katolik, tapi yang dia ajarkan dan contohkan pada anak-anaknya adalah ajaran Katolik yang sejak kecil sampai dia menikah dengan ibuku telah terinternalisasikan dalam diri dan menjadi nilai-nilai kehidupannya yang tidak begitu saja bisa dicabut dan diganti dengan yang baru.

Sementara bagi ibuku, berpindahnya keyakinan bapakku dari Katolik menjadi Islam, tidak bisa diartikan sebagai sebuah "kemenangan" seperti yang diyakini para pemeluk agama yang konservatif tentang keyakinan meng'islamkan' orang-orang non muslim. Justru yang dihadapi jauh lebih sulit, karena ini menyangkut perpindahan keyakinan yang telah menjadi logika, cara pandang, disiplin. Meski pada akhirnya solat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, namun disiplin Katoliknya tidak pernah bisa hilang. Dan aku menyaksikan bagaimana bapakku berusaha menemukan sinkronisasi disiplin Katolik yang menjadi laku hidupnya itu dengan keyakinannya yang baru. Aku bisa merasakannya, bahwa itu bukan jalan yang mudah. Bukan hanya bapakku saja yang berusaha, ibu dan anak-anaknya pun berusaha.

Pergantian keyakinan seperti sebuah proses sinkronisasi yang membutuhkan waktu seumur hidup, terhitung sejak keyakinan itu dinyatakan berganti. Pergantian itu baru bisa dilihat berhasil atau tidak, justru diputuskan pada saat nafas terakhir dihembuskan. Sinkronisasi keyakinan dari yang lama kepada yang baru, tidak hanya berdampak pada individu yang melakukannya pergantian itu, tapi orang-orang di sekelilingnya yang menjadi bagian dari sistem bernama keluarga.

Aku beruntung, mendengar langsung keputusan yang luar biasa dari bapakku. Ia menyatakan dirinya berhasil menemukan sinkronisasi itu, setelah berpindah selama 28 tahun. Dan ibuku, dengan penuh keberanian dan kelegaan hati, siap menerima apapun keputusan bapakku dengan keyakinannya itu. Ibuku bisa membuat bapakku berganti keyakinan di atas kertas, tapi Ibuku tidak pernah bisa menjamin apakah bapakku berhasil berganti atau tidak, sampai keputusan itu tiba di penghujung hidup bapakku. Bagiku ini adalah pelajaran menemukan Tuhan yang dilandasi oleh kebesaran hati dan keiklasan kedua orang tuaku.


***

Aku sering bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya berpindah ketika seseorang berganti keyakinan, selain soal nama Tuhan. Jika pada keyakinannya yang lama, seseorang berhasil menginternalisasikan kebaikan dan kasih Tuhan dalam hidupnya, mungkin sinkronisasi yang diperlukan ada pada konsep Tuhan itu sendiri. Dan proses itu seringkali sangat personal, karena seseorang perlu menyelam ke kedalaman dirinya untuk memeriksa dirinya dan pemahamannya tentang Tuhan, sampai akhirnya dia menemukan pemahaman yang baru. Proses ini ga bisa di nilai dari penampilan dan pencitraan saja. Seseorang bisa berbohong pada jutaan orang dan menyebut dirinya orang yang shaleh, namun sesungguhnya dia tak pernah bisa membohongi dirinya sendiri, kecuali dia hatinya tidak lagi bisa merasakan, karena terbiasa berbohong.


Jadi buat apa memaksa seseorang berpindah keyakinan, jika yang berpindah hanya sebutan dan tampilannya saja. Apalagi memaksakan lewat jalan kekerasan. Buat apa berlabel Islam, jika keyakinan yang terejawantahkan dalam perilaku dan disiplin kesehariannya tidak singkron dengan  nilai-nilai yang diajarkan Islam itu sendiri. Mengapa tidak memberikan contoh laku dan pemahaman yang memberi rasa damai, berkat kebaikan, Rahman dan Rahim, sehingga jika memang tergerak untuk berpindah, orang melakukannya dengan sukarela karena ingin menemukan kebaruan dalam perjumpaannya dengan Tuhan. Bukankah ketika menawarkan sebuah keyakinan selalu ada alasan bahwa ini demi kebaikan yang lebih baik dengan iming-iming surga di dalamnya. Mari kembali memeriksa, apakah memang surga yang membawa kedamaian yang selama ini diiming-imingkan? jangan-jangan kebaikan yang kita tawarkan, malah memberikan neraka bagi yang menerimanya.


(Begitu muak dengan orang-orang di sekelilingku yang merasa paling beriman dari orang lain, merasa paling berhak atas surga, lalu menyalah-nyalahkan orang lain..)

Thursday, April 07, 2011

I Follow You Into The Dark *)


If there's no one beside you when your soul embarks
Then I'll follow you into the dark - Death Cab for Cutie -

Hal yang cukup mengagetkan namun sekaligus bisa dimengerti di awal bulan ini adalah James Franco mendelete account twitternya. Setelah sebulan setengah, James 'berkicau' pada para penggemarnya lewat foto-foto, video aktivitas dia sehari-hari_ sehingga aku yang ada di Bandung, tiba-tiba bisa merasa menjadi teman dekatnya. Bagaimana tidak, keseharian James yang selama ini (sebelum dia buka account twitter) adalah sesuatu yang jauh dan hanya dalam bayangan belaka, setelah bertwitter ria, tiba-tiba sampai isi email buat James saja, penggemarnya bisa tau.

Aku rasa mendelete account dengan lebih dari empat ratus ribu follower, bukan hal mudah. Memutuskan  untuk tidak lagi 'dibuntuti' empat ratus ribu pengikut, menurutku itu tindakan yang sangat berani. Itu sama artinya dengan mengambil resiko mengecewakan empat ratus ribu pengikut yang 'tertarik' pada sosoknya sebagai selebriti.

Orang-orang seperti James Franco yang mendapat 'beban' (bisa juga bukan suatu beban) perhatian penggemar atau pengikut (orang-orang yang punya kepentingan atau harapan padanya). Seringkali dia posisikan pada situasi yang serba salah. James menurutku punya motivasi tinggi untuk terus menerus mengejar standar dan pencapaian yang lebih baik dan ia bekerja keras untuk itu. Kerja keras yang sebenarnya bisa dilakukan oleh semua orang, namun persoalannya, ada yang memilih melakukannya ada yang tidak. Ketika sosok seperti James Franco menjadi tampak bersinar di antara yang lain karena kerja kerasnya, prestasi yang dia raih seolah-olah menjadi garis utopia yang dirasakan banyak orang dan mustahil untuk mencapainya.

Orang-orang lantas lupa, bahwa pencapaian seorang James Franco bukanlah sebuah sihir atau sulap yang tiba-tiba datang. Sehingga orang-orang mulai memproyeksikan 'utopia' itu pada James Franco, mengganggap bahwa James adalah wakil mereka, dimana mereka dapat menyandarkan harapan mereka padanya. Hey, James juga manusia biasa. Bukan rasul atau manusia pilihan Tuhan untuk membawa misi suci menyebarkan tugas mulia berbekal jaminan mujizat langsung dari Tuhan. Dia hanya manusia biasa yang kebetulan punya banyak keinginan dan ia bekerja keras untuk meraihnya.

***

Tulisan ini tidak bermaksud membela James Franco secara khusus dari sisi seorang penggemar. Karena terus terang aja, hampir setiap pagi ketika terhubung dengan internet, twitternya James Franco yang aku buka sejak ia membua account di twitter pertama kali. Ketika tiba-tiba twitternya menghilang, aku seperti kehilangan. Tapi kehilangan apa? Pertanyaan ini  menggangguku. Justru yang dilakukan oleh James itu membuatku berpikir lagi soal: keinginan, kerja keras dan pengakuan. Seringkali apa yang menjadi cita-cita dan keinginan, diupayakan dengan kerja keras dan pengorbanan, sampai akhirnya keinginan dan cita-cita itu berhasil di capai dan diraih, lalu menempatkannya dalam barisan 'orang-orang yang dianggap luar biasa'. Apa yang teraih itu dianggap sebagai mujizat yang tidak semua orang bisa melakukannya. Yang tidak melakukannya menganggap pencapaian 'orang-orang luar biasa' ini sebagai sesuatu yang sangat berat dan tidak mungkin dicapai oleh mereka. Bahkan sebagian menganggap, sudah cukup 'orang-orang luar biasa' ini yang bisa meraihnya dengan begitu mereka sudah merasa terwakili.

Secara sepihak, 'orang-orang luar biasa' ini dipilih sebagai 'wakil', tanpa mereka pernah ditanya, apakah mereka bersedia atau tidak. Secara sepihak juga mereka diadili dan disalahkan jika tidak dapat memenuhi harapan orang-orang yang merasa terwakili. Tak heran, banyak 'orang-orang luar biasa' yang di cap selebriti ini membuat keputusan-keputusan bodoh dengan hidupnya, karena lelah dengan label itu. Mereka dirayakan, tanpa tau mengapa mereka harus dirayakan. Mereka dipuja sedemikian rupa tanpa para pemuja ini mau melihat kenyataan, bahwa mereka ga pantas-pantas amat untuk dirayakan.Para pengikut ini seringkali melihat apa yang ingin dilihatnya dan menutup mata terhadap hal-hal yang tidak ingin mereka lihat.

Menurutku, menjadi 'orang luar biasa' yang biasa-biasa saja, jauh lebih sulit daripada menjadi 'orang luar biasa' dan bergaya luar biasa. Menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja bagi orang yang luar biasa, sama artinya dengan memilih untuk tidak menggunakan kemudahan dan segala fasilitas yang bisa dia dapatkan. Menolak hal-hal seperti ini sama artinya dengan melawan ego dan hawa nafsu. Menjadi biasa-biasa juga berarti menampilkan diri seperti diri sendiri menginginkannya, bukan karena orang lain menginginkannya.

Media sosial yang berkembang sekarang ini, membuat hal-hal yang biasa-biasa justru menjadi luar biasa. Proses yang rumit dan panjang kadang berdarah-darah untuk menjadi luar biasa, sepertinya tidak lagi menjadi penting. Tidak perlu seperti James Franco yang harus bersekolah untuk mendapatkan dua gelar master dan mengorbankan waktu hura-huranya sebagai selebriti, untuk mengikuti perkuliahan program doktoralnya sehingga dia bisa disebut aktor yang luar biasa. Tidak perlu. Keluar biasaannya dalam persepektif para pengikut ini sama absurdnya dengan merayakan sesuatu tanpa tau apa yang sesungguhnya dirayakan. Banyaknya pengikut di jejaring media sosial, menjadi komoditas ekonomi yang bisa di'jual'. Bukan hal yang aneh, jika ada cerita tweetnya orang terkenal ternyata disponsori oleh kepentingan para pengiklan.

***

Keputusan James Franco dengan account twitternya, membuatku berpikir bagaimana keluar biasaan ini menjadi biasa-biasa saja. Ketika James asyik ngetweet, aku bisa melihat James dari yang menunjukkan bahwa dia juga manusia biasa saja. Tapi mungkin (ini dugaanku), jarak yang begitu dekat ini, lama-lama bisa menjadi sangat mengerikan bagi James. Keluar biasaannya ini menjadi tanpa jarak dan membuat empat ratus ribu pengikutnya seperti dibatasi oleh seutas tali tipis bernama twitter dengan sosok James Franco. Siapa yang bisa menjamin hubungan yang biasa antara orang yang luar biasa dengan para pengikutnya ini bisa berjalan setara, adil dan saling menghormati satu sama lain. Tidak ada satupun yang bisa menjaminnya, karena masing-masing melihatnya dengan cara berbeda. Jika ingin bertahan dalam situasi yang tidak fair ini, ya ikuti saja aturan main salah satu pihak atau jangan pernah masuk dalam permainan ini sama sekali. Lalu aku juga mau jadi pengikut seperti apa? Kebiasaan seperti apa yang akan aku tampilkan dihadapan para pengikutku? Jika diterawang, di ujung hubungan diikuti dan mengikuti ini yang ada hanya gelap..


*) judul diambil dari judul lagu Death Cab for Cutie

Tuesday, March 29, 2011

Kerinduan Abadi di Hari Ulang Tahun

Ternyata aku masih merindukanmu sebagai teman dekatku, teman berbagi ide dan resah gelisah.. tapi kamu hanya bisa jadi ibu saja dan itu pun sudah cukup berat. Ya sudah. Aku terima saja. Aku simpan saja keinginan itu sebagai kerinduan abadiku saja. Tidak semua yang kuinginkan dan kuharapkan dapat terpenuhi dan biarkan saja begitu karena hidup akan mempertemukannya dengan orang-orang yang tak disangka-sangka, pertemuan-pertemuan yang seperti kebetulan (padahal bukan) untuk memenuhinya. Ibu mungkin tidak bisa jadi teman dekat, tapi teman-teman yang kusebut sahabat, bisa. Jadi kurasa, seperti halnya tidak ada yang abadi dalam hidup, kerinduanpun tak akan pernah jadi abadi. Ada yang mengosongkan, pasti ada yang mengisinya.

Dan kerinduanku pada bapak, mungkin tak bisa disebut abadi, karena rasanya berbeda-beda setiap harinya. Mungkin malah tidak  bisa lagi disebut rindu, karena merindukan yang jelas-jelas tidak akan pernah kembali itu pekerjaan yang sia-sia. Dengan menyimpan semua rasa dari kenangan bersamanya di semua relung hati, itu sudah cukup. Tidak perlu dirindukan lagi, karena aku membawa rasanya setiap hari, kemanapun aku pergi.

Jadi ya sudahlah. Di hari ulang tahunku ini. Aku menerima bahwa tidak ada yang benar-benar bisa kurindukan, karena setiap kerinduan itu selalu terjawab dengan cara yang berbeda-beda dan oleh orang yang tidak disangka-sangka. Ibu biarkan dia menjadi ibu dengan caranya, jika dia bisa menjadi sahabat, itu adalah bonus tiga kali lipat. Menjadi ibu dengan usaha yang terbaik yang bisa dia lakukan, itu sudah dengan bonus. Tidak semua orang seberuntung aku, masih punya ibu yang ga ada duanya itu.

Selamat melepaskan kerinduan abadi itu. Selamat menggenapi waktu dalam putaran usia dan berkhidmat dengan semua kelimpahan yang aku dapatkan. Yang kurang, yang belum atau tidak pernah ku dapatkan, biarkan saja seperti itu. Biarkan putaran waktu yang menjawab dan menentukan, siapa yang akan menjawab, memenuhi dan mengisinya.


Mungkid, Magelang, 30 Maret 2011.

Saturday, January 29, 2011

Kawan Sepermimpian

 foto by vitarlenology

Beberapa hari lalu aku terhubung dengan adik seorang teman yang dulu pernah membangun cita-cita bersama. Lalu temanku itu meninggalkanku begitu saja untuk cita-cita yang lain. Si adik, tiba-tiba muncul dan memberi dukungan terhadap cita-cita yang pernah kubangun bersama kakaknya. Diam-diam ternyata si adik menyimak dan mengikuti sepak terjangku selama sepuluh tahun terakhir ini.

Aku jadi teringat, masa-masa ketika si kakak meneleponku setiap malam dan bermimpi bersama tentang apa yang kukerjakan selama sepuluh tahun ini, bahwa ini akan menjadi begini dan begitu di masa datang. Benar-benar hampir setiap malam. Setiap ada ide baru, sekecil apapun, si kakak akan menelepon dan membahas panjang lebar denganku. Saat si kakak memutuskan untuk meninggalkan Bandung dan pindah ke kota lain untuk menjalani pekerjaan lain, aku sempat terpukul dan bertanya: "bagaimana dengan semua rencana-rencana dan impian yang kita bangun bersama?" Dengan enteng, si kakak menjawab: "Kan ada kamu yang akan menjalankannya." Oke. Saat itu, aku mengobati kekecewaanku dengan bilang pada diriku sendiri: "dia (si kakak) toh akan sering pulang ke Bandung dan kita masih bisa menjalaninya bersama-sama." Dan memang, ketika si kakak pulang, kami berusaha menjalani impian-impian via telpon itu bersama, meski si kakak menjalaninya tidak utuh, hanya bagian yang dia sanggup saja di sela-sela waktu pulangnya ke Bandung. Seperti sebuah hubungan percintaan jarak jauh, tapi tidak terasa senyata percintaan yang rasa cintanya bisa tergenggam dan terasa kehangatannya.

Membangun impian bersama jarak jauh, rasanya seperti membiarkan diri terbuai mimpi yang terpaksa disudahi karena harus bangun. Aku yang bangun dan kembali ke dunia nyata dan menjalaninya, sementara si kakak, temanku itu, adalah orang yang ada dalam mimpi, lalu menghilang ketika harus menjalaninya di dunia nyata.

Begitulah. Hampir tiga tahun berjalan, sampai suatu hari, aku meminta menjelasannya. Mengapa harus aku yang bangun dan menjalaninya di dunia nyata terus menerus? mengapa bukan kamu, wahai temanku, yang ada di posisiku dan berhadapan dengan realitasnya?  Jawaban yang kuterima saat itu ternyata sangat menamparku. Rasa sakitnya aku rasakan bertahun-tahun kemudian. Dengan tegas si kakak, temanku itu, bilang bahwa impian yang dia bangun denganku adalah salah satu dari sekian banyak impian-impian dia yang lain. Tentunya dia bisa bebas berpindah dari satu impian ke impian yang lain, dan maaf saja jika ternyata bukan realitas impian bersamaku yang ingin dia jalani.

Saat itu, rasanya seperti aku seperti dihempaskan dari mimpi bersamanya. Aku terhempas dan memikul tanggung jawab atas realitas yang berjalan paralel bersama impian-impian yang selama ini dibangung bersama-sama. Di tengah keterpukulanku, sahabatku bilang bahwa tidak ada yang memaksaku menjalani realitas dari impian-impian itu, jika aku memang tidak sanggup menjalaninya. Siapa yang mengharuskan? berhari-hari aku memikirkannya, sampai diriku menjawab, 'aku sendiri yang mengaharuskan, karena jika aku tidak menjalani impian dan  realitasnya sekaligus, aku tidak akan pernah bisa memimpikan dan menjalani yang lebih besar dari ini.' Pada saat itu, aku seperti menandatangani perjanjian baru pada diriku sendiri untuk memilih impian dan realitas ini yang ditinggalkan oleh temanku, si kakak itu. Perjanjiaan ini yang memberiku kesadaran awal, sebuah impian bisa saja dimimpikan oleh banyak sekali orang, puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan orang, namun yang menentukan realitas yang harus dijalaninya adalah diriku sendiri. Aku tidak bisa memaksa orang lain atas nama 'kesamaan impian' untuk menjalaninya bersama-sama juga.

***

Sepuluh tahun kemudian, si adik justru muncul dan memberi dukungannya, sementara si kakak ketika bertemu denganku beberapa kali, seperti orang asing yang tidak pernah terhubung sama sekali apalagi membangun impian bersamaku. Aku dan temanku itu, seperti tidak pernah saling mengenal. Keterhubungan kembali dengan si adik, seperti membuatku memeriksa kembali semua kesakitan akibat rasa ditinggalkan itu. Dan ternyata tidak ada lagi. Mungkin aku seharusnya yang berterima kasih. Jika si kakak tidak menghempaskanku pada realitas ini sendirian, aku mungkin tidak akan pernah bisa menemukan impian dan realitas yang lebih besar yang bisa aku impikan dan menemukan kekuatan untuk menjalaninya selama sepuluh tahun ini. Aku justru menemukan keberaniaanku untuk bermimpi dan menghadapi realitasnya, daripada sekedar membangun impian lewat telpon, lewat kata-kata yang akhirnya terlupa oleh realita lainnya dan ketakutan-ketakutan untuk keluar dari zona aman.

Saat baru dihempaskan rasanya tidak adil, mimpinya bareng-bareng, realitasnya juga harus bareng-bareng. Rasa keadilan semata-mata, seperti timbangan yang harus sama beratnya. Tapi, sepuluh tahun kemudian, baru kusadari rasa keadilan justru bisa berjalan sebaliknya; seperti berat sebelah pada awalnya dan mendapat lebih banyak pada akhirnya. Keadilan yang berlaku disini adalah keadilan seperti keseimbangan yang benar-benar seimbang hanya seper sekian detik saja, setelah itu, kembali bergerak, seperti berat sebelah, padahal waktu sedang merumuskan nilai keadilannya. Mungkin seperti rasa keadilan para penyintas/survivor. Awalnya seperti korban ketidak adilan, tapi setelah bisa bertahan dan melewatinya dan menjadi seorang penyintas, dia mendapatkan jauh lebih banyak melebihi apa yang diharapkannya daripada ketika dia hanya berkubang dalam posisi korban.

Ya, pada mulanya, aku seperti korban yang dihempaskan dari mimpi bersama yang seperti terpaksa memikul beban impian ini sendirian. Seperti tidak punya pilihan, padahal seperti kata sahabatku, aku bisa melepaskannya jika tak sanggup, tapi ternyata aku memilih memikulnya dan itu berarti sebenarnya aku punya pilihan itu. Aku sama-sama punya pilihan seperti temanku, si kakak itu yang punya pilihan untuk pergi meninggalkan impian bersama dan memilih realitasnya sendiri. Aku selalu punya pilihan itu dalam setiap hal yang terasa tidak adil, aku sesungguhnya selalu punya pilihan: berkubang sebagai korban terus menerus atau melaluinya dan menjadi penyintas. Rasanya sepuluh tahun ini aku sudah membuktikan pilihanku yang terakhir: aku memilih sebagai penyintas dari impian bersama dan ternyata aku mendapatkan jauh lebih banyak dari yang aku impikan dan yang kujalani.

Temanku, sampai kapanpun aku tak akan pernah menyangkal bahwa pernah ada masanya, kita membangun impian bersama-sama. Ketika kau hempaskan aku dalam realita impian itu sendirian, tak akan pernah bisa mengubah bahwa kau, pernah menjadi kawan sepermimpianku. Terima kasih untuk pernah bermimpi bersama-sama..

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails