Tuesday, September 01, 2009

Merantau (2009)


*** 1/2

Satu dari sedikit film Indonesia yang bikin aku penasaran. Lihat trailernya di Youtube membuatku menduga-duga 'ini film sepertinya tidak seperti film-film Indonesia yang lain..'. Mungkin aku memang sedikit under estimate pada film-film Indonesia kebanyakan, karena ceritanya seringkali kedodoram. Atau kalau ceritanya oke, penggarapannya yang kedodoran. Kalau engga ya sejenis film Indonesia yang 'Garin banget'.

Merantau jadi menarik karena dia film action yang mengeksplorasi jurus-jurus silat tradisional Minangkabau tanpa berusaha menjadi eksotis. Menurutku ceritanya juga ga berlebihan dan 'kepahlawanan' yang ditampilkan jagoannya pun masih dalam taraf wajar alias ga lebay. Ga ada bumbu-bumbu romance ga perlu dan yang penting berantemnya ga nanggung dan koreografinya cukup bagus. Semua ada pada takaran yang cukup menurutku.

Film ini ceritanya di tulis dan digarap oleh sutradara asing bernama G.H. Evans dan di produseri oleh istrinya yang orang Indonesia bernama Maya Barack- Evans. Bintang filmnya juga ga ada yang beken kecuali Christine Hakim sebagai ibu dari pemeran utamanya Iko Uwais. Alex Abba yang lumayan di kenal, di film ini juga ga sekedar muncul tanpa kemampuan. Aktingnya cukup lumayan. Bahkan pemain-pemain lain yang mungkin baru pertama kali main film pun aktingnya cukup lumayan. Yayan Ruhian juara silat nasional yang menjadi tokoh abu-abu bernama Eric pun aktingnya jauh lebih bagus daripada para bintang sinetron yang mengaku-ngaku bisa akting.

Jika berharap akan menemukan drama mengharu biru soal hidup di tanah rantau, ga bakalan di temukan di film ini, karena film ini beneran mengedepankan petualangan heroik tokohnya menyelamatkan seorang perempuan bernama Astri dari sindikat Trafficking. Dan Evans sebagai sutradara sekaligus penulis cerita, cukup bisa menahan diri untuk tidak berlebihan dalam mendramatisir tokoh utamanya. Evans cukup 'tega' dengan nasib tokoh utamanya yang berangkat dari logika kenaifan dan metafor bahwa yang dilawan bukanlah hal yang sederhana.

Selama hampir dua jam, Evans berhasil membuatku dan penonton lain tidak merasa bosan dengan film garapannya. Sempat muncul pertanyaan dalam benakku ' seandainya sutradara dan Director of Photographynya bukan orang asing, apakah film ini masih bisa semenarik ini ?' lagi-lagi aku belum yakin sama kemampuan sutradara, penulis dan DOP negeri sendiri. Karena aku melihat kecenderungan penulis cerita dan sutradara Indonesia yang senang melebih-lebihkan takaran. Ada hal-hal yang seharusnya berlebihan, seringkali malah pas-pasan, sementara ada hal-hal yang semestinya seadanya, malah di lebih-lebihkan. Kukira masih sulit untuk menemukan sutradara dan penulis cerita yang matang dan bijak alias bisa menempatkan persoalan dan drama sesuai dengan takarannya. Dan kukira lewat Merantau, para sutradara dan penulis cerita Indonesia akan belajar dari apa yang sudah dilakukan Evans.

Selain 'make up' dan darah yang masih kurang dan sedikit mengganggu, selebihnya film ini menurutku cukup berhasil sebagai sebuah film action silat Indonesia.

Tentang Merantau bisa buka websitenya: http://www.merantau-movie.com/

No comments:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails