Thursday, September 17, 2009

Mengerti Dengan Akal, Rasa dan Keyakinan

Foto by Tarlen

Apakah ada ajaran agama yang tidak masuk akal? Dan pagi tadi Qurais Shihab dalam acara Tafsir Al Mishbah menjelaskan bahwa, tidak mungkin ajaran agama itu tidak masuk diakal. Setiap ajaran agama itu dapat dijelaskan dengan akal. Hanya saja perlu diketahui bahwa untuk mencapai penalaran atas agama, tidak semua orang punya bekal yang cukup. Shihab mencontohkan: Jika kita pergi ke sebuah pedalaman, dimana masyarakatnya belum mengenal televisi sama sekali, lalu kita menjelaskan soal televisi, apakah mereka bisa mengerti? buat masyarakat pedalaman itu, mungkin televisi terdengar sebagai alat yang tidak masuk dalam akal mereka, tapi dalam konteks ini, televisi bukanlah sesuatu yang tidak masuk di akal.

Shihab juga mengingatkan, bahwa ketika sesuatu itu terasa tidak masuk di akal atau menurut kita tidak dapat di nalar oleh rasio, kita seringkali lupa bahwa ada alat lain untuk bisa membuat kita mengerti: Perasaan/hati dan jiwa/keimanan dan keyakinan. Shihab mencontohkan kembali: jika ada seorang ibu yang memiliki anak yang bodoh dan buruk rupa, lalu datang orang menawarkan seorang anak yang gagah dan sangat pintar untuk di tukar dengan anak yang bodoh itu. Tentu si Ibu akan lebih memilih anak yang bodoh dan buruk rupa karena pertimbangan perasaan karena itu adalah darah dagingnya sendiri.

***

Penjelasan soal memahami agama bukan hanya dengan akal semata tapi juga dengan perasaan dan keyakinan ini, mengingatkanku pada seorang teman yang begitu mengedepankan rasio untuk memahami bukan cuma agama tapi juga dirinya sendiri. Hasilnya, semakin besar ia berusaha merasiokan semuanya, semakin besar pula kekosongan yang ditimbulkannya karena ternyata semakin banyak hal yang tidak bisa dia pahami.

Aku sempat mengalami fase seperti itu. Dimana semua hal yang tidak aku mengerti aku kejar dengan pertanyaan yang menuntut untuk terjawab. Tapi hasilnya, semakin menemukan jawaban, semakin tidak memuaskan jawaban itu. Temanku yang satu lagi mengatakan, cobalah menemukannya dengan hati dengan rasa, menurut temanku dengan begitu aku akan menemukan keyakinanku kembali. Hal sederhana yang dia contohkan mulai belajar merasakan adalah dengan memperbanyak kontak dengan alam semesta. Dengan langit, dengan angin, dedaunan, burung-burung, rasakan kehadiran mereka di sekelilingku. Bicara pada mereka bahwa kamu menyadari mereka hadir dan aku merasakannya. Justru empat bulan di Amerika setahun lalu, aku mendapatkan kepekaan untuk merasa. Karena aku sendirian di tempat yang asing. Cara untuk bertahan hidup bukan sekedar dengan rasio dan akal saja, tapi juga dengan rasa. Ketika berpapasan dengan orang-orang di taman, subway, keramaian, tanpa memiliki kemampuan untuk merasa bahwa aku adalah bagian dari semesta dan semesta yang menaungiku terhubung denganku, aku akan sulit mendapatkan keyakinan bahwa aku bisa bertahan hidup di tempat yang sangat asing ini. Saat itu justru aku menyakini bahwa orang-orang yang kutemui adalah orang-orang yang baik yang membawa kebaikan untukku. Alhamdulillah. Empat bulan, meski perasaan kesepian karena terpisah dari sesuatu yang aku kenal selama ini, tidak membuatku kehilangan diriku. Aku justru menemukan diriku yang lain. Diriku yang punya kemampuan untuk merasa dan meyakini sesuatu. Itu sebabnya, bagiku setiap perjalanan kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritualku.

Saat pergi ke Sembakung Januari lalu, aku bener-bener ga tau sama sekali soal Sembakung. Persis seperti contoh orang pedalaman yang tidak kebayang bagaimana televisi itu. Tapi perasaanku membimbingku untuk sampai pada keyakinan, aku akan menemukan jalan untuk bukan hanya sampai di Sembakung, tapi juga bisa bertahan hidup sampai satu bulan di sana. Aku meyakini kebaikan yang menurut perasaanku akan kutemukan disana. Dan ternyata aku bukan hanya menemukan pemahaman baru dari pengetahuan bernama Hak-Hak Minoritas, tapi juga aku mendapatkan keluarga baru yang menerimaku dengan tulus. Mereka mungkin tidak bisa mengerti seperti apa hidup yang kujalani di luar Sembakung, tapi mereka merasa aku terhubung dengan mereka.

***

Merasakan semesta, membuat Tuhan terasa hadir dimanapun aku berada. Aku bisa merasakannya kapanpun aku mau. Aku menalarnya setiap saat bersamaan dengan aku merasakan dan meyakininya setiap saat. Ketika hanya nalar yang mendominasi caraku mengharirkan Tuhan, aku hanya akan mengalami banyak kekecewaan, karena yang terjadi kehadiranNya mesti sesuai dengan kalkulasi pikiranku. Padahal, aku sendiri tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengenalnya. Akan banyak hal yang tak terduka dan di luar prediksiku sama sekali. Kemampuan merasakanNya, akan membawaku pada kesiapan diri untuk menerima kemungkinan-kemungkinan di luar perkiraan nalarku. Dan keyakinan memberikan keteguhan hati untuk menghilangankan keraguan atas kehadiranNya.

Memang, seringkali nalar membawaku pada jebakan-jebakan yang justru menghilangkan kemampuanku untuk merasakannya. Karena seringkali mengerti dalam tataran nalar saja sepertinya sudah cukup. Jika aku berhenti pada tingkat ini saja, itu seperti aku buru-buru mengimani sebuah hubungan virtual saja. Hubungan itu hanya ada dalam pikiran, abstrak, semu, karena aku tidak merasakan kehadirannya yang nyata. Dan keyakinan yang hanya sebatas nalar saja, dengan mudah bisa digoyahkan. Karena itu tadi, perjalanan pikiran itu seperti sebuah labirin yang membingungkan dan penuh dengan jebakan kebuntuan. Rasalah yang kemudian menghadirkan pengalaman nyata. Pengalaman yang bisa teraba. Bukan hanya pikiran yang mengalaminya, tapi juga tubuh yang menjadi satu kesatuan dengan pikiran. Dan pengalaman itu menjadi utuh saat jiwa meyakininya bahwa aku benar-benar mengalaminya, dengan pikiran, rasa dan keyakinan.

Tuesday, September 15, 2009

Perjalanan Memaafkan

foto by tarlen


Hanya tinggal beberapa hari saja, rutinitas tahunan: berkirim sms maaf lahir dan batin, akan terulang lagi. Rutinitas kata 'maaf' yang hadir dengan redaksional yang begitu di pikirkan, puitis, lucu, atau ala kadarnya. Semuanya dengan maksud ucapan meminta maaf. Begitulah setiap tahun. Dan tentu saja provider seluler yang paling di untungkan dalam hal ini.

Maaf. Maaf Lahir dan Batin. Sebuah kata yang sedemikian mudah di ucapkan, tapi sulit memaknainya. Karena kata yang sama akan kembali berulang di Idul Fitri berikutnya dan seterusnya dan seterusnya. Namun apa sesungguhnya maaf itu? Beberapa tahun terakhir ini, kata maaf justru menggangguku. Mengusik bahkan menggugat banyak hal dalam diriku. Apa artinya, ketika aku mengatakan: 'Aku memaafkanmu' tapi setiap kali teringat rasa sakit yang ditimbulkan oleh ketidak mengertian seseorang yang muncul adalah rasa ngilu di hati yang entah sebelah mana. Apa juga artinya, berjabatan tangan, berpelukan, bertangis-tangisan saat bermaaf-maafan, jika yang setiap kali menghadapi hal-hal yang mengesalkan dari orang lain yang ada adalah marah dan benci di hati.

Lalu seperti apa maaf itu sesungguhnya? apa tindakan yang semestinya menyertai kata itu setelah di ucapkan pada orang lain? apakah setelah aku bilang: 'aku memaafkanmu', aku mendiskonek seluruh hubunganku dengan'mu' karena mengingatmu begitu menyakiti jiwa dan ragaku (setidaknya aku bisa tiba-tiba batuk-batuk atau gatal-gatal karena alergi ketika hal yang menyebalkan darimu muncul di kepalaku?) atau ketika aku bilang: 'mohon maaf lahir dan batin' itu berarti aku mesti memberi kesempatan lain bagi orang-orang yang sudah membuatku kecewa. Entah kesempatan itu untuk memperbaiki diri atau mengulangi kesalahan yang sama dan menambah kadar kekecewaanku padanya?

Mungkin selama ini aku bukan orang yang cukup pandai memberi maaf pada orang lain. Ketika orang yang begitu menyakiti hatiku meminta maaf, aku cenderung menerima maafnya dengan mengosongkan hatiku dari jejak apapun yang pernah ditinggalkan orang itu padaku. Bahkan aku menihilkan kehadiran dan keterhubungannya dengan diriku. Jika orang itu sungguh-sungguh meminta maaf atas segala kesalahannya dia bisa memulai kembali berhubungan denganku dari awal. Menorehkan kembali jejaknya dalam diriku, tapi jangan berharap dia akan menuliskannya di atas lembaran kertas putih bersih. Memang aku akan menyodorkan kembali kertas kosong padanya, tapi kertas itu meninggalkan jejak hapusan yang mungkin saja tidak sepenuhnya bersih. Bagaimanapun, jejak-jejak itu tersimpan dalam kekosongan yang baru. Seperti menulis diatas kertas dengan bolpen tanpa tinta. Tidak terlihat tulisannya, tapi tekanannya terekam di situ. Kamu hanya tinggal mengarsir tekanannya dengan pensil, maka muncullah kembali jejak-jejak itu. Atau, timpa saja dengan tulisan baru. Toh mungkin masih bisa di hapus juga. Meski jika sering di hapus, kertasnya bisa benar-benar sobek dan rusak.

Sejauh ini, aku memilih cara itu dalam menjalani kata: maaf dan memaafkan. Hapus, di tip-ex juga boleh, tapi jangan harap mendapatkan kertas yang benar-benar baru di kesempatan berikutnya. Setiap orang, termasuk juga aku hanya bisa mendapatkan selembar kertas saja. Besar kecil ruangnya, tergantung kita yang mengelola isinya. Persis seperti logika menulis atau menggambari selembar kertas A4. Mau di tulis dengan pensil, bolpen, spidol, itu semua kita yang memutuskan. Tapi kertasnya hanya selembar saja, karena di dunia ini, tidak banyak orang-orang yang mendapatkan kesempatan hidup kedua setelah mengalami pengalaman 'near death experience'.

Sejauh ini, baru sampai situ perjalanan maaf dan memaafkan yang bisa kulakukan. Aku bukan orang yang senang membalas kesalahan orang lain. Daripada membalas, aku lebih memilih untuk mencoba untuk mengerti posisi diriku dalam tindakan yang orang lain lakukan kepadaku dan setelah itu aku akan berusaha untuk menghapusnya dan menjadikannya lembaran kosong kembali. Hal ini pun belum tentu merupakan perjalanan maaf yang tepat dengan tujuan kebaikan dari maaf itu sendiri.

Jadi sampai dimana perjalanan maaf dan memafkanku ini akan menuju? entah lah.. jangan-jangan perjalanan maaf itu seperti menuju garis cakrawala. Tidak akan benar-benar sampai pada maaf itu sendiri, kecuali mendekatinya..


Tuesday, September 08, 2009

Pertanyaan-pertanyaan Untuk Diri di Bulan Ramadhan


Gambar dari sampul single 'Conquest' The White Stripes

"... This Ramadan we challenge you to fast. No matter what your take on religion is, the lessons of Ramadan can provide the spiritual oomph that many of us are lacking. By forcing a moratorium on consumption we can gain empathy for the needy, learn to control desires, understand the body’s capabilities and limits and confront weaknesses of the mind..." Adbusters

Ajakan Adbusters untuk berpuasa dalam rangka memahami arti menahan diri untuk mengkonsumsi secara spiritual, sungguh mengejutkan aku. Sebuah ajakan yang menurutku sangat berani yang dilakukan oleh sebuah jurnal 'mental environment' dan promotor 'culture jam' yang terbit di tengah-tengah komunitas sekuler dan agnostik. Tulisan yang mendukung ajakan ini di tulis oleh salah satu kontributor mereka, Ziauddin Sardar yang berasal dari Pakistan. Penjelasan Sardar tentang ramadhan sebenarnya hal yang sangat umum diketahui bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Penjelasannya ga jauh beda dengan penjelasan para ustadz di sini. Yang justru menarik adalah komentar bereaksi dari tulisan ini. Pro dan kontra mengenai hal ini, justru menyadarkanku untuk melihat kembali apa semangat ramadhan dan menahan nafsu mengkonsumsi.

Aku sepakat dengan salah satu komentar yang menyatakan bahwa banyak muslim yang menjalankan ibadah Ramadhan, menjadi begitu hipokrit. Seharian menahan lapar dan haus, namun saat waktunya berbuka tiba, nafsunya untuk memakan segala yang ada, menjadi dua kali lipat. Kenyataan yang kutemui pun menunjukkan, di bulan Ramadhan, bulan yang semestinya membawa semangat untuk merenungkan kembali 'kontrol diri' secara spiritual untuk memuaskan nafsu keduniawian ini, justru menjadi bulan dimana belanja menjadi berkali-kali lipat dari biasanya dengan alasan merayakan kemenangan di hari Idul Fitri.Apakah itu hal yang bisa dimaklumi, atau hal kontradiktif yang semestinya mengganggu?

Sebuah pertanyaan klise namun mendasar kembali muncul, menggugat diriku sendiri: lantas apa inti dari menyucikan diri di bulan ramadhan, jika satu bulan berlalu, kita kembali pada kebiasaan lama mengumbar hawa nafsu termasuk nafsu untuk mengkonsumsi dan ketamakan untuk menguasai apapun yang bisa di kuasai?

***

Seorang ustad berceramah di mesjid dekat rumahku. Suaranya menggema lewat loud speaker sampai-sampai duduk di dalam kamarku pun, aku bisa mendengar ceramah itu dengan jelas. Ustad itu menggangguku, ketika dia mengatakan: "Sungguh orang-orang tidak tau malu, makan di warung-warung makan pinggir jalan di siang hari, di saat orang-orang sedang berpuasa. Para pemilik warung-warung itu pun tak punya malu, karena menjajakan makanan di bulan puasa ini." Reaksiku dalam hati adalah membantah tuduhan tak tau malu itu dengan bertanya pada diriku sendiri, "Loh, mungkin yang berpuasa yang seharusnya malu, karena begitu manjanya, sampai-sampai meminta 'seluruh dunia' ikut berpuasa, biar dia ga tergoda oleh makanan-makanan enak di siang hari. Bagaimana bisa menganggap dirinya beriman karena berpuasa, jika puasanya sendiri ga mengalami ujian."

Hidup di negara dengan agama mayoritas seperti Indonesia, seringkali membuat pemeluk agama mayoritas lupa untuk tidak semestinya mendapat perlakukan istimewa seperti itu. Bagaimana bisa memberi dampak mendisiplinkan diri dengan berpuasa, jika yang selalu dituntut adalah dunia harus memaklumi bahwa dia sedang berpuasa. Sehingga semua mejadi wajar: atas nama puasa, tempat makan bisa di razia begitu saja, bisa tidur sepanjang hari karena sedang berpuasa, bisa malas bekerja dengan alasan berpuasa, bisa makan sepuasnya dikala berbuka. Kurasa puasa yang seperti itu tidak memberi dampak apa-apa terhadap upaya pendisiplinan diri.

***

Logika yang kurasa aneh, ketika orang sibuk makan sedemikian banyak, lalu buru-buru makan pil atau kapsul peluntur lemak atau sibuk sedot lemak, ketika berat badan dirasa sudah melampaui batas penampilan ideal. Kurasa logika seperti ini juga berlaku pada banyak ritual puasa. Seperti aku bilang tadi, seharian menahan lapar dan haus, ketika buka puasa, semua dimakan sampai kekenyangan. Atau, sebulan berpuasa, sebelas bulan lainnya, kembali korupsi, kembali berkhianat pada diri sendiri dan orang lain, mengikuti nafsu menguasai apa yang bisa dikuasai. Apa guna puasa yang seperti itu? Apa jadinya tubuh dan jiwa jika diperlakukan seperti itu? di rem mendadak hanya karena bulan puasa, tapi setelah itu di gas pol sampai ga tau caranya mengerem.. Sesuatu yang lumrah? atau sesungguhnya ga wajar?

***

Di bulan Ramadhan ini pula, aku kembali merasakan guncangan gempa bumi. Bukan hanya mengguncang tanah tempatku berpijak, namun mengguncang tubuh dan jiwaku juga. Bumi yang bergerak itu sedang berusaha menemukan keseimbangannya. Bagaimana dengan aku, manusia yang senantiasa bergerak setiap hari? kemana sesungguhnya aku bergerak? mencari keseimbangan kah? atau justru menjauhi keseimbangan dengan ketamakan dan kerakusan? Dan baru kusadari beberapa hari ini, sejak setahun lalu, aku selalu mendapat gempa bumi untuk tubuh dan jiwaku di setiap bulan ramadhan, sakit yang tiba-tiba. Entah itu demam yang sangat tinggi yang datang tiba-tiba seperti sebuah tamparan keras yang tak terlihat wajah si penamparnya. Atau gejala-gejala alergi yang datang perlahan-lahan tapi memukul-mukul kesaradanku bahwa bukan hanya tubuhku yang perlu diperhatikan tapi juga jiwaku. Jiwa yang mengendalikan tubuh.

***

Tuhan,
Jika bulan ini memang Kau maksudkan bagi manusia untuk menguji batas kelemahan tubuh dan jiwanya, aku sadari, aku ini umatmu yang sungguh-sungguh lemah.
Jika karena kelemahanku ini, aku mengambil hak orang lain yang semestinya tidak ku ambil,
maka dari segala kelemahan itu, berikan aku kekuatan untuk mengembalikan hak orang lain yang sudah aku ambil atas nama cinta, atas nama semua pembenaran rasional dan nafsu, kembalikan kesadaranku untuk menjagaku dari kerakusan yang hanya membuatku kehilangan kemampuan menahan diri dan menempatkan yang hak sesuai dengan haknya..

Sesungguhnya hanya Engkaulah yang Maha Adil, Maha Kuat dan Maha segalanya.
KepadaMu lah aku bergantung, dan KepadaMu lah aku memohon kelapangan hati dan pikiran untuk menemukan kebenaran dan keyakinan atas jalanMu.

Amin.

Friday, September 04, 2009

Surat Untuk Tubuh

Drawing karya R.E. Hartanto

Tubuhku sayang,
Aku tau kamu sedang protes akhir-akhir ini dengan alergi hidung yang semakin menjadi-jadi akhir-akhir ini. Kamu datang menginterupsi kenyamanan hari-hariku, membuat aku terpaksa bernafas dengan mulut, bukan dengan hidung karena kamu sedang protes mengeblock jalan nafasku..

Aku tau, aku suka ga adil sama kamu, tubuh. Memaksa kamu melakukan banyak hal yang mungkin kamu tidak suka. Atau mengajakmu berpikir terlalu keras, sampai-sampai kamu bingung dan sulit mencernanya. Atau berusaha keras menghapus pikiran yang bagimu tidak mungkin bisa dilupakan.

Kita seringkali sulit menemukan titik temu yang seimbang buat kita berdua: kamu, tubuhku, dan aku, diriku ini. Tapi, aku menyadari, kamu adalah teman yang sangat mengerti aku. Kamu selalu memperingatkan aku ketika diriku ini menjalani hidup di luar kemampuan dan kesadarannya. Kadang aku mengabaikan protes-protes kecilmu itu dan tersadarkan saat kamu bener-bener protes besar seperti sekarang ini.

Baiklah tubuh, aku minta maaf padamu jika selama ini diriku ini seringkali memaksamu. Izinkan aku menyelesaikan pekerjaan yang mungkin kamu sudah tidak mau melakukannya. Izinkan aku untuk menyelesaikannya. Tanpa izinmu, aku tidak bisa melakukannya. Setelah itu, aku berjanji memperbaiki hubunganku denganmu. Melihatmu dengan cara yang lebih adil.

Terima kasih tubuh, tanpa dukungan darimu, diriku ini tidak akan bisa menjadi dan menemukan bentuknya.
Terima kasih dan maafkan untuk ketidak adilanku selama ini..

Tuesday, September 01, 2009

Merantau (2009)


*** 1/2

Satu dari sedikit film Indonesia yang bikin aku penasaran. Lihat trailernya di Youtube membuatku menduga-duga 'ini film sepertinya tidak seperti film-film Indonesia yang lain..'. Mungkin aku memang sedikit under estimate pada film-film Indonesia kebanyakan, karena ceritanya seringkali kedodoram. Atau kalau ceritanya oke, penggarapannya yang kedodoran. Kalau engga ya sejenis film Indonesia yang 'Garin banget'.

Merantau jadi menarik karena dia film action yang mengeksplorasi jurus-jurus silat tradisional Minangkabau tanpa berusaha menjadi eksotis. Menurutku ceritanya juga ga berlebihan dan 'kepahlawanan' yang ditampilkan jagoannya pun masih dalam taraf wajar alias ga lebay. Ga ada bumbu-bumbu romance ga perlu dan yang penting berantemnya ga nanggung dan koreografinya cukup bagus. Semua ada pada takaran yang cukup menurutku.

Film ini ceritanya di tulis dan digarap oleh sutradara asing bernama G.H. Evans dan di produseri oleh istrinya yang orang Indonesia bernama Maya Barack- Evans. Bintang filmnya juga ga ada yang beken kecuali Christine Hakim sebagai ibu dari pemeran utamanya Iko Uwais. Alex Abba yang lumayan di kenal, di film ini juga ga sekedar muncul tanpa kemampuan. Aktingnya cukup lumayan. Bahkan pemain-pemain lain yang mungkin baru pertama kali main film pun aktingnya cukup lumayan. Yayan Ruhian juara silat nasional yang menjadi tokoh abu-abu bernama Eric pun aktingnya jauh lebih bagus daripada para bintang sinetron yang mengaku-ngaku bisa akting.

Jika berharap akan menemukan drama mengharu biru soal hidup di tanah rantau, ga bakalan di temukan di film ini, karena film ini beneran mengedepankan petualangan heroik tokohnya menyelamatkan seorang perempuan bernama Astri dari sindikat Trafficking. Dan Evans sebagai sutradara sekaligus penulis cerita, cukup bisa menahan diri untuk tidak berlebihan dalam mendramatisir tokoh utamanya. Evans cukup 'tega' dengan nasib tokoh utamanya yang berangkat dari logika kenaifan dan metafor bahwa yang dilawan bukanlah hal yang sederhana.

Selama hampir dua jam, Evans berhasil membuatku dan penonton lain tidak merasa bosan dengan film garapannya. Sempat muncul pertanyaan dalam benakku ' seandainya sutradara dan Director of Photographynya bukan orang asing, apakah film ini masih bisa semenarik ini ?' lagi-lagi aku belum yakin sama kemampuan sutradara, penulis dan DOP negeri sendiri. Karena aku melihat kecenderungan penulis cerita dan sutradara Indonesia yang senang melebih-lebihkan takaran. Ada hal-hal yang seharusnya berlebihan, seringkali malah pas-pasan, sementara ada hal-hal yang semestinya seadanya, malah di lebih-lebihkan. Kukira masih sulit untuk menemukan sutradara dan penulis cerita yang matang dan bijak alias bisa menempatkan persoalan dan drama sesuai dengan takarannya. Dan kukira lewat Merantau, para sutradara dan penulis cerita Indonesia akan belajar dari apa yang sudah dilakukan Evans.

Selain 'make up' dan darah yang masih kurang dan sedikit mengganggu, selebihnya film ini menurutku cukup berhasil sebagai sebuah film action silat Indonesia.

Tentang Merantau bisa buka websitenya: http://www.merantau-movie.com/

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails