Wednesday, April 29, 2009

Sebuah Kemungkinan Menjadi Bijak dan Banal Sekaligus

Anggrek Bulan, foto kiriman kamu


"Bener ga sih, selain semakin matang & bijak, semakin tua seseorang, semakin banal/dangkal dan pragmatis?"

Tiba-tiba saja pertanyaan soal pragmatisme ini muncul kembali bagai pop up di kepalaku. Pertanyaan yang muncul ketika aku membaca kembali tahapan psikologi perkembangan lewat tulisanku Life Begin at Forty dan hasil mengamati sekelilingku, tentang teman-teman yang tumbuh menua dan seperti kehilangan semangat untuk bermimpi dan hidup menjauhi sesuatu yang menjadi "passion" atau legenda hidupnya. Namun pada saat yang sama aku berjumpa dengan orang-orang yang di usia sangat muda (belum genap 20 tahun), sudah menemukan keyakinan hidup berdasarkan passion dan impiannya (baca: cita-cita) serta menjalaninya dengan keriangan yang penuh integritas. Meski sesekali terdengar keluhan atas pilihannya yang didasari oleh passion itu, membuat mereka seperti "sendirian".

Pertanyaan di atas kemudian aku kirim via sms kepada beberapa teman dan seketika aku mendapat reaksi dan jawaban yang berbeda-beda.

Seorang teman yang hidup dalam realitas ibukota dan dunia NGO, tanpa argumen membenarkan smsku. Sementara temanku yang filsuf sufi menjawab dengan tawa sambil bilang bahwa pragmatis itu godaan, semakin tua semakin terlepas-lepas, kalaupun yang tua harus mencari uang, itu untuk tanggung jawab, bukan karena untuk diri sendiri. Temanku yang lain yang sebelum usia 30 malang melintang dalam gerakan subkultur yang kental dengan semangat perlawanan, tidak sepenuhnya setuju denganku. Menurutnya rata-rata orang semakin tua semakin ga punya mimpi, makanya jadi terkesan pragmatis. Dan temanku yang lain yang berjumpa denganku di lorong hati, malah memeriksa pertanyaanku tadi, menurutnya aku selalu mengkait-kaitkan dengan usia, dia mempertanyakan keyakinanku bahwa kedewasaan bukan di tentukan oleh usia.

Jawaban-jawaban itu membawaku pada dialog lebih lanjut dengan teman-temanku itu. Meski kami berbalas-balasan lewat sms dan ada yang berlanjut di yahoo messenger, semua reaksinya membuatku memikirkan kembali banyak hal. Temanku yang bilang makin tua makin kehilangan mimpi, mengangap bagian terparah dari orang yang menjadi tua dengan cara seperti itu adalah mereka merasa paling tau soal hidup. Aku membalasnya dengan pertanyaan lain yang menduga-duga 'jangan-jangan lelah karena kehabisan tenaga untuk bermimpi atau karena ga punya lagi harapan untuk bermimpi?'. Temanku membalas dengan membenarkan dugaanku:"Bisa jadi. Lelah dan kehilangan harapan. Bener..".

Jawaban temanku si filsuf sufi itu, membuat aku bertanya balik padanya, "bagaimana caranya biar tidak terlepas-lepas saat menjadi tua?" Jawabannya cukup padat dan sangat mendasar menurutku" "tanggung jawab, misi dan tugas." Jawabannya langsung mengingatkanku pada perkataan dia sebelumnya. Temanku pernah mengingatkan bahwa setiap orang memikul tanggung jawab, misi dan tugas di muka bumi ini, hal itu lah yang perlu dicari tau dan disadari oleh setiap orang, jika ingin hidupnya punya tujuan, tidak terlepas-lepas.

Dua dari empat jawaban itu, membuat aku memikirkannya seharian: Lelah dan kehilangan harapan, terlepas-lepas, mmm.. Saat masih berpikir-pikir itu, temanku yang lain yang bulan Juni ini tim robotiknya akan mewakili Indonesia di kompetisi robot Internasional di San Francisco, tiba-tiba ngebuzz aku di YM, mengungkapkan kekesalan, kekecewaan dan kemarahannya pada dosen pembimbing disertasi S3nya. Temanku itu begitu terpukul, ketika pembimbing yang selama ini selalu dia mintai pertimbangan bukan hanya sebagai seorang dosen pembimbing, tapi juga seorang ayah, mengatakan padanya, bahwa apa yang temanku lakukan; membangun tim robotik yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa yang awalnya ga yakin dengan potensinya, sampai bisa berkompetisi di level internasional itu, sebagai sesuatu yang tidak signifikan. Seketika, temanku merasa dipatahkan oleh orang yang dia harapkan bisa mengapresiasi kerja kerasnya selama ini. Orang yang temanku pikir bisa mengerti, tapi nyatanya tidak. Curhatnya, menambah persoalan yang kepikiran olehku: mengerti dan dimengerti. Lelah dan kehilangan harapan, terlepas-lepas lalu ditambah ketidak mengertian dari orang yang kita harapkan bisa mengerti. Apa hubungan dari semua ini?

***

Apa karena tidak tau apa yang menjadi tanggung jawab, misi dan tugas hidupnya sendiri? lalu terlepas-lepas dan kemudian kelelahan untuk bermimpi lantas hilang juga harapannya pada semua impiannya? Bagi orang-orang rata-rata yang dimaksud temanku semakin ga punya mimpi itu, mungkin bisa balik bertanya padaku, 'seberapa penting impian itu dipertahankan, ketika pengalaman hidup membuktikan bahwa kenyataan seringkali mengkhianati semua impian itu?'. Kenyataan seringkali tak seindah impian. Dan pastinya kesenjangan impian dan kenyataan rasanya melelahkan. Karena itu seperti berdiri di atas dua kaki di dua tempat yang berbeda dengan ketinggian yang berbeda pula.

Entahlah, aku sendiri mulai meragukan bahwa antara kenyataan dan impian bisa saling berkhianat. Jangan-jangan keterlepasan yang disebabkan ketidak sadaran kita pada tanggung jawab, tugas dan misi itulah, yang menyebabkan kenyataan dan impian saling mengkhianati. Karena bagiku sendiri, impian seringkali, bukanlah sesuatu yang jauh. Dia seringkali dekat, bahkan sangat dekat dengan nafasku. Kenyataan yang justru seringkali menjauhkannya ketika kenyataan tak berhasil membangun jembatan menuju impian itu. Ketidak mampuan itu yang membuatnya impian dan kenyataan terlepas, lalu hidup seperti terlepas dan tercerai berai, kehilangan tujuan. Situasi ini yang mungkin membuat orang rata-rata itu, menjadi pragmatis. memutuskan berhenti bermimpi dan hidup seperti kenyataan mencerai beraikan tanggung jawab, visi dan misinya.

Lantas persoalan mengerti dan dimengerti, menjadi kerumitan berikutnya. Karena yang tidak berhasil menjembatani impian dan kenyataan seringkali tidak mengerti dengan pilihan orang yang memilih hidup di antara keduanya: orang-orang yang menemukan cara membangun jembatan itu. Ketidak mengertian dan keinginan untuk dimengerti itu seringkali menyakitkan karena keduannya seringkali saling menyakiti tanpa disadari. Keduannya bisa bersikukuh memandang dari tempatnya masing-masing, tanpa mau menggeser mencari titik baru untuk saling memandang. Tidak mudah memang. Karena ini bukan kegiatan saling memandang seperti melihat kenyataan di dalam cermin yang sama dan simetris. Bukan itu. Persoalan mengerti dan dimengerti seperti melihat apa yang ada di balik cermin itu, kenyataan dibalik dinding dimana cermin itu tergantung. Kadang, berjalan masuk ke dalamnya itu akan membantu, namun tidak semua orang punya kesempatan dan juga berani melakukannya.

Mungkin untuk menemukan titik temu dari soal mengerti dan dimengerti ini adalah menyadari bahwa aku dan kamu memang punya tugas, tanggung jawab, visi dan misi berbeda satu sama lain. Namun sesungguhnya, kita adalah bagian yang saling melengkapi satu sama lain, sehingga aku juga kamu, tidak lagi merasa terlepas satu sama lain. Ku kira, soal keterlepasan ini, menyangkut juga persoalan, bagaimana kemudian aku, kamu, kita, bisa menempatkan tanggung jawab, visi, misi, tugas, dalam kenyataan dan impian yang lebih besar. Impian dan kenyataan komunal yang dibangun dari impian-impian dan kenyataan yang sangat personal.

Pada titik ini, persoalan menjadi banal/dangkal dan pragmatis atau matang dan bijak, bisa berjalan bersama-sama, saat sadar bahwa tidak selamanya bisa mengerti dan dimengerti. Bahwa mungkin sekali membangun jembatan antara impian dan kenyataan. Lalu membangun kesadaran diri atas apa yang menjadi tanggung jawab, visi, misi, tugasnya dalam hidup. Disinilah kedewasaan seseorang lantas tidak lagi ditentukan oleh usianya.

Gudang Selatan, 23:03

untuk anggrek bulanmu yang mekar pagi tadi..

Monday, April 27, 2009

Keterpencilan Komunitas Adat Terpencil

foto dari album vitarlenology

Tarlen Handayani Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di kawasan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur yang diselenggarakan oleh Yayasan Interseksi.

Tulisan ini merupakan catatan lapangan kedua yang dipublikasikan di www.interseksi.org

Sulit bagi saya membayangkan bagaimana hidup di wilayah relokasi “Komunitas Adat Terpencil” sub etnik Tidung, di Gn. Temblunu, Sembakung, Kaltim. Hidup di sebuah rumah kayu yang dibangun pemerintah, di tengah-tengah hutan Gn. Temblunu yang belum lama dibuka (bahkan bekas bakaran bonggol-bonggol kayunya masih menyisakan asap). Hanya ada air rawa dan 30 rumah saja. Listrik yang menerangi, muncul dari solar sel yang masih perlu stabilizer pengatur tegangan untuk menyalakan lampu dan alat elektronik lain. Semua itu menjadi situasi yang harus dihadapi tiga puluh kepala keluarga warga RT 06 dan RT 07, warga Desa Atap yang rumahnya seringkali terendam banjir. Mereka menerima bantuan dari program Komunitas Adat Terpencil, Departemen Sosial Propinsi Kalimantan Timur.

"Ingat ya bapak-bapak, Ibu-ibu, bantuan ini kita peroleh dengan susah payah. Butuh waktu hampir tiga tahun untuk mendapatkannya. Jadi tolong dipergunakan sebaik-baiknya. Jangan sampai rumah baru itu tidak bapak-bapak dan Ibu-ibu tempati," Pesan Pak Sura'i, Sekretaris Camat Sembakung dalam pidato penyerahan bantuan Relokasi KAT, masih terngiang di telinga saya. Saya mengingat setiap detail ekspresi wajah warga Sembakung penerima bantuan KAT: datar dan biasa saja. Entahlah, saya tidak menemukan haru biru perasaan bahwa hidup mereka telah diselamatkan oleh negara dari banjir yang menenggelamkan mereka. Pompa Air, alat karaoke, genset, bibit tanaman durian, kelapa sawit, bohlam lampu, kabel listrik, seperti pembagian hadiah lebaran yang terasa rutin dan jauh dari harapaan dan kebutuhan. Menurut penjelasan kades Syarin Abdullah, bantuan ini diajukan pihak desa dan kecamatan Sembakung, kepada pihak Propinsi Kalimantan Timur, dengan pertimbangan, setiap banjir datang, warga RT 06 dan RT 07 Desa Atap mengalami kondisi yang paling parah. Air bisa menggenang sampai ke atap. Itu sebabnya pihak desa dan kecamatan mengajukan permohonan relokasi pemukiman untuk warga RT 06 dan RT 07.

Truk angkutan pelajar, membawa warga dan barang-barang bantuan itu ke rumah baru di KAT Gn. Temblunu. Saya sengaja mengikuti perjalanan mereka dengan keingintahuan tentang Komunitas Adat yang Terpencil. Seperti apa yang disebut "terpencil" itu. Dengan memangku Sasa, putri bungsu mantan Kades Syahrin Abdullah, saya duduk di sebelah supir. Saya akui, kepiawaian petugas kecamatan mengemudikan truk ini, tak kalah dengan teman saya yang off roader. Bahkan mungkin lebih jago, karena jalan tanah merah yang berlumpur dan beresiko selip itu, menjadi bagian dari hidup mereka sehari-hari. Setiap Senin sampai Sabtu, petugas truk angkutan pelajar, akan melalu jalan Gn. Temblunu-Ds. Atap sepanjang 4 KM ini, untuk antar jemput murid sekolah secara gratis. Kadang, jika truk terjebak dalam lumpur dan menunggu alat berat untuk mengeluarkannya, murid-murid terpaksa berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan mereka ke sekolah.

Kurang lebih 30 menit, tiba juga ke relokasi pemukiman KAT. Hati saya yang semula terasa gagah mengembang menyongsong petualangan, menyusut perlahan-lahan. "Oh, ini ya yang namanya Komunitas Adat Terpencil," batin saya dalam hati. Tiga puluh rumah kayu berjejer di tengah-tengah hutan yang baru saja di buka. Halamannya belum bisa di tanami, karena bonggol-bonggol kayu bekas tebangan itu belum lapuk dan tanah masih dipenuhi sisa-sisa akarnya. Selokan kecil yang ada di depan mereka, pekat seperti aspal, hitam dan berbahaya jika diminum, karena itu air rawa. Siang, langit begitu biru benderang menaungi pemukiman di tengah hutan itu, namun bisa di pastikan, malam akan menjadi sepekat jelaga, karena tidak ada sumber listrik. Hanya solar sel kecil yang terpasang di setiap rumah, itupun mesti menggunakan alat untuk menstabilkan tegangan listrik yang dihasilkan dan membelinya harus pergi ke Tarakan atau Banjarmasin. Ketakukan saya pada ular Sembakung membuat saya bergidik hebat. Saya menduga-duga, ular-ular itu bersembunyi di sela-sela bonggol-bonggol kayu di halaman rumah mereka. Tiba-tiba saja, saya merindukan Jalan Aceh 56 Bandung, rumah tua yang sangat sejuk dan nyaman dengan lokasi yang begitu strategis, tempat tobucil membangun komunitasnya. Hati saya menciut dengan cepat seperti balon dikempesi itu, buru-buru menyimpulkan "Tak mungkin aku bisa bertahan di somewhere in the middle of nowhere, mendingan aku merasa terasing di lantai 5 sebuah apartemen di Lexington Avenue, Manhattan daripada di tempat seperti ini," pikiran-pikiran saya berkecamuk seiring pandangan saya yang lekat menyapu sekeliling saya. Membandingkan kota dengan tempat seperti ini, menjadi satu hal yang kerap kali muncul secara otomatis manakala yang saya hadapi adalah situasi yang benar-benar bertolak belakang dengan kehidupan saya sebelumnya.

Tiba-tiba senyum ramah salah satu Ibu membuyarkan kecamuk dalam pikiran saya. "Mampir dulu bu, main-main ke rumah saya." tawarannya terasa penuh ketulusan. Saya mencoba menolaknya dengan sopan. "Iya bu, lain kali," karena Truk angkutan yang membawa saya dan penduduk lain akan segera berangkat lagi mengedrop bantuan ke ujung pemukiman. "Bagaimana jika truk angkutan kecamatan ini, tiba-tiba mogok semua, anak-anak sulit pergi ke sekolah karena harus berjalan kaki 4 kilo meter," pikiran saya yang dimanjakan oleh kota dan fasilitas mengira-ngira kondisi terburuk yang bisa mereka hadapi. Lalu saya perhatikan wajah-wajah mereka yang riang dan ringan menghadapi kesehariannya. "mungkin itu bukan kondisi terburuk yang menurut mereka bisa terjadi," saya meralat perkiraan saya sendiri. Kemungkinan-kemungkinan buruk yang coba saya bayangkan, bermunculan satu per satu.

Bantuan yang terangkut telah selesai dibagikan. Truk angkutan kecamatan bersiap kembali lagi ke desa Atap untuk mengambil bibit-bibit tanaman yang tadi belum terangkut. Saya memutuskan pindah ke belakang, bergabung bersama mereka. Duduk di depan, memposisikan diri sebagai tamu, justru membuat saya menjadi 'terpencil'. Mereka menyambut saya dengan hangat. Sesekali mereka berbincang dalam bahasa Indonesia, namun seringkali mereka bicara dalam bahasa Tidung yang tidak saya mengerti. Saya berusaha mendengarkannya sambil sesekali memotret perjalanan kembali ke desa Atap. Semua pikiran menduga-duga itu, segera saya hentikan. Saya hanya ingin berada di tengah-tengah mereka, mencoba berempati terhadap yang mereka rasakan dan pikirkan, karena siapa tau dugaan saya semuanya salah.

Di tengah jalan, truk angkutan berhenti. Penduduk yang baru memanen mangga, meminta truk angkutan kecamatan membawakan dua karung mangga hasil panenannya ke desa Atap. Karung-karung itu terlalu berat untuk dibawa dengan Honda Astrea 77 dengan kondisi jalan yang seperti itu. Orang-orang yang berada di dalam truk, membantu menaikkan karung-karung itu. Oji, anak lelaki kades Syahrin yang baru berumur 6 tahun, merengek pada mamaknya "Mak aku mau mangga," Pak tua yang duduk di bersamanya, mengambilkan satu untuk Oji, "nih ambillah satu, nanti kau bilang sama yang punya, mangganya kita ambil satu," Oji menerimanya, tapi tak langsung memakannya. Dia hanya memeganginya saja. Pak tua yang mengaku orang Bugis itu, menawariku "silahkan bu, kalau mau ambil saja," aku menjawabnya dengan anggukan.

Di tengah riuh obrolan di truk itu, aku bertanya pada seorang bapak yang ada di sebelahku, mengapa masih banyak rumah (dari 30 unit ) di pemukiman itu yang kosong belum terhuni. Wajah bapak yang kutanyai itu berubah serius, baginya pindah ke pemukiman KAT, jauh lebih sulit daripada bertahan di rumah lamanya yang sering terendam banjir. "Kemana-mana jauh bu, air bersih tidak ada. Kalau butuh sesuatu juga jadi sulit, karena jarak ke desa Atap jadi semakin jauh. Ya saya, baru menempati rumah itu kalau mau ada pemeriksaan," wajah yang serius itu, seketika tersenyum renyah. Bapak itu seperti mentertawakan apa yang ia lakukan sendiri. Jawaban itu bagiku memang tak mengherankan, apalagi setelah melihat sendiri seperti apa kondisinya. Memang rumah-rumah yang mereka dapatkan dari pemerintah adalah rumah baru, namun dengan lokasi yang seperti itu, bukan hal yang mudah pula untuk memulai hidup baru di pemukiman.

Tanpa terasa, hamparan sawah Sembakung, sudah terlihat di depan sana. Perlahan truk angkutan menuruni bukit menuju desa Atap. Tiba-tiba saja, tower telkomsel, sekolah, rumah 500 KK, keramaian yang 'sepi' itu, menjadi terasa begitu kontras dengan realita yang baru saja saya hadapi di pemukiman. Sebutan Komunitas Adat Terpencil, tiba-tiba mengganggu saya, sebuah pertanyaan muncul menggelembung dan mengganggu: mengapa diterpencilkan? siapa yang terpencil sesungguhnya? Jika ada yang terpencil, pastinya ada yang tidak terpencil, Bagaimana memutuskan yang ini terpencil dan yang itu tidak, jika mereka sama-sama tinggal di satu kawasan yang ketika di zoom out juga sama-sama 'terpencil'. Kemudian istilah Komunitas Adat Terpencil menjadi sesuatu yang sangat-sangat aneh di kepala saya.

Monday, April 20, 2009

Dua Perjumpaan Pada Seminggu Terakhir

D'Java String Quartet, foto by Tarlen

Setiap perjumpaan dengan orang-orang yang intens dalam berkarya, selalu meninggalkan jejak dalam diriku. Seminggu terakhir ini, D'Java String Quartet dan Gunawan Maryanto meninggalkan jejak itu padaku. Jejak yang di tinggalkan melalui energi kreatif mereka yang menginspirasi.

Perjumpaan Pertama

Mulanya Ahmad Ramadhan, alias Rama, pemain Biola D'Java String Quartet (DSQ), beberapa kali singgah di Klab Klassik, Tobucil & Klabs. Saat pertama aku menyimak permainan biolanya, Rama baru saja terdaftar sebagai mahasiswa ISI Jogja jurusan Seni Musik. Usianya baru 17 tahun saat itu (sekarang Rama duduk di semester 4), namun lewat gesekan biolanya, aku bisa merasakan intensitasnya. Rama telah memilih biola dan musik klasik sebagai jalan hidupnya. Pada usia semuda itu, aku mengagumi dan menaruh hormat pada pilihan hidupnya.

Lalu, 12 April kemarin, Rama datang kembali bersama teman-teman sebayanya yang tergabung di D'Java String Quartet. Ada Ade Sinata (Cello), Dwi Ari Ramlan (Biola), Dany Cheri (Biola) juga Rama sendiri. Mereka memainkan beberapa komposisi yang juga dimainkan dengan lebih lengkap di konser tunggal mereka di CCF, 17 April 2009. Tidak hanya komposisinya saja yang bisa mereka mainkan dengan sangat baik, namun yang memukauku adalah intensitas dan integritas mereka saat memainkannya. Mereka membentuk DSQ justru saat keempat pemuda ini sama-sama mengikuti audisi Asia Tenggara Orkestra di Bangkok. Di usia mereka yang masih begitu muda, tapi integritas bermusik dan kesungguhan itu telah mereka temukan. Entahlah, aku merasa tertulari energi mereka atas integritas itu. Seperti sebuah lecutan pemacu semangat: 'mereka semuda itu, bisa berkarya dengan penuh integritas, mengapa aku tidak?' Kesirikan yang bisa menjadi penyemangat bagi diriku sendiri.

Dan yang menyenangkan, integritas itu tidak lantas mengurangi sosok mereka yang menyenangkan, setidaknya aku melihat itu dari Rama. Di panggung, dia menjadi violist yang begitu total, tapi di luar panggung, Rama tetap saja seperti abg yang manja. "Tante, suapin dong, aku lapar.." begitulah kelakuan mantan pelajar teladan SMUN 3 Bandung. "Aku mah, umur boleh nambah, tapi kelakuan mentok deh di usia 16," melihat kelakuannya sulit orang mengira bahwa dia pemain biola yang handal.

Berjumpa dengan Rama dan teman-temannya, menyadarkanku bahwa sebuah pilihan dalam bekarya, tidak melulu ada di wilayah yang menengangkan (setidaknya ekpresi Ade Sinata saat memainkan Celo menggambarkan itu, intens tapi kocak dan menggemaskan). Pilihan itu bisa sama ringannya dan menyenangkannya saat menjalani kesenangan-kesenangan lain. Hanya saja saat kesenangan dan hal yang nampak ringan itu dilakukan dengan penuh totalitas, kukira situlah integritasnya terbangun. Totalitas atau dalam istilah alm. Kakekku "Tidak setengah-setengah" itulah yang memungkinkan sebuah karya bisa menularkan semangat pada penikmatnya.

Perjumpaan Kedua,

Gunawan Maryanto, sosok bersahaja yang aku temui pertama kali di tahun 2002. Namun namanya sudah sering di sebut-sebut Muhamad Marzuki alias 'Kill the DJ' di akhir 90'an karena hubungannya dengan Teater Garasi. Namanya juga semakin sering ku dengar saat Jogja mulai jadi 'rumah keduaku' sejak akhir 90'an. Pada tahun 2002, Cindil dan beberapa teman Teater Garasi, dateng berkegiatan di tobucil, waktu itu masih di Trimatra Center. Saat itu, aku mulai menyimak karya tulisnya maupun pementasannya. Beberapa pertunjukkan Teater Garasi di Bandung, coba ku apresiasi. Sebagian ada yang berhasil ku simak dari awal sampai akhir dengan perasaan senang dan menikmati, namun ada juga yang dengan sukses membuatku tertidur di tengah-tengah pertunjukkan.

Prosa karya Cindil, kubaca pertama kali di jurnal Prosa yang diterbikan oleh penerbit Metafor. Rasanya seperti menemukan chemistry pada pembacaan pertama. Aku menyukai cara Cindil bercerita. Aku menyukai kesederhanaannya dalam bertutur. Cindil tidak bertendensi bersembunyi di balik 'kata-kata yang seolah-olah nyastra' untuk menyembunyikan kedangkalan cerita. Cindil bercerita kedalaman dengan sederhana. Demikian pula dengan puisi-puisinya yang pertama kali ku temukan di multiply Cindil beberapa waktu lalu. Terus terang saja, aku bukan penyuka puisi, tapi puisi-puisi Cindil, aku selalu menyukainya, karena setelah membacanya aku menemukan sesuatu dan rasa yang ia kirimkan lewat puisi-puisi itu, getarannya sampai kurasakan.

"Puisi, prosa, teater, bagiku adalah medium untuk menyampaikan apapun. Aku bisa memilih medium mana yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ingin ku katakan. Saat aku ingin bercerita, aku bisa menggunakan prosa, atau jika aku ingin mengungkapkan kilasan-kilasan perasaan, aku bisa pakai puisi. Kalau aku ingin menghadirkan kembali peristiwa aku bisa memakai teater untuk itu," ungkap Cindil saat berbagi pengalaman kreatifnya di tobucil hari senin kemarin (20/4/09). Bagi Cindil menulis itu sama halnya dengan berkomunikasi, mengirimkan pesan, mengirimkan rasa. Penguasaan medium akan membuat pesan dan rasa bisa terkirim dengan baik.

Pembicaraan berlanjut setelah makan malam sampai hampir tengah malam. Kami berbincang soal proses "menyebrang" seorang aktor saat memerankan karakter yang di mainkan, sampai hal-hal yang berhasil di lewati sehingga berhasil bertahan dan bahkan tumbuh setelah 15 tahun membangun dan membesarkan Teater Garasi setelah 15 tahun bergulat dengan dinamika kreatif di Teater Garasi. Bagiku, perbincangan ini bergitu berharga. Rasanya seperti menemukan teman yang sudah melampaui apa yang sedang aku hadapi, aku belajar banyak dari proses itu. Delapan tahunku bersama tobucil, belumlah apa-apa. Malah ini baru saja permulaan. Masih panjang proses yang mesti di lalui dan dilewati bersama. Karena untuk tumbuh dengan sehat dan kuat, seringkali masalah justru harus dilewati untuk membuktikannya kesehatan dan kekuatan itu.

***

Dua perjumpaan yang mengajarkan padaku, bagaimana menjalani pilihan dengan ringan dan riang tanpa kehilangan integritas dari D'Java String Quartet. Juga mencapai kedalaman dalam kesederhanaan seperti yang kutemukan pada proses berkaryanya Cindil. Saat aku memilih mengeksplorasi gagasan-gagasan yang ada di kepalaku ini aku seringkali merasa sendirian karena tidak semua yang kutemui memilih untuk mengikuti eksplorasi dirinya sejauh yang dia mampu, karena resikonya membuat orang-orang di sekeliling tidak mengerti dan memahami apa yang kita jelajahi. Dan ketidak mengertian orang-orang di sekeliling terhadap kita, seringkali rasanya menyakitkan. Banyak yang akhirnya menyerah, memilih menyenangkan sekeliling daripada mengikuti perjalanan diri menggali kedalaman. Tapi lagi-lagi itu pilihan setiap orang. Semua ada resikonya.

Terima kasih untuk perjumpaan-perjumpaan di seminggu terakhir ini yang membuatku merasa tidak sendirian dalam perjalanan yang panjang ini. Terima kasih telah menularkan semangatnya padaku.

Thursday, April 09, 2009

Hujan Semalam di Malaysia, Banjir Sebulan di Sembakung*


Tulisan ini adalah catatan penelitan lapangan yang dibuat untuk Yayasan Interseksi.

Tarlen Handayani adalah anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di kawasan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur

Sembakung. Sebuah tempat yang sama sekali asing dan saya putuskan sebagai tujuan dari penelitian ini, saat sampai di Nunukan, Kalimantan Timur. Dari rencana semula, wilayah penelitian saya adalah Kepulauan Mentawai, tepatnya di Siberut. Namun, saat workshop persiapan sebelum berangkat ke lapangan, tempat penelitan sepakat di pindah ke Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur atas pertimbangan beberapa informasi, bahwa Siberut terancam tsunami.

Saya menyepakati kepindahan lokasi itu, meski berarti saya harus mempersiapkan semuanya lagi dari awal. Salah satu mentor workshop, Dave Lumenta, memberikan rekomendasi beberapa daerah di sekitar Kecamatan Sembakung atau Sebuku. Dave malah membekali saya dengan data catatan etnografi Desa Sujau di Kecamatan Sebuku, barangkali saya hilang ide, saya bisa pergi ke Sujau.

Waktu persiapan yang saya miliki dari workshop sampai benar-benar pergi ke lapangan hanya dua minggu. Itu pun saya masih belum bisa memutuskan, daerah mana di Kabupaten Nunukan yang akan jadi wilayah penelitian saya. Mas Hikmat Budiman, Direktur Interseksi, berpesan pada saya, "pakai jurus Tai Chi saja, kepekaan kamu menangkap persoalan yang menjadi penting, karena kamu berangkat dengan tidak tau apa-apa soal Nunukan." Itu sebabnya dari Jakarta, saya singgah ke Balikpapan, menemui beberapa teman yang saya harap bisa memberi gambaran tentang Nunukan. Dua Hari di Balikpapan tidak banyak gambaran yang yang saya peroleh soal Nunukan, bahkan redaktur Tribun Kaltim yang saya wawancaraipun tidak banyak memberikan gambaran mengenai Nunukan. Bagi sebagian orang Balikpapan, Nunukan menjadi wilayah terasa lebih asing daripada Jawa. Akhirnya saya putuskan, saya harus sampai dulu di Nunukan setelah itu, baru saya memutuskan, wilayah mana yang akan saya teliti.

Kontak saya di Nunukan bernama Rusdi Kudus, anak Haji Achmad. Saya memperoleh kontak ini dari sahabat saya waktu kuliah dulu, perempuan setengah Dayak, setengah Jawa, bernama Wiwiek yang tinggal di Berau, Kalimantan Timur. Rusdi ini adalah saudara dari teman suami Wiwiek. Wiwiek dan Yudi, suaminya, bukan hanya memberikan kontak kepada saya, namun juga menitipkan saya kepada keluarga temannya itu selama saya melakukan penelitian nanti.

Saya tidak tau, seperti apa orang-orang yang akan saya temui nanti, seperti apa Rusdi, seperti apa bantuan yang bisa dia berikan dalam riset lapangan ini. Satu hal yang selalu saya percaya ketika melakukan perjalan ke tempat yang sama sekali baru dan asing, bahwa saya akan bertemu dengan orang-orang yang baik dan siap membantu saya.

Saya menginap di rumah Haji Achmad yang letaknya bersebelahan dengan rumah Rusdi. Saya memanggil Haji Achmad dan Istrinya, Bapak dan Mamak. Ada Kak Rosida, kakak perempuan Rusdi yang tinggal bersama Haji Achmad. Mereka begitu terbuka dan hangat menerima saya. Bahkan mereka tak segan mengaku bahwa keluarga mereka dulu adalah pengusaha kayu selundupan yang cukup sukses. Sebuah kebakaran besar di akhir tahun 90-an, menghabiskan seluruh kejayaan mereka sebgai penyelundup kayu. Perkenalan dengan keluarga Haji Achmad membawa saya pada perkenalan dengan sub etnis dayak yang sebelumnya belum pernah saya ketahui: Sub etnis Tidung yang beragama Islam. Dari keluarga Haji Achmad justru saya mendapatkan gambaran yang lebih jelas, dari pada berita-berita yang saya cari di google sebelumnya. Haji Achmad yang mantan bendahara partai Golkar, Nunukan ini, mengungkapkan banyak sekali kekecewaannya pada pemerintahan lokal. Sebagai orang Tidung, ia merasa tidak dianak tirikan dalam hal kesempatan ekonomi. Dari cerita Haji Achmad dan beberapa saudaranya yang sempat saya temui, saya merasakan status quo dari penguasa setempat dan perekonomian yang berjalan lambat. Hal yang sangat berbeda dengan yang saya temukan di Tarakan, saat mendarat dari Balikpapan, sebelum melanjukan perjalanan dengan speed boat menuju Nunukan.

Dari Rusdi, saya kemudian dipertemukan dengan Bapak Sura'i, adik ipar Haji Achmad yang belum genap setahun menjabat sebagai Sekretaris Camat Kecamatan Sembakung. Dari Pak Surai, saya mendapat copy hasil penelitian Mika Okushima: Ethnic Background of the Tidung: Investigation of the Extinct Rulers of Coastal Northeast Borneo. Pertemuan dengan Pak Surai, membuat saya memutuskan pergi ke Kecamatan Sembakung, sebagai wilayah penelitian saya. Agama yang berbeda dengan yang dianut oleh sub etnis Dayak lainnya yang mayoritas beragama Kristen dan Katolik, persoalan Banjir yang semakin sering dihadapi masyarakat Sembakung, dan juga persoalan lahan hidup mereka yang dibatasi oleh kebijakan pemerintah pusat soal Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK). Semua seperti kepingan-kepingan puzzle yang membuat saya menetapkan pilihan Sembakung sebagai wilayah penelitian saya.

Mamak dan Bapak yang menganggap saya sebagai anak angkat mereka, berpesan pada saya untuk berhati-hati: "Jangan kau tolak, suguhan orang di sana ya Nak, nanti kau kepuhunan bisa kena patuk ular. Jangan keluar malam-malam kalau tidak perlu, kalau terpaksa, pakailah sepatu dan celana panjang." Pamali patukan ular Kobra ini rupanya menjadi identik dengan kehidupan warga Sembakung. Pamali ini bukan sekedar pantangan omong kosong, beberapa warga meninggal dunia akibat patukan ular berbisa, sehingga pamali ini jadi pamali yang begitu dipercaya.

Dalam mempersiapkan kedatangan saya ke Sembakung, Pak Surai menghubungkan saya dengan Kades Desa Atap, Sembakung, Syahrin Abdullah (PJS). Di tempat pak Kades lah saya akan tinggal selama di Sembakung.
Dengan menempuh perjalanan air selama 3 jam, dan melintasi jalan penghubung Kec. Sembakung dengan Trans Kalimantan dan Kec. Sebuku dengan menggunakan Ojeg. "Tuh sawah Sembakung, kita sudah sampai," pak Yunus yang mengantar saya dengan Ojeg menunjukan persawahan Desa Atap Sembakung yang menurutnya tak dimiliki oleh desa-desa lain di Kecamatan Sembakung atau Sebuku.

***


Desa Atap adalah ibukota kecamatan. Dihuni oleh sekitar 500 KK yang mayoritas berasal dari suku Tidung beragama Islam. Sawah yang membentang itu luasnya sekitar 100 ha dan berbatasan langsung dengan hutan wilayah KBK. Listrik sudah masuk desa ini meski menyala hanya dari pk. 18.00 sampai 06.00 pagi, setiap harinya, kecuali minggu yang biasanya menyala mulai siang hari. Tower Telkomsel yang berdiri sejak tahun 2005, menjadi penghubung komunikasi antara warga Desa Atap dengan warga di luar Desa. Fasilitas Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, tersedia juga di desa ini. Karena itu, warga desa lain di Kecamatan Sembakung yang ingin melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Atas, harus melanjutkannya di Desa Atap.

Mayoritas penduduknya adalah petani. Meski mereka bersawah di lahan basah, namun, sawah mereka tidak seperti lahan persawahan di Jawa yang memiliki sistem pengairan dan pematang yang tertata rapi. Pengairan sawah di Desa Atap mengandalkan hujan yang turun. Para petani, mesti berkubang dalam lumpur saat merawat padi-padi mereka.

Saat ditanya, apa persoalan terbesar yang mereka hadapi? warga menjawab, banjir adalah persoalan utama mereka. Hulu sungai Sembakung yang terletak di wilayah Malaysia ini, hilirnya sampai ke muara yang berbatasan dengan pulau Tarakan, Indonesia. Karena itu, hujan semalam di Malaysia (hulu sungai Sembakung) bisa berhari-hari banjir di Sembakung. Banjir besar terjadi tahun 2007-2008. Desa Atap lumpuh total hampir selama sebulan dan banjir ini datangnya tidak dapat diprediksikan. Banjir ini yang membuat mereka menghadapi gagal panen. Karena banjir, sekolah dan fasilitas umum tergenang air berhari-hari bahkan bisa sampai berminggu-minggu. Banjir pula yang mengenangi rumah-rumah panggung mereka berminggu-minggu. Semua upaya mengentaskan tingkat kesejahteraan warga, meski berhadapan dengan persoalan banjir.

Rumitnya lagi, relokasi lahan pertanian dan pemukiman, tak mungkin dilakukan, karena Desa Atap dikepung oleh wilayah KBK. Upaya pembukaan lahan ini, sempat pula di lakukan atas inisitatif warga yang mengusulkan pada Kepala Desa dan di setujui Bappeda Kab. Nunukan, untuk membuka lahan seluas 500 ha di wilayah KBK, namun upaya ini terhenti ketika pemerintah pusat mengetahui dan memperkarakan pembukaan lahan KBK ini ke pengadilan. Semua pihak yang terkait dipanggil pihak yang berwajib. Akhirnya proyek relokasi dan pembukaan lahan pertanian baru, terhenti tanpa ada kejelasan.

Usulan perencanaan pembangunan desa pun, selalu mengahadapi benturan lahan. Desa-desa lain yang ada di Kecamatan Sembakung, tidak hanya menghadapi banjir sebagai persoalan utama mereka, namun abrasi sungai, membuat mereka mesti merelokasi tempat tinggalnya. Namun Bappeda yang sepertinya kapok berurusan dengan pemerintah pusat, justru menyerahkan urusan izin menggunaan lahan ini, kepada warga. Pemerintah kabupaten, baru akan melakukan pembangunan, setelah warga bisa menjamin, bahwa lahannya bukan lahan yang bermasalah. Akhirnya pembangunan menjadi hal yang niscaya bagi warga desa.

***

Berbeda dengan kelompok Sub Etnis Dayak lainnya, seperti sub etnis Dayak Agabag, sub etnis Tidung di Sembakung, dikenal sebagai sub etnis yang memiliki karakter yang 'nrimo' atau pasrah. Lambatnya pembangunan dan bencana banjir yang seringkali melumpuhkan perekonomian mereka, dengan sikap kepasrahan. "Kalau hal ini terjadi di tetangga orang Agabag, pasti mereka sudah protes dan demo ke pemerintah menuntuk penyelesaian masalah, tapi Ibu juga ga ngerti, kenapa orang-orang Tidung ini, menerima saja keadaan ini," jelas Ibu Diana, istri Kades yang juga orang asli Tidung ketika saya tanya bagaimana respon masyarakat Tidung terhadap situasi ini. "Saya juga heran, mengapa orang Tidung di Sembakung ini, tidak punya rasa iri (semangat bersaing) kalau liat tetangganya lebih maju," ungkap Hajjah Kasni, suatu saat kepada saya. Hajjah Kasni sendiri berasal dari sub etnik Tidung Tarakan.

Saya menduga, sikap 'nrimo' ini berkaitan dengan sikap dan pemahaman mereka terhadap ajaran Islam, terutama ajaran tarekat Syeikh Abdul Khadir Zaelani yang banyak dianut oleh sebagian besar masyarakat Tidung Desa Atap. Dari ceramah keagamaan yang saya hadiri di desa Atap, Tuan Guru dari Martapura, mengajarkan bagaimana segala musibah itu adalah bagian dari ujian kesabaran yang dapat memperkuat iman. Sikap bergotong royong (tenguyun), juga mewarnai interaksi sosial yang ada di desa Atap. Tanpa di minta, ketika ada warga yang salah satu anggota keluarganya meninggal, warga yang lain akan datang bergantian dan membawa beras dan bumbu dapur bagi keluarga yang meninggal. Ritual tahlilan yang hitungan harinya sedikit berbeda dengan hitungan masyarakat Islam di Jawa yaitu 3, 7, 14, 21,40, 70, 100 hari, menjadi ritual yang masih patuh dijalani. Itu sebabnya pula, tradisi beliaq (tradisi pengobatan suku dayak) atau oleh orang Tidung disebut 'Bersyaitan' semakin ditinggalkan, karena dianggap musrik dan bertentangan dengan ajaran Islam.

***

Banjir, kebijakan KBK, pengaruh agama yang kemudian mengubah karakter masyarakat Tidung, menjadi kepingan-kepingan puzzle di kepala saya yang perlu saya rangkai dalam kerangka kajian Hak-hak Minoritas yang sedang saya kerjakan ini. Bagaimana kepingan-kepingan ini akan tersusun, yang jelas saya sedang memikirkannya.

Satu hal yang jelas yang pasti memperkuat pertanyaan besar di kepala saya adalah bagaimana sesungguhnya membangun sistem demokrasi dari keberagaman yang luar biasa seperti yang dimiliki Indonesia? Semoga, riset ini bisa memberikan kontribusi pemikiran untuk menjawab pertanyaan itu. Dan apakah jurus tai chi yang saya bawa ketika pergi ke lapangan bisa membantuk menelisik jawabannya? kita lihat saja. :)

*Judul ini saya kutip dari gurauan teman saya, Dirmawan Hatta, yang saat ini sedang membuat film dokumenter di Sembakung.

Thursday, April 02, 2009

Rumah Senja

Ini adalah cita-citaku di hari tua nanti (semoga umurku cukup untuk mewujudkannya). Sebuah rumah jompo, tapi aku tidak mau menyebutnya begitu, tapi aku lebih suka menyebutnya Rumah Senja (pemandangan senja selalu indah bagiku). Sebuah rumah, dimana para manula (aku dan teman-temanku kelak), bisa menghabiskan sisa hidup di rumah itu. Aku membayangkannya, rumahnya terletak di daerah pedesaan, dengan tanah yang luas. Setiap orang bisa berkebun atau sekedar memelihara bunga matahari dalam sebuah pot, paviliun cozy untuk setiap penghuninya. Ruang bersama yang bisa jadi galeri kecil, ruang pertunjukkan, ya semacam ruang aktivitas bersama. Perpustakaan kecil dengan perapian yang hangat, klinik kesehatan yang memadai, tempat berolah raga, lapangan rumput yang luas, pokoknya rumah senjaku itu, rumah dimana semua penghuninya bisa menemukan bahagia tutup usia.

Ide membangun rumah senja ini, terlontar secara spontan olehku, ketika pertemuan madrasah falsafah berbicara soal hari tua (meski temanya soal: bos, mengapa berkuasa?.. ga nyambung). Gagasan itu, tiba-tiba saja tercetus dan membuatku terhenyak sendiri, 'mmm, mengapa tidak? sebuah rumah jompo untukku sendiri kelak dan akan sangat menyenangkan jika ternyata aku bisa menghabiskan masa tuaku, bersama teman-teman juga. Saling menjaga, saling mengingatkan. Betapa indahnya, bisa menjalani sebuah perjalanan pertemanan yang panjang.' Saat gagasan itu bergulir, beberapa teman langsung bereaksi. Tiga orang pertama selain aku, malah booking tempat dari sekarang: Heru Hikayat, Desiyanti Wirabrata dan Firdaus. Setidaknya bagi kami jadi ada gambaran akan dihabiskan dimana hari tua nanti. Temanku, Yusrilla si ahli robot, malah menawarkan diri menjadi salah satu pendirinya. Desy juga sempat mengatakan itu, 'kita patungan saja, bikin bareng-bareng.'

Kami begitu bersemangat membayangkan itu. Bagiku pribadi, cita-cita ini menjadi cita-cita yang indah dan menyenangkan untuk di bayangkan. Setidaknya aku jadi punya tujuan dengan hari tuaku. Setidaknya ada alternatif pilihan yang menyenangkan untuk dilakukan. Semangat tobucil dengan segala klabnya, akan kubawa di rumah senja nanti. Tentunya malah lebih menyenangkan, karena akan ada kebun sayuran dan tanaman obat, anggrek (jika kamu berminat bergabung), dan buah-buahan juga. Malahan kalau bisa, makanan yang nanti kami makan adalah hasil dari kebun sendiri. Organik dan non pestisida. Kegiatan-kegiatan pengisi waktu yang membuat ga cepet pikun, tentunya akan menjadi program di rumah senja. Aktualisasi diri yang terus menerus, hanya bisa dihentikan ketika yang bersangkutan mati.

Aku mencita-citakan, rumah senja, benar-benar bisa menjadi rumah bagi penghuninya, untuk melepaskan hal-hal yang membelenggu selama ini dan menjalani apa yang selama ini ingin di jalani tapi tak mungkin dijalani. Pada prinsipnya, "Jangan ada penyesalan dalam hidup dan mati dalam perasaan bahagia" (hal yang sama, yang aku mohon pada ibuku bahwa aku ga ingin dia meninggal dalam perasaan tidak bahagia, atau punya banyak penyesalan dalam hidup, jadi nikmatilah sisa hari di bonus usianya sekarang ini). Aku percaya, orang yang matinya dalam kondisi perasaan yang bahagia, ia akan meninggalkan inspirasi bagi orang-orang yang ditinggalkannya dengan begitu hidupnya menjadi tidak sia-sia. Ada manfaat yang dia tinggalkan yaitu inspirasi dan semangat yang justru tak pernah mati. Gimana caranya? aku sendiri belum kebayang, tapi setidaknya tujuannya sudah terumuskan.

Teman-temanku ini, memang ada yang berkeputusan tidak menikah, ada juga yang ga tau apakah akan menikah atau tidak. Ada juga yang sudah menikah, tapi ga mau punya anak. Namun ada juga yang biarpun punya anak, dia ingin bisa memilih akan menghabiskan hari tuannya dimana; apakah bersama anak-anaknya, atau bergabung di Rumah Senja. Karena itu, kelak para anak tak perlu merasa bersalah juga membiarkan orang tua mereka tinggal di Rumah Senja. Karena Rumah Senja adalah pilihan. Tentu anak dan cucu setiap saat bisa datang dan menjenguk. Rumah Senja juga bisa menjadi rumah bagi para pasangan yang saat tua nanti, salah satu memutuskan untuk tinggal terpisah ataupun bersama-sama di Rumah Senja. Dan bagi anak-anak, sadarilah, bahwa para manula ini, berhak menentukan kebahagiaannya sendiri di hari tuanya.

Aku ya membayangkan, Rumah Senja ini, bisa jadi seperti sebuah kompleks perumahan kecil berisi paviliun-paviliun dengan fasilitas bersama, dimana para penghuninya bisa saling menjaga satu sama lain dan juga saling menemani. Pengalamanku melihat para manula yang pergi ke museum bersama, menonton pertunjukkan, atau pergi naik bis atau subway bersama-sama, ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang menjadi ruang-ruang sosial mereka. Dan yang indah adalah mereka kemudian saling menjaga satu sama lain: jalan bergandengan, semua itu memberi kesan yang mendalam bagiku. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku ingin ketika aku tua nanti, aku bahagia dan menikmati hidupku seperti itu. Aku ga tau, apakah aku akan bertakdir hidup sampai tua bersama pasangan atau tidak, namun yang jelas aku tidak ingin merasa kesepian dan sendirian. Karenannya membayangkan ruang-ruang itu ada saat tua nanti, membuatku jadi lebih bersemangat.

Aku juga jadi ingat cerita Elida, tentang sebuah desa di Perancis yang hampir mati karena para penduduknya sebagian besar pindah ke kota. Lalu sekelompok manula yang adalah mantan aktivis Paris '68, pindah ke desa itu dan menghidupkan kembali desa itu dengan kegiatan kolektif yang mereka kelola bersama. Indah sekali dan bagiku sangat inspiratif.

Mungkin tugasku di dunia ini adalah membangun ruang-ruang bermain bersama itu. Menyampaikan pilihan pada orang lain untuk menemukan kebahagiaannya. Jika sekarang aku jalani tugas itu bersama tobucil, nanti di hari tua, aku bisa menjalaninya dengan Rumah Senja.

***
Sekarang yang mulai kulakukan adalah menabung untuk sebidang tanah yang cukup luas itu dan tentunya berdoa pada Tuhan, semoga aku punya cukup kekuatan untuk mewujudkannya. Terlepas dari pasangan hidupku kelak mengerti atau tidak dengan cita-cita hari tuaku ini, aku akan tetap memperjuangkannya, karena aku tau cita-cita ini membuatku bahagia dan tidak akan membuatku menyesal saat hidupku berakhir nanti.

Hari ini aku menuliskannya, untuk menanamnya dalam hatiku dan meretasnya dalam langkahku. Aku berdoa semoga dua puluh tahun mendatang, aku bisa kembali membaca kembali tulisan ini di beranda Rumah Senja, sambil berkumpul bersama teman-temanku dan orang yang kucintai sambil memandang langit senja yang indah dan membahagiakan. Amin. Semoga.

Gudang Selatan, 2 April 2009

Tambahan:
Ada pro dan kontra seputar: bagaimana kalau Rumah Senja di tambah kuburan sekaligus taman juga. Sebagian temanku merasa, kuburan bisa membuat kecil hati, tapi menurutku, kuburan akan jadi peristirahatan terakhir yang di rancang sebagai sebuah taman yang menyenangkan dan jadi bagian paling menarik di Rumah Senja.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails