Monday, January 05, 2009

Kepedulian yang Melanggengkan Konflik (Israel-Palestina)

Palestinian kids having an ice-cream in Nablus Gambar diambil dari sini

Tiba-tiba saja banyak orang menuliskan tagnya di YM dan facebook, mengutuk kekejaman israel di Jalur Gaza. Demo anti Israel juga kembali marak di gelar di banyak kota. Postingan yang mengecam kebrutalan Israel (dan Yahudi) juga banyak menghiasi multiply dan blog. Semua mengutuk Israel (a.k.a. Yahudi). Tapi benarkah semua itu karena kita sungguh-sungguh peduli pada Palestina yang tertindas?

Di antara berbagai tanggapan tentang tindakan Israel itu, ada satu postingan yang menggelikan tapi sekaligus membuatku miris. Nada postingan seperti ini selalu muncul setiap kali konflik Israel Palestina kembali memanas, aku dapat dari milis jurnalisme. Media di Amerika dikuasai oleh lobby Yahudi! Maka tidak heran kalau fakta di lapangan selalu ditutupi dan dimanipulasi demi public relation campaign untuk mengelabui rakyat Amerika!

Lalu temanku membalas di milis yang sama dengan lucu, namun mengena.
Logika kalimat di atas sama konyolnya dengan :Pasar makanan kita dikuasai oleh lobby Sumatera, khususnya Padang! Maka tak heran kalau dimana-mana selalu ada restoran Padang yang dimanipulasi sebagai makanan asli Indonesia. Jawaban untuk logika seperti itu ialah : 1. Bikin restoran Padang tandingan, yang lebih enak, lebih murah, lebih bersih, lebih marketable 2. Bikin warung2 nasi selain Padang misalnya Warung Tegal, Soto Semarang, Coto Makassar, Bubur Manado, Sate Cirebon, Nasi uduk Betawi, Soto Lamongan, Rawon Surabaya, Jus Timun Aceh, dll. 3. Puasa makan makanan Padang 4. Mutih --- makan nasi putih doang. Selain supaya tidak terpengaruh cita rasa dan tipuan lobby Padang, mutih bisa membikin pelakunya "sakti mandraguna" seperti pendekar2 silat zaman dulu.

Selama ini, kita sering terjebak dalam kepedulian semu terhadap kasus-kasus kemanusiaan seperti yang terjadi di Jalur Gaza, tanpa berpikir bahwa bentuk kepedulian kita hanya mengekalkan penindasan itu sendiri. Secara gegabah kita menyamakan bahwa pelaku penindasan terhadap rakyat Palestina adalah bangsa Yahudi, kita lupa, apakah yang dilakukan Israel adalah perwakilan dari keinginan seluruh etnis Yahudi untuk menindas Israel? logika ini juga sama artinya dengan menyebutkan bahwa semua orang Jawa adalah penjajah, semua orang Islam adalah fundamentalis dan teroris. Kita lupa bertanya, Yahudi yang mana? Jawa yang mana? Islam yang mana? Generalisasi kita yang terburu-buru itu, justru melanggengkan kebencian dan prasangka, melanggengkan posisi mana korban mana penindas, dan itu semua membuat konflik Israel Palestina menjadi sesuatu yang mustahil untuk diselesaikan.

Carlos Bolado, B.Z. Goldberg, Justine Shapiro
, tiga sutradara film dokumenter 'Promises' (2001-pernah di putar di Jiffest travelling Bandung, 2002 tobucil-trimatra), mencoba melihat konflik ini dari perspektif yang berbeda. Selama tiga tahun (1995-1998) mereka mengikuti 7 anak dari latar belakang yang berbeda (Yahudi, Kristen, Islam) yang tinggal di Jerusalem. Ketujuh anak ini, dihubungkan satu sama lain dan dipertemukan. Awalnya banyak sekali prasangka dan ketakutan baik dari anak-anak itu maupun keluarga dan lingkungan mereka. Setiap anak punya trauma dengan perbedaan latar belakang ini. Masing-masing merasa jadi korban kejahatan konflik yang seolah-olah tak pernah selesai ini. Yang Yahudi merasa islam telah membunuh keluarga, tetangga dan teman-teman mereka, begitu juga sebaliknya dari yang islam dan kristen. Namun ketiga sutradara ini berhasil meyakinkan anak-anak ini untuk bertemu di suatu tempat.

Dengan pengalawan ketat, mereka bertemu dan mencoba saling mengenal. Mulanya mereka canggung, namun setelah tau bahwa satu sama lain menyukai basket, punya kisah-kisah lucu yang hampir sama di sekolah mereka, juga mereka berbagi kisah bagaimana di besarkan di Jerusalem. Suasana mencair. Mereka bisa bermain bersama dan melupakan kepahitan-kepahitan yang ditimbulkan dari latar belakang mereka. Mereka saling berteman satu sama lain sejak itu. Saat merka harus kembali ke rumah masing-masing, suasana haru tak bisa di bendung. Betapa mereka berharap, suatu hari nanti mereka bisa bertemu dan bermain bersama dengan mudah. Setelah pertemuan itu, mereka di wawancarai dan diminta pendapat mereka tentang latar belakang masing-masing. Ketujuh anak ini sama sekali berubah. "Ternyata tidak semua orang muslim adalah pembunuh", "tidak semua orang Yahudi itu jahat", "tidak semua orang kristen itu suka menyiksa". Prasangka yang mencair saat mereka akhirnya bisa saling mengenal dengan perbedaan masing-masing. Setahun kemudian, tiga sutradara itu kembali mewawancarai anak-anak itu, ternyata masih saling berteman, meski hanya bisa berkomunikasi lewat telepon.

Setelah rilis, film ini menjadi banyak pembicaraan dan menjadi alternatif penyelesaian konflik Israel Palestina. Solusi yang ditawarkan adalah dengan memutuskan rantai kebencian yang selama ini diturunkan secara turun temurun. Setiap anak Jerusalem yang lahir, mereka tumbuh dan dibesarkan dengan kebencian terhadap muslim, yahudi dan kristen. Sampai dewasa mereka dibebani oleh prasangka-prasangka satu sama lain. Luka-luka komunal dijaga sedemikian rupa oleh masing-masing pihak untuk membuat permusuhan diantara mereka tetap ada. Itu yang membuat rekonsiliasi di antara mereka sulit dilakukan.

Memang, Israel dan Palestina tidak seperti Afrika Selatan dan politik Apartheidnya. Israel Palestina, punya sejarah konflik yang jauh lebih panjang dan dalam, bahkan tertulis di kitab suci. Namun sebagai catatan sejarah, dia mengandung dimensi ruang dan waktu? dan tidak menutup kemungkinan untuk menafsirkan sejarah itu dalam konteks kekinian dengan perspektif perdamaian. Aku jadi ingat omongan salah satu mentor agama jaman aku SMA dulu, dia bilang bahwa jika sampai muslim dan yahudi (katakan Israel dan Palestina) itu sampai berdamai, itu tandanya dunia akan kiamat. Pertanyaan yang muncul dalam pikiranku sekarang, jangan-jangan konflik itu sengaja di langgengkan oleh kedua belah pihak karena keduanya tidak ingin dunia buru-buru kiamat.

Dalam keriuhan kecaman terhadap Israel (dan Yahudi), sebuah pertanyaan besar justru menggangguku, apakah kecaman itu muncul karena kita benar-benar peduli pada korban penindasan itu? ataukah kecaman-kecaman dan semua reaksi itu, tanpa disadari bagian dari pelanggengan konflik itu sendiri?

Seorang teman dalam postingannya bertanya: Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Palestina, memberi pelajaran kepada Israel, dan menciptakan perdamaian di wilayah itu? pertanyaan yang muncul di kepalaku justru Apa yang juga bisa kita lakukan untuk Israel dan meredam agresi mereka terhadap Palestina? Kukira jika kita sungguh-sungguh peduli dengan konflik ini, dukungan bukan semata-mata ada pada persoalan keberpihakan yang justru menimbulkan resistensi lebih besar dari salah satu pihak, tapi bagaimana konflik yang sudah sedemikian dalam dan mengakar ini, coba di tengarai dari akarnya: mengacu pada tiga sutradara promises yaitu dengan memutuskan rantai kebencian itu pada generasi berikutnya.

Keberpihakan membabi buta dan generalisasi kita dalam berpihak tanpa kita sadar hanya akan melanggengkan konflik itu sendiri. Kekerasan dalam bentuk apapun memang tidak bisa di benarkan, namun kekerasan bukan hanya sekedar pengeboman, generalisasi dan penyangkalan bahwa Israel dan Yahudi adalah dua identitas yang berbeda, itu juga bentuk lain dari kekerasan bernama pembunuhan karakter. Itu juga sama artinya dengan: menghukum pembunuh, bukan berarti juga pelakunya harus dibunuh juga. Jika solidaritas agama yang muncul, kita juga perlu bertanya, bukankah agama (semua agama) mengajarkan 'semulia-mulianya manusia adalah dia yang memaafkan kesalahan orang lain'. Pemaafan atau rekonsiliasi dalam perspektif konflik politik, bisa di mulai dengan membongkar prasangka-prasangka yang mendasari lahirnya konflik. Berhenti melakukan generalisasi bahwa apa yang dilakukan pemerintah Israel beban kesalahan etnis Yahudi secara keseluruhan, kukira itu bisa menjadi awal. Tidak semua hal berbau Yahudi patut di tentang dan tidak semua hal berbau Islam juga patut di bela. Mari kita lihat persoalannya dengan lebih jernih. Kita disini, punya jarak pandang yang cukup untuk melihat keduanya lebih jelas.

Friday, January 02, 2009

Alergi

Foto by tarlen

Seumur-umur, aku ga pernah kena yang namanya alergi. Sekarang, setelah hidup hampir 32 tahun, baru merasakan apa yang namanya alergi. Meski hidung yang beralergi, ternyata dampaknya kemana-mana: tenggorokan, telinga, sinus. Dan jangan ditanya, kalau bagian-bagian itu kemudian bermasalah akibat si alergi ini.

Dokter THTku bilang, alergi ini sulit di sembuhkan sama sekali. Dia menetap dalam tubuh dan jalan satu-satunya untuk mencegahnya jadi masalah adalah menjaga tubuh tetap sehat dengan makan yang teratur, istirahat yang cukup dan berolah raga. Sebuah resep klasik dan sederhana untuk hidup sehat. Namun yang sederhana ini juga bukan hal yang mudah untuk di lakukan.

Ngomong-ngomong soal alergi ini, nyambung juga sama jawaban temenku, ketika aku nanya sama dia: "heran, kenapa sih setelah putus hubungan asmara, sesudahnya ga bisa temenan aja kaya biasa?"
Temenku yang jagoan bikin robot dan sangat rasional ini mentertawakan pertanyaanku yang menurutnya itu pertanyaan bodoh. "Kamu tuh aneh, itu pertanyaan yang sebenernya ga perlu di jawab karena kamu pasti udah tau jawabannya. Gini deh, ibaratnya kamu alergi makanan laut, kalo makan kamu bisa gatel-gatel atau demam. Trus kamu ke dokter, nanya sama dia, 'dok, saya masih bisa makan udang ga ya?' pasti kamu diketawain dokternya. Ini orang bodoh atau emang ga paham sih. Karena jawabannya pasti ga bisa. Dia pasti alergi kalo harus berdekatan sama kamu."

Mmm...aku sempet mikir, jangan-jangan ini cara Tuhan memberiku pelajaran untuk mengerti soal logika alergi ini. Bukan alergi yang bisa bikin tenggorokanku gatel dan batuk karena hidungku meler terus saja, tapi juga logika alergi dari orang yang pernah cinta banget sama aku (ngakunya).. kalo aku deketin lagi sebagai teman. Mungkin bisa saja kembali berteman selama masing2 bisa menjaga pikiran dan perasaan tetap waras untuk tidak kembali saling menyakiti atau saling mencurigai. Rasanya kalo alergi dalam logika ini ya mesti dua-duanya yang sama-sama waras dan sehat ketika kembali berhadapan. Kalo salah satu sakit, tentunya hanya akan memicu alerginya muncul.

***
Di rasa-rasa, Tuhan selalu memberi pelajaran hidup dengan cara yang aneh, saat aku merasa ada yang salah dengan keseimbangan hidupku, tiba-tiba aku kena vertigo akut, penyakit yang menyerang syaraf pengatur keseimbangan posisi tubuh. Dan sekarang, ketika aku mempertanyakan bagaimana mungkin cinta yang tadinya begitu menggebu-gebu itu bisa berubah jadi 'alergi', aku dikasih alergi supaya mengerti.. mungkin ga menjawab tapi cukup mengerti. Sampai sekarang pun belum ada pengobatan moderen yang mampu menyembuhkan alergi secara total.

Setiap kali mendapat penyakit baru, aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa alergi? penyakit yang justru sangat bergantung pada caraku menyikapinya. Alergi bisa muncul mana kala badanku (merasa) ngga fit. Kondisi ga fit ini munculnya ternyata bukan sekedar dari situasi badan yang kelelahan tapi yang kurasakan lebih pada kondisi pikiran dan perasaaan yang kelelahan. Badan seringkali benteng pertahanan terakhir manakala pikiran dan perasaan tidak sanggup lagi menanggung kelelahannya. Pikiran dan perasaan yang sehat pun menjadi kunci penting untuk membuat alergiku ga mudah kambuh dan menimbulkan masalah.

Bisakah pikiran dan perasaan selalu sehat? namanya juga manusia, ada saatnya masalah dalam hidup bener-bener menguras tenaga dan pikiran, bener-bener bisa bikin kita rontok lahir dan batin. Belajar menerima persoalanan yang seringkali terasa sebagai jalan buntu, ketika berkali-kali dicoba menembusnya, tetap saja tak tertembus. Malahan fisik dan mental rasanya remuk redam setelah beberapa kali mencoba mendobraknya. Pada titik itu, menerima ketidak mampuanku untuk menembusnya dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, rasanya jauh melegakan. Seperti sebotol air segar di tengah perjalanan panjang di bawah terik matahari.

Aku ingat papan kunci hidup sehat yang di tulis di ruang dokter pranoto, dokter umum langgananku. Selain resep klasik hidup sehat seperti anjuran dokter THTku, dokter Pranoto menulis: "Banyak bersyukur dan selalu mengingat Tuhan" jadi kuncinya bukan hanya badan yang tetap sehat, tapi juga pikiran dan jiwa yang tetap sehat.

gudang selatan, 2.01.09

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails