Monday, October 18, 2010

The Woman That Dreamed About A Man (2010): Sebuah Ilusi Perselingkuhan

* * * *

Sutradara: Per Fly

Sampai kapanpun rasanya drama perselingkuhan akan selalu menjadi tema abadi yang selalu menarik untuk di filmkan. Film Denmark yang dibintangi Sonja Richter dan aktor ganteng dari Polandia; Marcin Dorocinski ini, mengangkat soal perselingkuhan.

Mulanya Maciek (Marcin Dorocinski), kerap hadir dalam setiap tidur Karen (Sonja Richter). Saat  sosok dalam tidur Karen benar-benar hadir dihadapannya, Karen mengejarnya, memastikan bahwa laki-laki itu memang nyata. Maciek yang semula ilusif, kini seperti hadir menjelma nyata dan Karen jatuh cinta pada ilusi yang bertubuh dan berdaging itu.
Sebagai petualang cinta yang mengikuti  'lust'nya, Maciek sengaja masuk dalam ilusi Karen. Menyesatkan Karen dalam hubungan yang ilusif ini. Sampai-sampai Karen harus memilih antara suaminya; Johan atau Maciek. Lantas ketika pilihan itu dijatuhkan kepada Maciek, afair yang selama ini mereka jalin, tidak lagi ilusif, melainkan nyata. Real dan jauh dari bayangan. 

Maciek yang hanya menggunakan Karen sebagai pemuas nafsunya, tidak sungguh-sungguh ingin menjalin hubungan serius dengan Karen dengan alasan Maciek masih mencintai istri dan anaknya dan tak ingin meninggalkan mereka demi Karen. Meski Maciek sendiri, selain dengan Karen, terlibat afair dengan mahasiswanya. Di film ini, sosok Maciek gambarkan sebagai laki-laki yang merasa bisa mendapatkan apa yang dia inginkan karena ketampanan, kepintaran dan pesonanya, tanpa Maciek sendiri mengerti apa yang sesungguhnya ia cari dan inginkan dari semua afair yang dia jalani. Demikian pula Karen, ia membangun ilusi tentang hasrat yang selama ini dia pendam dibalik kesuksesan karirnya sebagai fotografer fashion internasioanal.

Benang merah yang selalu aku dapatkan dari kisah-kisah perselingkuhan seperti ini, bahwa hubungan seperti ini  tidak akan pernah sekedar menjadi sesuatu yang 'sambil lalu', menjadi ganjal pintu dari ketidakpuasan atas kehidupan dan hubungan bersama pasangan masing-masing. Persetubuhan yang mencoba mengkonfirmasi ilusi, sampai kapanku akan tetap menjadi ilusi yang terus menghantui. Bisa saja salah satu pihak terlepas dari ilusi itu mana kala Karen dalam film ini menyadari, Maciek bukanlah kenyataan, kesadaran itu justru membebaskannya dari mimpi-mimpi dan ilusinya tentang sosok Maciek selama ini. Namun bagi Maciek yang memilih bermain-main dalam ilusi itu, pada akhirnya terjebak dalam ilusi yang menghantuinya kemudian. 

Kisah perselingkuhan seperti ini, memberiku pengetahuan tentang motif. Beberapa yang memutuskan berselingkuh, berdalih bahwa motifnya hanya ingin bermain-main di dalamnya (biasanya yang seperti ini akan berkelit, bukan dia yang memulai, dia hanya mengikuti permainan yang datang padanya). Orang seperti ini, seperti Maciek dalam film ini,  tidak akan bisa keluar dengan mudah, meski dia pikir dia bisa keluar kapan saja dari permainan, tapi sesungguhnya tidak, karena dia tidak belajar apa-apa. Dia hanya merasakan kesenangan yang absurd dan candu. Orang seperti ini akan berselingkuh berkali-kali karena memang dia senang bermain-main tanpa tau kenapa dia senang melakukannya dan seringkali ingkar dari tanggung jawab. Dia telah tersesat di dalam permainannya sendiri dan entah kapan akan keluar atau berhenti dari permainan itu.

Sementara beberapa seperti Karen, berselingkuh dengan motif karena dia mencari. Dia mencari kenyataan pada ilusi yang menghantuinya selama ini. Setelah ia temukan kenyataan itu, dia akan berhenti. Ilusinya akan berhenti menghantuinya, ketika afair atau perselingkuhan itu usai. Meski harus bersakit-sakit, namun ia akan menemukan dirinya yang baru yang terbebas dari hantu-hantu yang menjadi ilusinya selama ini. 

Dan menurutku film ini bisa menggambarkan perasaan-perasaan itu dengan jelas dan gamblang, tanpa banyak kata-kata. Warsawa yang muram, model-model yang muncul seperti sosok imajinatif dari dunia mimpi, selera minimalis khas Skandinavia, bagiku justru memberi kekuatan emosi. Satu hal lagi yang aku sadari, emosi perselingkuhan ini, mau diceritakan oleh budaya manapun, rasanya ternyata universal. Sama dan tidak pernah tidak menyakitkan.

Friday, October 01, 2010

Cara, Jatah Dan Perintah

Foto by Vitarlenology
Beberapa hari lalu, kakak laki-lakiku menulis di notenya tentang omongan ustadz yang datang menyambanginya bicara soal jatah dan perintah. "PERINTAH APA  yang harus kita kerjakan ketika "JATAH" itu sampai kepada kita..?"  Jatah yang dimaksud ustadz ini adalah segala kenikmatan yang Tuhan berikan kepada kita. Segala yang menjadi berhak untuk kita nikmati. Nah, sementara perintah adalah kewajiban yang mesti kita jalani setelah jatah kita dapatkan.

Rasanya jauh lebih mudah mengenali 'jatah' daripada 'perintah'. Jatah alias segala pemberian Tuhan pada kita, jauh lebih mudah diterima sebagai sesuatu yang memang sepatutnya kita dapatkan. Namun mengenali perintah ternyata jauh lebih sulit daripada menerima jatah. Memang dalam kitab suci tertulis apa saja yang Tuhan perintahkan kepada umatnya. Hanya saja perintah-perintah itu seringkali tidak se-eksplisit yang kita harapkan. Tuhan memberi keleluasaan untuk menerjemahkan perintah itu ke dalam tindakan yang kongkrit dan ril. Kitab suci menuliskan sebagaian besar perintah itu sebagai sebuah konsep, namun kita sendiri yang memutuskan dengan cara seperti apa perintah itu akan dilaksanakan.

Mencari cara rasanya menjadi pekerjaan manusia sepanjang keberadaannya di muka bumi ini. Cara menentukan hasil. Tujuan bisa baik, namun jika caranya tidak tepat, hasilnya bisa jauh dari tujuan. Tujuan sendiri, seringkali bisa didisiplinkan oleh cara. Cara ini yang menentukan penilaian apakah seorang manusia berada di jalan yang 'benar' atau 'tidak'. Cara pula yang membuat manusia dinilai konsisten atau plin plan, murah hati atau kejam. Semua bergantung pada cara. Cara menjalankan perintah, tujuan. Bahkan cara juga yang menentukan apakah kita adalah manusia yang tau diri dan berterima kasih atau tidak setelah mendapatkan kelimpahan jatah itu.


Tuhan senang membuat manusia berpikir, karena itu meski malaikat tau, manusia pasti akan saling bunuh dan menumpahkan darah, tapi menemukan cara menjadi tantangan menjadi manusia sesungguhnya. Perintah yang turun dari Tuhan, tidak serta merta datang bersama cara menjalankannya. Itu sebabnya selalu ada berjuta-juta cara untuk satu hal saja. Dan rasanya Tuhan memang sengaja dan menjadikan cara sebagai pertanyaan abadi setiap manusia sejak dia dilahirkan ke dunia. Semakin cepat menyadari apa yang Tuhan perintahkan, semakin ada kesempatan untuk menemukan cara menjalani perintah itu.

Cara seperti apa yang telah kutemukan dan kujalani? cara seperti apa pula yang sedang ku jalani? lantas  bagaimana cara yang akan kujalani dikemudian hari? dan sudah semestinya kelimpahan jatah yang aku terima yang bisa menjadi modal untuk menjawab pertanyaan abadi sepanjang nafas masih melekat dalam diriku.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails