Skip to main content

An Inconvenient Truth (2006)

****

Bagiku ini adalah film 'propaganda' politik yang dikemas dengan elegan dan cerdas. Gimanapun juga, aku ga bisa melepaskan asumsiku bahwa film ini memang dibuat dalam rangka kampanye pemilihan presiden Amerika tahun 2008 mendatang. Al Gore pada pemilihan yang lalu, kalah tipis dari George W. Bush, dan sekarang saatnya untuk membalas Bush dengan cara yang elegan dan simpatik.

Film ini merupakan catatan Al Gore tentang isu Pemanasan Global (Global Warming) yang selama ini memang jadi perhatiannya. Bagi yang tidak terbiasa menonton dokumenter yang monolog, mungkin film ini jadi agak membosankan. Tapi bagi yang tertarik dengan isunya, film ini menjadi bukti penguasaan Al Gore yang politisi, terhadap isu pemanasan global. Karena Al Gore, menjelasakan secara rinci sampai ke dampaknya yang ga kepikiran olehku kalo ternyata hal itu juga merupakan dampak dari pemanasan global. Memang penjelasannya menjadi sangat sciencetific banget. Tapi kukira itu adalah cara Al Gore untuk menghindar dari propaganda politik yang sempit dan picik yang selama ini dilakukan lawan politiknya. Al Gore seperti sedang bicara pada dirinya sendiri, dan banyak orang, bahwa persoalan pemanasan global adalah tanggung jawab kita semua. Kemauan individu dan kemauan politik yang kuat, bisa membuat kondisi bumi yang sudah sedemikian buruk ini, lebih baik untuk kita wariskan pada anak cucu.

Al Gore bagiku adalah salah satu guru yang mengajarkan padaku pemahamanan tentang persoalan lingkungan secara global, dan menariknya ke konteks lokal. Bukunya yang berjudul 'Bumi dalam Keseimbangan' adalah salah satu buku yang cukup berperngaruh buatku.

Comments

Popular posts from this blog

Hidup di Bandung Dasawarsa 80an - 90an

'Burako alm. jegger bonpis' foto by bapakku
Tiba-tiba saja, Bebeng bertanya: "Hey Len, maneh teh lainna budak SMP 20? Atuh gudang beas?" (hey len, bukankah kamu anak SMP 20? Gudang beras ya?). Aku yang ditanya begitu langsung balik menuding Bebeng " Hah? maneh teh budak 20 oge?" tawaku dan tawa Bebeng meledak. Tiba-tiba saja, aku dan Bebeng (yang setiap hari nongkrong di kantor AJI Bandung alias tetangga kamar tobucil) punya kesamaan sejarah, karena bersekolah di SMP yang sama. SMP yang sama sekali bukan SMP favorit (biasanya SMPN 4 tetangga kami, meledek anak-anak SMPN 20 dengan sebuatan sekolah gudang beras. SMPN 20 ini terletak persis di stasiun Cikudapateh).
Kenangan kami, ternyata ga jauh beda. Tentang: betapa 'beling'nya daerah kami di jaman remaja dulu. Anak-anak SMPN 20 Bandung (Jl. Centeh, Bandung) pasti ga asing dengan daerah-daerah di sekitarnya: Cinta Asih, Samoja, Gang Warta, Cicadas, Cibangkong, Karees, Cibunut, Alani, Kosambi, Babaka…

The Ballad of Jack and Rose

Entah kenapa aku senang sekali mengulang dan mengulang dan mengulang menonton film The Ballad Jack and Rose. Kisah bapak dan anak, hidup di sebuah tempat terpencil dengan idealisme tinggalan jaman hippies, sebagai environmentalis. Sampai akhirnya realitas berkata, “Rose, ayahmu Jack Slavin, sekarat sayang. Kau tak akan hidup selamanya bersamanya. Dia akan mati, dan kau harus terima kenyataan itu.” Yeah right, apakah aku pernah membayangkan bapakku mati? tentu saja tidak. Bahkan Rose sekalipun, meski dikisah itu, Rose tau, kondisi paru-paru Jack sudah sedemikian parahnya. Tapi saat kematian itu datang, rasanya terlalu berat untuk bisa menerima itu. Diriku sendiri, di detik-detik terakhir kematiannya, sulit mempercayai bahwa hal itu terjadi di depan mataku. Kukira, semua anak perempuan yang sangat-sangat sangat menyayangi bapaknya, tak pernah membayangkan bapaknya kan mati suatu hari nanti. Begitu pula sundea temanku, si anak bapak, yang tak bisa membayangkan, bahwa suatu hari nanti dia…

Little Children (2006)

****1/2

(kalo akhir-akhir ini aku begitu membabi buta membuat review film, ini dalam rangka festival film akhir tahun yang sudah aku lakukan dalam dua tahun terakhir ini. selama desember ini aku menonton film sebanyak-banyaknya.. yang jelas dokumentasi tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.. heheheh minimal ada usaha bikin review)

Pertama, poster film yang dibintangi Patrick Wilson dan Kate Winslet ini menggodaku untuk menontonnya. Kedua, tentu saja tema perselingkuhan dan drama rumah tangga, selalu menarik untuk cermati. Menambah ilmu dan referensi untuk memahami kehidupan berumah tangga. Itu sebabnya film ini jadi pilihan. Todd Field, sang sutradara, menggarap film ini sebagai gambaran kehidupan rumah tangga moderen kelas menengah di Amerika, tapi kukira cerita ini terjadi juga disini. Brad Adamson (Patrick Wilson), sarjana hukum lulusan Harvard yang gagal jadi pengacara. Akibatnya, dia harus mengambil peran sebagai bapak rumah tangga yang mengurus anak laki-lakinya.Sementara ist…