Sunday, February 28, 2010

Nine (2009): Midlife Crisis Sang Maestro

* * * *

Sutradara Rob Marshall

Aku sedikit ngedrop waktu tau ternyata ini adalah film musikal. Pertanyaan yang muncul di kepalaku adalah bisakah Daniel Day Lewis memaksimalkan karakternya di film musikal seperti ini? Mengingat film Day Lewis sebelumnya_ There Will Be Blood_ bener-bener mempertontokan kemampuan akting Day Lewis yang maksimal dan luar biasa itu.

Setelah menonton filmnya, barulah aku merasa lega, karena justru Day Lewis lah yang yang membuat film ini bukan sekedar film musikal biasa. Day Lewis memberi kedalaman dan intensitas pada karakter Guido Contini, sang maestro perfilman Itali pada krisis paruh baya yang dialaminya. Day Lewis memberi bobot pada persoalan krisis paruh baya yang 'tidak biasa' karena yang mengalaminya adalah seorang maestro di tengah-tengah tekanan karirnya. Arogansinya sebagai sutradara besar yang dituntut untuk selalu melahirkan karya hebat dipertaruhkan di tengah konflik rumah tangganya.

Menurutku meski film ini bertaburan aktris terkenal seperti Kade Hudson, Nicole Kidman, Penelope Cruz, Judi Dench, Sophia Loren, Marion Cotillard, tapi tidak semua bisa berakting mengimbangi intensitas Day Lewis. Nicole Kidman misalnya. Di film ini dia berperan Claudia Jensen, aktris utama yang akan membintangi film Guido Contini, Italia. Scenenya ga banyak, tapi menurutku Nicole gagal memampilkan sejarah hubungan dia dengan Contini dimasa lalu, karakter yang dia tampilkan terlalu berjarak sehingga terkesan Claudia baru saja berkenalan dengan Contini. Sementara Penelope di sini terlalu Penelope. Penelope as usual, tidak ada kejutan dengan perannya, begitu juga Kate Hudson yang muncul seperti numpang lewat saja. Yang justru bisa mengimbangi Day Lewis adalah Judi Dench dan Marion Cottilard. Judi Dench yang berperan sebagai Lily, penata kostum film-film Contini sekaligus sahabat Contini dan Cottilard yang berperan sebagai istri Guido, Luisa Contini, justru bisa mengimbangi akting Day Lewis di sini.

Kurasa, film ini jadi terlalu mudah untuk Day Lewis. Setelah There Will be Blood, kurasa Day Lewis perlu tantangan yang minimal sama bobotnya dengan karakter Daniel Plainview yang sedemikian gelap dan kejam itu. Atau mungkin Day Lewis memakai Nine untuk 'break' sebelum ia menggarap karakter yang jauh lebih berat dari ini (gosipnya dia akan bertemu dengan Benicio Del Toro dan Gael Garcia Bernal di film garapan Martin Scorsese, Silence).

Secara keseluruhan, sebagai film musikal, film ini berhasil untuk memakai musik tidak hanya sebagai pelengkap saja, tapi memang bagian penting dalam cerita. Bagian drama dan musikalisasinya, kurasa berhasil ditampilkan dengan seimbang, musik tidak membuat penonton melupakan kegalauan paruh baya Contini setelah selesai menonton film ini.

Che (2008): Memberi Bingkai Pada Mimpi Sang Revolusioner

 

* * * * *

Sutradara: Steven Soderbergh 
Part One: 134 menit
Part Two: 135 menit 

Jujur aja, bukan hal yang mudah menonton film ini. Film berdurasi sekitar 4.5 jam ini, butuh 'kesiapan' untuk menontonnya. Berhubung aku lagi 'in the mood for Benicio Del Toro', film ini menjadi film penting yang harus aku tonton untuk melihat perjalanan karirnya. Bagi yang tidak terbiasa menonton film berbahasa lain selain Inggris, film ini pasti terasa membosankan di awal. Dan jangan berharap akan menemukan adegan perang-perangan yang heroik ala Hollywood di film ini. Jika itu yang kamu harapkan, sebaiknya lupakan saja, tidak perlu bersusah payah menonton Che.

Katakan saja, tidak ada sutradara Hollywood sebelum Steven yang mau bersusah payah memfilmkan Che. Jika Motorcycles Diary disebut-sebut, film ini tidak cukup untuk memberi gambaran tetang alasan mengapa Che menjadi icon revolusioner anti kapitalisme global. Kerja keras menghadirkan gambaran Che yang revolusioner itu, tentunya tak bisa lepas dari ketertarikan Beneio Del Toro sebagai pemeran Che sekaligus produser film ini. Sebagai aktor berdarah Puerto Rico, nama Che bukanlah sosok yang asing dalam sejarah Amerika Selatan. Meskipun Che yang dia kenal awalnya adalah prajurit haus darah yang ganas menghabisi musuh-musuhnya. Sampai Benicio menemukan buku yang berisi surat-surat Che kepada istri, bibinya dan kerabat-kerabatnya. Benicio melihat sosok Che yang lain yang membuat dirinya tertantang untuk menghadirkan sosok itu dilayar kaca. Steven Soderberg, sutradara yang mengantarkan Benicio meraih Oscar untuk pertama kalinya lewat film Traffic, menjadi mitra kerjanya untuk menggarap biopic icon revolusioner legendaris asal Argentina itu.

Riset yang dilakukan film ini memakan waktu yang cukup panjang, hampir 7 tahun. Bukan hanya studi literatur mengenai Che Guevara dan sejarah Amerika Selatan itu sendiri, Benicio dan Laura Bickford yang sama-sama memproduseri film ini, melakukan perjalanan ke beberapa negara di Amerika Selatan untuk mewawancarai saksi sejarah dan juga-juga orang-orang yang terkait dengan Che. Bahkan, Benicio sempat bertemu Fidel Castro untuk mempersiapkan proyek ini.

Dalam banyak wawancara, Benicio mengungkapkan ketika memerankan sosok penting dalam sejarah seperti Che, hal yang mesti disadari adalah bahwa ia harus menghargai sejarah itu sendiri dan kejujuran untuk melihat kesejarahan Che, sehingga ia bisa mendekati sosok Che dan memerankannya. Para kritikus sendiri mengakui itu, Benicio berhasil memerankan sosok Che sedemikian baiknya, sampai-sampai Cannes Festival memilihnya sebagai aktor terbaik 2008 untuk perannya sebagai Che.

Meski demikian tidak semua setuju dengan apa yang ditampilkan Del Toro tentang Che di filmnya itu. Che dianggap beberapa pihak terlalu menyederhanakan sejarah dan mengabaikan banyak fakta. Hal ini diakui Del Toro bahwa tidak mungkin menampilkan sosok Che secara utuh dalam 4.5 jam. Ia dan Steven harus memilih bagian-bagian mana yang akan diambil. Seperti mengambil potongan-potongan dan menyambungkannya lalu menghadirkannya sebagai sebuah rangkuman sejarah tentang Che. Dan menurutku, itu adalah konsekuensi ketika menghadirkan sejarah dalam film. Potongan-potongan mana yang akan dipilih untuk di hadirkan itulah yang mewakili keyakinan produser dan sutradara. Itu sebabnya menurutku Steven  berhasil menghadirkan kejujuran atas pilihannya itu (pilihan terhadap potongan-potongan mana yang ia pilih dari sejarah kehidupan Che). Gambar yang ia hadirkan cukup jujur dan tidak berusaha melebih-lebihkan. Tidak ada spesial effect untuk membuat adegan pertempuran menjadi dramatis di film ini. Dan kurasa itu yang membuat mengapa menonton film ini  memang tidak semudah menonton Band of Brothers misalnya yang membuat penonton terpukau dengan adegan-adegan heroik khas Hollywood. Soderbergh dan Del Toro justru mengajak penonton untuk berpikir tentang Che. Dan secara personal setelah menonton film ini  aku dihantui oleh banyak pertanyaan tentang Che, sejarah Amerika Selatan, dan lebih jauh lagi adalah gugatan tentang apa sesungguhnya revolusi itu?

Soderbergh menghadirkan Che kedalam dua bagian, perjuangann Che di Cuba dan di Bolivia dimana akhirnya Che gagal mengulang suksesnya di Cuba dan ditangkap hidup-hidup lalu dijatuhi hukuman mati. Hal yang paling kuat yang kurasakan di dua bagian ini adalah Che berusaha untuk menularkan gagasan revolusi ini keseluruh Amerika Selatan. Jika berhasil di Cuba, ia yakin bisa berhasil di tempat lain juga. Meski pada kenyataannya Bolivia tidak seperti Cuba dan perhitungan Che di Bolivia meleset. Tapi setidaknya dia mencoba. Dia bertaruh dengan keyakinannya. Meski pada akhirnya ia gagal, tapi kukira kegagalannya itu yang menurutku penting  dan menginspirasi kaum revolusioner global. Jika Che tidak mencobanya, apakah Hugo Chavez atau Evo Morales bisa menjadi orang nomer satu di negaranya saat ini? Sejarah butuh orang-orang yang berani mencoba dan gagal untuk membuat sejarah menjadi bab-bab yang berkesinambungan untuk di tuliskan.

Meski film ini tidak mendapatkan banyak award di Amerika Serikat (kurasa karena alasan politis) namun justru mendapat banyak pengakuan di Eropa, Amerika Selatan bahkan di China. Film ini menjadi salah satu dari sedikit film biopic tokoh sejarah yang cukup penting bukan hanya untuk ditonton sekarang, tapi  beberapa tahun kemudian. Menonton Che mengajarkan aku untuk belajar melihat sejarah dengan lebih adil dalam film-film biopic seperti ini. Persoalan adil di sini bukan bagaimana sutradara menempatkan lawan dan kawan secara seimbang, tapi menurutku adil dalam sebuah film sejarah adalah bagaimana keberpihakan sutradara dan aktor ditampilkan dengan jujur. Karena bagaimanapun juga memfilmkan sejarah adalah persoalan memberi bingkai baru pada potret peristiwa sejarah yang telah lalu. Pas atau tidaknya bingkai itu, menjadi perkara yang sangat subjektif. Namun selalu ada rentang kesepakatan tentang mana yang berlebihan dan tidak untuk menakar porsinya. Steven Soderbergh dan Benicio Del Toro kurasa berhasil memberikan porsi yang tidak berlebih-lebihan pada interpretasi mereka tentang impian-impian revolusi Che Guevara.

p.s: Review ini sangat dipengaruhi oleh moodku kepada Benicio Del Toro. Dari hampir semua film Benicio yang aku tonton beberapa hari terakhir ini, aku pikir Che adalah film terbaik yang pernah dia perankan, setelah itu Fear and Loathing in Las Vegas.

Friday, February 26, 2010

In The Mood For Benicio Del Toro


Gara-gara menunggu hujan reda di Parijs Van Java Mall sambil menonton The Wolfman, moodku menonton kembali film-filmnya Benicio Del Toro kembali muncul. Selain Johnny Deep dan Daniel Day Lewis, Benicio Del Toro adalah aktor favoritku. Bukan semata-mata karena ketampanannya dan matanya yang membius itu, tapi juga karena totalitasnya sebagai aktor.  Pertama kali terpesona olehnya, ketika pertama kali aku nonton Excess Baggage dengan lawan mainnya Alicia Silverstone. Benicio berperan sebagai pencuri kendaraan yang terhubung dengan seorang putri pengusaha kaya yang sengaja mencari perhatian keluarganya dengan mengaku diculik. Saat itu, aktingnya langsung memikatku. Siapa yang bisa dengan mudah melupakan wajah latinnya yang karismatik dan tatapan yang membius itu? Dengan mudah Beni bisa membuat penontonya jatuh hati padanya. Pandangan pertama tentu karena ketampanannya dan tak perlu terlalu memperhatikan apakah dia bisa berakting atau tidak.

Pertemuan berikutnya (aku lupa mana yang lebih dulu) Basquiat atau The Usual Suspect, tapi seingatku The Usual Suspect membuatku tertarik dengan kemampuan aktingnya. Beni tidak sekedar menjual tampang, tapi dia memang bisa akting. Dan yang meyakinkanku tentang kemampuan aktingnya adalah Fear and Loathing in Las Vegas. Beni menjadi Dr. Gonzo, sahabat Raoul Duke yang diperankan Johnny Deep. Karakter ini membuat Benicio harus menambah berat badannya 20 kg dan kehilangan banyak tawaran karena orang mengira dia aktor pemabuk yang menjadi gemuk karena frustasi. Bahkan untuk menghayati peran sebagai Dr. Gonzo, penulis dan pecandu LSD, Benicio membakar tangannya dengan rokok dan membuat Terry Gilliam, sang sutradara ngeri Benicio menjadi out of control. Namun sejak itu, Benicio kemudian di kenal dengan sebutan 'method actor'_ ia punya metode khusus untuk memahami karakter yang diperankannya dan membuatnya bersahabat dengan Johnny Depp.

Pengakuan terhadap kemmapuan aktingnya datang dari karakter Javier Rodriguez Rodriguez, seorang polisi mexico 'lurus' yang berhadapan dengan berbagai sindikat perdagangan obat bius. Traffic, film yang disutradarai oleh Steven Soderbergh ini, memberi Benicio Oscar pertama untuk peran pembantu pria terbaik tahun 2000. Di film ini, Benicio memberi takaran yang pas untuk karakter Javier. Dengan gaya bertutur Soderbergh yang khas (kamu akan familiar dengan gaya Soderbergh di Che, jika pernah menonton Traffic).

Beberapa film seperti Snatch, The Hunted, The Way of Gun, tidak terlalu mengesankan bagiku. Sampai salah satu sutradara favoritku: Alejandro Gonzales Inarritu memberinya peran sebagai Jack Jordan di 21 Grams, seorang mantan napi bertobat yang memutuskan menjadi penginjil, namun keimanannya guncang mana kala truk yang ditumpanginya menabrak bapak dan dua orang anak perempuannya dan membuat mereka bertiga tewas seketika. Benicio menunjukkan kemampuan aktingnya sekali lagi disitu, meski tidak mendapatkan Oscar untuk itu, namun Benicio masuk dalam nominasi Oscar untuk kategori aktor utama pria.

Benicio Del Toro dan Presiden Venezulea, Hugo Chavez, foto dan berita ada disini

Sin CityThings We Lost in Fire, dikalahkan oleh rasa penasaranku terhadap berita yang menyebutkan, Benicio sedang mempersiapkan perannya sebagai Ernesto Che Guevara. Aku mesti menunggu cukup lama  (hampir 3 tahun), sampai perannya sebagai Che bisa aku nikmati. Sebuah biopic tentang tokoh revolusioner Cuba asal Argentina yang menjadi icon perlawanan terhadap kapitalisme Amerika ini, benar-benar film yang menuntut totalitas Benicio. Bukan hanya dalam berakting, tapi juga sebagai produser untuk film berdurasi 4.5 jam dan terbagi dalam dua bagian ini, benar-benar membuktikan bahwa Benicio bukan aktor sembarangan. Lewat perannya sebagai Che, Benicio mendapat penghargaan palem emas, Cannes Festival 2008 sebagai aktor terbaik. Film yang menuai banyak kontroversi, terutama dari pihak yang tidak sepakat dengan perjuangan Che Guevara ini, justru memberikan pengakuan total pada Benicio sebagai role model bagai aktor latin Amerika yang bukan hanya pandai berakting, namun juga punya sikap dan keberpihakan yang jelas terhadap kesejarahan Amerika Latin (terlepas dari sisi mana dia berpihak). Presiden venezuela, Hugo Chavez, ketika mengundang Benicio Del Toro bertemu dengannya, menyampaikan apresiasinya yang begitu dalam atas totalitas Benicio dalam memerankan tokoh revolusioner yang menjadi inspirasi revolusi anti kapitalisme global itu.

The Wolfman, nampaknya menjadi film selingan setelah proses penggarapan Che yang begitu panjang (Benicio membutuhkan waktu 7 tahun untuk mempersiapkan film ini). Di film yang juga di produseri oleh Benicio, ia beradu akting dengan Anthony Hopkins sebagai manusia serigala. Dua-duanya punya karisma yang bebda dan kemampuan memperlihatkan sisi gelap sebuah karakter yang berbeda pula. Dalam sebuah wawancara, Benicio menyatakan bahwa ia membutuhkan karakter seperti Lawrence Talbot di The Wolfman sebagai refreshing dan juga upaya dia untuk lepas dari karakter Che yang tidak mudah untuk dilepaskan.


Silence garapan Martin Scorsese yang akan rilis 2011, akan menjadi film Benicio yang aku tunggu. Selain bermain bersama Gael Garcia Bernal sebagai pendeta yang menyebarkan ajaran katolik di Jepang pada abad 19, gosipnya film ini juga akan mempertemukan Benicio dengan aktor favoritku yang lain: Daniel Day Lewis. Selain Silence, The Three Stooges juga termasuk yang bikin aku penasaran. Benicio akan bertemu kembali dengan Sean Penn (sebelumnya mereka bertemu di 21 Grams) dan Jim Carey.

Berbeda dengan Johnny Depp yang kuat dengan kesan eksentrik karena peran-perannya, Benicio justru selalu menampilkan karisma yang berbeda-beda dari berbagai karakter yang ia perankan. Tanpa diberi banyak dialog, Benicio menurutku punya kekuatan dalam menampilkan gesture dari setiap karakter yang diperankannya. Susan Bier, sutradara Denmark yang senang meng'capture' detail ekspesi karakter yang di sutradarainya itu (lihat: After The Wedding yang diperankan Mads Mikkelsen , termasuk yang sangat tau bagaimana memunculkan tatapan mata Benicio yang membius itu. Salah satu gestur yang mengesankan buatku juga adalah ketika Benicio sebagai Javier, menjebak Francisco Flores yang diperankan Clifton Collins Jr. di film Traffic. Wow, he's so gay, tanpa harus menyatakan bahwa dia gay atau bukan dalam peran itu.

Bagiku sangatlah menarik, mengikuti perjalanan karir aktor-aktor favoritku itu. Aku bisa melihat sejauh mana mereka sanggup mengeksplorasi kemampuannya untuk 'menyebrang' (kalo istilah temanku, Gunawan Maryanto dari Teater Garasi) ke dalam karakter yang diperankannya. Dan sejauh ini menurutku masterpiece Benicio Del Toro dalam perjalanan karirnya adalah karakter Che yang diperankannya. Menurutku, Beni menginterpretasikan sebagian dari sisi kehidupan Guevara sebagai geriliyawan sejati (dan aku suka sekali penggambaran Soderbergh di adegan terakhir saat Che di tembak mati. Soderbergh berhasil menghindarkan diri dari penggambaran yang romantisme berlebihan diakhir kehidupan tokoh revolusioner legendaris ini).

Hal lain yang aku catat dari karakter-karakter Beni di berbagai filmnya, dia bisa berakting dengan sangat baik dengan anak-anak. Perhatikan saja perannya di 21 Grams, Things That We Lost in Fire, Che (bagian dua), Beni punya chemistry spesial dengan anak-anak yang menjadi lawan mainnya, padahal dalam kehidupan nyatanya, Benicio dikenal enggan menikah apalagi punya anak. Matanya akan berubah sangat ramah dan melindungi jika beradu akting dengan anak-anak yang jadi lawan mainnya. Entah karakter seperti apalagi yang akan dijajal dan aku ga bisa menebak, sejauh mana ekplorasi karakter yang akan dia lakoni. Menurutku lebih sulit menebak karakter apa saja yang akan dimainkan Benicio daripada Johnny Depp. Orang sulit melabeli Benicio karena dia memang sulit untuk dibaca. Sesulit membaca apa yang ada dipikiran karakter yang diperankannya ketika tatapan membiusnya itu ia munculkan.

Benicio selalu memunculkan antusiasku untuk mengikuti perjalanan kekaryaannya.. I'm in the mood for Del Toro

Monday, February 08, 2010

Precious: Based on the Novel Push by Sapphire (2009): Ketika Nasib Terlalu Berharga Untuk Diratapi

* * * * 1/2

Sutradara: Lee Daniels

Aku jarang sekali menemukan sebuah film yang ketika aku selesai menontonnya, perasaanku bener-bener ngilu dan sesek di dalem. Yang bisa melepaskan itu semua adalah dengan menangis tergugu. Itulah yang kurasakan setelah menonton film ini.

Film garapan Lee Daniels, dengan eksekutif produser Oprah Winfrey dan Tayler Perry, menampilkan kepiawaian akting Mo'Nique dengan maksimal. Mo'nique berperan sebagai Mary, single mother yang mengalami keruntuhan psikologis ketika Precious (diperankan aktris pendatang baru Gabourey Sidibe) mengalami sexual harrasment untuk pertama kalinya ketika berumur 3 tahun oleh ayahnya sendiri. Mary menjadi abusessive terhadap Precious, karena ia merasa semua laki-laki yang dicintainya direbut oleh Precious. Padahal yang dialami Precious adalah pemerkosaan demi pemerkosaan. Dari mulai ayahnya sendiri sampai kekasih ibunya yang lain. Setiap mengalami kekerasan seksual dan kekerasan psikologis lainnya, Precious membayangkan dirinya sebagai seorang bintang yang dicintai dan dipuja banyak orang.

Ketika Precious hamil anak kedua dari pemerkosaan yang dilakukan kekasih ibunya, pihak sekolah mengirimkan Precious di sekolah khusus bagi anak-anak bermasalah. Beruntung dia bertemu dengan guru yang begitu cinta dengan pekerjaannya_ Ms. Rain  (Paula Patton) punya banyak kesabaran untuk mengajari Precous, membukakan kesadaran bahwa Precious tidak sebodoh dikatakan ibunya. Precious punya sesuatu yang 'berharga' yang patut dibanggakan.

Film ini bukanlah film yang mengharu-biru dengan gaya happy ending ala hollywood. Lee Daniels justru menggarap jalan ceritanya  begitu nyata, sederhana dan apa adanya. Setiap pemain di film ini dituntut untuk bermain dengan kejujurannya, bahkan Lenny Kravitz sekalipun yang berperan sebagai Nurse John dan  Mariah Carey yang berperan sebagai Miss. Weiss, petugas sosial yang mengurusi tunjangan sosial yang diberikan kepada Mary.

Kurasa juri ga salah memberikan gelar aktris pembantu terbaik 2010 Golden Globe Award kepada Mo'nique, karena menurutku aktingnya begitu jujur. Mo'nique mampu menampilkan kehancuran psikologis itu dengan sangat jujur, sampai penonton tidak lagi bisa menilai karakternya secara hitam putih, namun tidak pula dengan serta merta penonton akan memaafkan tindakannya. Kemampuan Mo'nique di film ini justru menampar penonton dan menghadirkan kepahitan seorang ibu yang merasa tidak dicintai lalu melampiaskannya pada anaknya. Gugatan Mary yang begitu jujur justru masuk dalam ruang-ruang tersembunyi, rahasia hidup yang mungkin selama ini disembunyikan dan dihindari banyak orang. Dan keberanian Precious untuk memilih menghadapi nasibnya daripada meratapinya, sungguh menginspirasi.

Friday, February 05, 2010

New York, I Love You (2009): New York Di Mata Yang Lain, Hop In Hop Off!

* * *

Sutradara dan Full Cast buka di sini

Apa yang sesungguhnya ingin diceritakan fragmen-fragmen dalam film ini? Apakah 'moment-moment' intim dari mata 'yang lain' (Karena sebagian besar sutradara di fragmen-fragmen ini sepertinya pendatang atau hanya mampir, Fatih Atkin misalnya)? Atau ini cerita tentang sebuah metropolitan dengan lima borough yang bebeda (Bronx, Manhattan, Brooklyn, Queens, Staten Island)? Aku sungguh-sungguh mengalami kebingungan dengan tujuan dari film ini.

Harapanku untuk menemukan 'New York' yang pernah kualami 2 tahun lalu, sepertinya tidak terjawab. Aku tidak menemukan sesuatu yang 'Brooklyn banget' (btw, beberapa teman di ACC menyebutku: brooklyn girl, sangking senengnya aku maen ke brooklyn) atau 'queens' banget. Bronx dan Staten Island apalagi. Mahattan yang kutemukan di film ini juga hanya kelebatan saja: sedikit bau Soho, west side, 5th Ave, China Town dan rasanya seperti melihat gambar-gambar itu di katalog wisata.

Ada apa dengan para sutradara ini? sepertinya mereka kehilangan  bahan cerita tetang NYC, selain sex dan sex dan sex dengan orang kamu kenal, maupun orang yang tidak kamu kenal sama sekali. Tapi mana perasaan sendiri di tengah keramaian sehingga kamu begitu mengingkan keintiman itu. Aku tidak menemukannya rasa itu di film ini. Sepertinya para sutradara mengalami  kebingungan menceritakan New York, sangking 'hip'nya kota ini. Ingin menemukan kedalaman dari fragmen kisah tentang NY, tapi tidak berhasil karena terlalu banyak yang ingin di ceritakan. Aku inget satu kompilasi tentang NY berjudul 'Subway'. Film itu memang tidak dimaksudkan untuk menfokuskan diri pada NY secara khusus, tapi kisah-kisah yang terjadi di subway, tapi menurutku menggambil secuplik dan menelisiknya akan jauh lebih bisa menampilkan rasa dan aromanya.

Ya, aku memang mencari konfirmasi tentang NY dari film ini. Mencoba memastikan adakah rasa NY yang pernah kualami secara langsung itu bisa kutemukan di sini? Aku juga sama, menjadi 'yang lain' seperti para sutradara itu, tapi setidaknya empat bulan disana, membuatku bisa membedakan rasanya Bronx, Queens, Brooklyn, Manhattan, Staten Island. Menonton film ini seperti berputar keliling, sightseeing  New York dengan bis turis: Hop In Hop Off. Sangat 'romantis'  dan permukaan.

Thursday, February 04, 2010

Positive Vibration

 

Setelah membaca komentar puisi Jack White tentang kotanya (yang setengahnya sangat sinis dengan kesuksesannya), aku jadi teringat tentang bagaimana hidup di temani kesinisian orang di sekitarku. Kesinisan bagiku mematahkan dan menguras tenaga. Meski kadang  aku tau di balik kesinisan itu ada maksud baik, tapi tetap saja yang terasa pertama kali adalah mematahkan dan mengecilkan hati.

Sinis dan kritis itu jauh bebeda. Salah satu sahabat baikku, dia orang yang kritis. Dia selalu bertanya mengapa aku memutuskan itu? Dia hanya berusaha memastikan bahwa aku meyakini keputusanku. Sementara orang yang cenderung mengolok-olok lebih dahulu, mungkin hanya bermaksud menggoda dan menggoyahkan keyakinan, tapi jika itu terus menerus dilakukan, bener-bener bisa mematahkan. Aku selalu menduga, mengapa orang bisa sinis dengan gagasan atau karya orang lain, tidak berusaha mengapresiasinya terlebih dulu, tapi lebih senang  'mengolok-olok', pertama, mungkin karena dia sedemikian jago dan hebatnya, sehingga apa yang orang lain lakukan tak ada artinya sama sekali buat dia. Kedua, orang bisa sedemikian sinis pada orang lain, karena dia tau dia tidak mampu. Dia sadar bahwa dirinya pecundang. Sebelum dia diolok-olok, lebih baik mengolok-olok orang lain. Ya semacam naluri mempertahankan diri.

Aku tau bagaimana rasanya dikuras dan dipatahkan oleh kesinisan itu. Itu sebabnya aku lebih memilih menganggap orang seperti itu adalah pecundang yang tidak percaya diri dengan pencapaiannya sendiri. Bersahabat dengan teman-teman yagn nyaman dengan diri dan pencapaiannya, membuatku tidak lagi mudah dipengaruhi oleh kesinisan itu. Aku beruntung sahabat-sahabatku yang luar biasa itu, sedemikian nyaman dengan diri dan pencapaian  mereka masing-masing. Sehingga kami bisa saling merasa bahagaia belaka ketika salah satu dari kami mencapai prestasi atau mendapatkan kebahagiaan, tidak pernah aku mendengar komentar sinis bahkan olok-olokan yang bisa mematahkan semangat atau menyakiti hati kami masing-masing.

***

Jika Jack White akhirnya pindah ke Nasville untuk mendapatkan iklim berkarya yang lebih kondusif dan positif, aku memilih untuk menghindarinya kesinisan-kesinisan itu dan belajar mengabaikannya, karena aku membutuhkan waktu lama untuk pulih setelah dipatahkan, apalagi jika kesinisan itu ternyata datangnya dari orang yang  sedemikian aku percaya. Lebih baik orang itu menyelesaikan dulu persolan dengan dirinya, temukan rasa percaya diri dan kenyamanan dengan apa yang telah dicapai, biar bisa lebih memancarkan energi positif pada orang lain. Temanku yang psikolog pernah bilang, dunnia ini mengalami defisit energi positif, jadi jangan sia-siakan energi positif kita pada orang-orang yang hanya bisa menguras itu semua dengan kesinisannya.

Dan pertama-tama yang mesti dilakukan adalah merasa nyaman dan positif dengan diri sendiri, setelah itu energi positif lain akan menghampiri...

Tuesday, February 02, 2010

The Raconteurs: Old Enough



You look pretty in your fancy dress
But I detect unhappiness
You never speak so I have to guess
You’re not free.

There, maybe when you’re old enough
You’ll realize you’re not so tough
And some days the seas get rough
And you’ll see

You’re too young to have it figured out
You think you know what you’re talking about
You think it will all work itself out
But we’ll see

When I was young I thought I knew
You probably think you know too
Do you? Well do you?
I was naïve just like you
I thought I knew exactly what I wanted to do
Well, what’s you gonna do?

And how have you gotten by so far
Without having a visible scar?
No one knows who you really are
They can’t see

What’s you gonna do (what’s you gonna do)
What’s you gonna do now
What’s you gonna do (what’s you gonna do)
What’s you gonna do now
What’s you gonna do (what’s you gonna do)
What’s you gonna do now
What’s you gonna do (what’s you gonna do)
What’s you gonna do now
What’s you gonna do now

The only way you’ll ever learn a thing
Is to admit that you know absolutely nothing
Oh nothing
Think about this carefully
You might not get another chance to speak freely
Oh freely

Maybe when you’re old enough
Maybe when you’re old enough
Maybe when you’re old enough
You’re not free
You’re not free

Monday, February 01, 2010

The White Stripes Jepretan Annie Leibovitz


Akhirnya aku menemukan foto ini. Pertama kali aku melihatnya di majalah Vouge  dan langsung membuatku berkomentar: "Gila ini foto keren banget!" aku suka banget sama suasana dan warnanya. Ganjil. Jack White disini pas banget dengan kostum putih dan pisau dapur di tangannya. Sementara Meg White sebagai sasaran tembak, tersenyum innocent.  Menurutku Annie Leibovitz pas banget mendeskripsikan karakter The White Stripes di foto ini yang seksi misterius dan bisa jadi bebahaya, penuh kejutan tapi semuanya terkontrol. Latar belakang yang sepertinya menggambarkan daerah industri, seperti menjadi metafor Detroit yang industrial, keras, murung, serius dan menyimpan kisah pahit yang lama-lama mengental bersama asap dan debu southwest Detroit. Itu sebabnya menurutku warna merah yang ditampilkan disini lebih untuk menggambarkan 'kekentalan itu' (makanya bukan merah terang, tapi lebih murung dan gelap). Warna putih justu menambah dramatis  pucatnya kulit Jack, seperti menegaskan rasa dingin dan murung itu. Forgotten but not forgiven.

Oya aku posting juga puisi Jack tentang Detroit, kota kelahirannya yang akhirnya dia tinggalkan karena tidak lagi kondusif sebagai tempatnya berkarya.



'Courageous Dream's Concern,' by Jack White



I have driven slow,
three miles an hour or so,
through Highland Park, Heidelberg, and the
Cass Corridor.
I've hopped on the Michigan,
and transferred to the Woodward,
and heard the good word blaring from an
a.m. radio.
I love the worn-through tracks of trolley
trains breaking through their
concrete vaults,
As I ride the Fort Street or the Baker,
just making my way home.

I sneak through an iron gate, and fish
rock bass out of the strait,
watching the mail boat with
its tugboat gait,
hauling words I'll never know.
The water letter carrier,
bringing prose to lonely sailors,
treading the big lakes with their trailers,
floats in blue green chopping waters,
above long-lost sunken failures,
awaiting exhumation iron whalers,
holding gold we'll never know.

I've slid on Belle Isle,
and rowed inside of it for miles.
Seeing white deer running alongside
While I glide, in a canoe.
I've walked down Caniff holding a glass
Atlas root beer bottle in my hands
And I've entered closets of coney islands
early in the morning too.
I've taken malt from Stroh's and Sanders,
felt the black powder of abandoned
embers,
And smelled the sawdust from wood cut
to rehabilitate the fallen edifice.
I've walked to the rhythm of mariachis,
down junctions and back alleys,
Breathing fresh-baked fumes of culture
nurtured of the Latin and the
Middle East.
I've fallen down on public ice,
and skated in my own delight,
and slid again on metal crutches
into trafficked avenues.

Three motors moved us forward,
Leaving smaller engines to wither,
the aluminum, and torpedo,
Monuments to unclaimed dreaming.
Foundry's piston tempest captured,
Forward pushing workers raptured,
Frescoed families strife fractured,
Encased by factory's glass ceiling.

Detroit, you hold what one's been seeking,
Holding off the coward-armies weakling,
Always rising from the ashes
not returning to the earth.

I so love your heart that burns
That in your people's body yearns
To perpetuate,
and permeate,
the lonely dream that does encapsulate,
Your spirit, that God insulates,
With courageous dream's concern.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails