Friday, October 01, 2010

Cara, Jatah Dan Perintah

Foto by Vitarlenology
Beberapa hari lalu, kakak laki-lakiku menulis di notenya tentang omongan ustadz yang datang menyambanginya bicara soal jatah dan perintah. "PERINTAH APA  yang harus kita kerjakan ketika "JATAH" itu sampai kepada kita..?"  Jatah yang dimaksud ustadz ini adalah segala kenikmatan yang Tuhan berikan kepada kita. Segala yang menjadi berhak untuk kita nikmati. Nah, sementara perintah adalah kewajiban yang mesti kita jalani setelah jatah kita dapatkan.

Rasanya jauh lebih mudah mengenali 'jatah' daripada 'perintah'. Jatah alias segala pemberian Tuhan pada kita, jauh lebih mudah diterima sebagai sesuatu yang memang sepatutnya kita dapatkan. Namun mengenali perintah ternyata jauh lebih sulit daripada menerima jatah. Memang dalam kitab suci tertulis apa saja yang Tuhan perintahkan kepada umatnya. Hanya saja perintah-perintah itu seringkali tidak se-eksplisit yang kita harapkan. Tuhan memberi keleluasaan untuk menerjemahkan perintah itu ke dalam tindakan yang kongkrit dan ril. Kitab suci menuliskan sebagaian besar perintah itu sebagai sebuah konsep, namun kita sendiri yang memutuskan dengan cara seperti apa perintah itu akan dilaksanakan.

Mencari cara rasanya menjadi pekerjaan manusia sepanjang keberadaannya di muka bumi ini. Cara menentukan hasil. Tujuan bisa baik, namun jika caranya tidak tepat, hasilnya bisa jauh dari tujuan. Tujuan sendiri, seringkali bisa didisiplinkan oleh cara. Cara ini yang menentukan penilaian apakah seorang manusia berada di jalan yang 'benar' atau 'tidak'. Cara pula yang membuat manusia dinilai konsisten atau plin plan, murah hati atau kejam. Semua bergantung pada cara. Cara menjalankan perintah, tujuan. Bahkan cara juga yang menentukan apakah kita adalah manusia yang tau diri dan berterima kasih atau tidak setelah mendapatkan kelimpahan jatah itu.


Tuhan senang membuat manusia berpikir, karena itu meski malaikat tau, manusia pasti akan saling bunuh dan menumpahkan darah, tapi menemukan cara menjadi tantangan menjadi manusia sesungguhnya. Perintah yang turun dari Tuhan, tidak serta merta datang bersama cara menjalankannya. Itu sebabnya selalu ada berjuta-juta cara untuk satu hal saja. Dan rasanya Tuhan memang sengaja dan menjadikan cara sebagai pertanyaan abadi setiap manusia sejak dia dilahirkan ke dunia. Semakin cepat menyadari apa yang Tuhan perintahkan, semakin ada kesempatan untuk menemukan cara menjalani perintah itu.

Cara seperti apa yang telah kutemukan dan kujalani? cara seperti apa pula yang sedang ku jalani? lantas  bagaimana cara yang akan kujalani dikemudian hari? dan sudah semestinya kelimpahan jatah yang aku terima yang bisa menjadi modal untuk menjawab pertanyaan abadi sepanjang nafas masih melekat dalam diriku.

1 comment:

Andi Lia said...

Betul...karena manusia diberikan keihsanan sehingga dia bisa melihat & memutuskan pilihan, banyak pertanyaan yang menyajikan berbagai pilihan dan ketika kita sudah memilih yang terbaik bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk sesamanya, itulah arti keberdayaan kita sebagai manusia. Nice post, mbak :)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails