Friday, October 30, 2009

40 Miles from Denver



Aku lagi suka Yonder Mountain String Band. 40 Miles from Denver salah satu lagu favoritku.

It's a cold, cold moon out tonight
And it's a cold, cold point on your knife
Could I call myself a man if I left by the morning light?

And I'd be 40 miles from Denver when you woke up all alone
I'd be 40 miles from Denver and three days from my home
In that cool mountain air, on an Appalachian trail
Ohh, life is better there

It's a lonely road to travel on
But I've stood here waiting much too long
And I'd rather leave this minute than try to carry on

And I'd be 40 miles from Denver headed east bound on the track
I'd be 40 miles from Denver and trying to get back
To that cool mountain air, on an Appalachian trail
Ohh, life is better there

It's a cold, cold moon out tonight
And it's a cold, cold point on your knife
Could I call myself a man if I left by the morning light?

And I'd be 40 miles from Denver when you woke up all alone
I'd be 40 miles from Denver and three days from my home
In that cool mountain air, on an Appalachian trail
Ohh, life is better there (4x)
[ 40 Miles From Denver Lyrics on http://www.lyricsmania.com/

Friday, October 23, 2009

Tumbuh Bersama



Bagaimana tumbuh bersama-sama dalam sebuah ikatan pernikahan itu? Sebuah pembicaraan menarik muncul beberapa waktu lalu. Sambil menikmati coklat, kopi dan cheese cake bersama dua orang teman yang pernikahannya sedang dalam 'masalah'. Dua orang temanku ini, sama-sama menghadapi persoalan ketidak seimbangan ruang aktulasasi diri dari salah satu pasangan yang menyebabkan ketidak nyamanan salah satu pihak. "Don't join this club.. ," temanku si pembalap gadungan itu, memperingatkanku. Dia tidak ingin ketika aku menikah, mengalami masalah yang dialaminya sekarang.

Pertanyaan ini sebenarnya menjadi pertanyaanku sejak lama. Sepengamatanku, ruang tumbuh bersama dalam ikatan pernikahan itu seringkali menjadi medan pertempuran yang penuh persaingan dan ketegangan. Selalu ada pihak yang merasa di kalahkan dan dianggap menang sendiri. Akhirnya tumbuh bersama itu seperti situasi dua pohon besar yang tumbuh berdesak-desakan di dalam pot sempit. Tanaman itu pada akhirnya tumbuh seperti bonsai yang dikerdilkan. Atau seperti dua ladang yang terpisah jauh yang satu menggarap sawah yang satu menggarap ladang jagung.

Namun sebelum bertanya bagaimana tumbuh bersama dalam ikatan pernikahan, kurasa penting untuk bertanya, apakah pasangan kita sadar bahwa ketika komitmen pernikahan itu dinyatakan, masing-masing akan tumbuh dan berkembang bersama-sama. Menjadi dua batang pohon yang tumbuh berdampingan. Mungkin banyak yang tidak menyadari hal itu. Aku memperhatikan, banyak pasangan yang menuntut pasangannya melebur dalam hidup salah satu di antara mereka. Dunianya tidak boleh lebih besar dari dunia pasangannya. Pernikahan kemudian menjadi komitmen untuk berkompetisi dengan dunianya masing-masing, bukan lagi komitmen untuk memperluas ruang dengan mengapresiasi ruang masing-masing.

Ya tentu saja hal ini mudah dikatakan sebagai teori, tapi bukan hal yang mudah untuk di jalani. Apalagi jika yang mengatakannya belum menikah seperti aku. Dengan mudah aku akan dibilang sok tau "Kamu kan belum merasakan sendiri.." heheheh.. ya apa yang kutulis di sini adalah pandanganku dalam rangka "Don't join this club". Pemahamanku yang kuperoleh dari mengamati kehidupan pernikahan sahabat-sahabatku yang beraneka ragam dan beberapa diantaranya berada di ujung tanduk karena sulit menemukan ruang negosiasi itu.

Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, bisakah tumbuh sendiri itu seperti tanaman-tanaman di hutan. Sebagian saling menumpang,  sebagian tegak memayungi, tapi semua bisa leluasa dan menumbuhkan potensinya. Tiba-tiba aku jadi kepikiran: 'tapi tumbuhan di hutan itu kan banyak sekali jenisnya. Meski tumbuh bersama-sama, belum tentu semua bisa tumbuh jadi kanopi. Ada yang justru menempati posisi kasta terendah dalam dunia tumbuhan. Setiap tumbuhan kanopi justru menjadi tumpangan tumbuhan-tumbuhan lain. Setiap tumbuhan kanopi itu seperti keluarga yang menaungi banyak kehidupan di dalamnya untuk juga tumbuh bersama-sama.' Mmm.. kalo gitu, mungkin pertanyaan utama pada diri sendiri yang paling mendasar adalah: 'mau menjadi seperti pohon apa aku ini?' Namanya juga pasangan, pasti ada peran dan posisinya masing-masing yang menjadi bagian untuk membentuk fungsi dan peran yang lebih besar. Kurasa untuk bisa menjawab ini, pertanyaan paling mendasar setiap orang: 'mau menjadi manusia seperti apa aku ini?' setelah selesai dengan persoalan mengenali diri sendiri, barulah  bisa mengenali orang lain, mengenali jenis pohon seperti apa dia dan kemungkinan-kemungkinan untuk tumbuh bersama..

Mmmm...

Tuesday, October 20, 2009

Janji Pertemuan


Memandang Rumah dari Turangga, foto by tarlen

Seseorang bisa dipercaya atau tidak bisa dilihat dari janji yang dibuatnya. Bahkan secara jelas kitab suci menyebutkan, salah satu ciri orang yang munafik adalah orang yang jika berjanji dia selalu ingkar. Tidak perlu menyebutkan janji-janji yang besar: berjanji membuat dunia menjadi lebih baik misalnya. Janji-janji yang sederhana yang dianggap remeh temeh pun bisa jadi indikator apakah kita bisa mempercayai seseorang atau tidak. Janji pertemuan misalnya. Seringkali dianggap remeh. Janji bertemu hari Selasa Pk. 17.00. Setelah ditunggu sampai Pk. 17.10 yang berjanji tidak juga menampakkan batang hidungnya. Apalagi memberi kabar soal keterlambatan yang ada ketika di konfirmasi dengan entengnya mengatakan "aduh sorry, gue lupa. Besok lagi deh kita ketemu."

Perilaku seperti itu, sekali dua kali mungkin masih bisa di toleransi. Tapi jika itu jadi kebiasaan? Mmmm.. Ya, aku memang kesal dengan dengan perilaku salah seorang teman yang seringkali dengan mudah membatalkan janji hanya karena abai. Sementara aku sudah mengeplot waktuku, menggeser pertemuan dengan orang lain, untuk bisa komitmen pada janji yang sudah ditentukan dengannya. Namun beberapa kali yang terjadi seperti itu: di batalkan mendadak dengan alasan yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan tidak menghargai janji yang sudah dibuatnya sendiri. Dan parahnya seringkali yang bersangkutan tidak memberi kabar sama sekali, membuat aku menunggu dan merusak jadwalku yang lain. Saat aku konfimasi dengan mudahnya yang bersangkutan bilang: 'lupa'.


Aku jadi memeriksa kembali teman yang memiliki kebiasaan seperti ini. Aku tidak bermaksud menilai hidupnya, namun yang kuamati kebiasaan seperti ini berpengaruh juga pada keteguhan hatinya dalam menyelesaikan masalah. Kurang disiplin pada diri sendiri dan selalu punya argumen untuk membenarkan ketidak mampuannya atau kegagalannya dalam berkomitmen. Padahal untuk bisa mendisiplinkan diri sendiri ya bisa dimulai dengan menepati janji pertemuan yang seringkali di anggap remeh temeh itu. Kebalikannya, teman yang selalu menepati janji, jika terlambatpun memberi kabar, kuamati mereka lebih yakin dengan apa yang dia jalani. Tentunya karena orang seperti ini belajar berdisiplin dan komitmen lewat hal-hal kecil. Tentu saja dia bisa lebih menghargai dirinya sendiri dan orang lain. Bersama orang seperti ini, aku selalu merasa aku bisa mengandalkannya, ga ada keragu-raguan padanya.

Ku kira, ini bukan persoalan budaya atau kebiasaan jam karet yang identik dengan kultur bangsa ini. Tapi membiasakan diri menepati janji, tepat waktu, sebenarnya itu pilihan yang bisa dengan kesadaran dan tanggung jawab, dipilih menjadi komitmen pada diri sendiri. Bagaimana bisa berkomitmen pada hal-hal besar: cita-cita, rumah tangga, kemanusiaan, jika hal sederhana seperti janji pertemuan saja dengan mudah bisa dilanggar dan selalu ada saja alasan pembenarannya. Dalam hal ini aku teringat kata-kata Mario Teguh: "Tuhan akan memberikan kebaikan dan karunia kepada kita, jika kita berusaha memantaskan diri kita untuk menerima kebaikan dan karunia itu." Apakah kita sudah cukup pantas menerima karunia untuk menjalani hal-hal besar yang membutuhkan komitmen tinggi dan tanggung jawab besar, jika 'memantaskan' hal yang sederhana dengan menepati janji-janji pada temen sendiri saja, kita seringkali tidak mampu.

Jangan berjanji jika tidak mampu menepatinya.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails