Sunday, May 23, 2010

Lou Reed: Perfect Day



Menutup minggu ini dan menyambut hari senin, aku ingin ditemani Lou Reed dengan Perfect Day-nya. Terima kasih untuk seminggu yang penuh dengan keceriaan, kesibukan, kejutan-kejutan, kemunculan-kemunculan dan kehangatan.. what a perfect week.. what a perfect day... aku mendekap minggu, hari, jam, menit, detik.. erat, melingkarinya dengan rasa penuh.. Terima kasih untuk hidup dan hari-hari yang sempurna.

Aku Suka Cara Kalian Bercerita



Michael Gondry dan Jim Jarmusch
Foto ini pelesetan dari cover album The White Stripes, Get Behind Me Satan. Michael Gondry dan Jim Jarmusch sama-sama pernah menggarap video klipnya The White Stripes dan Raconteurs, tapi di sini aku ga akan ngebahas soal itu. Michael Gondry pertama kali memikatku lewat penyutradaraannya di video klip The Hardest Button to Button dan juga filmnya Eternal Sunshine and The Spotless Mind. Sementara Jim Jarmusch pertama kali kukenal lewat Down By Law (bener-bener film lucu meski buat temenku tidak menemukan kelucuannya, di film ini juga aku langsung terpikat oleh 'kesintingan'nya Tom Waits) dan bener-bener membuatku mencari semua filmnya Jim Jarmusch salah satunya yang dibintangi Johnny Depp: Deadman dan kurasa film itu jadi salah satu film pentingnya Johnny Depp. Gondry dan Jarmusch punya gaya yang sama sekali beda dalam meyajikan gambar bercerita di layar lebar. Dua-duanya punya ke khas-an yang sulit dideskripsikan tapi bisa dikenali. Btw, aku suka banget fotonya, makanya aku pasang diurutan teratas.


Terry Gilliam.
Jika dalam dunia sastra ada Salman Rusdie yang mewakili aliran Magical Surealism Realism, maka dalam dunia film aliran ini diwakili oleh sutradara yang mempunyai kombinasi antara sinting, liar dan sangat kuat dalam visualisasi yang fantastis. Ya, namanya Terry Gilliam.  Brazil, Fear and Loathing in Las Vegas, Brother Grim, Tideland, The Imaginarium of Doctor Parnassus, selalu membawa kita masuk dalam imajinasi visual karakter-karakter dalam film-film itu. Konon kabarnya J,K. Rowling pengarang Harry Potter menginginkan Terrry Gilliam yang menggarap Harry Potter, ketika cerita karangannya itu difilmkan. namun produser menolak karena mereka tau pasti, biaya pembuatannya filmnya akan menjadi sangat-sangat mahal karena Gilliam pasti ga akan setengah-setengah dengan visualisasinya dan tentu saja kekawatiran bahwa filmnya kemudian belum tentu laku. Apa yang dibuat Gilliam bukan untuk menyenangkan para penonton yang mau bersusah payah membeli tiket untuk menghibur diri. Gilliam justru menyajikan karyanya untuk para penonton yang bisa sangat membenci karyanya atau sangat menyukainya. Dia tidak memberikan karyanya bagi penonton yang biasa-biasa saja: tidak benci tapi juga ga suka-suka amat. Hal lain yang membuatku mengagumi Terry adalah cara dia mengatasi kegagalan filmnya: The Man Who Kill Don Quixote pada tahun 2002 yang dicatat dalam film dokumentar The Lost of La Mancha. Kegagalan itu tidak membuat Terry menyerah. Terry kembali memproduksi Don Quixote yang rencananya akan di rilis tahun 2011.  Penonton seperti itu bukan untuk karya-karyanya Terry Gilliam. GOD! I love Fear and Loathing in Las Vegas, so muuuuuchhhh!!!!!



Alejandro Gonzalez Innarittu
Pertama muncul lewat Amores Perros, dunia perfilman langsung heboh: siapakah gerangan pendatang baru yang menggarap sebuah cerita seperti menyusun sebuah puzzle dengan cara bercerita yang sama sekali bebeda dari kebiasaan Hollywood. Amores Perros, buatku meninggalkan kesan yang dalem. Bukan karena Gael Garcia Bernal semata, tapi karena kemampuan Innarittu menyusun kehidupan beberapa tokohnya dan mengkait-kaitkannya dengan begitu artistik dan intens. Setelah itu, aku mengikuti kekaryaannya: 21 Grams, Babel dan film pendeknya untuk kompilasi 09'11'01 tentang 9/11. Tiga filmnya itu, masih bicara pada persoalan yang sama, soal kehilangan, kesalahpahaman tapi dalam kadar dan intensitas yang makin lama makin kental. Innarittu mengajak penontonnya  mendengarkan tokoh-tokohnya untuk bisa mengerti. Aku menunggu film dia selanjutnya yang akan segera di release: Biutiful.


Julian Schnabel
Sebagai visual artist, karirnya sebagai sutradara seperti bagian dari project seninya. Itu sebabnya Julian tidak banyak membuat film. Ada tiga dari empat yang sudah aku tonton dan film kelima sedang salam produksi. Basquiat (1996), Before Night Fall (2000) dan The Diving Bell and The Butterfly (2007) menjadi film yang cukup berkesan buatku. Sementara aku sedang mencari dokumenternya konser Lou Reed dari album Berlin yang juga di garap Julian. DI The Diving Bell and The Butterfly aku suka cara Julian melihat dengan mata tokoh utamanya yang hanya bisa berkomunikasi dengan kedipan mata. Menurutku cara Julian bercerita seperti menikmati sebuah lukisan kontemporer. Setiap scene menjadi permainan warna dan komposisi. Kedalaman karakter justru dapat ditemukan dari warna-warna yang saling bertumpuk di setiap scenenya dan itu yang membuat film-film Julian sangat artistik.

Steven Soderberg
Jika ada anggapan bahawa sutradara film-film box office belum tentu bisa menggarap film yang sama sekali serius dan ga komersil, tentunya anggapan ini ga berlaku buat Steven. Sebut saja Ocean Twelve, Thirdteen, Traffic sampai Che part One dan Part Two. Steven menggarap semuanya dengan serius. Semua mengandung bobot keseriusan dan integritasnya sebagai sutradara. Steven menarik perhatianku karena dia sutradara dua kali (dan sedang menggarap yang ketiga) bekerjasama dengan Benicio del Toro. Dan aku merasa mereka berdua punya chemistry yang cocok: Traffic membawa del Toro pada Oscar pertamanya di tahun 2000 dan Che memberi del Toro Palm d'our sebagai Actor Terbaik Cannes 2009. Aku suka ekspresi Soderberg yang 'monalisa' banget itu. Aku sedang mengumpulkan kembali film-filmnya dan kembali mencermatinya. Ekspresi yang selalu menyimpan kejutan dan membuatku penasaran untuk mengikuti karya-karya Steven selanjutnya.


David Cronenberg
Ada apa antara David dan kekerasan? David selalu membawa penontonnya pada sisi lain dari sebuah tindakan bernama kekerasan yang tidak terlihat oleh mata kebanyakan. Sebut saja Dead Ringer dimana Jeremy Irons bermain ganda sebagai karakter kembar yang punya pandangan sangat berbeda tentang kekerasan dan kesuburan perempuan. Spider yang menghubungkan kekerasan dan kegilaan. Crash yang membawa penonton melihat bahwa disatu sisi manusia membenci kekerasan tapi disisi lain ada kerinduan dan adiksi terhadap kekerasan itu sendiri. History of The Violence, meski lebih drama, namun tetap mencoba melihat kemungkinan bagaimana sejarah kekerasan dalam hidup seseorang tersembunyi menjadi rahasia hidup yang mencoba untuk di tutup-tutupi. Aku suka cara David menceritakan persoalan ini.

Lars Von Trier
Menyimak karya-karya Lars Von Trier menurutku seperti membaca buku-buku filsafat post modernism. Banyak hal bisa dijungkir balikkan kemudian di bangun lagi atau di ubah sama sekali. Lars dengan senang hati mengacak-acak kemapanan cara berpikir dan melihat penonton film-filmnya. Dancer In the Dark, Five Obstruction, Dogville, Breaking The Wave, Europa, Anti Christ membutuhkan pemahaman semiotika yang lebih ketika menontonnya.


Guy Ritchie
Sutradara Inggris dengan sense of humor yang Inggris banget. Khas. Sedikit sinis dan sarkas. Lock Stock And Two Smoking Barrels, Snatch, dan box office movie seperti Sherlock Holmes. Aku suka sense of humornya.

Wong Kar Wai
Ada dua hal yang paling aku suka dari film-filmnya Wong Kar Wai. Pertama, karena Tony Leung adalah  aktor yang selalu menjadi langganan Kar Wai di beberapa filmnya. Kedua: Wong Kar Wai selalu berhasil membuat cerita yang ditampilkannya terasa 'menggoda' dan sexy karena misterinya.  Dia selalu bisa membuat ketidak verbalan ekspresi Asia menjadi intens dan sexy, tanpa menjadi klise. Aku paling suka In The Mood for Love dan Eros.

Miranda July
Pertama kali menonton filmnya  'Me and You and Everyone We Know', langsung membuat aku jatuh hati pada cara Miranda bercerita. Apalagi setelah aku menemukan kumpulan cerpennya: 'No One Belongs Here More Than You'. Absurd kadang sureal sekaligus begitu nyata. 

Paul Thomas Anderson
Magnolia adalah film PTA yang membuat aku jatuh hati pada karyanya. Magnolia membuat Tom Cruise bekerja keras dengan aktingnya. There Will Be Blood, membuatku mengakui kehebatannya sebagai sutradara yang mampu membuat Daniel Day Lewis berakting dengan sangat total dan maksimal.


Monday, May 17, 2010

Benicio del toro, Senyummu Itu Loh..









Thelonious Monk - Round About Midnight



Seharian ini moodnya lagi cocok sama musiknya Thelonious Monk. Membuat hari yang penat dan padat dengan deretan pekerjaan jadi terasa lebih ngalir. Biar pelan, tapi yakin beres. Round About Midnight jadi lagu untuk menuju penghujung malam yang tenang di gudang selatan. Selamat tidur. Selamat  mimpi indah.

Masih Tentang Pilihan


Beberapa hari lalu, seorang teman menawariku pekerjaan yang sangat-sangat menarik. Sebuah pekerjaan yang menjanjikan masa depan, jika aku mau serius jadi peneliti. Namun tawaran pekerjaan ini mengharuskanku berada di Jakarta Senin sampai Jumat. Maka dengan berat hati aku menolak tawaran itu. Sepanjang perjalanan pulang dari Jakarta ke Bandung (setelah menjumpai temanku), aku berpikir-pikir kembali tentang kemungkinan-kemungkinan jika aku mengambil tawaran itu. Setelah kembali pulang dari perjalananan Asia Tenggara kemarin, aku berjanji pada diriku sendiri akan lebih fokus pada apa yang paling menjadi passionku:ngurusin tobucil dan menjadi seorang crafter yang bersungguh-sungguh, membuat sesuatu dengan tanganku sendiri teryata memberiku pengayaan batin yang luar biasa karena membuatku merasa penuh. Sementara aku juga tau, pekerjaan yang ditawarkan temanku itu akan memberikan banyak kesempatan dan pengayaan intelektual yang sangat besar, karena aku akan mendapat banyak kesempatan penelitin juga.

Sesampainya di Bandung, aku sms BQ tentang ini. Dia membalas smsku dengan mengatakan: 'bisa jadi itu godaan atau malah pilihan yang sebenarnya'. Aku kembali bertanya padanya: 'siapa yang menentukan bahwa itu adalah godaan atau pilihan?' BQ yang baik itu pun menjawab kembali: 'yang menentukannya adalah tujuan hidupmu, passionmu, mau jadi seperti apa kamu.' Mencerahkan sekaligus melegakan. Aku membalas sms BQ: 'kalau gitu, tawaran itu adalah godaan :)'.

***

Aku percaya, Tuhan akan mengambil keputusan atas hidupku dengan melihat sejauh mana aku meyakini apa yang aku pilih. Menjadi istiqomah, seperti yang diperintahkanNya. Bagaimana keyakinan itu dibangun juga seberapa kuat argumentasi yang kubangun untuk menyertai keyakinanku, aku percaya Tuhan akan melihat itu. Dan tentunya tidak ada keyakinan yang tidak pernah di uji. Bukan hanya oleh hal-hal yang sulit, tapi justru oleh tawaran-tawaran menggiurkan. Tawaran-tawaran seperti ini menjadi godaanku untuk tetap fokus pada apa yang sedang kujalani di tobucil.

Aku tidak sedang membuktikan sesuatu pada orang lain. Aku hanya berusaha membuktikan pada diriku  bahwa aku menepati janji pada diriku sendiri: ga setengah-setengah dalam menjalani sesuatu. Biarpun menjalaninya pelan-pelan, tapi aku tau tujuanku: aku ga mau mati dengan penyesalan karena apa yang menjadi passionku, tidak dapat kujalani karena aku tidak memilihnya, bukan karena aku tidak punya pilihan. Aku ga mau hal itu terjadi padaku.

Meski rentang minatku sangat beragam, tapi aku tau ada benang merah di antara semua itu. Setidaknya semakin kebertambah usia, semakin diberi kemampuan untuk lebih selektif dalam menjalani minat-minat itu. Hanya yang sesuai dengan tujuanku, itulah yang aku jalani. Gimanapun juga, pertambahan usia menuntutku untuk memilih mana yang sesuai dengan keyakinan. Menjadi istiqomah dan fokus dalam hidup menurutku adalah menjaga benang merah itu supaya tidak terputus. Sampai kapan  benang merah itu mesti dijaga, menurutku ya sampai mati.

Bagaimanapun juga hidup yang sedemikian beragam ini perlu diapresiasi tanpa kehilangan arah dan tujuan. Bagiku keragaman yang satu berkesinambungan dengan keragaman yang lain. Tidak ada yang benar-benar terpisah satu sama lain, aku hanya perlu menemukan garis-garis persinggungannya dan menemukan jembatan dari satu hal ke hal yang lain.



Gudang Selatan
t


'For me it was always about doing my best and devoting myself to a challenge. Sometimes that will cut it, other times it won't. But I'm someone who remains faithful to my dreams.' -Benicio Monseratte Rafael del Toro Sanchez-

Wednesday, May 12, 2010

Lagi-lagi Soal Mengerti dan Tidak Mengerti: Aku, Kamu Dan Apa yang Kita Tahu

Lampu di rumah Ise, foto: vitarlenology

Beberapa hari lalu, sebuah sebuah pertanyaan ganjil terlontar dari seorang teman: 'memang kalo di Bandung ada ga ya komunitas?' saat itu, dia bertanya pada temanku yang lain dan aku duduk di sebelahnya. Temanku otomatis langsung menunjuk aku. 'Lah, kamu kan lagi duduk di tempatnya komunitas-komunitas pada ngumpul..'  Aku tersenyum maklum. Temanku yang bertanya diam sejenak, lalu tersadar. Dia buru-buru membuat meralatnya. 'Oh iya ya.. maksudku yang komunitas lingkungan..' ralatnya dengan gugup. Pertanyaannya jadi terdengar bodoh di depanku dan temanku satu lagi. 'Santai aja', aku bilang 'aku dah biasa kok ga di 'reken' kaya begini,' kataku sambil tertawa. Temanku yang bertanya itu, jadi bener-bener merasa tidak enak padaku.

Sementara pertanyaan 'ganjil' temanku itu justru memunculkan pertanyaan lain dalam benakku:  Mmm.. membuatku bertanya-tanya kembali dalam hati, apa sebenernya arti komunitas itu seperti yang selalu didengung-dengungkan itu? kadang istilah justru sering menyempitkan arti dan makna. Istilah seringkali mengaburkan esensi. Pertanyaan lain untuk diriku sendiri yang bernada ke-curigaan adalah: 'kalo teman  yang cukup dekat secara personal aja ga me'reken' yang terjadi di tobucil sebagai sebuah aktivitas komunitas, bagaimana dengan yang lain? jangan-jangan program reguler di tobucil selama ini hanya di 'reken' sebagai 'main-main' saja, nongkrong-nongkrong ga penting dan tidak nampak ada gunanya? Mungkin karena pertanyaannya muncul dari seorang teman yang selama ini kuanggap cukup dekat, keganjilannya bagiku malah menggugat hal yang sangat mendasar: 'sebenernya ada gunanya ga sih semua yang sudah dijalani ini?' (mungkin gugatan yang terasa berlebihan juga..)

***


Dalam perjalanan bersama tobucil, aku belajar banyak bahwa seringkali sebuah ide dan gagasan itu harus berhadapan dengan ketidak mengertian (atau mereka mengerti dengan cara yang tidak kumengerti)  dari lingkaran teman-teman yang paling dekat dengaku. Kedekatan dan kemengertian adalah dua hal yang sangat jauh berbeda. Yang ada diantaranya adalah proses untuk mencari cara untuk mengerti yang memang dipahami oleh kedua belah pihak. Mungkin aku memang tidak pandai untuk menemukan kesepakatan untuk sama-sama mengerti. Ketika ide dan gagasan itu aku lemparkan, bisa jadi hanya aku yang mengerti. Ketika aku berusaha membuat orang lain mengerti, orang lain mengerti dengan caranya sendiri, bukan dengan cara yang sama-sama dimengerti olehku dan olehnya (pusing deh..hehehe)..

Salah satu resolusi ulang tahunku yang ke 33 adalah belajar menerima bahwa orang lain tidak mengerti dengan cara aku mengerti sesuatu dan menerima bahwa aku seringkali juga tidak mengerti cara orang lain mengerti sesuatu.

***

Sekarang ini, aku justru menghindari menggunakan kata-kata yang  selama ini melabeli (seperti komunitas, kreatif) apa yang kukerjakan dan membuatku mempertanyakan kembali maknanya.. aku mencoba membebaskan diriku dari pelabelan itu. Terserah orang akan menyebut apa, mengkategorikannya sebagai apa, me'reken'nya atau tidak... terserah saja. Aku hanya sedang malas mencari-cari penjelasan atas pelabelan itu ..

(ga usah kawatir,  yang menggangguku tidak lagi pertanyaanmu, tapi justru pertanyaan-pertanyaanku pada diriku sendiri..)

*** 

“Before I was ever in high school, I had dark circles under my eyes. The rumor was I was a junkie. I have dark circles under my eyes, deal with it.” – Benicio Del Toro

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails