Friday, June 19, 2009

I Have A Dream

'Seattle Space Needle', Seattle, Photo by tarlen, 2008

Salah satu hal terpenting dalam hidupku adalah impian. Sejak kecil, aku punya banyak sekali impian atau keinginan yang sering seringkali menyeretku pada bentrokan-bentrokan dengan sekelilingku, bahkan dengan ibuku, karena ketidak mengertiannya tentang apa yang kuimpikan. Aku ga memimpikan mainan yang banyak, atau boneka baru yang kalo dotnya di cabut bisa mengeluarkan suara tangisan. Namun sejak kecil, aku sudah memimpikan, memetik buah berry liar di hutan kecil saat musim panas (pengaruh Enyd Blyton), atau pergi berlayar ke pulau tropika (pengaruh pippi si kaus kaki panjang), kadang membayangkan sebuah petualangan di tempat-tempat yang menegangkan seperti pulau kirin (pengaruh lima sekawan), ingin sekali keliling dunia seperti Tintin atau belajar kun fu di perguruan Shaolin (pengaruh komik-komik silat, tapi gara-gara ini aku sangat tertarik pada kajian diaspora khususnya Cina Peranakan di Indonesia sampai sekarang), juga impian menjadi pilot pesawat tempur (pengaruh Tanguy and Laverdure dengan Mirage IIIE) dan yang paling ekstrem adalah memimpikan persahabatan dengan dracula seperti Anton Sukarung Kacang (karena kebanyakan baca Drakula Cilik). Semua impianku dipengaruhi oleh buku-buku bacaanku sejak aku kecil dulu.

Waktu kecil, aku belum bisa membedakan apa yang aku sebut dengan impian dan keinginan. Apapun yang aku inginkan, bisa aku sebut impian. Namun semakin lama aku semakin paham bahwa impian jauh lebih besar dari sekedar keinginan. Impian sering kali ga berbatas dan seringkali mustahil dengan kondisi ril kemampuan kita. Dia bisa bergerak jauh lebih cepat melebihi kecepatan fisik mencapainya. Impian seperti bintang di langit yang ingin kita petik atau seperti galaksi yang ingin kita arungi. Namun baguku, impian seperti energi yang bisa melesat sangat jauh meninggalkan garis yang menjadi penunjuk arah, kemana hidupku mesti menuju.

Ketika bertambah usia dan duduk di bangku SMA, mimpinya jadi aktivis lingkungan seperti greenpeace, pengen jadi ahli virus (karena senang sekali dengan pelajaran mikrobiologi), tapi sekaligus juga pengen jadi seniman yang bisa bikin karya yang menggetarkan jiwa orang yang melihatnya, pengen belajar tentang sejarah Islam dan pergi ke Cordoba menyaksikan monumen-monumen kejayaan Islam masa lalu dan mencoba memahami mengapa kejayaan itu runtuh. Belum lagi cita-cita yang berhubungan dengan profesi. Banyak. Dan seperti kebanyakan orang tua, Ibuku pasti sangatlah pusing dengan hal-hal seperti impianku. Sementara bapakku, justru 'tukang kompor' karena dia sama seperti aku 'seorang yang punya impian yang jauh'. Dia sering mengantarkan tidurku dengan dongeng tentang perjalanan ke tempat-tempat yang jauh, perjalanan yang katanya pernah dia alami. Aku sih percaya saja. Dia mengajarkanku untuk memimpikan bintang di langit, bukan sekedar mimpi melalui tanjakan.

Obrolan bersama Sandy temanku, beberapa hari lalu, aku seperti diingatkan kembali soal ini. Ada hal yang penting dan akan selalu kuingat dari apa yang Sandy katakan: 'Seringkali kita hanya diajarkan untuk merasa cukup untuk sekedar memimpikan tanjakan, bukannya memimpikan mencapai puncak yang paling tinggi.' Kata-katanya mengingatkanku pada pertanyaan yang seringkali muncul dalam diriku: 'mengapa ada orang-orang yang bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil. Misalnya: Barack Obama sebagai Presiden AS Afro Amerika pertama, Lary Page dan Sergey Brin yang menciptakan mesin pencari google dan hampir setengah umat manusia kini tak bisa hidup tanpa mesin pencari ini, dan para inovator, para filantropis, orang-orang yang dianggap melakukan hal-hal yang sebelumnya dianggap mustahil dan tidak mungkin. Atau temanku, Yusrila Kerlooza dan mahasiswanya: Stevanus dan Rodi yang memenangkan kompetisi robot dunia, “The 2009 Internasional Robogames” di San Francisco seminggu yang lalu. Bagiku mereka berhasil memetik bintang di langit itu dan setelah itu, mereka bersiap-siap mengarungi tata surya untuk selanjutnya berkelana diantara galaksi-galaksi yang begitu luas. Mengarungi kemungkinan-kemungkinan hidup yang begitu luas.

Aku pernah mengira, bermimpi memetik bintang di langit itu mudah, namun semakin bertambah usia, kenyataan dan dunia yang kualami mengajarkan, bahwa bermimpi memetik bintang ternyata butuh keberanian setelah itu kemudian bekerja keras. Karena tanpa keberanian dan kerja keras untuk menjaganya, kenyataan seringkali dengan mudah mengahancurkan impian itu. Keberanian menjadi penting untuk membela impianku sendiri, mempertahankannya mana kala ada yang ingin menghancurkannya. Membelanya dengan keyakinan dan keteguhan hati, bahwa tak ada seorangpun yang berhak menghancurkannya. Keyakinan dan keteguhan hati, tak ada artinya tanpa kejujuran diri. Bagaimana kita bisa menemukan keyakinan dan keteguhan, mana kala kita tidak mau mengakui seperti diri kita sendiri. Tentunya termasuk apa yang tidak kita mengerti, apa yang kita mengerti, apa yang jadi kebaikan dan keburukkan kita, apa yang jadi kelebihan dan kekurangan kita. Impian yang disandarkan pada sesuatu yang 'karena yang baik menurut umumnya orang' atau 'hal yang hanya karena ingin di pandang orang lain', hanya menciptakan jembatan mimpi yang rapuh. Keyakinan dan kejujuran pada diri yang membuat impian bukan hanya mencapai sesuatu yang material, tapi juga spiritual.

Hal meterial yang diraih dari perjalanan impian sebenarnya capaian-capaian dari tanjakan yang berhasil di lalui. Karena selalu ada pertanyaan lanjutan. Setelah berhasil menginjakkan kaki di Seattle atau berhasil nonton konser Pearl Jam di Madison Square Garden, NYC, lalu apa? atau ketika berhasil membeli mobil baru, rumah baru, pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih besar, lalu setelah itu apa? Tentu saja tidak akan pernah selesai, akan ada hal-hal lain setelah itu. Pencapaian itu barulah satu tanjakkan yang berhasil dilalui. Masih banyak tanjakkan lain jika ingin sampai ke puncak yang lebih tinggi dan kukira, sampai mati, mungkin kita tidak bisa benar-benar mencapai puncak itu, tapi kita bisa mendekatinya.

Aku selalu percaya impian itu seperti garis cakrawala. Semakin di dekati, semakin menjauh dan tanpa sadar, cakrawala membimbing kita untuk mengelilingi impian itu. Dan aku bisa merasakan 'tanjakan-tanjakan' dari impian itu tercapai setelah mengelilinginya, merasakan ketiga demensiannya, mengalaminya sebagai sesuatu yang memperkaya spiritualitasku. Untuk itu, menurutku sebuah impian yang berhasil adalah impian yang aku mengalami ketiga demensiannya, bukan aku saja yang kemudian bisa merasakan vibrasinya, tapi juga orang-orang di sekelilingku dapat merasakannya pula. Apa arti sebuah kebahagiaan meraih impian, ketika pengalaman bahagia itu tidak aku bagi pada orang lain?

Happiness is real when shared - Into The Wild-

Wednesday, June 17, 2009

Merumuskan Kembali Keterhubungan Maya


Setelah mengenal internet, bisakah kita benar-benar bisa hidup tanpanya? Jawaban yang menggampangkan tentu saja bisa, tapi jawaban yang realistis tentu saja tidak bisa. Adbusters baru-baru ini bikin kampanye yang mereka kasih nama Digital Detox Campaign. Intinya mengajak orang-orang untuk (kalau tidak bisa melepaskan) setidaknya mengurangi ketergantungan pada koneksi online atau hubungan di dunia maya.

Dengan bermunculannya social networking seperti facebook, twitter, dll, tiba-tiba saja semua jejaring sosial itu mendefinisikan apa yang disebut dengan hubungan. Bahkan lebih jauh dari itu, jejaring sosial itu menjadi panggung baru bagi setiap individu untuk tampil dan menampilkan dirinya: baik secara apa adanya, maupun di ada-ada. Pada titik ini, aku benar-benar menimbang kembali apa artinya terhubung secara online. Yang disebut teman, di account facebookku sudah mencapai angka kurang lebih 2100, sebagian besar mungkin aku belum pernah bertemu mereka, bahkan mungkin sama sekali aku ga kenal. Temanku pernah bertanya padaku, kalau ga kenal, kenapa di confirm? tentu saja jawabanku menjadi sangat praktis: tobucil. Semua jejaring sosial di dunia maya, aku pakai untuk mensosialisasikan tobucil sebagai sebuah gagasan yang membutuhkan dukungan kolektif. Facebook, twitter, adalah tempat orang-orang mengenal Tarlen yang tobucil. Jangan berharap menemukan Tarlen yang lebih dari itu di facebook. Jika ingin menemukan tarlen dengan pemikiran-pemikirannya, silahkan datang ke blog ini, tapi kalau ingin mengenal sisiku yang lebih crafty, bukalah blogku yang lain. Tapi tetap saja, jika berharap menemukan Tarlen yang Tarlen, kamu harus menemukannya langsung, ketika berhadapan denganku. Face to face.

Orang yang ingin mengenalku, tentu harus berinteraksi secara langsung denganku. Biar bisa merasakan langsung kegalakanku ketika benar-benar tidak mau diganggu tanpa aku harus bilang 'aku sedang tidak mau diganggu'. Orang lain bisa merasakan Tarlen yang tarlen saat bertatap muka secara langsung denganku. Dan persaan-persaan yang kukirimkan secara langsung kukirimkan secara langsung, jauh lebih akurat daripada sekedar lewat Yahoo Messanger. Atau bersurat-suratanlah denganku, karena tulisan tanganku jauh lebih bisa dirasakan daripada emoticon-emoticon yang kukirim lewat YM.

Itu sebabnya aku kembali memutuskan untuk tidak log in di YM (tidak available maupun invisible, bener-bener log out aja). Kalau ingin ngobrol denganku, telpon saja langsung atau sms. Aku tidak mau lagi mempercayai keterhubungan yang maya dan kemudian membuatku terjebak mempercayai seseorang dari ilusi yang dia ciptakan di YM. Atau kesalah pahamanku menangkap tanda-tanda bahasa di YM yang memang penuh dengan jebakan, sehingga aku menyimpulkan seseorang hanya dari omongannya di YM (pertemuan kemudian hanya menegas-negaskan saja apa yang sudah di katakan di YM). Aku memilih kembali konvensional sekarang.

***

Tidak dengan YM, tidak juga dengan facebook. Aku merasa tidak perlu menampilkan diriku di panggung status-status facebookku, karena aku merasa ada panggung eksistensi yang jauh lebih ril: karya nyata yang kujalani sesuai cita-cita dan keyakinan. Kalau hanya pamer kegalauan, atau mengekpresikan kelebatan pikiran, kurasa status fb seperti pojok kecil di pasar yang ramai, dimana bukan hanya kita yang berteriak menunjukkan diri, tapi banyak orang melakukannya. Dan komentar menjadi candu pengganti uang receh pengganti jerih payah kita berteriak-teriak menampilkan penggalan-penggalan drama diri kita sendiri. Pada titik ini, aku belajar memahami apa arti 'enough is enough'. Aku memilih panggung yang lebih ril untuk kujalani. Aku tak ingin menghabiskan waktuku di panggung-panggung seperti status facebook untuk kepentingan menampilkan diriku sendiri. Account facebook adalah panggung tobucil yang tarlen, bukan tarlen yang tarlen.

Itu sebabnya, sejak beberapa waktu terakhir ini, aku memilih lebih bersetia pada email dan blog (blogspotku ini, karena multiply sudah mulai ikut-ikutan seperti facebook). Dengan blog, aku merasa lebih punya ruang dan keleluasaan untuk mengungkapkan pikiran-pikiranku, tanpa ambil pusing dengan viewing history pembaca tulisanku, webstat saja sudah cukup buatku.

***

Tiba-tiba saja, aku ga sabar menerima surat balasan dari Pam yang dia kirim via pos buatku. Sebuah komunikasi jarak jauh yang intim, hangat, rasanya bisa teraba, sangat personal, tapi sudah sedemikian di lupakan. Beberapa waktu, disebuah pertemuan klab menulis di sebuah kampus Universitas Negeri, aku bertanya pada semua peserta yang hadir, 'pernahkah kalian berkirim surat bertuliskan tangan pada orang lain?' hasil yang mengejutkan dari hampir 20 orang yang hadir, 95% mengaku belum pernah menulis surat sama sekali. Bahkan sebagian menganggap surat adalah sesuatu yang sama dengan SMS. Bagiku yang pernah masuk rubrik sahabat pena di majalah Ananda waktu kecil dulu, dan mulai bersahabat pena sejak SD, kenyataan ini semakin membuatku harus melihat kembali hubunganku dengan dunia maya. Besarnya waktu yang kuhabiskan di depan komputer untuk terhubung dengan dunia maya, apakah benar-benar sesuatu yang manfaat (seorang teman pernah menganggapku oportunis karena lebih memilih mengambil manfaat sebanyak-banyaknya di dunia maya. Aku hanya mengikuti nasehat Sergey Brin dan Larry Page, dua pencipta mesin pencari google: 'Pikirkan masak-masak dan berhati-hatilah dalam memutuskan apa yang kamu upload di dunia maya. Karena kamu tidak pernah bisa menduga apa akibatnya buatmu' ) ? Ketika ada pilihan lain, kesibukan lain yang lebih ril, mengapa harus bersikukuh terus menerus terhubung secara maya? Bagiku kemudian menseleksi kembali hubunganku dengan dunia maya, membuatku menengok kembali pada hubungan yang ril, nyata. Dengan semesta, dengan teman-teman yang bisa kusapa langsung dengan tatap muka atau meneleponnya secara langsung, daripada menge-buzz nya di YM, bahkan kalau menelepon langsung juga lebih murah, mengapa harus sms.

Aku ga tau, waktu hidupku ini masih lama atau hanya sebentar lagi. Rasanya waktu yang sewaktu-waktu bisa habis dan selesai ini, lebih baik aku pakai untuk memaksimalkan hubungan-hubungan di dunia nyata, mengeksekusi banyak gagasan di kepalaku biar jadi sesuatu yang nyata dan tidak jadi sekedar omong kosong. Aku ga mau mati dalam keadaan menyesal menyia-nyiakan kemampuan mewujudkan gagasan jadi kenyataan, hanya karena aku terlalu malas dan lebih memilih menghamburkan waktu dengan keterhubungan yang semu, sibuk berteriak-teriak melemparkan kilasan pemikiran di status facebook tanpa pernah bener-benar-benar merangkaikannya sebagai karya yang nyata. Aku tidak mau menjadi pecundang di usia paruh baya nanti (jika umurku panjang) dan membuat banyak alasan dan pembenaran atas waktu yang disia-siakan.

Aku tidak memilih hidup seperti itu.

Monday, June 15, 2009

Menimbang Yang Telah Lalu

The Luggage Store's Graffiti, San Francisco. Photo by tarlen


"If you love someone, set them free. If someone loves you, don't fuck up."
- ed. vedder-

Rasanya, ungkapan ini ga hanya pas ketika ngomongin soal hubungan asmara, tapi juga soal hubungan yang berkaitan dengan membangun cita-cita bersama. Beberapa waktu lalu, seorang teman memberitahukan kondisi sebuah ruang yang dulu pernah dibangun dan dibesarkan bersama-sama. Temanku bilang, saat ini ruang itu sedang dalam kondisi memprihatinkan, karena masalah yang sama yang membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya 'pecah kongsi'. Dan sekarang masalah itu kembali mengemuka. Bukan masalah apa yang sedang terjadi yang aku bahas disini, tapi soal bagaimana aku melihat kembali, sesuatu yang pernah di bangun dan dibesarkan bersama-sama, merasa pernah punya kontribusi, namun sekarang tidak lagi. Lalu melihat ruang itu dalam keadaan kritis.

Pengalaman ini juga ternyata dialami oleh sahabatku, ketika ia sebagai pasangan memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan karir pasangannya. Selama ini banyak sekali keputusan penting dalam karir pasanganannya, sahabatku yang mengarahkan. Lalu pada satu titik mereka sebagai pasangan tidak lagi bisa 'hidup' sebagai partner. Pasangannya pun lebih banyak membuat keputusan sendiri atas hidup dan karirnya. Namun keputusan yang diambil pasangannya itu bukanlah keputusan yang dianggap tepat. Karirnya yang dengan susah payah dibangun bersama, terancam berantakan. Sementara sahabatku berada dalam situasi yang serba dilematis. Haruskan ia mengorbankan kembali dirinya untuk menyelamatkan karir pasangannya? (selama hidup bersama sebagai pasangan, sahabatku ini hampir-hampir kehilangan dirinya sendiri, karena atas nama cinta, pengorbanan dan meleburkan diri untuk pasangan menjadi ga jelas batasnya). Di sisi lain, sahabatku juga merasa ini saatnya untuk bilang 'cukup'. Saatnya bagi dia untuk meraih kembali hidupnya.

Dua pengalaman yang kurasa mirip. Dalam kasusku, ketika aku justru mendapatkan kembali semua impianku, kepercayaan diri untuk terus istiqomah, aku justru mendapati pemandangan tempatku dulu, tempat yang menjadi bagian dari sejarah impianku, sedang dalam kondisi kritis. Pada situasiku, aku memang tidak memilih berbuat apa-apa (dalam hal ini akar persoalannya memang harus di selesaikan oleh si pemilik ruang sendiri, jadi bukan saja aku yang tidak bisa melakukan apa-apa, tapi juga orang lain yang berusaha membantupun tidak bisa membantu apa-apa juga). Kejadian ini seperti sebuah segmen yang secara ruang memang terpisah dengan ruang hidupku sekarang. Mungkin ruang itu, seperti sebuah shelter, saat aku pernah memulihkan banyak kekelahanku dan mencoba mempercayai kembali apa itu impian bersama, namun setelah empat tahun mencobanya, ternyata gagal juga. Dan aku membuat keputusan meninggalkan ruang itu. Mencari ruang impianku yang lebih membebaskan, bukan ruang yang menyangkal komitmen dan kontribusi orang-orang yang menanam impiannya bersama.

Sebenernya, setelah lebih dua tahun meninggalkannya dan membangun ruang yang membebaskan itu, ruang yang pernah kusinggahi itu menjadi bagian dari masa laluku. Ketika meninggalkannya, aku dan beberapa orang yang termasuk pecah kongsi itu, membawa kesakitan yang kini sudah mulai pulih. Bagi sebagian dari kami, pernah singgah di ruang itu, adalah pengalaman berharga. Sebagian dari kami memutuskan untuk menjadikan kesakitan yang kami bawa dulu sebagai sebuah keberuntungan (jika keberuntungan bisa disebut sebagai sebuah pilihan). Tapi bagi yang tetap tinggal di dalamnya, kini pergulatannya adalah apakah ruang itu menjadi beban atau bisa jadi sebuah keberuntunganan dan mereka masih berjuang dengan itu. Aku dan beberapa temanku yang lain yang keluar dari ruang itu, menganggap diri kami telah berhasil mengambil keputusan itu. Karena itu, kami hanya bisa menyaksikannya, tanpa berbuat apa-apa. Bagi kami yang sudah melalui itu, masa lalu menjadi sesuatu yang sudah lewat. Jika ruang di masa lalu itu kemudian hancur, atau hilang sama sekali, aku hanya bisa mengiklaskannya, karena waktu yang ada di ruang itu sekarang, bukan untukku lagi.

Sementara dalam kasus sahabatku, waktu masih menjadi miliknya dan pasangannya. Meski sahabatku memutuskan untuk mendaptkan hidupnya kembali, namun hidupnya dan hidup pasangannya masih pararel dan terhubung satu sama lain. Seperti cincin-cincin rantai yang masih berkaitan satu sama lain. Sahabatku belum bisa dan mungkin tidak pernah bisa melepaskan kaitannya. Yang bisa dia lakukan adalah melindungi hatinya untuk tetap teguh mempertahankan dirinya yang pernah terampas atas nama pengorbanan. Pasangannya seperti hendak melompat jurang, tapi tangannya berpegang pada lengan sahabatku. Apa yang semestinya dia lakukan? melepaskannya? menarik pasangannya? atau ikut terjun bersama?

Dihadapkan pada situasi sahabatku dan membandingkannya dengan situasiku, aku kadang melihat diriku yang 'terasa kejam', tapi juga rasional. Rasionalitas yang muncul untuk melindungi diriku sendiri dari kesakitan karena sebagian yang lain mengabaikan komitmen atas mimpi yang pernah dibangun bersama-sama itu. Meski di sisi lain, hatiku mengatakan: 'jangan ganggu alam yang sedang bekerja memberikan pelajaran kehidupan', seperti juga aku tidak bisa membantu kupu-kupu berjuang keluar dari kepompongnya, jika itu hanya membuat si kupi-kupu justru kehilangan kemampuan untuk terbang.

Ada hal-hal yang memang aku lebih baik tidak mengintervensi proses pembelajaran atas kehidupan orang lain. Aku sudah memilih keluar dari ruangan itu. Dan yang lain memilih tetap tinggal. Semua sama-sama mendapat kesempatan untuk memilih.

Sometimes you fucked up and you couldn't set them free. But you knew the concequences.

Monday, June 08, 2009

Yang Publik Yang (Tidak) Berbayar ?


foto dok tobucil


Tulisan ini untuk menanggapi sebuah komentar di fb grup tobucil tentang hubungan tobucil dan ruang publik serta menjelaskan soal kegiatan tobucil yang bebayar.

Seseorang berkomentar di fb grupnya tobucil. Komentar itu muncul setelah aku memposting agenda kegiatan workshop melipat kertas yang berbayar lima puluh ribu rupiah saja. Seseorang di komentar itu bilang: 'public space kok komersil, lagian males ah kalo kegiatannya untuk kelas menengah atas'. Aku memang tidak membalas komentar itu. Komentar itu nampaknya ga perlu di tanggapi langsung di fb, mengingat aku ga kenal orang itu dan setelah aku cek lewat profilnya, nampaknya dia bukan orang yang pernah datang di kegiatan tobucil juga. Makanya aku menganggap dia tidak mengerti. Perasaan terganggu ku itu, lebih baik aku uraikan disini.

***

Aku ga tau apa yang dipahami orang itu soal public space (ruang publik), tapi kalo yang dia maksud sebagai public space adalah ruang yang bisa diakses oleh siapa pun secara gratis dan orang memiliki hak untuk menggunakan ruang tersebut secara bebas, rasanya tobucil tidak sesuai dengan apa yang dia maksudkan sebagai public space. Tobucil, sesuai dengan namanya, lebih cocok di sebut sebagai private space yang membuka diri untuk sebagian kalangan, karena tidak semua orang mau datang juga kok ke tobucil dan tidak semua orang boleh datang ke tobucil. Ada tiga kelompok yang tidak boleh datang ke tobucil: pertama, orang yang sengaja datang dengan maksud memprospek calon klien untuk MLM (Multi Level Marketing). Kedua, kampanye partai politik, rasanya untuk hal ini sudah sangat jelas. Ketiga, kelompok yang sengaja melakukan agitasi keagamaan biar orang lain masuk ke agama yang dia anut dan konteks ini sangat berbeda dengan kajian teologi. Orang bisa mengkaji ajaran agama tertentu di tobucil, tapi bukan dengan tujuan agitasi. Dari tiga larangan ini, kukira, jelas bahwa tobucil tidak termasuk kedalam definisi public space dalam definisi yang konvensional. Dalam konteks ini tobucil lebih cocok di sebut sebagai private space, tentu saja karena tobucil menempati sebuah pavilliun yang kepemilikan ruangnya adalah milik pribadi dan tobucil sendiri memiliki struktur kepemilikan yang jelas.

Dalam definisi yang lebih progresif, sebenernya tobucil lebih cocok disebut sebagai alternative space. Sebuah ruang yang memberi pilihan alternatif bagi komunitas untuk mengaktualisasikan dirinya lewat kegiatan-kegiatan atau program-program yang diselenggarakannya. Tentu saja ada pembatasan untuk apa yang disebut dengan 'kegiatan atau program' di tobucil. Penyebab pembatasannya adalah keterbatasan tobucil itu sendiri. Tidak semua kepentingan 'public' (baca: umum) yang datang ke tobucil bisa terlayani. Itu sebabnya tobucil memutuskan berfokus pada misi dan visi dan memfokuskan diri pada koridor buku, hobi dan komunitas (yang berkaitan dengan buku dan hobi).

Dan kukira, se'publik-publik'nya ruang publik, tetap saja selalu ada pembatasan, ada aturan, ada kesepakatan, untuk membuat publik merasa nyaman berada di dalamnya. Bukan berarti ketika ada di ruang publik, kita bisa berbuat seenaknya dan sebebas-bebasnya. Di negara yang katanya bebas seperti Amerika pun, minum-minuman beralkohol di taman kota di siang bolong dengan botol telanjang (yang memperlihatkan identitas minuman tersebut) bisa tiba-tiba dimarahi orang yang ada disitu, atau di tegur penjaga taman, karena tindakan tersebut dianggap mengganggu kenyamanan publik. Aku ingat, bagaimana petugas taman Union Square memarahi seorang pengunjung karena menginjak rumput di salah satu bagian taman dan menunjukkan pada pengunjung tersebut sebuah papan larangan menginjak rumput yang sedang tumbuh itu. Ini menunjukkan bahwa dalam konsep ruang publik, tidak ada kebebasan absolut. Publik tetap saja mesti mengikuti aturan dan pembatasan-pembatasan yang ada. Aku ga tau, apakah orang yang komen di fb itu, menyadari soal ini atau tidak.

***

Hal lain yang digugat oleh orang yang berkomentar di fb adalah soal kegiatan tobucil yang berbayar dan soal kegiatan yang ditujukan untuk kelas menengah dan atas. Selama ini, tobucil menjalankan seluruh program kegiatannya murni tanpa sponsor (funding dari luar negeri atau sponsor perusahaan) dan tobucil memang memilih untuk tidak menerima uang sponsor. Seluruh kegiatan murni mengandalkan dari profit penjualan di tobucil yang selama ini baru cukup membiayai biaya operasional (bayar staf, bayar internet, listrik, perawatan ruangan dan alat untuk berkegiatan dan hal-hal tak terduga). Itu pun baru dalam 2 tahun terakhir, enam tahun sebelumnya, aku harus mengeluarkan uang pribadi untuk menomboki segala kekurangan dan mempertahankan keberadaan tobucil. Pengalaman menomboki biaya ini, bukan pengalaman yang sehat untuk dipertahankan dalam mengelola komunitas. Karena nombok terus menerus hanya akan membuat aku merasa 'terkuras' bukan hanya secara materi, tapi yang lebih berbahaya terkuras secara mental. Perasaan 'mengapa aku harus berkorban terus menerus untuk orang lain? mengapa aku yang harus membayar biaya aktualisasi diri orang lain?' akan merongrong energiku untuk menjalankan visi dan misi yang dibawa oleh tobucil. Tobucil sendiri sejak awal adalah usaha yang dibangun dari idealisme, bukan perencanaan bisnis dan prediksi profit yang jelas dan nombok akhirnya menjadi resiko dari idealisme itu tadi.

Namun, nombok juga bukanlah sebuah resiko yang menjadi harga mati dari sebuah idealisme membangun ruang alternatif itu tadi. Ada strategi bertahan hidup yang bisa ditempuh biar resiko nombok itu bisa di kurangi. Caranya ya membuat strategi subsidi silang yang menyentuh dua sisi sekaligus: sisi pengembangan usahanya (sebagai sumber keuangan kegiatan komunitas) dan juga sisi pengembangan komunitasnya. Itu sebabnya, pengembangan usaha yang dilakukan tobucil dilakukan sejalan dengan pengembangan visi dan misinya. Jangan bayangkan bahwa hanya menjual buku saja bisa menutupi seluruh biaya pengeluaran yang terjadi malah nombok terus menerus itu tadi. Karena industri perbukuan sendiri di Indonesia, ga jelas regulasinya. Apalagi sekarang situasinya industri buku didominasi oleh penerbit besar saja. Coba hitung, jumlahnya tidak lebih dari tiga. Sementara di sisi lain, boom toko buku alternatif sudah lewat. Dari pemetaan komunitas literer yang mendata ada sekitar 40 toko dan komunitas literer di Bandung di tahun 2003, sekarang yang tersisa kurang dari 10 saja. Dari 10 jika di lihat yang punya kegiatan reguler yang berkaitan dengan literasipun tidak lebih dari setengahnya. Dan semua berjuangan keras untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Masing-masing berusaha menemukan strategi bertahan hidup yang pas dan sesuai dengan karakter masing-masing.

Masuk ke wilayah hobi, bagi tobucil adalah salah satu reposisi dalam rangka menemukan strategi bertahan hidup bagi keberlangsungan tobucil itu sendiri. Itu juga yang membuat tobucil menjual benang-benang rajutan. Para konsumen benang rajutan punya kontribusi yang cukup penting dalam menjaga keberlangsungan hidup tobucil. Dalam konteks ini, prinsip subsidi silang sebetulnya sudah terjadi. Selain itu pula dalam konteks yang lebih luas, koridor hobi menjadi bagian dari proses memaknai terus menerus misi tobucil untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari keseharian, sekaligus pendekatan yang berbeda untuk tujuan yang mungkin sama dengan komunitas lain yang sama-sama mengusung misi mendukung gerakan literasi. Keberagaman pendekatan ini tentunya akan menambah keberagaman pilihan yang ada. Namun perlu diingat pula, bahwa yang paling sulit dari menciptakan alternatif pilihan adalah mempertahankannya dan mengembangkannya. Aku pribadi merasa sangat bersyukur karena sejauh ini, tobucil dengan dukungan teman-teman yang punya komitmen terhadap misi literasi, bisa menjaga konsistensi kegiatan itu meski dengan segala keterbatasan.

Pengalamanku selama 8 tahun mengelola komunitas di tobucil menunjukkan bahwa seringkali, orang cenderung tidak menghargai sesuatu yang gratis. Banyak kegiatan tobucil yang gratis diikuti dengan setengah hati oleh para pesertanya. Komitmen hanya terjadi pada tingkat fasilitator yang mendedikasikan waktu, pikiran, tenaganya secara sukarela untuk berbagi pengetahuan. Namun yang terjadi seringkali komitmen ini tidak diapresiasi dengan baik oleh para peserta kegiatan. Datang semaunya, proses belajar dijalankan dengan suka-suka dan komitmen menjadi sesuatu yang sulit dipegang. Dampaknya, fasilitator kemudian merasa ga berguna dan patah semangat untuk berbagi. Bagi tobucil, situasi seperti ini adalah persoalan yang perlu diselesaikan. Perjalanan menapaki visi dan misi, masih jauh dan panjang. Perlu strategi untuk menjaga stamina dan keberlangsungannya. Itu sebabnya setelah pindah ke jalan Aceh, konsep kegiatan dibagi kedalam dua kategori: model kelas dan model klab. Model kelas, berarti ada komitmen, dan proses timbal balik. fasilitator berperan sebagai tutor yang berbagi pengetahuan dan kemampuannya melalui pengajaran berkurikulum. Dalam model ini, ada transfer pengetahuan dan upgrade skill. Model kegiatan kelas seperti ini, sangat sulit jika peserta bisa mengikutinya secara cuma-cuma alias gratis. Komitmen bisa dibangun, ketika peserta merasa sudah mengeluarkan sejumlah biaya untuk mengikuti kegiatan model ini. Itu sebabnya, kegiatan berbayar di tobucil, outputnya bisa dibilang cukup kongkrit, misalnya dari ga bisa merajut, jadi bisa bikin syal atau kupluk. Dari ga bisa menulis fiksi, jadi bisa menyelesaikan sebuah cerpen. Komposisi pembagian dari biaya yang dibayarkan peserta kegiatan, 80 persen untuk tutor dan 20 persen untuk tobucil, membuat komitmen tutorpun jauh lebih bisa terjaga. Ada reward yang membuat tutor merasa 'pengorbanan'nya tidak sia-sia, ada apresiasi yang terukur dalam bentuk pembagian itu tadi. Dan menurutku komposisi itu cukup adil. Dua puluh persen jatah tobucil, digunakan untuk kontribusi menyewa ruangan, perawatan, fasilitas belajar yang seringkali masih harus ditambahin dari profit penjualan tobucil.

Model kedua adalah kategori kegiatan yang disebut klabs. Dalam klabs, aturan komitmennya lebih cair. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan sangat mengakomodasi aspirasi pesertanya. Peserta bisa menentukan topik bahasan dan outpun kegiatan lebih bersifat abstrak: misalnya untuk pertemuan madrasah falsafah, setelah mengikutinya, orang bisa merasa tercerahkan atau malah terganggu. Diskusi-diskusi, sharing pengalaman proses kreatif, dampaknya bagi para peserta ada pada tataran kognitif. Untuk hal-hal seperti ini, tidak ada komitmen yang dinyatakan dengan biaya keikut sertaan.

***

Hal lain yang disinggung juga oleh dia yang berkomentar adalah soal kegiatan untuk kelas menengah atas. Mmm.. dalam soal ini, posisi tobucil sebenarnya sangat jelas. Jika yang dilakukan lewat kegiatan tobucil adalah sebuah upaya pemberdayaan yang kemudian diberdayakan adalah jelas: kelas menengah. Kenapa? Kelas menengah di Indonesia (jika parameter kelas ini adalah tingkat ekonomi dan pendidikan), kelas menengah ini semakin lama semakin tebal, tapi apakah kelas menengah yang sebenernya ada di antara ini, cukup memiliki kesadaran kritis terhadap kontribusinya terhadap perubahan? Aku tidak menihilkan kesadaran itu di kelas menengah, aku melihat persoalannya mengapa kontribusi terhadap perubahan itu tidak terlihat, persoalannya ada pada kepercayaan diri atau juga kebingungan untuk memulainya. Untuk itu tobucil mengambil peran menjadi ruang alternatif untuk menumbuhkan kepercayaan diri dalam aktualisasi diri itu dan juga berusaha menumbuhkan kesadaran, bahwa perubahan bisa dimulai dari mana saja dan sekecil apapun itu, selama dilakukan secara konsisten dan ada komitmen di dalamnya.

Dari tujuh hari dalam seminggu, bisa meluangkan satu jam saja untuk mengerjakan hobi atau berkomunitas, kukira itu menjadi bagian dari proses berkontribusi pada perubahan: 'menemukan suaramu sendiri', 'menyatakan apa pendapatmu, bukan pendapat orang lain', melatih jemarimu merajut, membuat syalmu sendiri dan berlajar menghargai karyamu sendiri'.. hal-hal kecil, keseharian yang seringkali luput dari perhatian. Siapa yang punya keleluasaan dalam waktu (baca: meluangkan waktu luangnya), kalau bukan kelas menengah. Siapa juga yang butuh aktualisasi diri dan berpotensi menjadi agen perubahan, selain kelas menengah. Ya pada akhirnya ini memang menjadi pilihan tobucil untuk memfokuskan diri pada pemberdayaan kelas menengah, karena tobucil sendiri adalah bagian dari itu. Bukan berarti tak ada kepedulian untuk kelas bawah, untuk saat ini, tobucil belum sanggup memberdayakan kelas bawah, karena diri sendiripun masih harus diberdayakan. 'Untuk memulai sebuah perubahan, mulailah dari sesuatu yang kamu kenali dan sesuai dengan kemampuanmu'.

***

Cita-citaku dengan tobucil adalah menemukan model pengelolaan komunitas yang mandiri. Tidak bergantung funding atau sponsor. Keberlangsungan hidup komunitas justru didukung oleh komunitasnya sendiri, komitmen dan kontribusi orang-orang yang mendukungnya. Dalam konteks ini, tobucil akhirnya hanya menjadi fasilitator dan mediator yang menyediakan ruang, karena komunitasnya kemudian secara otonom mampu mengelola dirinya dan kegiatannya secara mandiri dan menjaga keberlanjutannya. Meski keberadaan keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling melengkapi satu sama lain.

Aku menyadari, bahwa seringkali, untuk cita-cita sesederhana ini pun, tidak mudah untuk membuat orang-orang mengerti. Dan yang seringkali jauh lebih sulit adalah menerima bahwa orang lain juga berhak untuk tidak mengerti. Tidak semua harus mengerti. Sebuah kebijaksanaan yang aku temukan seiring berjalannya waktu dalam proses menemukan cara bertahan hidup dan konsisten dengan keyakinan dan cita-cita itu sendiri. Aku berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya, tapi jika orang masih juga tidak mengerti, aku tidak bisa memaksa. Kewajibanku adalah menjelaskan dengan sebaik mungkin gagasan dan cita-cita ini kepada orang-orang yang mungkin terlibat di dalamnya.

Jadi, terima kasih buat kamu yang sudah berkomentar di fb dan menyadarkan aku untuk memenuhi kewajibanku menjelaskan. Perkara kamu mengerti atau tidak, itu sudah perkara yang lain lagi.

Wednesday, June 03, 2009

Mengumpulkan Kepingan-Kepingan Pertanyaan Tentang Kebaikan


Aku adalah orang yang sangat beruntung. Dengan semua kesempatan untuk mengaktualisasikan diri, kesempatan untuk berada pada lingkungan yang mendukung, kesempatan untuk mendapat kesempatan lebih banyak lagi, keberanian untuk bersikap dan semua hal yang seringkali menjadi keniscayaan banyak orang, namun aku bisa mendapatkannya. Aku sangat mensyukuri semua ini. Aku benar-benar orang yang sangat beruntung.

Apakah keberuntunganku adalah suatu kebetulan belaka? sesuatu yang jatuh dari langit? rejeki nomplok yang datang tiba-tiba? atau keberuntungan adalah serangkaian perjalanan mengumpulkan kepingan-kepingan kebaikan yang ditemukan dalam hidup dan kebaikan adalah kepingan-kepingan yang tau-tau tanpa aku sadari telah menggunung ketika aku memungutinya terus menerus? Tapi bagaimana memilih yang ini kebaikan dan yang itu bukan, yang ini pantas untuk dipungut dan yang itu dibuang saja karena dianggap tidak berguna? apakah yang sesungguhnya menggerakan aku memunguti kebaikan-kebaikan itu?

Jika pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan untuk menemukan kepingan-kepingan kebaikan itu, mengapa ada orang yang bisa mengumpulkan begitu banyak, sedangkan yang lain bahkan kesulitan menemukannya? Sama halnya dengan mengapa ada orang yang merasa beruntung dan ada pula yang merasa dirinya begitu malang?

"Kebaikan ada dalam diri manusia, tapi manusia perlu berjalan menuju kepada kebaikan itu untuk bisa mengapainya," itu menurut penjelasan romo Antonius Subiyanto Bunyamin.

Apakah kemudian kebaikan dan keberuntungan itu adalah sebuah "perjalanan menuju" kebaikan itu sendiri? Jalan seperti apa yang bisa mengantarkan seseorang pada kebaikan dirinya? Apakah 'jalan yang lurus atau jalan istiqomah' seperti yang Allah bilang dalam kitab sucinya? namun sebelum berjalan menuju kepada kebaikan, apakah kebaikan itu sesungguhnya jika ia adalah sesuatu yang terus menerus dicari olehku dan oleh semua mahluk di dunia ini?

[ ............ ]

Lagi-lagi, aku merasa beruntung bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul, bermain-main di benakku, seperti nyala yang memanduku untuk berjalan menuju dan mengumpulkan kepingan-kepingan itu..

Terima kasih telah memberiku kemampuan untuk bertanya..

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails