Monday, May 25, 2009

Night at The Museum 2: Battle of The Smithsonian (2009)

* * *

Udah lama ga nonton di bioskop dan aku mengawalinya kembali dengan film ini. Film yang entah kenapa setelah selesai menontonnya aku merasa bahagia banget. Kebahagiaan yang mungkin ga terlalu berhubungan dengan filmnya, tapi filmnya mengingatkanku kembali semua perasaan yang sulit di gambarkan ketika aku berpetualang di museum-museum Washington (Smithsonian tentunya) dan Museum Natural History (NYC) setahun yang lalu. I miss all of those place.. I miss my friends at Brooklyn Museum... jadi sentimentil..

Film ini menurutku film yang keren banget untuk memberikan penontonnya imajinasi bahwa museum adalah tempat yang menyenangkan. Kamu bisa merasakan petualangan apapun di museum, tinggal pilih saja. Sebuah film dengan tema yang sangat cocok dengan misi pengembangan audience development museum.. hehehehhe... aku merasa pesannya dapet aja.

Dibandingkan dengan Night at The Museum yang pertama, yang kedua, jauh lebih menarik. Karena kompleks memorial park washington itu isinya emang museum semua dan ga cukup seminggu untuk masuk dan melihat seluruh koleksinya. Bahkan butuh minimal 3 kali kunjungan untuk melihat hampir seluruh koleksi Metropolitan Museum atau Museum Natural History di New York. Jangan tanya juga koleksinya Smitsonian, pengalamanku masuk American Indian Museum yang di kelola oleh Smitsonian di NYC, cukup terkagum-kagum dengan koleksinya. Meski penjaganya banyak banget.. karena koleksinya yang sangat berharga.

Filmnya sebenernya gampang aja dan sangat menghibur. Akting Ben Stiller ya standar-standar aja, yang luar biasa ya bagaimana menghadirkan rasa petualangan di museum. Hal menarik lainnya adalah memasukkan karya-karya seni rupa kontemporer di film ini. Aku cukup kaget sekaligus takjub, dengan karya balon anjingnya Jeff Koon yang lari-lari di dalam museum wow.. buat orang yang mengikuti karya-karya itu, pasti terkaget-kaget bahwa karya-karya seni rupa kontemporer bisa di sajikan dalam film melalui cara yang sangat menghibur. Termasuk juga karya-karya serius seperti patung The Thinkernya Rodin, wow... dia ga lagi serius karena di film itu orang bisa ketawa liat kelakuannya. Aku bener-bener takjub dengan cara baru mengapresiasi seni lewat film ini, bener-bener ga biasa dan mengejutkan.

Aku bener-bener terhibur sekaligus merasa sangat bersyukur karena pernah merasakan langsung museum-museum itu dan menikmati karya-karyanya secara langsung..

Tuesday, May 19, 2009

The Reader (2008)

* * * *

Rasanya nyesek banget setelah selesai nonton film ini. Sebuah kait mengait kisah yang mulanya sederhana saja dan akar masalah di film ini juga sederhana saja, namun, bagaimana sebab musabab yang sederhana inilah yang kemudian mempengaruhi kehidupan seseorang secara permanen, bahkan menentukan hidup dan mati.

Berkisah tentang Michael Berg muda (David Kross) yang cinta abadinya tertanam kuat pada sosok Hanna Schmitz (Kate Winslet). Sebuah pertemuan tidak sengaja dan berkembang dengan hubungan rahasia yang begitu dalam. Saat itu, Michael baru saja berusia 15 tahun, sementara Hanna seusia dengan ibunya. Pada Hanna, Michael menemukan kemampuan dirinya, meskipun Michael acap kali sulit memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada Hanna. Hanna menyembunyikan sebuah rahasia darinya.

Hubungan berakhir dengan tiba-tiba seiring dengan menghilangnya Hanna dengan tiba-tiba pula. Semua rasa cinta Michael kepada Hanna menjadi bara yang terus menyala. Tanpa sengaja, Michael menjumpai Hanna kembali beberapa tahun kemudian di ruang sidang bekas anggota NAZI. Hanna menjadi salah satu pesakitannya dan Michael menjadi mahasiswa fakultas hukum yang mengamati langsung persidangan ini sebagai bagian dari materi perkuliahannya. Ternyata saat menghilang meninggalkan Michael, Hanna mendaftarkan dirinya sebagai penjaga camp Austwitz.

Namun jangan buru-buru menyimpulkan bahwa rahasia Hanna adalah soal keterlibatannya dengan Nazi. Bukan. Bukan itu.Michael justru menyadarinya saat memperhatikan Hanna di proses persidangan itu. Michael menyadari apa yang sesungguhnya Hanna sembunyikan di balik permintaannya, membacakan cerita sebelum mereka bercinta. Lebih jauh lagi, rahasia di balik keputusan Hanna menerima semua fitnah dari teman-temennya sesama penjaga kamp, sehingga Hanna lah yang harus menanggung hukuman lebih daripada yang lain.

Jangan terburu-buru mengira bahwa Michael yang kemudian mengetahui rahasia itu lantas menyelamatkan Hanna dari tuduhan yang diterakan kepadanya. Tidak. Film ini cukup sabar untuk membangun tohokan perasaan penonton sedikit demi sedikit.

Karena keterlibatannya sebagai penjaga kamp konsetrasi NAZI itulah, Hanna di hukum 20 tahun penjara. Di dalam penjara kemudian, Hanna berusaha keras berdamai dengan rahasia yang selama ini dia sembunyikan. Michel yang sudah berprofesi sebagai pengacara itu (Michael dewasa diperankan oleh Ralp Fiennes), kembali mengambil peran yang pernah ia mainkan saat dirinya dan Hanna masih menjalin affair pada saat itu, yaitu membacakan cerita.

Di sutradarai oleh Stephen Daldry, film ini mengantarkan Kate Winslet kembali meraih Oscar tahun ini sebagai pemeran utama wanita terbaik dan ini membuktikan kepiawaian akting Kate Winslet yang semakin matang.

Mau tau apa sesungguhnya rahasia di film ini? tonton saja filmnya.. :)

The Child and The Fox/ Le Renard et l'enfant (2007)

* * * *

Saat membaca judulnya, aku teringat cerita di masa kecil tentang 'Ruby si Rubah Kecil'. Cerita itu membuatku menangis sedih untuk pertama kalinya gara-gara sebuah buku. Dan ternyata aku tetep juga menangis, tapi karena haru saat menonton film yang berkisah tentang persahabatan seorang anak perempuan dengan 'lily' rubah liar yang hidup di hutan dekat rumahnya.

Menonton film ini, seperti sedang didongengi oleh Kate Winslet sebagai narator edisi bahasa Inggris tentang lika liku kehidupan seekor rubah dari pandangan seorang anak perempuan. Film ini sangat menyenangkan bagiku. Seperti menonton dokumenter National Geographic tapi terasa manis dan segar, hanyut dalam pemandangan Perancis Selatan yang indah dari musim ke musim.

Pemainnya hanya seorang gadis kecil yang tak disebutkan namanya diperankan oleh Bertille Noël-Bruneau dan seekor rubah yang diberi nama lily. Bagiku yang dibesarkan oleh buku-buku cerita anak-anak terjemahan dari Eropa, film ini seperti memanggil kembali semua gambaran kisah-kisah Enyd Blyton, petualangan Tini, Astrid Lindgren, Serial Nina, Ruby si Rubah Kecil, tapi semua dalam setting yang nyata.

Kisah yang manis dan sederhana, karena si gadis kecil ini, begitu pantang menyerah untuk bisa bersahabat dengan Lily. Setelah persahabatan itu ia dapatkan, hasrat untuk menguasai muncul, ia mencoba mengurung Lily dalam kamarnya, namun yang terjadi di luar dugaan. Sampai akhirnya si gadis cilik menyadari, bahwa ketika ia begitu mencintai si rubah, ia juga harus belajar melepaskan dan bebebaskannya.

Ku kira, film ini sangat cocok untuk anak-anak, selain mereka bisa belajar mencintai binatang, mereka bisa belajar tentang pelajaran penting tentang bagaimana mencintai yang membebaskan itu. Benar-benar sangat menyentuhku..

Rachel Getting Married (2008)

* * * *

Gara-gara penasaran sama Anne Hathaway aku langsung nyari film ini ke toko dvd tetangga. Anne dinominasikan sebagai aktris terbaik Oscar 2009, lewat film ini. Dan setelah menontonnya, aku suka sama aktingnya dan juga filmnya secara keseluruhan. Selama ini, Anne main di film dengan peran-peran yang menurutku biasa-biasa aja.

Rachel Getting Married bercerita tentang Kym yang bermasalah dengan narkoba dan menghuni panti rehabilitasi, pulang ke rumah beberapa hari saja khusus untuk menghadiri pernikahan Rachel (Rosemarie DeWitt). Saat berkumpul keluarga inilah, masalah keluarga di masa lalu yang belum selesai, muncul kembali di antara ketegangan mempersiapkan pesta pernikahan.

Kym memang pernah melakukan kesalahan besar. Saat dia dalam pengaruh obat, ia mengendarai mobil bersama adik bungsunya, Ethan. Saat itu Kym tidak dapat mengendalikan mobil yang disetirinya dan saat mobil itu terjun bebas ke sungai, Kym tak bisa menyelamatkan Ethan yang tenggelam bersama mobil itu. Kematian Ethan mengubah semuanya dalam keluarga itu. Orang tua Kym bercerai. Ayah Kym dan Rachel menerima itu sebagai sebuah kecelakaan meski Rachel menyesalkan ketidak mampuan Kym mengendalikan diri. Sementara Ibunya, tetap tidak bisa berdamai dengan masalah itu dan menganggap Kym yang bersalah telah membunuh Ethan.

Sebenernya ini drama keluarga biasa, namun yang membuat film ini menjadi tidak biasa dan mengesankan adalah cara Jonathan Demme, sang sutradara, mengemas jalan ceritanya. Demme mencoba mengemas cerita ini seperti sebuah drama yang real dan natural. Akting tokoh-tokohnya yang sangat wajar (namun terasa sekali intensitas emosi yang kuat di antara tokoh-tokohnya) dan cara dia mengambil gambar, membuat film ini punya kekuatan.

Karena kenaturalannya itulah, Anna Hathaway menurutku bisa memunculkan kemampuan aktingnya yang kuat dan intens. Buat yang seneng nonton drama keluarga, film ini menurutku bisa memberi nuansa emosi yang berbeda. Selamat menonton..

Love in the Time of Cholera (2007)

* * *

Barang siapa percaya cinta sejati itu ada dan akan berakhir happy ending, film ini cukup mewakili keyakinan itu. Diangkat dari novel karya Gabriel Garcia Marquez dengan judul yang sama, film ini mencoba menghadirkan kemeriahan dan kait berkait peristiwa dan tokoh-tokohnya yang tidak sedikit itu.

Di sutradarai oleh Mike Newell, film ini berkisah tentang Florentino Ariza (Javier Bardem) yang menakdirkan dirinya sebagai cinta sejati Fermina Daza (Giovanna Mezzogiorno). Namun, nasib juga yang memisahkan Fermina dan Florentino, karena Fermina justru menikahi Dr. Juvenal Urbino (Benjamin Bratt.. God damn.. he's so sexy). Meski harus mengalami patah hati dan berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain untuk mengisi hatinya yang ditinggal Fermina, Florentino tetap setia pada takdirnya, bahwa Fermina lah cinta sejatinya meski untuk bertemu takdirnya, Florentino harus menunggu berpuluh tahun.

Memang bukan hal mudah untuk memfilmkan, sebuah novel yang sangat kaya detail dan jalan hidup tokoh-tokohnya yang meriah seperti karya Marquez, untuk kemudian menghadirkannya dalam satu film yang utuh dan berhasil mentransfer 'feel' novelnya ke dalam film. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi film selalu punya keterbatasan waktu. Dalam dua jam, semua ingin diceritakan sampai akhirnya, semua hanya disentuh permukaannya saja, tanpa penjelasan dan jadinya malah berkesan tempelan saja. Itu juga yang kurasa terjadi dengan film ini. Banyak sekali yang ingin di tampilkan akhirnya ya ceritanya menjadi kurang dalam. Soal ini selalu jadi dilema pembuat film yang mengangkat cerita dari sebuah novel, apalagi itu novel karya Gabriel Garcia Marquez.

Untuk sebuah hiburan, lumayan cukup menghibur, namun untuk berharap menemukan 'feel' yang sama dengan novelnya, siap-siap saja kecewa.

Le Grand Voyage (2004)

* * * *

Bagaimana rasanya 'terpaksa' mengantar ayah pergi haji dari Perancis sampai Saudi Arabia? Ismael Farroukhi (sutradara) mencoba menjawabnya. Lewat Reda (Nicolas Cazale) si anak, dan si ayah (Mohamed Majd), perjalanan spiritual ini, menjadi kisah bagaimana anak dan ayah mencoba saling memahami.

Tanpa banyak berkata, gap generasi si ayah yang lahir di tanah asal dan si anak yang lahir di tanah rantau, terungkapkan lewat adegan demi adegan film ini. Bagaimana si ayah masih memeluk agama islam secara taat, sementara anaknya yang lahir di Perancis, sulit mengerti mengapa ritual-ritual agama yang terasa menyulitkan itu masih harus dilakukan. Yang lebih mengherankan lagi, mengapa ayanya harus bersusah payah ke tanah suci dengan menempuh jalan darat, padahal ada pesawat yang bisa mengantar si ayah langsung ke tanah suci tanpa harus bersusah payah. Sebagai sebuah film perjalanan spiritual, Le Grand Voyage, terasa kental dan intens lewat bahasa visualnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tokohnya. Mereka ga perlu cerewet untuk mengatakan banyak hal, namun setiap peristiwa yang menjadi kepingan-kepingan cerita sudah cukup melukiskan intensitas emosi cerita.

Film berbahasa Perancis ini, memang terasa sangat Perancis dalam bertutur. Penonton tidak perlu lagi dijelaskan panjang lebar tentang apa dan mengapa tokoh-tokohnya hadir, namun penonton langsung diajak ke setiap fragmen dan mengenali sendiri apa, siapa dan mengapa mereka hadir.

Adegan favoritku di film ini adalah pada saat Reda menangisi bapaknya. Getar emosinya meninggalkan kesan justru sesudah filmnya selesai. Bagiku, kebanyakan film-film yang ga cerewet dalam bercerita, justru meninggalkan kesan yang dalam, karena ada jejak emosi yang tertinggal yang membuatku memikirkannya. Kurasa film-film seperti itu lah yang berhasil mengganggu penontonnya untuk berpikir dan melihat apa yang ada di balik drama tokoh-tokohnya.

En La Cama/In Bed (2005)

* * * *

'Ternyata one night stand bisa juga jadi sesuatu yang emosional', begitu komentarnya ketika membahas film ini lewat sms. Film garapan sutradara Chile, Matiaz Bize ini hanya di bintangi oleh dua orang aktris Blanca Lewin sebagai Daniella dan Gonzalo Valenzuela sebagai Bruno.

Pertemuan yang tak sengaja di sebuah pesta, membawa Daniella dan Bruno ke atas ranjang untuk seks semalam saja (one night stand). Setelah persetubuhan yang menggairahkan antara dua orang asing yang baru saja bertemu, percakapan diantara keduanya, justru membawa mereka ke wilayah diri yang paling dalam. Hal-hal yang selama ini sulit di ungkapkan oleh masing-masing, justru terungkap karena keduanya berpikir, 'setelah ini kita tidak akan bertemu lagi, setelah ini kita akan sibuk dengan hidup kita masing-masing dan saling melupakan'.

Tapi benarkah demikian? benarkan seks hanyalah sekedar penetrasi tanpa emosi? bagaimana dengan gairah saat melakukannya dan emosi yang menyertainya? Kupikir Matias Bize sangat cerdas meninggalkan pertanyaan itu dalam potongan ending yang pas dan tidak memaksa. Biarkan saja itu semua jadi pertanyaan.

Dengan budget yang kurasa sangat murah meriah dan setting yang sangat minimalis_sepanjang film setting hanya di dalam kamar hotel saja dan kamar mandi_ film ini tidak terjebak dalam erotisme dan seks semata, namun lebih dalam dari itu, karena dialog antara dua tokohnya terasa cerdas tanpa terasa tempelan juga... kurasa itu semua juga karena dua bintang yang bermain disini cukup menghayati karakternya dan berakting dengan sangat baik.

Vicky Cristina Barcelona (2007)

* * *

Aku ga inget kalo pengen nonton film ini, sampai saat sarapan tiba dan dia mengingatkanku untuk menontonnya.

Judulnya cukup menggoda, begitu juga filmnya. Ga ada yang lebih menggoda daripada menonton film tentang hubungan asmara yang rumit dan kait berkait antara sahabat dan teman sekeliling. Cristina (Scralett Johansson) dan Vicky (Rebecca Hall), dua sahabat dari Amerika, pergi berlibur menghabiskan musim panas mereka di Barcelona. Pertemuan mereka dengan Juan Antonio (Javier Bardem), memperangkap dua sahabat ini dalam hubungan asmara yang rumit karena Vicky diam-diam jatuh cinta pada Juan Antonio dan Cristina secara terbuka sangat tertarik pada Juan Antonio pada kali pertama mereka bertemu. Cinta segitiga ini, bertambah rumit dengan kehadiran Maria Elena (Penelope Cruz), mantan istri Juan Antonio yang mengidap histeria dan belum bisa menerima perceraiannya dengan Juan Antonio.

Film ini berputar pada kisah kait berkait di antara mereka, namun dengan gaya Woody Allen (sutradara dan penulis skenario) yang khas, kait berkait ini menjadi kisah petualangan yang menyenangkan dan menggelikan. Belum lagi pemandangan Barcelona yang memikat, membuat musim panas menjadi terasa sangat menyenangkan dan hidup.

Semua pemainnya terasa jadi diri mereka sendiri dengan keamerikaannya, dengan ke spanyolannya.. terutama Javier Bardem dan Penelope Cruz, saat mereka berantem dengan bahasa Spanyol, rasanya kok mereka banget.. Mungkin buat Bardem dan Cruz, jauh lebih mudah ketika mereka harus akting dengan bahasa ibu mereka.

Bagiku film ini cukup menghibur, tidak terlalu berkesan, tapi juga tidak membuatku menyesal menghabiskan waktu untuk menontonnya.

The Diving Bell and The Butterfly (2007)

* * * * 1/2

Aku benar-benar jatuh cinta pada bahasa visual Julian Schnabel di Film ini. Menurutku Schnabel sangat jenius memvisualisasikan bagaimana tokohnya, Jean Dominique Bauby, berkomunikasi.

Film ini diangkat dari kisah nyata, Editor majalah Elle, Jean Dominique Bauby (diperankan oleh Matthew Amalric) yang menderita Lock-in Syndrome pada tahun 1995, akibat serangan jantung dan stroke yang dideritanya. Satu-satunya organ tubuh yang tidak mengalami kecacatan adalah matanya. Dengan mata itulah, Jean Do, berkomunikasi dengan dunia. Satu kedipan mata untuk mengatakan ya, dan dua kedipan untuk mengatakan tidak. Dalam kondisi yang serba terbatas itu ternyata tidak menghalangi Jean Do untuk menuliskan apa yang dia pikirkan dan rasakan dalam dunianya yang sangat terbatas itu. Dengan dibantu oleh pengeja yang membantu menyebutkan huruf-huruf dimana Jean Do akan mengedip pada huruf yang dimaksud, dalam sisa hidupnya yang serba terbatas itu, Jean Do berhasil menulis sebuah buku tentang imajinasinya yang tak terbatas itu.

Berbeda dengan film-film penderita penyakit seperti yang di derita Jean Do, bahasa visual yang dipakai Julian Schnabel dalam film ini, benar-benar membuat penonton merasa Jean Do dengan kondisinya yang sangat terbatas itulah yang sedang bercerita. Schnabel mencoba memakai mata Jean Do untuk menceritakan kisahnya dan kukira cukup berhasil. Selama ini, film-film sejenis selalu memakai mata narator untuk bercerita. Juga bagaimana Schnabel merangkaikan visual yang mewakili isi kepala Jean Do dalam film ini. Schnabel benar-benar masuk dalam mata dan kepala Jean Do.

Sebuah film yang sangat menarik dalam eksplorasi visual. Setidaknya memberi sudut pandang lain bagaimana sutradara menghadirkan tokohnya bukan sekedar menggambarkan karakternya, tapi juga bagaimana dia melihat dan bersuara.

Lost In La Mancha (2002)

* * * * 1/2

Kalau kamu penggemar berat karya-karya Terry Gilliam (Monty Python and Holy Grail, Time Bandit, Brazil, Twelve Monkeys, Fear and Loathing in Las Vegas, Brother Grims), dokumenter ini tontonan wajib untuk mengenali bakat istimewa sutradara pecinta magical realism ini.

Awalnya, Keith Fulton dan Louis Pepe, berniat mendokumentasikan proses pembuatan film Gilliam yang berjudul 'The Man Who Killed Don Quixote'. Fulton dan Pepe semula tak pernah menduga, bahwa dokumenter yang mereka buat, akan menjadi diary penting, bagaimana film ini gagal di produksi. Ku kira, bagi siapapun yang tertarik menjadi film maker, kegagalan Terry Gilliam mewujudkan film yang selama ini menjadi alter egonya: Don Quixote, jadi pelajaran penting bahwa banyak hal yang sering kali tak bisa di prediksikan dalam proses pembuatan film.

Faktor kekagalan produksi The Man Who Killed Don Quixote benar-benar di luar prediksi, meskipun bayang-bayangnya menghantui proses produksi film ini sejak awal. Sebagai sutradara Amerika, bukan hal mudah untuk memproduksi film di Eropa. Ada kultur produksi film yang jauh berbeda antara Hollywood dan Eropa. Fantasi Gilliam dalam film ini, mesti berhadapan dengan kenyataan keterbatasan budget meski untuk ukuran produksi Eropa, film ini termasuk film dengan budget cukup besar: 25 juta dollar. The show must go on. Dengan memusatkan produksi di Madrid, Spanyol, Gilliam tetap berusaha mewujudkan impiannya memilemkan Don Quixote. Bintang Perancis senior yang beken lewat film-film komedi di tahun 70-an, Jean Rochefort, terpilih memerankan Don Quixote di film ini. Bagi Rochefort, film ini menjadi debut perdananya dalam produksi film non Perancis. Johnny Deep juga termasuk salah satu pemeran utama di film ini.

Dengan segala keterbatasan persiapan dan budget produksi yang sangat ketat, produksi film ini pun di mulai. Namun rupanya, keberuntungan kali ini enggan berpihak pada Gilliam. Di hari kedua produksi, semua set dan peralatan, terkena badai di lokasi syuting. Dan kabar buruk yang datang berbarengan adalah aktor utamanya Jean Rochefort, terkena infeksi prostat cukup parah dan tidak mungkin kembali ke lokasi syuting. Akhirnya keputusan sulit pun terpaksa di ambil: produksi di hentikan dengan kata lain, film ini gagal di produksi.

Fulton dan Pepe berada dalam situasi yang dilematis. Mereka berada dalam situasi yang serba salah dan ada pada pilihan yang sulit, ketika tau film yang sedang mereka dokumentasikan proses pembuatannya ternyata gagal di produksi. Pada saat inilah, Gilliam meyakinkan Fulton dan Pepe: "Kita sama-sama bikin film, saya gagal melakukannya, tapi bukan berarti kamu juga gagal membuatnya.. kamu harus selesaikan filmmu". Terry Gilliam benar-benar mendukung pembuatan film dokumenter ini. "Kami sampai tidak enak, karena setiap kali ada perubahan, Terry harus kembali melihat mimpi buruknya dengan The Man Who Killed Don Quixote," ungkap Fulton. Butuh waktu dua minggu untuk pulih secara emosional bagi Terry setelah menonton versi akhir dari dokumenter Lost in La Mancha ini.

Dalam sebuah forum diskusi yang diselenggarakan oleh IFC, th 2001, Terry Gilliam ditanya oleh kritikus The New York Times, apa yang ia rasakan setelah kegagalan The Man Who Killed Don Quixote, dengan ringan dan tawanya yang khas Terry menjawab:" Film bukan segalanya dalam hidup saya.. satu film dengan film yang lain, bagi saya seperti proses membangun tembok, satu persatu saya meletakan batu itu, jika gagal, saya tinggal mengulanginya lagi.." Tahun 2011 mendatang, Terry akan memulai kembali produksi The Man Who Killed Don Quixote, meski ia harus memulai kembali semuanya dari awal.

Lost in La Mancha ini berdurasi 93 menit dengan ekstra feature kurang lebih 3 jam. Berisi rekaman wawancara orang-orang yang terlibat dalam produksi The Man Who Killed Don Quixote dan Lost in La Mancha sendiri. Film yang cukup penting menurutku untuk orang-orang yang berminat terjun ke dunia film atau ingin mengenal lebih jauh Terry Gilliam.

Joe Strummer: The Future Is Unwritten (2007)

* * * * 1/2

Setelah mencari-cari DVD ini keliling NY.. dapetnya malah di Easy Street Records Seattle. Dokumenter keren menampilkan kekayaan footage yang dirangkai apik oleh sang sutradara Julien Temple.

Dokumenter ini menceritakan tentang perjalanan profil Joe Strummer, pentolan The Clash yang cukup karismatik. Mulai dari Briget Bardot, Michael Balzary alias Flea Red Hot Chili Peppers, Bono (U2), Steve Buscemi, Terry Chimes (drummer The Clash), John Cooper Clarke, Johnny Deep, John Cussack, Matt Dillon, Mick Jagger, Martin Scoresese, Anthony Kiedis, Jim Jarmush.. ikut berkomentar tentang Joe Strummer.

Pria kelahiran Ankara, Turki, 21 Agustus 1952 dengan nama asli John Graham Mellor sejak kecil ikut berpindah-pindah tempat sesuai dengan tugas ayahnya yang bekerja sebagai staf diplomatik kerajaan inggris. Pengalaman tinggal di Mexico, Turki, Kairo dan Bonn, membentuk musikalitas Strummer yang kelak berpengaruh pada karya-karyanya.

Lewat The Clash yang menjadi salah satu legenda punk rock dunia, Strummer menulis lirik-lirik yang sangat kental dengan kritik sosial dan politis. Album London Callling sempat dinobatkan sebagai album terbaik versi majalah Rollinstones pada dekade 80-an. Namun pada tahun The Clash akhirnya bubar tahun 1986 dan Strummer memilih jalannya sendiri.

Kekayaan footage di film ini menggambarkan semangat Strummer dan kegelisahannya terhadap persoalan-persoalan sosial di sekelilingnya. Penghayatan Strummer tentang nilai-nilai kemanusiaan ia dapatkan dari pergulatan dan pengalaman hidupnya yang luar biasa. Bagi Strummer, musik menjadi cara baginya untuk memahami dan menghayati hakikat kemanusiaan. Itu sebabnya aktivisme sosial menjadi satu kesatuan dalam kehidupan bermusiknya.

Bagi Julien Temple, film ini kemudian jadi penghargaan bagi sosok Joe Strummer sebelum, dengan dan tanpa nama besar The Clash_ Joe Strummer sebagai individu. Joe Strummer meninggal pada tanggal 22 Desember 2002 karena penyakit jantung yang tak terdiagnosa sebelumnya.

There Will Be Blood (2007)

* * * * *

Film ini pertama kali aku tonton di pesawat dengan subtitle bahasa arab (karena naik Qatar Airways). Berhubung Daniel Day Lewis pemeran utamanya aku nyari lagi DVDnya disini. Lumayan mahal.. tapi tak apalah.

Perjalanan ambisi Daniel Plainview (Daniel Day Lewis), spekulator minyak yang memulai karirnya dari nol sampai ia menjadi seseorang. Film garapan Paul Thomas Anderson ini mengangkat pertarungan dua ambisi atas nama uang yang diwakili karakter Daniel Plainview dan ambisi pendeta muda Ely Sunday (Paul Duno) yang mengatas namakan Tuhan untuk mengejar ambisi pribadinya.

Film yang menurutku drama dengan takaran yang pas tidak berlebih-lebihan, tapi karena casting yang tepat dan kemampuan Daniel Day Lewis yang total menghadirkan tokoh Daniel Plainview, mampu membuat penontonnya bergidik atas naluri kekejaman Plainview yang tersembunyi. Semua keramahan dan sisi manusiawi Plainview adalah kemampuannya untuk mengontrol ambisi dan kekejaman dalam dirinya. Day Lewis menghadirkan karakter Plainview seperti seorang samurai handal yang sangat tau kapan di detik keberapa dia harus mengentikan ayunan pedangnya setelah menebas habis leher musuh-musuhnya. Ga heran kalo perannya di film ini mengatar Day Lewis meraih Oscar kedua sebagai aktor pemeran utama terbaik 2008, setelah tahun 1990, ia memenangkan Oscar pertamanya untuk film My Left Foot.

Sementara Ely Sunday (Paul Duno) sebagai pendeta muda, ia terlalu naif ketika berhadapan dengan manusia seperti Plainview yang sudah kekajaman hidup yang tak terbayangkan. Bagi Plainview, Ely adalah anak kemarin sore yang begitu naif dan sembrono yang bisa menghalangi ambisinya.Kisah yang mengambil waktu di akhir abad 19 dan awal 20 ini, berfokus pada perjuangan Plainview membuka tambang minyak di Little Boston dan bagaimana usahanya itu berhadapan dengan ambisi Ely.

Music scorenya di garap dengan sangat baik oleh Johnny Greenwood, personil Radiohead. Greenwood mampu membangun suasana kekejaman itu bukan hanya mencekam tapi membuat penonton bergidik merasakan karakter tokoh-tokohnya.

Sekali lagi Daniel Day Lewis membuktikan totalitasnya sebagai aktor penting dalam sejarah perkembagnan film dunia.

Into The Wild (2007)

Category:Movies
Genre: Drama
"Happiness is real, when shared."

Begitulah Christopher McCandless (12 February 1968-18 Agustus 1992) menulis dalam catatan hariannya di hari-hari terakhir menjelang kematiannya. Sebuah film yang diadaptasi dari kisah nyata Christopher McCandless dan diperankan dengan sangat brilian oleh Emil Hirsch (memerankan Jay Adams dalam Lord of Dogtown). Sebuah film yang menceritakan keberanian merengkuh impian dan keyakinan meski nyawa taruhannya.

Chistopher McCandless a.k.a Alexander Supertramp, meyakini bahwa hidup adalah kejujuran untuk merengkuh kebebasan abosolut sebagai manusia. Tanpa hipokrasi, tanpa materi yang menentukan nilai dan harga diri seseorang. Lahir dan besar di Virginia dari keluarga mapan_ ayahnya Walt McCandless, bekerja untuk NASA sebagai antenna specialist. Ibunya, Wilhelmina "Billie" Johnson, bekerja bersama ayahnya mendirikan sebuah konsultan yang cukup sukses. Namun dalam pandangan Chris, orang tuanya adalah figur masyarakat kelas menengah yang hipokrit, penuh dengan kemunafikan. Dalam lingkungan sosial, kedua orang tuanya dikenal sebagai pasangan sukses yang harmonis_figur ideal bagi lingkungan sosialnya. Namun di rumah, ayahnya adalah pelaku kekerasan domestik kepada ibunya. Situasi ini yang membentuk pribadi Chris dan menjadi motivasi dari perjalanan dan petualangan yang di jalaninya saat ia beranjak dewasa.

Setelah lulus dari Emory Collage di tahun 1990, Chistopher memberikan dana kuliahnya sebesar $24,000 dari $42,000, kepada Oxfam International. Dengan berbekal uang yang tersisa, Chris memutuskan melakukan perjalanan keliling Amerika. Cita-cita besarnya adalah hidup di tengah belantara Alaska, karena itu Chris berusaha hidup dengan seminimal mungkin uang dan menghindari hubungan yang dalam dengan orang-orang yang dijumpai dalam perjalanan untuk melatih kemampuan bertahan hidup di belantara Alaska.

Sean Penn, sang sutradara sekaligus penulis skenario, mendapat banyak pujian dari pada kritikus dan penghargaan dari beberapa festival film di luar Amerika sebagai film asing terbaik. Demikian pula Emile Hirsch yang mendapat pengakuan National Board Review sebagai Breakthrough Performance (male actor) dalam film ini. Penggarapan soundtrack yang begitu apik oleh Eddie Vedder, Michael Brook, Kaki King mendapatkan penghargaan 65th Golden Globe Award untuk kategori best original soundtrack.

Bagi para pecandu perjalanan, film ini menggugah kesadaran tentang makna perjalanan itu sendiri. Apa yang terpenting saat impian berhasil kita raih dan rengkuh. Apa arti semua pengorbanan yagn kita lakukan untuk sebuah perjalanan menggapai mimpi.. Buatku saat ini, film ini kena banget... sangat mencerahkan..

Antares (2004)

* * *

Aku agak surprise ketika alur cerita film ini ternyata seperti Amores Perros, hanya saja dalam tempo yang lebih lambat. Film Austria berbahasa Jerman garapan Gotz Spielman ini, terbagi dalam tiga kisah yang tokoh-tokohnya terhubung dalam ketidak sengajaan.

Bermula dari Eva (Petra Morze), seorang suster yang terjebak dalam kehidupan rutin bersama suaminya dan anak perempuannya. Pertemuan Eva kembali, dengan Thomasz (Andres Patton), mengobarkan kembali affair yang pernah terjalin diantara mereka. Eva menemukan kegairahan baru di antara kejenuhan rumah tangganya. Sampai akhirnya dengan dingin Eva menelepon suaminya dan mengaku bahwa ia memiliki kekasih lain. Respon suaminya saat itu adalah 'mengapa? bukankah rumah tangga kita baik-baik saja?

Kisah kedua, berkisah tentang sonja, seorang pramuniaga yang sangat pencemburu pada kekasihnya. Kisah Sonja ini terhubung dengan kisah Eva, ketika Eva bertemu Sonja di supermarket, dimana Sonja adalah kasir yang melayaninya. Saat itu, konsumen yang lain marah-marah pada Sonja karena menemukan halaman majalah yang dibelinya, sengaja di sobek beberapa halaman entah oleh siapa. Belakangan ketahuan, Sonja yang melakukan itu karena halaman yang ia sobek berisi gambar-gambar ibu dengan bayinya. Sonja terobsesi ingin punya anak dengan alasan, itu cara satu-satunya bagi Sonja untuk tidak kehilangan Marco (Denis Cubic), meski tanpa sepengetahuan Marco, Sonja telah kehilangan bayinya.

Marco terkait dengan kisah ketiga. Kerena Marco diam-diam terlibat affair dengan Nicole (Martina Zinner) yang tak lain adalah istri Alex (Andreas Kiendl). Hubungan rumah tangga Nicole dan Alex selama ini diwarnai oleh kekerasan dalam rumah tangga. Itu sebabnya Niicole berselingkuh dengan Marco. Untuk mengambil hati Nicole kembali, Alex yang sehari-hari berkeja sebagai sales properti, bekerja keras untuk menunjukan kesuksesannya. Namun upayanya itu sia-sia. Nicole tetap tidak mau menerima Alex kembali. Adegan yang menewaskan Alex seketika kemudian menghubungkan kisah Alex dan Eva, kerena mobil yang bertabrakan adalah mobil Alex dan Thomasz.

Film ini sangat Eropa, tidak meledak-ledak tapi terasa sangat intens. Untuk sebuah film percarian cinta sejati ini, film ini ga secerewet Breaking and Entering. Untuk yang tidak terlalu suka film Eropa, film ini mungkin terasa sedikit hambar, kecuali adegan-adegan seksnya yang di gambarkan sangat eksplisit. Yang menarik buatku sebenernya bagaimana cara membahasakan kekosongan tokoh-tokohnya yang diperankan dengan baik oleh aktor dan aktrisnya. Tanpa kata-kata, tapi gestur dan ekspresi tokohnya mencerminkan kekosongan itu.

cukup lumayan..

Breaking and Entering (2006)

* * *

Setelah sekian lama absen nonton film, aku memulai lagi melakukan pekerjaan rumah ini. Film yang cerita dan penyutradaraannya digarap Anthony Minghella, niatnya ingin mengangkat persoalan perbedaan ras dan kelas di London antara kelas menengah dan imigran dalam balut cerita drama hadirnya orang ketiga. Sayangnya masalah kelas ini ga berhasil dibidik dengan tajam oleh Minghella.

Bercerita tentang Will Francis (Jude Law), seorang urban designer (yeahhh aku suka sama latar belakang profesinya.. remind me someone...) yang mencoba menemukan cinta dari perempuan Swedia-Amerika_Liv (Robin Wright Penn) dan anak perempuannya yang mengidap spektrum autis. LIv yang begitu melankoli, tidak mudah membuka pintu hatinya untuk bisa sepenuhnya dicintai oleh Will. LIv ragu untuk mengundang Will masuk ke dalam lingkaran kehidupannya dan sepenuhnya ikut terlibat mengasuk anak perempuan Liv.

Di tengah kegamangan itu, Will lebih memilih tenggelam dalam pekerjaannya sebagai urban designer yang saat itu di firma arsiteknya sedang menggarap penataan ulang wilayah King Cross, di daerah slum London. Bersama rekannya Sandy (Martin Freeman), Will membuka kantor dari bekas gudang di daerah King Cross. Sindikat mafia yang berasal dari imigram Bosnia beberapa kali membobol firmanya dan mengambil semua komputer yang ada di firma itu. Sampai akhirnya di ketahui, seorang pemuda Bosnia, bernama Miro (Ravi Gavron) menjadi kaki tangan pencurian ini.

Will sempat membuntuti dimana Miro tinggal, sampai kemudian ia menemukan Amira (Juliette Binoche) seorang penjahit yang tak lain adalah ibunya Miro.WIll sengaja pura-pura menjahitkan jasnya pada Amira dengan maksud meneliti keberadaan Miro. Namun lama kelamaan kunjungannya ke tempat Amira, berbuntut affair diantara mereka. Will yang sedang gamang itu, mengira bisa menemukan cinta yang lain dari diri Amira. Meski Amira akhirnya mengetahui maksud awal Will mendekatinya. Amira merasa di manfaatkan.

Pada titik ini, ceritanya jadi agak bias, antara masalah siapa memanfaatkan siapa, persoalan perbedaan ras, kelas anatara imigran dan kelas menengah, dan penyelesaian konflik rumah tangga. Jude Law selalu bermain sebagai Jude Law. Rasanya sulit baginya bertransformasi menjadi seutuhnya menjadi karakter yang ia mainkan. Atau mungkin juga Jude Law memang selalu kebagian peran yang seperti itu. Di sini, kita menemukan Jude Law yang ga terlalu jauh beda dengan Jude Law di 'Closer'. Sementara karakter Robin Wright Penn, sebagai perempuan Swedia yang dingin dan melankoli jadi terlalu berlebihan. Hanya Juliette Binoche yang terasa pas dengan karakternya.

Satu hal yang aku suka adalah profesi Will yang urban designer itu, juga firma arsiteknya. Tapi ada satu kutipan yang aku catet di beberapa adegan akhir film ini. Liv sempat marah saat Will membantu Miro dari tuduhan kriminal yang dilakukannya. Liv menggugat Will 'Kenapa kamu mencari cinta di luar sana? kenapa kamu tidak mencarinya dariku?' Will saat itu menjawabnya: 'kukira aku bisa menemukannya di luar sana, tapi ternyata cinta itu memang ada padamu..' yeah.. sebuah kutipan yang terdengar klise dari sebuah cerita perselingkuhan, tapi dalam kehidupan nyata hal-hal yang klise seperti ini justru sulit untuk di pahami dan dimengerti.

Untuk sebuah film drama, film ini cukup lumayan lah.. apalagi bagi penyuka film-film bertema perselingkuhan..

In The Mood For Love (Fa Yeung Nin Wa, 2000)

* * * 1/2

Beberapa kali aku minjem film ini tapi ga pernah kesampaian untuk ku tonton. Akhirnya baru sekarang setelah aku menemukan boxset Wong Kar Wai di perpus Ngadinegaran. Yah, kebeneran ku tonton aja daripada waktu istirahat berlalu begitu saja.

Mmm.. ga tau kenapa aku tu suka gemes nonton film-filmnya Wong Kar Wai, termasuk film ini. Kar Wai tuh paling jago mempermainkan hasrat terpendam tokoh-tokohnya. Tarik ulur gairah.. saling menahan, tapi pada satu titik dilepaskan begitu saja dengan liar.

Berkisah tentang dua pasangan suami istri yang hidup bersebelahan. Mrs. chan (Maggie Cheung) dan Mr. Chow (Tony Leung). Kehidupan rumah tangga keduanya bukanlah kehidupan rumah tangga yang harmonis. Sampai kemudian Mrs. Chan dan Mr. Chow ini menjadi saling mengisi. Sampai pada satu titik, ikatan emosional yang intens itu harus diakhiri, karena bagaimana pun hubungan perselingkuhan kalau kata cicik rani adalah jalan buntu. Selalu mentok.

Sebenernya film ini ceritanya seperti cerita perselingkuhan pada umumnya, tapi yang membedakan dari setiap film-film seperti ini adalah kemampuan sutradara dan para pemainnya mempermainkan intensitas emosi, tarik ulur hasrat terpendam itu..Wong Kar Wai jagonya deh..

O ya satu hal yang sering bikin penonton merasa ikut ditarik ulur juga adalah dari detail-detail yang ditampilkan Wong ketika ia ngeshoot bagian-bagian dari ruangan, ekspresi tokohnya yang ia shoot dari balik gordyn, detail pegangan tangan.... ngajak penonton mengintip keintiman itu. Pola yang sama bisa kita lihat juga di 2046.

Sesuai dengan judulnya film ini bisa bikin yang nonton in mood for love...

Arizona Dream (1993)

* * * *

Niatnya mau nonton habis semua boxsetnya Emir Kusturica selama di Yogja, eh ternyata ga ada subtitle bahasa Inggrisnya. Cuma Arizona Dream satu-satunya yang berbahasa Inggris, jadi ga ada subtitle pun ga masalah. Film ini, termasuk film yang pengen banget aku tonton. Karena Johnny Deep muda maen di film ini. Sebagai pecinta Johnny, tentunya penting menonton film yang di sutradarai Emir Kusturica ini, karena selama ini Johnny banyak kerja sama sutradara-sutradara penting. Salah satunya Kusturica.

Ini sebenernya film lama, di bikin tahun 1993. Berkisah tentang Axel Blackmar (Johnny Depp), Leo Sweetie (Jerry Lewis), Elaine Stalker (Faye Dunaway), Grace Stalker (lili Taylor) dan Paul Ledger (Vincent Gallo). Semua tokohnya adalah orang-orang yang percaya pada impiannya. Axel dengan impian-impian tentang salju, alaska, orang eskimo dan ikan-ikan yang dia percayai membawa pesan dari jiwa yang bermimpi; Leo yang sangat mempercayai impian Amerika bahwa dia bisa jadi dealer Cadillac sukses se Arizona, Elaine percaya bahwa suatu hari ia bisa terbang jauh sampai ke Papuanugini: Grace percaya bahwa suatu hari dia akan menemukan alasan untuk bunuh diri dan Paul yang selalu bermimpi bahwa dirinya suatu hari nanti akan menjadi aktor besar.

Dimulai dengan penggambaran impian Axel tentang perjalanan seroang eksimo di tengah badai salju berburu ikan halibut untuk keluarganya. Perjalanan yang sureal, sesureal bentuk ikannya yang kemudian kerap datang menghantui Axel. Sementara dipekerjaan nyata, Axel bertugas memeriksa kondisi ikan-ikan di perairan New York untuk mengetahui apakah ikan-ikan tersebut tercemar atau tidak. Sampai suatu hari Paul datang dari Arizona membawa pesan bahwa Axel harus menemui pamannya Leo yang akan menikah lagi. Leo sesungguhnya tidak mau datang. Namun Paul membuatnya mabuk dan kemudian membawa Axel ke Arizona untuk menemui Leo yang ingin sekali Axel melanjutkan usahanya sebagai dealer Cadillac. Sebenarnya sulit bagi Axel untuk menolak keinginan pamannya, karena Leo selalu menjadi pahlawan baginya sejak Axel kecil dulu. Sementara Leo memendam perasaan bersalah yang dalam kerena menyebabkan kedua orang tua Axel meninggal dalam kecelakaan mobil yang diakibatkan kelalaian Leo.

Axel berubah pikiran ketika bertemu dengan Eleine yang membuatnya jatuh cinta dan merasa Eleine adalah orang yang bisa mengerti impian-impian yang ia percayai. Namun belakangan Axel menyadari cintanya pada Elaine seperti menatap awan, nyata jelas namun tak bisa tersentuh dan lambat laun gumpalan awan yang indah itu perlahan-lahan hilang, dan justru perasaan cintanya yang nyata ia temukan dari Grace.

Relasi semua orang dan semua impian ini, dijalin dengan drama yang kutemukan kesamaannya dalam cara Kusturica berkisah di Underground. Kesan sureal juga aku rasakan dari film ini. Sesureal mimpi-mimpi dan karakter tokoh-tokoh yang bercerita di film ini. Jangan membayangkan bahwa cerita ini akan berakhir happy ending. Bukan Kusturica kalau dia membuat drama ini berakhir happily ever after. Justru nuansa drama komedi gelap terasa kental dengan ending yang ironik dan tragis. Namun penonton dibuat tidak terharu biru, hanya sesudah menontonnya ada perasaan nyesek banget di dada. Lebih merasakan kegetiran itu daripada terharu.

Interview (2007)

* * * *

Setelah lama tidak menulis review, aku mau memulainya kembali dengan film yang membuatku jatuh cinta berat sama Steve Buscemi. Di film ini dia membuktikan kemampuannya sebagai god of indie dan sutradara handal.

Berkisah tentang Pierre Peders (Buscemi) jurnalis perang dan Katya (Siena Miller seorang aktris opera sabun terkenal. Karena reputasinya sebagai jurnalis perang yang suka menghadirkan narasumber fiktif dalam repotasenya, redaktur akhirnya tidak lagi mempercayai Peders untuk meliput berita-berita politik internasional. Tugas yang paling menyebalkan Peders peroleh ketika ia harus mewawancarai Katya seorang aktris yang tidak satupun filmnya pernah Peders tonton.

Sepanjang film ini berisi adegan proses wawancara antara Peders dan Katya yang penuh dengan ketegangan emosi, karena dua-duanya saling memanipulasi satu sama lain. Peders berusaha mengorek sisi Katya yang menjual untuk tulisannya dengan berbagai cara dan Katya yang menyadari hal ini, memainkan perannya dan mengerahkan segala daya tarik seksualnya untuk mempermainkan emosi Peders. Peders yang selama ini sudah sangat biasa dengan drama kemanuniasaan, memainkan kemampuannya dalam mendekati narasumber untuk mendapatkan informasi yang dia inginkan. Sampai akhirnya dua-duanya terjebak kedalam permainan yang mereka mainkan sendiri.

Salah satu kritikus film dalam endorsmentnya bilang: ini adalah film paling serius tentang reporter yang pernah dibikin. Yeah, kukira memang begitu. Aku merekomendasikan film ini kepada temen-temen jurnalis untuk menontonnya, karena yang dimainkan disini adalah psikologi pewawancara dan yang diwawancarai. Buscemi (OMG... dia om-om banget sangat menawan dan memikat banget.... Argggghhh) dan Siena Miller lawan main yang pas untuk mengimbangi aktingnya Buscemi yang tak diragukan lagi.

Film ini sebenernya film remake dari versi aslinya yang dibikin Theo Van gogh. Theo Van Gogh, cucu dari adik pelukis besar Vincent Van Gogh yang mati dibunuh ekstrimis karena isu rasial. Buscemi di tawari menggarap film ini sebagai tribute to Theo Van Gogh.

bisa liat juga link resminya: http://www.sonyclassics.com/interview/

Machuca (2004)

* * *

Di tengah-tengah liburanku di Yogja yang super duper santai dan males-malesan ini, machuca jadi film yang membuatku tertarik untuk menontonnya dari setumpuk film2 yang diborong dari mang-du.

Bercerita tentang perbedaan kelas borjuis dan proletar di Chile pada tahun 70-an dan diceritakan dari perspektif persahabatan dua orang murid di sekolah katolik kelas atas. Father MacEnroe berusaha melakukan pembauran kelas antara kedua kelas tersebut dengan memasukan siswa-siswa yang tak mampu ke dalam kelas bersama murid2 dari kelas ekonimi atas.

Kesenjangan kelas yang dijalin lewat konflik-konflik sederhana membuat film ini terasa begitu realis. Misalnya ketika tokohnya Gonzalo Infate (Matias Quer) dan Pablo Manchuca (Ariel Mateluna), menikmati sekaleng susu full cream bersama di tepi kali daerah kumuh tempat pablo tinggal. Juga saat Gonzalo ingin buang air kecil di WC dekat rumah pablo dengan kondisi WC yang jauh dari layak..

Sebuah pernyataan menarik dilontarkan oleh ibu pablo, saat pertemuan orang tua murid, dimana mayoritas orang tua menganggap upaya pembauran yang dilakukan father MacEnroe ga ada gunanya. "waktu kecil saya tinggal di perkebunan anggur, karena orang tua saya bekerja diperkebunan itu. Jika ada kesalahan yang terjadi di perkebunan itu yang pertama kali disalahkan adalah orang tua saya, seolah-olah kesalahan adalah hal yang selalu melekat dalam diri kami, seolah-olah kami lahir untuk disalahkan. Ketika dewasa saya pindah ke kota dengan harapan saya bisa merubah nasib itu, namun ternyata saya salah, karena apapun yang menurut kalian (golongan kaya) tidak menyenangankan adalah kesalahan kami." Sebuah pledoi yang menurutku menarik dan menohok. Kadang aku menyalahkan orang-orang miskin dengan kemiskinan mereka, karena menurutku mereka malas untuk bekerja. Namun aku seringkali lupa, bahwa apakah aku memberi mereka kesempatan untuk bekerja?

Yeah.. balik lagi ke manchuca.. adegan yang menurutku sangat kuat justru ketika Gonzalo berhadapan dengan tentara yang sedang merazia perkampungan kumuh tempat tinggal pablo. Saat itu dengan lantang Gonzalo berteriak:' saya bukan anak dari daerah ini, coba lihat pakaian saya..' tentara itu kemudian menatap Gonzalo dari ujung rambut sampai ujung kaki, celana jeans, kemeja bagus, sepatu addidas membuat tentara itu yakin bahwa Gonzalo memang bukan anak yang seharusnya ikut ditangkap seperti pablo dan teman-temannya. Akhirnya si tentara menyuruh Gonzalo pergi dari tempat itu. Yeah.. adegan yang kuat untuk menggambarkan relasi kuasa dan ekonomi..

Buatku film ini cukup asyik sebagai film dengan muatan politis dan ideologis yang berat, karena disampaikan dari perspektif keseharian yang membuatku berpikir disepangjang film: 'kayanya aku pernah ngalamin hal itu deh..'

After The Wedding/Efter brylluppet (2006)

* * * *

Mads Mikkelsen, aktor utama dalam film ini membuatku penasaran. Semula aku mengira ini adalah film peru atau amerika latin lainnya, karena mukanya Mads di cover dvd yang aku dapat, mirip indian peru. Ternyata ini adalah film Denmark yang cukup jarang aku dapatkan.

Aku punya ketertarikan yang cukup besar sama film-film skandinavia. Karena dalam bayanganku, orang-orang Eropa Utara itu punya karakter yang dingin yang sepi (mmm.. gimana ya mendeskripsikannya), ku kira film ini akan sedingin dugaanku, tapi ternyata aku salah.

Yeah, film garapan Susanne Bier ini, sangat drama dan 'hangat'. Meskipun ceritanya biasa, tapi aku merasa ceritanya utuh dan diperankan dengan sangat emosional oleh tokoh-tokohnya. Berkisah tentang Jacob (Mads Mikkelsen) yang membaktikan hidupnya untuk anak-anak yatim piatu di Banglore, India. Suatu hari, panti asuhan kehabisan uang. Seorang donatur misterius dari Denmark bersedia menyumbangkan uangnya untuk panti, tapi dengan syarat, Jacob harus datang langsung ke Denmark. Jacob yang selama ini berusaha mengubur masa lalunya dan menghapus Denmark dari ingatannya, terpaksa kembali ke negeri asalnya itu, demi anak-anak yatim dan sekolah tempat ia membaktikan dirinya selama ini.

Dermawan misterius itu ternyata bernama Jorgen (Lorf Lassgard) seorang pengusaha kaya. Sebelum mendermakan sebagian hartanya pada Jacob, Jorgen ingin mengenal Jacob lebih jauh. Ia mengundang Jacob pada pesta pernikahan anak perempuannya Anna (Stine Fischer Christensen). Jacob memenuhi undangan itu. Konfliknya bermula disini. Ternyata Helene (Sidse Babett Knudsen) istri Jorgen adalah mantan kekasih Jacob yang ditinggalkannya, saat Helene tengah mengandung Anna.

Ceritanya sengaja ga dibikin berbelit-belit, karena kemudian, Anna mengetahui bahwa Jacob adalah ayahnya yang selama ini dikira telah mati. Proses Anna menerima Jacob pun tak berbelit-belit. Semua mengalir. Bahkan ketika Helene, Jacob, Anna, mengetahui bahwa Jorgen ternyata sedang sekarat, sehingga ia menawarkan uangnya untuk membantu panti asuhan Jacob di India, namun dengan syarat bahwa Jacob harus tinggal di Denmark dan membantu Anna mengelola yayasan sosial yang didirikannya. Semua mengaliur dari awal cerita sampai akhir cerita.

Aku merasa, kekuatan film ini justru terletak pada ceritanya yang mengalir dan emosi yang di perankan sangat baik oleh tokoh-tokohnya, sehingga film ini terasa hangat dan haru. Susan banyak menyoroti detail ekspresi mata tokoh-tokohnya. Dia mencoba bercerita dengan bukan saja secara verbal, namun juga gestur dan detail ekspresi tokoh-tokohnya.

Untuk yang seneng nonton film drama keluarga, film ini cukup mengharukan dan memenuhi naluri drama manusia yang berakhir dengan happy ending.

Batalla en el cielo/Battle in Heaven (2005)

* * * *

Aku tuh penasaran berat sama film ini, tapi baru nonton filmnya semalem dan membuatku memincingkan mata.. Mmmm...jadi penasaran sama sutradaranya Carlos Reygadas. Sutradara Mexico angkatan Alejandro Gonjales Inarittu dan punya cara bertutur yang beda banget sama Inarittu. Film ini merupakan film kedua Reygadas setelah film pertamanya, Japon (Japan) dipuji banyak kritikus. Film keduanya ini terasa hening, subtil dan poetic. Meskipun film ini dibuka oleh adegan oral sex yang sangat eksplisit, namun adegan itu justru terasa sangat puitik.

Bercerita tentang Marcos (Marcos Hernandez) dan istrinya (Bertha Ruiz) yang menculit bayi tetangganya untuk mendapatkan uang tebusan. Namun tanpa sengaja, bayi itu mati. Dan film ini berfokus pada pergolakan perasaan Marcos untuk mengatasi rasa bersalahnya ini.

Marcos yang selama ini menjadi supir bagi Ana (Anapola Muskhadiz), Anak jendral militer, mencoba melepaskan beban perasaannya itu dengan membuat pengakuan pada Ana tentang penculikan itu. Ana yang selama ini memilih untuk menjadi PSK untuk kesenangan belaka, mengajak Marcos untuk bercinta dengannya. Meskipun Marcos sangat mencintai istrinya. Saat hari salah satu perayaan umat katolik tiba, Marcos memutuskan untuk ikut dalam pawai para peziarah dan melakukan penebusan dosa.

Secara verbal, film ini mungkin sulit untuk dipahami apa yang sesungguhnya ingin diceritakan. Karena Reygadas memang memilih untuk bercerita lewat bahasa visual yang sangat puitik. Kita bisa melihat pesan yang kuat, ketika Reygadas menampilkan adegan penaikan dan dan penurunan bendera oleh militer di Mexico, dan bagaimana perilaku para peziarah itu ketika mereka ingin melakukan penebusan dosa. Nasionalism dan katolik yang fanatik mewarnai keseharian Mexico. Marcos di sini diposisikan sebagai wakil dari warga Mexico kebanyakan yang menyaksikan semua itu di tengah kemelut persoalannya sendiri.

Aku jadi inget film Why Has Boedhi Dharma Left to The East? karya sutradara Bae Yong Kyun, sangat poetic dan zen. Dan kukira karya Reygadas ini juga terasa sangat katolik mexico dan mistis. Aku jadi melihat sisi lain Mexico yang festive dalam banyak hal, namun menyimpan keheningan dan kebisuan yang sulit dikatakan secara verbal. Tapi kita bisa melihatnya dari pancaran mata Marcos yang mungkin juga mewakili pandangan orang mexico kebanyakan.

Dreamgirls (2006)

* * *

Aku baru inget, kalo udah nonton film ini tapi belum nulis reviewnya. Aku cukup penasaran dengan film ini karena Jeniffer Hudson (Effie White) menang Oscar 2007 untuk pemeran pembantu wanita terbaik. Setelah di tonton, ya bagiku ini film musikal yang digarap dengan sangat baik.

Aku sendiri ga terlalu suka sama ceritanya. Biasa aja. Buatku terkesan terlalu klise. Tentang tiga orang perempuan: Effie White (Jeniffer Hudson), Deena Jones (Beyonce Knowles), Lorrel Robinson (Anika Noni Rose) yang ingin jadi bintang, kemudian ikut dari kompetisi satu ke kompetisi lain. Dan karena nasib mujur, seorang produser Curtis Taylor Jr. (Jamie Foxx) menawari mereka jadi backing vocal penyanyi tenar James "Thunder" Early (Eddie Murphy).

Cerita bergulir, ketika trio backing vocals ini kemudian sukses membentuk grup trionya sendiri: Dreamgrils. Namun konflik muncul saat Effie yang mencintai Curtis, harus merelakan Curtis menikahi Deena yang dipilihnya. Sampai akhirnya Effie tercampakan dari grup, Dreamgirls semakin melejit ke tangga popularitasnya. Sementara Effie harus membangun kembali karirnya sebagai penyanyi dari nol lagi, sambil membesarkan anak perempuan dari hasil hubungannya dengan Curtis.

Yeah, so klise. Karena di saat Effie mulai dikenal sebagai penyanyi solo, Dreamgirls mengalami banyak masalah. Curtis dianggap menghalalkan segala macam cara untuk kesuksesan bisnisnya. Ia tak segan-segan menjual artis-artisnya demi sukses komersialnya. Sampai Thunder Early bunuh diri karena tidak tahan lagi. Sementara Deena yang merasa hidup di sangkar emas, semakin lama semakin tak tahan dengan kesuksesannya yang membuatnya sadar bahwa ia telah kehilangan Effie sahabatnya. Akhirnya Deena memutuskan bahwa Dreamgirls lebih baik bubar dan ia juga memutuskan untuk berpisah dari Curtis. Di konser terakhir Dreamgirls, ia memutuskan untuk mengundang Effie sebagai bintang tamu kehormatan mereka.

Ceritanya biasa banget. Tapi yang luar biasa penggarapan setting, kostum, koreografi dan penata musik tentunya. Selain itu, Jeniffer yang finalis American Idol itu menunjukan kecemerlangan bakatnya. Beyonce tentu saja berusaha kelas menunjukan kualitas dirinya dan kukira di juga berhasil. Anikka, bintang broadway mampu tampil utuh, mengimbangi dua rekannya yang lain. Menonton Dreamgirls seperti menonton sebuah pertunjukan live concert yang tak membosankan.

Notes on a Scandal (2006)

* * * 1/2

Judi Dench memang tidak perlu di ragukan lagi aktingnya. Berperan sebagai seorang guru, perawan tua, bernama Barbara Covett. Kesepian, hidup dengan seekor kucing dan punya kecenderungan lesbian yang tak berani dia ekspresikan secara terbuka. Kisahnya dimulai saat Sheba Hart (Cate Blanchett), guru kesenian bergabung dengan sekolah tempat Barbara bekerja.

Dalam sekejap, pesona Sheba memikat Barbara, rekan gurunya yang lain dan seorang murid berusia lima belas tahun bernama Steven Connolly (Andrew Simpson). Dengan mudah Steven memanipulasi Sheba dengan cerita-cerita tentang dirinya yang mengundang simpati. Skandal guru dan murid pun tak bisa dihindari. Barbara yang mengetahui skandal ini, merasa bertanggung jawab melindungi Sheba supaya rahasia skandal itu tak terbongkar. Namun, diam-diam Barbara memanfaatkan Sheba untuk mengisi kekosongan dan kesepiannya selama ini. Barbara mencatat skandal tersebut dalam buku hariannya dan fantasi tentang kedekatannya dengan Sheba. Sampai akhirnya skandal tersebut terbongkar. Barbara merasa di nomor duakan oleh Sheba, saat kucing kesayangannya mati dan Sheba memilih pergi ke pertunjukan anaknya daripada menemani Barbara yang sedang bersedih.

Tokoh Barbara, muncul sebagai sosok yang bertahun-tahun berusaha tegar dengan kesepian dan kekosongannya. Sampai akhirnya ketika Barbara punya hubungan dekat dengan teman perempuan, Barbara menjadi posesif dengan hubungan itu. Keangkuhan dan ketegaran yang dibangun dari kesepian yang menyakitkan. Judi Dench berhasil menampilkan sosok itu.

Ada satu pertanyaan yang menarik yang di ajukan suami Sheba, ketika suami Sheba mengetahui skandal istrinya itu. "Mengapa kau tidak datang padaku, ketika kau tau kau butuh orang lain?". Sheba menjawabnya: "aku tak tau. Ini bukan tentangmu tapi tentang aku." Wow.. sebuah dialog yang dalem menurutku tentang dilema perselingkuhan. Seringkali memang seperti itu. Perselingkuhan dimulai saat salah satu memilih untuk tidak membagi apa yang dia rasakan pada pasangannya. Dan setelah babak belur, butuh kebersaran hati dari kedua belah pihak untuk bisa menerimanya satu sama lain.

Naga Bonar Jadi 2 (2007)

* * 1/2

Emang udah diniatin pengen nonton film ini di blitz bareng ceuceu. Dan rasanya aku ga rugi bayar 15 ribu untuk nonton film ini. Dua jam lebih durasi filmnya, ngga kerasa bosen buatku. Sebagai anak yang menghabiskan masa kanak-kanak di tahun 80an, tentunya aku sangat mengenal karakter Nagabonar dan Dedy Mizwar. Ketika tahun 2007 ini Naga Bonar jadi dua, aku penasaran. Apalagi yang jadi Nagabonar junior, Tora Sudiro.

Aku ngerasa ada kesulitan melihat kembali sosok Nagabonar yang nasionalis itu di tahun 2007 ini. Jadinya aku ngerasa ada beberapa bagian dimana karakter Nagabonar yang dulu, dipaksa hadir di film ini. Bayangin aja, siapa sangka Nagabonar tukang copet dari kampung itu, punya anak seperti Bonaga (Tora Sudiro) yang sangat kosmopolitan dan hidup dalam ruang-ruang bergaya arsitektur minimalis moderen. Penggambaran yang menurutku terlalu kontras. Meskipun Tora kukira udah cukup berhasil mengimbangi karakter dan akting Dedy Mizwar yang memang pemain watak.

Aku suka tuh, relasi bapak dan anak yang digambarkan di film ini. Beberapa adegan sempat membuatku terharu. Tapi ada hal yang mengganggu. Jika Bonaga itu dibesarkan hanya oleh bapaknya yang kasar (hal ini dikatakan berkali-kali oleh tokoh Nagabonar), aku justru ngelihat, karakter Bonaga yang muncul justru seperti anak yang dibesarkan oleh Ibu, bukan oleh Bapak. Karena Bonaga yang muncul terkesan manja dan kurang 'dingin dan kasar' seperti Nagabonar itu sendiri.

O ya, Wulan Guritno, sebagai Bonita juga menurutku terjebak dalam karakter perempuan karir metropolitan yang terlalu jaim. Dan kerasa banget, waktu adegan duduk bareng Dedy Mizwar di taman, Wulan berusaha keras untuk ngimbangin aktingnya Dedy. Yeah.. neng Wulan ini masih harus banyak belajar.

Trus juga aku merasa terganggu dengan peran badut: para ajudan Bonaga. Keliatan banget mereka muncul sebagai badut yang meramaikan suasana. Padahal kalau mereka bisa lebih matang menghayati karakter dan perannya, Karakter Bonaga akan jadi lebih kuat. Yang ga kusangka-sangka adalah kemunculan Jaja Miharja di film itu sebagai gay tua oldskool yang mencoba merayu Nagabonar.

Ya, meski banyak hal yang kurang, tapi menurutku sebagai sebuah film yang diniatkan sebagai sequal, film ini cukup berhasil untuk menghibur penontonnya. Sama ketika Jendral Nagabonar membuat penonton di era 80an tergelak-gelak.

Berbagi Suami (2006)

* * * *

Aku bisa dibilang telat banget baru nonton film ini, tapi aku suka banget film ini. Semuanya menurutku serba pas. Aktingnya pas ga berlebihan, castingnya pas dengan karakter-karakter tokoh yang diperankan. Isunya juga pas porsinya ga terlalu hitam putih ngeliatnya. Artistiknya juga pas. Semua serba pas dan membuat film ini jadi kerasa real banget.

Ceritanya tentang tiga perempuan: Salma, Sri dan Ming. Salma (Jajang C. Noer) adalah tipe perempuan yang sangat 'real' dalam arti aku pernah ketemu dengan beberapa perempuan seperti Salma. Demi karir suami dan karirnya sendiri, dia rela di poligami. Bikin orang bertanya-tanya, 'loh dia kan dokter, kok mau sih di poligami suami?'. Takdir lantas menjadi alasan paling jitu yang bisa membuat mulut orang-orang terdiam. Salma menggambarkan sosok perempuan kelas menengah yang lebih mengutamakan 'harmoni' (semu) ini daripada jujur pada perasaannya sendiri kalau dalam hatinya yang paling dalam, dia ga rela di madu. Tokoh pak Haji (El Manik), sosok yang juga sangat 'common' sebagai pejabat yang punya istri dimana-mana. Soal akting Jajang dan El Manik sih ga usah di pertanyakan lagi. Cuma aku suka sama aktingnya Jajang yang kali ini ga terasa berlebihan. Winky sebagai Nadine anaknya Salma, aktingnya lumayan bisa ngimbangi seniornya.

Tokoh Sri (Shanty), sebenernya karakter yang jarang ku temui ya. Tapi, aku jadi inget sama narasumber-narasumberku yang di Cipanas. Ada beberapa yang ada dalam situasi seperti Sri. Soal affair lesbian antara Sri dan Dwi (Rieke Diah Pitaloka) dihayati dengan bagus oleh Shanty maupun Rieke. Rieke aktingnya bagus dan pas. Aku ngeliat perempuan-perempuan di kelas bawah cukup terbuka dalam hal relasi. Tentunya mereka juga tidak terlalu peduli dengan persoalan image seperti kelas menengah yang diwakili oleh Salma.

Ming (Dominique) menurutku gambaran perempuan yang cukup cerdas. Ming tau gimana mencapai apa yang dia mau. Meskipun gagal. Tokoh Cik Linda (Ira Maya Sofa) pas banget porsinya. Dan perang strategi mendapatkan koh Abun (Tio Pakusadewo) dimainkan dengan sangat cantik. Tentunya aku cinta banget sama itu koh Abun... Tio Pakusadewo meskipun konon kabarnya dia secara personal, pribadinya agak somse, tapi dia seksi banget dengan perutnya yang udah mulai menunjukan tanda-tanda pembuncitan. Beneran.. calon om-om keren. (hihiihihih.. komentar ga penting).

Buatku film ini berusaha keras untuk bicara dengan bahasa visual. Dan menurutku berhasil. Akhirnya ada film Indonesia (setelah Eliana Eliana) yang ngomong dengan bahasa visual dan dialognya cukup membumi. jalinan cerita yang di bagi dalam tiga fragmen: Salam, Sri dan Ming, dirangkai dengan sangat baik, meskipun aku sempet mikir, kok kaya gayanya Alejandro Gonzales Inarittu ya? (secara Nia Dinata penggemar Inarittu juga). O ya perlu dicatet juga, Bembi Gusti, Aghy Narottama, Gascaro Ramondo, berhasil bikin musik yang pas banget buat film ini. Selain itu bagaimana tokoh-tokoh perempuan di film ini bernegosiasi dengan poligami digambarkan dengan sangat abu-abu. Aku suka banget. Bukan persoalan setuju atau tidak setuju dengan persoalan poligaminya, tapi bagaimana perempuan-perempuan ini bernegosiasi dengan persoalan poligami, kukira itulah yang jadi kekuatan film ini.

Salut buat Nia Dinata !

Paris, Je t'aime (2006)

* * * *

Spontan aja si jeng ngajak aku nonton nomat di blitz. Heheheh aku hampir-hampir ga percaya kalo tiketnya 10 ribu aja, karena aku sendiri baru sekarang sempet nonton di blitz. Kami nonton Paris, Je t'aime. Aku emang nunggu-nunggu dvdnya, tapi tentunya nonton di bioskop jauh lebih asyik.

Aku absen deh siapa aja sutradara yang terlibat dalam kompilasi film pendek tentang Paris ini: Olivier Assayas (segment "Quartier des Enfants Rouges"); Frédéric Auburtin (segment "Quartier Latin") (transitions); Emmanuel Benbihy (transitions); Gurinder Chadha (segment "Quais de Seine"); Sylvain Chomet (segment "Tour Eiffel"); Ethan Coen (segment "Tuileries"); Joel Coen (segment "Tuileries"); Isabel Coixet (segment "Bastille"); Wes Craven (segment "Père-Lachaise"); Alfonso Cuarón (segment "Parc Monceau"); Gérard Depardieu (segment "Quartier Latin"); Christopher Doyle (segment "Porte de Choisy"); Richard LaGravenese (segment "Pigalle"); Vincenzo Natali (segment "Quartier de la Madeleine"); Alexander Payne (segment "14th arrondissement"); Bruno Podalydès (segment "Montmartre"); Walter Salles (segment "Loin du 16ème"); Oliver Schmitz (segment "Place des Fêtes"); Nobuhiro Suwa (segment "Place des Victoires"); Daniela Thomas (segment "Loin du 16ème"); Tom Tykwer (segment "Faubourg Saint-Denis"); Gus Van Sant (segment "Le Marais").

Dari segambreng sutradara, favoritku adalah karya Ethan Coen (segment "Tuileries"); Joel Coen (segment "Tuileries") dan Alexander Payne (segment "14th arrondissement"). Di "Tuileries" tentunya aku seneng banget karena yang maen disitu steve buscemi. Si om, ga ngomong sepatah katapun.. tapi muka vampirenya itu, cukup ekspresif untuk bercerita tentang turis yang baru pertama kali ke Paris, trus ga tau harus gimana, karena ga bisa bahasa Perancis dan paham masalah adat istiadat orang Perancis. Sesuatu yang biasa banget dan mungkin dialami oleh berjuta-juta orang yang datang ke Paris untuk pertama kalinya (BUSCEMI, Je t'aime).

Sementara karyanya Alexandre Payne, sederhana banget. Tentang buruh pabrik di Denver AS yang niat banget liburan ke Paris. Sampai dia kursus bahasa supaya bisa menikmati Paris. Narasinya sangat manusiawi dan menyentuh. Dia liburan sendiri ke Paris. Melihat dunia yang lain selain Denver dan dia merasa hidup kembali. Sangat menyentuh.

O ya, segment lain yang mendapat catatan dariku adalah karyanya Sylvain Chomet (segment "Tour Eiffel"). Aku suka banget sama pantomimenya. Paris banget (meskipun aku belon pernah ke paris, tapi aku merasa penggambarannya sangat ilustrasi le meridien). Yang ga kalah keren juga, setting cerita jadi tampak seperti panggung pantomime, termasuk juga urusan komposisi. Keren banget. Chomet, mengulang aura Triplettes de Belleville, Les (2003), cuma dalam karakter yang lebih nyata.

Keren. Aku suka banget. Nih. Mm.. satu lagi, Sergio Castellitto (Don't Move, 2004) om-om berwajah depresi, main juga di segment: 'Bastille'.Ada Natalie Portman, Emily Montimer, Elijah Wood (Aneh banget segmentnya), Nick Nolte, William Dafoe... lebih jelasnya klik: Paris Je t'aime

In The Realm of Senses/Ai No Corrida (1976)

* * * 1/2

Secara ga sengaja, nemu film ini di vertex. Seperti biasa, kalo untuk film-film yang ga aku kenal, daya tarik yang bisa memikatku untuk membelinya adalah judulnya, covernya, juga deskripsi singkat di belakangnya. Apalagi ketika ada penjelasan, film ini pernah dilarang di NY film festival, tambah penasaran. Setelah ditonton, ternyata emang cukup mengejutkan. Tentang affair antara pelayan (Sada) dan majikannya (Kichi-san). Si pelayan, memang terobsesi pada sex dan ia menjadikan majikannya sebagai budak sexnya.

Untuk film tahun 1976 mengangkat Jepang sebagai setting cerita, penggambaran sexnya memang sangat vulgar. Adegan oral sex yang saat itu dianggap sebagai perilaku sex yang sangat bejat, ditampilkan pula di film ini. Di Amerika saja, oral sex (tonton: inside deep throat) adalah perbuatan tidak senonoh yang dilarang oleh beberapa negara bagian.

Film ini sendiri diangkat dari kisah nyata sebelum perang dunia II. Skandal sex ini memang menghebohkan. Sada yang selalu berusaha mencapai kepuasan tertinggi saat berhubungan sex, melakukan tindakan sado masokism yang berujung pada kematian kichi-san. Dan yang paling brutal serta kontroversial dari perilaku sadomasokism ini, Sada memotong alat kelamin kichi-san, berjalan-jalan keliling kampung sambil menggenggam alat kelamin itu sambil tertawa-tawa bahagia.

Bagiku, Jepang punya beberapa bentuk tradisi yang menurutku 'sakit'. Hanya Jepang, yang memikirkan dengan sangat presisi, kemana darah mengalir ketika samurai menebas leher lawan, hingga darah tidak akan muncrat tapi menetes di ujung samurai lewat saluran darah di tengahnya. Komposisi minimalis dalam interior Jepang pun, menunjukan ada represi luar biasa pada diri individu untuk mengekspresikan banyak hal. Karenanya, aku melihat karakter Sada di film ini, seperti sosok perlawanan perempuan Jepang, atas dorongan seksualnya yang dengan sangat rapi dibalut lapisan kimono. Di balik ketenangan ekspresi Sada, tersimpan hasrat sex yang tak pernah terpuaskan.

The Pursuit of Happyness (2006)

* * *

Will Smith emang luar biasa. Sejak Prince Fresh of Bell Air, dia menunjukkan bakat aktingnya yang lumayan. Namun di film inilah, bakat akting yang sesungguhnya dia munculkan.

Sebuah film drama yang diilhami oleh kisah nyata, kehidupan seorang milyuner Chris Gardner (Will Smith) yang berjuang untuk meraih kesuksesannya. Film-film seperti ini memang selalu inspiratif dan menyentuh. Namun bagiku yang sangat istimewa adalah akting Will Smth yang menyentuh penontonnya dengan cara dia mencari kebahagiaan atas kesuksesannya itu. Dan bagiku film ini bener-bener bisa ngajak penontonnya merasakan bagaiamana karakter Chris Gardner berproses menemukan kebahagiaannya. Di akhir film aku ikut merasakan kelegaan yang membahagiakan itu. Kisah ini juga membuktikan tentang apa yang disebut orang tentang impian Amerika. Meski pemerintahan Amerika menyebalkan, namun negara itu memberi kesempatan pada warganya untuk mewujudkan impian jadi kenyataan dengan kerja keras. Hari ini kamu jadi gelandangan, 10 tahun lagi kamu bisa jadi pengusaha sukses dengan aset milyaran dolar. Kita ga bisa menyangkal, kalo Amerika memang memberikan kesempatan sukses itu pada warganya yang mau bekerja keras.

Dengan setting tahun 1981, Cerita berfokus pada Chris Gardner. Dalam hidupnya dia melakukan banyak ketololan-ketololan yang membuatnya harus berpisah dengan istri tercintanya, karena masalah ekonomi. Dengan tololnya dia membeli selusin alat scaner untuk dokter gigi lewat e-bay. Chris pikir, ia akan mudah menjual kembali alat itu dan mendapat keuntungan. Namun ternyata menjual satu pun, butuh perjuangan keras. Kebutuhan hidup yang semakin mendesak, membuat si istri, Linda (Thandie Newtow) tak tahan lagi dengan semua keoptimisan Chris bahwa ia mampu menjualnya. Dengan berat hati, Linda meninggalkan Chris dan Christopher Junior, untuk mencari kerja yang lebih baik di New York. Tinggallah Chris dan Chris Jr, berjuang mencapai bahagia yang ia inginkan.

Sampai kesempatan magang di sebuah kantor pialang saham, ia dapatkan. Namun, bukannya tanpa perjuangan. Karena Chris harus bersaing dengan banyak kandidat lain yang juga berjuang menjadi pialang. Dengan perjuangannya yang luar biasa (dan tanpa dilebih-lebihkan) Chris akhirnya mendapatkan kesempatan itu.

Sebenarnya, dari segi cerita dan teknis penggarapannya, film ini sangat biasa dan sederhana. Jangan berharap metafor-metafor yang berat dari visualisasi yang ditampilkan. Kesederhanaannya, justru jadi kelebihan film ini, sehingga sangat mudah di cerna dan diikuti jalan ceritanya. Yang membuat film ini istimewa, justru akting Will Smith dan Jaden Smith (anak laki-laki Will Smith yang ikut berperan sebagai Chris Jr.). Bapak dan anak beradu akting. Dan Jaden telah menunjukkan bakat akting yang ia warisi dari ayahnya. Jadinya karakter ayah dan anak yang mereka perankan, terasa begitu alami, wajar dan sangat kuat. Will Smith yang dikenal sangat menyangi keluarga dan anak-anaknya ini, terasa sangat menikmati perannya. Sehingga baik Will maupun Jaden terasa sangat nyaman memerankan karakter dalam film ini. Kekompakan yang mereka munculkan, kekompakan yang sangat kuat dan emosional. Aku beneran terkesan sama akting mereka.

Yang tak kalah mengesankan juga adalah keoptimisan dan sikap pantang menyerah yang ditunjukan chris untuk mencapai perjuangannya. Padahal apa yang Chris perjuangkan adalah hidup hari ini. Namun ia memperjuangkannya sebaik mungkin yang bisa ia lakukan. Dan ia sama sekali tidak menyerah ketika hari esok terasa bagai keniscayaan baginya.

“Jangan biarkan orang lain mengatakan bahwa kamu tidak mampu.” Bukan hanya seorang Chris Gardner yang mampu membuktikan bahwa ia bisa membangun kantor pialang sahamnya sendiri dan beraset jutaan dolar, namun Will Smith pun membuktikan bahwa ia mampu memerankannya.

Anatomy of Hell (2004)

* * *

Nampaknya aku perlu memahami dan mengerti bagaimana orang Perancis bercerita. Seringkali, aku ga mudeng sama konsep, cerita, dan bahasa visual mereka, karena aku merasa seperti ga ada klimaksnya. Kejutan ada, tapi seringkali datang tiba-tiba dan bikin kening berkerut, karena.. "bentar, jadi sebenernya film ini tentang apa ya?"

Ya begitu juga aku merasakan Anatomy of Hell. Film yang digarap oleh sutradara kontroversialm, Catherine Breillat. Di Film ini, Catherine secara frontal dan vulgar mencoba menjelaskan tentang sisi keperempuanan yang selama ini seringkali tak dipahami oleh laki-laki dalam relasi seksual. Dibintangi oleh ex bintang porno Rocco Siffredi serta model Chanel dan Gaultier, Amira Casar, bagiku terasa sangat teatrikal. Dialognya, adegannya. Bahkan dalam adegan-adegan sex yang begitu vulgar. Jangan bayangkan, kalo film ini sekedar film tripel x. Bagiku, apa yagn ingin disampaikan Breillat sebenernya sesuatu yang menjadi keseharian dan begitu privat bagi perempuan_ seperti tentang menstruasi dan bagaimana kebanyakan laki-laki mempersepsinya. Namun cara Breillat menyampaikannya sangat konfrontatif dan shocking, terutamanya dalam visualisasinya. Bukan hanya mengejutkan laki-laki, tapi aku sebagai perempuan sendiri, cukup shock dengan beberapa adegan di film ini.

Aku ga tau, apa yang ingin disampaikan Breillat di film ini bisa di mengerti lewat bahasa visual yang dia pilih atau justru penonton menangkapnya sebagai film sex hardcore yang tak perlu di mengerti ceritanya. Yang menantang bagiku ketika menonton film-film Perancis seperti ini adalah mencoba menangkap dan memahami cara orang-orang Perancis itu bercerita. Bagiku yang terbiasa dengan cara bercerita sutradara-sutradara Amerika, Perancis tentu saja sangat-sangat berbeda.

Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004)

* * * *

"You can erase someone from your mind, getting them out of your heart, is another story" Kolaborasi kedua Charlie Kaufman (penulis cerita) dan Michael Gondry (sutradara), setelah film pertama mereka Human Nature. Film dimana Jim Carey dan Kate Winslet beradu akting dengan serius. Jika berharap Carey, muncul dengan kekonyolan karakter, film ini bukan tentang itu.

Dengan cara bercerita Charlie Kaufman yang khas dan eksperimentasi Gondry dalam penggarapan video musik, dan tentu saja pemilihan Jim Carey sebagai bintang utamanya, dan perpaduan ini jadinya dasyat. Kaufman selama ini senang sekali mengaduk-ngaduk ingatan tokoh-tokohnya, sehingga batas-batas pengalaman nyata dan imajinasi menjadi kabur.

Tentunya, sesuai dengan quote yang aku tulis di atas, film ini tentunya berkisah tentang proses orang-orang yang saling mencintai, mengingat kenangan yang menyengkan dan melupakan hal-hal yang menyakitkan. Tapi bisakah kenangan-kenangan buruk itu benar-benar di hapus? Bagaimana proses mengingat dan menghapus kenangan-kenangan itu dan segala kemungkinan-kemungkinannya, itulah yang dieksplorasi oleh Gondry dan Kaufman.

11'09"01 (2002)

* * * *

Sebuah kompilasi film pendek yang dibuat untuk merespon peristiwa 11 september 2001 yang dibuat untuk memperingati setahun tragedi 9/11. Ada Youssef Chahine/Mesir, Amos Gitai/Israel, Alejandro Gonzales Inarritu/Meksiko, Paul Laverty/UK, Sabrina Dhawan/India, Claude Lelouch/Perancis, ken Loach/UK, Samira Makhmalbaf/Iran, Idrissa Oeudraogo/Bukrina Faso, Sean pean/USA, Marie-Jose Sanselme/Israel, Danis Tanovic/Bosnia Herzegovina, daisuke Tengan/Jepang, Pierre Uyterrhoeven/Perancis, Vladimir Vega/UK), masing-masing bikin film berdurasi 11 menit. Banyak hal menarik di kompilasi ini, terutama bagaimana masing-masing sutradara dari berbagai negara itu, merespon 9/11 dengan perspektif dan pandangan dunianya masing-masing.

Beberapa diantaranya menurutku cukup kritis melihat peristiwa ini. Karya Amos Gitai dari Israel salah satunya. Amos memotret 9/11 lewat sebuah peristiwa meledaknya bom mobil di pasar loak, di salah satu sudut kota Jerusalem. Polisi, ambulance, masyarakat sekitar tampak heboh dengan kejadian itu. Seorang reporter televisi berusaha meliput peristiwa itu secara langsung. Namun tak ada satupun yang orang di tempat kejian yang bisa memberikan keterangan dengan pasti. Sampai dia mulai melantur tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di tangal 11 September: "on sept 11th, 1777, washington was taken by the english, on sept 11th 1855 French took malakoff, on sept 11th 1944, Roselvet and churchill met and devided nazi germany into three parts: British, American, Russian. On Spet 11th, 1997. Lighting killed 19 people in India.." dan ketika editornya bilang, bahwa si reporter tak bisa on air, karena sesuatu yang serius tengah terjadi di New York, si reporter marah-marah dan ga mau tau seiring dengan kehebohan di sudut pasar loak yang berangsur-angsur normal kembali. Yeah, kita bisa menafsir banyak hal disitu. Bagiku pribadi, itu adalah cerminan bagaimana masyarakat Israel yang selama ini selalu jadi anak emas barat, ga ambil pusing dengan apa yang terjadi pada 11 september 2001.

Film lainnya yang cukup reflektif dan menampar pemerintah Amerika sendiri adalah karya Sean Pean (USA). Aktor gaek ini membuat sebuah film pendek yang ga ngomong sepatah katapun tentang peristiwa itu. Dia ngomong pake bahasa visual yang sangat kena dan nampar. Ada satu kata yang kena banget "you need a light to wake up.." film karyanya ini, sempat dilarang pemutarannya di Amerika oleh pemerintahan Bush, karena dianggap tidak sensitif terhadap perasaan rakyat AS pada saat itu.

Film yang banyak disalah pahami, adalah karya Alejandro Gonzales Innarittu (my favorite director). kenapa aku bilang disalah pahami, karena dari beberapa screening, penonton selalu mengira kalo film itu rusak.. karena memang gambarnya tv yang antenenya ga jelas gitu.. jadi gambarnya cuma semut dan ada kilasan-kilasan gambar dari peristiwa 9/11 itu. Ga ada teks atau narator disitu. Tapi menurutku, karyanya Innarittu ini yang paling sublim merespon peristiwa 9/11 ini.

Sisanya, silahkan tonton dan bandingkan, bagaimana masing-masing merespon dan mengingat peristiwa itu.

Hiding And Seeking (2004)

* * * *

Sutradara Menachem Daum and Oren Rudavsky. Tentang tiga generasi dalam keluarga yahudi ortodok naratornya adalah generasi kedua. Dia seperti jadi jembatan antara bapaknya yang mengalami holocaust dan anaknya yang tidak lagi mempersoalkan mimpi buruk sejarah itu karena buat anaknya ga kebayang aja gimana rasanya holocaust. Nah generasi kedua kemudian menjembatani pengalaman itu. Dia mengajak anaknya untuk melacak jejak kakeknya (generasi pertama) ke polandia, juga mengunjungi keluarga yang menyelamatkan kakeknya itu dari kejaran tentara NAZI, dengan cara menyembunyikan kakeknya dan dua sodaranya yang lain di sebuah lubang yang tertutup jerami. Yang menarik dari film ini kemudian adalah proses transformasi pengalaman sejarah antara generasi pertama(yang mengalami langsung) dan generasi ketiga yang dibesarkan oleh mitos sejarah. Bagaimana kemudian generasi ketiga setelah proses transforamasi itu terjadi, justru bisa melihat sisi lain dari mimpi buruk sejarah. Kemudan sisi gelap itu bisa dilihat lebih positif dan sejarah kemudian memberikan tawaran untuk untuk berdamai dengan mimpi buruk itu. Apalagi dalam konteks bangsa yahudi, setidaknya, film ini bisa memberikan pandangan lain untuk menyembuhkan luka-luka sejarah tanpa membuat luka baru. Seperti film promises.

Aku udah beli satu lagi untuk pak Bambang Sugiharto, kupikir menarik jika film ini bisa diputer di kelas filsafat UNPAR dan bisa sekalian didiskusiakan. Sudah saatnya kebudayaan kita menawarkan kemungkinan-kemungkinan penyembuhan luka-luka peradaban tanpa membuat luka yuang baru.

Selama ini agama (dan kemudian Tuhan) selalu disalahkan atas mimpi-mimpi buruk sejarah. Agama menjadi atas nama masalah peradaban. Dan ketika orang menghadapi jalan buntu dengan agama, orang lupa, bahwa mereka bisa menggali sisi yang lain untuk melihat jalan keluarnya. Kupikir ini adalah tantangan peradaban kita sekaran ini. Kupikir mungkin jawababannya sama seperti yang dibilang pi patel dalam life of pi, ketika tiga pemuka agama bersitegang mempertanyakan kenapa pi menjalankan ritual 3 agama sekaligu (islam, Kristen, hindu) pi membarikan jawaban yang sederhana tapi kupikir sangat menyetuh esensi dari persoalannya: itu semua karena aku ingin mengasihi Tuhan. Aku sendiri sejauh ini merasa buntu dengan pengejawantahan agama dalam kehidupan sehari-hari karena aku sulit menangkap esensinya, tapi aku percaya agama bisa menawarkan banyak hal yang aku tidak bayangkan sebelumnya dan itu semua karena untuk memenuhi kebutuhan hakiki manusia untuk berTuhan. Kenapa aku sebut itu kebutuhan hakiki, secara jujur, persoalan yang paling menggelisahkan umat manusia adalah ketika dia mempertanyakan dirinya, mempertanyakan keberadaannya di dunia ini, dan persoalan inilah yang kemudian membawa setiap individu mengenali Tuhannya. Paham atau tidak terhadap keberadaan Tuhan, kupikir tergantung dari kesabaran individu untuk mau memahami hidup yang dia jalani.

Sherry Baby (2006)

* * *

Mmmm... mulai darimana ya komentarnya? Bayangin, seorang ibu_Sherry (Magie Gyllenhaal) baru bebas, setelah dipenjara bertahun-tahun karena kasus narkoba. Si ibu berusaha memulai kembali hidupnya, bukan cuma memulai, tapi juga menatanya kembali. Berusaha tetap bersih dari ketergantungan pada narkoba, berusaha jadi ibu yang baik dan berusaha berpandangan lebih positif pada dirinya sendiri. Tapi apakah mungkin semua itu bisa terjadi pada saat yang bersamaan?

Laurie Collyer, sang sutradara sekaligus penulis naskah film ini, berhasil bicara dengan bahasa yang sangat visual untuk cerita drama seperti ini. Tanpa percakapan verbal, penonton bisa tau apa yang sesungguhnya telah dialami oleh Sherry sehingga hidupnya kacau. Ada sebuah adegan yang mengesankan aku, ketika Sherry dan sodaranya Bobby (Brad William Henke) ada di sebuah restoran. Bobby bilang pada Sherry "Jangan kau kira aku tak tau apa yang telah kau lalui. Dan aku ada dipihakmu Sherry." Saat itu Sherry hanya bilang "kamu ga tau apa yang aku lalui" dan Sherry mengalihkan pembicaraan pada hal lain.

Adegan itu mucul setelah sebelumnya, Bobby, melihat saat Sherry mengadukan rasa sebalnya bahwa Alexis (Ryan Swimpkin) anaknya menjauh darinya, pada ayahnya (Sam Buttoms). Pada saat itu, sang ayah menghibur Sherry, sambil diam-diam menggerayangi Sherry. Pada saat Sherry tiba-tiba berhenti menangis dan pergi meninggalkan ayahnya begitu saja. Bobby yang diam-diam melihat, menampilkan ekspresi tak berdaya.

Tanpa harus menjelaskan apapun, penonton tau apa yang sesungguhnya dialami Sherry sebagai korban pelecehan ayahnya sendiri. Bagaimana hubungan Sherry dengan Dean Walker (Danny Trejo), memperkuat apa yang dia rindukan dari seorang lelaki. Yang juga kusuka dari film ini adalah karakter tokoh-tokohnya yang real. Bahwa sangatlah manusiawi, kemudian merasa ga mampu berjalan sendirian, ketika ingin memulai dan menata kembali hidupnya. Bagaimana perasaan-perasaan itu diungkapkan, selalu menarik untuk dicermati.

Yang membuatku tertarik untuk menonton dengan cermat film-film drama, adalah bagaiman kisah drama itu, tidak dikatakan secara verbal, tapi bisa dijelaskan dengan gesture dan ekpresi tokoh-tokohnya. Ga perlu ngomong semuanya, karena film punya kekuatan visual yang bisa bercerita dengan lebih dasyat. Itu yang masih langka kita temui di film-film Indonesia.

Shortbus (2006)

* * 1/2

Exxxtremely comedy not only about sex but also sexuality...

sesuai dengan taglinenya, film ini memang menampilkan eksplisit content.. tentang sex dalam kaitannya dengan sexuality sebagian kecil new yorker. John Cameron Mitchell, sutradara asal Texas, mencoba mengangkat persoalan kaum pendatang yang mengalami masalah dalam seksualitas, ketika mereka datang ke new york.

Shortbus adalah nama sebuah klab alternatif, tempat orang-orang yang memiliki masalah sex dan seksualitas, berkumpul dan mencoba memecahkan masalahnya. Swinger, lesbian, gay, para penganut BDSM, bertemu di klab ini dan bebas bereksperimen dengan persoalan sex dan sexuality mereka.

Film ini berfokus pada karakter sofia (sook-yin lee) yang lahir dari keluarga imigran cina di canada dan meniti karir sebagai sex therapist di NYC. Persoalannya, sebagai seorang therapist, sofia mengaku belum pernah merasakan orgasme sekalipun, meski ia dan suaminya telah mencoba bereksplorasi dalam permainan sex mereka. Tokoh lain adalah pasangan homoseksual: James (paul dawson) dan Jamie (PJ De Boy), meski telah menjalin hubungan selama 5 tahun, Jamie merasa, tidak berhasil menyibak tabir kesedihan yang selalu menyelimuti diri James. James selalu merasa hubungannya dengan Jamie hanya bisa dia rasakan sampai sebatas 'kulit' saja, namun tak pernah bisa menyentuh dirinya yang paling dalam. Sampai kemudian, seseorang yang selalu mengikutinya, menyelamatkannya ketika James berusaha bunuh diri dengan menenggelamkan diri di kolam spa tempat dia bekerja. Karakter lain yang juga bermasalah adalah Severin (Lindsay Beamish), punk dominatrik dan menyukai hubungan BDSM, punya latar belakang yang kelam sebagai korban pelecehan seksual dimasa kecilnya.

Di shortbus inilah mereka sering bertemu dan berinteraksi. Sofia sebagai sex therapist berusaha keras menemukan cara bagaimana supaya dia bisa merasakan orgasme. Baginya, ia merasa membohongi banyak kliennya dengan konsultasi yang ia berikan manakala, dirinya sendiri belum pernah merasakan orgasme. Tanpa sadar, sofia memegang kontrol penuh atas relasinya dengan dengan sang suami, dan itu yang mungkin menyebabkan ia terbebani banyak hal ketika berhubungan seks dengan suaminya. Sang suami, Rob (Raphael Baker), justru semakin tak berdaya, ketika sadar, ia tak bisa membuat istrinya orgasme.

Sebenernya konflik-konflik yang diceritakan dalam film ini cukup menarik. Sayangnya aku ngerasa, ada bagian-bagian yang membuat konflik itu menjadi tidak utuh. Misalnya penyelesaian masalah sofia, dan karakter Saverin yang kesannya muncul hanya sebagai pelengkap penderita aja. Dari konflik yang ada.. aku merasa cuma konfliknya James dan Jamie.. yang terasa lebih utuh.. meskipun.. aku agak ngerasa 'ketipu' dengan hasil dokumenter yang dibuat James sebagai film perpisahan disaat dia bunuh diri..'kirain filmnya mau gimana..'

John Cameron Mitchell menurutku terlalu terperosok pada keeksplisitan penggambaran seksnya.. tapi agak kedodoran dalam penceritaan dan jalinan konflik tokoh-tokohnya.. jadinya aku kok kaya ngerasa nonton 9 songs-nya micheal winterbottom cuma lebih ada ceritanya gitu.. buatku film-film dengan eksplisit content begini yang ceritanya jauh lebih kuat sejauh yang pernah aku tonton ya karya-karyanya Larry Clark kaya: Kids, Kenpark.. nungguin What's Up Rocker.. bajakannya belon liat di vertex...

Oya satu hal.. aku paling suka sama maket new york yang jadi ilustrasi kota new york di beberapa scene di film ini..

Little Miss Sunshine (2006)

* * *

Satu hal yang kusukai dari film-film yang katanya ‘hollywood’ banget.. adalah selalu ada ‘pesan moral’ yang bisa ditangkap tanpa kita merasa sedang di ceramahi. Di Little Miss Sunshine hal itu kerasa banget. Penonton ga akan mengelak kalo banyak pesan-pesan baik di film ini.

Film garapan sutradara Jonathan Dayton ini, mengajak penontonnya berpikir tentang apa artinya menang dan kalah.. apa artinya berproses untuk mendapatkan sesuatu. Nice..

Secara teknis, film ini biasa aja. Ga ada yang terlalu istimewa dari komposisi, alur cerita, sinematografi.. tapi yang membuatku merasa senang dengan film ini adalah pengkarakteran tokoh-tokohnya. Richard (Greg Kinnerar) sang ayah dalam keluarga, digambarkan sebagai seseorang yang berprofesi sebagai motivator yang gagal menjual program 9 langkah bagaimana caranya menjadi pemenang, sementara si istri, Sheryl (Tony Collete), tipikal ibu kelas pekerja yang sibuk bekerja dan mengurusi rumah tangganya. Makanan instan, piring sterofoam jadi hal biasa dalam kehidupan mereka. Grandpa (Alan Arkin) untuk perannya disini masuk kedalam nominasi oscar tahun ini sebagai peran pembantu pria terbaik. Karakter grandpa sangat menarik buatku, karena si grandpa merasa, sebelum ia mati, ia harus menikmati hidup senikmat-nikmatnya.. bercinta dengan sebanyak mungkin perempuan, menikmati heroin, nonton bokep sebanyak-banyaknya.. dia bosan dengan kehidupan yang terlalu lurus. Frank (Steve Carrell), kakak laki-laki sheryl, gay yang mencoba bunuh diri karena patah hati dan gagal dalam mendapatkan dalam studinya, malah nampak sebagai orang yang paling 'normal' dalam keluarga ini. Dwayne (Paul Dunno), anak sulung yang tergila-gila dengan nietztche dan memutuskan untuk mogok ngomong sampai dia berhasil masuk sekolah pilot. Namun belakangan, ia kembali bicara ketika sadar bahwa dia menderita buta warna dan ga mungkin berhasil masuk sekolah pilot. Dunno sebagai aktor muda, memperlihatkan bakat aktingnya yang lumayan. Meski, karakter wajahnya khas, membuat dia selalu kebagian peran-peran sebagai sosok yang aneh dan 'bermasalah'. Olive (Abigail Breslin), bintang utama di film ini, membuat penontonnya jatuh cinta. Kepolosan kanak-kanak berhasil dia perankan dengan baik. Sebagai anak kecil yang bercita-cita mengikuti kontes miss sunshine Breslin, berhasil memerankan karakter olive sebagai dirinya sendiri. Hal ini tentunya sangat terasa dari awal film dan lebih terasa lagi pada saat kontes miss sunshine dimulai.

Film ini beneran menghibur dan mencerahkan. Penonton ga diajak mikir terlalu berat.. nikmati saja...

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails