Thursday, December 31, 2009

Vitarlenology 2009: Terima Kasih Untukmu


Snorkeling di Karimun Jawa, Mei 2009. Foto oleh Indra.


Untuk para sahabat dan semua perjumpaan yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata 

Ga terasa 2009 segera berlalu. Setahun genap memutari waktu. Banyak hal terjadi sepanjang tahun 2009. Aku coba mereviewnya kembali.

Kehilangan

Banyak (ga banyak-banyak amat juga sih :D) kehilangan di tahun ini. Terutama kehilangan yang disebabkan oleh kepergian orang lain dari hidupku dan juga keputusanku meninggalkan hidup orang lain.  I am also what I have lost.

Awal tahun di mulai dengan perjuangan meninggalkan 'kamu' sepenuhnya. Memenuhi janji pada diriku sendiri untuk bersikap adil. Pada hidupku sendiri. Sepercaya-percayanya aku padamu, ternyata aku ga pernah bisa mempercayaimu atas semua hal-hal yang tidak konsisten dalam dirimu. Terlalu banyak alasan dan tabir dalam hidupmu, ketika aku memaksakan diri untuk menguaknya, itu hanya menyakiti diriku sendiri. Jadi lebih baik, aku melepaskanmu. Bahkan jika kau mengulangi terus menerus 'mencurangi' orang-orang terkasihmu,  dengan beragam alasan dan pembenaran  itu sudah bukan urusanku lagi. Melepaskanmu berarti melepaskan apapun yang pernah begitu dekat, antara aku dan kamu. Aku tidak membencimu. Caraku memaafkanmu adalah mengosongkan kembali ruang hatiku yang pernah penuh terisi olehmu. Kau bisa muncul tiba-tiba menjejeriku di jalan mengklaksoniku bahkan, atau kau muncul tiba-tiba di hadapanku, tapi kau ga akan pernah bisa mengubah catatan terakhirku tentangmu. Chapter tentangmu dalam hidupku telah usai. Terima kasih karena kamu, aku jadi bisa memilih untuk menjadi adil pada diriku sendiri dan berjanji pada diriku sendiri bahwa nanti, di usia sepertimu sekarang ini, aku ga mau hidup sebagai pecundang yang terlalu malas untuk menjalani mimpi-mimpinya.

Kehilangan lain adalah, tiba-tiba pada satu persimpangan orang yang selama ini aku percaya memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang bersama, tiba-tiba  meninggalkanku untuk alasan yang tidak aku pahami dan membuatku merasa tersia-sia. Semua dukunganku selama hampir 2 tahun memberi ruang padamu untuk belajar terbang seperti kehilangan makna. Dua tahun, ternyata tidak membuatku mengenali dirimu. Aku baru menyadari, dirimu selama ini tersembunyi di balik selubung tebal karakter tulisanmu yang tak bisa aku jangkau.  Tugasku hanya mengantarkanmu sampai persimpangan dan merelakanmu. Hasta La Vista.

Kematian adalah bentuk lain kehilangan yang bisa membuat hati terasa ngilu berhari-hari. Paskalis. Teman yang mendukung tobucil apa adanya. Dengan ketulusan. Dia memutuskan menghabiskan detik terakhir hidupnya di beranda tobucil, membuktikan komitmennya. Selamat jalan sahabat, kepergianmu, memberi inspirasi serta mengikis jarak antara aku dan sahabatku yang lain. Dan kehilangan di penghujung tahun ini adalah perginya tokoh yang memberi banyak inspirasi dengan segala sepak terjangnya: Gus Dur.

Dalam kadar yang lebih ringan, kehilangan intensitas juga bagian dari kehilangan yang mewarnai hidupku di tahun 2009. Beberapa teman yang selama ini pernah dekat  menjadi kawan berbagi rasa, justru merenggang di saat aku mengajukan gugatan padanya untuk hal-hal yang sepertinya sepele: menepati janji pertemuan misalnya. Bahkan guagatan pada teman lain yang lebih substansial: apakah aku ini hanya sekedar  alat eksekusi eksistensi pribadi?  Tahun ini memang menjadi tahun seleksi bagiku dalam hubungan.

Perjumpaan

Namun ternyata, perjumpaan yang kualami jauh lebih banyak daripada kehilangan. Perjumpaan-perjumpaan dalam gelombang frekuensi pemikiran, intensitas emosional, semangat berkarya, kegelisahan yang sama, membuat perjumpaan-perjumpaan kembali, membawa arti berbeda dan lebih mendalam. Yang menyenangkanku sepanjang tahun ini adalah intensitas perjumpaanku dengan sahabat-sahabatku. Tahun ini kami yang pernah sama-sama gagal berinvestasi dalam sebuah idealisme dan cita-cita, justru berjumpa kembali dalam perjumpaan yang lebih erat dan hangat dengan  sahabat-sahabatku itu.

Perjumpaan dengan teman-teman baru dalam berkarya dan menjalani minat. Juga perjumpaan dengan teman-teman lama yang membawaku pada pemahaman dan pengertian baru tentang diri kita masing-masing. Perjumpaan-perjumpaan ini selalu membawa inspirasi dan kekuatan baru untuk terus berkarya dan mewujudkan cita-cita yang aku yakini. Setiap perjumpaan di tahun ini, bagiku seperti menyambung tongkat estafet, meretas jalan menuju pilihan-pilihan hidup yang berlimpah.

DJava String Quartet, perjumpaanku dengan kalian adalah hal penting dalam hidupku di tahun 2009. Terima kasih telah mengajarkan aku bahwa cita-cita besar menjadi omong kosong tanpa kerja keras. Meski kalian jauh lebih muda dariku, tapi kalian mengajarkan hal lain tentang meyakini pilihan hidup. Terima kasih.

Kreasi dan karya 

Pencapaian terbesarku di tahun ini dalam berkarya adalah  risetku tentang Hak Minoritas. Tepat di awal tahun aku melakukan studi lapangan di Sembakung, Kalimantan dan 15 Desember 2009 lalu, buku yang salah satunya memuat hasil penelitianku diterbitkan. Dalam hal ini, aku  menyebut Mas Hikmat Budiman. Aku sangat berterima kasih padanya.  Bukan semata karena kesempatannya, tapi cara dia membuat aku melampaui pencapaian yang sulit ini dan membuat alergiku menjadi-jadi, tapi semua kepayahan itu harusku lalui, kalau ingin lulus ujian kenaikan tingkat. Membicarakan Hak Minoritas, melakukan studi etnografi di lapangan di pedalaman Sembakung, Kalimantan Timur, adalah salah satu pengalaman luar biasa dalam hidupku yang ga mungkin aku lupakan. Pengalaman ini membuatku sampai pada batas terjauh kemampuanku yang membuatku menyadari dua hal sekaligus: Aku mampu sekaligus punya banyak sekali kekurangan. Mas Hikmat dengan caranya, menggembleng aku untuk terus belajar dan memotivasi aku untuk sekolah lagi. Menelusuri rasa ingin tahuku atas pengetahuan-pengetahuan yang selama ini tidak sungguh-sungguh aku serap. Sekolah bagiku kemudian menjadi medium untuk bertemu dengan para pembimbing 'spiritual' yang membantuku berdisiplin untuk  tumbuh seperti pohon. Knowledge is a tree.. growing up just like me..

Tahun 2009 juga menjadi tahun penting kembalinya aku pada aktivitas yang ternyata jadi passionku sejak kecil: handmade stuff. Membuat barang-barang bikinan sendiri. Melatih tangan, mengeksekusi gagasan. Tahun ini juga aku mulai dengan membuat merek sendiri: Design by vitarlenology untuk produk-produk handmadeku. Selain membuat merek sendiri, terhubung dengan Handmade Nation, blog tobucil handmade yang mendapat review positif dari craftivism.com memantapkan jalan bahwa menjadi crafter adalah hal yang tidak dapat kulepaskan dalam kehidupanku. Craft bukan saja menjadi medium eksperimen yang menyenangkan, tapi juga melatih pengembangan gagasan dan spiritual healing yang membuat aku jadi semakin mengahargai ide-ide sederhana, proses dan kerja keras.

Kesehatan


Tahun ini, memang tahun yang cukup berat bagiku untuk berdamai dengan alergi yang datang hampir sepanjang tahun 2009. Datang dan pergi. Tubuh dan pikiranku berusaha keras beradaptasi dengan kondisi sinusku yang seringkali membuat hidung dan tenggorokanku bermasalah. Jika ini adalah masalah yang menetap, aku berusaha untuk memahaminya dan mengerti, sehingga aku tau cara mengatasinya. Rencanaku tinggal sementara di kota yang lebih hangat, semoga membuat sinusku membaik.

Tobucil 


Hal yang membanggakan di tahun ini dari tobucil adalah bahwa tobucil mampu membuktikan kemandiriannya secara finansial untuk membiayai seluruh aktivitasnya sendiri. JIka di hitung, tahun ini, tobucil mampu mendapatkan sendiri dana sebesar lembaga donor mampu berikan untuk struktural funding selama 1 tahun. Setelah lebih dari 8 tahun jatuh bangun mengupayakan idealisme dan cita-cita  bersama tobucil, akhirnya aku dan teman-teman di tobucil bisa buktikan, bahwa tanpa harus meminta uang pada lembaga donor, tobucil mampu membiayai dirinya dan program-programnya sendiri dan tanpa aku harus menombok dari kantong pribadi. Kemandirian ini membuat aku dan teman-teman sangat beruntung kerena bisa menjalankan cita-cita kolektif ini dengan penuh harga diri dan kemerdekaan dalam mengambil keputusan. Rasanya sungguh melegakan. Semoga tahun depan kemandirian tobucil menjadi lebih besar dan kuat dan manfaat yang diberikan pada komunitasnya juga menjadi lebih besar. Terima kasih keluarga kecil tobucil untuk berjalan bersamaku..

****

Jika umurku panjang, tahun 2010 memberiku angka yang sungguh aku suka: 333003  yang artinya aku akan berulang tahun ke 33 di tanggal 30 di bulan 3. Pada saat itu tiba aku sedang dalam perjalanan keliling Asia Tenggara bersama Rama, seperti yang telah kami rencanakan jauh-jauh hari. Mengacu pada daftar pekerjaan di tahun 2010, banyak hal baru yang akan kujalani di tahun 2010: memanageri DJava String Quartet, backpacking keliling Asia tenggara, sekolah lagi, mencari beasiswa penelitian,  mengerjakan beberapa program bersama beberapa organisasi partner yang sudah menghubungiku, program-program baru di tobucil tentunya. Selain itu, aku tentu menyiapkan diri untuk kejutan-kejutan yang datang di tahun depan..

****

Ya Allah, terima kasih untuk:
Selalu memudahkan jalanku,
Menguatkan keyakinanku,

Menemaniku lewat Ibu, kakak dan adikku, teman-teman dan para sahabat yang memberiku inspirasi dan kekuatan,  
Memberiku petunjuk untuk selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi..

Terima kasih, Kau telah memperkaya hidupku dengan pengalaman dan kesempatan di 2009,
Jika Kau masih memberiku banyak kesempatan di tahun 2010, 
berilah aku kekuatan dan keteguhan hati untuk menjadi manfaat bagi kehidupan..

Amin.

Selamat Jalan Gus Dur


Foto diambil dari KOMPAS

 Aku ga tau, perasaan apa ini? tapi rasanya aku emang sedih dengan kematian Gus Dur. Bagiku Gus Dur seperti jaminan keragaman, pemikiran alternatif  dan pengakukan terhadap kelompok minoritas yang selama ini dianggap liyan, bisa tumbuh dan berkembang di negeri yang sedang belajar jadi dewasa ini. Jika penjamin itu tidak ada lagi, apa yang akan terjadi kemudian? Ku kira, selain kesedihan, perasaan yang menguasai banyak orang adalah  kekawatiran. Setiap orang yang bersetuju dengan keragaman dan pluralitas serta mendukung hak-hak minoritas, mesti menemukan keyakinan untuk menjamin keyakinan dan dukungannya itu, tanpa Gus Dur sebagai tameng yang siap menghadapi kekuasaan anti keberagaman dan abai terhadap hak minoritas.

Kepergian Gus Dur seperti kepergiaan guru, bapak yang selama ini memberi jaminan 'zona aman' pada murid dan anak-anaknya untuk terus berpikir alternatif dan mengahargai keragamanan. Gus Dur seperti meretaskan jalan memberi keberanian dan dukungan moril bahwa tidak ada yang salah dengan perbedaan dan keragamanan, bahwa kemuliaan ada pada sikap menghargai minoritas. Dan sekarang, jalan yang telah dirintis, keberanian untuk berbeda yang telah disemaikan itu, jadi warisan penting yang perlu terus menerus di perjuangkan.

Jasadmu mungkin sekarang sedang jadi rayahan cacing tanah, tapi inspirasi dan apa yang selalu kamu perjuangkan ga akan pernah mati.
Aku sungguh kehilanganmu..

Selamat kembali pada Sang Maha Plural..
 

Tuesday, December 29, 2009

Surat Untuk Alergi



Alergi sayang,

Sepertinya aku memang harus kompromi denganmu, tapi bagaimana? aku sedang mencari-cari caranya. Kamu bisa datang setiap pagi dan petang, meski sewaktu-waktu kamu bisa menggila seperti sekarang ini: memblok hidungku, sehingga seharian aku mesti bernafas dengan mulutku dan menjaganya dari hal-hal yang bisa membuat tenggorokanku terganggu .

Tiba-tiba aku teringat kembali bagaimana di umur 8 sampai 10 tahun dulu, aku sering sekali mimisan tiba-tiba. Ibuku biasanya langsung menymbatkan gulungan daun sirih yang di tanam di halaman rumah di salah satu lubang hidungku. Aku paling benci saat-saat seperti itu. Selain aku jadi tampak lucu dengan sumbat daun sirih itu, aku juga jadi susah bernafas. Tapi hal itu perlu dilakukan, daripada darah terus menerus mengucur dari hidung dan aku terpaksa harus diam di rumah. Jadi pilihannya waktu itu: tetap bermain dengan sumbat daun sirih di hidung, atau tanpa daun sirih dan aku harus berbaring di rumah? tentunya aku pilih yang pertama. Karena bermain adalah segalanya pada saat itu.

Saat seperti sekarang, rasanya kematian itu dekat sekali di depan mata. Jika tenggorakanku ikut memblok jalan nafasku juga, atau aku tersedak, maka matilah aku gara-gara ga bisa bernafas. Aku bertanya pada sahabatku: haruskah aku melawanmu atau berkompromi denganmu? dia bilang (dan seperti tiga orang dokter yang pernah aku datangi): kompromi saja. Tapi gimana? di saat nafasku pendek-pendek begini, dorongan untuk menyerah atau melawanmu dengan keputusasaan begitu besar. Karena menghadapimu begitu melelahkan (seperti ikatan seumur hidup ga bisa dilepaskan dengan mudah). Mungkin juga karena aku belum paham caranya bersahabat denganmu.

Baiklah, aku mengikuti saran sahabatku si pembalap gadungan,  untuk menguapi dengan air mendidih dan secolek balsem (karena ga ada minyak kayu putih). Kulakukan pengobatan masokis ini sebagai cara berkompromi denganmu. Meski rasanya seperti menyedot sesendok wasabi yang membuat gumpalan2 ingus yang mengendap di sinusku meleleh seketika. Untuk sementara, kukira cara seperti ini cukup untuk membuat kamu berkompromi denganku. Cara ini kukira lebih bijaksama (meski cukup menyiksa ketika melakukannya) daripada meracuni terus menerus tubuhku dengan obat-obat anti alergi  yang aku minum sebanyak apapun, tak membuat kau menghilang dari tubuhku.

Kurasa kau memang datang di saat yang benar-benar tepat, diakhir tahun, di saat sebagian orang biasanya berefleksi tentang hidupnya setahun terakhir. Kehadiranmu itu, membuat aku bukan hanya berefleksi tapi juga membuatku dengan sangat serius mencari cara untuk kompromi denganmu di hari-hari mendatang. Sama seperti situasi yang kupertimbangkan di usia 8-10 tahun itu, bahwa di hari-hari mendatang (jika umur panjang) ada sederet pekerjaan yang sudah masuk daftar yang harus ku lakukan di 2010. Jadi tanpa persahabatan  dan menemukan cara kompromi denganmu, pekerjaan-pekerjaan itu mustahil terlaksana.

Hal pertama untuk menjalani jalan panjang kompromi denganmu adalah aku menyatakan: aku ingin bersahabat denganmu. Terimalah niatku dan berilah aku kesempatan untuk menjalin persahabatan denganmu.

:maka izinkan aku malam ini tidur dengan nyenyak.. aku benar-benar membutuhkannya.

sahabat barumu,
t

Saturday, December 19, 2009

Aku Adalah Rentang Keragamanan Pekerjaanku



Aku paling bingung menjelaskan apa sesungguhnya pekerjaanku. Pertama karena yang aku kerjakan cukup banyak dan beragam. Kedua, jika disebut ga punya profesi yang tetap, ya begitulah aku. Aku ga pernah melewati jenjang karir dengan menduduki jabatan dan posisi tertentu atau menjadi profesional  dalam bidang tertentu sampai naik dan naik trus ada di puncak. Aku bisa dikatakan ga pernah melewati hal-hal demikian. Namun, dari jenis pekerjaan aku mengerjakan rentang pekerjaan dari jenjang yang paling bawah (cleaning service), sampai yang paling tinggi (mengambil keputusan tertinggi dari apa yang aku kerjakan).

Keragaman jenis pekerjaan dan bidang pekerjaan yang aku kerjakan selama ini, membuatku kesulitan menjelaskannya hanya dalam satu kata yang mencerminkan profesi tertentu. Suatu saat, sahabatku pernah menjelaskan pada temannya, tentang apa yang aku kerjakan dan menurutku cukup menggambarkan rentang pekerjaan yang aku lakukan: community developer. Meski istilah ini pun ga otomatis langsung membuat orang mengerti, pekerjaan seperti apakah community developer itu. Karena setelah menyebut pekerjaanku dengan istilah itu, sahabatku harus menjelaskan kembali pada temannya, apa itu community developer. "ya, dia bikin sebuah tempat, namanya tobucil disitu ada kegiatan belajar menulis, diskusi, workshop, pameran.." Begitulah penjelasan singkat sahabatku tentang pekerjaanku yang dia sebut sebagai community developer.

Sebutan itu, memang menjadi tepat ketika konteksnya hanya dibatasi pada apa yang kulakukan di tobucil, tapi bagaimana dengan hal lain-lain yang kukerjakan? Apakah, memanajeri sebuah string quartet, menjadi peneliti lepas, crafter bisa disatukan dalam sebuah label profesi tertentu? Kadang aku suka iseng menyebut diriku sebagai penyedia jasa. Tergantung pemesan, heheheh.. kecuali pekerjaan sebagai community developer dari tahun 2001 sampai sekarang lewat tobucil. Sepertinya itu satu-satunya pekerjaan tetapku dalam kurun waktu hampir 10 tahun terakhir. Sisanya ya freelancer dengan variasi bidang pekerjaan yang cukup luas. Benang merah dari semua keragamanan pekerjaan yang kulakukan itu adalah koridor sosial dan budaya. Meskipun yang kulakukan sekarang dengan sahabatku si pembalap gadungan, ga berhubungan dengan koridor itu karena ini ilmu komputasi. Sebuah titik baru yang membuat rentang keragaman pekerjaanku menjadi meluas.

***

Sebenarnya, aku ga terlalu mempersoalkan kebingunganku sendiri dalam menjelaskan pekerjaanku. Satu saat aku bisa menyebut diriku: pedagang, bisa juga peneliti, atau manager, crafter, atau apapun itu. Hanya saja kemudian aku tergelitik untuk membaca kembali rentang pekerjaanku yang beraneka ragam itu dan mencoba melihatnya dalam satu kerangka yang saling berkaitan. Dan sepertinya community developer, menjadi satu jenis  pekerjaan yang ternyata memang memerlukan keterampilan pekerjaan-pekerjaan lain. Untuk bisa membangun sebuah komunitas, aku memerlukan kemampuan sebagai peneliti karena komunitas pasti membutuhkan riset untuk membuat strategi pengembangan. Keahlian sebagai crafter juga diperlukan untuk melatih kemampuan mengeksekusi dari gagasan menjadi sesuatu yang kongkrit. Kemampuan managerial udah jelas diperlukan, karena tanpa keahlian itu, mana mungkin bisa mengembangkan komunitas. Aku jadi mendapat penjelasan untuk diriku sendiri, bahwa rentang keragaman pekerjaanku itu disebabkan karena aku merasa perlu bisa mengerjakan banyak hal. Aku tipe orang yang perlu mengetahui dan memahami proses dari awal sampai akhir dan bisa menjalankannya. Bukan karena aku tidak percaya pada orang lain untuk mengerjakan tiap-tiap bagian dari proses itu, namun dengan pengetahuan itu, aku bisa mengerti pekerjaanku sendiri secara utuh. Dan tentunya, saat mendelegasikan bagian-bagian pekerjaan itu, aku tau apa yang harus kulakukan.

Bagiku, sulit untuk membuat pembeda dan pemisah, antara pekerjaan dan hidupku. Hidup adalah kerja keras itu sendiri untuk menemukan kebaruan-kebaruan dan kualitas hidup. Dan pekerjaan seperti sebuah tools untuk menggali kebaruan-kebaruan itu. Aku tidak membatasi rentang keragaman minatku dengan batasan karir atau pendalamanan satu profesi tentu. Sepanjang keragaman keahlian yang aku dapatkan dari pekerjaan-pekerjaan itu bisa memberikan banyak manfaat, bukan hanya pada diriku sendiri, namun juga pada orang lain, pada sekelilingku, mengapa tidak. Konsekuensi logis dari pilihan ini adalah, aku memang ga bisa atau akan mengalami kesulitan untuk masuk pada sebuah sistem yang sudah mapan atau sebuah sistem yang membatasi aku hanya pada satu bidang pekerjaan tertentu dengan aturan yang rigid. Karena sistem yang seperti itu akan membatasi banyak potensi yang aku miliki dan mempersempit rentang keragaman minatku itu. Karenanya, aku perlu menciptakan sistem sendiri yang bisa mengakomodasi rentang keragaman dan kebutuhan ku.

Jadi jelas bagiku, bahwa pekerjaan bukan sekedar persoalan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan praktis dalam hidup, tapi pekerjaan adalah sejumlah kesempatan untuk menemukan kualitas hidup. Itu sebabnya, penting bagiku untuk menentukan posisi tawarku dari setiap pekerjaan yang aku terima. Penting untuk menentukan tujuan dari sebuah pekerjaan di awal. Mengapa aku menerima pekerjaan yang ini, bukan yang itu. Bagaimana dengan demensi moral, waktu, ekonomi, spiritual (mendapatkan pengalaman-pengalaman baru, perspektif baru buatku itu bisa menjadi sangat spiritual). Karena tujuan dengan langkah-langkah juga mesti sinkron. Kalo ga, ya eror nanti hasilnya. Termasuk juga mempertimbangkan resikonya. Tidak ada kesempatan dan pekerjaan yang tidak mengandung resiko yang menjadi penting dalam menghadapi resiko adalah kejujuran dalam menghitung kemampuanku untuk menghadapinya sesuai dengan situasi dan kondisi. Aku ga bisa memanipulasi diriku untuk pekerjaan-pekerjaan yang resikonya sudah jelas-jelas tidak mungkin aku sanggup menanggungnya, secara fisik maupun mental. Bahkan saat mencoba pekerjaan baru atau mencoba kemampuanku pada batas yang paling jauh, itupun bukan tanpa perhitungan atau bisa dilakukan dengan modal nekat belaka. Kalau dalam ilmu sahabatku, itulah yang disebut dengan menentukan rentang kemungkinan-kemungkinan paling dekat dan yang paling jauh. Aku yakin, setiap orang jika mau melakukan perhitungan itu pada dirinya sendiri dengan jujur, dapat menemukan batas terjauh dan terdekat atau terendah dan tertinggi dari kemampuannya sendiri. Dan rentang kemampuan ini sesuatu yang bergerak terus. Dinamis, karena hidup adalah pergerakan itu sendiri.

Rasanya jika pekerjaan itu bisa mendefinisikan seseorang. Aku lebih memilih, aku yang mendefinisikan pekerjaanku, bukan pekerjaan yang mendefinisikan siapa aku. Aku adalah kebaruan-kebaruan itu sendiri yang kudapat lewat tools bernama pekerjaan dengan rentang keragaman yang luas dan membuatku mampu membangun kualitas diri sebagai manusia..

(Aku jadi geli sendiri, aku menuliskan tulisan ini tanpa sadar terpengaruh logika penjelasan MSB-First Bounded Interval Dynamic Precision hihihih... )

Wednesday, December 16, 2009

Perjalanan Memantaskan Diri



 Tuhan itu sangat memanjakanku. Aku berdoa untuk kebaruan-kebaruan dalam hidupku, Tuhan memberikannya. Bukan cuma sedikit, tapi banyak. Setelah dua minggu lalu pikiran dan tenagaku disibukkan oleh urusan jahit menjahit, minggu ini dimulai dengan sesuatu yang sama sekali baru: mempelajari 'The Architectural Design & Analysis of MSB-First Bounded Interval Dynamic Precision '. Puyeng kan? hahahaha.

Kenapa aku tiba-tiba mempelajari hal yang 'seperti ngga nyambung' itu dengan latar belakang keilmuanku. Alasannya sederhana saja, karena ini disertasi sahabatku, si pembalap gadungan. Dan tenggat waktu yang dimilikinya semakin sempit. Dan aku ga bisa membiarkan dia stress terus menerus karena disertasinya ga kelar-kelar. Karena ini disertasi, aku yang ga suka matematika ini, tetap bisa membantu sahabatku itu karena yang menjadi penekanan lebih ke alasan kenapa sahabatku itu memilih metode itu. Argumentasi itu yang perlu di eksplorasi. Seru aja karena aku jadi belajar ilmu baru yang secara logika sebenarnya ga sulit juga dipahami oleh aku yang bukan engineer.

***

Ngomong-ngomong tentang sains, sebenarnya dari kecil aku sangat menyukai sains. Buku bacaan pelajaran IPA, bisa aku baca berkali-kali. Dan sejak kecil aku sangat senang membaca buku-buku bagaimana alam bekerja. Cita-cita pertamaku adalah arsitek dan waktu SMA, karena nilai biologiku selalu bagus dan aku sangat terinspirasi oleh Greenpeace, aku ingin sekali jadi Ekolog atau ahli biologi. UMPTNpun aku mendaftar di jurusan Biologi, meski aku tau aku ga suka sama serangga. Minatku pada sains ini lama-lama hilang, karena ternyata aku mengalami trauma dengan pelajaran matematika dan fisika. Karena guru matematikaku di SD sangat galak yang kalau salah hitung tanganku bisa di pukul pakai tongkat bambu, aku jadi memblokade diriku sendiri dari matematika. Saat SMA, aku pernah dipanggil guru matematikaku yang meski klemar-klemer, tapi dia sangat baik. Dengan kesabarannya dia menanyakan apa yang membuat aku terlihat sangat tidak berminat pada pelajarannya?  Karena aku memang malas memperhatikan dan ga mau tau juga meski konsekuensinya nilaiku bakalan jelek banget. Aku ingat jawabanku waktu itu singkat aja: "saya ga suka aja sama matematika, bu." Dan bagiku saat itu, bukan masalah besar juga tidak menyukai disiplin ilmu ini, karena bapakku tidak berkeberatan dengan ketidaksukaanku ini. Semakin kesini, semakinku sadari yang tidak kusukai itu bukan matematikanya, tapi aku memang tidak suka berhitung, tidak menyukai kepastian dari perhitungan. Bagaimana hidup yang serba ga pasti dan penuh kejutan ini bisa dihitung dan dikalkulasi?

***

Sebenarnya, sahabatku yang membantuku meluruskan asumsi yang salah yang menjadi landasan ketidaksukaanku pada ilmu berhitung (matematika dan fisika). Cara dia menjelaskan banyak detail yang menjadi disertasinya, mengubah pandanganku bahwa ternyata aku ini ga benci-benci amat juga sama matematika. Bahwa perthitungan ternyata  bisa mengakomodasi ketidakpastian. Hanya saja penyimbolan angka-angka itu masih cukup abstrak di kepalaku. Aku masih belajar menerjemahkan deretan angka-angka itu kedalam visualisasi yang lebih bisa aku nikmati dan pahami. Seperti halnya foto-foto galaksi yang begitu abstrak, tapi sangat bisa kunikmati karena begitu imajinatif.

"Setelah kamu berhasil bantuin aku, kamu akan jadi lebih mudah nantinya menjalani sekolah S2mu itu.." kata sahabatku. Memang sih. Akupun berpikir demikian. Aku merasa dengan memahami cara berpikir engineering  akan banyak membantu merunutkan cara berpikirku terutama dalam mengerjakan penelitian-penelitian sosial. Selama ini aku memang punya masalah menurutkan pikiranku yang meloncat-loncat itu. Terlibat dalam penyelesaian disertasi sahabatku itu seperti sebuah proses persiapan untuk menghadapi rencana sekolahku di tahun depan.

Rentang keingintahuanku itu sangat lebar. Aku seringkali kesulitan melakukan pembacaan yang lebih tersistematis dari hal-hal yang banyak kuminati itu. Aku percaya keragaman pengalaman dan pengetahuan yang aku dapatkan ini, sebenernya berhubungan satu sama lain meskipun mereka tersebar dalam rentang yang lebar. Dengan mengasah cara berpikirku, akan memudahkan aku untuk melihat persamaan logika dan pemahaman antara satu dan yang lain. Dan hal ini aku yakini juga bisa menjawab isu-isu dalam hidupku yang seringkali berhubungan dengan persoalan mengerti dan tidak mengerti atas keinginan-keinginanku maupun orang lain. Memang, tidak semua hal dalam hidupku perlu aku mengerti, tapi mengetahui mengapa aku tidak mengerti, kukira itu akan membantuku menemukan ketenangan hidup.

Tuesday, December 08, 2009

Tuhan, Terima Kasih!




Hari kemarin rasanya penuh banget. Selalu saja ada masalah di menit-menit terakhir menjelang deadline produksi (kali ini produksi souvenir pernikahan sahabatku). Hampir menyerah, tapi pemecahan selalu datang tak terduga. Mesin jahit Singer 1977 (seumur denganku), menggantikan Brother untuk sementara. Dan saat aku hampir gila karena itu benangnya putus melulu, pencerahan tiba-tiba datang. Kepikiran untuk mengubah setelan gigi bawahnya dan masalah terselesaikan.

***

Lagi sibuk2nya menjahit, tiba-tiba tetangga di jalan Flores datang dengan wajah hampir menangis kesal. Ia merasa harus bertemu denganku untuk mengadukan kekesalannya itu. Baiklah, sini aku dengerin. Soal hotel baru di belokan antara jalan Flores dan jalan Aceh yang tiba-tiba hadir 5 lt dan mengganggu ketrentraman warga sekitar. Tetanggaku yang sangat sensitif itu, sampai sakit karena keributan suara blower, lalu-lalang mobil barang yang keluar masuk tepat di depan rumahnya, pohon-pohon mahal yang runcing-runcing tapi di tata tanpa selera yang baik maka jadinya norak.. dan penyeselannya menandatangani persetujuan pembangunan itu.
'Jadi aku harus gimana dong len, aku pengen komplain, nulis di facebook, tapi aku takut nanti jadi Prita kedua..'

***

Pulang badanku terasa ringsek, lelah secara fisik dan mental. Dan batuk alergiku mulai menjadi. Tiba-tiba temanku yang lain di jam 11 malam itu, menghubungiku. Dia menemukan seorang bocah laki-laki gagu di pinggir jalan dalam keadaan memprihatinkan. Tadinya kasihan sebatas simpati saja tanpa tindakan. Tapi si kecil Layka anak temanku itu bilang: 'Bubu, kasihan ya Aa..' suara tulus Layka yang jernih itu, membuat temanku memutuskan membawa anak  itu pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, temanku bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Dalam kebingungannya dia menghubungiku, menanyakan apakah ada tempat penampungan untuk anak-anak yang dia temukan itu? Aku beri dia nomer panti asuhan yang pernah beberapa kali aku kunjungi sebagai tempat penampungan anak-anak pengungsian konflik di Atambua tempo hari. Ku sms sahabatku si pembalap gadungan, menceritakan soal bocah ini. Sahabatku itu langsung menelepon dengan keparanoid-annya tapi cukup memberi masukan yang berharga untuk diperhatikan. Bahwa yang pertama harus di lakukan jika menemukan anak hilang seperti itu adalah melapor ke polisi, biar ga di sangka menculik. Aku menghubungi temanku lagi, memintanya segera menelepon polisi malam itu juga (karena tadinya temanku itu mau melaporkannya pagi ini). Sementara bocah itu, tengah lelap tertidur di rumah temanku, setelah dimandikan oleh pembantunya, diberi makan dan diberi pakaian yang layak (waktu ditemukan bocah laki-laki ini, berpakaian anak perempuan).

Selesai ke'ajaiban-keajaiban' di hari kemarin. Setelah mandi, ibuku yang baik hati itu, membaluri tubuhku yang lelah dan kecapean itu. Bukan minyak panasnya yang menghangatkan, tapi kasih sayangnya yang membuat kelelahan itu hilang. Sebelum tidur, aku cek fb temanku, ingin melihat foto bocah itu.. matanya membuat aku ingin menangis. Aku share fotonya pada sahabatku si pembalap gadungan. Saat membaringkan tubuhku di tempat tidur, badanku meminta pikiranku berhenti berpikir dan lelap.

---

Alarm HPku berbunyi Pk. 05.30. Aku matikan, tapi aku lihat ada sms dari sahabatku si pembalap gadungan yang sudah melihat foto bocah laki-laki itu di hampir pk. 02 pagi. Dia sama harunya denganku, kata-kata sahabatku itu membuat aku ga bisa meneruskan tidur. Belum sempat aku membalasnya, telpon di rumahku berdering dan ibuku menjawab dengan kehebohan tersendiri. Adiknya yang mengidap schizophrenia dan menetap di Yogja itu,  meninggal sekitar sejam yang lalu. Pagi ini, seluruh rumah mendadak sibuk, karena ibu dan kakak perempuanku harus segera berangkat ke Yogjakarta dengan kereta pk. 07.00.

Aku tau, ibuku itu sangat sayang pada adiknya itu, meski kondisinya seperti itu. Jika ke Yogja bersama keluarga, kami selalu mengunjunginya. Dia tinggal di sebuah kamar di daerah Lempuyangan, Yogja.  Kamar itu dibangun di tanah kecil tinggalan  eyang putriku. Aku selalu takjub dengan kamar tempat tinggal omku. Hanya ada dipan saja untuk tidur, tapi seluruh temboknya dia gambari dengan segala macam gambar yang hanya dia lah yang bisa melakukannya. Rumus-rumus fisika dan matematika, kutipan pidato bung Karno dan dunia schizoprenicnya. Om ku ini, juara sekolah di SMA IPA terbaik di Yogja pada masanya (aku lupa nama sekolahnya). Dia sangat ingin menjadi insinyur sipil. Kepintarannya itu membuat dia lulus tes di teknik sipil UGM, tapi kakekku saat itu hidup dalam kehancuran ekonomi, tidak sanggup membiayai omku ini. Untuk mengobati kekecewaannya, omku mendaftar di marinir dan kabur saat mengikuti pendidikan. Pada saat waras, omku pernah mengaku pada ibuku, bahwa dia mengalami siksaan fisik di pendidikan marinir itu dan mulai mendengarkan suara-suara di kepalanya. Perawatan demi perawatan pernah omku jalani, tapi rupanya schizophrenianya ga bisa disembuhkan. Ibuku pernah merawatnya, karena omku ini, sangat menurut pada alm. bapakku, tapi suatu saat dia pernah mengamuk dan melempar termos panas kepada kakak perempuanku yang saat itu masih kecil. Sempat di rawat di rumah sakit jiwa juga, namun rupanya dia lebih memilih tinggal di Lempuyangan, tempat dimana ia dibesarkan. Dan sekarang dia juga memilih meninggalkan dunia di tempat itu.

***

Rasanya kok berturut-turut dalam sebulan terakhir ini. Kata-katamu muncul seperti pop up di kepalaku ''Yah.. nasib aja no more no less, biar km tambah hebat :)'. Yang tampak terlihat hebat saat ini bagiku adalah garis-garis tanganku yang makin lama makin rumit dan silang sengkarut.

 Saat berjalan di sepanjang trotoar lapangan saparua menuju tempat sarapan tadi pagi, aku bilang sama Tuhan, "Apapun yang akan Kau berikan padaku, berikanlah.. seberat apapun itu, aku tidak akan melawan dan menghindarinya. Aku akan menerimanya dan iklas. Karena aku yakin, Kamu tau batasku. Jika Kau anggap, aku mampu, aku pasti bisa menemukan jalan untuk menghadapinya..."

**

Terima kasih Tuhan, untuk semua ke'ajaiban-keajaib'an ini.

Friday, December 04, 2009

Berhikmat di Hari Sabtu



Setelah semalam mimpi aneh..(tapi menyenangkan), disambung sarapan pagi di warung purnama bersama sahabat-sahabat tercinta: Tanto, Reza, Yus dan spesial guest star: mas apep, sesampainya di tobucil postcard dari sahabatku di datang menyambut. Dia mengirikman quote yang pas banget dengan hatiku saat ini:
"Jika kita menutup tubuh agar tak menggigil, aku bisa mengerti, Namun mengapa kita tutup perasaan kita, walaupun jika kita menyadari, bahwa perasaan kita bisa beku?"
aku merasakan'mu' sangat, meski itu aneh, tapi aku tidak akan menutupnya..

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails