Tuesday, December 21, 2010

Mendefinisikan Kembali Peran di Tahun Kesepuluh


Beberapa waktu terakhir, beberapa teman memutuskan untuk meninggalkan tobucil dengan alasan sudah saatnya mereka mesti berbeda arah. Ada cita-cita lain yang mesti mereka tuju. Hal yang lumrah dan wajar. Ketika tidak selamanya orang yang berjalan bersama, mendukungku  mencapai tujuan akan berjalan terus berbarengan sampai ujung. Toh, realitanya, teman perjalanan akan selalu berganti, seperti sebuah lari estafet yang tetap dari awal sampai akhir menjalaninya adalah aku sendiri tentunya yang punya cita-cita. Aku lebih bisa mengahadapinya dengan santai dan menerimanya sebagai bagian dari dinamika perjalanan.

Memang keberadaan teman yang membantu memikirkan banyak hal tentu saja sangat meringankan beban di perjalanan ini. Namun, jika mau jujur teman perjalanan ini juga seringkali menciptakan ketergantungan yang sulit dilepaskan ketika yang digantungi harus pergi meninggalkan perjalanan ini. Jebakannya adalah aku jadi merasa ga yakin bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan teman yang selama ini menyertai. Padahal kalau di runut, pada awalnya sendiri membangun, teman yang membantu datang kemudian. Saat bertukar pikiran dengan sahabatku si pembalap gadungan, aku justru kembali diingatkan olehnya. Dia bilang bahwa biasanya keputusan untuk meninggalkan organisasi terlalu cepat oleh para pendiri, justru akan melemahkan organisasi itu sendiri dan justru menjadi faktor penyebab bubarnya sebuah organisasi. Seperti meninggalkan bayi prematur yang sesungguhnya masih sangat membutuhkan perawatan intensif dari ibu yang melahirkannya. Sahabatku bilang, justru ini mungkin saatnya aku untuk balik lagi ke tobucil. Balik dalam arti, terlibat dan mengambil peran lebih banyak.

Aku jadi ingat omongan temanku, pendiri Ruang Rupa. Dia sempat bilang padaku, bahwa yang namanya kaderisasi dalam sebuah ruang alternatif seperti Ruang Rupa atau Tobucil, itu tidak mungkin bisa terjadi dalam 10 tahun. Mungkin baru 20 atau 25 tahun, setelah semua sistem tata kelola organisasi di ujicobakan lalu ketemu formula dasarnya, baru kaderisasi itu bisa benar-benar di lakukan.

Aku memang sempat mengurangi banyak peranku di tobucil. Sebenarnya untuk memberi kesempatan dan peluang pada yang lain. Tapi mungkin menguranginya terlalu banyak, jadinya aku terlalu sedikit mengambil peran. Memasuki tahun ke 10, 2011 nanti, rupanya aku memang mesti mengambil lebih banyak peran, tanpa mengurangi upaya kemandirian orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Ke depannya yang perlu diuji coba adalah sistem yang selama ini coba dibangun oleh tobucil, bukan ketergantungan pada individu pelaksananya. Dan kalau aku menafsir omongan sahabatku itu, peran pendiri sebenarnya ada pada monitoring sistem dan melakukan ujicoba sistem sampai akhirnya menemukan formula dan rumus untuk bertahan dan berkembang. Keterlibatan seperti itu yang perlu aku  fokuskan ke depannya.

Tantangan yang cukup berat dalam mengelola komunitas seperti tobucil sebenarnya ada pada mengelola dinamika pergantian orang dan juga meneruskan tongkat estafet tugas-tugas yang selama ini sudah dijalani, pada orang yang baru. Peran yang mesti dilakukan olehku sebagai pendiri adalah membuat mekanisme pergerakan tongkat estafet ini bisa berjalan dengan baik dan tidak mengubah tujuan utama yang telah ditetapkan. Peranku justru kembali menjadi panglima yang mengatur dan menyusun segala perubahan situasi dan formasi yang terjadi.

Ya, tahun depan akan menjadi tahun yang penting bagi kehidupanku di tobucil. Dimulai dari mendefinisikan kembali peranku di sini..

Monday, November 15, 2010

Society - Eddie Vedder & Johnny Depp



it's a mystery to me
We have a greed with which we have agreed
And you think you have to want more than you need
Until you have it all you won't be free

Society, you're a crazy breed
Hope you're not lonely without me...

When you want more than you have
You think you need...
And when you think more than you want
Your thoughts begin to bleed
I think I need to find a bigger place
Because when you have more than you think
You need more space

Society, you're a crazy breed
Hope you're not lonely without me...
Society, crazy indeed
Hope you're not lonely without me...

There's those thinking, more-or-less, less is more
But if less is more, how you keeping score?
Means for every point you make, your level drops
Kinda like you're starting from the top
You can't do that...

Society, you're a crazy breed
Hope you're not lonely without me...
Society, crazy indeed
Hope you're not lonely without me...

Society, have mercy on me
Hope you're not angry if I disagree...
Society, crazy indeed
Hope you're not lonely without me...

(combo special: Johnny and Eddie.. love u both..:* )

Passive Manipulation - The White Stripes



Women, listen to your mothers
Don't just succumb to the wishes of your brothers
Take a step back, take a look at one another
You need to know the difference...
Between a father and a lover

16 Hari Menulis Kisah Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Awalnya seorang teman menawarkan padaku untuk sukarela menulis dalam rangka kampanye 16 Hari Kampanye Anti kekerasan Terhadap Perempuan. Aku menanggapinya dengan bagaimana jika ini jadi semacam tantangan kepada para blogger selama 16 hari menulis kisah-kisah tentang perempuan. Tentunya yang sejalan dengan semangat kampanyenya. Kurasa kisah-kisah perempuan menjadi survivor/penyintas kekerasan akan jadi inspirasi dan bisa memberi kekuatan bagi siapa-siapa yang masih berjuang melepaskan diri dari sebutan korban kekerasan. Tantangan 16 hari menulis ini buatku seperti tantangan Ramadhan Tutorial project bulan puasa lalu. Aku sendiri masih mencoba membuat list, apa saja yang mau kutulis selama 16 hari kedepan mulai 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. 

Dalam kurun waktu 16 hari itu ada beberapa hari penting yang bisa menjadi catatan aku ambil dari situs Komnas Perempuan
  • 25 November : Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan Tanggal ini dipilih sebagai penghormatan atas meninggalnya Mirabal (Patria, Minerva & Maria Teresa) pada tanggal yang sama di tahun 1960 akibat pembunuhan keji yang dilakukan oleh kaki tangan pengusasa diktator Republik Dominika pada waktu itu, yaitu Rafael Trujillo. Mirabal bersaudara merupakan aktivis politik yang tak henti memperjuangkan demokrasi dan keadilan, serta menjadi simbol perlawanan terhadap kediktatoran peguasa Republik Dominika pada waktu itu. Berkali-kali mereka mendapat tekanan dan penganiayaan dari penguasa yang berakhir pada pembunuhan keji tersebut. Tanggal ini sekaligus juga menandai ada dan diakuinya kekerasan berbasis jender. Tanggal ini dideklarasikan pertama kalinya sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada tahun 1981 dalam Kongres Perempuan Amerika Latin yang pertama.
  • 1 Desember : Hari AIDS Sedunia Hari AIDS Sedunia pertama kali dicanangkan dalam konferensi internasional tingkat menteri kesehatan seluruh dunia pada tahun 1988. Hari ini menandai dimulainya kampanye tahunan dalam upaya menggalang dukungan publik serta mengembangkan suatu program yang mencakup kegiatan pencegahan penyebaran HIV/AIDS, dan juga pendidikan dan penyadaran akan isu-isu seputar permasalahan AIDS.
  • 2 Desember : Hari Internasional untuk Penghapusan Perbudakan Hari ini merupakan hari diadopsinya Konvensi PBB mengenai Penindasan terhadap Orang-orang yang diperdagangkan dan eksploitasi terhadap orang lain (UN Convention for the Suppression of the traffic in persons and) dalam resolusi Majelis Umum PBB No 317(IV) pada tahun 1949. Konvensi ini merupakan salah satu tonggak perjalanan dalam upaya memberikan perlindungan bagi korban, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak, atas kejahatan perdagangan manusia.
  • 3 Desember : Hari Internasional bagi Penyandang Cacat Hari ini merupakan peringatan lahirnya Program Aksi Sedunia bagi Penyandang Cacat (the World Programme of Action concerning Disabled Persons). Program aksi ini diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1982 untuk meningkatkan pemahaman publik akan isu mengenai penyandang cacat dan juga mambangkitkan kesadaran akan manfaat yang dapat diperoleh, baik oleh masyarakat maupun penyandang cacat, dengan mengintegrasikan keberadaan mereka dalam segala aspek kehidupan masyarakat.
  • 5 Desember : Hari Internasional bagi Sukarelawan Pada tahun 1985 PBB menetapkan tanggal 5 Desember sebagai Hari Internasional. Pada hari ini, PBB mengajak organisasi-organisasi dan negara-negara di dunia untuk menyelenggarakan aktivitas bersama sebagai wujud rasa terima kasih dan sekaligus penghargaan kepada orang-orang yang telah memberikan kontribusi amat berarti bagi masyarakat dengan cara mengabdikan hidupnya sebagai sukarelawan.
  • 6 Desember : Hari Tidak Ada Toleransi bagi Kekerasan terhadap Perempuan Pada hari ini di tahun 1989, terjadi pembunuhan massal di Universitas yang menewaskan 14 mahasiswi dan melukai 13 lainnya (13 diantaranya perempuan) dengan menggunakan senapan semi otomatis kaliber 223. Pelaku melakukan tindakan tersebut karena percaya bahwa kehadiran para mahasiswi itulah yang menyebabkan dirinya tidak diterima di universitas tersebut. Sebelum pada akhirnya bunuh diri, lelaki ini meninggalkan sepucuk surat yang berisikan kemarahan amat sangat pada para feminis dan juga daftar 19 perempuan terkemuka yang sangat dibencinya.
  • 10 Desember : Hari HAM Internasional Hari HAM Internasional bagi organisasi-organisasi di dunia merupakan perayaan akan ditetapkannya dokumen bersejarah, yaitu Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) oleh PBB di tahun 1948, dan sekaligus merupakan momen untuk menyebarluaskan prinsip-prinsip HAM yang secara detil terkandung di dalam deklarasi tersebut
Yuk, perempuan mari kita berbagi kisah dan pemikiran kita selama 16 Hari kedepan nanti. Kita tidak pernah tau, bahwa kisah-kisah sederhana atau perjuangan menjadi penyintas kekerasan, bisa jadi kekuatan dasyat bagi perempuan-perempuan lain yang sedang berjuang untuk melaluinya.. Yuk tuliskan kisahmu..!

'Cangkemanmu' Kekal Abadi

 Gambar diambil dari sini

"Rasah Cangkeman.. Sobek..Sobek!!!"  (Jangan banyak omong, ta' sobek-sobek).Begitulah tulisan di stiker yang tertempel di papan pesan meja kerjaku. Ungkapan yang sempat dipopulerkan oleh Tukul Arwana. Tulisan itu langsung saja terasa pas, ketika membaca kutipan Andi Mallarangeng yang benar-benar menyakiti bukan hanya korban Merapi,  tapi juga rakyat Indonesia.
Saya lihat mereka itu sudah cukup sebenarnya, makan sudah siapkan dan MCK sudah ada. Mereka ini tinggal menunggu bunyi klenteng-klenteng lalu sarapan, klenteng-klenteng lalu  makan siang dan klenteng-klenteng lalu makan malam," kata Andi Mallarangeng di Gedung Agung, Jl Malioboro, Yogyakarta, Minggu. Sumber DetikNews
Sebelumnya ketua DPR alias Dewan Perwakilan Rakyat, Marzuki Ali yang asal cangkeman  terhadap korban tsunami Mentawai:
"Mentawai itu kan pulau. Jauh itu. Pulau kesapu dengan tsunami, ombak besar, konsekuensi kita tinggal di pulaulah," kata Marzuki di Gedung DPR, demikian dikutip Kompas Online.

Sedangkan di Detikcon dikutip: "Kalau tahu berisiko pindah sajalah," imbuhnya. "Kalau rentan dengan tsunami dicarikanlah tempat. Banyak kok di daratan."
Menyedihkan sekali bahwa orang-orang yang dipercaya menjadi pejabat publik, melontarkan pernyataan-pertanyaan yang asal mangap tanpa rasa empati sedikitmu. Banyak orang marah dan bertanya: "kemana hati nurani para pejabat ini?"

Iya kemana ya perginya? mungkin nurani itu sudah lama terkubur dalam-dalam bersama semua kotoran yang masuk lewat mulutnya selama ini. Jangan dikira, makanan yang dibeli dari uang hasil korupsi, mengambil hak rakyat, biar keliatannya bersih tapi sesungguhnya mengandung sumber penyakit yang paling mematian jiwa dan nurani. Makanya omongan yang keluar dari mulutnya cerminan dari nuraninya yang udah mati.

Jika bisa memilih, siapa yang mau tinggal di pulau terpencil di tengah samudra, hidup dalam pilihan yang sedikit (seperti halnya Komunitas Adat Terpencil lainnya). Meski hidup mengajarkan untuk berterima. Masyarakat Mentawai hidup dalam berterima. Keterbatasan bukan alasan untuk tidak berterima. Meski harus bertahan dari koyakan keserakahan dan pikiran-pikiran kotor para pejabat publik, toh kearifan lokal dan sikap mengahargai semesta masih bisa mereka pertahankan. Tidak semudah berkata kotor, menyuruh mereka pindah. Itu sama artinya menyuruh mereka membalikkan hidup dan memberi alasan para pejabat publik untuk melepaskan diri dari tanggung jawab mereka. Siapa pula yang mau tinggal dalam ketidak pastian di pengungsian? Tidak semudah membunyikan klenengan lalu semua menjadi baik-baik saja.

Bahkan orang yang semestinya paling paham apa arti komunikasi alias mentri komunikasi dan informasi, Tifatul Sembiring, mestinya lebih bijak mengeluarkan pernyataan-pertanyaannya lewat twitternya itu. Sehingga tidak mempermalukan diri sendiri di media massa internasional akibat komentar yang ga penting banget itu mengenai Michael Obama. Entah jika Tifatul bermaksud mencatat sejarah sebagai pejabat paling banyak ngomong ga mutu dan membuat departemen yang dipimpinnya menjadi kementrian Miskomunikasi dan Disinformasi.

***

Rasanya para pejabat ini ga paham, bahwa dijaman internet ini hukum kekekalan energi berlaku:
"Statement bisa diciptakan dan dikatakan tapi tidak pernah bisa dimusnahkan"
Semua pernyataan-pernyataan politik yang bodoh dan memalukan itu tidak akan pernah bisa dihapus. Pernahkan mereka membayangkan, cucu mereka kelak meng-googling nama kakek mereka dan menemukan arsip dari pernyataan-pernyataan bodoh di masa lalu. Mungkin kelak, jika twitter bersedia arsip mereka masuk ke dalam daftar salah satu pencarian di google, ketika orang mengetik nama Tifatul Sembiring yang muncul adalah omongan-omongannya yang ga sungguh tidak penting. Para pejabat negara itu mungkin tidak menyadari, bahwa sekarang ini bukanlah zaman  dimana semua pernyataan dan publikasi buruk tentang mereka bisa dengan mudah dihapus dari jagat internet. Tidak akan pernah. Kecuali terjadi suatu hari nanti, koneksi internet musnah dari muka bumi.

Ironis ya, biasanya orang justru ingin menorehkan catatan yang baik tentang sejarah hidupnya, apalagi jika dia pernah menjadi penguasa. Pastinya ingin dikenang sebagai penguasa yang baik. Sayangnya, para pejabat bodoh ini tidak menyadari bahwa google sesungguhnya sedang membantu tugas malaikat pencatat kebaikan dan keburukan, Raqib dan Atid, sehingga sepak terjang kehidupan kita selama terunggah ke dunia maya, bisa dengan 'catatan' itu diakses oleh siapa saja.

Jadi, mengutip nasehat Sergey Brin, genius yang menciptakan google: "berhati-hatilah dan pikirkanlah dengan baik-baik sebelum kau mengunggah sesuatu ke dunia maya, karena kamu tidak pernah tau apa yang akan terjadi dengan unggahanmu itu di kemudian hari.." Maka pikirkanlah itu wahai para pejabat sebelum cangkemmu kau biarkan asal mangap.

Cangkem: mulut
Cangkeman: omongan
 
 

Sunday, November 07, 2010

Monday, October 18, 2010

The Woman That Dreamed About A Man (2010): Sebuah Ilusi Perselingkuhan

* * * *

Sutradara: Per Fly

Sampai kapanpun rasanya drama perselingkuhan akan selalu menjadi tema abadi yang selalu menarik untuk di filmkan. Film Denmark yang dibintangi Sonja Richter dan aktor ganteng dari Polandia; Marcin Dorocinski ini, mengangkat soal perselingkuhan.

Mulanya Maciek (Marcin Dorocinski), kerap hadir dalam setiap tidur Karen (Sonja Richter). Saat  sosok dalam tidur Karen benar-benar hadir dihadapannya, Karen mengejarnya, memastikan bahwa laki-laki itu memang nyata. Maciek yang semula ilusif, kini seperti hadir menjelma nyata dan Karen jatuh cinta pada ilusi yang bertubuh dan berdaging itu.
Sebagai petualang cinta yang mengikuti  'lust'nya, Maciek sengaja masuk dalam ilusi Karen. Menyesatkan Karen dalam hubungan yang ilusif ini. Sampai-sampai Karen harus memilih antara suaminya; Johan atau Maciek. Lantas ketika pilihan itu dijatuhkan kepada Maciek, afair yang selama ini mereka jalin, tidak lagi ilusif, melainkan nyata. Real dan jauh dari bayangan. 

Maciek yang hanya menggunakan Karen sebagai pemuas nafsunya, tidak sungguh-sungguh ingin menjalin hubungan serius dengan Karen dengan alasan Maciek masih mencintai istri dan anaknya dan tak ingin meninggalkan mereka demi Karen. Meski Maciek sendiri, selain dengan Karen, terlibat afair dengan mahasiswanya. Di film ini, sosok Maciek gambarkan sebagai laki-laki yang merasa bisa mendapatkan apa yang dia inginkan karena ketampanan, kepintaran dan pesonanya, tanpa Maciek sendiri mengerti apa yang sesungguhnya ia cari dan inginkan dari semua afair yang dia jalani. Demikian pula Karen, ia membangun ilusi tentang hasrat yang selama ini dia pendam dibalik kesuksesan karirnya sebagai fotografer fashion internasioanal.

Benang merah yang selalu aku dapatkan dari kisah-kisah perselingkuhan seperti ini, bahwa hubungan seperti ini  tidak akan pernah sekedar menjadi sesuatu yang 'sambil lalu', menjadi ganjal pintu dari ketidakpuasan atas kehidupan dan hubungan bersama pasangan masing-masing. Persetubuhan yang mencoba mengkonfirmasi ilusi, sampai kapanku akan tetap menjadi ilusi yang terus menghantui. Bisa saja salah satu pihak terlepas dari ilusi itu mana kala Karen dalam film ini menyadari, Maciek bukanlah kenyataan, kesadaran itu justru membebaskannya dari mimpi-mimpi dan ilusinya tentang sosok Maciek selama ini. Namun bagi Maciek yang memilih bermain-main dalam ilusi itu, pada akhirnya terjebak dalam ilusi yang menghantuinya kemudian. 

Kisah perselingkuhan seperti ini, memberiku pengetahuan tentang motif. Beberapa yang memutuskan berselingkuh, berdalih bahwa motifnya hanya ingin bermain-main di dalamnya (biasanya yang seperti ini akan berkelit, bukan dia yang memulai, dia hanya mengikuti permainan yang datang padanya). Orang seperti ini, seperti Maciek dalam film ini,  tidak akan bisa keluar dengan mudah, meski dia pikir dia bisa keluar kapan saja dari permainan, tapi sesungguhnya tidak, karena dia tidak belajar apa-apa. Dia hanya merasakan kesenangan yang absurd dan candu. Orang seperti ini akan berselingkuh berkali-kali karena memang dia senang bermain-main tanpa tau kenapa dia senang melakukannya dan seringkali ingkar dari tanggung jawab. Dia telah tersesat di dalam permainannya sendiri dan entah kapan akan keluar atau berhenti dari permainan itu.

Sementara beberapa seperti Karen, berselingkuh dengan motif karena dia mencari. Dia mencari kenyataan pada ilusi yang menghantuinya selama ini. Setelah ia temukan kenyataan itu, dia akan berhenti. Ilusinya akan berhenti menghantuinya, ketika afair atau perselingkuhan itu usai. Meski harus bersakit-sakit, namun ia akan menemukan dirinya yang baru yang terbebas dari hantu-hantu yang menjadi ilusinya selama ini. 

Dan menurutku film ini bisa menggambarkan perasaan-perasaan itu dengan jelas dan gamblang, tanpa banyak kata-kata. Warsawa yang muram, model-model yang muncul seperti sosok imajinatif dari dunia mimpi, selera minimalis khas Skandinavia, bagiku justru memberi kekuatan emosi. Satu hal lagi yang aku sadari, emosi perselingkuhan ini, mau diceritakan oleh budaya manapun, rasanya ternyata universal. Sama dan tidak pernah tidak menyakitkan.

Friday, October 01, 2010

Cara, Jatah Dan Perintah

Foto by Vitarlenology
Beberapa hari lalu, kakak laki-lakiku menulis di notenya tentang omongan ustadz yang datang menyambanginya bicara soal jatah dan perintah. "PERINTAH APA  yang harus kita kerjakan ketika "JATAH" itu sampai kepada kita..?"  Jatah yang dimaksud ustadz ini adalah segala kenikmatan yang Tuhan berikan kepada kita. Segala yang menjadi berhak untuk kita nikmati. Nah, sementara perintah adalah kewajiban yang mesti kita jalani setelah jatah kita dapatkan.

Rasanya jauh lebih mudah mengenali 'jatah' daripada 'perintah'. Jatah alias segala pemberian Tuhan pada kita, jauh lebih mudah diterima sebagai sesuatu yang memang sepatutnya kita dapatkan. Namun mengenali perintah ternyata jauh lebih sulit daripada menerima jatah. Memang dalam kitab suci tertulis apa saja yang Tuhan perintahkan kepada umatnya. Hanya saja perintah-perintah itu seringkali tidak se-eksplisit yang kita harapkan. Tuhan memberi keleluasaan untuk menerjemahkan perintah itu ke dalam tindakan yang kongkrit dan ril. Kitab suci menuliskan sebagaian besar perintah itu sebagai sebuah konsep, namun kita sendiri yang memutuskan dengan cara seperti apa perintah itu akan dilaksanakan.

Mencari cara rasanya menjadi pekerjaan manusia sepanjang keberadaannya di muka bumi ini. Cara menentukan hasil. Tujuan bisa baik, namun jika caranya tidak tepat, hasilnya bisa jauh dari tujuan. Tujuan sendiri, seringkali bisa didisiplinkan oleh cara. Cara ini yang menentukan penilaian apakah seorang manusia berada di jalan yang 'benar' atau 'tidak'. Cara pula yang membuat manusia dinilai konsisten atau plin plan, murah hati atau kejam. Semua bergantung pada cara. Cara menjalankan perintah, tujuan. Bahkan cara juga yang menentukan apakah kita adalah manusia yang tau diri dan berterima kasih atau tidak setelah mendapatkan kelimpahan jatah itu.


Tuhan senang membuat manusia berpikir, karena itu meski malaikat tau, manusia pasti akan saling bunuh dan menumpahkan darah, tapi menemukan cara menjadi tantangan menjadi manusia sesungguhnya. Perintah yang turun dari Tuhan, tidak serta merta datang bersama cara menjalankannya. Itu sebabnya selalu ada berjuta-juta cara untuk satu hal saja. Dan rasanya Tuhan memang sengaja dan menjadikan cara sebagai pertanyaan abadi setiap manusia sejak dia dilahirkan ke dunia. Semakin cepat menyadari apa yang Tuhan perintahkan, semakin ada kesempatan untuk menemukan cara menjalani perintah itu.

Cara seperti apa yang telah kutemukan dan kujalani? cara seperti apa pula yang sedang ku jalani? lantas  bagaimana cara yang akan kujalani dikemudian hari? dan sudah semestinya kelimpahan jatah yang aku terima yang bisa menjadi modal untuk menjawab pertanyaan abadi sepanjang nafas masih melekat dalam diriku.

Thursday, September 23, 2010

Menikahi Impian Dan Cita-cita

the Poem Tim Burton Wrote for Johnny Depp

Jika ditanya, apakah aku sudah menikah? Ya. Aku sudah menikah. Menikah dengan impian dan cita-citaku. Menikah dengan banyak orang yang berjalan bersama menuju cita-citaku. Pada impian dan cita-cita aku berkomitmen, berjanji untuk setia, karena cita-cita dan impian tidak pernah berkhianat. Aku yang justru sering mencoba mengkhianatinya. Namun setiap kali aku kembali dari pengkhianatanku,  impian dan cita-cita selalu menerimaku dengan tangan terbuka dan memberiku kekuatan untuk kembali yakin. Sejauh apapun aku berusaha meninggalkan impian dan cita-citaku, aku akan selalu ditarik untuk kembali. Aku tak bisa hidup tanpanya.

Bagaimana dengan menikahi laki-laki dengan cita-cita lain dan impian berbeda di kepalanya? Mungkin saja. Menikahi laki-laki yang tau apa yang dia cita-citakan dan dia impikan, sesungguhnya seperti menikahi impian dan cita-cita yang lain. Aku berjanji setia pada impiannya, begitu pula dia bersedia bersetia pada impian dan cita-citaku. Beruntung sekali jika bertemu laki-laki seperti ini yang tidak memaksaku bersetia pada impian dan cita-citanya saja, tapi juga mau bersetia pada cita-cita dan impianku juga. Sayangnya laki-laki seperti ini, sangat-sangat sulit ditemukan terutama yang bisa dinikahi. Kebanyakan menuntut setia pada salah satu impian dan cita-cita saja, bukan pada kedua belah pihak. Sementara yang bisa bersedia setia pada impian dan cita-cita kedua belah pihak, justru tidak mungkin dinikahi (kontradiktif memang, mau setia pada impian orang lain, tapi dia sendiri tidak setia pada impiannya sendiri yang sudah terlanjur dibangun bersama pasangan yang ia pilih).


Untuk itu, aku mencari orang yang berani menikahi cita-cita dan impianku, karena jika aku bertemu dengan orang pemberani seperti itu, aku akan menemukan keberanian dan keyakinan untuk menikahi cita-cita dan impiannya. Mari kita saling menikahi impian dan cita-cita kita.. aku berani, bagaimana dengan kamu?

"I'm someone who remains faithful to my dreams." - Benicio Del Toro

Friday, September 10, 2010

Mengaku Kepada Publik: Terima Kasih Untuk Aa Gym


Pagi tadi, selepas sholat Ied, aku menyaksikan Aa Gym di acara Just Alvin, Metro TV. Aa Gym yang membuatku tercengang atas keberaniaannya untuk mengaku bahwa apa yang selama ini dia bangun adalah semata-mata demi pencitraan dan kesombongan belaka sebagai seorang ulama besar. Perlu keberaniaan luar biasa untuk mengaku bahwa selama ini popularitas telah membuatnya sesat. Kebesaran nama telah menyesatkan dirinya dalam kesombongan. Setelah menikah lagi dengan teh Rini beberapa waktu lalu, mengubah hidup Aa Gym secara drastis. Tuhan mengambil kembali semua kemasyuran, meruntuhkan pilar-pilar kesombongannya lewat usaha-usahanya yang hancur karena umat merasa 'terkhianati' oleh kemasan yang selama ini dia bangun. Topeng yang selama ini ia kenakan untuk membuat orang-orang merasa takjub padanya. Dan saat berada di puncak kesombongannya, Tuhan meruntuhkan dengan caraNya sendiri.

Perbincangan Alvin Adam dengan Aa Gym, bagiku cukup menggugah. Bukan semata-mata karena membuka sisi Aa Gym yang baru, namun keberaniaannya untuk mengakui segala khilaf dan kesombongannya itu sangat menggugahku. Perbincangan tadi seperti perbincangan di bilik pengakuan dosa yang dilakukan oleh seseorang yang selama ini hidup dalam citra yang begitu dia jaga dan dia bangun sedemikian rupa.

***

Pengakuan. Apa yang dilakukan oleh Aa Gym di acara Just Alvin, terus terang mengobati kerinduanku pada pengakuaan orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai public figure atau contoh masyarakat. Meski sempat menyangkal, tapi saat Cut Tari akhirnya mengaku bahwa memang dia yang ada di video mesum bersama Ariel, membuat masyarakat merasa sedikit lega. Setidaknya Cut Tari akhirnya mau mengaku juga, setelah mendapat tekanan.

Mungkin berbeda dengan Aa Gym, masyarakat tidak dalam kondisi menekan dia atau apapun, karena badai yang menimpa Aa Gym, telah berlalu beberapa tahun lalu, saat pemberitaan soal pernikahan keduanya menjadi 'trending topic' pada saat itu. Dirinya sendiri dan keinginan untuk jujur pada diri sendiri dan Tuhan yang membuat Aa Gym membuat pengakuan itu. Aku percaya dia mengaku bukan dalam rangka mencari simpati dan dukungan. Dia hanya ingin menebus kesalahannya yang mungkin tidak akan pernah sepenuhnya tertebus. Tapi pengakuan publik seperti ini, sungguh berarti. Bagiku sungguh jauh lebih berarti di banding dengan pidato Presiden SBY pada siang harinya, menangapi rencana Terry Jones, melakukan pembakaran Al- Quran (dimana rencana tersebut dibatalkan, karena Terry Jones mendapatkan kecaman keras dari warga Amerika sendiri dan juga Presiden Barack Obama).  Mengapa SBY tidak membuat pengakuan dan permohonan maaf saja, bahwa selama ini dia banyak membuat rakyat kecewa karena tidak dapat menepati janji-janjinya. Bahwa selama pemerintahannya banyak juga aliran kepercayaan, sekte keagamaan yang dia represi, padahal perbedaan menafsir adalah hak setiap orang yang. Mengapa dia tidak mengaku saja, bahwa dia tidak mampu menyelesaikan banyak persoalan, Lapindo salah satu yang terbesarnya yang membuat masyarakat Sidoarjo korban Lapindo tercabik-cabik hidupnya. Mengapa dia tidak mengaku saja, bahwa dia tidak bisa bertindak adil, besannya yang koruptor dengan gampangnya dapat ketentuan keringanan hukuman dengan label remisi. Begitu banyak daftar pengakuan para pejabat publik yang dirindukan oleh masyarakat.

Ku kira Aa Gym memberi keteladanan, bagaimana seseorang yang mengaku melayani kepentingan umat, melayani masyarat, bisa mengakui kelemahan dan kekurangannya. Di saat semua kekacauan dan penyelewengan para pejabat publik bisa dibuka dengan bebas di media, sampai-sampai keterbukaannya mengaburkan kebenaran itu sendiri, kurasa yang diperlukan adalah pengakuan. Aku merindukan pengakuan para pejabat publik yang jujur pada dirinya sendiri mengaku bahwa dia memang bersalah, bahwa dia memang khianat terhadap amanah masyarakat dan bersedia menanggung konsekuensinya dengan kehilangan jabatan dan kekuasaannya. Terima kasih Aa Gym, kamu membuat aku masih menyimpan harapan ketika aku hampir saja kehilangan kepercayaan pada semua orang yang melabeli dirinya publik figure/ pelayan umat/abdi masyarakat.

Tuesday, August 03, 2010

The White stripes: The Hardest Button to Button



Lagu yang cocok untuk soudtrack 'merenungkan kembali kelakuan para ponakan, tante, om, kakak sepupu dan keluarga besar.'

We started living in an old house
My ma gave birth and we were checking it out
It was a baby boy
So we bought him a toy
It was a ray gun
And it was 1981
We named him Baby
He had a toothache
He started crying
It sounded like an earthquake
It didnt last long
Because I stopped it
I grabbed a rag doll
And stuck some little pins in it
Now were a family
And were alright now
We got money and a little place
To fight now
We dont know you
And we dont owe you
But if you see us around
I got something else to show you
Now its easy when you dont know better
You think its sleazy?
Then put it in a short letter
We keep warm
But theres just something wrong when you
Just feel like youre the hardest little button
To button
I had opinions
That didnt matter
I had a brain
That felt like pancake batter
I got a backyard
With nothing in it
Except a stick
A dog
And a box with something in it
The hardest button to button(x7)

Friday, July 23, 2010

Patah Hati

 Light at the end of Angkor Watt, photo by vitarlenology

Beberapa hari terakhir ini, persoalan 'patah hati' ini muncul lagi dalam pikiranku. Pertemuan dengan orang menyakiti hati keluargaku terus menerus, om (adik ibuku) yang sangat dekat dengan aku dan keluargaku yang mengalami kecelakaan dan mengalami luka dalam yang serius, orang yang dekat denganku mengalami keretakan hubungan dengan seseorang yang sebelumnya dekat dengannya, dan juga ulang tahun bapak ke 73 tahun jika ia masih hidup sampai saat ini. Semua itu membuat aku kembali memikirkan soal patah hati ini.

Apa yang membuat aku merasa patah hati? Apa yang membuat ketika bertemu orang yang menyakiti perasaan, meski sebelumnya lama tidak berjumpa dan dia tak lagi melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti, tapi ketika bertemu, rasa sakit yang dulu masih saja tetap ada. Pertemuan dengan orang yang pernah menyakiti, seperti memutar kembali semua pengalaman buruk yang pernah dialami dengan orang itu. Padahal tidak semua hal yang dialami dengan orang itu adalah buruk, banyak hal baik, tapi mengapa yang paling diingat justru pengalaman buruknya yang mungkin merupakan sebagian kecil dari pengalaman keseluruhan. Atau ketika bertemu orang seperti itu, semua hal yang baik ketika dialami dulu, hanya karena ditutup oleh sebuah kalimat yang terucap yang menurut pengucapnya biasa-biasa saja, tapi bagi yang menerimanya kalimat itu membalikkan semua hal baik menjadi buruk. Karena pada akhirnya, kalimat itu menimbulkan perasaan terkhianati, terbodohi, termanfaatkan, terkecewakan, terzhalimi, dan ter.. ter.. lainnya. Atau perasaan kehilangan yang meruntuhkan bangunan hati bahkan diri sampai butuh waktu untuk pulih selama bertahun-tahun. Kalau begitu, siapa sesungguhnya yang mematahkan hati? aku sendiri atau orang lain?

Jika ditanya apakah aku pernah patah hati? jawabannya tentu saja pernah. Berkali-kali. Dan yang paling parah, bukan hanya patah, tapi juga hancur berkeping-keping sampai butuh waktu bertahun-tahun untuk menyusun kepingan-kepingan itu kembali. Dari semua patah hati yang pernah kualami, ada satu benang merah  yang membuat hati bisa patah, retak, atau hancur berkeping-keping. Perasaan kecewa atas orang lain. Ketika aku memberikan perasaanku yang utuh, pada sahabat, teman, kekasih, saudara atau siapapun itu, aku memberikannya perasaan itu dengan disertai harapan. Harapan bahwa keutuhan perasaanku itu akan disambut dengan utuh pula oleh orang lain. Diterima dengan seutuh-utuhnya sesuai dengan standar keutuhan yang aku bayangkan. Singkatnya aku memberikan perasaan yang utuh itu dengan standarisasi cara penerimaannya. Itu sebabnya, harapan yang terbawa dalam perasaan utuh itu, sering terejawantahkan dalam bentuk tuntutan, bahwa orang lain semestinya menerimanya begini dan begitu sesuai dengan cara yang kita inginkan. Akibatnya ketika tuntutan itu tidak bisa dipenuhi oleh orang lain yang menerima perasaan itu, aku jadi kecewa.

Perasaan kecewa inilah yang mengubah pengalaman-pengalaman baik menjadi buruk. Kecewa bisa mendorong aku lebih berfokus pada 'apa yang hilang' daripada apa yang sudah aku dapatkan (dan aku yakin kalo dua hal ini dibikin tabel berbandingan, yang sudah didapatkan jauh lebih banyak daripada yang hilang). Berfokus pada kehilangan daripada Kecewa adalah racun yang membuat hati menjadi rapuh dan getas. Akibatnya mudah retak, patah dan hancur berkeping-keping. Kecewa adalah racun yang bisa ngehancurkan hati jika dikonsumsi secara berlebihan. Disatu sisi, kecewa itu juga bisa jadi obat, karena perasaan ini bisa juga mengubah kegagalan jadi kesuksesan, Kecewa seperti api, bisa mematangkan, tapi juga bisa menghanguskan.  Dan patah hati itu terjadi jika kekecwaan aku biarkan tumbuh berkembang dan menjadi racun atau api yang mengahanguskan.

Belajar dari pengalaman mengatasi kekecewaan yang bisa mengakibatkan patah hati, aku berusaha menguraikan perasaan itu, menelisik dan menelusurinya sampai yang kutemukan adalah 'aku kecewa atas hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu membuatku patah hati sedemikian rupa'. Bisa jadi ternyata hanya soal salah paham, cara penerimaan yang berbeda atau yang sulit diperbaiki misalnya karena tabiat orang lain yang berhubungan denganku memang seperti itu dan dia sudah terlalu tua untuk menyadarinya dan mengubah sikapnya. Atau juga karena takdir. Kematian adalah takdir. Haruskan soal takdir yang jelas-jelas aku tau tidak bisa mengubahnya, trus aku harus merasa kecewa dengan itu terus menerus? Kecewa pada keputusan Tuhan? Toh dalam banyak hal, Tuhan memberikan keleluasaan padaku untuk 'menawar' takdirku sesuai dengan usahaku. Jika dalam hal kematian itu adalah harga mati yang Tuhan berikan, rasanya keterlaluan juga kalau ngotot ingin menawar. Selama bertahun-tahun mencoba membangun hati yang baru karena hancur berkeping-keping karena kematian, aku menyadari bahwa yang terpenting bukan pada menawar harga mati yang sudah Tuhan beri dengan takdir kematian itu, tapi justru bagaimana bernegosiasi dengan hidup yang masih tersisa dari kematian itu sendiri. Ketika orang yang aku cintai dan sayangi mati, dia tidak pergi begitu saja dengan membawa semua hal yang pernah dia lakukan dalam hidupnya. Dia hanya pergi dengan raganya, tapi dia meninggalkan berjuta-juta  hal baik dan buruk pada kehidupan.  Dan aku yang terhubung dengan 'warisan yang ditinggalkannya itu', mesti bernegosiasi mencari cara terbaik mengelola 'warisan itu'.

Sementara jika patah hati disebabkan oleh orang lain yang membiarkan kesalah pahaman atau ketidak mengertian ini tidak terselesaikan (mungkin salah satu pihak berusaha menyelesaikan, tapi pihak yang lain tidak mau menerima), jalan yang baik yang biasanya kulakukan adalah memaafkan diriku sendiri dan setelah itu berusaha memaafkan orang lain. Dan ini bukan hal yang mudah. Aku bisa bilang:  'aku sudah memaafkanmu', tapi buktinya setiap kali aku bertemu lagi dengan orang itu, hatiku masih terasa sakit. Buatku artinya aku belum sepenuhnya memaafkannya. Aku benar-benar bisa memaafkan jika ketika bertemu kembali orang itu, aku melihat dia dengan cara yang berbeda. Tidak ada lagi sakit hati, karena aku melihatnya dengan cara yang baru, cara yang berbeda yang tidak lagi menyakiti diriku sendiri. Untuk kasus-kasus kekecewaan yang masih bisa dibilang ringan, hal relatif mudah dilakukan. Tapi untuk kasus-kasus yang bener-bener berat (karena orang yang bersangkutan sedemikian korosifnya dan menimbulkan karat di hatiku) yang perlu dilakukan adalah membuang bagian yang berkarat itu biar ga merembet lebih jauh, lalu menumbuhkan yang baru. Tentunya ini proses yang sangat-sangat sulit, tapi bukan mustahil. Hal ini sangat bisa dilakukan.

Hal lain yang kusadari betul dari pengalaman patah hati berkali-kali ini adalah hatiku ternyata bisa tumbuh. Dia bukan bagian dari diri yang ketika patah atau pecah, ga bisa disambung lagi. Hatiku ini seperti ranting pohon yang ketika patah dia bisa tumbuh lagi, selama akar pohonnya diberi makanan yang cukup. Jika hatiku ini sampai patah, itu karena aku membiarkannya patah. Meski aku tidak berharap mengalami lagi yang namanya patah hati, tapi setidaknya setelah belajar dari pengalaman, aku tidak perlu menghindarinya ketika hal itu terjadi lagi. Setelah patah tumbuh, hilang berganti, aku jadi tau bagaimana caranya menyambung lagi hatiku yang patah, asal aku tidak membiarkan perasaan kecewa tumbuh seperti sel-sel kanker yang mematikan kemampuan hatiku untuk tumbuh kembali. Karena sesungguhnya aku yang memutuskan apakah aku akan membiarkan hatiku dipatahkan atau tidak. Dan aku yang juga memutuskan apakah aku akan membiarkan hatiku tumbuh kembali atau tidak.

***

Untuk tanteku: aku sedang berusaha memaafkanmu, melihatmu dengan cara yang baru dan berbeda.
Untuk adikku: Ini adalah ujian persahabatan, maka bersabarlah.
Untuk bapakku di surga: Pa, I'm a survivor. More than survived. 
Untuk Omku: Aku berdoa untuk keputusah terbaik yang Tuhan berikan padamu.


Terima kasih untuk semua yang hadir dan menambal, menyambung dan menumbuhkan kembali hatiku.

Saturday, July 17, 2010

Ronde Alkateri


Di Jalan Alkateri, Bandung ada warung ronde yang cukup legendaris. Bukanya setiap Pk. 18.00 sampai malam hari. Kuah gula jawanya pas banget, tidak terlalu manis tapi hangat di badan. Ondenya kerasa banget rasa tepung berasnya. Yang paling seru dari warung ronde Alkateri adalah suasana 'pecinan'nya. Tante penjualnya senang memutar lagu-lagu mandarin, bener-bener suasana yang khas disalah satu sudut kota Bandung.

Thursday, July 01, 2010

Tentang Hubungan, Belajar Dari Jack dan Meg White

Jack and Meg White

Jika ada selebriti yang memberiku pelajaran berharga tentang hubungan, orang itu adalah Jack White. Musisi paling penting dalam dekade ini. Umurnya lebih tua dariku dua tahun saja. Pelajaran apakah yang dia berikan tentang hubungan?

Ketika Jack dan Meg White yang dikenal dunia lewat The White Stripes, media memberitakan bahwa mereka adalah 'brother and sister band'. Namun belakangan terungkap bahwa Jack dan Meg adalah bekas suami istri. Mereka berdua menikah di usia yang sangat muda. Meg adalah cinta pertama sekaligus pacar pertama Jack Anthony Gillis yang kemudian dinikahi pada tahun 1996. Setelah menikah, Jack mengambil nama keluarga Megan Martha White sebagai nama belakangnya. Mereka bercerai tahun 2000. Saat media mengetahui bahwa Jack dan Meg bukanlah kakak beradik, melainkan mantan suami istri, Jack menjelaskan pada majalah Rolling Stone:
When you see a band that is two pieces, husband and wife, boyfriend and girlfriend, you think, "Oh, I see . . ." When they're brother and sister, you go, "Oh, that's interesting." You care more about the music, not the relationship – whether they're trying to save their relationship by being in a band.
Jawaban yang cukup matang menurutku, tidak sekedar mencari-cari dalih semata. Setelah bercerai, Jack dan Meg tetep ngeband bareng. Bahkan yang ajaib adalah saat Jack memutuskan menikahi Karen Elson_ model video klip The White Stripes dalam lagu Blue Orchid_di tengah-tengah shooting, di hutan Amazon, Meg White lah yang berperan sebagi pendamping pengantin perempuan. Begitu pula ketika Meg menikah kembali dengan Jackson Smith (anaknya Patty Smith), pernikahan itu dilakukan di halaman belakang rumah Jack White di, Nasville, Tennesse. Bahkan Jack memberi nama anaknya dengan nama keluarga Meg: Harvey Lee White dan Scarlett White. Selain itu, Meg juga banyak membantu penggarapan album perdana Karen Elson dalam memulai karir barunya sebagai penyanyi.

Hubungan Jack dan Meg, cukup mengherankan untuk banyak orang. Apalagi orang-orang Amerika sana. Adalah hal yang tidak biasa, sepasang mantan suami istri, masih bisa berhubungan dengan sangat baik satu sama lain, tetap saling mendukung dan bekerjasama (meski untuk mencapainya pasti tidaklah mudah). Bukan hanya di antara mereka saja, tapi juga dengan pasangan baru mereka masing-masing.

Menurutku, butuh kedewasaan dan kematangan sikap, bahwa saling mencintai bukan berarti selalu berakhir dalam sebuah ikatan suami istri. Kurasa saat Jack dan Meg mengumumkan mereka adalah brother and sister, mereka bersungguh-sungguh menjalaninya. Sebagai penggemar, aku berasumsi bahwa Meg adalah cinta sejatinya Jack. Mereka adalah soulmate satu sama lain dan ga harus jadi suami istri. Hidup bersama, saling mendukung, saling menyayangi, saling menjaga (Jack selalu membela Meg, jika media under estimate pada kemampuan Meg bermain drum). Jack dan Meg mengajarkan keintiman yang sublim, karena ini tidak lagi melulu sebatas seks atau keintiman fisik belaka. Menjadi luar biasa karena kualitas hubungan seperti itu di bisa dilakukan di tengah-tengah medan sosial super rock star yang seringkali 'lack of commitment'.

Kurasa kualitas hubungan seperti ini juga hanya bisa di capai oleh orang-orang yang tau apa yang dia inginkan dari sebuah hubungan. Mungkin  juga tidak langsung ditemukan, tapi setidaknya perlu dicari tau apa yang sesungguhnya masing-masing inginkan dari sebuah hubungan. Dan yang terpenting juga setelah tau apa yang diinginkan, punya ketetapan hati pada keinginan itu. Tidak terombang-ambing atau meragu yang membuat kualitas hubungan seperti itu jadi mustahil tercapai.

Jika salah satu tidak yakin dengan apa yang dia inginkan dari sebuah hubungan yang kemudian terasa adalah salah satu pihak merasa dipermainkan. Karena tujuannya ga jelas dan bisa berubah setiap saat. Jika yang terjadi seperti itu, sebuah hubungan tidak akan menemukan ruang untuk berkembang dan bertumbuh. Mengahadapi situasi seperti ini yang akhirnya diperlukan adalah ketegasan sikap untuk memperjuangkan tujuannya sendiri. Bagaimana bisa saling membahagiakan, jika salah satu pihak saja tidak tau apa yang dia inginkan.

Kukira menemukan soulmate itu seperti menjawab soal-soal ujian bersama. Dua-duanya harus lulus ketika sama-sama meski dengan cara yang berbeda, tapi setidaknya masing-masing saling mengetahui keberbedaan cara-cara itu. Memaknai hubungan juga semestinya dilakukan kedua belah pihak. Ga bisa salah satu pihak aja dan mesti diingat: berkompromi dan mengalah adalah dua hal yang berbeda.

Jack White dan Karen Elson, Vouge, Juni 2010. Foto oleh Annie Leibovitz

"....we're married and we really know each other in such a different sense, he knew that he kind of had to throw me in at the deep end. So he did, he threw me in, and I had to deliver." Karen Elson to Jack White - Vouge

update: ternyata Jackson Smith alias suaminya Meg White adalah anggota bandnya Karen Elson alias istrinya Jack White.. ajaib..:))

Monday, June 14, 2010

Pause/Re-Think: 'Craftivism in My Everyday Life'

 'KLCC' foto by vitarlenology

Akhir pekan kemarin, aku pergi ke ibukota, memberi workshop di sebuah mall bergengsi di ibukota. Setelah selesai, aku dan beberapa teman berkeliling di beberapa spot yang 'menarik' untuk di kunjungi. Salah satunya sebuah oulet barang-barang kerajinan olahan kerajinan tradisional berbagai daerah di Indonesia. Desainnya bagus-bagus setidaknya representasi dan karena ditempatkan di mall itu, barang-barang yang biasanya terlihat 'jujur dan sederhana' jadi terlihat prestisius. Jangan tanya soal harga, karena soal masuk akal dan tidak jadi sangat relatif. Kemegahan mall ini, membuat harga yang 'tidak masuk akal menurutku' menjadi punya argumentasi logis.

Selain melihat-lihat outlet barang-barang yang mengolah tradisi itu, aku dan teman-teman juga melihat-lihat lantai basement dari mall itu yang berisi jajaran outlet brand yang konon kabarnya 'independen'. Lagi-lagi karena kemegahan mall ini, outlet-outlet itu bisa memasang harga yang bisa di logiskan oleh 'nama besar mall' itu. Produk-produk yang tutorialnya dibagi secara cuma-cuma di blog-blog craft yang biasa aku kunjungi, di outlet-outlet ini jadi produk yang menandai label fashionista dan gaul tidaknya seseorang. Label independen menjadi identik dengan harga yang mahal dan 'tidak masuk di akalku'. Mungkin begini jika 'kemerdekaan' (baca: independen label) itu memang harus dibeli dengan kapital yang besar. Sepertinya, hanya orang-orang yang memilki kapitallah yang bisa melabeli dirinya dengan sesuatu yang dianggap independen atau seolah-olah bisa membeli sebuah 'kebebasan'.

Keluar dari mall itu, persis di emperan mall, tepatnya di dua mall bergengsi yang saling berhadap-hadapan, aku dipaksa melihat pemandangan kontras: tukang ojeg, pedagang susu jahe yang mejajakan dagangannya dengan sepeda butut duduk berjajar, mencoba mengais sedikit rezeki yang masuk akal dari kemegahan mall ibukota itu. Aku ga bisa berpaling dari kekontrasan itu. Mengabaikannya hanya membuatku semakin terganggu.

***

Dalam perjalanan pulang ke Bandung, aku mencoba menguraikan apa yang sesungguhnya membuatku terganggu. Bukankah kemegahan dan borjuasi seperti itu adalah hal yang lumrah. Resiko dari kehidupan sebuah kota besar seperti ibukota. Bukankah kekontrasan proletar dan borjuis adalah pemandangan yang juga lumrah dalam ruang perputaran kapital dan gaya hidup materialisme bernama mall. Juga bukankah aku juga tau, bahwa mall adalah ruang yang sengaja dibangun untuk  membuat pengunjungnya tersesat secara spiritual dan menjadikan konsumerisme sebagai jalan pemenuhan kekosongan dan dahaga spiritual, meski buatku ini bukan pilihan satu-satunya, tapi siapa tau itu memang satu-satunya buat orang-orang yang hidup dalam semangat materialisme.

Keyakinanku tentang craftivisme ternyata yang paling terusik lewat eksplorasi setengah hari di mall ibukota kemarin. Selama ini aku meyakini bahwa passionku dalam 'berkerajinan tangan', bukan sekedar pengisi waktu luang atau sumber penghasilan ekonomi, tapi ada pemenuhan kebutuhan spiritual yang dengan seringkali kosong karena tekangan materialisme dan pragmatisme. Bagiku, ketika aku membuat sesuatu dengan tanganku, ada penghargaan terhadap proses, ada kesadaran yang tumbuh untuk mengingatkan diri dari hidup yang penuh jebakan artifisialisme dan kembali ke esensi. Berkerajinan tangan mengajakku untuk terus menerus memaknai apa itu kemandirian dengan semangat Do It Yourself. Kegiatan ini mengisiku dengan energi positif yang menyembuhkan dan menguatkan. Seperti sebuah pohon yang dirawat dan dipupuk dengan proses yang semestinya. Apalagi saat energi itu bisa dibagi pada orang lain, seperti benih yang dibawa angin dan tumbuh subur di tempat lain. Seringkali aku tidak menyadari saat angin menerbangkannya.

Menyaksikan ketidak masuk akalan yang terjadi di mall pada barang-barang handmade  juga barang-barang berlabel independen itu, sungguh menggangguku. Dimana itu semangat perdagangan yang adil dan jalan alternatif yang sekiranya dibawa oleh sesuatu berlabel independen. Sepanjang perjalanan dan sampai tadi siang ketika sahabatku si pembalap gadungan datang, aku masih bertanya-tanya (bahkan sampai detik ini): 'apakah aku yang terlalu hitam putih dan naif, menganggap bahwa ketika orang melabeli diri dengan independen atau handmade itu berarti dia paham apa esensi dari label-label itu'. Mungkin aku yang menjadi fasis dengan definisiku sendiri. Meski aku bisa mengemukakan gugatanku yang sesungguhnya sederhana saja  (setidaknya sederhana menurutku): dimana letak keadilannya jika barang handmade yang biasanya dijual 50 ribu, bisa jadi 200 ribu, hanya karena dia dijual di mall seperti itu. Sementara, pembuatnya sendiri tidak mendapat keuntungan lebih banyak, karena lebih dari 50% dari harga jual, untuk pengelola mall yang artinya adalah untuk membiayai semua 'kemegahan artifisial itu' (meski alasannya yang 50% itu buat biaya maintenance ruangan, bayar pegawai dll). Mengapa harus orang-orang yang bersusah payah menekuni proses yang harus berkontribusi membiayai prestis dan gaya hidup borjuasi yang seringkali instan dan permukaan itu. Begitu pula dengan label independen, mengapa harus di mall untuk menjual produk-produk itu, jika semangat awalnya adalah menjadi produk alternatif. Aku mengira gugatanku ini berkaitan dengan kecenderungan persoalan pengakuan. Bahwa mall megah seperti itu menjadi tempat suci untuk mendapatkan pengakuan bahwa produk itu telah diamini oleh gaya hidup yang diwakilinya. Seperti kecenderungan menggunakan label 'green' dimana-mana, padahal proses yang dijalani oleh produk itu ga 'green' sama sekali.

Memang, soal esensi atau kemasan belaka ujung-ujungnya adalah sebuah pilihan. Dua-duanya sama-sama mengandung resiko, hanya beda bentuk saja. Memilih 'esensi' seperti berjalan jalan yang berliku-liku, menukik ke kedalaman, butuh keberanian untuk merasa tidak ada yang menemani, karena untuk mengisi kekosongan itu, perlu jujur pada diri sendiri saat melihat di kedalaman.  Sementara memilih jalan 'kemasan' seperti berjalan ramai-ramai di sirkus yang terang benderang, terpukau oleh lampu-lampu, terhibur sementara, tapi setelah itu apa? Ketika gemerlap itu usai, kekosongan masih tetap saja ada, kebaruan hanya sesaat. Saat menjadi rutin, makna menjadi sesuatu yang sulit ditemukan.

***

Jika berkerajinan tangan yang kulakukan itu adalah passion dan 'craftivism in my everyday life' itu artinya aku memilih berkerajinan tangan sebagai craft + art + aktivisme. Apa yang menjadi gagasan/ide, ekspresi estetis pada benda-benda yang kubuat dengan kerajinan tanganku itu, adalah pengejawantahan dari sikap hidup yang aku yakini. Jika aku meyakini sebuah perdagangan itu haruslah dijalankan dengan seadil-adilnya, maka janganlah aku menempuh cara-cara distribusi yang berlawanan dengan itu. Jika aku meyakini kemandirian atau menjadi independen itu adalah berani mengambil jalan alternatif, pengakuan untuk menjadi bagian dari gaya hidup atau ruang-ruang megah, simbol hidup yang artifisial dan materialistis itu menjadi tidak penting dan tidaklah diperlukan. Jalan alternatif, seringkali berliku dan berbatu, tapi dia menawarkan keyakinan dan kesungguhan, bukan sesuatu yang artifisial dan permukaan. Gangguan seperti ini adalah salah satu bentuk ujian kesungguhan itu. Berhenti sejenak dan merenungkan kembali langkah-langkah yang sudah kujalani, akan menjagaku untuk tetap melakoninya dengan passion, dengan keyakinan yang aku temukan. Untuk itu dengan kesadaran penuh  dan atas nama passion, pilihanku sesungguhnya sudah sangat jelas.

Gudang Selatan,
22:37

Saturday, June 05, 2010

Tom Waits: OL'55



my favorite song from my favorite singer..


Well my time went so quickly, I went lickety-splickly out to my old '55
As I drove away slowly, feeling so holy, God knows, I was feeling alive.

Now the sun's coming up, I'm riding with Lady Luck, freeway cars and trucks,
Stars beginning to fade, and I lead the parade
Just a-wishing I'd stayed a little longer,
Oh, Lord, let me tell you that the feeling's getting stronger.

And it's six in the morning, gave me no warning; I had to be on my way.
Well there's trucks all a-passing me, and the lights are all flashing,
I'm on my way home from your place.

And now the sun's coming up, I'm riding with Lady Luck, freeway cars and trucks,
Stars beginning to fade, and I lead the parade
Just a-wishing I'd stayed a little longer,
Oh, Lord, let me tell you that the feeling's getting stronger.

And my time went so quickly, I went lickety-splickly out to my old '55
As I pulled away slowly, feeling so holy, God knows, I was feeling alive.

Now the sun's coming up, I'm riding with Lady Luck,
Freeway cars and trucks, freeway cars and trucks, freeway cars and trucks...

Sunday, May 23, 2010

Lou Reed: Perfect Day



Menutup minggu ini dan menyambut hari senin, aku ingin ditemani Lou Reed dengan Perfect Day-nya. Terima kasih untuk seminggu yang penuh dengan keceriaan, kesibukan, kejutan-kejutan, kemunculan-kemunculan dan kehangatan.. what a perfect week.. what a perfect day... aku mendekap minggu, hari, jam, menit, detik.. erat, melingkarinya dengan rasa penuh.. Terima kasih untuk hidup dan hari-hari yang sempurna.

Aku Suka Cara Kalian Bercerita



Michael Gondry dan Jim Jarmusch
Foto ini pelesetan dari cover album The White Stripes, Get Behind Me Satan. Michael Gondry dan Jim Jarmusch sama-sama pernah menggarap video klipnya The White Stripes dan Raconteurs, tapi di sini aku ga akan ngebahas soal itu. Michael Gondry pertama kali memikatku lewat penyutradaraannya di video klip The Hardest Button to Button dan juga filmnya Eternal Sunshine and The Spotless Mind. Sementara Jim Jarmusch pertama kali kukenal lewat Down By Law (bener-bener film lucu meski buat temenku tidak menemukan kelucuannya, di film ini juga aku langsung terpikat oleh 'kesintingan'nya Tom Waits) dan bener-bener membuatku mencari semua filmnya Jim Jarmusch salah satunya yang dibintangi Johnny Depp: Deadman dan kurasa film itu jadi salah satu film pentingnya Johnny Depp. Gondry dan Jarmusch punya gaya yang sama sekali beda dalam meyajikan gambar bercerita di layar lebar. Dua-duanya punya ke khas-an yang sulit dideskripsikan tapi bisa dikenali. Btw, aku suka banget fotonya, makanya aku pasang diurutan teratas.


Terry Gilliam.
Jika dalam dunia sastra ada Salman Rusdie yang mewakili aliran Magical Surealism Realism, maka dalam dunia film aliran ini diwakili oleh sutradara yang mempunyai kombinasi antara sinting, liar dan sangat kuat dalam visualisasi yang fantastis. Ya, namanya Terry Gilliam.  Brazil, Fear and Loathing in Las Vegas, Brother Grim, Tideland, The Imaginarium of Doctor Parnassus, selalu membawa kita masuk dalam imajinasi visual karakter-karakter dalam film-film itu. Konon kabarnya J,K. Rowling pengarang Harry Potter menginginkan Terrry Gilliam yang menggarap Harry Potter, ketika cerita karangannya itu difilmkan. namun produser menolak karena mereka tau pasti, biaya pembuatannya filmnya akan menjadi sangat-sangat mahal karena Gilliam pasti ga akan setengah-setengah dengan visualisasinya dan tentu saja kekawatiran bahwa filmnya kemudian belum tentu laku. Apa yang dibuat Gilliam bukan untuk menyenangkan para penonton yang mau bersusah payah membeli tiket untuk menghibur diri. Gilliam justru menyajikan karyanya untuk para penonton yang bisa sangat membenci karyanya atau sangat menyukainya. Dia tidak memberikan karyanya bagi penonton yang biasa-biasa saja: tidak benci tapi juga ga suka-suka amat. Hal lain yang membuatku mengagumi Terry adalah cara dia mengatasi kegagalan filmnya: The Man Who Kill Don Quixote pada tahun 2002 yang dicatat dalam film dokumentar The Lost of La Mancha. Kegagalan itu tidak membuat Terry menyerah. Terry kembali memproduksi Don Quixote yang rencananya akan di rilis tahun 2011.  Penonton seperti itu bukan untuk karya-karyanya Terry Gilliam. GOD! I love Fear and Loathing in Las Vegas, so muuuuuchhhh!!!!!



Alejandro Gonzalez Innarittu
Pertama muncul lewat Amores Perros, dunia perfilman langsung heboh: siapakah gerangan pendatang baru yang menggarap sebuah cerita seperti menyusun sebuah puzzle dengan cara bercerita yang sama sekali bebeda dari kebiasaan Hollywood. Amores Perros, buatku meninggalkan kesan yang dalem. Bukan karena Gael Garcia Bernal semata, tapi karena kemampuan Innarittu menyusun kehidupan beberapa tokohnya dan mengkait-kaitkannya dengan begitu artistik dan intens. Setelah itu, aku mengikuti kekaryaannya: 21 Grams, Babel dan film pendeknya untuk kompilasi 09'11'01 tentang 9/11. Tiga filmnya itu, masih bicara pada persoalan yang sama, soal kehilangan, kesalahpahaman tapi dalam kadar dan intensitas yang makin lama makin kental. Innarittu mengajak penontonnya  mendengarkan tokoh-tokohnya untuk bisa mengerti. Aku menunggu film dia selanjutnya yang akan segera di release: Biutiful.


Julian Schnabel
Sebagai visual artist, karirnya sebagai sutradara seperti bagian dari project seninya. Itu sebabnya Julian tidak banyak membuat film. Ada tiga dari empat yang sudah aku tonton dan film kelima sedang salam produksi. Basquiat (1996), Before Night Fall (2000) dan The Diving Bell and The Butterfly (2007) menjadi film yang cukup berkesan buatku. Sementara aku sedang mencari dokumenternya konser Lou Reed dari album Berlin yang juga di garap Julian. DI The Diving Bell and The Butterfly aku suka cara Julian melihat dengan mata tokoh utamanya yang hanya bisa berkomunikasi dengan kedipan mata. Menurutku cara Julian bercerita seperti menikmati sebuah lukisan kontemporer. Setiap scene menjadi permainan warna dan komposisi. Kedalaman karakter justru dapat ditemukan dari warna-warna yang saling bertumpuk di setiap scenenya dan itu yang membuat film-film Julian sangat artistik.

Steven Soderberg
Jika ada anggapan bahawa sutradara film-film box office belum tentu bisa menggarap film yang sama sekali serius dan ga komersil, tentunya anggapan ini ga berlaku buat Steven. Sebut saja Ocean Twelve, Thirdteen, Traffic sampai Che part One dan Part Two. Steven menggarap semuanya dengan serius. Semua mengandung bobot keseriusan dan integritasnya sebagai sutradara. Steven menarik perhatianku karena dia sutradara dua kali (dan sedang menggarap yang ketiga) bekerjasama dengan Benicio del Toro. Dan aku merasa mereka berdua punya chemistry yang cocok: Traffic membawa del Toro pada Oscar pertamanya di tahun 2000 dan Che memberi del Toro Palm d'our sebagai Actor Terbaik Cannes 2009. Aku suka ekspresi Soderberg yang 'monalisa' banget itu. Aku sedang mengumpulkan kembali film-filmnya dan kembali mencermatinya. Ekspresi yang selalu menyimpan kejutan dan membuatku penasaran untuk mengikuti karya-karya Steven selanjutnya.


David Cronenberg
Ada apa antara David dan kekerasan? David selalu membawa penontonnya pada sisi lain dari sebuah tindakan bernama kekerasan yang tidak terlihat oleh mata kebanyakan. Sebut saja Dead Ringer dimana Jeremy Irons bermain ganda sebagai karakter kembar yang punya pandangan sangat berbeda tentang kekerasan dan kesuburan perempuan. Spider yang menghubungkan kekerasan dan kegilaan. Crash yang membawa penonton melihat bahwa disatu sisi manusia membenci kekerasan tapi disisi lain ada kerinduan dan adiksi terhadap kekerasan itu sendiri. History of The Violence, meski lebih drama, namun tetap mencoba melihat kemungkinan bagaimana sejarah kekerasan dalam hidup seseorang tersembunyi menjadi rahasia hidup yang mencoba untuk di tutup-tutupi. Aku suka cara David menceritakan persoalan ini.

Lars Von Trier
Menyimak karya-karya Lars Von Trier menurutku seperti membaca buku-buku filsafat post modernism. Banyak hal bisa dijungkir balikkan kemudian di bangun lagi atau di ubah sama sekali. Lars dengan senang hati mengacak-acak kemapanan cara berpikir dan melihat penonton film-filmnya. Dancer In the Dark, Five Obstruction, Dogville, Breaking The Wave, Europa, Anti Christ membutuhkan pemahaman semiotika yang lebih ketika menontonnya.


Guy Ritchie
Sutradara Inggris dengan sense of humor yang Inggris banget. Khas. Sedikit sinis dan sarkas. Lock Stock And Two Smoking Barrels, Snatch, dan box office movie seperti Sherlock Holmes. Aku suka sense of humornya.

Wong Kar Wai
Ada dua hal yang paling aku suka dari film-filmnya Wong Kar Wai. Pertama, karena Tony Leung adalah  aktor yang selalu menjadi langganan Kar Wai di beberapa filmnya. Kedua: Wong Kar Wai selalu berhasil membuat cerita yang ditampilkannya terasa 'menggoda' dan sexy karena misterinya.  Dia selalu bisa membuat ketidak verbalan ekspresi Asia menjadi intens dan sexy, tanpa menjadi klise. Aku paling suka In The Mood for Love dan Eros.

Miranda July
Pertama kali menonton filmnya  'Me and You and Everyone We Know', langsung membuat aku jatuh hati pada cara Miranda bercerita. Apalagi setelah aku menemukan kumpulan cerpennya: 'No One Belongs Here More Than You'. Absurd kadang sureal sekaligus begitu nyata. 

Paul Thomas Anderson
Magnolia adalah film PTA yang membuat aku jatuh hati pada karyanya. Magnolia membuat Tom Cruise bekerja keras dengan aktingnya. There Will Be Blood, membuatku mengakui kehebatannya sebagai sutradara yang mampu membuat Daniel Day Lewis berakting dengan sangat total dan maksimal.


LinkWithin

Related Posts with Thumbnails