Thursday, September 23, 2010

Menikahi Impian Dan Cita-cita

the Poem Tim Burton Wrote for Johnny Depp

Jika ditanya, apakah aku sudah menikah? Ya. Aku sudah menikah. Menikah dengan impian dan cita-citaku. Menikah dengan banyak orang yang berjalan bersama menuju cita-citaku. Pada impian dan cita-cita aku berkomitmen, berjanji untuk setia, karena cita-cita dan impian tidak pernah berkhianat. Aku yang justru sering mencoba mengkhianatinya. Namun setiap kali aku kembali dari pengkhianatanku,  impian dan cita-cita selalu menerimaku dengan tangan terbuka dan memberiku kekuatan untuk kembali yakin. Sejauh apapun aku berusaha meninggalkan impian dan cita-citaku, aku akan selalu ditarik untuk kembali. Aku tak bisa hidup tanpanya.

Bagaimana dengan menikahi laki-laki dengan cita-cita lain dan impian berbeda di kepalanya? Mungkin saja. Menikahi laki-laki yang tau apa yang dia cita-citakan dan dia impikan, sesungguhnya seperti menikahi impian dan cita-cita yang lain. Aku berjanji setia pada impiannya, begitu pula dia bersedia bersetia pada impian dan cita-citaku. Beruntung sekali jika bertemu laki-laki seperti ini yang tidak memaksaku bersetia pada impian dan cita-citanya saja, tapi juga mau bersetia pada cita-cita dan impianku juga. Sayangnya laki-laki seperti ini, sangat-sangat sulit ditemukan terutama yang bisa dinikahi. Kebanyakan menuntut setia pada salah satu impian dan cita-cita saja, bukan pada kedua belah pihak. Sementara yang bisa bersedia setia pada impian dan cita-cita kedua belah pihak, justru tidak mungkin dinikahi (kontradiktif memang, mau setia pada impian orang lain, tapi dia sendiri tidak setia pada impiannya sendiri yang sudah terlanjur dibangun bersama pasangan yang ia pilih).


Untuk itu, aku mencari orang yang berani menikahi cita-cita dan impianku, karena jika aku bertemu dengan orang pemberani seperti itu, aku akan menemukan keberanian dan keyakinan untuk menikahi cita-cita dan impiannya. Mari kita saling menikahi impian dan cita-cita kita.. aku berani, bagaimana dengan kamu?

"I'm someone who remains faithful to my dreams." - Benicio Del Toro

Friday, September 10, 2010

Mengaku Kepada Publik: Terima Kasih Untuk Aa Gym


Pagi tadi, selepas sholat Ied, aku menyaksikan Aa Gym di acara Just Alvin, Metro TV. Aa Gym yang membuatku tercengang atas keberaniaannya untuk mengaku bahwa apa yang selama ini dia bangun adalah semata-mata demi pencitraan dan kesombongan belaka sebagai seorang ulama besar. Perlu keberaniaan luar biasa untuk mengaku bahwa selama ini popularitas telah membuatnya sesat. Kebesaran nama telah menyesatkan dirinya dalam kesombongan. Setelah menikah lagi dengan teh Rini beberapa waktu lalu, mengubah hidup Aa Gym secara drastis. Tuhan mengambil kembali semua kemasyuran, meruntuhkan pilar-pilar kesombongannya lewat usaha-usahanya yang hancur karena umat merasa 'terkhianati' oleh kemasan yang selama ini dia bangun. Topeng yang selama ini ia kenakan untuk membuat orang-orang merasa takjub padanya. Dan saat berada di puncak kesombongannya, Tuhan meruntuhkan dengan caraNya sendiri.

Perbincangan Alvin Adam dengan Aa Gym, bagiku cukup menggugah. Bukan semata-mata karena membuka sisi Aa Gym yang baru, namun keberaniaannya untuk mengakui segala khilaf dan kesombongannya itu sangat menggugahku. Perbincangan tadi seperti perbincangan di bilik pengakuan dosa yang dilakukan oleh seseorang yang selama ini hidup dalam citra yang begitu dia jaga dan dia bangun sedemikian rupa.

***

Pengakuan. Apa yang dilakukan oleh Aa Gym di acara Just Alvin, terus terang mengobati kerinduanku pada pengakuaan orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai public figure atau contoh masyarakat. Meski sempat menyangkal, tapi saat Cut Tari akhirnya mengaku bahwa memang dia yang ada di video mesum bersama Ariel, membuat masyarakat merasa sedikit lega. Setidaknya Cut Tari akhirnya mau mengaku juga, setelah mendapat tekanan.

Mungkin berbeda dengan Aa Gym, masyarakat tidak dalam kondisi menekan dia atau apapun, karena badai yang menimpa Aa Gym, telah berlalu beberapa tahun lalu, saat pemberitaan soal pernikahan keduanya menjadi 'trending topic' pada saat itu. Dirinya sendiri dan keinginan untuk jujur pada diri sendiri dan Tuhan yang membuat Aa Gym membuat pengakuan itu. Aku percaya dia mengaku bukan dalam rangka mencari simpati dan dukungan. Dia hanya ingin menebus kesalahannya yang mungkin tidak akan pernah sepenuhnya tertebus. Tapi pengakuan publik seperti ini, sungguh berarti. Bagiku sungguh jauh lebih berarti di banding dengan pidato Presiden SBY pada siang harinya, menangapi rencana Terry Jones, melakukan pembakaran Al- Quran (dimana rencana tersebut dibatalkan, karena Terry Jones mendapatkan kecaman keras dari warga Amerika sendiri dan juga Presiden Barack Obama).  Mengapa SBY tidak membuat pengakuan dan permohonan maaf saja, bahwa selama ini dia banyak membuat rakyat kecewa karena tidak dapat menepati janji-janjinya. Bahwa selama pemerintahannya banyak juga aliran kepercayaan, sekte keagamaan yang dia represi, padahal perbedaan menafsir adalah hak setiap orang yang. Mengapa dia tidak mengaku saja, bahwa dia tidak mampu menyelesaikan banyak persoalan, Lapindo salah satu yang terbesarnya yang membuat masyarakat Sidoarjo korban Lapindo tercabik-cabik hidupnya. Mengapa dia tidak mengaku saja, bahwa dia tidak bisa bertindak adil, besannya yang koruptor dengan gampangnya dapat ketentuan keringanan hukuman dengan label remisi. Begitu banyak daftar pengakuan para pejabat publik yang dirindukan oleh masyarakat.

Ku kira Aa Gym memberi keteladanan, bagaimana seseorang yang mengaku melayani kepentingan umat, melayani masyarat, bisa mengakui kelemahan dan kekurangannya. Di saat semua kekacauan dan penyelewengan para pejabat publik bisa dibuka dengan bebas di media, sampai-sampai keterbukaannya mengaburkan kebenaran itu sendiri, kurasa yang diperlukan adalah pengakuan. Aku merindukan pengakuan para pejabat publik yang jujur pada dirinya sendiri mengaku bahwa dia memang bersalah, bahwa dia memang khianat terhadap amanah masyarakat dan bersedia menanggung konsekuensinya dengan kehilangan jabatan dan kekuasaannya. Terima kasih Aa Gym, kamu membuat aku masih menyimpan harapan ketika aku hampir saja kehilangan kepercayaan pada semua orang yang melabeli dirinya publik figure/ pelayan umat/abdi masyarakat.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails