Monday, February 23, 2009

Diskonek

Foto oleh Tarlen

Setelah mengakhiri intensitas emosi yang melelahkan, rasanya menghela nafas panjang saja tidak cukup untuk melepaskan residu perasaan yang tersisa. Diskonek atau mencopot semua kabel yang terhubung. Mematikannya barang sejenak dua jenak, lalu merestart dengan memformat ulang semuanya, itu bisa membuatku merasa jauh lebih baik. Menghilangkan yang tidak perlu dan menyimpan yang diperlukan untuk waktu ke depan.

Begitulah. Menyambungkan lalu memutuskan. Seperti sebuah proses yang menyulam gambar besar beraneka warna. Tak bisa memaksakan diri memakai benang dengan warna yang sama, jika tusukan dengan warna benang yang itu memang harus disudahi. Mengganti jarum dengan benang warna lain adalah cara menyelesaikan gambar besar yang sedang kita buat.

Begitu diskonek, apa yang pernah tersambung sebelumnya, seperti foto tiga dimensi dimana semua moment yang telah lewat, dibekukan. Tapi kita masih ingat bagaimana rasanya, teksturnya, baunya, gesturnya, sampai semua yang membangun ketiga dimensiannya itu, pudar perlahan-lahan. Waktu yang berjalan hanya meninggalkan garis-garis yang mengusangkan lembaran-lembaran foto kenangan itu. Kita ingat semuanya, namun rasa yang tersisa hanya tinggal pengetahuan, tidak lagi kental dan pekat dalam sedih dan senang. Datar. Sedatar kertas yang mencetak foto-foto kenangan itu.

Saat ini, aku baru saja merestartnya, memformat ulang semuanya. Memilah-milah, mana yang perlu kusimpan dan mana yang perlu ku buang. Rasa yang mengambang di udara masih terasa pekat. Aku lebih memilih, membalikkan foto-foto itu dan tak ingin menatap semua momen yang beku di dalamnya, sampai semua kepekatan rasa itu hilang. Setelah semuanya datar, mengering menjadi pengetahuan atas rasa yang pernah ada, baru aku akan membalikkan foto itu kembali dan mungkin memasangnya dalam bingkai atau di album foto sambil sesekali menatap dan mengenangnya sambil tersenyum atau mentertawakan diriku sendiri.

Namun yang jelas, tidak untuk saat ini. Aku hanya ingin diskonek untuk sementara, mengindari kepekatan rasa itu, sampai aku benar-benar siap menyambung kembali.

Gudang Selatan, 23 Februari 2009 22:44

(by the river of sembakung, i sat down and wept)

1 comment:

Dindie said...

kayaknya aku juga perlu diskonek...:)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails