Thursday, April 29, 2010

Blur: The Universal



Nonton film The Good Night, bikin aku jadi inget sama lagu ini dan mencari donlotannya. Aku suka intro orkestranya. Sejak lagu ini muncul, aku langsung suka. Menurutku Blur sebagai band indiepop pada jamannya punya kemampuan musikal yang cukup kuat. Damon Albarn menurutku lebih pantes disebut seniman daripada popstar. Project band 2 demensi pertama di dunia yang digagas olehnya_Gorillaz dan melibatkan banyak musisi, menurutku brilian banget. Apalagi sikapnya yang menjauhi gaya hidup selebriti pada umumnya dan lebih low profile karena yang penting adalah karyanya. Aku merasa beruntung banget pernah nonton dia dengan projectnya the Honest Jon’s Revue di Lincoln Center, NYC, 12 Juli 2008. Di konser itu aku lihat Albarn bukan sosok yang senang tampil di atas panggung. Selama para musisi Mali dan beberapa musisi dari AS tampil, Albarn memilih duduk di tepi panggung di dekat posisi drum jadi agak tersembunyi gitu. Foto-foto pas konser itu aku upload menyusul. Sekarang aku lagi pengen menikmati lagu ini. Perhatikan deh, kalau lagu ini diputar berkali-kali, bagian awal dan akhirnya kaya nyambung jadi satu kesatuan kaya lingkaran.

Thursday, April 22, 2010

Pulang Ke Rumah

 "lotus di danau angkor" foto by vitarlenology
 
Seburuk-buruknya rumah, selalu saja pulang ke rumah menjadi hal yang melegakan setelah perjalanan. Di rumah, meski tempat tidur tidak senyaman hotel dan tidak ada hal baru, tapi rumah selalu membawa kenyenyakan tidur yang berbeda.

Perjalanan kali ini, membawa rumah pada kelegaan dimana perasaan kembali pulang perasaan beristirahat, pada pekerjaan-pekerjaan, pada teman-teman pada ritual-ritual rumah yang beda rasanya jika dilakukan di tempat lain. Juga pada masakan ibu. "Bu, aku ingin makan sayur daun singkong besok.." permintaan yang selalu sama, setiap kali aku kembali dari perjalanan. Dan ibuku yang menurut kakakku kehilangan mood memasak selama aku pergi, permintaanku membuatnya kembali bersemangat.

Apa yang berbeda setelah pulang? selain cap di passport bertambah. Ku kira rasa menaklukkan jarak itu juga menjadi penting. Bahwa dalam hidup ini, ada jarak jelajah yang membuat diri mengalami keluasan dunia. Bukan sekedar rumah dan kota tempat kelahiran saja, tapi juga mengalami tempat-tempat lain, melihat hidup yang berbeda-beda, mengkonfirmasikan sejumlah asumsi-asumsi dan prasangka tentang kehidupan di tempat lain. Kukira, hal-hal seperti itu yang menjadi jejak penting setelah kembali pulang dari sebuah perjalanan.

Ngomong-ngomong, adakah orang yang benar-benar merasa tidak punya "rumah" atau tempat untuk kembali. Jika dia merasa tidak punya tempat untuk kembali, berarti mungkin dia tidak menengok apa yang sudah dia jejaki. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tidak punya tempat untuk kembali, apakah orang seperti ini bisa menjelaskan apa itu rasa nyaman (ketika kembali pulang?). Mmmm...

Pulang ke rumah bagiku seperti kembali pada orang-orang dimana aku tak perlu menjelaskan apa-apa. Orang-orang ini tidak selalu mengerti aku, tapi mereka cukup bisa menerima ketidak mengertiannya dan itu cukup. Kembali pulang juga berarti, kembali pada rasa nyaman ketika semua lelah perjalanan bisa terobati. Pulang ke rumah seperti meraih semua hal yang bisa kupeluk erat, menggenapi perjalanan dengan rasa penuh sesudahnya.

Terima kasih rumah, kamu selalu memberiku perasaan bahagia kembali pulang.
Terima kasih untuk semua yang selalu menjadi rumah untukku.

Saturday, April 10, 2010

Catatan Perjalanan 3 - Thailand: Bangkok Dalam Sepenggal Jalan Bernama Khao San

Meski bisa beradaptasi dengan cepat dengan kotanya, namun aku ga bisa beradaptasi dengan cepat dengan moodku yang hilang di tengah jalan. Mungkin karena kehilangan frekuensi dengan teman perjalanan, merasa perjalanan ini jadi terasa sangat lama dan panjang, dan merindukan pekerjaan-pekerjaan. Setelah berhitung, kami memutuskan ga jadi ke Phuket, karena budget terbatas. Akhirnya 6 hari dihabiskan hanya di Bangkok dan kehidupanku selama 6 hari berputar di Khao San Road dan Silom saja.

Sempat berkeliling ke beberapa kuil besar, tapi ya semuanya seperti sama saja. Ga banyak perbedaannya. Yang menarik justru demonstrasi 'kaos merah' Thailand yang gencar menyuarakan reformasi kepemimpinan di Thailand. Banyak tempat-tempat tutup juga gara-gara pawai para demonstran yang waktu aku datang mereka udah berdemonstrasi selama 20 hari. Beneran non stop 24 jam. Mereka membangun basecamp dekat Khao San Road. Jadi setiap malam aku bisa mendengarkan pidato para orator seperti suara pengajian dari mesjid lewat load speaker.

Sebagai kota besar yang mirip Jakarta, kecuali besar dan kepadatannya, menurutku Bangkok termasuk cukup bersih. Kecuali soal kemacetan lalu lintasnya. Daerah Khao San Road ini termasuk daerah di Bangkok yang justru tidak tersentuh fasilitas transportasi umum yang lebih nyaman seperti sky train atau subway. Hanya daerah ekonomi seperti Silom yang kawasannya bisa ditempuh dengan menggunakan dua transportasi umum itu, selain bus. Selebihnya, daerah Khao San Rd dan sekitarnya bisa ditempuh dengan taxi, Tuk Tuk (kendaraan umum sejenis bajaj) dan juga bis. Karena daerah turis, banyak supir taxi, tuk tuk bisa berbahasa Inggris sedikit demi sedikit.

Malam hari, daerah Khao San berubah seperti arena pasar malam. Banyak tempat makan kaki lima dan para penjual menjajakan dagangannya di sepanjang jalan itu. Sebenernya mirip dengan Petaling Streetnya Kuala Lumpur, hanya "bule"nya lebih banyak. Barang yang dijual cukup murah-murah. Makanan kaki limanya juga enak-enak dan porsinya pas denganku (setidaknya). Hanya satu yang aku ga tahan, panasnya itu loh. Ada satu hari baru keluar sebentar aja, badan rasanya kaya mateng kepanggang mata hari.

Di daerah Khao San Road, ada beberapa toko buku second yang harganya murah-murah. Lebih murah dari di Indonesia dan koleksinya lumayan bagus-bagus. Aku nemu beberapa judul Jack Keroac (yang dengan menyesal tidakku beli), dan juga aku menemukan Roland Barthes a Reader nah kalo ini terpaksa aku beli karena pasti perlu. Udah gitu, kalo dah selesai baca bisa dijual lagi ke toko yang bersangkutan. Internet lumayan kenceng di Bangkok, kukira lebih kenceng di Bangkok daripada di Bandung atau Kuala Lumpur. Perjam 30 Bath. Oya tempatku menginap ini namanya New Mery V Guest House per malam 200 Bath atau sekitar 60 ribu rupiah. Kamarnya bener-bener cuma tempat tidur doang dengan kasur yang keras banget dan ga ada colokan listrik. Jadi kalo mau ngecharge hp atau batere kamera harus bayar 20 Bath.

Tempat-tempat wisata di Bangkok kalo di kelilingi sehari aja udah selesai. Selebihnya buatku yang menarik sambil nonkrong di hallnya guest house ya sambil merhartiin turis-turis yang lalu lalang di sepanjang jalan itu. Kurasa mereka seperti menemukan tempat untuk bebas di Bangkok. Bisa bergaya  seeksotik mungkin dengan biaya yang murah meriah tentunya dan nenteng-nenteng bir dingin di siang hari bolong yang ga mungkin dilakukan di kota seperti New York City sekalipun (kamu bisa disamperin polisi kalo minum bir secara terbuka (botolnya keliatan) di Central Park atau Union Square atau Bryant Park di Manhattan. Di Bangkok, tepatnya di daerah Khao San Road, kamu boleh melakukannya dengan bebas. Lucu juga, karena banyak dari "bule-bule" itu ternyata juga tidak berbahasa Inggris, karena banyak juga yang dari Eropa. Mereka dengan gaya dan kepede-an masing-masing menjadikan kawasan itu sebagai catwalk mereka untuk 'show off'. Pada kenyataannya aku lebih sering disangka orang Thailand daripada dikenali sebagai orang Indonesia. Baru ngaku bukan ketika diajak ngomong bahasa Thai dan aku ga ngerti.

Tempat yang menarik juga yang hanya buka setiap Sabtu dan Minggu adalah ChatuChak weekend market. Semacam pasar seni disetiap akhir pekan. Bisa nemu aneka merchandise, kerajinan tangan, artworks, art supply dengan harga yang murah  dan kualitas yang cukup baik. Aku cukup kalap ketika menemukan kertas-kertas daur ulang handmade yang bagus dan murah. Kalo aku balik lagi ke Bangkok, tempat utama yang mau aku datengin ya ChatuChak. Seneng aja liat betapa seriusnya mereka dalam mengerjakan souvenir-souvenir kerajinan tangannya. Biarpun dijual murah, tapi ga asal-asalan.

Hal lain yang juga kuperhatikan selama di Bangkok adalah, banyak sekali "perempuan jadi-jadian" alias bencong dan nampaknya itu bukan hal yang aneh. Heran juga, kenapa banyak laki-lakinya yang senang berdandan perempuan.

Oya hampir lupa, aku juga datang ke pameran buku nasional di Queen Sirikit National Convention Center. Menarik juga. Karena stand yang ikut pamerannya cukup banyak udah gitu pengunjungnya juga banyak dan meski banyak buku-buku terjemahan, nampaknya mereka cukup serius menggarap kemasannya. Udah gitu harga buku di Thailand itu termasuk murah banget. Banyak buku bagus dijual antara 30-50 Bath atau dibawah 50 ribu rupiah. Hampir setengahnya dari harga-harga buku di Indonesia. Denger-denger pemerintah mencabut pajak untuk kertas, jadi produksi buku bisa lebih murah. Senangnya. Udah gitu kertasnya juga kertas yang biasa dipake buar paperback jadinya ringan.

Tidak ada yang begitu istimewa dalam perjalanan ini, kecuali mendapatkan menyadari bahwa mencari teman perjalanan yang nyambung frekuensinya tuh ga gampang. Dan Bangkok atau Thailand secara umum, sekarang sedang mengalami goncangan demokrasi yang di Indonesia sudah berkali-kali terjadi. Mereka kawatir sekali jika demonstrasi ini bisa menjadi rusuh dan mengganggu kenyamanan hidup mereka. Meski mereka juga ingin pemerintahan yang korup diturunkan dari jabatannya.

Ternyata hidup di negara yang 'awut-awutan' seperti Indonesia ini justru menyiapkan mental warganya untuk siap dalam banyak hal (terutama hal-hal yang paling buruk). Hal yang menjadi kepanikan orang Bangkok, mungkin hal yang sudah sangat biasa terjadi di Indonesia, jadi ga ada yang perlu dikawatirkan. Tapi disisi lain juga semakin menyesalkan "kesalah urusan" negaraku yang besar banget itu. Sempat bertanya-tanya, kapan kira-kira manajemen pengelolaan negara ini bisa jadi lebih baik? sehingga kota-kota macam Jakarta bisa punya sarana transportasi publik yang lebih baik, Bandung bisa punya sistem pembuangan air yang baik dan jalan yang nyaman buat dilewati. Negaraku itu bukannya ga mampu dan bukannya ga bisa. Mampu sekali dan bisa sekali. Banyak orang pintar, punya semangat kerja keras dan pandai mensiasati keterbatasan, seharusnya sudah jauh melebihi tetangga-tetangganya, tapi kok ya kenapa lebih senang membiarkan rumahnya berantakan dan bobrok sampai akhirnya runtuh daripada memperbaikinya secara tuntas dan tepat.

Ku kira ini bukan lagi persoalan rumput tetangga lebih hijau atau tidak, tapi bagaimana mengurus lahannya supaya ga ditumbuhi sembarang rumput, alang-alang dan gulma. Pikiran-pikiran itu menemaniku selama dua hari perjalanan menuju Kuala Lumpur dengan menggunakan kereta. Pertama kami hanya dapat kursi untuk kereta bisnis yang interiornya masih terbuat dari kayu udah gitu semua jendelanya terbuka. Murah sih hanya 455 bath sampai Hat Yai, tapi semalaman tidur dengan sebagian jendela yang terbuka (karena orang yang duduk disebelahnya lebih senang membuka jendelanya daripada menutupnya) bener-bener perjuangan, terutama mengatasi angin dan serangga-serangga. Kami berangkat dari Huang Lam Poo Train Station Bangkok  Pk. 15.40  tanggal 7 April dan sampai Hat Yai Pk.12.00 siang tanggal 8 April. Udah gitu kami juga harus menyambung perjalanan dari Hat Yai ke Kuala Lumpur dengan kereta. Syukurlah karena dapet kereta yang jauh lebih baik (kaya kereta eksekutif), keretanya Malaysia KTM Senja Langkawi dan lebih murah 450 bath perorang. Jadi cukup menghemat ongkos juga. Tarif yang biasa dipakai untuk rute kereta api ini biasanya dari Bangkok - Buttoworth (perbatasan Thailand-Malaysia) itu 1200 Bath untuk kereta kelas 2 lah ya kaya kereta Malasysia itu. Setelah itu dari Buttonworth ke KL, 40 RM (120 ribu) lagi mau naik bis atau kereta sekitar segitu. Karena aku ganti keretanya di Hat Yai, jadi pemeriksaan perbatasannya di stasiun Padang Besar. Dari Hat Yai berangkat Pk. 14.20 sampai Padang Besar Pk. 15.30 jadi cepet banget. Setelah itu dari Padang Besar ke Kuala Lumpur berangkat Pk. 17.00 waktu malaysia (lebih cepet 1 jam dari Jkt) nyampe Pk. 06.10 pagi.

Berada di Kuala Lumpur lagi, rasanya melegakan. Meski aku tau di sini juga ga ada yang bener-bener menarik selain: Kinokuniya KLCC, Petaling street dan IKEA. Tapi tetep aja lega karena semakin mendekati pulang. Dan disini aku bisa ketemu beberapa teman baik. Lagi pula akses transportasi umum lebih mudah dengan monorail dan LRT. Bahasa mereka juga membuat aku merasa semakin dekat dengan rumah. Dalam perjalanan yang cukup panjang seperti ini, sampai di Kuala Lumpur seperti tiba di rumah tetangga yang dibenci tapi juga dicintai. Love hate relationship..

Petaling Street, Kuala Lumpur
10 April 2010

Foto di upload menyusul

Friday, April 09, 2010

Feel In Love With a Band

Setelah menamatkan The Motorcycle Diaries dalam berjalanan Thailand - Malaysia (2 hari, 2 malam di kereta api..:P), tentunya aku membutuhkan buku lain untuk menemani perjalananku. The Motorcycle Diaries enak banget dibacanya. Che Guevara pandai bercerita. Waktu buku itu selesai, ada perasaan "yah, kok dah selesai lagi.."

Sampai di Kuala Lumpur, tujuan pertamaku adalah Kinokuniya di KLCC, mencari-cari buku, tadinya mau nyari referensi buat tulisan yang lagi kukerjain, trus tiba-tiba aja di rak "rock n' roll" aku menemukan buku ini "Fell in Love with a Band: The Story of The White Stripes" WOHOOOO!!!! Sebagai fan beratnya The White Stripes, aku kok ga ngeh kalo buku ini ada ya? Di terbitkan tahun 2004, jadi ga lengkap sampai berita paling baru soal TWS. Tapi sejauh yang aku baca, banyak info yang aku ga tau soal TWS dan menjawab misteri TWS yang selama ini ga banyak di ekspose media. Ada banyak wawancara sama temen SDnya si Jack, sobatnya Meg dan penulisnya juga jurnalis musik Detroit yang ngikutin sepak terjang TWS dari awal. Langsung membuatku bersemangat nih.. hehehhe.. dan kangen sama playlist 'White to white' di Itunesku.

Hal lain yang menyenangkan di hari ini (selain semakin mendekati pulang), di Kinokuniya KLCC itu ada dua rak penuh isinya buku  ondori atau buku-buku craft jepang gitu dan ga di segel heheheheh.. jadinya aku bukain mencari-cari ide dan nemu banyak tentunya membuatku kangen sama mesin jahit dan tumpukan kain-kain  :(( tapi minimal dua rak buku-buku craft Jepang itu sedikit mengobati kerinduanku untuk bikin seusuatu. Oh oh.. apakah aku harus ke IKEA juga? Hiks.. sementara duit semakin menipis.. masih ada Singapura nih sampai waktnya pulang tiba. Mmm... bener-bener harus menahan diri kuat-kuat nih..

Tuesday, April 06, 2010

Kangen Kerja

Dalam rangka mencari cara mengembalikan mood perjalanan, terpikir olehku bahwa salah satu penyebab hilang mood, selain penyesuaian dengan teman perjalanan, juga kerana aku rindu pada pekerjaan-pekerjaanku di Bandung. Digital detox sebulan mungkin aku bisa, tapi tidak 'bekerja' dalam tiga minggu bisa membuat aku 'gila'. Bekerja dalam arti juga membuat sesuatu (hiks jadi teringat tumpukan bahan baku di deket meja kerjaku). Apalagi  dalam perjalanan ini aku mendapat banyak ide baru untuk berkarya, rasanya ingin segera merealisasikannya.

Memang suka serba salah. Kalau kerja terus ga ada istirahatnya juga otak rasanya jenuh. Tapi kalo liburan bener-bener off kerja selama 3 minggu begini, juga rasanya ga karu-karuan. Setidaknya dari perjalanan ini aku jadi tau, waktu maksimum yang bisa kupenuhi untuk off dari pekerjaan itu berapa lama: 2 minggu lah. Cukup. Ga nyentuh bahan2 buat berkarya. Lebih dari itu, aku bisa sakau beneran (untung aku bawa hook crochet, aku bisa merajut pake kantong kresek nanti di jalan).

Hari ini akan jadi malam terakhir di Bangkok, karena besok siang kami akan berangkat lagi ke Malaysia. Perjalanan cukup panjang karena menggunakan kereta yang ga langsung mengantar ke tujuan, tapi sambung-sambung di beberapa stasiun. Karena minggu ini adalah hari liburnya orang Thailand, banyak orang pergi ke perbatasan untuk berlibur. Tapi setidaknya melanjutkan perjalanan ini membuat aku kembali bersemangat, mungkin juga karena semakin mendekati Singapura dan itu artinya kembali ke Jakarta dan Menginjakkan kaki kembali di Bandung.

Di Malaysia nanti, judulnya bekerja sambil liburan karena aku harus menyelesaikan beberapa tulisan yang deadlinenya datang bersamaan, juga membuat wawancara dengan beberapa teman disana. Ya cukup menghibur lah. Lagipula bertemu dengan teman seperti Ise dan Asung yang akan datang dari Jakarta cukup membuatku bersemangat.

Sisi baik dari perjuangan melawan kebosanan dan kehilangan frekuensi dengan teman seperjalanan adalah aku bisa menyelesaikan buku yang aku bawa sebagai bekal perjalanan ini.

Tadinya aku ga akan bawa buku ini. Aku meminjamnya dari Rumah Buku. Isinya adalah kumpulan wawancaranya Tom Waits. Salah satu musisi yang aku suka banget karya-karyanya. Dari wawancara-wawancara itu aku jadi lebih mengerti proses kreatifnya Waits yang beda dari yang lain. Waits membuat lagu seperti sedang bercerita. Menurutku dia adalah pencerita yang baik. Dia tau bagaimana membuat cerita itu menjadi tidak membosankan dan selalu menarik. Dia memperlakukan bunyi sebagai bagian penting dalam cerita yang dia buat.

 Buku ini mengumpulkan wawancara-wawancara Waits sejak tahun 1977 sampai 2000-an. Ada dua wawancara yang menurutku sangat menarik, lebih tepat disebut obrolan daripada wawancara, jadi obrolan yang ditranskrip antara Tom Waits dan Elvis Castello dan Tom Waits dengan Jim Jarmush. Elvis Castello lebih senang bercerita banyak daripada Tom Waits, mungkin juga karena sama-sama senang bercerita. Sementara Jim Jarmusch ada dalam tulisan yang terpisah, lebih seimbang  ngobrolnya. Baik Jim maupun Tom sama-sama saling berbagi banyak hal. Mungkin juga karena dua orang ini udah beberapa kali bekerja bareng. Tom pernah membintangi film Jim: Down By Law, salah satu film favoritku . Jawaban-jawaban Tom yang suka ngasal seringkali bikin aku cekikikan sendiri.

Buku kedua yang aku selesaikan dengan sangat cepat adalah Fear and Loathing in Las Vegasnya Hunter S. Thompson. Aku sengaja bawa buku ini karena aku udah nonton filmnya lebih dari 10 kali. Dan ketika baca buku ini aku kaya nonton filmnya lagi hahahah.. makanya cepet. Karena sebagaian aku hapal adegan dan dialognya. Baca buku ini sehari selesai, itupun ga full seharian. Aku bener-bener terhibur dan lumayan menaikan moodku lagi, karena aku tuh beneran suka banget sama film ini. Tentunya juga karena para pemainnya hehehehehe.. juga sutradaranya. Yang aku baca dibuku seperti melengkapi bagian-bagian yagn kurang lengkap di film. Tapi 90% Terry Gilliam menerjemahkan seperti apa yang ada di buku. Kecuali Raoul Duke dan Dr. Gonzo yang seharusnya bugil saat room service di hotel Flamingo disergap Dr. Gonzo. Hahahah.. di film Johnny dan Benicio ga bugil untuk adegan itu. Sepertinya aku membaca film ini sesuai dengan filmnya. Biasanya kebalik, orang nonton filmnya untuk ngeliat apakah interpretasinya sesuai dengan buku, kalo aku mungkin kebalikannya, karena aku nonton filmnya dulu berkali-kali pula, sampai semua audio commentary yang ada di film ini aku dengerin semuanya juga.. hahahahah..

Nah sekarang aku sedang mulai membaca buku yang ini:
The Motorcycle Diariesnya Che Guevara. Aku udah nonton sih filmnya, tapi membaca bukunya kayanya jadi cerita yang berbeda dan menarik. Buku ini aku dapet di Cambodia. Kupikir asli, pas dilihat bajakan hehehehe.. 3 dolar saja. Ya udah hitung-hitung foto copy dan cover dibuat sesuai aslinya. Biar lengkap Che Guevara menemani dalam perjalanan ini. Nemu bukunya Keroac ada dua judul yang aku belum punya, tapi lagi menimbang-nimbang apakah perlu membelinya atau tidak. Aku udah belanja banyak banget nih di Thailand.. Keroac bisa nanti lagi, Town and The City aja ga jadi aku bawa dan belum aku selesaikan juga membacanya.  Biasanya kalo udah mulai baca lagi, bakalan terus nagih dan ga bisa berhenti. Baguslah, karena aku memang harus banyak baca lagi karena sudah mulai menulis lagi. Menulis dan membaca dua hal yang ga bisa dipisahkan. Ga bisa nulis kalo ga banyak baca. Maksudku bacaan-bacaan yang cukup serius dan jadi referensi. Sekalian pengkondisian sebelum daftar sekolah.

Bangkok, 6 April 2010
yang pengen segera kembali ke jalan aceh 56

Monday, April 05, 2010

Teman Perjalanan

 Foto kiriman Tanto yang membuatku terhibur karena teringat bagaimana Nirwan Arsuka "tertakjub-takjub" dengan singkatan ini..cara dia mengatakannya itu loh.. lucu banget.. :D

Hal yang paling berat dalam sebuah perjalanan adalah menjaga frekuensi dengan teman seperjalanan. Hari pertama, kedua masih seperti masa-masa serba antusias, tapi saat sudah sampai tempat tujuan dan mulai menemukan minat masing-masing, mulailah setiap tujuan menjadi terlihat berbeda. Pada titik ini, frekuensi atau chemistry masing-masing perlu mengalami penyesuaian lagi. Penyesuaian menjadi sulit saat dari awal udah ketauan beda frekuensi cukup jauh. Jadinya sampai satu titik, perjalanan menjadi masing-masing dan bersama hanya sebatas persoalan teknis (Duh.. kenapa terdengar seperti sebuah hubungan rumah tangga ya... hihihihih.. setidak kesamaan ini disimpulkan dari cerita-cerita temanku yang sudah berumah tangga :D)

Ini menjadi sebuah pelajaran jika akan melakukan perjalanan cukup panjang seperti ini: dari awal carilah teman perjalanan yang kita tau betul frekuensinya ga jauh beda (setidaknya ada pada level yang sama. Sama-sama ada di gelombang FM misalnya, jangan yang satu FM yang satunya lagi AM). Kalau perbedaannya terlalu jauh, akan sulit menyesuaikannya lagi. Pengaruh cuaca, stamina, akomodasi yang ala kadarnya akan sangat mempengaruhi mood perjalanan. Kalau terbiasa jalan sendiri, sebenarnya jadi lebih leluasa. Karena semua keputusan bisa ditentukan sendiri. Tapi dalam sebuah perjalanan bersama-sama, mesti ada ruang juga untuk masing-masing melakukan apa yang menjadi minat. Kalo engga, masing-masing nanti akan merasa terpaksa mengikuti keinginan salah satu pihak saja dan itu akan banyak mengurangi kenikmatan perjalanan ini.

Yayaya.. (sambil berusaha memikirkan kembali, bagaimana menyesuaikan frekuensi dari perjalanan ini .. mungkin juga karena panas, jadi membuatku lambat sekali berpikir.) Semakin menyadari, bahwa gimanapun juga aku tuh cinta banget tinggal di Bandung..

Bangkok, 5 April 2010

Saturday, April 03, 2010

Catatan Perjalanan 2 - Cambodia: Terbakar Teriknya Tanah Khmer

Selamat datang di Cambodia

Perjalanan menyebrang dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh, berjalan lancar dan tidak ada kendala yang berarti. Perjalanan mamakan waktu sekitar 6 jam. Kami berangkat 29 Maret 2010 Pk. 10.00, sampai perbatasan sekitar pk. 12.00 waktu setempat (tidak ada perbedaan waktu dengan Jakarta). Teriknya tanah Cambodia, langsung terasa. Tenggorokanku langsung bereaksi dengan hal ini, rasanya kering sekali dan panas. Urusan visa juga ga repot, karena semua dibantuin oleh petugas bis yang membawa penumpang ke Cambodia. Sepanjang perjalanan menuju Phnom Penh daerah yang kulewati terasa gersang dan panas menyengat. Terlihat sekali perbedaan antara Vietnam dan Cambodia, sebagai negara yang lebih kecil dan beda ideologi dengan Vietnam, Cambodia seperti sedang berjuang keluar dari bayang-bayang rezim Khmer Merah dan sedang berusaha membangun dirinya dengan tertatih-tatih. Setidaknya kesan itu aku dapatkan dari ekspresi orang-orang Cambodia yang kutemui sepanjang perjalanan.

Seorang ibu yang bersama-sama naik bus denganku dan menyangka aku orang Filipina (selama perjalanan ini bukan sekali ini aku disangka orang Filipina, berkali-kali, kalo dibilang orang Indonesia, mereka bereaksi, Malaysia?. No! Indonesia!, kalau dijawab orang Puerto Rico mereka lebih bingung lagi hahahaha..). Oke, si ibu teman perjalanan naik bis dari Ho Chi Minh ternyata dia orang Cambodia yang udah beberapa kali ke Indonesia untuk ikut pelatihan Clean Goverment di Indonesia (ga salah nih???), begitu tau aku orangIndonesia dia langsung bercerita soal Cambodia dengan bahasa Inggris logat Cambodia.. heheheh jadi setengahnya aku bisa paham, setengahnya lagi nebak-nebak. Tapi dari dia minimal aku dapet gambaran seperti apa Cambodia, mungkin seperti Indonesia setelah tahun 1965 (aku menebak aja).

Daerah Sekitar Rusia Market di Phnom Penh

Phnom Penh, lebih awut-awutan dari Ho Chi Minh. Jalanannya kotor dan semrawut banget, tapi ga tau kenapa aku merasa langsung terhubung dengan orang-orangnya. Bis berhenti di dekat Russian Market. Perlu Tuk Tuk (semacam bajaj) untuk pergi ke tempat penginapan yang di rekomendasikan Lonely Planet. Sejak menemukan Green Tortoise Hostel atas rekomendasi Lonely Planet waktu backpacked ke Seattl, 2008 lalu, aku sangat mengandalkan pilihan editor Lonely Planet untuk guest house atau hostel backpacker dimanapun berada. Begitu pula waktu di Cambodia. King Guest House namanya. Semalam sewanya 7 US dolar. Kamarnya cukup bersih lah, double bed dan ada kamar mandi di dalam. Oya yang mengejutkan dari Cambodia adalah mata uang yang dipakai sehari-hari adalah US Dolar selain dari mata uang mereka sendiri. 1 US dolar sama dengan 4000 riel (KHR). Jadi membawa US Dolar akan jauh lebih mudah kalo pergi ke Cambodia.  Begitu nyampe di Cambodia aku langsung tewas, karena rasanya penat dan sedikit meriang. Mungkin karena cuaca yang sedemikian panasnya. 

Untuk makanan sekali makan sekitar 2-3 US dollar dan minuman yang paling murah adalah lemon juice hanya 0.50 US dolar. Porsinya cukup mengenyangkan dan makanan Cambodia, ga terlalu berbeda dengan Vietnam, hanya saja lebih sederhana. Kalau Vietnam mereka lebih cantik dalam menyajikan, tapi kalau di Cambodia lebih apa adanya, mungkin sesuai dengan kondisi negaranya juga. Tapi ada hal lain yang juga tidak kuduga sebelumnya, orang Cambodia lebih banyak yang bisa berbahasa Inggris daripada orang Vietnam. Dari cerita tukang tuk tuk, ternyata bahasa Inggris adalah bahasa yang dipelajari dengan antusias oleh generasi muda Cambodia. Sementara orang-orang tua mereka sempat mengalami pelajaran bahasa Perancis di sekolah, jadi generasi tuanya lebih bisa berbahasa Perancis daripada Inggris.
Royal Palece maskotnya wisata Cambodia

Hari kedua di Cambodia, bersamaan dengan hari ulang tahunku. Hari kedua keliling-keliling Cambodia dengan menyewa Tuk Tuk, 20 US dollar. Dengan harga segitu, Tuk Tuk akan mengantar ke tempat-tempat yang biasa di kunjungi turis dan dimulai dengan Royal Palace. Tiketnya lumayan mahal juga 12.5 US dolar/orang. Ternyata bangunan Royal Palace ga sekuno yang kubayangkan. Cukup baru dan detail-detailnya juga terasa lebih sederhana dan ga halus dalam pengerjaannya. Namanya juga kerajaan yang sudah dipengaruhi oleh penjajahan. Pengaruh ini bisa dilihat di langit-langit Royal Palace yang Eropa banget. Ada lukisan semacam Birth of Venus gitu di langit-langitnya, sebuah bukti pengaruh Eropa yang sedemikian kuat ada di langit-langit pula, berarti posisi pengaruhnya cukup tinggi dan penting.


Salah satu blok di S-21

keterangan di salah satu blok bangunan di museum genocide

Setelah dari Royal Palace, beranjak ke Museum Genocide yang merupakan penjara S-21 yang digunakan sebagai tempat penyiksaan, intrograsi dan penjara orang-orang yang dianggap menentang rezim Khmer Merah. Tiket masuknya 2 US dolar/orang. Kompleks bangunan yang terdiri dari 4 blok dan masing-masing blok terdiri dari 3 lantai. Setiap lantai adalah ruangan-ruangan yang tersekat-sekat. Di museum ini yang setiap ruangan dibiarkan seperti ketika masih berfungsi sebagai S-21 dulu. Di salah satu blok hanya ada ranjang besi di tengah-tengah ruangan dan alat penyiksaan. Sementara di ruang lain ada alat-alat penyiksaan untuk kepentingan intrograsi seperti kursi listrik, bak untuk menenggelamkan, dan ada juga blok yang didalamnya di sekat-sekat lagi jadi ruangan 1x1 meter sebagai penjara dan isolasi. Sisanya berisi foto-foto korban kekejaman rezim Khmer. Suasana di museum Genocide terasa hening tapi sekaligus juga mencekam. Rasanya peristiwa itu baru saja terjadi. Temboknya dan semuanya masih dibiarkan apa adanya. Setiap mata yang ada di display foto-foto korban, seperti menatap pengunjung dan menceritakan kekejaman yang sulit dibayangkan itu. Sulit untuk berkomentar.


Beginilah ruang penyiksaan itu beserta alat-alatnya


Aturan main di S-21 (klik gambar untuk melihat tulisan lebih jelas)

Setelah dari museum Genocide, rasanya ga lengkap kalo ga mengunjungi Choeng Ek alias The Killing Field. Lokasinya 15 KM dari Phnom Penh. Naik Tuk Tuk kira-kira 1 jam perjalanan. Tiket masuk 2 US dolar/orang. Lokasinya bener-bener di tengah lahan gersang. Museum ini luasnya sekitar 2 hektar. Dan memang seluas itulah dulu Pol Pot mengunakan tempat ini sebagai tempat pembantaian dan kuburan masal. Jadi para tahanan S-21 dibawa oleh truk untuk 'disukabumikan' di sini. Di tengah-tengah lahan seluas 2 hektar ini ada bangunan kecil yang cukup tinggi yang digunakan untuk menyimpan tulang belulang korban kekejaman rezim Khmer Merah. Bangunan ini masih baru, karena dibangun 2008, 20 tahun setelah kuburan masal ini di temukan (1988: tolong dikoreksi kalo salah). Suasananya jauh lebih senyap dan 'haunted'. Turis-turis yang datangpun mengelilingi tempat ini dalam diam. Bahkan saat masuk ke ruangan dekat pintu keluar untuk menyaksikan dokumenter tentang Choeng Ek dan penjelasan mengenai The Killing Field, suara langkah sendiri menuju ruang itu pun jadi begitu jelas terdengar dan terasa menteror.


The Killing Field

Ada sebuah pohon yang dinamai 'The Killing Tree'. Pohon yang digunakan untuk menghempaskan bayi-bayi yang direbut dari ibu-ibu mereka dengan begitu keras pada batang pohon dan mati seketika. Aku perhatikan batangnya. Nampak garis-garis pada batangnya seperti di toreh oleh kepedihan ibu-ibu yang kehilangan anak-anak mereka dengan cara yang sedemikian brutal. Pol pot mengaku tidak pernah membunuh bayi dengan cara menghempaskan ke "the killing tree" itu, tapi dalam pernyataannya dia bilang, jika tentaranya yang melakukan itu, berarti ia bertanggung jawab untuk itu.  Udara di sekitar The Killing Field, terasa panas menyengat. Tanahpun seperti belum bisa memaafkan dirinya sendiri atas kekejaman yang pernah terjadi diatasnya, karena tidak banyak pohon tumbuh di lahan itu. Hanya semak belukar saja yang tumbuh liar mengayomi ayam-ayam dan burung-burung liar yang mencari hidup di situ.

The Killing Tree

Kembali ke Phnom Penh, menghadiahi diriku sendiri oseng cumi dengan bumbu Cambodia untuk mengembalikan mood di hari ulang tahun. Sisa hari yang dihabiskan dengan keliling Phnom Penh, mengunjungi National Museumnya dilalui dalam diam. Banyak hal berkecamuk, tapi sulit untuk diungkapkan. Menuliskannya sembarangan pada buku harian supaya tidak jadi residu. King Guest house tempatku menginap itu, ternyata mau pindahan ke tempat baru. Jadi malam terakhirku di Phnom Penh, juga malam terakhir bagi lokasi lama guest house itu. Suasananya jadi rada berantakan karena si empunya guest house sibuk mengangkuti barang-barangnya.

Hari ketiga, dimulai dengan perjalanan menuju Siem Reap, sebuah propinsi di Cambodia yang menjadi cagar dunia karena keberadaan Angkor Wat. Aku membayar 6 US dolar untuk tiket bus ke Siem Reap, itu sudah termasuk minibus yang menjemput dari guest house sampai ke terminal. Perjalanan dari Phnom Penh menuju Siem Reap di tempuh selama 6 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan aku menyaksikan Cambodia yang gersang dang 'miskin'. Rumah-rumah tradisional mereka seperti rumah panggung yang banyak kutemui di Kalimantan.  Sawah dan ladang terlihat tandus dan kering. Nampaknya ini menjadi musim kering yang berat bagi banyak orang termasuk orang-orang di Cambodia.

Begitu memasuki propinsi Siem Reap, aku melihat banyak perbedaan. Bau 'internasional' mulai terasa, ketika aku menemukan tenda bantuan pangan World Food Program seperti yang kutemui di Banda Aceh, 5 bulan setelah tsunami. Mobil-mobil berstiker lembaga internasional seperti ILO atau FAO aku temukan beberapa, berpapasan di jalan. Logo-logo lembaga seperti USAID, UNESCO, UNICEF, terselip di bilboard beberapa fasilitas publik. Dan ketika sampai di kota Siem Reap, suasananya lebih bebeda lagi. Kotanya terasa sangat kota turis. Selama ini Siem Reap mengandalkan pendapatannya dari turistik. Setelah Tom Rider mengambil setting di Angkor Wat, semakin banyak turis asing yang  datang ke kota ini, penasaran ingin melihat Angkor Wat secara langsung. Harga-harga juga terasa lebih mahal dari Phnom Penh. Di sini aku menginap di guest house yang sama dengan di Phnom Penh. Mereka ternyata punya cabang di sini. Jadi aku membayar 7 US dolar permalam untuk kamar double bed, kamar mandi air panas dan dingin dengan kamar yang lebih bagus dan luas. Lokasinya juga ada di daerah turis dekat dengan tempat-tempat turis seperti pasar, dan KFC! heheheh.. jauh-jauh ke Siem Reap, makannya di KFC. Karena aku booking guest housenya dari Phnom Penh, aku dapet bonus di jemput tuk tuk di terminal. Jarak dari terminal ke guest house ternyata lumayan jauh juga.

Hal yang cukup mengejutkan di kota sekecil Siem Reap, ada toko buku yang koleksi buku bahasa inggrisnya lumayan oke. Meski yang dijual sebagian adalah buku-buku second. Oya di sini juga aku dapet bajakan Motor Cycle Diarynya Che Guevara dengan kualitas bajakan yang lumayan (cover di print laser color) dengan harga 3 US dolar saja dan bajakan Lonely Planet edisi Thailand hanya 6 US dolar saja. Sepanjang perjalanan ini nampaknya aku dibuntuti oleh 'Che Guevara'. Di Vietnam aku nemu flyernya, di Cambodia aku nemu bukunya, di Thailand di weekend marketnya banyak yang bikin sesuatu dengan foto Guevara yang terkenal itu. Che bener-bener 'poster man' heheheh.. nanti pulang aku mau nonton lagi ah tiga-tiganya: Motor Cycle Diarynya Walter Sales dan Che Part One & Part twonya Steven Soderbergh. Btw.. sekilas info, Benicio jadi kandidat kuat untuk memerankan biopicnya Diego Maradona, setelah sukses memerankan biopic Che Guevara (demikian sekilas info dari google alert Benicio Del Toro hihihihih).


Danau yang mengelilingi Angkor Wat

Hari kedua di Siem Reap, barulah berangkat ke Angkor Wat. Sewa tuk tuknya 15 US dolar dan tiket masuknya untuk small tour 15 US dolar per orang.Ada paket tur yang lain kaya big tour 17 US dolar, 2 hari tur 40 US dolar, 3 hari 60 US dolar. Karena kompleks Angkor Wat ini bener-bener gede banget. Small tour aja bener-bener melelahkan. Memang yang paling besar adalah Angkor Watnya itu sendiri. Situs bekas kerajaan Angkor yang komposisinya langsung membawaku masuk ke gambar-gambar litografi kolonial. Angkor di kelilingi pepohonan seperti pohon asem, salah satu jenis palem-paleman yang tertata rapih dan membuat aku, selain masuk ke gambar litografi kolonial seperti masuk ke dalam setting komik Budha.  WOW.. sureal banget.

Kaya di litografi jaman kolonial

Hal yang perlu diperhatian jika akan mengikuti tur Angkor Wat ini adalah stamina. Turun naik tangga mengitari candi-candi di tengah cuaca yang panas dan terik, jangan lupa topi dan air minum secukupnya. Kalo ga bisa dehidrasi.  Salah satu paket small tour Angkor Wat ini adalah mengunjungi salah satu candi yang ada di sela-sela pepohonan besar, seperti yang di film-film itu. Beberapa candi kondisinya masih dalam perbaikan. Hanya yang menarik dalam satu kompleks Angkor, aku menemukan bentuk candi yang mirip prambanan, ada juga yang bentuknya kaya Machu Pichu, juga ada yang terbuat dari batu bata seperti reruntuhan kerajaan jawa di kota gede, Yogja (rasanya aku perlu membaca kembali buku sejarah nih).  Mengelilingi Angkor Wat aja udah cukup melelahkan. Kembali ke guest house jadi terasa menyenangkan.

Hari ketiga di Siem Reap adalah hari menyebrang ke Thailand. Aku membayar 8 US dolar sudah termasuk taksi yang menjemput dari penginapan sampai bus Cambodia yang mengantar ke perbatasan. Sampai di perbatasan cap pasport, minibus yang mengantar dari perbatasan ke Bangkok sudah siap menunggu. Aku berangkat dari Siem Reap pk.09.00 pagi, sampai perbatasan pk. 12.00 istirahat dulu 1 jam. Berangkat pk. 13.00 masuk Bangkok Pk. 16.30 dan langsung disambut oleh kemacetan. Malam sebelum menyebrang sempet ngecek berita via internet soal Bangkok. Ternyata dihari aku tiba (Jumat 2/4) demo "Red Tshirt" yang menuntut reformasi kepemimpinan tengah berlangsung dan hari ini (sabtu 3/4), sekitar 2 juta pendukung turun ke jalan memadati jalanan Bangkok. Dan dari tempatku menginap di kawasan Bang Lampoo, terdengar samar-samar suara pemimpin demo. Langsung saja aku merasa akrab dengan suasana itu. Bangkok yang terasa seperti Jakarta. Aku beradaptasi sangat cepat dengan kota ini.

New Merry V Guest House,
Bang Lampoo, Bangkok
3 April 2010

P.s. foto Cambodia belum semua di upload di flickr, hanya beberapa saja untuk kepentingan catatan ini.

Thursday, April 01, 2010

Catatan Perjalanan Bagian 1- Vietnam: Salam dari Paman Ho



 Selamat Datang di kotanya Paman Ho

Akhirnya tanggal 24 Maret tiba juga. Perjalanan di mulai dari Jakarta ke Ho Chi Minh. Penerbangan pk. 16.40 WIB dan sampai di Ho Chi Minh Pk. 20.00 waktu setempat. Oya antara Ho Chi Minh dan Jakarta tidak ada perbedaan waktu. Di Ho Chi Minh aku menginap di rumahnya Mba Vera dan Mas Andreas, teman kakakku yang tinggal di daerah Ann Phu, Distrik 2 Ho Chi Minh City. Mereka sedemikian luar biasa. Sangat welcome dan membuat perjalanan ini dimulai kenyamanan rumah sendiri. Menariknya karena Mba Vera dan Mas Andreas adalah orang Indonesia, mereka berlangganan TV satelite yang menayangkan tayangan stasiun TV Indonesia, seperti SCTV, Indosiar, TVONE, Metro TV, hahahah.. jadinya pas jam sinetron tiba, aku sedikit bingung.. sebentar ini di Indonesia atau di Ho Chi Minh sih.. hehehheh..

 Perkabelan yang mirip sarang burung di sepanjang jalan-jalan Ho Chi Minh langsung menarik perhatian..

Di Ho Chi Minh, kami menghabiskan 4 malam 5 hari untuk mengekplor Ho Chi Minh sesuai dengan budget plus bonus dari tuan rumah yang begitu baiknya. Aku cukup kaget juga melihat Ho Chi Minh. Bener-bener ga seperti yang kubayangkan. Meski dalam pembangunan tapi sangat terasa bahwa kota ini ditata dengan master plan yang sangat terencana. Trotoarnya sangat ramah untuk para pejalan kaki, mengingatkanku pada trotoar di NYC. Dan yang jelas kota ini cukup bersih. Aku ga liat tumpukan sampah berserakan sama sekali di pinggir jalan. Jalan-jalan protokol cukup besar, kira-kira dua kalinya lebar jalan di Jalan Sudirman Jakarta (setelah dikurangi jalan untuk busway). Taman-taman kotanya terawat dengan baik. Ada satu taman di dekat Ben Tan market yang dilengkapi dengan alat-alat fitnes manual yang bisa digunakan siapa saja. Taman juga dilengkapi dengan WC umum portabel yang cukup bersih. Setiap sore terasa sekali bahwa warga Ho Chi Minh memanfaatkan keberadaan taman. Juga di malam hari, pemandangan muda-mudi pacaran di taman-taman kota bukanlah pemandangan yang aneh. Sayangnya, orang Vietnam sulit sekali berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Mba Vera dan Mas Andreas seringkali dibuat "Lost in Translation" oleh orang-orang Vietnam yang bekerja untuk mereka. Bagiku yang tinggal hanya beberapa hari saja, kejadian-kejadian Lost in Translation ini cukup menggelikan, tapi buat mba Vera dan mas Andreas yang tinggal cukup lama, bikin pusing kepala. Akhirnya aku selalu menunjukan catatan alamat yang akan dituju pada supir taxi kalo hendak kemana-mana. Mereka lebih paham ketika membaca alamat, daripada saat kita menunjukkannya.

 WC Umum di taman kota Ho Chi Minh

Untuk makanan, Ho Chi Minh menurutku cukup serius dalam service kuliner. Dengan harga yang sedikit lebih murah dari harga makanan di Bandung atau Jakarta, mereka menyajikannya dalam penyajian yang menarik dan rasa lebih enak. Aku suka makanan-makanan yang aku makan di Ho Chi Minh. Bagi yang tidak makan daging babi, banyak juga makanan-makanan dari hasil laut yang enak-enak. Kopi Vietnam ga usah ditanya. Meski lebih keras, tapi ga bikin perut mules. Rasanya campuran Robusta dan Arabikanya Kopi Aroma tapi dalam takaran yang lebih sedikit. Biasanya kopi Vietnam ini disajikan dengan saringan kopi khas Vietnam dan dicampur susu kental manis sebagai pengganti gula. Takarannya sebanyak Maciatto. Jika diminum pakai es batu, biasanya lebih banyak.

Ketemu Che Guevara di War Remnants Museum

Hal yang sungguh menarik yang kutemukan di Ho Chi Minh adalah museum-museumnya. Mereka benaran serius menjadikan museum sebagai tempat tujuan wisata. Meski displaynya sederhana tapi terlihat bahwa mereka serius melakukannya tidak ala kadarnya. Museum yang pertama kali aku datangi adalah 'War Remnants Museum'. Harga tiket masuknya 15.000 vietnam dong (Rp. 7.500). Museum ini berisi artefak perang Vietnam. Senjata yang dipakai Vietkong, senjata biologis yang dipakai tentara Amerika atau dikenal dengan sebutan Agent Orange, foto-foto perang karya war photografer dari beberapa media internasional, flyer-flyer propaganda dukungan dari negara-negara sosialis terhadap perjuangan Vietkong (disini aku menemukan flyernya Fidel Castro dan Che Guevara juga bendera Cuba, mereka dianggap saudara seperjuangan). Orang Vietnam lebih senang menyebut perang ini sebagai perang Amerika daripada perang Vietnam artinya bahwa Amerika lah yang memerangi orang-orang Vietnam, bukan sebaliknya. Jadinya terasa ironis ya ketika melihat dari sisi yang lain. Selama ini aku melihat perang Vietnam dari sisi Amerika meski banyak juga sisi Amerika yang juga menentang perang ini, tapi kemudian melihat bagaimana orang-orang Vietnam memandang perang ini sendiri aku jadi dapat pandangan yang berbeda. Hal ini kemudian diperkuat dengan kunjunganku ke Cu Chi.

Agent Orange, senjata kimia yang dipakai tentara Amerika untuk membunuh Vietkong jadi masalah cukup serius sampai saat ini.

Sebelum aku cerita soal Cu Chi, museum lain yang sekalian jalan dengan War Remnants Museum adalah Ho Chi Minh City Museum (tiket masuk 15.000 vietnam dong atau Rp. 7.500) dan juga Ho Chi Minh Fine Art Museum (tiket 10.000 Vietnam Dong atau Rp. 5.000) yang aku datangi. Museum-museum ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Aku selalu salut pada kota yang punya museum kotanya sendiri, museum yang bisa memperkenalkan pada orang yang datang ke kota itu, bagaimana sejarah kota mereka dan negara mereka. Di museum Fine Art, karya-karya seni rupa yang dipamerkan di sana hampir semuanya adalah karya perjuangan. Temanya seperti karya-karya seni rupa kerakyatan zaman Lekra dulu. Seharian bisa tuh dipakai untuk berjalan-jalan keliling distrik 1 atau downtownnya Ho Chi Minh untuk mengunjungi museum-museum atau melihat-lihat taman, bangunan-bangunan kolonial Perancis yang sebagian besar terawat dengan baik. Lantai-lantai bangunan itu, sungguh mengagumkan sampai aku membuat album khusus foto lantai bangunan-bangunan di Ho Chi Minh.. heheheh.. motifnya itu loh dan juta warnanya.. bisa jadi sesuatu nanti kalo pulang ke Bandung :D

Perhatikan ya... dulu tentara Vietkong bisa tiba-tiba menghilang, masuk ke dalam lubang sekecil ini..

Simsalabim.. ga ketauan jejaknya..

Perjalanan ke Cu Chi, aku tempuh di hari berikutnya. Tiket turnya perorang 90.000 vietnam dong (Rp.45.000). Cu Chi ini lokasinya 1.5 jam dari Ho Chi Minh. Cu Chi menjadi penting karena semasa perang Vietnam- Amerika, Cu Chi menjadi basis perlawanan geriliya bawah tanah. Tiket masuk ke lokasi adalah 5 dolar US per orang. Di Cu Chi kita bisa melihat bagaimana tentara Vietkong membangun jalur-jalur bawah tanah sampai tiga lapis seperti jaring laba-laba dan yang mengagumkan, jalur bawah tanah ini dilengkapi juga dengan rumah sakit, barak, dapur umum. Desain pertahanan bawah tanahnya sebenernya sederhana, tapi bener-bener luar biasa. Mereka sangat tau bagaimana mengelabui tentara Amerika dengan memanfaatkan semaksimal mungkin kondisi geografis yang ada. Untuk mendapatkan pasokan udara untuk lorong-lorong bawah tanah, mereka menggunakan bambu dan gundukan lumpur untuk penyamarannya. Tentara Amerika pastinya mengira itu hanya batu saja, padahal rongga-rongga batu itu adalah lubang udara yang membuat pasukan Vietkong bisa hidup di lorong-lorong bawah tanah mereka.

 Lubang udara untuk lorong-lorong bawah tanah.. siapa yang menduga..

Di Cu Chi, pengunjung bisa merasakan langsung seperti apa lorong itu. Aku sempat masuk dan merasakan sesaknya dan orang harus bergerak cepat di dalam, kalau tidak akan menghalangi dan menghambat pasokan udara yang masuk. Pengalaman yang luar biasa. Di Cu Chi juga, kita bisa melihat alat-alat perang yang dibuat tentara Vietkong ketika memerangi Amerika. Aku merasakan semangat Do It Yourself yang sangat tinggi. Mereka membuat senjata dari bambu, membuat bom dan peluru dari bekas-bekas ranjau tau bom tentara Amerika, mereka mendaur ulangnya secara manual dan murah meriah. Mereka membuat jebakan-jebakan yang biasanya dipakai untuk berburu binatang dari bambu-bambu yang diruncingkan untuk menjebak tentara Amerika. Tapi melihatnya langsung bener-bener membuatku bergidik ngeri.

 Dan inilah lorong-lorong bawah tanah tentara Vietkong yang terkenal itu..


Manusia dalam kondisi terdesak, selalu menemukan cara untuk mempertahankan diri atau sebut saja membunuh lawan bahkan dengan alat-alat yang tidak terbayangkan sebelumnya. Di penghujung tur Cu Chi, pengunjung disuguhi rebusan singkong yang di makan dengan bubuk kacang campur wijen dan garam. Makanan ini adalah makanan utama pasukan Vietkong ketika mereka berperang. Tur Cu Chi ini bener-bener membuat aku harus membuka kembali buku sejara dan membacanya kembali. Ketika sejarah hadir dari sisi 'the other'atau 'liyan', rasanya aku perlu memaknai kembali karena melihatnya dari dua sisi. Mungkin aku ga perlu memutuskan aku ada dimana, tapi melihat keduanya dengan lebih adil, mungkin itu sudah cukup.

Lihat simbol yang tertempel di layar hijau.. :D

Ho Chi Minh juga meninggalkan kesan yang mendalam, ketika aku bergabung dengan rombongan Konjen Republik Indonesia untuk menyerahkan bantuan kursi roda bagi korban Agent Orange di daerah Can Tho atau di delta sungai Mekong. Perjalanannya 5 jam dari kota Ho Chi Minh. Serunya, acara serah terima bantuan ini adalah acara formal Konjen RI dengan pejabat setempat, dua jenderal yang hadir atas nama ketua yang mengurusi korban Agent Orange tinggal propinsi Can Tho dan juga Ho Chi Minh. Bantuan ini diberikan oleh masyarakat Indonesia yang ada di Vietnam. Aku seneng juga bisa hadir di acara ini (thanks ya mba Ver untuk infonya, juga staf konjen RI untuk perjalanannya yang berkesan).Menarik karena acara diselenggarakan di sebuah balai pertemuan dengan patung Ho Chi Minh atau Paman Ho, lambang palu arit dan bintang kuning juga foto Karl Marx dan Stalin di ruangan itu. Beberapa orang korban Agent Orange hadir mewakili sekitar 3000 korban di daerah Can Tho. Daerah ini menjadi daerah dengan korban Agent Orange yang cukup besar. Meski perang telah lama usai, tapi radiasi yang menyebabkan mutasi genetik menimbulkan korban sampai beberapa turunan. Bukti kekejaman senjata kimia,efek membunuhnya justru bisa sampai beberapa generasi yang ga tau menahu soal perang itu sendiri.

Jamuan makan ala Vietnam

Bagian yang paling menarik dari upacara seremonial penyerahan bantuan ini adalah pesta jamuan makan. Aku duduk dimeja para peminum hihihih.. karena staf konjen ada beberapa yang ga minum bir. Aku jadi tau dan bisa merasakan makanan-makanan khas Vietnam. Gokilnya jendral-jendral yang tadi pas serah terima terasa begitu formal, begitu di meja makan jadi ramah dan heboh. Meski aku ga ngerti mereka ngomong apa. Dan di mejaku, gelas bir ga pernah dibiarkan kosong, selalu di tambah dan di tambah terus. Bir merek Tiger yang kami minum kadar alkoholnya cukup rendah, lebih rendah dari bir bintang, jadinya ringan banget. Dan lucunya setiap ada salah satu yang duduk di meja itu mau minum, kami semua harus tos dulu.. hihihihihi...

 Salah satu klenteng di Chinatown Ho Chi Minh

Hari terakhir di Ho Chi Minh di tutup  mengunjungi beberapa kuil di China Townnya di distrik 3 sekalian mencari oleh-oleh. Makan malam ada pesta ikan bakar yang dibuat tuan rumah yang begitu baik, mba Ver dan Mas Andreas. Mereka sengaja bikin pesta gurame merah bakar untuk merayakan ulang tahunku yang masih kurang dua hari lagi saat itu (28/3/2010). Bener-bener berkesan. Besoknya, tanggal 29 Maret 2010, kami beranjak untuk menyebrang ke Cambodia dari Sinh Cafe, daerah Den Tham St, Distrik 1. Kami membayar 195.000 vietnam dong (Rp. 97.500) untuk tiket bisnya perorang. Sempat ada sedikit masalah dengan bisnya. Bis yang tadinya akan ditumpangi adalah bis Cambodia. Bis itu kena cekal oleh polisi Vietnam. Menurut penumpang asal Cambodia, adalah hal biasa bis dari Cambodia kena cekal di Vietnam. Biasa persaingan bisnis. Jika nyebrang ke perbatasan pakai bisa Vietnam urusannya akan lebih mudah. Akhirnya setelah menunggu hampir 1 jam, kami dapat bis pengganti yang membawa kami menyebrang ke Phnom Penh, Cambodia. Oya di perbatasan sebagai warga negara Indonesia, kami harus bayar visa on Arrival 20 US dolar di perbatasan. Pengurusannya mudah karena ditangani oleh kru bis yang membawa kami menyebrang. Selamat tinggal  Vietnam, Selamat datang Cambodia..

Ikan bakar di ulang tahun yang kurang dua hari, thanks ya mba ver dan mas andreas :)

Aku akan datang berkunjung lagi ke Ho Chi Minh, mungkin 5 tahun mendatang. Penasaran aja aku pengen lihat bagaimana jadinya kota Ho Chi Minh nanti. Sekalian menyaksikan hasil perkawinan sosialisme dan kapitalisme dalam membangun calon kota kelas dunia, Ho Chi Minh.



Salam dari Paman Ho untukmu semua..

Siem Riep, Cambodia
1 April 2010

P.s. foto menyusul karena koneksi internet disini lemot banget.. foto bisa dilihat di album flickrku, tapi untuk sementara belum dikelompok dan dikasih keterangan

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails