Friday, July 23, 2010

Patah Hati

 Light at the end of Angkor Watt, photo by vitarlenology

Beberapa hari terakhir ini, persoalan 'patah hati' ini muncul lagi dalam pikiranku. Pertemuan dengan orang menyakiti hati keluargaku terus menerus, om (adik ibuku) yang sangat dekat dengan aku dan keluargaku yang mengalami kecelakaan dan mengalami luka dalam yang serius, orang yang dekat denganku mengalami keretakan hubungan dengan seseorang yang sebelumnya dekat dengannya, dan juga ulang tahun bapak ke 73 tahun jika ia masih hidup sampai saat ini. Semua itu membuat aku kembali memikirkan soal patah hati ini.

Apa yang membuat aku merasa patah hati? Apa yang membuat ketika bertemu orang yang menyakiti perasaan, meski sebelumnya lama tidak berjumpa dan dia tak lagi melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti, tapi ketika bertemu, rasa sakit yang dulu masih saja tetap ada. Pertemuan dengan orang yang pernah menyakiti, seperti memutar kembali semua pengalaman buruk yang pernah dialami dengan orang itu. Padahal tidak semua hal yang dialami dengan orang itu adalah buruk, banyak hal baik, tapi mengapa yang paling diingat justru pengalaman buruknya yang mungkin merupakan sebagian kecil dari pengalaman keseluruhan. Atau ketika bertemu orang seperti itu, semua hal yang baik ketika dialami dulu, hanya karena ditutup oleh sebuah kalimat yang terucap yang menurut pengucapnya biasa-biasa saja, tapi bagi yang menerimanya kalimat itu membalikkan semua hal baik menjadi buruk. Karena pada akhirnya, kalimat itu menimbulkan perasaan terkhianati, terbodohi, termanfaatkan, terkecewakan, terzhalimi, dan ter.. ter.. lainnya. Atau perasaan kehilangan yang meruntuhkan bangunan hati bahkan diri sampai butuh waktu untuk pulih selama bertahun-tahun. Kalau begitu, siapa sesungguhnya yang mematahkan hati? aku sendiri atau orang lain?

Jika ditanya apakah aku pernah patah hati? jawabannya tentu saja pernah. Berkali-kali. Dan yang paling parah, bukan hanya patah, tapi juga hancur berkeping-keping sampai butuh waktu bertahun-tahun untuk menyusun kepingan-kepingan itu kembali. Dari semua patah hati yang pernah kualami, ada satu benang merah  yang membuat hati bisa patah, retak, atau hancur berkeping-keping. Perasaan kecewa atas orang lain. Ketika aku memberikan perasaanku yang utuh, pada sahabat, teman, kekasih, saudara atau siapapun itu, aku memberikannya perasaan itu dengan disertai harapan. Harapan bahwa keutuhan perasaanku itu akan disambut dengan utuh pula oleh orang lain. Diterima dengan seutuh-utuhnya sesuai dengan standar keutuhan yang aku bayangkan. Singkatnya aku memberikan perasaan yang utuh itu dengan standarisasi cara penerimaannya. Itu sebabnya, harapan yang terbawa dalam perasaan utuh itu, sering terejawantahkan dalam bentuk tuntutan, bahwa orang lain semestinya menerimanya begini dan begitu sesuai dengan cara yang kita inginkan. Akibatnya ketika tuntutan itu tidak bisa dipenuhi oleh orang lain yang menerima perasaan itu, aku jadi kecewa.

Perasaan kecewa inilah yang mengubah pengalaman-pengalaman baik menjadi buruk. Kecewa bisa mendorong aku lebih berfokus pada 'apa yang hilang' daripada apa yang sudah aku dapatkan (dan aku yakin kalo dua hal ini dibikin tabel berbandingan, yang sudah didapatkan jauh lebih banyak daripada yang hilang). Berfokus pada kehilangan daripada Kecewa adalah racun yang membuat hati menjadi rapuh dan getas. Akibatnya mudah retak, patah dan hancur berkeping-keping. Kecewa adalah racun yang bisa ngehancurkan hati jika dikonsumsi secara berlebihan. Disatu sisi, kecewa itu juga bisa jadi obat, karena perasaan ini bisa juga mengubah kegagalan jadi kesuksesan, Kecewa seperti api, bisa mematangkan, tapi juga bisa menghanguskan.  Dan patah hati itu terjadi jika kekecwaan aku biarkan tumbuh berkembang dan menjadi racun atau api yang mengahanguskan.

Belajar dari pengalaman mengatasi kekecewaan yang bisa mengakibatkan patah hati, aku berusaha menguraikan perasaan itu, menelisik dan menelusurinya sampai yang kutemukan adalah 'aku kecewa atas hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu membuatku patah hati sedemikian rupa'. Bisa jadi ternyata hanya soal salah paham, cara penerimaan yang berbeda atau yang sulit diperbaiki misalnya karena tabiat orang lain yang berhubungan denganku memang seperti itu dan dia sudah terlalu tua untuk menyadarinya dan mengubah sikapnya. Atau juga karena takdir. Kematian adalah takdir. Haruskan soal takdir yang jelas-jelas aku tau tidak bisa mengubahnya, trus aku harus merasa kecewa dengan itu terus menerus? Kecewa pada keputusan Tuhan? Toh dalam banyak hal, Tuhan memberikan keleluasaan padaku untuk 'menawar' takdirku sesuai dengan usahaku. Jika dalam hal kematian itu adalah harga mati yang Tuhan berikan, rasanya keterlaluan juga kalau ngotot ingin menawar. Selama bertahun-tahun mencoba membangun hati yang baru karena hancur berkeping-keping karena kematian, aku menyadari bahwa yang terpenting bukan pada menawar harga mati yang sudah Tuhan beri dengan takdir kematian itu, tapi justru bagaimana bernegosiasi dengan hidup yang masih tersisa dari kematian itu sendiri. Ketika orang yang aku cintai dan sayangi mati, dia tidak pergi begitu saja dengan membawa semua hal yang pernah dia lakukan dalam hidupnya. Dia hanya pergi dengan raganya, tapi dia meninggalkan berjuta-juta  hal baik dan buruk pada kehidupan.  Dan aku yang terhubung dengan 'warisan yang ditinggalkannya itu', mesti bernegosiasi mencari cara terbaik mengelola 'warisan itu'.

Sementara jika patah hati disebabkan oleh orang lain yang membiarkan kesalah pahaman atau ketidak mengertian ini tidak terselesaikan (mungkin salah satu pihak berusaha menyelesaikan, tapi pihak yang lain tidak mau menerima), jalan yang baik yang biasanya kulakukan adalah memaafkan diriku sendiri dan setelah itu berusaha memaafkan orang lain. Dan ini bukan hal yang mudah. Aku bisa bilang:  'aku sudah memaafkanmu', tapi buktinya setiap kali aku bertemu lagi dengan orang itu, hatiku masih terasa sakit. Buatku artinya aku belum sepenuhnya memaafkannya. Aku benar-benar bisa memaafkan jika ketika bertemu kembali orang itu, aku melihat dia dengan cara yang berbeda. Tidak ada lagi sakit hati, karena aku melihatnya dengan cara yang baru, cara yang berbeda yang tidak lagi menyakiti diriku sendiri. Untuk kasus-kasus kekecewaan yang masih bisa dibilang ringan, hal relatif mudah dilakukan. Tapi untuk kasus-kasus yang bener-bener berat (karena orang yang bersangkutan sedemikian korosifnya dan menimbulkan karat di hatiku) yang perlu dilakukan adalah membuang bagian yang berkarat itu biar ga merembet lebih jauh, lalu menumbuhkan yang baru. Tentunya ini proses yang sangat-sangat sulit, tapi bukan mustahil. Hal ini sangat bisa dilakukan.

Hal lain yang kusadari betul dari pengalaman patah hati berkali-kali ini adalah hatiku ternyata bisa tumbuh. Dia bukan bagian dari diri yang ketika patah atau pecah, ga bisa disambung lagi. Hatiku ini seperti ranting pohon yang ketika patah dia bisa tumbuh lagi, selama akar pohonnya diberi makanan yang cukup. Jika hatiku ini sampai patah, itu karena aku membiarkannya patah. Meski aku tidak berharap mengalami lagi yang namanya patah hati, tapi setidaknya setelah belajar dari pengalaman, aku tidak perlu menghindarinya ketika hal itu terjadi lagi. Setelah patah tumbuh, hilang berganti, aku jadi tau bagaimana caranya menyambung lagi hatiku yang patah, asal aku tidak membiarkan perasaan kecewa tumbuh seperti sel-sel kanker yang mematikan kemampuan hatiku untuk tumbuh kembali. Karena sesungguhnya aku yang memutuskan apakah aku akan membiarkan hatiku dipatahkan atau tidak. Dan aku yang juga memutuskan apakah aku akan membiarkan hatiku tumbuh kembali atau tidak.

***

Untuk tanteku: aku sedang berusaha memaafkanmu, melihatmu dengan cara yang baru dan berbeda.
Untuk adikku: Ini adalah ujian persahabatan, maka bersabarlah.
Untuk bapakku di surga: Pa, I'm a survivor. More than survived. 
Untuk Omku: Aku berdoa untuk keputusah terbaik yang Tuhan berikan padamu.


Terima kasih untuk semua yang hadir dan menambal, menyambung dan menumbuhkan kembali hatiku.

Saturday, July 17, 2010

Ronde Alkateri


Di Jalan Alkateri, Bandung ada warung ronde yang cukup legendaris. Bukanya setiap Pk. 18.00 sampai malam hari. Kuah gula jawanya pas banget, tidak terlalu manis tapi hangat di badan. Ondenya kerasa banget rasa tepung berasnya. Yang paling seru dari warung ronde Alkateri adalah suasana 'pecinan'nya. Tante penjualnya senang memutar lagu-lagu mandarin, bener-bener suasana yang khas disalah satu sudut kota Bandung.

Thursday, July 01, 2010

Tentang Hubungan, Belajar Dari Jack dan Meg White

Jack and Meg White

Jika ada selebriti yang memberiku pelajaran berharga tentang hubungan, orang itu adalah Jack White. Musisi paling penting dalam dekade ini. Umurnya lebih tua dariku dua tahun saja. Pelajaran apakah yang dia berikan tentang hubungan?

Ketika Jack dan Meg White yang dikenal dunia lewat The White Stripes, media memberitakan bahwa mereka adalah 'brother and sister band'. Namun belakangan terungkap bahwa Jack dan Meg adalah bekas suami istri. Mereka berdua menikah di usia yang sangat muda. Meg adalah cinta pertama sekaligus pacar pertama Jack Anthony Gillis yang kemudian dinikahi pada tahun 1996. Setelah menikah, Jack mengambil nama keluarga Megan Martha White sebagai nama belakangnya. Mereka bercerai tahun 2000. Saat media mengetahui bahwa Jack dan Meg bukanlah kakak beradik, melainkan mantan suami istri, Jack menjelaskan pada majalah Rolling Stone:
When you see a band that is two pieces, husband and wife, boyfriend and girlfriend, you think, "Oh, I see . . ." When they're brother and sister, you go, "Oh, that's interesting." You care more about the music, not the relationship – whether they're trying to save their relationship by being in a band.
Jawaban yang cukup matang menurutku, tidak sekedar mencari-cari dalih semata. Setelah bercerai, Jack dan Meg tetep ngeband bareng. Bahkan yang ajaib adalah saat Jack memutuskan menikahi Karen Elson_ model video klip The White Stripes dalam lagu Blue Orchid_di tengah-tengah shooting, di hutan Amazon, Meg White lah yang berperan sebagi pendamping pengantin perempuan. Begitu pula ketika Meg menikah kembali dengan Jackson Smith (anaknya Patty Smith), pernikahan itu dilakukan di halaman belakang rumah Jack White di, Nasville, Tennesse. Bahkan Jack memberi nama anaknya dengan nama keluarga Meg: Harvey Lee White dan Scarlett White. Selain itu, Meg juga banyak membantu penggarapan album perdana Karen Elson dalam memulai karir barunya sebagai penyanyi.

Hubungan Jack dan Meg, cukup mengherankan untuk banyak orang. Apalagi orang-orang Amerika sana. Adalah hal yang tidak biasa, sepasang mantan suami istri, masih bisa berhubungan dengan sangat baik satu sama lain, tetap saling mendukung dan bekerjasama (meski untuk mencapainya pasti tidaklah mudah). Bukan hanya di antara mereka saja, tapi juga dengan pasangan baru mereka masing-masing.

Menurutku, butuh kedewasaan dan kematangan sikap, bahwa saling mencintai bukan berarti selalu berakhir dalam sebuah ikatan suami istri. Kurasa saat Jack dan Meg mengumumkan mereka adalah brother and sister, mereka bersungguh-sungguh menjalaninya. Sebagai penggemar, aku berasumsi bahwa Meg adalah cinta sejatinya Jack. Mereka adalah soulmate satu sama lain dan ga harus jadi suami istri. Hidup bersama, saling mendukung, saling menyayangi, saling menjaga (Jack selalu membela Meg, jika media under estimate pada kemampuan Meg bermain drum). Jack dan Meg mengajarkan keintiman yang sublim, karena ini tidak lagi melulu sebatas seks atau keintiman fisik belaka. Menjadi luar biasa karena kualitas hubungan seperti itu di bisa dilakukan di tengah-tengah medan sosial super rock star yang seringkali 'lack of commitment'.

Kurasa kualitas hubungan seperti ini juga hanya bisa di capai oleh orang-orang yang tau apa yang dia inginkan dari sebuah hubungan. Mungkin  juga tidak langsung ditemukan, tapi setidaknya perlu dicari tau apa yang sesungguhnya masing-masing inginkan dari sebuah hubungan. Dan yang terpenting juga setelah tau apa yang diinginkan, punya ketetapan hati pada keinginan itu. Tidak terombang-ambing atau meragu yang membuat kualitas hubungan seperti itu jadi mustahil tercapai.

Jika salah satu tidak yakin dengan apa yang dia inginkan dari sebuah hubungan yang kemudian terasa adalah salah satu pihak merasa dipermainkan. Karena tujuannya ga jelas dan bisa berubah setiap saat. Jika yang terjadi seperti itu, sebuah hubungan tidak akan menemukan ruang untuk berkembang dan bertumbuh. Mengahadapi situasi seperti ini yang akhirnya diperlukan adalah ketegasan sikap untuk memperjuangkan tujuannya sendiri. Bagaimana bisa saling membahagiakan, jika salah satu pihak saja tidak tau apa yang dia inginkan.

Kukira menemukan soulmate itu seperti menjawab soal-soal ujian bersama. Dua-duanya harus lulus ketika sama-sama meski dengan cara yang berbeda, tapi setidaknya masing-masing saling mengetahui keberbedaan cara-cara itu. Memaknai hubungan juga semestinya dilakukan kedua belah pihak. Ga bisa salah satu pihak aja dan mesti diingat: berkompromi dan mengalah adalah dua hal yang berbeda.

Jack White dan Karen Elson, Vouge, Juni 2010. Foto oleh Annie Leibovitz

"....we're married and we really know each other in such a different sense, he knew that he kind of had to throw me in at the deep end. So he did, he threw me in, and I had to deliver." Karen Elson to Jack White - Vouge

update: ternyata Jackson Smith alias suaminya Meg White adalah anggota bandnya Karen Elson alias istrinya Jack White.. ajaib..:))

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails