Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2009

Vitarlenology 2009: Terima Kasih Untukmu

Snorkeling di Karimun Jawa, Mei 2009. Foto oleh Indra.


Untuk para sahabat dan semua perjumpaan yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata 

Ga terasa 2009 segera berlalu. Setahun genap memutari waktu. Banyak hal terjadi sepanjang tahun 2009. Aku coba mereviewnya kembali.

Kehilangan

Banyak (ga banyak-banyak amat juga sih :D) kehilangan di tahun ini. Terutama kehilangan yang disebabkan oleh kepergian orang lain dari hidupku dan juga keputusanku meninggalkan hidup orang lain.  I am also what I have lost.

Awal tahun di mulai dengan perjuangan meninggalkan 'kamu' sepenuhnya. Memenuhi janji pada diriku sendiri untuk bersikap adil. Pada hidupku sendiri. Sepercaya-percayanya aku padamu, ternyata aku ga pernah bisa mempercayaimu atas semua hal-hal yang tidak konsisten dalam dirimu. Terlalu banyak alasan dan tabir dalam hidupmu, ketika aku memaksakan diri untuk menguaknya, itu hanya menyakiti diriku sendiri. Jadi lebih baik, aku melepaskanmu. Bahkan jika kau mengulangi terus menerus '…

Selamat Jalan Gus Dur

Foto diambil dari KOMPAS

 Aku ga tau, perasaan apa ini? tapi rasanya aku emang sedih dengan kematian Gus Dur. Bagiku Gus Dur seperti jaminan keragaman, pemikiran alternatif  dan pengakukan terhadap kelompok minoritas yang selama ini dianggap liyan, bisa tumbuh dan berkembang di negeri yang sedang belajar jadi dewasa ini. Jika penjamin itu tidak ada lagi, apa yang akan terjadi kemudian? Ku kira, selain kesedihan, perasaan yang menguasai banyak orang adalah  kekawatiran. Setiap orang yang bersetuju dengan keragaman dan pluralitas serta mendukung hak-hak minoritas, mesti menemukan keyakinan untuk menjamin keyakinan dan dukungannya itu, tanpa Gus Dur sebagai tameng yang siap menghadapi kekuasaan anti keberagaman dan abai terhadap hak minoritas.

Kepergian Gus Dur seperti kepergiaan guru, bapak yang selama ini memberi jaminan 'zona aman' pada murid dan anak-anaknya untuk terus berpikir alternatif dan mengahargai keragamanan. Gus Dur seperti meretaskan jalan memberi keberanian dan d…

Surat Untuk Alergi

Alergi sayang,

Sepertinya aku memang harus kompromi denganmu, tapi bagaimana? aku sedang mencari-cari caranya. Kamu bisa datang setiap pagi dan petang, meski sewaktu-waktu kamu bisa menggila seperti sekarang ini: memblok hidungku, sehingga seharian aku mesti bernafas dengan mulutku dan menjaganya dari hal-hal yang bisa membuat tenggorokanku terganggu .

Tiba-tiba aku teringat kembali bagaimana di umur 8 sampai 10 tahun dulu, aku sering sekali mimisan tiba-tiba. Ibuku biasanya langsung menymbatkan gulungan daun sirih yang di tanam di halaman rumah di salah satu lubang hidungku. Aku paling benci saat-saat seperti itu. Selain aku jadi tampak lucu dengan sumbat daun sirih itu, aku juga jadi susah bernafas. Tapi hal itu perlu dilakukan, daripada darah terus menerus mengucur dari hidung dan aku terpaksa harus diam di rumah. Jadi pilihannya waktu itu: tetap bermain dengan sumbat daun sirih di hidung, atau tanpa daun sirih dan aku harus berbaring di rumah? tentunya aku pilih yang pertama. Kare…

Aku Adalah Rentang Keragamanan Pekerjaanku

Aku paling bingung menjelaskan apa sesungguhnya pekerjaanku. Pertama karena yang aku kerjakan cukup banyak dan beragam. Kedua, jika disebut ga punya profesi yang tetap, ya begitulah aku. Aku ga pernah melewati jenjang karir dengan menduduki jabatan dan posisi tertentu atau menjadi profesional  dalam bidang tertentu sampai naik dan naik trus ada di puncak. Aku bisa dikatakan ga pernah melewati hal-hal demikian. Namun, dari jenis pekerjaan aku mengerjakan rentang pekerjaan dari jenjang yang paling bawah (cleaning service), sampai yang paling tinggi (mengambil keputusan tertinggi dari apa yang aku kerjakan).

Keragaman jenis pekerjaan dan bidang pekerjaan yang aku kerjakan selama ini, membuatku kesulitan menjelaskannya hanya dalam satu kata yang mencerminkan profesi tertentu. Suatu saat, sahabatku pernah menjelaskan pada temannya, tentang apa yang aku kerjakan dan menurutku cukup menggambarkan rentang pekerjaan yang aku lakukan: community developer. Meski istilah ini pun ga otomatis langs…

Perjalanan Memantaskan Diri

Tuhan itu sangat memanjakanku. Aku berdoa untuk kebaruan-kebaruan dalam hidupku, Tuhan memberikannya. Bukan cuma sedikit, tapi banyak. Setelah dua minggu lalu pikiran dan tenagaku disibukkan oleh urusan jahit menjahit, minggu ini dimulai dengan sesuatu yang sama sekali baru: mempelajari 'The Architectural Design & Analysis of MSB-First Bounded Interval Dynamic Precision '. Puyeng kan? hahahaha.

Kenapa aku tiba-tiba mempelajari hal yang 'seperti ngga nyambung' itu dengan latar belakang keilmuanku. Alasannya sederhana saja, karena ini disertasi sahabatku, si pembalap gadungan. Dan tenggat waktu yang dimilikinya semakin sempit. Dan aku ga bisa membiarkan dia stress terus menerus karena disertasinya ga kelar-kelar. Karena ini disertasi, aku yang ga suka matematika ini, tetap bisa membantu sahabatku itu karena yang menjadi penekanan lebih ke alasan kenapa sahabatku itu memilih metode itu. Argumentasi itu yang perlu di eksplorasi. Seru aja karena aku jadi belajar ilmu …

Tuhan, Terima Kasih!

Hari kemarin rasanya penuh banget. Selalu saja ada masalah di menit-menit terakhir menjelang deadline produksi (kali ini produksi souvenir pernikahan sahabatku). Hampir menyerah, tapi pemecahan selalu datang tak terduga. Mesin jahit Singer 1977 (seumur denganku), menggantikan Brother untuk sementara. Dan saat aku hampir gila karena itu benangnya putus melulu, pencerahan tiba-tiba datang. Kepikiran untuk mengubah setelan gigi bawahnya dan masalah terselesaikan.

***

Lagi sibuk2nya menjahit, tiba-tiba tetangga di jalan Flores datang dengan wajah hampir menangis kesal. Ia merasa harus bertemu denganku untuk mengadukan kekesalannya itu. Baiklah, sini aku dengerin. Soal hotel baru di belokan antara jalan Flores dan jalan Aceh yang tiba-tiba hadir 5 lt dan mengganggu ketrentraman warga sekitar. Tetanggaku yang sangat sensitif itu, sampai sakit karena keributan suara blower, lalu-lalang mobil barang yang keluar masuk tepat di depan rumahnya, pohon-pohon mahal yang runcing-runcing tapi di tat…

Berhikmat di Hari Sabtu

Setelah semalam mimpi aneh..(tapi menyenangkan), disambung sarapan pagi di warung purnama bersama sahabat-sahabat tercinta: Tanto, Reza, Yus dan spesial guest star: mas apep, sesampainya di tobucil postcard dari sahabatku di datang menyambut. Dia mengirikman quote yang pas banget dengan hatiku saat ini:
"Jika kita menutup tubuh agar tak menggigil, aku bisa mengerti, Namun mengapa kita tutup perasaan kita, walaupun jika kita menyadari, bahwa perasaan kita bisa beku?"
aku merasakan'mu' sangat, meski itu aneh, tapi aku tidak akan menutupnya..