Monday, November 30, 2009

Setelah Merasa Kehilangan, Lantas Apa?


Purnama di Aceh 56. Foto: vitarlenology 

 'Kenapa semua datang  beruntun, yang satu mengundurkan diri, yang satu meninggal, tiba-tiba itu semua jadi pertanyaan di kepalaku.'
'Yah.. nasib aja no more no less, biar km tambah hebat :)'

***

Rasanya memang seperti hang over berkepanjangan, meski sahabatku bilang, 'Jangan lama-lama berkabungnya ya.. :D', tapi setiap peristiwa kehilangan selalu meninggalkan jejak traumatiknya. Bukan hal yang mudah juga untuk menjelaskan, sebelah mananya yang bisa membuat merasa hang over berkepanjangan itu. Istirahat yang cukup, makan yang enak-enak, masak buat temen-temen yang seneng di masakin, ngeblog, mungkin bisa membantu mengurangi 'hang over' itu, tapi ya ga serta merta menghilangkannya secara cepat. Tergantung seberapa berat 'hang over'nya.

Aku sendiri ga tau, apa yang sebenernya aku rasakan. Apakah kesedihan itu karena temanku yang meninggal? Atau aku teringat pada kehilangan atas kematian 14 tahun lalu dan aku butuh 12 tahun untuk menyembuhkannya? Bisa jadi aku sedih karena meratapi diriku sendiri. Bukan karena orang yang pergi meninggalkanku. Karena bisa jadi mereka sebenernya udah ga ada urusan lagi denganku. Apalagi mereka yang meninggal. Sudah sibuk dengan ruang dan waktu mereka sendiri. Jadi apa sesungguhnya rasa sedih, traumatik, gloomy, ketika tau bahwa di hati ini ada bagian ruang yang tiba-tiba kosong karena penghuninya tidak lagi bisa aku jumpai. Rasa takut bahwa setelah orang itu pergi meninggalkanku, kenangannya akan memudar seiring waktu? lalu apakah kesedihan bisa jadi alat untuk mengawetkannya? Tapi rasanya juga, setelah melewati proses penyembuhan yang panjang selama 12 tahun, kesedihan bukanlah metode yang ampuh juga mengawetkan kenangan atas orang yang meninggalkanku.

Bukan. Bukan kesedihan. Kesedihan sendiri bergerak, berubah seiring waktu, dia menjalani proses 'meruang' menemukan bentuknya yang baru, berinteraksi dengan waktu dan kehidupan. Kesedihan bukan bahan pengawet mujarab untuk menyimpan kenangan orang yang pergi. Atau kemarahan? Rasanya bukan juga. Kemarahan sama saja dengan kesedihan. Selain meruang dia juga bersifat korosif. Jadi boro-boro mengawetkan. Kemarahan dan kesedihan justru mengikis kenangan itu sendiri.

Setelah orang-orang yang aku sayangi pergi, lantas apa?

Aku sedang menimbang-nimbang perkataan sahabatku si pembalap gadungan itu, bahwa mungkin ini memang nasib, tidak lebih dan tidak kurang.Tanpa bersusah payah mengupayakannya, nasib senantiasa datang dengan sendirinya. Begitu juga dengan kehilangan. Siapa yang benar-benar menginginkan kehilangan? ku rasa tak pernah ada yang menginginkannya, tapi siapa yang benar-benar bisa menghindarinya?  tidak ada juga. Lalu bagaimana nasib itu bisa diterima tidak kurang dan tidak lebih? pas sesuai dengan takaran? bagaimana menakarnya? bagaimana mengetahui bahwa itu tidak kurang dan tidak lebih? aku tidak tau. Aku sedang mencari tau. Meskipun mungkin tanpa aku sadari aku tau, tapi aku ga ngerti aja. Dua belas tahun menjalani proses penyembuhan dari rasa kehilangan, bukan berarti aku mengerti. Buktinya setiap kali mengalami kehilangan, selalu saja memberi lubang di hati yang aku sendiri ga ngerti, kok bisa berlubang lagi. Meski lubangnya beda-beda, tapi tetep aja rasanya ada yang bolong dan butuh ditambal. Lama atau sebentarnya, bergantung dengan lubang yang ditambalnya.

Hidup mungkin akan memberikan kehilangan-kehilangan yang lain yang membuat aku menjadi sedikit lebih mengerti atau mungkin malah semakin tidak mengerti perkara kehilangan ini. Mungkin menakar yang nasib yang tidak lebih dan tidak kurang itu, hanya bisa dengan merasakannya. Ketika kehilangan itu, tidak menimbulkan kemacetan menjalani hidup, membunuh cita-cita, menimbulkan alergi baik gatal-gatal maupun batuk-batuk atau hidung meler terus menerus, atau tidak mengakibatkan gejala-gejala culang- cileung, cileupeung, cineuteung, cirambay, cineungneung.. itu tandanya kehilangan yang menjadi nasib itu ada pada takaran yang pas, tidak lebih dan tidak kurang,

....mungkin... aku hanya menduga-duga..

Thursday, November 26, 2009

Perjalanan Kembali Pulang (Untuk Sahabat: Paskalis Trikaritasanto )




Beberapa menit setelah aku datang berhujan-hujan, membawa tumpukan screen sablon dan gembolan bersisi kaos-kaos kosong yang hendak di sablon. Kira-kira Pk. 17.00 WIB
"Kayanya gua jarang banget liat lu naik motor.."
"Masak sih? aku kan sehari-hari naik motor.."
"Lebih sering liat si Upi yang naik motor daripada elu.."
"Haha.. jangan-jangan kamu ketuker antara aku dan si Upi.."
Lalu kami tertawa bersama. Setelah itu dia kembali duduk di bangku depan tobucil, menunggu murid-murid bimbingan klab menulisnya datang dan aku kembali pada pekerjaanku memotong-motong stiker DJava.

Beberapa menit kemudian:
"Pey, itu siapa sih yang batuk, kok gitu banget.. papahnya Reni ya .. biasanya suka batuk heboh gitu.."
" Iya kayanya mba.."
Kami: aku dan Ipey, cekikikan mendengar suara batuk yang ga wajar itu. Sama sekali tidak menyadari bahwa itu bukan papahnya Reni, tapi teman kami, Paskalis.

Aku masih memotong-motong stiker DJava dan menonton film 'Cheri' saat wiku bertanya berapa nomor taksi. "7561234.." aku menyahuti dan belum menyadari apa yang terjadi. Tak lama kemudian, Upi masuk dan meminta bantuan, "Ri, bantuin angkat Paskalis, dia kejang-kejang.." Aku buru-buru keluar. Di gang kecil ke arah toilet luar tobucil, terjadi kehebohan. Paskalis sedang berusaha di gotong rame-rame. Kehebohan di tengah hujan yang lumayan lebat mengguyur. Pak Bangbang dari kantor sebelah menyiapkan mobilnya. Dan sekejap saja, Paskalis dan istrinya yang datang tepat di saat Paskalis terkena serangan kejang, berlalu menuju Rumah Sakit PMI yang paling dekat dengan tobucil. Wiku mengikuti dengan motor, menembus hujan.

Kurang dari setengah jam, Wiku mengsms-ku. Saat itu 18:15 Wib.
'len blm sadar uy.. minta doa na, nya biar supaya cpt sadar...' Aku buru-buru menyampaikan pada teman-teman meminta mereka berdoa untuk Paskalis. Tiga menit kemudian, 18:18 Wib, Wiku meneleponku. "Len, sudah meninggal, urang teu nyaho kudu kumaha?" Ternyata PMI tidak dapat menangani dan Paskalis buru-buru dilarikan ke RS Boromeus atas permintaan mba Wati, istrinya.

Aku, Eri, Upi, Nunu, bergegas menyusul Wiku ke Ruang UGD RS Boromeus. Belum banyak orang di situ. Wiku tampak kebingungan. Hanya ada dua laki-laki; teman dan saudara Paskalis dan mba Wati yang menangis tak sadar. Ku temani mba Wati. Aku sendiri tak tau harus bilang apa, aku hanya sanggup memeluknya dan menemaninya saja tanpa kata-kata.

"Ayah jangan tinggalkan bunda, bunda ga siap... ayo pulang, kasihan sophi..ayo pulang, kamu belum jauh, ayo kembali....bunda cinta ayah.. ayah yang tebaik buat bunda.. ayo kembali..mba.. panggil alis, suruh dia kembali, kasihan sophi mba.. aku ga siap ditinggal dia..."

Aku tau bagaimana perasaan mba Wati saat itu. Ku tatap Paskalis sudah terbujur kaku di tempat tidur UGD RS. Boromeus. Ku sentuh tangannya. Dingin. Rasa dingin yang sama seperti yang pernah kurasakan 14 tahun yang lalu, saat kusaksikan bapakku meninggal dalam genggaman tanganku. Paskalis temanku itu, benar-benar sudah pergi menyisakan kekosongan  dalam hati setiap orang yang ada di situ. Kemudian datang beberapa orang teman mba Wati dan Paskalis, meratap sedih kepergian Paskalis. Salah satunya menggantikanku menemani mba Wati. Aku butuh keluar dari ruangan itu, mencoba mencari tapak dimana aku bisa menemukan bobotku kembali. Di dalam kamar UGD itu, aku seperti ada dalam ruang kosong. Hampa tanpa bobot.

'Temanku kena serangan, kejang2 di tobucil, trus meninggal di perjalanan ke boromeus. Padahal sblmnya sempat ngobrol biasa. Aku ky hilang bobot begini...' sebuah sms ku kirimkan pada sahabatku si pembalap gadungan. 19:52, sahabatku itu meneleponku. Mendengar suaraku yang menyisakan isak, dia memutuskan datang menemaniku. Saat itu, sahabatku sedang di lab robotiknya yang tidak jauh dari RS Boromeus. 20:04. dia sudah sampai di UGD. Sahabatku itu ga kenal Paskalis. Tapi dia tau bagaimana rasanya tiba-tiba kehilangan bobot dalam situasi seperti itu. Ketika kami masuk ke ruangan itu, suster sedang membersihkan Paskalis dan bersiap-siap membawanya ke rumah duka, tidak jauh dari rumah sakit. Setelah jenazahnya dibawa ke rumah duka, kami memutuskan menyusulnya teman-teman lain dan kemudian ke rumah duka bersama-sama.

"Len, cerita gitu, biar saya ga bingung harus gimana."
"Aku juga bingung harus cerita apa.."
Sahabatku itu lalu mendekapku erat. Tidak lama, tapi cukup membuat kesedihan yang tertahan sejak tadi, luruh dan menemukan pijakannya. Perlahan-lahan, kekosongan itu terisi dan menemukan bobotnya kembali. "Yuk, kita makan dulu sambil nyusul temen-temenmu yang lain, kamu harus makan dan harus memutuskan apa yang mesti dilakukan selanjutnya".

Kami bergabung dengan Upi, Erie dan Nunu yang sudah terlebih dahulu makan di tukang nasi goreng depan RS. Sepanjang makan, sahabatku itu bercerita tentang bagaimana dia menghadapi kematian ayahnya dulu, juga mahasiswanya yang tiba-tiba terkena serangan epilepsi. Sahabatku ini, tidak sesentimentil aku dalam menghadapi kematian. Sikapnya yang ringan menghadapi situasi seperti itu dan keputusannya untuk hadir dan ada bersamaku pada saat itu, membantuku dengan cara yang sulit terjelaskan untuk menemukan bobot ditengah ruang kosong yang hadir seiring kepergian Paskalis.

Setelah makan kami ke rumah duka. Bertemu keluarganya yang meminta penjelasan tentang saat terakhir kehidupan Paskalis, karena sebagian orang menyangka Paskalis meninggal karena kecelakaan. Sesudahnya kami berpamitan dengan keluarganya. Aku dan sahabatku berpisah di tempat parkir Rumah Sakit. Ia kembali ke lab robotiknya, aku dan teman-teman lain kembali ke tobucil.

Di tobucil, kekosongan itu terasa mengambang. Bangku di depan tobucil yang beberapa jam lalu masih diduduki Paskalis, tasnya, motornya yang terparkir di halaman tobucil. Semua hadir tapi dengan rasa yang kini kosong, karena Paskalis pergi meninggalkannya tiba-tiba. Aku memutuskan pulang. Memasang kabar duka cita di status fb tobucil dan setelah itu badanku tak sanggup lagi untuk terjaga. Aku lelap sementara tubuhku bekerja keras, memulihkan diri dari kelelahan fisik dan mental yang mendera sepanjang hari.

***

Tadi pagi:

Tanto membangunkanku dengan telepon. Kepalaku pusing, ternyata jejak kekosongan itu masih ada meski dekapan sahabatku juga masih terasa. Dan aku  masih ada di sini, kembali ke tobucil. Sementara kamu, Paskalis, sudah kembali pulang, kehadapan Sang Pencipta.

***

Untuk Paskalis Trikaritasanto (13 april 1974 — 26 november 2009). Ketulusanmu, dedikasimu dan komitmenmu pada klab nulis tobucil & klabs, abadi selalu di hatiku, di hati setiap anggota klab menulis. Terima kasih untuk hidup dan kehadiranmu di hati kami. Selamat jalan sahabat. Selamat kembali pulang ke kerajaanNya.

***

[Yus, terima kasih kamu sudah hadir menemaniku]

Monday, November 23, 2009

Nostalgia Kebersamaan Sekawanan Menjelang Umur Mereka yang Ke-40 Tahun


'cukup  mooi indie ga?' foto by vitarlenology

Malam minggu kemarin, aku menjumpai sahabatku si pembalap gadungan di lab robotiknya. Meski hujan mendera-dera sepanjang siang sampai malam, tak mengurangi semangatku menjumpainya. Kangen saja berjumpa dengannya. Coklat panas menemani kami, berbagi cerita tentang hidup  masing-masing sebulan terakhir ini. Tiba-tiba, hp sahabatku berdering. Teman-teman lamanya waktu di UKM Teater mahasiswa dulu, datang mengunjunginya di lab. Aku hadir, menangkap kisah sekelumit masa lalu sahabatku yang sedang mengumpulkan semangatnya untuk menulis desertasi doktornya itu. Sambil aku jadi tau kisah-kisah kegilaan UKM teater Institut paling kondang di negeri ini.

Pertemuan kawan lama, tentu tak jauh dari kisah-kisah nostalgia. Mengenang kembali kejadian-kejadian 'lucu' dan kegilaan-kegilaan yang pernah dilakukan. Singkat kata, tiga orang teman sahabatku itu kembali mengenang-ngenang indahnya kebersamaan mereka di UKM yang sangat mereka banggakan itu. Dan aku sebagai orang yang tidak terlibat dalam kesejarahan mereka, mengambil peran sebagai pendengar. Mulai dari kisah-kisah yang biasa-biasa sampai yang ganjil sama sekali.

Sepintas dari yang mereka kisahkan, hidup tiga orang teman sahabatku itu nampaknya bisa dibilang lumayan mapan. Yang dua membuka jasa konsultan bisnis dan yang satu bekerja di sebuah pertambangan dengan gaji ribuan dollar perbulannya. Sabahatku, di mata teman-temannya tentu saja dianggap orang sukses dengan prestasi robotiknya. Tanggal 10 November lalu, Slamet Rahardjo mewawancarai sahabatku di sebuah stasiun televisi dan menyebutnya sebagai pahlawan Indonesia moderen. Sahabatku, tentu saja ngakak-ngakak, tapi dalam hati saja. Dia tidak merasa seperti itu. Semua sorotan yang tiba-tiba berlimpah ruah datang kepadanya, ditanggapinya dengan sangat santai. Dan aku yakin sahabatku ini bisa terhindar dari krisis eksistensi di usia 40-an nanti.

Udara dingin dan hujan, membuat kami semua merasa lapar dan memutuskan untuk pergi keluar dan makan malam bersama, tidak jauh dari lab robotik sahabatku itu. Saat makan, barulah aku tau maksud dari kunjungan tiga orang teman sahabatku itu. Atas dasar rasa rindu akan suasana kebersamaan yang membentuk mereka sedemikian rupa di UKM Teater itu, teman-temannya mengajak sahabatku membuat 'sesuatu' bersama-sama lagi. Bahkan mereka ingin menyatukan kembali teman-teman lama mereka di UKM itu untuk membangun kembali sesuatu bersama-sama. Bagi mereka dan tentu juga sahabatku, apa yang telah dilalui bersama di UKM Teater itu memberi pengaruh yang cukup besar pada kehidupan mereka saat ini. Semua kegilaan-kegilaan yang pernah mereka lakukan dan kultur komunal yang membentuk mereka, seperti sebuah training camp kehidupan yang meskipun singkat, tapi penting artinya bagi hidup mereka masing-masing.

Aku menyimak gagasan yang ditawarkan teman-teman sahabatku itu. Sangat abstrak sih. Sahabatku itu berkata padaku saat teman-temannya pulang, 'ga kebayang aja gimana cara mewujudkannya.' Aku ga akan membahas gagasan apa itu, karena bisa jadi gagasan itu masih di rahasiakan. Lagi pula yang menarik buatku sebenernya soal nostalgia kebersamaannya itu. Karena aku memperhatikan nostalgia kebersamaan ini terjadi bukan hanya pada teman-teman sahabatku saja, tapi juga di beberapa kelompok pertemanan yang pernah aku jumpai. Kekompakkan yang pernah dialami pada suatu masa di waktu muda, lalu ketika beranjak tua, merindukan kembali suasana itu. Lantas bermimpi bisa mengulanginya kembali dengan membangun proyek atau bisnis bersama. Banyak yang 'gagal' mengulang, karena setiap orang yang pernah begitu kompak itu bertumbuh. Berubah. Berkembang sesuai waktu dan hidup yang dijalaninya. Dan bukankah kekompakan itu sendiri bergerak mengikuti konteksnya?

Aku hanya kepikiran aja soal nostalgia kebersamaan itu. Salah satu sepupuku pernah punya gagasan yang kurang lebih sama dengan teman-teman sahabatku itu: membangun usaha keluarga, untuk meminimalisir 'gap' ekonomi  dan kesejahteraan sosial antara sepupu-sepupuku yang lain dan tentu saja dengan semangat nostalgia kekompakkan kami di masa kecil dulu. Niatnya pengen sama rasa sama rata. Tapi kemudian niatnya bubar di tengah jalan, ketika sadar bahwa menyamakan 'akselerasi' langkah antar sepupu-sepupuku saja hal yang luar biasa sulitnya. Meski seketurunan, namun sejarah kami pada perkembangannya dipisahkan oleh konteks yang berbeda arah satu sama lain. Ya, memang betul saat kecil dulu kami sedemikian kompaknya dan menghabiskan banyak waktu bersama, tapi setelah kami sama-sama bertumbuh, kami menempuh sejarah kami masing-masing. Ketika dipertemukan lagi, rasa kekompakkannya tak pernah lagi sama. Bahkan bagiku pribadi, banyak garis terputus yang aku kenali (belum tentu aku pahami) dari hidup sepupu-sepupuku itu.

Mungkin teman-teman sahabatku itu juga sama bingungnya dengan sahabatku tentang bagaimana mengulang kisah sukses kekompakkan mereka membangun sesuatu seperti yang pernah mereka lakukan di UKM teater di masa muda dulu. Jika mereka berhasil merekonstruksi kembali perjalanan kekompakkan itu, aku yang cenderung ga yakin kekompakkan yang sama bisa terulang untuk kedua kalinya, bisa meralat pandanganku itu. Setidaknya bisa memberikan sedikit harapan keberhasilan yang sama, jika ada contoh sukses.

Satu hal lagi yang terdengar mengelikan di telingaku, ketika teman-teman sahabatku ini berkata: 'ya kita perlu melakukan ini sebelum umur 40, kan life begin at forty.' Tiba-tiba aku langsung teringat tulisanku dengan judul yang sama. Aku malah jadi menduga-duga, jangan-jangan dorongan melakukan sesuatu bersama-sama kembali itu atas dasar nostalgia kebersamaan berkaitan dengan gejala-gejala krisis di usia 40-an? Mmmm..

what do you think, yus?

dan aku bisa membayangkan, seorang teman yang tidak setuju jika hal-hal seperti ini aku hubung-hubungkan dengan soal krisis usia 40-an..hehehe.. karena dia udah 41 tahun dan merasa bahwa dirinya selalu baik-baik aja... padahal... meneketehe..

Sunday, November 22, 2009

Postcard From Bayreuth



Sebuah postcard dari sahabatku di Bayreuth menyambutku di meja kerja yang kutinggalkan hampir dua minggu. Sahabatku itu, menuliskan sebuah quote yang dia terjemahkan dari postcard ini dan rasanya mewakili banyak kejadian yang terjadi akhir-akhir ini..
"Suatu saat mungkin aku akan tahu banyak hal yang ada di dunia, tapi kemudian aku bangun dan tetap merasa dan bertindak bodoh.."
thanks a million Dian..

Friday, November 20, 2009

Sebutir Kacang Meninggalkan Kulit


Jalan pulang pantai sundak foto oleh vitarlenology

Siang tadi di tengah hujan dan kehangatan meja kerjaku:

Kamu meminta pelukan. Aku memberikannya. Tapi yang kurasakan hampa saja. Seperti kulit kacang tanpa isi. Rasanya tidak sepenuh pelukan ibu. Aku tidak mengenalimu lagi. Suratmu membuatku merasa, aku ini bid'ah untuk proses kreatifmu. Aku merasa berhadapan dengan seorang fundamentalis. Mmm.. ralat, mungkin seorang idealis pemula yang sangat-sangat yakin dengan dunia di balik cakrawala sana seperti yang ada dalam bayanganmu sendiri. Kamu benar. Aku yang mulai menjadi semakin pragmatis oleh pengalaman. Dan idealismemu memberi hak kenaif-an mutlak atas apa yang pilih. Lalu keberbedaan menjadi jurang yang tak terjembatani antara aku dan kamu.

Fine. Kamu di seberang sana. Dan aku di sini. Silahkan saja.

Aku menatap matamu, mencoba menemukan jembatan. Yang kutemukan hanya rasa dingin dan kelam gerbang benteng kekakuan hatimu. Tak ada peluang untuk kompromi. Percuma aku menembusnya. Aku terlalu pragmatis untuk menawarkan perubahan padamu. Mungkin bukan hanya pragmatis, tapi juga malas atau  merasa perlu menghemat energi dan pikiran dan memilih memikirkan yang bisa dikompromikan.

Kembali aku mencari dirimu dari matamu. Berharap menemukan  kata-kata bijak yang seringkali kau katakan, kau nasehatkan dan kau tuliskan. Tapi aku tak menemukanmu. Dirimu bukanlah  kata-kata bijakmu itu.  Aku hanya menemukan kamu yang ada dalam tulisanmu. Berjarak dan tak ada orang lain dalam kehangatan yang kau ciptakan. Mentari hanya untuk dirimu saja. Bukan orang lain sepertiku dan mungkin juga bukan untuk ibumu. Mungkin memang bukan sekarang bagimu mengerti apa artinya menjadi diri sendiri dan menjadi apa yang kau tulis. Suatu saat kamulah yang memutuskan nilai kebaikan dan keburukannya. Bukan aku, bukan papamu, bukan pula orang-orang yang berusaha membantumu.

Jika Rama bertanya sore ini: adakah alasan untuk menyayangi dan membantu? rasanya bagiku padamu adalah alasannya untuk menyayangi dan membantu itu sendiri. Aku tidak tau apakah itu mengandung ketulusan atau tidak karena personalitas dan pekerjaan menjadi kacau setelah bingung harus ditempatkan dimana.

Sama seperti keimanan yang kau temukan pada proses berkaryamu, aku pun menemukan keyakinan pada proses perjalananku membangun ruang: aku hanya mengantarmu sampai kau bisa terbang bebas. Apakah itu berarti kau bisa menjadi penyintas atau tidak. Dirimu itu ada ditanganmu sendiri.

Kulepaskan kamu pergi.

Untuk A.R.S. yang tak lagi aku kenali..


Aceh 56. 19:10

Wednesday, November 18, 2009

Tiga Belas Hari


foto oleh vitarlenology

Malam terakhir bersama wajah-wajah polos memanggilku tante. "Jangan pulang tante, tinggal lah lebih lama lagi.."
Maaf sayang, aku harus pulang, kembali bekerja. Menyelesaikan urusan-urusan di rumah kecilku itu. Aku segera kembali menjumpai kalian lagi. Love you so much.

Tiga belas hari, menemukan remedy, perdamaian baru dengan diri.
Mungkin tugasku adalah mendampingimu menemukan keputusan yang salah, hingga kau bisa menarik pelajaran dari pengalaman itu. Meski urusan belajar bukan tanggung jawabku. Kamu yang memutuskan akan mengambil pembelajaran itu atau tidak. Aku hanya cukup mengantarkanmu saja.
DJava memberi kunci petualangan baru pada pemahaman proses kreatif yang selama ini selalu menakjubkan untukku: bagiamana bisa partitur-partitur itu menjelma menjadi musik klasik yang sedemikian rupa. Memanageri konser Jawa Bali, terlibat dalam proses produksi konser, membuatku semakin yakin, keindahan yang hadir senantiasa, kapanpun kehadiran itu diinginkan, tidak akan mungkin terwujud tanpa kerja keras. DJava, the most promising string quartet in this country, aku beruntung mendapatkan kesempatan luar biasa memanageri kalian. Kalian menginspirasiku dan memberiku kebaruan-kebaruan, banyak.
Kebaruan-kebaruan itu adalah pilihan. Dan aku memilih mendapatkannya sebanyak mungkin (rasanya tak sabar menunggu saatnya perjalanan bersamamu tiba. Maret 2010. Aku dan umurku yang ke 33 bersamamu menjejak Phuket. Lalu kita akan berkata pada diri kita masing-masing; aku akan kembali menikmati indahnya sore dan udara sejuk Volunteery Park dan kamu kan sampai di negeri Paganini, menyambangi makamnya memberi hormat pada inspirasinya padamu.
Lalu perdamaian juga berarti mengahadapi kejawaan yang lekat dan inheren itu.
Seperti meralat penyangkalan identitas dan aku sedang mempersiapkan diriku di tahun depan, menghadapinya face to face, kejawaanku itu.

Aku kan pulang, menjumpai meja kerjaku. Menjumpai rumah kecilku dan seluruh penghuninya.
Menyongsong teman-temanku. Aku rindu coklat panas toko coklat bersama pembalap gadungan. Aku rindu pasar baru dan gang tamim bersama Mei. Aku rindu warung purnama bersama cicik. Aku rindu jendela kamarku. Aku ingin memeluk ibuku. Aku merindukan kota yang kualami dengan kecintaan dan kebencian.


Setelah pulang nanti, aku akan kembali merindukan berbaring di kamar ini lagi. Bermain bersama kalian lagi.

Bahkan Meener Jansen, tak sabar menunggu kepulanganku:
Welcome home neng!
Not yet. I'll be home on this friday.. :D

Thursday, November 12, 2009

This is It (2009)


**** 1/2

Dua kali nonton film ini, di Bandung dan di Jogja. Dua-duanya tetap membuatku terharu. Ternyata bukan hal yang mudah menjadi 'King of Pop' dan sampai akhir hayatnya ke 'perfeksionisan' Michael Jackson (MJ) dalam mengemas pertunjukkannya, menjadi bukti bahwa gelar yang dia sandang itu bukan serta mereta menempel tanpa tanggung jawab.

Semula film ini dimaksudkan MJ sebagai film yang akan dipersembahkan buat ketiga anaknya. Dokumentasi pribadi yang juga luar biasa. Namun dengan kematiannya 18 hari sebelum konser This is It, film dokumentasi proses persiapan dan gladi resik konser ini, menjadi penting bukan hanya bagi para penggemarnya, manum bagi semua orang yang ingin melihat sisi lain MJ. Semua kru yang bekerja bersama MJ, mengakui bahwa MJ adalah sosok yang sangat bersahaja dan lembut. Aku dan mungkin penonton lain bisa merasakan dibalik ke perfeksionisannya, MJ adalah sosok yang rapuh. Seperti patung porselein yang lembut tapi mudah pecah. Kedikdayaan dirinya dibangun dari kerapuhan jiwanya dan banyak kegetiran hidup yang harus ia lalui. Sangat terasa ketika bekerja bersama dengan para kru, MJ dipenuhi dengan rasa welas asih. Mengganggap bahwa semua orang yang mendukung pekerjaannya adalah satu keluarga dan semua bekerja berlandaskan rasa cinta dan saling menghormati. Film yang di sutradarai Keny Ortega ini memperlihatkan bagaimana setiap lagu yang rencananya akan dibawakan MJ dalam konser This is it, di persiapkan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras dari semua kru yang terlibat. This is It menjadi film dokumenter konser paling laku dalam sejarah perfilman dunia.

Menonton This is It membuatku menyadari, menjadi sosok yang inspirasional itu sama artinya bekerja keras berkali-kali lipat dari orang kebanyakan. Ketulusan dan perjuangan untuk berusaha tulus dengan kerja keras itu yang menentukan keabadian dari inspirasi itu. Badan boleh terkubur dalam tanah, tapi yang membuat seseorang selalu hidup adalah inspirasinya. Dan kurasa sepanjang hidupnya MJ bekerja keras untuk itu. Film ini membuktikannya.

Tuesday, November 10, 2009

Never Gonna Give You Up - Stone Gossard

Interpretasi Stone Gossard, gitarisnya Pearl Jam atas lagunya Rick Astley yang kondang di pertengahan 80-an.. wow

Sunday, November 08, 2009

Hasta La Vista


Sore di Kaliurang KM5,  foto oleh vitarlenology

Terpaksa mengatakan hasta la vista atau mendengar orang lain mengatakan itu, ternyata sama ga enaknya. Apalagi jika itu dikatakan saat aku masih berkeyakinan bahwa itu bukan keputusan yang semestinya aku ambil. Itu adalah keputusan terakhir. Atau, hal itu terucap dari orang yang tidak cukup punya energi menghadapi tantangan bekerja bersamaku. Aku jadi merasakan ulang, apakah aku yang terlalu tidak sabar menghadapi orang yang aku yakin dia mampu melakukannya? atau aku yang terlalu 'kurang kerjaan' memberikan tantangan berlebih pada orang yang ternyata tidak cukup punya semangat untuk menjalaninya. Bisa jadi tantanganku itu tidak cukup berarti baginya. Jadi daripada membuang-buang waktu menghadapinya lebih baik dihindari saja. Ya,  mungkin ini caraku menghibur diriku sendiri dari rasa kecewa saat orang yang aku yakin mampu, ternyata lebih memilih tidak menerima tantangan dariku dan meninggalkanku.

Life goes on. Hidup senantiasa bergerak terus. Maju. Terpaksa melepaskan dan berusaha merelakan orang-orang yang aku yakini bisa, begitu caranya belajar menerima kehidupan dan ketidak mengertian dalam hidup. Mungkin aku terlalu menaruh harapan besar pada orang-orang seperti itu. Yang aku proyeksikan adalah keinginanku bukan keinginannya. Dan saat keinginanku itu tak kesampaian, aku harus berdamai dengan diriku sendiri dan rasa kecewaku.  Aku meyakinkan diriku, bahwa ini adalah proses seleksi teman perjalanku. Cita-citaku ini membangun apa yang disebut 'literasi dalam keseharian' tidak selalu ditemani oleh teman perjalanan yang sama yang bisa setia dari awal memulai langkah sampai saat ini. Kenyataan sendiri telah membuktikan itu. Bahkan di awal saat cita-cita ini disepakati bersama (oleh dua pendiri tobucil lainnya), di masa persiapan aku sudah ditinggalkan. Terpaksa menghadapi kondisi dan situasi dimana aku harus berjalan terlebih dahulu, karena waktu perjalanan dan semua yang sudah ditentukan tidak dapat ditarik mundur. Di perjalananku itu yang lain mengikuti dari belakang sementara aku meraba-raba apa yang akan kuhadapi nanti sambil mencoba menemukan keyakinan diriku sendiri bahwa temanku itu benar-benar ada menyertaiku, meski kehadirannya kadang seringkali tidak berhasil meyakinkanku. Sampai akhirnya aku benar-benar sadar, sendirian karena yang lain memutuskan untuk menempuh jalan yang lain, dan aku memutuskan untuk terus, semua harapan dan keyakinan yang aku bangun dan aku bagi bersama, terpaksa runtuh dan perlahan-lahan kubangun lagi yang baru. Seperti sebuah perancangan ulang tahapan proses, karena terlalu banyak hal tak terduga dan tak diperhitungkan sama sekali.

Pada  bangun baru proses perjalanan selanjutnya, kuputuskan menyusun perjalanan cita-citaku itu seperti modul-modul yang bisa kusambung-sambungkan seperti bentukan yang sudah kurencanakan. Namun ada saatnya, aku harus melepaskan salah satu modul itu, karena ternyata modul itu bukanlah modul yang cukup kuat untuk disambungkan dengan yang lain. Apa yang mesti kulakukan pada titik ini? memaksakannya berkait dan melemahkan bangunan bentuk yang sedang disusun, atau terpaksa menyingkirkannya untuk menyelamatkan  yang lain (pada titik ini, aku menganggap menyingkirkan dan membuat menyingkir, tipis sekali perbedaannya. Dua hal ini hanya membedakan rasa bersalahku segaris saja. Menyingkirkan berarti rasa bersalahku lebih tebal satu garis, sementara membuat menyingkir dengan sendirinya hanya membuat rasa bersalahku berkurang satu garis saja. Dua-duanya tetap menyisakan perasaan bersalah karena diri telah gagal membuat orang lain mengerti, gagal membuat modul yang baik seperti yang kuharapkan). Namun begitulah hukum alam bekerja. Bahkan  Gregor Mendel membuktikan, selalu ada  sifat-sifat resesif yang diturunkan secara acak pada setiap mahluk hidup. Kadang kita sulit menduganya kapan sifat itu akan muncul, tapi pada saat kemunculannya, pilihannya adalah memisahkannya atau membuatnya berjuang keras menyesuaikan diri dengan  keadaan mayoritas. Namun segregasi dan isolasi seringkali bukan pilihan tepat untuk hidup sebagai yang bebeda. Alam dan kenyataan menuntut percampuran dan hukum survival of the fitness membuat pilihannya menjadi sederhana saja. Sahabatku si pembalap gadungan bilang, menjadi looser selamanya, atau menjadi hebat dan tangguh kerena bisa menyandi penyintas dengan keberbedaan dan keresesifannya itu.  Dan setiap orang adalah penyintas untuk keresesifannya dan keberbedaannya masing-masing. Bagiku kemudian, ujung-ujungnya semua kembali ke persoalan negosiasi soal mengerti dan dimengerti dan menerima bahwa orang lain memang belum bisa mengerti.

Satu hal yang aku sadari dari proses melepaskan ini adalah, bahwa dimengerti atau tidak itu hanya persoalan waktu. Sekarang mungkin belum (daripa mengatakan tidak sama sekali) mengerti, mungkin nanti. Toh setiap orang punya waktunya sendiri. Lagi-lagi aku mengingat perkataan temanku si pembalap gadungan itu, bahwa hal yang lumrah ketika kita mencoba untuk berpikir lebih visioner dan jauh ke depan, orang menjadi sulit menangkap apa yang kita maksud, karena semua itu belum ada dalam bayangan mereka. Bahkan bagi si visioner sendiri yang dia visikan itu belum tentu sesuatu yang benar-benar  jelas. Orang yang visioner seringkali lebih membutuhkan dukungan untuk memperkuat keyakinan bahwa dia bisa menemukan cara untuk merealisasikan visinya itu. Dengan keyakinan itu si visioner punya kekuatan untuk trial and error dengan caranya. Dukungan keyakinan itu seperti jaminan toleransi bahwa dia bisa memiliki keleluasaan untuk menemukan caranya merealisasikan visi dan misinya itu.

Jadi kukira mengatakan hasta la vista pada orang yang kuanggap bisa tapi ternyata belum, seperti menaruh sebuah harapan bahwa 'kita mungkin suatu hari nanti akan bertemu lagi dalam situasi dan kondisi yang lebih baik. mungkin di titik ketika aku, kamu sudah bisa saling mengerti keinginan masing-masing. Jadi, sampai bertemu lagi, hasta la vista baby..

Terima kasih sudah bekerja keras dan memberikan yang terbaik yang kamu mampu selama berjalan bersamaku.

Tuesday, November 03, 2009

Jangan Katakan 'Tidak Bisa' Padaku, Sebelum Kau Mencobanya


'head inside the box' foto by vitarlenology, 2009

Apa yang harus kulakukan, ketika menghadapi seseorang yang kutawari sebuah kesempatan untuk berkembang (tentunya dengan keyakinan bahwa dia bisa melakukannya), tapi jawaban yang kudapatkan adalah "saya ga mau. Ga aja, karena perasaan saya mengatakan demikian. Takutnya nanti kalau dipaksakan malah merusak semua yang sudah saya kerjakan." Aku tentu saja marah tapi lebih besar merasa kecewa karena aku tidak menyukai sikap menyerah sebelum mencoba.  Bagaimana jika perasaannya itu disesatkan oleh ketakutan untuk mencoba hal baru?  Rasanya seperti sebuah harapan baik di runtuhkan oleh ketakutan keluar dari zona aman. Apalagi jika jawaban itu datang dari orang yang aku yakin bahwa dia bisa melakukannya dan selama ini aku memberinya kesempatan untuk belajar dan melakukan kesalahan. Aku punya cukup banyak toleransi untuk kesalahan dalam belajar daripada penolakan sebelum mencoba.  Lalu sahabatku si pembalap gadungan itu bilang '.. hey c'est la vie.. been there done that! and I ain't regret it.. if they can't manage with my way (which I believe it's for they own goodness in the future).. hasta la vista sucker!' 

Dalam sebuah kelompok kerja, tidak mudah membuat setiap anggota kelompok bisa dengan mudah bergerak senantiasa sebagai bagian dari dinamika merespon perubahan dan perkembangan yang ada. Jauh lebih mudah jika setiap orang bisa menemukan ritme peregerakannya dalam dinamika kelompok, meski mereka bergerak pelan daripada satu pihak memutuskan diam di tempat karena takut keluar dari lingkaran kenyamanannya. Apalagi jika yang dilakukan oleh kelompok ini adalah sebuah pekerjaan dimana kelompok itu sendiri yang mesti menemukan sistem, cara dan aturan mainnya sendiri untuk sebuah misi yang disepakati bersama.

Sebagai team leader, tentunya untuk sampai pada keputusan 'hasta la vista loser..' ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan, untuk memberi nilai pada keputusan itu: apakah putusan itu menjadi 'adil' atau emosional belaka. Dalam hal ini, aku berusaha keras mengesampingkan rasa kecewa atas penolakan itu, egoku yang merasa ditolak otoritasnya coba menyisih dulu, dan rasionalitasku mengemuka untuk menemukan jalan membela kepentingan yang lebih besar: tujuan dari kerja bersama dalam kelompok ini.  Apakah penolakan ini akan berdampak pada kekacauan sistem kerja dalam kelompok? kontra produktif dengan visi, misi dan tujuan yang hendak di capai? atau secara sistemik tidak berdampak apa-apa, hanya ego pribadi sebagai team leader saja yang terusik? Jika ternyata yang pertama, tentu pertimbangan dari anggota kelompok yang lain yang merasakan dampak dari 'ketakutan yang tak beralasan itu', perlu memberikan pandangannya. Jalan apa yang mesti di tempuh untuk menghadapi sikap anggota kelompok yang seperti itu. Prosedur apa yang disepakati untuk memastikan bahwa hal ini jangan sampai mengganggu  kerja dan pencapaian anggota kelompok yang lain. Lalu pilihan-pilihan apa saja untuk menyelesaikan masalah ini. Dari pilihan yang terbaik menurut kelompok sampai yang terburuk: 'hasta la vista ..'

Dalam situasi seperti ini, team leader bertindak seperti hakim yang menyelesaikan dan memutuskan. Untuk itu, semua rasa marah dan kecewa harus bisa diselesaikan terlebih dahulu. Tentunya aku mesti memahami dimana posisiku sesungguhnya. Sahabatku si pembalap gadungan mengingatkanku dengan dua pertanyaan: 'should I step back right now or this is my kingdom and I'm the queen?'. Dua-duanya sama mengandung resiko yang pertama: penolakan satu jika dibiarkan akan menimbulkan penolakan-penolakan lain. Ini bukan sekedar persoalan menegakkan otoritas, tapi bagaimana belajar mempertahankan keyakinan dengan argumentasi yang bisa diterima.  Sebuah tim yang dibangun dari gagasan yang lemah secara argumentasi akan sulit untuk menemukan dan membangun karakternya sendiri. Yang kedua resikonya seperti yang diingatkan sahabatku: 'prepare for another addition in your enemy list. Untuk resiko ini, rasanya aku sudah terbiasa menghadapi situasi dimana tidak semua orang setuju dan mengamini keputusanku. Ada bagian dari ketidak setujuan itu yang bisa aku simpan sebagai modalku membangun argumentasi dari keputusan-keputusan yang aku ambil, tapi sebagaian besar dari ketidak setujuan itu justru memberikan peluang bahwa tidak semua orang memilih apa yang aku pilih, karena itu lakukanlah tindakan yang tidak disetujui semua orang itu dengan sebaik-baiknya. Temukan argumentasi yang bisa memberi pandangan lain pada orang-orang mulanya tidak setuju menjadi 'sedikit setuju' karena menemukan cara pandang yang berbeda atas keputusanku. Itu yang akan membuat musuh-musuhmu sekalipun menaruh hormat padamu (setidaknya pelajaran hidup seperti ini banyak kutemukan ketika menonton kehidupan para kriminal: Godfather, The Sopranos). Dengan mengerti resiko-resiko ini, kurasa kemarahan dan rasa kecewa akan menemukan argumentasi rasionalnya jika aku paham dan sadar betul diposisi mana aku berdiri.

Baiklah. Rasanya yang pertama harus kulakukan untuk mengahadapi penolakan ini adalah: menjelaskan kembali, mengapa aku memberinya sebuah penawaran dan meminta sebuah perubahan sudut pandang darinya. Menjelaskan alasan mengapa hal itu penting dilakukan untuk mencapai visi, misi dan tujuan bersama yang telah disepakati. Sekaligus juga menegaskan kembali tugas dan otoritas masing-masing. Tak lupa  menjelaskan apa resiko dan konsekuensi dari penolakan itu dan  jika akhirnya dia bisa bersepakat dan menerima tawaran itu, selanjutnya aku akan memberikan jaminan dukungan apa saja yang bisa dia dapatkan dariku sebagai team leader dan dari anggota kelompok lainnya. Hal yang paling diperlukan  untuk menemukan kesepakatan bergerak  bersama-sama dalam sebuah dinamika kelompok adalah keterbukaan termasuk terbuka dalam hal kelebihan dan kekurangan masing-masing dan tentunya  terbuka untuk bekerjasama serta menyadari dirinya bagian dari kelompok kerja bersama. Semua sama-sama belajar, semua sama-sama saling menguatkan dan mendampingi untuk menemukan kekuatan dan mengalahkan rasa takut untuk menemukan kebaruan-kebaruan dari cara melihat. Percayalah, semua yang kau takutkan itu, tidak semenakutkan yang kamu kira saat kau mencoba menjalaninya.

Namun, jika semua upaya itu hanya membuat kamu semakin bertahan dengan penolakanmu, with all due respect I'll said: 'hasta la vista, baby..'


thanks yus, you're god damned right.. xoxo!

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails