Sunday, January 31, 2010

Yes, It's You!


 


Kita memilih untuk berjalan di lorong itu. 
Bukan kutukan seperti yang kamu bilang, tapi pilihan. 
Aku sudah sampai sini. Kamu sudah sampai mana? 
Kita sedang sama-sama menjalaninya.. hanya bebeda rute saja. 

Di sini, tidak ada (mungkin tidak banyak, setidaknya aku belum menemukannya) yang mengerti, 
seperti kamu mengerti dan memahaminya..

I miss my best friend, so muuuuuuuchhhh..

Wednesday, January 27, 2010

My Rock N Roll Breastfeeding



 Aku punya cara bebeda untuk mengapresiasi sesuatu. Musik misalnya. Untuk musisi yang bener-bener berpengaruh pada diriku (setidaknya pemikiranku), prosesnya cukup lama dan panjang. Seperti memahami sebuah pemikiran filsuf yang ga cukup hanya dengan membaca satu buku saja.

Pearl Jam misalnya. Band asal Seattle ini memberi pengaruh sangat besar di masa remaja sampai menuju masa dewasa. Awalnya adalah Jeremy yang pertama kali aku dengarkan di tahun 92 saat lagu itu pertama kali di rilis. Saat itu saat itu aku lagi seneng-senengnya sasama Red hot Chili Peppers dan Nirvana. Suara Eddie Vedder yang getir dan berat itu, mengusik kesenanganku menikmati Anthony Kiedis yang manis tapi seenaknya itu. Setelah Eddie Vedder, Kurt Cobain jadi terdengar terlalu pemarah dan terlalu persimistik.

Sementara pada satu titik suara Eddie Vedder menyentuh frekuensi kegalauan filosofis masa remajaku yang dipenuhi dengan berjuta-juta pertanyaan mengapa ini begini dan mengapa itu begitu. Kegalauan, kemarahan, kesedihan, kepahitan, ketidakmengertian ada pada suara Vedder yang intens dan dalam itu, tapi dia seperti memberikan optimisme  bahwa semua ini adalah sementara. pada satu titik kita akan menemukan jawaban-jawaban atau sedikit kejelasan dari perasaan yang campur aduk itu.

Saat itu dunia di sekelilingku justru kesulitan menanggapi pertanyaan-pertanyaanku yang ga ada habisnya. Sampai akhirnya aku seperti terisolasi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa aku hindari. Apa yang Eddie Vedder nyanyikan seperti kata-kata penghibur yang meyakinkan aku bahwa ia akan menemaniku dalam proses panjang kegalauan filosofis masa remajaku itu. Aku bisa mendengarkan 'Ten' berpuluh-puluh kali dalam sehari tanpa bosan, mencoba menyimak setiap kata dan nada, mencoba menemukan keyakinan bahwa Vedder benar-benar menemaniku. Aku ingat tahun 1994, saat pertama kali aku mengenal internet, aku menghabiskan waktu berjam-jam di warnet mencari tau tentang Pearl Jam. Siapakah Eddie Vedder, Stone Gossar, MikeMcCready dan Jeff Ament (saat itu aku ga tertarik pada Dave Abruzzese yang menurutku ga cocok dengan personil PJ yang lain). Kuikuti sepak terjang mereka dan kusimak album mereka kata demi kata, nada demi nada, gambar demi gambar (artworknya PJ itu sama pentingnya untuk disimak). Sebenarnya yang kucari adalah jawaban dari petanyaan mendasar: mengapa mereka bisa mempengaruhi hidupku.

Sampai album Vitalogy aku seperti mengikuti perjalanan menuju klimaks. Penuh dengan intensitas, ketegangan dan tiba-tiba saja ketika menemukan No Code, Pearl Jam seperti menawarkan 'pengosongan' yang bener-bener ga kuduga sebelumnya. Keputusan mereka untuk tidak muncul di media, pergantian drumer, musik dan lirik yang jauh lebih kontemplatif, aku seperti  dipaksa melihat sisi PJ yang lain yang selama ini ga aku lihat. Butuh waktu kurang lebih setahun (terhitung dari pertama kali aku mendengarkan No Code) sampai akhirnya aku siap untuk menyimak perubahan besar itu. Pada saat itu bagiku seperti ujian kenaikan kelas. Apakah aku 'just that one of that fan' yang meninggalkan PJ karena tidak bisa menerima perubahan mereka di album No Code, atau aku adalah fan yang tumbuh bersama mereka? Dan aku memilih yang terakhir. Itu sebabnya Yield bagiku seperti menemukan sesuatu yang melegakan. Kelegaan kerena menemukan kenyataan bahwa ternyata PJ pun mengalami proses pendewasaan dari karya maupun personalitas, apalagi setelah menyimak 'Single Video Theory'. Kata-kata Stone Gossard yang aku ingat di dokumenter itu adalah "We have tendency to see the world differently, but that's oke, that's what I really like about this band." Saat itu, dalam kehidupanku aku baru mengalami perpisahan dengan para pendiri tobucil.  karena cara pandang yang berbeda. Pernyataan Stone memberi pemahaman baru bagiku  tentang perbedaan dalam sebuah idealisme.

Binaural sama sulitnya dengan No Code, karena perubahan formasi yang membuat PJ menemukan soulmate drumernya selama ini. Masuknya Matt Cameron (mantan drumer Soundgarden dan drumer ketika PJ membuat demo pertama di awal karir mereka), memberi karakter baru bagi PJ. Cameron seperti memberi bentuk baru pada PJ, merapikannya dan membuatnya menjadi lebih solid. Butuh waktu lumayan lama untuk menerima perubahan itu. Dan sesudah Binaural, Riot Act, Pearl Jam, Backspacer menjadi lebih mudah dan membuatku merasa lulus ujian sebagai fan yang ingin tumbuh bersama mereka. Dan merasa lengkap saat bisa hadir di Madison Square Garden, menyaksikan PJ secara langsung dan menginjakkan kaki di Seattle yang selama ini hadir dalam mimpi. Perjalanan tumbuh bersama Pearl Jam memberiku kesadaran penting dalam hidup bahwa: 'jika kamu menyakini mimpimu yang dua dimensi itu, waktu akan mengantarkan mimpimu pada ruang tiga demensimu, sehingga kamu bisa merabanya, menjejakinya, mencium baunya..'

 ****


Jack White di It Might Get Loud 

Sekarang aku ingin bicara tentang Jack White. Setelah Pearl Jam, Jack White mempengaruhiku dengan cara yang sama sekali berbeda. Jack White yang kuketahui pertama kali ketika RollingStone Magazine memunculkan nama mereka sebagai The White Stripes 'brother and sister band' dan itu cukup membuat mereka menjadi bebeda dengan yang lain. Apalagi kemudian publik mengetahui bahwa Jack White (yang punya nama asli John Anthony Gillis) pernah menikah dengan  Meg White (drumer) di tahun 1996 dan bercerai di tahun 2000. Setelah perceraian mereka mengikrarkan diri sebagai kakak adik dan tetep ngeband bareng. Sebuah pernyataan hubungan yang buat banyak orang sangat tidak biasa. Penampilan Jack sempat membuatku bertanya-tanya: apakah orang ini sekedar mencari perhatian tanpa punya sesuatu yang benar-benar istimewa?  Aku mengabaikannya beberapa tahun setelah sosoknya muncul di Rolling Stone tapi 'menghantuiku'. Ada sesuatu dengan Jack White yang aku ga bisa mengabaikannya.  Dan jangan harap bisa menemukan CD White stripes dengan mudah, karena The White stripes memproduksi sendiri album mereka dalam jumlah yang terbatas (sebelum album Icky Thump).

Barulah ketika aku menemukan 'Conquest' aku bener-bener mencari semua album The White Stripes dan mencoba menyimaknya (tentunya dengan cara mendonlotnya dari banyak sumber). Tiba-tiba saja aku mendapatkan semua materi tentang The White Stripes sekaligus dari album pertama sampai terakhir.  Aku merasakan ada sesuatu di balik semua 'noise' yang dia ciptakan. Aku menemukan bahwa tanpa didengarkan secara kronologispun, aku menemukan intensitas dan kejutan-kejutan di semua albumnya. Dan itu mendorongku untuk menyimak wawancara-wawancara di video maupun yang tertulis tentang The White stripes awalnya, tapi kemudian Jack white menjadi sosok yang sangat dominan, misterius, sekaligus membuatku sangat penasaran. Kali ini aku bener-bener ga bisa menghindarinya. Cara dia bernyanyi dan memainkan gitar: 'totally blown my mind'. Aku merasakan totalitas dan intensitas di setiap lagu dan permainan gitarnya.

Pada titik ini, White seperti mengisi kerinduanku pada sesuatu yang total dan intens di tengah dunia yang makin lama makin banal dan superfisial. Dan yang tidak bisa tidak menjadi penting buatku adalah dia sebaya denganku (Jack lahir 19 Juli 1975) diusia seperti ini, aku menemukan kenyataan bahwa menjadi pragmatis adalah hal yang wajar dan normal. Memang tidak ada yang salah dengan hal itu (menjadi pragmatis), tapi ketika melulu pertimbangan itu yang di kedepankan, rasanya kok seperti menguras  spiritualitas, bukan malah memperkayanya. Itu sebabnya, bagiku menjadi sangat luar biasa menemukan seniman di usia sebaya denganku tapi bisa mencapai intensitas dan totalitas seperti itu. Rasanya seperti menemukan sesuatu yang bisa mengisi dan memperkaya spiritualitas itu.

White tidak punya sejarah hidup yang getir seperti Eddie Vedder. Tumbuh dalam keluarga katolik, sebagai anak bungsu dari sepuluh bersaudara dari keturunan imigran Polandia dan Irlandia  di bagian paling keras di southwest Detroit bersama komunitas Latin Amerika (aku merasa pada titik tertentu visual The White Stripe sangat dipengaruhi oleh kultur latin, lihat aja video conquest dan pada beberapa penampilan Meg dan Jack mengingatkanku pada conqueror  Spanyol). Dan nampaknya keluarga besar menjadi pondasi yang membangun kekuatan karakternya sebagai musisi. Bagiku memutuskan menikahi perempuan yang lebih tua di usia yang sangat muda (usia Jack 21 tahun saat menikahi Meg White) dan mengganti nama keluarganya dengan nama keluarga Meg, ketika bercerai bisa tetap berkarya bersama  dan  mengubah relasi mereka jadi kakak adik, membuat Jack terlihat sangat matang untuk laki-laki seusianya. Dia tidak suka mengekspose kehidupan pribadinya, meski media tau saat Jack memutuskan menikahi Karen Elson (model di salah satu video White Stripes) di tengah belantara Amazon dan menjadikan Meg pengiring pengantinnya dan begitu pula Meg, ketika menikahi Jackson Smith, putra Patty Smith, di halaman belakang rumah Jack di Nasville. Wow, kurasa kedewasaan Jack dan Meg dalam berelasi sungguh-sungguh menjadi pondasi kuat bagi Jack untuk mengekplorasi bakat artistiknya secara total. Tanpa perlu banyak bicara dan tampil dominan, Meg justru memberi pengaruh yang sangat besar pada Jack.

Kurasa Jack termasuk dari sedikit orang yang bisa jadi superstar tanpa kehilangan karakter dan personalitasnya. Sementara yang membedakannya dengan Eddie Vedder,  Vedder justru 'dealing with himself' lewat musik yang dia ciptakan'. Sementara Jack, dia memakai musik untuk mencapai kebebasan ekspresi tanpa batas, dia bisa keluar dari batasan-batasan itu sejauh-jauhnya dan menciptakan ruang bermusiknya yang begitu leluasa. Bagiku jadi sangat menarik untuk mengikuti perkembangan kekaryaannya ke depan. Seperti menunggu-nunggu kejutan. 'Kali ini, Jack mau bikin apa lagi ya?' dan aku akan selalu menunggu-nunggu dengan penuh antusias. Dari Jack aku menemukan kejutan-kejutan di tengah-tengah tekanan rutinitas berpikir dan eksplorasi yang memperkaya spiritualitas bukannya eksplorasi yang fatalistik. Simak lirik-lirinya White Stripes, kukira mereka cukup positif memandang hidup. Kebenaran yagn Jack sampaikan lewat lirik, bisa tampil begitu sederhana tanpa perlu metafor yang rumit dan justru menyembunyikan kebenaran itu sendiri. Jujur, to the point dan apa adanya. Meski ketika Jack memainkannya di panggung, lagunya tidak pernah menjadi sederhana lagi. Dia selalu menemukan cara bebeda untuk memainkan lagu yang sama dengan penguasaan teknik bermain dan intensitasnya yang luar biasa itu.

It Might Get Loud, memberi gambaran yang sangat jelas tentang motif kreativitas yang dijalani Jack sebagai musisi dan bagaimana dia belajar dari para senior-seniornya, The Edge dan Jimmy Page. Juga bagaimana dia Jack tampil berkolaborasi dengan The Rolling Stones, Alicia Keys, Loretta Lyn, Flat Duo Jets (duo band yang sangat menginspirasi dan membuka perspektifnya tentang gitar), bahkan band Jack yang lain: The Raconteurs dan Dead Weather, menurutku adalah upaya Jack menemukan kemungkinan-kemungkinan lain dalam eksplorasi artistiknya. Dan yang menarik juga menurutku adalah pemahaman Jack tetang bagaimana mekonstruksi blues (sebagai musik yang begitu mengilhaminya) dan kemudian mendekonstruksi untuk menemukan bentuk bangunannya yang baru. Dia sungguh memberiku banyak sekali inspirasi tentang begitu banyak kemungkinan-kemungkinan dalam hidup yang bisa aku temukan.

***

Apakah aku terlalu serius menggemari PJ dan Jack White? Kukira aku bisa membalikkan pertanyaan ini pada orang-orang yang merasa terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran orang lain, 'apakah kamu  serius menggemari Karl Marx, Foucault, Satre. Kurasa seorang musisi atau seniman itu sama pentingnya dan sama besar pengaruhnya dengan filsuf yang bisa mengubah dunia. Para musisi inilah yang tanpa disadari membentuk karakter dan personalitas seseorang lewat karya-karya mereka, ketika aku memutuskan untuk tumbuh bersama mereka. Disadari atau tidak, pengaruh yang satu akan menyiapkan pengaruh yang lain. Dan kurasa, di dunia ini ga ada satupun manusia yang hidup terbebas dari pengaruh (agama sekalipun adalah pengaruh). Dan secara filsafati, manusia mendefinisikan siapa dirinya lewat kolase pengaruh-pengaruh itu. Untuk memahami siapa aku, berarti penting juga untuk mengetahui siapa yang mempengaruhiku dan  bagaimana mereka mempengaruhiku.

Sekarang aku tau, siapa yang ingin kutonton ketika ada kesempatan kembali lagi ke Amrik selain Tom Waits, tentu saja Jack White.

Saturday, January 23, 2010

The White Stripes: Conquest



Salah satu video The White Stripes yang aku suka. Sempet merasa ada sesuatu yang beda dengan penyanyinya, keesentrikan yang aneh dan misterius, susah dimengerti. Baru sekarang kemudian di balik penampilannya yang 'creepy' itu, Jack White menyimpan banyak bakat dan energi berkarya yang begitu intens. Mengingatkan aku pada sosok Johnny Deep dari gaya dan intensitas, hanya kematangan yang berbeda, maklum umur mempengaruhi proses. Tapi aku sungguh suka dua orang ini, meski temanku heran. kok bisa aku ngefans sama Jack White.  Pertama aku jatuh cinta dengan karyanya (Conquest adalah lagu pertama yang memikatku) dan membuatku penasaran dengan misteri seniman di belakangnya. Pasti ada sesuatu yang menarik yang membuat dia bisa menciptakan lagu seperti itu. Dan dari referensi dan wawancara2 juga dari It Might Get Loud, semakin membuatku suka dengan misterinya.

Tuesday, January 19, 2010

Perjalanan Rasa Ingin Tahu



Langit di jendela kamarku

'Apa yang membuat menakutkan ketika mengikuti rasa ingin tahu? bukannya setiap orang akan mengikuti rasa ingin tahunya?'

Beberapa waktu lalu, sahabatku mengajukan pertanyaan itu di saat kami mendiskusikan tentang bagaimana anak-anak jaman sekarang (terutama mahasiswa-mahasiswa sahabatku itu) rendah sekali rasa ingin tahunya. Saat itu, aku bilang bahwa mengikuti keingin tahuan itu, bukan sesuatu yang mudah dan gampang, karena perlu keberanian. Ketika rasa ingin tahu itu terus menerus kita ikuti, bisa membawa kita pada lorong yang panjang dan sunyi. Bisa jadi tinggal kita sendirian yang ada di lorong itu. Kita ga tau juga, ujungnya sampai di mana. Mungkin pada satu ceruk, kita akan bertemu dengan para pertapa yang sedang asyik menghikmati keingin tahuannya. Dia memutuskan untuk berhenti di titik itu dan merenungkan substansi semua penelusuran keingin tahuan yang dia jalani itu.

Kurasa setiap orang pasti menjalani apa yang kusebut dengan perjalanan keingintahuan itu. Namun, jarak tempuhnya tentu berbeda-beda. Karena perjalanan ini ga ada garis finalnya. Setiap orang bisa berhenti kapan saja dan dimana saja dengan resiko-resikonya. Bagi yang memutuskan untuk melakukan perjalanan sejauh mungkin, resiko terbesarnya adalah tidak punya banyak teman di perjalanan. Tidak banyak orang yang sanggup dengan perjalanan yang jauh itu, karena semakin jauh, semakin sulit medannya, padahal bisa jadi substansi yang ditemukan kemudian adalah sesuatu yang sesungguhnya sederhana saja. Perjalanan sejauh-jauhnya ini, yang di sebut oleh romo Anton sebagai perjalanan menggali ke kedalamanan atau menurut sahabatku yang lain, Bambang Q-Anees sebagai 'proses lima lapis bertanya kenapa'.

Yang seringkali melelahkan dari perjalanan menelusuri keingintahuan bukan semata-mata kelelahan fisik belaka, karena ini bukan semata-mata perjalanan fisik namun lebih ke perjalanan pemikiran. Menelusuri kedalaman pemikiran kita sendiri, dari sebuah pertanyaan yang sederhana saja, sampai terus dan terus.. kenapa begini, kenapa bisa begitu.. terus dan terus. Resiko terberat lainnya yang ku maksud dengan sesuatu yang menakutkan adalah: tersesat dalam pemikiran sendiri. Jika hal itu terjadi, bukan hal mudah juga untuk mencari jalan kembali, bahkan di satu titik memang tidak ada jalan untuk kembali, karena waktu yang kita habiskan untuk mejalaninya, tidak akan pernah kembali dan berulang.

Dalam perjalanannya, aku merasakan bahwa penelusuran rasa ingin tahu ini, bukan hanya berlaku untuk  membuat kita mengerti sesuatu, namun bagiku penting juga untuk menelusuri mengapa aku tidak mengerti akan sesuatu. Seperti kata orang bijak 'semakin mengetahui banyak hal, semakin kamu tidak mengerti apa-apa.' Mungkin itu pula sebabnya menjalani penelusuran keingintahuan tidak mengenal garis final karena setiap orang diberi kebebasan untuk menentukan garis finalnya sendiri.

Itu sebabnya Tuhan menyukai orang-orang yang berpikir dan mencari termasuk mencari dan menemukan garis final kita masing-masing. Kebebasan manusia kurasa ada pada keleluasaannya menentukan pilihan pada titik mana garis final itu akan kita tentukan. Pada titik ini, kita memiliki keleluasaan menentukan kualitas diri dari sejauh mana perjalan rasa ingin tahu itu kita tempuh. Tuhan hanya memberikan sesuai dengan kepantasan yang kita upayakan sendiri..

Monday, January 18, 2010

It Might Get Loud (2008)



*****

Dokumenter / Sutradara: Davis Gugennheim

Aku baru saja mendapatkan dvd ini tadi siang dan langsung menontonnya. Dokumenter tentang proses kreatif seniman-seniman hebat selalu menarik untuk kuketahui. Apalagi salah satu yang menjadi tokoh pencerita di dokumenter ini adalah Jack White, musisi asal Detroit sebaya denganku (FYI: White lahir 9 Juli 1975, lebih tua dua tahun dariku), tapi sejak pertama kali menyimak musik dan permainannya dengan White Stripes, aku langsung jatuh hati pada intensitas dan keseriusannya bereksplorasi. Bagiku, White adalah sedikit dari musisi jenius dan serius di usianya. Dokumenter ini kemudian mengajakku mengetahui lebih jauh proses kreatif White sebagai musisi dan latar belakang artistiknya. Aku seperti menemukan kembali perasaan jatuh cinta pada intensitas seseorang dalam berkarya, seperti yang pernah aku temukan pada Eddie Vedder, Pearl Jam, ketika pertama kali mendengar dia menyanyikan Jeremy di tahun 1992. Intensitas seseorang dalam berkarya selalu memberiku inspirasi dan energi kreatif yang ga ada matinya. Karya-karyanya selalu membuka kemungkinan baru ketika menikmatinya.

Dan film ini juga bukan hanya tentang Jack White. Sosok lain yang tak kalah inspiratif adalah The Edge (U2) dan Jimmy Page (Led Zeppelin). Guggenheim sengaja mempertemukan mereka bertiga dan saling berbagi pengalaman kreatif, artistik dan filosofis dari kekaryaan mereka. Jimmy Page dari generasi yang lebih tua, The Edge dan kemudian Jack White dari generasi yang paling muda. Mereka bebagi passion yang sama dan perspektif mereka tentang menjadi seorang gitaris dan apa yang mereka pikirkan sebagai seorang gitaris. Dan ketiganya adalah jenius dengan caranya masing-masing.

Bagi Page, bermain gitar adalah menemukan harmoni, sementara bagi The Edge bermain gitar adalah menemukan kembali kemurnian dan White bermain gitar adalah proses menaklukan. Page dan Edge dengan usia mereka, telah menemukan pematangan dalam proses berkarya sementara White dalam usia membuka segala macam kemungkinan dengan intensitas emosi yang tentunya, Page dan Edge sudah melewati masa-masa itu.

Menurutku bukan hal yang mudah menyatukan tiga sosok yang begitu kuat dalam karakter untuk saling berbagi dan diakhir mereka bermain musik bersama-sama. Sebagai sutradara, Guggenheim berhasil menampilkan keunikan dan kekuatan masing-masing karakter dan merangkaikannya dalam sebuah kisah. Bagaimana London (Inggris)  mempengaruhi Page, Dublin (Irlandia) mempengarui The Edge dan Detroit (USA) mempengaruhi karakter Jack White. Semua muncul dalam gambar memberi nuansa yang bebeda dan menjelaskan latar belakang masing-masing.

Aku sutuju dengan salah satu review yang aku baca tentang film ini bahwa yang terpenting dari film ini bukan sekedar membuka rahasia dapur teknik bermain masing-masing, tapi yang lebih penting adalah membedah dan memberi pemahaman mengapa teknik itu lahir dan semangat apa yang melatar belakanginya. Ku kira, film seperti ini wajib hukumnya di tonton oleh para kreator untuk memahami bahwa sekedar meniru teknik saja tidaklah cukup, tapi mengerti dan memahami passion di balik teknik itu menjadi jauh lebih penting karena pada akhirnya seorang kreator akan menemukan karakternya sendiri dan itulah yang diinspirasikan oleh Jimmy Page, The Edge dan Jack White lewat film ini.

Bagiku ini menjadi film yang cukup penting dan memberikan inspirasi di awal 2010.

Tentang It Might Get Loud bisa dilihat disini: http://www.imdb.com/title/tt1229360/fullcredits#cast

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails