Wednesday, November 18, 2009

Tiga Belas Hari


foto oleh vitarlenology

Malam terakhir bersama wajah-wajah polos memanggilku tante. "Jangan pulang tante, tinggal lah lebih lama lagi.."
Maaf sayang, aku harus pulang, kembali bekerja. Menyelesaikan urusan-urusan di rumah kecilku itu. Aku segera kembali menjumpai kalian lagi. Love you so much.

Tiga belas hari, menemukan remedy, perdamaian baru dengan diri.
Mungkin tugasku adalah mendampingimu menemukan keputusan yang salah, hingga kau bisa menarik pelajaran dari pengalaman itu. Meski urusan belajar bukan tanggung jawabku. Kamu yang memutuskan akan mengambil pembelajaran itu atau tidak. Aku hanya cukup mengantarkanmu saja.
DJava memberi kunci petualangan baru pada pemahaman proses kreatif yang selama ini selalu menakjubkan untukku: bagiamana bisa partitur-partitur itu menjelma menjadi musik klasik yang sedemikian rupa. Memanageri konser Jawa Bali, terlibat dalam proses produksi konser, membuatku semakin yakin, keindahan yang hadir senantiasa, kapanpun kehadiran itu diinginkan, tidak akan mungkin terwujud tanpa kerja keras. DJava, the most promising string quartet in this country, aku beruntung mendapatkan kesempatan luar biasa memanageri kalian. Kalian menginspirasiku dan memberiku kebaruan-kebaruan, banyak.
Kebaruan-kebaruan itu adalah pilihan. Dan aku memilih mendapatkannya sebanyak mungkin (rasanya tak sabar menunggu saatnya perjalanan bersamamu tiba. Maret 2010. Aku dan umurku yang ke 33 bersamamu menjejak Phuket. Lalu kita akan berkata pada diri kita masing-masing; aku akan kembali menikmati indahnya sore dan udara sejuk Volunteery Park dan kamu kan sampai di negeri Paganini, menyambangi makamnya memberi hormat pada inspirasinya padamu.
Lalu perdamaian juga berarti mengahadapi kejawaan yang lekat dan inheren itu.
Seperti meralat penyangkalan identitas dan aku sedang mempersiapkan diriku di tahun depan, menghadapinya face to face, kejawaanku itu.

Aku kan pulang, menjumpai meja kerjaku. Menjumpai rumah kecilku dan seluruh penghuninya.
Menyongsong teman-temanku. Aku rindu coklat panas toko coklat bersama pembalap gadungan. Aku rindu pasar baru dan gang tamim bersama Mei. Aku rindu warung purnama bersama cicik. Aku rindu jendela kamarku. Aku ingin memeluk ibuku. Aku merindukan kota yang kualami dengan kecintaan dan kebencian.


Setelah pulang nanti, aku akan kembali merindukan berbaring di kamar ini lagi. Bermain bersama kalian lagi.

Bahkan Meener Jansen, tak sabar menunggu kepulanganku:
Welcome home neng!
Not yet. I'll be home on this friday.. :D

No comments:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails