Monday, May 18, 2009

Little Children (2006)

****1/2

(kalo akhir-akhir ini aku begitu membabi buta membuat review film, ini dalam rangka festival film akhir tahun yang sudah aku lakukan dalam dua tahun terakhir ini. selama desember ini aku menonton film sebanyak-banyaknya.. yang jelas dokumentasi tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.. heheheh minimal ada usaha bikin review)

Pertama, poster film yang dibintangi Patrick Wilson dan Kate Winslet ini menggodaku untuk menontonnya. Kedua, tentu saja tema perselingkuhan dan drama rumah tangga, selalu menarik untuk cermati. Menambah ilmu dan referensi untuk memahami kehidupan berumah tangga. Itu sebabnya film ini jadi pilihan. Todd Field, sang sutradara, menggarap film ini sebagai gambaran kehidupan rumah tangga moderen kelas menengah di Amerika, tapi kukira cerita ini terjadi juga disini. Brad Adamson (Patrick Wilson), sarjana hukum lulusan Harvard yang gagal jadi pengacara. Akibatnya, dia harus mengambil peran sebagai bapak rumah tangga yang mengurus anak laki-lakinya.Sementara istrinya Kathy (Jenifer Connely) membangun karirnya sebagai pembuat film dokumenter untuk tayangan televisi. Rutinitas Brad adalah menemani anaknya bermain di taman, bersama ibu-ibu kompleks lainnya yang diam-diam berfantasi sex tentang dirinya. Di taman inilah Adam bertemu Sarah (Kate Winslet), seorang sarjana psikologi yang tertarik mempelajari perilaku manusia dalam rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. Kehidupan rumah tangga Sarah, tidak seharmonis yang dikira orang. Suaminya, Richard (Gregg Edelman), lebih suka menghabiskan banyak waktu dengan situs-situs porno yang memuaskan dirinya, daripada istrinya sendiri. Yah disinilah ceritanya bermula. Aku ga akan cerita lebih banyak lagi, silahkan tonton aja.

Bagiku yang menarik dari film ini adalah pandangan Sarah, ketika ia dan teman-temannya membahas buku Madam Bovari. Sarah memberi pandangannya tentang perselingkuhan. Baginya, perselingkuhan dalam kehidupan rumah tangga seperti situasi terjebak dalam kondisi yang membuat kedua belah pihak ga tau lagi kemana harus keluar. Ketika ada orang lain yang datang dan menawarkan jalan keluar, hal itu jadi kesempatan yang simalakama. Antara kebutuhan untuk keluar dari kebuntuan rumah tangga, sekaligus masuk dalam persoalan baru yang dilematis. Rasa bersalah adalah resiko yang paling besar yang harus dihadapi. Rasa bersalah yang muncul karena perasaan, kenapa justru orang lain yang memberikan jalan keluar itu, bukan suami atau istri yang kita pilih untuk jadi pendamping hidup kita. Kenapa justru orang lain? Godaan yang seringkali sulit untuk ditolak, justru saat berhasil keluar dari kebuntuan itu. Apakah kita akan melanjutkan hidup bersama orang lain, si juru selamat, atau kemabali ke pasangan hidup masing-masing.

No comments:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails