Thursday, December 31, 2009

Vitarlenology 2009: Terima Kasih Untukmu


Snorkeling di Karimun Jawa, Mei 2009. Foto oleh Indra.


Untuk para sahabat dan semua perjumpaan yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata 

Ga terasa 2009 segera berlalu. Setahun genap memutari waktu. Banyak hal terjadi sepanjang tahun 2009. Aku coba mereviewnya kembali.

Kehilangan

Banyak (ga banyak-banyak amat juga sih :D) kehilangan di tahun ini. Terutama kehilangan yang disebabkan oleh kepergian orang lain dari hidupku dan juga keputusanku meninggalkan hidup orang lain.  I am also what I have lost.

Awal tahun di mulai dengan perjuangan meninggalkan 'kamu' sepenuhnya. Memenuhi janji pada diriku sendiri untuk bersikap adil. Pada hidupku sendiri. Sepercaya-percayanya aku padamu, ternyata aku ga pernah bisa mempercayaimu atas semua hal-hal yang tidak konsisten dalam dirimu. Terlalu banyak alasan dan tabir dalam hidupmu, ketika aku memaksakan diri untuk menguaknya, itu hanya menyakiti diriku sendiri. Jadi lebih baik, aku melepaskanmu. Bahkan jika kau mengulangi terus menerus 'mencurangi' orang-orang terkasihmu,  dengan beragam alasan dan pembenaran  itu sudah bukan urusanku lagi. Melepaskanmu berarti melepaskan apapun yang pernah begitu dekat, antara aku dan kamu. Aku tidak membencimu. Caraku memaafkanmu adalah mengosongkan kembali ruang hatiku yang pernah penuh terisi olehmu. Kau bisa muncul tiba-tiba menjejeriku di jalan mengklaksoniku bahkan, atau kau muncul tiba-tiba di hadapanku, tapi kau ga akan pernah bisa mengubah catatan terakhirku tentangmu. Chapter tentangmu dalam hidupku telah usai. Terima kasih karena kamu, aku jadi bisa memilih untuk menjadi adil pada diriku sendiri dan berjanji pada diriku sendiri bahwa nanti, di usia sepertimu sekarang ini, aku ga mau hidup sebagai pecundang yang terlalu malas untuk menjalani mimpi-mimpinya.

Kehilangan lain adalah, tiba-tiba pada satu persimpangan orang yang selama ini aku percaya memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang bersama, tiba-tiba  meninggalkanku untuk alasan yang tidak aku pahami dan membuatku merasa tersia-sia. Semua dukunganku selama hampir 2 tahun memberi ruang padamu untuk belajar terbang seperti kehilangan makna. Dua tahun, ternyata tidak membuatku mengenali dirimu. Aku baru menyadari, dirimu selama ini tersembunyi di balik selubung tebal karakter tulisanmu yang tak bisa aku jangkau.  Tugasku hanya mengantarkanmu sampai persimpangan dan merelakanmu. Hasta La Vista.

Kematian adalah bentuk lain kehilangan yang bisa membuat hati terasa ngilu berhari-hari. Paskalis. Teman yang mendukung tobucil apa adanya. Dengan ketulusan. Dia memutuskan menghabiskan detik terakhir hidupnya di beranda tobucil, membuktikan komitmennya. Selamat jalan sahabat, kepergianmu, memberi inspirasi serta mengikis jarak antara aku dan sahabatku yang lain. Dan kehilangan di penghujung tahun ini adalah perginya tokoh yang memberi banyak inspirasi dengan segala sepak terjangnya: Gus Dur.

Dalam kadar yang lebih ringan, kehilangan intensitas juga bagian dari kehilangan yang mewarnai hidupku di tahun 2009. Beberapa teman yang selama ini pernah dekat  menjadi kawan berbagi rasa, justru merenggang di saat aku mengajukan gugatan padanya untuk hal-hal yang sepertinya sepele: menepati janji pertemuan misalnya. Bahkan guagatan pada teman lain yang lebih substansial: apakah aku ini hanya sekedar  alat eksekusi eksistensi pribadi?  Tahun ini memang menjadi tahun seleksi bagiku dalam hubungan.

Perjumpaan

Namun ternyata, perjumpaan yang kualami jauh lebih banyak daripada kehilangan. Perjumpaan-perjumpaan dalam gelombang frekuensi pemikiran, intensitas emosional, semangat berkarya, kegelisahan yang sama, membuat perjumpaan-perjumpaan kembali, membawa arti berbeda dan lebih mendalam. Yang menyenangkanku sepanjang tahun ini adalah intensitas perjumpaanku dengan sahabat-sahabatku. Tahun ini kami yang pernah sama-sama gagal berinvestasi dalam sebuah idealisme dan cita-cita, justru berjumpa kembali dalam perjumpaan yang lebih erat dan hangat dengan  sahabat-sahabatku itu.

Perjumpaan dengan teman-teman baru dalam berkarya dan menjalani minat. Juga perjumpaan dengan teman-teman lama yang membawaku pada pemahaman dan pengertian baru tentang diri kita masing-masing. Perjumpaan-perjumpaan ini selalu membawa inspirasi dan kekuatan baru untuk terus berkarya dan mewujudkan cita-cita yang aku yakini. Setiap perjumpaan di tahun ini, bagiku seperti menyambung tongkat estafet, meretas jalan menuju pilihan-pilihan hidup yang berlimpah.

DJava String Quartet, perjumpaanku dengan kalian adalah hal penting dalam hidupku di tahun 2009. Terima kasih telah mengajarkan aku bahwa cita-cita besar menjadi omong kosong tanpa kerja keras. Meski kalian jauh lebih muda dariku, tapi kalian mengajarkan hal lain tentang meyakini pilihan hidup. Terima kasih.

Kreasi dan karya 

Pencapaian terbesarku di tahun ini dalam berkarya adalah  risetku tentang Hak Minoritas. Tepat di awal tahun aku melakukan studi lapangan di Sembakung, Kalimantan dan 15 Desember 2009 lalu, buku yang salah satunya memuat hasil penelitianku diterbitkan. Dalam hal ini, aku  menyebut Mas Hikmat Budiman. Aku sangat berterima kasih padanya.  Bukan semata karena kesempatannya, tapi cara dia membuat aku melampaui pencapaian yang sulit ini dan membuat alergiku menjadi-jadi, tapi semua kepayahan itu harusku lalui, kalau ingin lulus ujian kenaikan tingkat. Membicarakan Hak Minoritas, melakukan studi etnografi di lapangan di pedalaman Sembakung, Kalimantan Timur, adalah salah satu pengalaman luar biasa dalam hidupku yang ga mungkin aku lupakan. Pengalaman ini membuatku sampai pada batas terjauh kemampuanku yang membuatku menyadari dua hal sekaligus: Aku mampu sekaligus punya banyak sekali kekurangan. Mas Hikmat dengan caranya, menggembleng aku untuk terus belajar dan memotivasi aku untuk sekolah lagi. Menelusuri rasa ingin tahuku atas pengetahuan-pengetahuan yang selama ini tidak sungguh-sungguh aku serap. Sekolah bagiku kemudian menjadi medium untuk bertemu dengan para pembimbing 'spiritual' yang membantuku berdisiplin untuk  tumbuh seperti pohon. Knowledge is a tree.. growing up just like me..

Tahun 2009 juga menjadi tahun penting kembalinya aku pada aktivitas yang ternyata jadi passionku sejak kecil: handmade stuff. Membuat barang-barang bikinan sendiri. Melatih tangan, mengeksekusi gagasan. Tahun ini juga aku mulai dengan membuat merek sendiri: Design by vitarlenology untuk produk-produk handmadeku. Selain membuat merek sendiri, terhubung dengan Handmade Nation, blog tobucil handmade yang mendapat review positif dari craftivism.com memantapkan jalan bahwa menjadi crafter adalah hal yang tidak dapat kulepaskan dalam kehidupanku. Craft bukan saja menjadi medium eksperimen yang menyenangkan, tapi juga melatih pengembangan gagasan dan spiritual healing yang membuat aku jadi semakin mengahargai ide-ide sederhana, proses dan kerja keras.

Kesehatan


Tahun ini, memang tahun yang cukup berat bagiku untuk berdamai dengan alergi yang datang hampir sepanjang tahun 2009. Datang dan pergi. Tubuh dan pikiranku berusaha keras beradaptasi dengan kondisi sinusku yang seringkali membuat hidung dan tenggorokanku bermasalah. Jika ini adalah masalah yang menetap, aku berusaha untuk memahaminya dan mengerti, sehingga aku tau cara mengatasinya. Rencanaku tinggal sementara di kota yang lebih hangat, semoga membuat sinusku membaik.

Tobucil 


Hal yang membanggakan di tahun ini dari tobucil adalah bahwa tobucil mampu membuktikan kemandiriannya secara finansial untuk membiayai seluruh aktivitasnya sendiri. JIka di hitung, tahun ini, tobucil mampu mendapatkan sendiri dana sebesar lembaga donor mampu berikan untuk struktural funding selama 1 tahun. Setelah lebih dari 8 tahun jatuh bangun mengupayakan idealisme dan cita-cita  bersama tobucil, akhirnya aku dan teman-teman di tobucil bisa buktikan, bahwa tanpa harus meminta uang pada lembaga donor, tobucil mampu membiayai dirinya dan program-programnya sendiri dan tanpa aku harus menombok dari kantong pribadi. Kemandirian ini membuat aku dan teman-teman sangat beruntung kerena bisa menjalankan cita-cita kolektif ini dengan penuh harga diri dan kemerdekaan dalam mengambil keputusan. Rasanya sungguh melegakan. Semoga tahun depan kemandirian tobucil menjadi lebih besar dan kuat dan manfaat yang diberikan pada komunitasnya juga menjadi lebih besar. Terima kasih keluarga kecil tobucil untuk berjalan bersamaku..

****

Jika umurku panjang, tahun 2010 memberiku angka yang sungguh aku suka: 333003  yang artinya aku akan berulang tahun ke 33 di tanggal 30 di bulan 3. Pada saat itu tiba aku sedang dalam perjalanan keliling Asia Tenggara bersama Rama, seperti yang telah kami rencanakan jauh-jauh hari. Mengacu pada daftar pekerjaan di tahun 2010, banyak hal baru yang akan kujalani di tahun 2010: memanageri DJava String Quartet, backpacking keliling Asia tenggara, sekolah lagi, mencari beasiswa penelitian,  mengerjakan beberapa program bersama beberapa organisasi partner yang sudah menghubungiku, program-program baru di tobucil tentunya. Selain itu, aku tentu menyiapkan diri untuk kejutan-kejutan yang datang di tahun depan..

****

Ya Allah, terima kasih untuk:
Selalu memudahkan jalanku,
Menguatkan keyakinanku,

Menemaniku lewat Ibu, kakak dan adikku, teman-teman dan para sahabat yang memberiku inspirasi dan kekuatan,  
Memberiku petunjuk untuk selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi..

Terima kasih, Kau telah memperkaya hidupku dengan pengalaman dan kesempatan di 2009,
Jika Kau masih memberiku banyak kesempatan di tahun 2010, 
berilah aku kekuatan dan keteguhan hati untuk menjadi manfaat bagi kehidupan..

Amin.

Selamat Jalan Gus Dur


Foto diambil dari KOMPAS

 Aku ga tau, perasaan apa ini? tapi rasanya aku emang sedih dengan kematian Gus Dur. Bagiku Gus Dur seperti jaminan keragaman, pemikiran alternatif  dan pengakukan terhadap kelompok minoritas yang selama ini dianggap liyan, bisa tumbuh dan berkembang di negeri yang sedang belajar jadi dewasa ini. Jika penjamin itu tidak ada lagi, apa yang akan terjadi kemudian? Ku kira, selain kesedihan, perasaan yang menguasai banyak orang adalah  kekawatiran. Setiap orang yang bersetuju dengan keragaman dan pluralitas serta mendukung hak-hak minoritas, mesti menemukan keyakinan untuk menjamin keyakinan dan dukungannya itu, tanpa Gus Dur sebagai tameng yang siap menghadapi kekuasaan anti keberagaman dan abai terhadap hak minoritas.

Kepergian Gus Dur seperti kepergiaan guru, bapak yang selama ini memberi jaminan 'zona aman' pada murid dan anak-anaknya untuk terus berpikir alternatif dan mengahargai keragamanan. Gus Dur seperti meretaskan jalan memberi keberanian dan dukungan moril bahwa tidak ada yang salah dengan perbedaan dan keragamanan, bahwa kemuliaan ada pada sikap menghargai minoritas. Dan sekarang, jalan yang telah dirintis, keberanian untuk berbeda yang telah disemaikan itu, jadi warisan penting yang perlu terus menerus di perjuangkan.

Jasadmu mungkin sekarang sedang jadi rayahan cacing tanah, tapi inspirasi dan apa yang selalu kamu perjuangkan ga akan pernah mati.
Aku sungguh kehilanganmu..

Selamat kembali pada Sang Maha Plural..
 

Tuesday, December 29, 2009

Surat Untuk Alergi



Alergi sayang,

Sepertinya aku memang harus kompromi denganmu, tapi bagaimana? aku sedang mencari-cari caranya. Kamu bisa datang setiap pagi dan petang, meski sewaktu-waktu kamu bisa menggila seperti sekarang ini: memblok hidungku, sehingga seharian aku mesti bernafas dengan mulutku dan menjaganya dari hal-hal yang bisa membuat tenggorokanku terganggu .

Tiba-tiba aku teringat kembali bagaimana di umur 8 sampai 10 tahun dulu, aku sering sekali mimisan tiba-tiba. Ibuku biasanya langsung menymbatkan gulungan daun sirih yang di tanam di halaman rumah di salah satu lubang hidungku. Aku paling benci saat-saat seperti itu. Selain aku jadi tampak lucu dengan sumbat daun sirih itu, aku juga jadi susah bernafas. Tapi hal itu perlu dilakukan, daripada darah terus menerus mengucur dari hidung dan aku terpaksa harus diam di rumah. Jadi pilihannya waktu itu: tetap bermain dengan sumbat daun sirih di hidung, atau tanpa daun sirih dan aku harus berbaring di rumah? tentunya aku pilih yang pertama. Karena bermain adalah segalanya pada saat itu.

Saat seperti sekarang, rasanya kematian itu dekat sekali di depan mata. Jika tenggorakanku ikut memblok jalan nafasku juga, atau aku tersedak, maka matilah aku gara-gara ga bisa bernafas. Aku bertanya pada sahabatku: haruskah aku melawanmu atau berkompromi denganmu? dia bilang (dan seperti tiga orang dokter yang pernah aku datangi): kompromi saja. Tapi gimana? di saat nafasku pendek-pendek begini, dorongan untuk menyerah atau melawanmu dengan keputusasaan begitu besar. Karena menghadapimu begitu melelahkan (seperti ikatan seumur hidup ga bisa dilepaskan dengan mudah). Mungkin juga karena aku belum paham caranya bersahabat denganmu.

Baiklah, aku mengikuti saran sahabatku si pembalap gadungan,  untuk menguapi dengan air mendidih dan secolek balsem (karena ga ada minyak kayu putih). Kulakukan pengobatan masokis ini sebagai cara berkompromi denganmu. Meski rasanya seperti menyedot sesendok wasabi yang membuat gumpalan2 ingus yang mengendap di sinusku meleleh seketika. Untuk sementara, kukira cara seperti ini cukup untuk membuat kamu berkompromi denganku. Cara ini kukira lebih bijaksama (meski cukup menyiksa ketika melakukannya) daripada meracuni terus menerus tubuhku dengan obat-obat anti alergi  yang aku minum sebanyak apapun, tak membuat kau menghilang dari tubuhku.

Kurasa kau memang datang di saat yang benar-benar tepat, diakhir tahun, di saat sebagian orang biasanya berefleksi tentang hidupnya setahun terakhir. Kehadiranmu itu, membuat aku bukan hanya berefleksi tapi juga membuatku dengan sangat serius mencari cara untuk kompromi denganmu di hari-hari mendatang. Sama seperti situasi yang kupertimbangkan di usia 8-10 tahun itu, bahwa di hari-hari mendatang (jika umur panjang) ada sederet pekerjaan yang sudah masuk daftar yang harus ku lakukan di 2010. Jadi tanpa persahabatan  dan menemukan cara kompromi denganmu, pekerjaan-pekerjaan itu mustahil terlaksana.

Hal pertama untuk menjalani jalan panjang kompromi denganmu adalah aku menyatakan: aku ingin bersahabat denganmu. Terimalah niatku dan berilah aku kesempatan untuk menjalin persahabatan denganmu.

:maka izinkan aku malam ini tidur dengan nyenyak.. aku benar-benar membutuhkannya.

sahabat barumu,
t

Saturday, December 19, 2009

Aku Adalah Rentang Keragamanan Pekerjaanku



Aku paling bingung menjelaskan apa sesungguhnya pekerjaanku. Pertama karena yang aku kerjakan cukup banyak dan beragam. Kedua, jika disebut ga punya profesi yang tetap, ya begitulah aku. Aku ga pernah melewati jenjang karir dengan menduduki jabatan dan posisi tertentu atau menjadi profesional  dalam bidang tertentu sampai naik dan naik trus ada di puncak. Aku bisa dikatakan ga pernah melewati hal-hal demikian. Namun, dari jenis pekerjaan aku mengerjakan rentang pekerjaan dari jenjang yang paling bawah (cleaning service), sampai yang paling tinggi (mengambil keputusan tertinggi dari apa yang aku kerjakan).

Keragaman jenis pekerjaan dan bidang pekerjaan yang aku kerjakan selama ini, membuatku kesulitan menjelaskannya hanya dalam satu kata yang mencerminkan profesi tertentu. Suatu saat, sahabatku pernah menjelaskan pada temannya, tentang apa yang aku kerjakan dan menurutku cukup menggambarkan rentang pekerjaan yang aku lakukan: community developer. Meski istilah ini pun ga otomatis langsung membuat orang mengerti, pekerjaan seperti apakah community developer itu. Karena setelah menyebut pekerjaanku dengan istilah itu, sahabatku harus menjelaskan kembali pada temannya, apa itu community developer. "ya, dia bikin sebuah tempat, namanya tobucil disitu ada kegiatan belajar menulis, diskusi, workshop, pameran.." Begitulah penjelasan singkat sahabatku tentang pekerjaanku yang dia sebut sebagai community developer.

Sebutan itu, memang menjadi tepat ketika konteksnya hanya dibatasi pada apa yang kulakukan di tobucil, tapi bagaimana dengan hal lain-lain yang kukerjakan? Apakah, memanajeri sebuah string quartet, menjadi peneliti lepas, crafter bisa disatukan dalam sebuah label profesi tertentu? Kadang aku suka iseng menyebut diriku sebagai penyedia jasa. Tergantung pemesan, heheheh.. kecuali pekerjaan sebagai community developer dari tahun 2001 sampai sekarang lewat tobucil. Sepertinya itu satu-satunya pekerjaan tetapku dalam kurun waktu hampir 10 tahun terakhir. Sisanya ya freelancer dengan variasi bidang pekerjaan yang cukup luas. Benang merah dari semua keragamanan pekerjaan yang kulakukan itu adalah koridor sosial dan budaya. Meskipun yang kulakukan sekarang dengan sahabatku si pembalap gadungan, ga berhubungan dengan koridor itu karena ini ilmu komputasi. Sebuah titik baru yang membuat rentang keragaman pekerjaanku menjadi meluas.

***

Sebenarnya, aku ga terlalu mempersoalkan kebingunganku sendiri dalam menjelaskan pekerjaanku. Satu saat aku bisa menyebut diriku: pedagang, bisa juga peneliti, atau manager, crafter, atau apapun itu. Hanya saja kemudian aku tergelitik untuk membaca kembali rentang pekerjaanku yang beraneka ragam itu dan mencoba melihatnya dalam satu kerangka yang saling berkaitan. Dan sepertinya community developer, menjadi satu jenis  pekerjaan yang ternyata memang memerlukan keterampilan pekerjaan-pekerjaan lain. Untuk bisa membangun sebuah komunitas, aku memerlukan kemampuan sebagai peneliti karena komunitas pasti membutuhkan riset untuk membuat strategi pengembangan. Keahlian sebagai crafter juga diperlukan untuk melatih kemampuan mengeksekusi dari gagasan menjadi sesuatu yang kongkrit. Kemampuan managerial udah jelas diperlukan, karena tanpa keahlian itu, mana mungkin bisa mengembangkan komunitas. Aku jadi mendapat penjelasan untuk diriku sendiri, bahwa rentang keragaman pekerjaanku itu disebabkan karena aku merasa perlu bisa mengerjakan banyak hal. Aku tipe orang yang perlu mengetahui dan memahami proses dari awal sampai akhir dan bisa menjalankannya. Bukan karena aku tidak percaya pada orang lain untuk mengerjakan tiap-tiap bagian dari proses itu, namun dengan pengetahuan itu, aku bisa mengerti pekerjaanku sendiri secara utuh. Dan tentunya, saat mendelegasikan bagian-bagian pekerjaan itu, aku tau apa yang harus kulakukan.

Bagiku, sulit untuk membuat pembeda dan pemisah, antara pekerjaan dan hidupku. Hidup adalah kerja keras itu sendiri untuk menemukan kebaruan-kebaruan dan kualitas hidup. Dan pekerjaan seperti sebuah tools untuk menggali kebaruan-kebaruan itu. Aku tidak membatasi rentang keragaman minatku dengan batasan karir atau pendalamanan satu profesi tentu. Sepanjang keragaman keahlian yang aku dapatkan dari pekerjaan-pekerjaan itu bisa memberikan banyak manfaat, bukan hanya pada diriku sendiri, namun juga pada orang lain, pada sekelilingku, mengapa tidak. Konsekuensi logis dari pilihan ini adalah, aku memang ga bisa atau akan mengalami kesulitan untuk masuk pada sebuah sistem yang sudah mapan atau sebuah sistem yang membatasi aku hanya pada satu bidang pekerjaan tertentu dengan aturan yang rigid. Karena sistem yang seperti itu akan membatasi banyak potensi yang aku miliki dan mempersempit rentang keragaman minatku itu. Karenanya, aku perlu menciptakan sistem sendiri yang bisa mengakomodasi rentang keragaman dan kebutuhan ku.

Jadi jelas bagiku, bahwa pekerjaan bukan sekedar persoalan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan praktis dalam hidup, tapi pekerjaan adalah sejumlah kesempatan untuk menemukan kualitas hidup. Itu sebabnya, penting bagiku untuk menentukan posisi tawarku dari setiap pekerjaan yang aku terima. Penting untuk menentukan tujuan dari sebuah pekerjaan di awal. Mengapa aku menerima pekerjaan yang ini, bukan yang itu. Bagaimana dengan demensi moral, waktu, ekonomi, spiritual (mendapatkan pengalaman-pengalaman baru, perspektif baru buatku itu bisa menjadi sangat spiritual). Karena tujuan dengan langkah-langkah juga mesti sinkron. Kalo ga, ya eror nanti hasilnya. Termasuk juga mempertimbangkan resikonya. Tidak ada kesempatan dan pekerjaan yang tidak mengandung resiko yang menjadi penting dalam menghadapi resiko adalah kejujuran dalam menghitung kemampuanku untuk menghadapinya sesuai dengan situasi dan kondisi. Aku ga bisa memanipulasi diriku untuk pekerjaan-pekerjaan yang resikonya sudah jelas-jelas tidak mungkin aku sanggup menanggungnya, secara fisik maupun mental. Bahkan saat mencoba pekerjaan baru atau mencoba kemampuanku pada batas yang paling jauh, itupun bukan tanpa perhitungan atau bisa dilakukan dengan modal nekat belaka. Kalau dalam ilmu sahabatku, itulah yang disebut dengan menentukan rentang kemungkinan-kemungkinan paling dekat dan yang paling jauh. Aku yakin, setiap orang jika mau melakukan perhitungan itu pada dirinya sendiri dengan jujur, dapat menemukan batas terjauh dan terdekat atau terendah dan tertinggi dari kemampuannya sendiri. Dan rentang kemampuan ini sesuatu yang bergerak terus. Dinamis, karena hidup adalah pergerakan itu sendiri.

Rasanya jika pekerjaan itu bisa mendefinisikan seseorang. Aku lebih memilih, aku yang mendefinisikan pekerjaanku, bukan pekerjaan yang mendefinisikan siapa aku. Aku adalah kebaruan-kebaruan itu sendiri yang kudapat lewat tools bernama pekerjaan dengan rentang keragaman yang luas dan membuatku mampu membangun kualitas diri sebagai manusia..

(Aku jadi geli sendiri, aku menuliskan tulisan ini tanpa sadar terpengaruh logika penjelasan MSB-First Bounded Interval Dynamic Precision hihihih... )

Wednesday, December 16, 2009

Perjalanan Memantaskan Diri



 Tuhan itu sangat memanjakanku. Aku berdoa untuk kebaruan-kebaruan dalam hidupku, Tuhan memberikannya. Bukan cuma sedikit, tapi banyak. Setelah dua minggu lalu pikiran dan tenagaku disibukkan oleh urusan jahit menjahit, minggu ini dimulai dengan sesuatu yang sama sekali baru: mempelajari 'The Architectural Design & Analysis of MSB-First Bounded Interval Dynamic Precision '. Puyeng kan? hahahaha.

Kenapa aku tiba-tiba mempelajari hal yang 'seperti ngga nyambung' itu dengan latar belakang keilmuanku. Alasannya sederhana saja, karena ini disertasi sahabatku, si pembalap gadungan. Dan tenggat waktu yang dimilikinya semakin sempit. Dan aku ga bisa membiarkan dia stress terus menerus karena disertasinya ga kelar-kelar. Karena ini disertasi, aku yang ga suka matematika ini, tetap bisa membantu sahabatku itu karena yang menjadi penekanan lebih ke alasan kenapa sahabatku itu memilih metode itu. Argumentasi itu yang perlu di eksplorasi. Seru aja karena aku jadi belajar ilmu baru yang secara logika sebenarnya ga sulit juga dipahami oleh aku yang bukan engineer.

***

Ngomong-ngomong tentang sains, sebenarnya dari kecil aku sangat menyukai sains. Buku bacaan pelajaran IPA, bisa aku baca berkali-kali. Dan sejak kecil aku sangat senang membaca buku-buku bagaimana alam bekerja. Cita-cita pertamaku adalah arsitek dan waktu SMA, karena nilai biologiku selalu bagus dan aku sangat terinspirasi oleh Greenpeace, aku ingin sekali jadi Ekolog atau ahli biologi. UMPTNpun aku mendaftar di jurusan Biologi, meski aku tau aku ga suka sama serangga. Minatku pada sains ini lama-lama hilang, karena ternyata aku mengalami trauma dengan pelajaran matematika dan fisika. Karena guru matematikaku di SD sangat galak yang kalau salah hitung tanganku bisa di pukul pakai tongkat bambu, aku jadi memblokade diriku sendiri dari matematika. Saat SMA, aku pernah dipanggil guru matematikaku yang meski klemar-klemer, tapi dia sangat baik. Dengan kesabarannya dia menanyakan apa yang membuat aku terlihat sangat tidak berminat pada pelajarannya?  Karena aku memang malas memperhatikan dan ga mau tau juga meski konsekuensinya nilaiku bakalan jelek banget. Aku ingat jawabanku waktu itu singkat aja: "saya ga suka aja sama matematika, bu." Dan bagiku saat itu, bukan masalah besar juga tidak menyukai disiplin ilmu ini, karena bapakku tidak berkeberatan dengan ketidaksukaanku ini. Semakin kesini, semakinku sadari yang tidak kusukai itu bukan matematikanya, tapi aku memang tidak suka berhitung, tidak menyukai kepastian dari perhitungan. Bagaimana hidup yang serba ga pasti dan penuh kejutan ini bisa dihitung dan dikalkulasi?

***

Sebenarnya, sahabatku yang membantuku meluruskan asumsi yang salah yang menjadi landasan ketidaksukaanku pada ilmu berhitung (matematika dan fisika). Cara dia menjelaskan banyak detail yang menjadi disertasinya, mengubah pandanganku bahwa ternyata aku ini ga benci-benci amat juga sama matematika. Bahwa perthitungan ternyata  bisa mengakomodasi ketidakpastian. Hanya saja penyimbolan angka-angka itu masih cukup abstrak di kepalaku. Aku masih belajar menerjemahkan deretan angka-angka itu kedalam visualisasi yang lebih bisa aku nikmati dan pahami. Seperti halnya foto-foto galaksi yang begitu abstrak, tapi sangat bisa kunikmati karena begitu imajinatif.

"Setelah kamu berhasil bantuin aku, kamu akan jadi lebih mudah nantinya menjalani sekolah S2mu itu.." kata sahabatku. Memang sih. Akupun berpikir demikian. Aku merasa dengan memahami cara berpikir engineering  akan banyak membantu merunutkan cara berpikirku terutama dalam mengerjakan penelitian-penelitian sosial. Selama ini aku memang punya masalah menurutkan pikiranku yang meloncat-loncat itu. Terlibat dalam penyelesaian disertasi sahabatku itu seperti sebuah proses persiapan untuk menghadapi rencana sekolahku di tahun depan.

Rentang keingintahuanku itu sangat lebar. Aku seringkali kesulitan melakukan pembacaan yang lebih tersistematis dari hal-hal yang banyak kuminati itu. Aku percaya keragaman pengalaman dan pengetahuan yang aku dapatkan ini, sebenernya berhubungan satu sama lain meskipun mereka tersebar dalam rentang yang lebar. Dengan mengasah cara berpikirku, akan memudahkan aku untuk melihat persamaan logika dan pemahaman antara satu dan yang lain. Dan hal ini aku yakini juga bisa menjawab isu-isu dalam hidupku yang seringkali berhubungan dengan persoalan mengerti dan tidak mengerti atas keinginan-keinginanku maupun orang lain. Memang, tidak semua hal dalam hidupku perlu aku mengerti, tapi mengetahui mengapa aku tidak mengerti, kukira itu akan membantuku menemukan ketenangan hidup.

Tuesday, December 08, 2009

Tuhan, Terima Kasih!




Hari kemarin rasanya penuh banget. Selalu saja ada masalah di menit-menit terakhir menjelang deadline produksi (kali ini produksi souvenir pernikahan sahabatku). Hampir menyerah, tapi pemecahan selalu datang tak terduga. Mesin jahit Singer 1977 (seumur denganku), menggantikan Brother untuk sementara. Dan saat aku hampir gila karena itu benangnya putus melulu, pencerahan tiba-tiba datang. Kepikiran untuk mengubah setelan gigi bawahnya dan masalah terselesaikan.

***

Lagi sibuk2nya menjahit, tiba-tiba tetangga di jalan Flores datang dengan wajah hampir menangis kesal. Ia merasa harus bertemu denganku untuk mengadukan kekesalannya itu. Baiklah, sini aku dengerin. Soal hotel baru di belokan antara jalan Flores dan jalan Aceh yang tiba-tiba hadir 5 lt dan mengganggu ketrentraman warga sekitar. Tetanggaku yang sangat sensitif itu, sampai sakit karena keributan suara blower, lalu-lalang mobil barang yang keluar masuk tepat di depan rumahnya, pohon-pohon mahal yang runcing-runcing tapi di tata tanpa selera yang baik maka jadinya norak.. dan penyeselannya menandatangani persetujuan pembangunan itu.
'Jadi aku harus gimana dong len, aku pengen komplain, nulis di facebook, tapi aku takut nanti jadi Prita kedua..'

***

Pulang badanku terasa ringsek, lelah secara fisik dan mental. Dan batuk alergiku mulai menjadi. Tiba-tiba temanku yang lain di jam 11 malam itu, menghubungiku. Dia menemukan seorang bocah laki-laki gagu di pinggir jalan dalam keadaan memprihatinkan. Tadinya kasihan sebatas simpati saja tanpa tindakan. Tapi si kecil Layka anak temanku itu bilang: 'Bubu, kasihan ya Aa..' suara tulus Layka yang jernih itu, membuat temanku memutuskan membawa anak  itu pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, temanku bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Dalam kebingungannya dia menghubungiku, menanyakan apakah ada tempat penampungan untuk anak-anak yang dia temukan itu? Aku beri dia nomer panti asuhan yang pernah beberapa kali aku kunjungi sebagai tempat penampungan anak-anak pengungsian konflik di Atambua tempo hari. Ku sms sahabatku si pembalap gadungan, menceritakan soal bocah ini. Sahabatku itu langsung menelepon dengan keparanoid-annya tapi cukup memberi masukan yang berharga untuk diperhatikan. Bahwa yang pertama harus di lakukan jika menemukan anak hilang seperti itu adalah melapor ke polisi, biar ga di sangka menculik. Aku menghubungi temanku lagi, memintanya segera menelepon polisi malam itu juga (karena tadinya temanku itu mau melaporkannya pagi ini). Sementara bocah itu, tengah lelap tertidur di rumah temanku, setelah dimandikan oleh pembantunya, diberi makan dan diberi pakaian yang layak (waktu ditemukan bocah laki-laki ini, berpakaian anak perempuan).

Selesai ke'ajaiban-keajaiban' di hari kemarin. Setelah mandi, ibuku yang baik hati itu, membaluri tubuhku yang lelah dan kecapean itu. Bukan minyak panasnya yang menghangatkan, tapi kasih sayangnya yang membuat kelelahan itu hilang. Sebelum tidur, aku cek fb temanku, ingin melihat foto bocah itu.. matanya membuat aku ingin menangis. Aku share fotonya pada sahabatku si pembalap gadungan. Saat membaringkan tubuhku di tempat tidur, badanku meminta pikiranku berhenti berpikir dan lelap.

---

Alarm HPku berbunyi Pk. 05.30. Aku matikan, tapi aku lihat ada sms dari sahabatku si pembalap gadungan yang sudah melihat foto bocah laki-laki itu di hampir pk. 02 pagi. Dia sama harunya denganku, kata-kata sahabatku itu membuat aku ga bisa meneruskan tidur. Belum sempat aku membalasnya, telpon di rumahku berdering dan ibuku menjawab dengan kehebohan tersendiri. Adiknya yang mengidap schizophrenia dan menetap di Yogja itu,  meninggal sekitar sejam yang lalu. Pagi ini, seluruh rumah mendadak sibuk, karena ibu dan kakak perempuanku harus segera berangkat ke Yogjakarta dengan kereta pk. 07.00.

Aku tau, ibuku itu sangat sayang pada adiknya itu, meski kondisinya seperti itu. Jika ke Yogja bersama keluarga, kami selalu mengunjunginya. Dia tinggal di sebuah kamar di daerah Lempuyangan, Yogja.  Kamar itu dibangun di tanah kecil tinggalan  eyang putriku. Aku selalu takjub dengan kamar tempat tinggal omku. Hanya ada dipan saja untuk tidur, tapi seluruh temboknya dia gambari dengan segala macam gambar yang hanya dia lah yang bisa melakukannya. Rumus-rumus fisika dan matematika, kutipan pidato bung Karno dan dunia schizoprenicnya. Om ku ini, juara sekolah di SMA IPA terbaik di Yogja pada masanya (aku lupa nama sekolahnya). Dia sangat ingin menjadi insinyur sipil. Kepintarannya itu membuat dia lulus tes di teknik sipil UGM, tapi kakekku saat itu hidup dalam kehancuran ekonomi, tidak sanggup membiayai omku ini. Untuk mengobati kekecewaannya, omku mendaftar di marinir dan kabur saat mengikuti pendidikan. Pada saat waras, omku pernah mengaku pada ibuku, bahwa dia mengalami siksaan fisik di pendidikan marinir itu dan mulai mendengarkan suara-suara di kepalanya. Perawatan demi perawatan pernah omku jalani, tapi rupanya schizophrenianya ga bisa disembuhkan. Ibuku pernah merawatnya, karena omku ini, sangat menurut pada alm. bapakku, tapi suatu saat dia pernah mengamuk dan melempar termos panas kepada kakak perempuanku yang saat itu masih kecil. Sempat di rawat di rumah sakit jiwa juga, namun rupanya dia lebih memilih tinggal di Lempuyangan, tempat dimana ia dibesarkan. Dan sekarang dia juga memilih meninggalkan dunia di tempat itu.

***

Rasanya kok berturut-turut dalam sebulan terakhir ini. Kata-katamu muncul seperti pop up di kepalaku ''Yah.. nasib aja no more no less, biar km tambah hebat :)'. Yang tampak terlihat hebat saat ini bagiku adalah garis-garis tanganku yang makin lama makin rumit dan silang sengkarut.

 Saat berjalan di sepanjang trotoar lapangan saparua menuju tempat sarapan tadi pagi, aku bilang sama Tuhan, "Apapun yang akan Kau berikan padaku, berikanlah.. seberat apapun itu, aku tidak akan melawan dan menghindarinya. Aku akan menerimanya dan iklas. Karena aku yakin, Kamu tau batasku. Jika Kau anggap, aku mampu, aku pasti bisa menemukan jalan untuk menghadapinya..."

**

Terima kasih Tuhan, untuk semua ke'ajaiban-keajaib'an ini.

Friday, December 04, 2009

Berhikmat di Hari Sabtu



Setelah semalam mimpi aneh..(tapi menyenangkan), disambung sarapan pagi di warung purnama bersama sahabat-sahabat tercinta: Tanto, Reza, Yus dan spesial guest star: mas apep, sesampainya di tobucil postcard dari sahabatku di datang menyambut. Dia mengirikman quote yang pas banget dengan hatiku saat ini:
"Jika kita menutup tubuh agar tak menggigil, aku bisa mengerti, Namun mengapa kita tutup perasaan kita, walaupun jika kita menyadari, bahwa perasaan kita bisa beku?"
aku merasakan'mu' sangat, meski itu aneh, tapi aku tidak akan menutupnya..

Monday, November 30, 2009

Setelah Merasa Kehilangan, Lantas Apa?


Purnama di Aceh 56. Foto: vitarlenology 

 'Kenapa semua datang  beruntun, yang satu mengundurkan diri, yang satu meninggal, tiba-tiba itu semua jadi pertanyaan di kepalaku.'
'Yah.. nasib aja no more no less, biar km tambah hebat :)'

***

Rasanya memang seperti hang over berkepanjangan, meski sahabatku bilang, 'Jangan lama-lama berkabungnya ya.. :D', tapi setiap peristiwa kehilangan selalu meninggalkan jejak traumatiknya. Bukan hal yang mudah juga untuk menjelaskan, sebelah mananya yang bisa membuat merasa hang over berkepanjangan itu. Istirahat yang cukup, makan yang enak-enak, masak buat temen-temen yang seneng di masakin, ngeblog, mungkin bisa membantu mengurangi 'hang over' itu, tapi ya ga serta merta menghilangkannya secara cepat. Tergantung seberapa berat 'hang over'nya.

Aku sendiri ga tau, apa yang sebenernya aku rasakan. Apakah kesedihan itu karena temanku yang meninggal? Atau aku teringat pada kehilangan atas kematian 14 tahun lalu dan aku butuh 12 tahun untuk menyembuhkannya? Bisa jadi aku sedih karena meratapi diriku sendiri. Bukan karena orang yang pergi meninggalkanku. Karena bisa jadi mereka sebenernya udah ga ada urusan lagi denganku. Apalagi mereka yang meninggal. Sudah sibuk dengan ruang dan waktu mereka sendiri. Jadi apa sesungguhnya rasa sedih, traumatik, gloomy, ketika tau bahwa di hati ini ada bagian ruang yang tiba-tiba kosong karena penghuninya tidak lagi bisa aku jumpai. Rasa takut bahwa setelah orang itu pergi meninggalkanku, kenangannya akan memudar seiring waktu? lalu apakah kesedihan bisa jadi alat untuk mengawetkannya? Tapi rasanya juga, setelah melewati proses penyembuhan yang panjang selama 12 tahun, kesedihan bukanlah metode yang ampuh juga mengawetkan kenangan atas orang yang meninggalkanku.

Bukan. Bukan kesedihan. Kesedihan sendiri bergerak, berubah seiring waktu, dia menjalani proses 'meruang' menemukan bentuknya yang baru, berinteraksi dengan waktu dan kehidupan. Kesedihan bukan bahan pengawet mujarab untuk menyimpan kenangan orang yang pergi. Atau kemarahan? Rasanya bukan juga. Kemarahan sama saja dengan kesedihan. Selain meruang dia juga bersifat korosif. Jadi boro-boro mengawetkan. Kemarahan dan kesedihan justru mengikis kenangan itu sendiri.

Setelah orang-orang yang aku sayangi pergi, lantas apa?

Aku sedang menimbang-nimbang perkataan sahabatku si pembalap gadungan itu, bahwa mungkin ini memang nasib, tidak lebih dan tidak kurang.Tanpa bersusah payah mengupayakannya, nasib senantiasa datang dengan sendirinya. Begitu juga dengan kehilangan. Siapa yang benar-benar menginginkan kehilangan? ku rasa tak pernah ada yang menginginkannya, tapi siapa yang benar-benar bisa menghindarinya?  tidak ada juga. Lalu bagaimana nasib itu bisa diterima tidak kurang dan tidak lebih? pas sesuai dengan takaran? bagaimana menakarnya? bagaimana mengetahui bahwa itu tidak kurang dan tidak lebih? aku tidak tau. Aku sedang mencari tau. Meskipun mungkin tanpa aku sadari aku tau, tapi aku ga ngerti aja. Dua belas tahun menjalani proses penyembuhan dari rasa kehilangan, bukan berarti aku mengerti. Buktinya setiap kali mengalami kehilangan, selalu saja memberi lubang di hati yang aku sendiri ga ngerti, kok bisa berlubang lagi. Meski lubangnya beda-beda, tapi tetep aja rasanya ada yang bolong dan butuh ditambal. Lama atau sebentarnya, bergantung dengan lubang yang ditambalnya.

Hidup mungkin akan memberikan kehilangan-kehilangan yang lain yang membuat aku menjadi sedikit lebih mengerti atau mungkin malah semakin tidak mengerti perkara kehilangan ini. Mungkin menakar yang nasib yang tidak lebih dan tidak kurang itu, hanya bisa dengan merasakannya. Ketika kehilangan itu, tidak menimbulkan kemacetan menjalani hidup, membunuh cita-cita, menimbulkan alergi baik gatal-gatal maupun batuk-batuk atau hidung meler terus menerus, atau tidak mengakibatkan gejala-gejala culang- cileung, cileupeung, cineuteung, cirambay, cineungneung.. itu tandanya kehilangan yang menjadi nasib itu ada pada takaran yang pas, tidak lebih dan tidak kurang,

....mungkin... aku hanya menduga-duga..

Thursday, November 26, 2009

Perjalanan Kembali Pulang (Untuk Sahabat: Paskalis Trikaritasanto )




Beberapa menit setelah aku datang berhujan-hujan, membawa tumpukan screen sablon dan gembolan bersisi kaos-kaos kosong yang hendak di sablon. Kira-kira Pk. 17.00 WIB
"Kayanya gua jarang banget liat lu naik motor.."
"Masak sih? aku kan sehari-hari naik motor.."
"Lebih sering liat si Upi yang naik motor daripada elu.."
"Haha.. jangan-jangan kamu ketuker antara aku dan si Upi.."
Lalu kami tertawa bersama. Setelah itu dia kembali duduk di bangku depan tobucil, menunggu murid-murid bimbingan klab menulisnya datang dan aku kembali pada pekerjaanku memotong-motong stiker DJava.

Beberapa menit kemudian:
"Pey, itu siapa sih yang batuk, kok gitu banget.. papahnya Reni ya .. biasanya suka batuk heboh gitu.."
" Iya kayanya mba.."
Kami: aku dan Ipey, cekikikan mendengar suara batuk yang ga wajar itu. Sama sekali tidak menyadari bahwa itu bukan papahnya Reni, tapi teman kami, Paskalis.

Aku masih memotong-motong stiker DJava dan menonton film 'Cheri' saat wiku bertanya berapa nomor taksi. "7561234.." aku menyahuti dan belum menyadari apa yang terjadi. Tak lama kemudian, Upi masuk dan meminta bantuan, "Ri, bantuin angkat Paskalis, dia kejang-kejang.." Aku buru-buru keluar. Di gang kecil ke arah toilet luar tobucil, terjadi kehebohan. Paskalis sedang berusaha di gotong rame-rame. Kehebohan di tengah hujan yang lumayan lebat mengguyur. Pak Bangbang dari kantor sebelah menyiapkan mobilnya. Dan sekejap saja, Paskalis dan istrinya yang datang tepat di saat Paskalis terkena serangan kejang, berlalu menuju Rumah Sakit PMI yang paling dekat dengan tobucil. Wiku mengikuti dengan motor, menembus hujan.

Kurang dari setengah jam, Wiku mengsms-ku. Saat itu 18:15 Wib.
'len blm sadar uy.. minta doa na, nya biar supaya cpt sadar...' Aku buru-buru menyampaikan pada teman-teman meminta mereka berdoa untuk Paskalis. Tiga menit kemudian, 18:18 Wib, Wiku meneleponku. "Len, sudah meninggal, urang teu nyaho kudu kumaha?" Ternyata PMI tidak dapat menangani dan Paskalis buru-buru dilarikan ke RS Boromeus atas permintaan mba Wati, istrinya.

Aku, Eri, Upi, Nunu, bergegas menyusul Wiku ke Ruang UGD RS Boromeus. Belum banyak orang di situ. Wiku tampak kebingungan. Hanya ada dua laki-laki; teman dan saudara Paskalis dan mba Wati yang menangis tak sadar. Ku temani mba Wati. Aku sendiri tak tau harus bilang apa, aku hanya sanggup memeluknya dan menemaninya saja tanpa kata-kata.

"Ayah jangan tinggalkan bunda, bunda ga siap... ayo pulang, kasihan sophi..ayo pulang, kamu belum jauh, ayo kembali....bunda cinta ayah.. ayah yang tebaik buat bunda.. ayo kembali..mba.. panggil alis, suruh dia kembali, kasihan sophi mba.. aku ga siap ditinggal dia..."

Aku tau bagaimana perasaan mba Wati saat itu. Ku tatap Paskalis sudah terbujur kaku di tempat tidur UGD RS. Boromeus. Ku sentuh tangannya. Dingin. Rasa dingin yang sama seperti yang pernah kurasakan 14 tahun yang lalu, saat kusaksikan bapakku meninggal dalam genggaman tanganku. Paskalis temanku itu, benar-benar sudah pergi menyisakan kekosongan  dalam hati setiap orang yang ada di situ. Kemudian datang beberapa orang teman mba Wati dan Paskalis, meratap sedih kepergian Paskalis. Salah satunya menggantikanku menemani mba Wati. Aku butuh keluar dari ruangan itu, mencoba mencari tapak dimana aku bisa menemukan bobotku kembali. Di dalam kamar UGD itu, aku seperti ada dalam ruang kosong. Hampa tanpa bobot.

'Temanku kena serangan, kejang2 di tobucil, trus meninggal di perjalanan ke boromeus. Padahal sblmnya sempat ngobrol biasa. Aku ky hilang bobot begini...' sebuah sms ku kirimkan pada sahabatku si pembalap gadungan. 19:52, sahabatku itu meneleponku. Mendengar suaraku yang menyisakan isak, dia memutuskan datang menemaniku. Saat itu, sahabatku sedang di lab robotiknya yang tidak jauh dari RS Boromeus. 20:04. dia sudah sampai di UGD. Sahabatku itu ga kenal Paskalis. Tapi dia tau bagaimana rasanya tiba-tiba kehilangan bobot dalam situasi seperti itu. Ketika kami masuk ke ruangan itu, suster sedang membersihkan Paskalis dan bersiap-siap membawanya ke rumah duka, tidak jauh dari rumah sakit. Setelah jenazahnya dibawa ke rumah duka, kami memutuskan menyusulnya teman-teman lain dan kemudian ke rumah duka bersama-sama.

"Len, cerita gitu, biar saya ga bingung harus gimana."
"Aku juga bingung harus cerita apa.."
Sahabatku itu lalu mendekapku erat. Tidak lama, tapi cukup membuat kesedihan yang tertahan sejak tadi, luruh dan menemukan pijakannya. Perlahan-lahan, kekosongan itu terisi dan menemukan bobotnya kembali. "Yuk, kita makan dulu sambil nyusul temen-temenmu yang lain, kamu harus makan dan harus memutuskan apa yang mesti dilakukan selanjutnya".

Kami bergabung dengan Upi, Erie dan Nunu yang sudah terlebih dahulu makan di tukang nasi goreng depan RS. Sepanjang makan, sahabatku itu bercerita tentang bagaimana dia menghadapi kematian ayahnya dulu, juga mahasiswanya yang tiba-tiba terkena serangan epilepsi. Sahabatku ini, tidak sesentimentil aku dalam menghadapi kematian. Sikapnya yang ringan menghadapi situasi seperti itu dan keputusannya untuk hadir dan ada bersamaku pada saat itu, membantuku dengan cara yang sulit terjelaskan untuk menemukan bobot ditengah ruang kosong yang hadir seiring kepergian Paskalis.

Setelah makan kami ke rumah duka. Bertemu keluarganya yang meminta penjelasan tentang saat terakhir kehidupan Paskalis, karena sebagian orang menyangka Paskalis meninggal karena kecelakaan. Sesudahnya kami berpamitan dengan keluarganya. Aku dan sahabatku berpisah di tempat parkir Rumah Sakit. Ia kembali ke lab robotiknya, aku dan teman-teman lain kembali ke tobucil.

Di tobucil, kekosongan itu terasa mengambang. Bangku di depan tobucil yang beberapa jam lalu masih diduduki Paskalis, tasnya, motornya yang terparkir di halaman tobucil. Semua hadir tapi dengan rasa yang kini kosong, karena Paskalis pergi meninggalkannya tiba-tiba. Aku memutuskan pulang. Memasang kabar duka cita di status fb tobucil dan setelah itu badanku tak sanggup lagi untuk terjaga. Aku lelap sementara tubuhku bekerja keras, memulihkan diri dari kelelahan fisik dan mental yang mendera sepanjang hari.

***

Tadi pagi:

Tanto membangunkanku dengan telepon. Kepalaku pusing, ternyata jejak kekosongan itu masih ada meski dekapan sahabatku juga masih terasa. Dan aku  masih ada di sini, kembali ke tobucil. Sementara kamu, Paskalis, sudah kembali pulang, kehadapan Sang Pencipta.

***

Untuk Paskalis Trikaritasanto (13 april 1974 — 26 november 2009). Ketulusanmu, dedikasimu dan komitmenmu pada klab nulis tobucil & klabs, abadi selalu di hatiku, di hati setiap anggota klab menulis. Terima kasih untuk hidup dan kehadiranmu di hati kami. Selamat jalan sahabat. Selamat kembali pulang ke kerajaanNya.

***

[Yus, terima kasih kamu sudah hadir menemaniku]

Monday, November 23, 2009

Nostalgia Kebersamaan Sekawanan Menjelang Umur Mereka yang Ke-40 Tahun


'cukup  mooi indie ga?' foto by vitarlenology

Malam minggu kemarin, aku menjumpai sahabatku si pembalap gadungan di lab robotiknya. Meski hujan mendera-dera sepanjang siang sampai malam, tak mengurangi semangatku menjumpainya. Kangen saja berjumpa dengannya. Coklat panas menemani kami, berbagi cerita tentang hidup  masing-masing sebulan terakhir ini. Tiba-tiba, hp sahabatku berdering. Teman-teman lamanya waktu di UKM Teater mahasiswa dulu, datang mengunjunginya di lab. Aku hadir, menangkap kisah sekelumit masa lalu sahabatku yang sedang mengumpulkan semangatnya untuk menulis desertasi doktornya itu. Sambil aku jadi tau kisah-kisah kegilaan UKM teater Institut paling kondang di negeri ini.

Pertemuan kawan lama, tentu tak jauh dari kisah-kisah nostalgia. Mengenang kembali kejadian-kejadian 'lucu' dan kegilaan-kegilaan yang pernah dilakukan. Singkat kata, tiga orang teman sahabatku itu kembali mengenang-ngenang indahnya kebersamaan mereka di UKM yang sangat mereka banggakan itu. Dan aku sebagai orang yang tidak terlibat dalam kesejarahan mereka, mengambil peran sebagai pendengar. Mulai dari kisah-kisah yang biasa-biasa sampai yang ganjil sama sekali.

Sepintas dari yang mereka kisahkan, hidup tiga orang teman sahabatku itu nampaknya bisa dibilang lumayan mapan. Yang dua membuka jasa konsultan bisnis dan yang satu bekerja di sebuah pertambangan dengan gaji ribuan dollar perbulannya. Sabahatku, di mata teman-temannya tentu saja dianggap orang sukses dengan prestasi robotiknya. Tanggal 10 November lalu, Slamet Rahardjo mewawancarai sahabatku di sebuah stasiun televisi dan menyebutnya sebagai pahlawan Indonesia moderen. Sahabatku, tentu saja ngakak-ngakak, tapi dalam hati saja. Dia tidak merasa seperti itu. Semua sorotan yang tiba-tiba berlimpah ruah datang kepadanya, ditanggapinya dengan sangat santai. Dan aku yakin sahabatku ini bisa terhindar dari krisis eksistensi di usia 40-an nanti.

Udara dingin dan hujan, membuat kami semua merasa lapar dan memutuskan untuk pergi keluar dan makan malam bersama, tidak jauh dari lab robotik sahabatku itu. Saat makan, barulah aku tau maksud dari kunjungan tiga orang teman sahabatku itu. Atas dasar rasa rindu akan suasana kebersamaan yang membentuk mereka sedemikian rupa di UKM Teater itu, teman-temannya mengajak sahabatku membuat 'sesuatu' bersama-sama lagi. Bahkan mereka ingin menyatukan kembali teman-teman lama mereka di UKM itu untuk membangun kembali sesuatu bersama-sama. Bagi mereka dan tentu juga sahabatku, apa yang telah dilalui bersama di UKM Teater itu memberi pengaruh yang cukup besar pada kehidupan mereka saat ini. Semua kegilaan-kegilaan yang pernah mereka lakukan dan kultur komunal yang membentuk mereka, seperti sebuah training camp kehidupan yang meskipun singkat, tapi penting artinya bagi hidup mereka masing-masing.

Aku menyimak gagasan yang ditawarkan teman-teman sahabatku itu. Sangat abstrak sih. Sahabatku itu berkata padaku saat teman-temannya pulang, 'ga kebayang aja gimana cara mewujudkannya.' Aku ga akan membahas gagasan apa itu, karena bisa jadi gagasan itu masih di rahasiakan. Lagi pula yang menarik buatku sebenernya soal nostalgia kebersamaannya itu. Karena aku memperhatikan nostalgia kebersamaan ini terjadi bukan hanya pada teman-teman sahabatku saja, tapi juga di beberapa kelompok pertemanan yang pernah aku jumpai. Kekompakkan yang pernah dialami pada suatu masa di waktu muda, lalu ketika beranjak tua, merindukan kembali suasana itu. Lantas bermimpi bisa mengulanginya kembali dengan membangun proyek atau bisnis bersama. Banyak yang 'gagal' mengulang, karena setiap orang yang pernah begitu kompak itu bertumbuh. Berubah. Berkembang sesuai waktu dan hidup yang dijalaninya. Dan bukankah kekompakan itu sendiri bergerak mengikuti konteksnya?

Aku hanya kepikiran aja soal nostalgia kebersamaan itu. Salah satu sepupuku pernah punya gagasan yang kurang lebih sama dengan teman-teman sahabatku itu: membangun usaha keluarga, untuk meminimalisir 'gap' ekonomi  dan kesejahteraan sosial antara sepupu-sepupuku yang lain dan tentu saja dengan semangat nostalgia kekompakkan kami di masa kecil dulu. Niatnya pengen sama rasa sama rata. Tapi kemudian niatnya bubar di tengah jalan, ketika sadar bahwa menyamakan 'akselerasi' langkah antar sepupu-sepupuku saja hal yang luar biasa sulitnya. Meski seketurunan, namun sejarah kami pada perkembangannya dipisahkan oleh konteks yang berbeda arah satu sama lain. Ya, memang betul saat kecil dulu kami sedemikian kompaknya dan menghabiskan banyak waktu bersama, tapi setelah kami sama-sama bertumbuh, kami menempuh sejarah kami masing-masing. Ketika dipertemukan lagi, rasa kekompakkannya tak pernah lagi sama. Bahkan bagiku pribadi, banyak garis terputus yang aku kenali (belum tentu aku pahami) dari hidup sepupu-sepupuku itu.

Mungkin teman-teman sahabatku itu juga sama bingungnya dengan sahabatku tentang bagaimana mengulang kisah sukses kekompakkan mereka membangun sesuatu seperti yang pernah mereka lakukan di UKM teater di masa muda dulu. Jika mereka berhasil merekonstruksi kembali perjalanan kekompakkan itu, aku yang cenderung ga yakin kekompakkan yang sama bisa terulang untuk kedua kalinya, bisa meralat pandanganku itu. Setidaknya bisa memberikan sedikit harapan keberhasilan yang sama, jika ada contoh sukses.

Satu hal lagi yang terdengar mengelikan di telingaku, ketika teman-teman sahabatku ini berkata: 'ya kita perlu melakukan ini sebelum umur 40, kan life begin at forty.' Tiba-tiba aku langsung teringat tulisanku dengan judul yang sama. Aku malah jadi menduga-duga, jangan-jangan dorongan melakukan sesuatu bersama-sama kembali itu atas dasar nostalgia kebersamaan berkaitan dengan gejala-gejala krisis di usia 40-an? Mmmm..

what do you think, yus?

dan aku bisa membayangkan, seorang teman yang tidak setuju jika hal-hal seperti ini aku hubung-hubungkan dengan soal krisis usia 40-an..hehehe.. karena dia udah 41 tahun dan merasa bahwa dirinya selalu baik-baik aja... padahal... meneketehe..

Sunday, November 22, 2009

Postcard From Bayreuth



Sebuah postcard dari sahabatku di Bayreuth menyambutku di meja kerja yang kutinggalkan hampir dua minggu. Sahabatku itu, menuliskan sebuah quote yang dia terjemahkan dari postcard ini dan rasanya mewakili banyak kejadian yang terjadi akhir-akhir ini..
"Suatu saat mungkin aku akan tahu banyak hal yang ada di dunia, tapi kemudian aku bangun dan tetap merasa dan bertindak bodoh.."
thanks a million Dian..

Friday, November 20, 2009

Sebutir Kacang Meninggalkan Kulit


Jalan pulang pantai sundak foto oleh vitarlenology

Siang tadi di tengah hujan dan kehangatan meja kerjaku:

Kamu meminta pelukan. Aku memberikannya. Tapi yang kurasakan hampa saja. Seperti kulit kacang tanpa isi. Rasanya tidak sepenuh pelukan ibu. Aku tidak mengenalimu lagi. Suratmu membuatku merasa, aku ini bid'ah untuk proses kreatifmu. Aku merasa berhadapan dengan seorang fundamentalis. Mmm.. ralat, mungkin seorang idealis pemula yang sangat-sangat yakin dengan dunia di balik cakrawala sana seperti yang ada dalam bayanganmu sendiri. Kamu benar. Aku yang mulai menjadi semakin pragmatis oleh pengalaman. Dan idealismemu memberi hak kenaif-an mutlak atas apa yang pilih. Lalu keberbedaan menjadi jurang yang tak terjembatani antara aku dan kamu.

Fine. Kamu di seberang sana. Dan aku di sini. Silahkan saja.

Aku menatap matamu, mencoba menemukan jembatan. Yang kutemukan hanya rasa dingin dan kelam gerbang benteng kekakuan hatimu. Tak ada peluang untuk kompromi. Percuma aku menembusnya. Aku terlalu pragmatis untuk menawarkan perubahan padamu. Mungkin bukan hanya pragmatis, tapi juga malas atau  merasa perlu menghemat energi dan pikiran dan memilih memikirkan yang bisa dikompromikan.

Kembali aku mencari dirimu dari matamu. Berharap menemukan  kata-kata bijak yang seringkali kau katakan, kau nasehatkan dan kau tuliskan. Tapi aku tak menemukanmu. Dirimu bukanlah  kata-kata bijakmu itu.  Aku hanya menemukan kamu yang ada dalam tulisanmu. Berjarak dan tak ada orang lain dalam kehangatan yang kau ciptakan. Mentari hanya untuk dirimu saja. Bukan orang lain sepertiku dan mungkin juga bukan untuk ibumu. Mungkin memang bukan sekarang bagimu mengerti apa artinya menjadi diri sendiri dan menjadi apa yang kau tulis. Suatu saat kamulah yang memutuskan nilai kebaikan dan keburukannya. Bukan aku, bukan papamu, bukan pula orang-orang yang berusaha membantumu.

Jika Rama bertanya sore ini: adakah alasan untuk menyayangi dan membantu? rasanya bagiku padamu adalah alasannya untuk menyayangi dan membantu itu sendiri. Aku tidak tau apakah itu mengandung ketulusan atau tidak karena personalitas dan pekerjaan menjadi kacau setelah bingung harus ditempatkan dimana.

Sama seperti keimanan yang kau temukan pada proses berkaryamu, aku pun menemukan keyakinan pada proses perjalananku membangun ruang: aku hanya mengantarmu sampai kau bisa terbang bebas. Apakah itu berarti kau bisa menjadi penyintas atau tidak. Dirimu itu ada ditanganmu sendiri.

Kulepaskan kamu pergi.

Untuk A.R.S. yang tak lagi aku kenali..


Aceh 56. 19:10

Wednesday, November 18, 2009

Tiga Belas Hari


foto oleh vitarlenology

Malam terakhir bersama wajah-wajah polos memanggilku tante. "Jangan pulang tante, tinggal lah lebih lama lagi.."
Maaf sayang, aku harus pulang, kembali bekerja. Menyelesaikan urusan-urusan di rumah kecilku itu. Aku segera kembali menjumpai kalian lagi. Love you so much.

Tiga belas hari, menemukan remedy, perdamaian baru dengan diri.
Mungkin tugasku adalah mendampingimu menemukan keputusan yang salah, hingga kau bisa menarik pelajaran dari pengalaman itu. Meski urusan belajar bukan tanggung jawabku. Kamu yang memutuskan akan mengambil pembelajaran itu atau tidak. Aku hanya cukup mengantarkanmu saja.
DJava memberi kunci petualangan baru pada pemahaman proses kreatif yang selama ini selalu menakjubkan untukku: bagiamana bisa partitur-partitur itu menjelma menjadi musik klasik yang sedemikian rupa. Memanageri konser Jawa Bali, terlibat dalam proses produksi konser, membuatku semakin yakin, keindahan yang hadir senantiasa, kapanpun kehadiran itu diinginkan, tidak akan mungkin terwujud tanpa kerja keras. DJava, the most promising string quartet in this country, aku beruntung mendapatkan kesempatan luar biasa memanageri kalian. Kalian menginspirasiku dan memberiku kebaruan-kebaruan, banyak.
Kebaruan-kebaruan itu adalah pilihan. Dan aku memilih mendapatkannya sebanyak mungkin (rasanya tak sabar menunggu saatnya perjalanan bersamamu tiba. Maret 2010. Aku dan umurku yang ke 33 bersamamu menjejak Phuket. Lalu kita akan berkata pada diri kita masing-masing; aku akan kembali menikmati indahnya sore dan udara sejuk Volunteery Park dan kamu kan sampai di negeri Paganini, menyambangi makamnya memberi hormat pada inspirasinya padamu.
Lalu perdamaian juga berarti mengahadapi kejawaan yang lekat dan inheren itu.
Seperti meralat penyangkalan identitas dan aku sedang mempersiapkan diriku di tahun depan, menghadapinya face to face, kejawaanku itu.

Aku kan pulang, menjumpai meja kerjaku. Menjumpai rumah kecilku dan seluruh penghuninya.
Menyongsong teman-temanku. Aku rindu coklat panas toko coklat bersama pembalap gadungan. Aku rindu pasar baru dan gang tamim bersama Mei. Aku rindu warung purnama bersama cicik. Aku rindu jendela kamarku. Aku ingin memeluk ibuku. Aku merindukan kota yang kualami dengan kecintaan dan kebencian.


Setelah pulang nanti, aku akan kembali merindukan berbaring di kamar ini lagi. Bermain bersama kalian lagi.

Bahkan Meener Jansen, tak sabar menunggu kepulanganku:
Welcome home neng!
Not yet. I'll be home on this friday.. :D

Thursday, November 12, 2009

This is It (2009)


**** 1/2

Dua kali nonton film ini, di Bandung dan di Jogja. Dua-duanya tetap membuatku terharu. Ternyata bukan hal yang mudah menjadi 'King of Pop' dan sampai akhir hayatnya ke 'perfeksionisan' Michael Jackson (MJ) dalam mengemas pertunjukkannya, menjadi bukti bahwa gelar yang dia sandang itu bukan serta mereta menempel tanpa tanggung jawab.

Semula film ini dimaksudkan MJ sebagai film yang akan dipersembahkan buat ketiga anaknya. Dokumentasi pribadi yang juga luar biasa. Namun dengan kematiannya 18 hari sebelum konser This is It, film dokumentasi proses persiapan dan gladi resik konser ini, menjadi penting bukan hanya bagi para penggemarnya, manum bagi semua orang yang ingin melihat sisi lain MJ. Semua kru yang bekerja bersama MJ, mengakui bahwa MJ adalah sosok yang sangat bersahaja dan lembut. Aku dan mungkin penonton lain bisa merasakan dibalik ke perfeksionisannya, MJ adalah sosok yang rapuh. Seperti patung porselein yang lembut tapi mudah pecah. Kedikdayaan dirinya dibangun dari kerapuhan jiwanya dan banyak kegetiran hidup yang harus ia lalui. Sangat terasa ketika bekerja bersama dengan para kru, MJ dipenuhi dengan rasa welas asih. Mengganggap bahwa semua orang yang mendukung pekerjaannya adalah satu keluarga dan semua bekerja berlandaskan rasa cinta dan saling menghormati. Film yang di sutradarai Keny Ortega ini memperlihatkan bagaimana setiap lagu yang rencananya akan dibawakan MJ dalam konser This is it, di persiapkan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras dari semua kru yang terlibat. This is It menjadi film dokumenter konser paling laku dalam sejarah perfilman dunia.

Menonton This is It membuatku menyadari, menjadi sosok yang inspirasional itu sama artinya bekerja keras berkali-kali lipat dari orang kebanyakan. Ketulusan dan perjuangan untuk berusaha tulus dengan kerja keras itu yang menentukan keabadian dari inspirasi itu. Badan boleh terkubur dalam tanah, tapi yang membuat seseorang selalu hidup adalah inspirasinya. Dan kurasa sepanjang hidupnya MJ bekerja keras untuk itu. Film ini membuktikannya.

Tuesday, November 10, 2009

Never Gonna Give You Up - Stone Gossard

Interpretasi Stone Gossard, gitarisnya Pearl Jam atas lagunya Rick Astley yang kondang di pertengahan 80-an.. wow

Sunday, November 08, 2009

Hasta La Vista


Sore di Kaliurang KM5,  foto oleh vitarlenology

Terpaksa mengatakan hasta la vista atau mendengar orang lain mengatakan itu, ternyata sama ga enaknya. Apalagi jika itu dikatakan saat aku masih berkeyakinan bahwa itu bukan keputusan yang semestinya aku ambil. Itu adalah keputusan terakhir. Atau, hal itu terucap dari orang yang tidak cukup punya energi menghadapi tantangan bekerja bersamaku. Aku jadi merasakan ulang, apakah aku yang terlalu tidak sabar menghadapi orang yang aku yakin dia mampu melakukannya? atau aku yang terlalu 'kurang kerjaan' memberikan tantangan berlebih pada orang yang ternyata tidak cukup punya semangat untuk menjalaninya. Bisa jadi tantanganku itu tidak cukup berarti baginya. Jadi daripada membuang-buang waktu menghadapinya lebih baik dihindari saja. Ya,  mungkin ini caraku menghibur diriku sendiri dari rasa kecewa saat orang yang aku yakin mampu, ternyata lebih memilih tidak menerima tantangan dariku dan meninggalkanku.

Life goes on. Hidup senantiasa bergerak terus. Maju. Terpaksa melepaskan dan berusaha merelakan orang-orang yang aku yakini bisa, begitu caranya belajar menerima kehidupan dan ketidak mengertian dalam hidup. Mungkin aku terlalu menaruh harapan besar pada orang-orang seperti itu. Yang aku proyeksikan adalah keinginanku bukan keinginannya. Dan saat keinginanku itu tak kesampaian, aku harus berdamai dengan diriku sendiri dan rasa kecewaku.  Aku meyakinkan diriku, bahwa ini adalah proses seleksi teman perjalanku. Cita-citaku ini membangun apa yang disebut 'literasi dalam keseharian' tidak selalu ditemani oleh teman perjalanan yang sama yang bisa setia dari awal memulai langkah sampai saat ini. Kenyataan sendiri telah membuktikan itu. Bahkan di awal saat cita-cita ini disepakati bersama (oleh dua pendiri tobucil lainnya), di masa persiapan aku sudah ditinggalkan. Terpaksa menghadapi kondisi dan situasi dimana aku harus berjalan terlebih dahulu, karena waktu perjalanan dan semua yang sudah ditentukan tidak dapat ditarik mundur. Di perjalananku itu yang lain mengikuti dari belakang sementara aku meraba-raba apa yang akan kuhadapi nanti sambil mencoba menemukan keyakinan diriku sendiri bahwa temanku itu benar-benar ada menyertaiku, meski kehadirannya kadang seringkali tidak berhasil meyakinkanku. Sampai akhirnya aku benar-benar sadar, sendirian karena yang lain memutuskan untuk menempuh jalan yang lain, dan aku memutuskan untuk terus, semua harapan dan keyakinan yang aku bangun dan aku bagi bersama, terpaksa runtuh dan perlahan-lahan kubangun lagi yang baru. Seperti sebuah perancangan ulang tahapan proses, karena terlalu banyak hal tak terduga dan tak diperhitungkan sama sekali.

Pada  bangun baru proses perjalanan selanjutnya, kuputuskan menyusun perjalanan cita-citaku itu seperti modul-modul yang bisa kusambung-sambungkan seperti bentukan yang sudah kurencanakan. Namun ada saatnya, aku harus melepaskan salah satu modul itu, karena ternyata modul itu bukanlah modul yang cukup kuat untuk disambungkan dengan yang lain. Apa yang mesti kulakukan pada titik ini? memaksakannya berkait dan melemahkan bangunan bentuk yang sedang disusun, atau terpaksa menyingkirkannya untuk menyelamatkan  yang lain (pada titik ini, aku menganggap menyingkirkan dan membuat menyingkir, tipis sekali perbedaannya. Dua hal ini hanya membedakan rasa bersalahku segaris saja. Menyingkirkan berarti rasa bersalahku lebih tebal satu garis, sementara membuat menyingkir dengan sendirinya hanya membuat rasa bersalahku berkurang satu garis saja. Dua-duanya tetap menyisakan perasaan bersalah karena diri telah gagal membuat orang lain mengerti, gagal membuat modul yang baik seperti yang kuharapkan). Namun begitulah hukum alam bekerja. Bahkan  Gregor Mendel membuktikan, selalu ada  sifat-sifat resesif yang diturunkan secara acak pada setiap mahluk hidup. Kadang kita sulit menduganya kapan sifat itu akan muncul, tapi pada saat kemunculannya, pilihannya adalah memisahkannya atau membuatnya berjuang keras menyesuaikan diri dengan  keadaan mayoritas. Namun segregasi dan isolasi seringkali bukan pilihan tepat untuk hidup sebagai yang bebeda. Alam dan kenyataan menuntut percampuran dan hukum survival of the fitness membuat pilihannya menjadi sederhana saja. Sahabatku si pembalap gadungan bilang, menjadi looser selamanya, atau menjadi hebat dan tangguh kerena bisa menyandi penyintas dengan keberbedaan dan keresesifannya itu.  Dan setiap orang adalah penyintas untuk keresesifannya dan keberbedaannya masing-masing. Bagiku kemudian, ujung-ujungnya semua kembali ke persoalan negosiasi soal mengerti dan dimengerti dan menerima bahwa orang lain memang belum bisa mengerti.

Satu hal yang aku sadari dari proses melepaskan ini adalah, bahwa dimengerti atau tidak itu hanya persoalan waktu. Sekarang mungkin belum (daripa mengatakan tidak sama sekali) mengerti, mungkin nanti. Toh setiap orang punya waktunya sendiri. Lagi-lagi aku mengingat perkataan temanku si pembalap gadungan itu, bahwa hal yang lumrah ketika kita mencoba untuk berpikir lebih visioner dan jauh ke depan, orang menjadi sulit menangkap apa yang kita maksud, karena semua itu belum ada dalam bayangan mereka. Bahkan bagi si visioner sendiri yang dia visikan itu belum tentu sesuatu yang benar-benar  jelas. Orang yang visioner seringkali lebih membutuhkan dukungan untuk memperkuat keyakinan bahwa dia bisa menemukan cara untuk merealisasikan visinya itu. Dengan keyakinan itu si visioner punya kekuatan untuk trial and error dengan caranya. Dukungan keyakinan itu seperti jaminan toleransi bahwa dia bisa memiliki keleluasaan untuk menemukan caranya merealisasikan visi dan misinya itu.

Jadi kukira mengatakan hasta la vista pada orang yang kuanggap bisa tapi ternyata belum, seperti menaruh sebuah harapan bahwa 'kita mungkin suatu hari nanti akan bertemu lagi dalam situasi dan kondisi yang lebih baik. mungkin di titik ketika aku, kamu sudah bisa saling mengerti keinginan masing-masing. Jadi, sampai bertemu lagi, hasta la vista baby..

Terima kasih sudah bekerja keras dan memberikan yang terbaik yang kamu mampu selama berjalan bersamaku.

Tuesday, November 03, 2009

Jangan Katakan 'Tidak Bisa' Padaku, Sebelum Kau Mencobanya


'head inside the box' foto by vitarlenology, 2009

Apa yang harus kulakukan, ketika menghadapi seseorang yang kutawari sebuah kesempatan untuk berkembang (tentunya dengan keyakinan bahwa dia bisa melakukannya), tapi jawaban yang kudapatkan adalah "saya ga mau. Ga aja, karena perasaan saya mengatakan demikian. Takutnya nanti kalau dipaksakan malah merusak semua yang sudah saya kerjakan." Aku tentu saja marah tapi lebih besar merasa kecewa karena aku tidak menyukai sikap menyerah sebelum mencoba.  Bagaimana jika perasaannya itu disesatkan oleh ketakutan untuk mencoba hal baru?  Rasanya seperti sebuah harapan baik di runtuhkan oleh ketakutan keluar dari zona aman. Apalagi jika jawaban itu datang dari orang yang aku yakin bahwa dia bisa melakukannya dan selama ini aku memberinya kesempatan untuk belajar dan melakukan kesalahan. Aku punya cukup banyak toleransi untuk kesalahan dalam belajar daripada penolakan sebelum mencoba.  Lalu sahabatku si pembalap gadungan itu bilang '.. hey c'est la vie.. been there done that! and I ain't regret it.. if they can't manage with my way (which I believe it's for they own goodness in the future).. hasta la vista sucker!' 

Dalam sebuah kelompok kerja, tidak mudah membuat setiap anggota kelompok bisa dengan mudah bergerak senantiasa sebagai bagian dari dinamika merespon perubahan dan perkembangan yang ada. Jauh lebih mudah jika setiap orang bisa menemukan ritme peregerakannya dalam dinamika kelompok, meski mereka bergerak pelan daripada satu pihak memutuskan diam di tempat karena takut keluar dari lingkaran kenyamanannya. Apalagi jika yang dilakukan oleh kelompok ini adalah sebuah pekerjaan dimana kelompok itu sendiri yang mesti menemukan sistem, cara dan aturan mainnya sendiri untuk sebuah misi yang disepakati bersama.

Sebagai team leader, tentunya untuk sampai pada keputusan 'hasta la vista loser..' ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan, untuk memberi nilai pada keputusan itu: apakah putusan itu menjadi 'adil' atau emosional belaka. Dalam hal ini, aku berusaha keras mengesampingkan rasa kecewa atas penolakan itu, egoku yang merasa ditolak otoritasnya coba menyisih dulu, dan rasionalitasku mengemuka untuk menemukan jalan membela kepentingan yang lebih besar: tujuan dari kerja bersama dalam kelompok ini.  Apakah penolakan ini akan berdampak pada kekacauan sistem kerja dalam kelompok? kontra produktif dengan visi, misi dan tujuan yang hendak di capai? atau secara sistemik tidak berdampak apa-apa, hanya ego pribadi sebagai team leader saja yang terusik? Jika ternyata yang pertama, tentu pertimbangan dari anggota kelompok yang lain yang merasakan dampak dari 'ketakutan yang tak beralasan itu', perlu memberikan pandangannya. Jalan apa yang mesti di tempuh untuk menghadapi sikap anggota kelompok yang seperti itu. Prosedur apa yang disepakati untuk memastikan bahwa hal ini jangan sampai mengganggu  kerja dan pencapaian anggota kelompok yang lain. Lalu pilihan-pilihan apa saja untuk menyelesaikan masalah ini. Dari pilihan yang terbaik menurut kelompok sampai yang terburuk: 'hasta la vista ..'

Dalam situasi seperti ini, team leader bertindak seperti hakim yang menyelesaikan dan memutuskan. Untuk itu, semua rasa marah dan kecewa harus bisa diselesaikan terlebih dahulu. Tentunya aku mesti memahami dimana posisiku sesungguhnya. Sahabatku si pembalap gadungan mengingatkanku dengan dua pertanyaan: 'should I step back right now or this is my kingdom and I'm the queen?'. Dua-duanya sama mengandung resiko yang pertama: penolakan satu jika dibiarkan akan menimbulkan penolakan-penolakan lain. Ini bukan sekedar persoalan menegakkan otoritas, tapi bagaimana belajar mempertahankan keyakinan dengan argumentasi yang bisa diterima.  Sebuah tim yang dibangun dari gagasan yang lemah secara argumentasi akan sulit untuk menemukan dan membangun karakternya sendiri. Yang kedua resikonya seperti yang diingatkan sahabatku: 'prepare for another addition in your enemy list. Untuk resiko ini, rasanya aku sudah terbiasa menghadapi situasi dimana tidak semua orang setuju dan mengamini keputusanku. Ada bagian dari ketidak setujuan itu yang bisa aku simpan sebagai modalku membangun argumentasi dari keputusan-keputusan yang aku ambil, tapi sebagaian besar dari ketidak setujuan itu justru memberikan peluang bahwa tidak semua orang memilih apa yang aku pilih, karena itu lakukanlah tindakan yang tidak disetujui semua orang itu dengan sebaik-baiknya. Temukan argumentasi yang bisa memberi pandangan lain pada orang-orang mulanya tidak setuju menjadi 'sedikit setuju' karena menemukan cara pandang yang berbeda atas keputusanku. Itu yang akan membuat musuh-musuhmu sekalipun menaruh hormat padamu (setidaknya pelajaran hidup seperti ini banyak kutemukan ketika menonton kehidupan para kriminal: Godfather, The Sopranos). Dengan mengerti resiko-resiko ini, kurasa kemarahan dan rasa kecewa akan menemukan argumentasi rasionalnya jika aku paham dan sadar betul diposisi mana aku berdiri.

Baiklah. Rasanya yang pertama harus kulakukan untuk mengahadapi penolakan ini adalah: menjelaskan kembali, mengapa aku memberinya sebuah penawaran dan meminta sebuah perubahan sudut pandang darinya. Menjelaskan alasan mengapa hal itu penting dilakukan untuk mencapai visi, misi dan tujuan bersama yang telah disepakati. Sekaligus juga menegaskan kembali tugas dan otoritas masing-masing. Tak lupa  menjelaskan apa resiko dan konsekuensi dari penolakan itu dan  jika akhirnya dia bisa bersepakat dan menerima tawaran itu, selanjutnya aku akan memberikan jaminan dukungan apa saja yang bisa dia dapatkan dariku sebagai team leader dan dari anggota kelompok lainnya. Hal yang paling diperlukan  untuk menemukan kesepakatan bergerak  bersama-sama dalam sebuah dinamika kelompok adalah keterbukaan termasuk terbuka dalam hal kelebihan dan kekurangan masing-masing dan tentunya  terbuka untuk bekerjasama serta menyadari dirinya bagian dari kelompok kerja bersama. Semua sama-sama belajar, semua sama-sama saling menguatkan dan mendampingi untuk menemukan kekuatan dan mengalahkan rasa takut untuk menemukan kebaruan-kebaruan dari cara melihat. Percayalah, semua yang kau takutkan itu, tidak semenakutkan yang kamu kira saat kau mencoba menjalaninya.

Namun, jika semua upaya itu hanya membuat kamu semakin bertahan dengan penolakanmu, with all due respect I'll said: 'hasta la vista, baby..'


thanks yus, you're god damned right.. xoxo!

Friday, October 30, 2009

40 Miles from Denver



Aku lagi suka Yonder Mountain String Band. 40 Miles from Denver salah satu lagu favoritku.

It's a cold, cold moon out tonight
And it's a cold, cold point on your knife
Could I call myself a man if I left by the morning light?

And I'd be 40 miles from Denver when you woke up all alone
I'd be 40 miles from Denver and three days from my home
In that cool mountain air, on an Appalachian trail
Ohh, life is better there

It's a lonely road to travel on
But I've stood here waiting much too long
And I'd rather leave this minute than try to carry on

And I'd be 40 miles from Denver headed east bound on the track
I'd be 40 miles from Denver and trying to get back
To that cool mountain air, on an Appalachian trail
Ohh, life is better there

It's a cold, cold moon out tonight
And it's a cold, cold point on your knife
Could I call myself a man if I left by the morning light?

And I'd be 40 miles from Denver when you woke up all alone
I'd be 40 miles from Denver and three days from my home
In that cool mountain air, on an Appalachian trail
Ohh, life is better there (4x)
[ 40 Miles From Denver Lyrics on http://www.lyricsmania.com/

Friday, October 23, 2009

Tumbuh Bersama



Bagaimana tumbuh bersama-sama dalam sebuah ikatan pernikahan itu? Sebuah pembicaraan menarik muncul beberapa waktu lalu. Sambil menikmati coklat, kopi dan cheese cake bersama dua orang teman yang pernikahannya sedang dalam 'masalah'. Dua orang temanku ini, sama-sama menghadapi persoalan ketidak seimbangan ruang aktulasasi diri dari salah satu pasangan yang menyebabkan ketidak nyamanan salah satu pihak. "Don't join this club.. ," temanku si pembalap gadungan itu, memperingatkanku. Dia tidak ingin ketika aku menikah, mengalami masalah yang dialaminya sekarang.

Pertanyaan ini sebenarnya menjadi pertanyaanku sejak lama. Sepengamatanku, ruang tumbuh bersama dalam ikatan pernikahan itu seringkali menjadi medan pertempuran yang penuh persaingan dan ketegangan. Selalu ada pihak yang merasa di kalahkan dan dianggap menang sendiri. Akhirnya tumbuh bersama itu seperti situasi dua pohon besar yang tumbuh berdesak-desakan di dalam pot sempit. Tanaman itu pada akhirnya tumbuh seperti bonsai yang dikerdilkan. Atau seperti dua ladang yang terpisah jauh yang satu menggarap sawah yang satu menggarap ladang jagung.

Namun sebelum bertanya bagaimana tumbuh bersama dalam ikatan pernikahan, kurasa penting untuk bertanya, apakah pasangan kita sadar bahwa ketika komitmen pernikahan itu dinyatakan, masing-masing akan tumbuh dan berkembang bersama-sama. Menjadi dua batang pohon yang tumbuh berdampingan. Mungkin banyak yang tidak menyadari hal itu. Aku memperhatikan, banyak pasangan yang menuntut pasangannya melebur dalam hidup salah satu di antara mereka. Dunianya tidak boleh lebih besar dari dunia pasangannya. Pernikahan kemudian menjadi komitmen untuk berkompetisi dengan dunianya masing-masing, bukan lagi komitmen untuk memperluas ruang dengan mengapresiasi ruang masing-masing.

Ya tentu saja hal ini mudah dikatakan sebagai teori, tapi bukan hal yang mudah untuk di jalani. Apalagi jika yang mengatakannya belum menikah seperti aku. Dengan mudah aku akan dibilang sok tau "Kamu kan belum merasakan sendiri.." heheheh.. ya apa yang kutulis di sini adalah pandanganku dalam rangka "Don't join this club". Pemahamanku yang kuperoleh dari mengamati kehidupan pernikahan sahabat-sahabatku yang beraneka ragam dan beberapa diantaranya berada di ujung tanduk karena sulit menemukan ruang negosiasi itu.

Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, bisakah tumbuh sendiri itu seperti tanaman-tanaman di hutan. Sebagian saling menumpang,  sebagian tegak memayungi, tapi semua bisa leluasa dan menumbuhkan potensinya. Tiba-tiba aku jadi kepikiran: 'tapi tumbuhan di hutan itu kan banyak sekali jenisnya. Meski tumbuh bersama-sama, belum tentu semua bisa tumbuh jadi kanopi. Ada yang justru menempati posisi kasta terendah dalam dunia tumbuhan. Setiap tumbuhan kanopi justru menjadi tumpangan tumbuhan-tumbuhan lain. Setiap tumbuhan kanopi itu seperti keluarga yang menaungi banyak kehidupan di dalamnya untuk juga tumbuh bersama-sama.' Mmm.. kalo gitu, mungkin pertanyaan utama pada diri sendiri yang paling mendasar adalah: 'mau menjadi seperti pohon apa aku ini?' Namanya juga pasangan, pasti ada peran dan posisinya masing-masing yang menjadi bagian untuk membentuk fungsi dan peran yang lebih besar. Kurasa untuk bisa menjawab ini, pertanyaan paling mendasar setiap orang: 'mau menjadi manusia seperti apa aku ini?' setelah selesai dengan persoalan mengenali diri sendiri, barulah  bisa mengenali orang lain, mengenali jenis pohon seperti apa dia dan kemungkinan-kemungkinan untuk tumbuh bersama..

Mmmm...

Tuesday, October 20, 2009

Janji Pertemuan


Memandang Rumah dari Turangga, foto by tarlen

Seseorang bisa dipercaya atau tidak bisa dilihat dari janji yang dibuatnya. Bahkan secara jelas kitab suci menyebutkan, salah satu ciri orang yang munafik adalah orang yang jika berjanji dia selalu ingkar. Tidak perlu menyebutkan janji-janji yang besar: berjanji membuat dunia menjadi lebih baik misalnya. Janji-janji yang sederhana yang dianggap remeh temeh pun bisa jadi indikator apakah kita bisa mempercayai seseorang atau tidak. Janji pertemuan misalnya. Seringkali dianggap remeh. Janji bertemu hari Selasa Pk. 17.00. Setelah ditunggu sampai Pk. 17.10 yang berjanji tidak juga menampakkan batang hidungnya. Apalagi memberi kabar soal keterlambatan yang ada ketika di konfirmasi dengan entengnya mengatakan "aduh sorry, gue lupa. Besok lagi deh kita ketemu."

Perilaku seperti itu, sekali dua kali mungkin masih bisa di toleransi. Tapi jika itu jadi kebiasaan? Mmmm.. Ya, aku memang kesal dengan dengan perilaku salah seorang teman yang seringkali dengan mudah membatalkan janji hanya karena abai. Sementara aku sudah mengeplot waktuku, menggeser pertemuan dengan orang lain, untuk bisa komitmen pada janji yang sudah ditentukan dengannya. Namun beberapa kali yang terjadi seperti itu: di batalkan mendadak dengan alasan yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan tidak menghargai janji yang sudah dibuatnya sendiri. Dan parahnya seringkali yang bersangkutan tidak memberi kabar sama sekali, membuat aku menunggu dan merusak jadwalku yang lain. Saat aku konfimasi dengan mudahnya yang bersangkutan bilang: 'lupa'.


Aku jadi memeriksa kembali teman yang memiliki kebiasaan seperti ini. Aku tidak bermaksud menilai hidupnya, namun yang kuamati kebiasaan seperti ini berpengaruh juga pada keteguhan hatinya dalam menyelesaikan masalah. Kurang disiplin pada diri sendiri dan selalu punya argumen untuk membenarkan ketidak mampuannya atau kegagalannya dalam berkomitmen. Padahal untuk bisa mendisiplinkan diri sendiri ya bisa dimulai dengan menepati janji pertemuan yang seringkali di anggap remeh temeh itu. Kebalikannya, teman yang selalu menepati janji, jika terlambatpun memberi kabar, kuamati mereka lebih yakin dengan apa yang dia jalani. Tentunya karena orang seperti ini belajar berdisiplin dan komitmen lewat hal-hal kecil. Tentu saja dia bisa lebih menghargai dirinya sendiri dan orang lain. Bersama orang seperti ini, aku selalu merasa aku bisa mengandalkannya, ga ada keragu-raguan padanya.

Ku kira, ini bukan persoalan budaya atau kebiasaan jam karet yang identik dengan kultur bangsa ini. Tapi membiasakan diri menepati janji, tepat waktu, sebenarnya itu pilihan yang bisa dengan kesadaran dan tanggung jawab, dipilih menjadi komitmen pada diri sendiri. Bagaimana bisa berkomitmen pada hal-hal besar: cita-cita, rumah tangga, kemanusiaan, jika hal sederhana seperti janji pertemuan saja dengan mudah bisa dilanggar dan selalu ada saja alasan pembenarannya. Dalam hal ini aku teringat kata-kata Mario Teguh: "Tuhan akan memberikan kebaikan dan karunia kepada kita, jika kita berusaha memantaskan diri kita untuk menerima kebaikan dan karunia itu." Apakah kita sudah cukup pantas menerima karunia untuk menjalani hal-hal besar yang membutuhkan komitmen tinggi dan tanggung jawab besar, jika 'memantaskan' hal yang sederhana dengan menepati janji-janji pada temen sendiri saja, kita seringkali tidak mampu.

Jangan berjanji jika tidak mampu menepatinya.

Thursday, September 17, 2009

Mengerti Dengan Akal, Rasa dan Keyakinan

Foto by Tarlen

Apakah ada ajaran agama yang tidak masuk akal? Dan pagi tadi Qurais Shihab dalam acara Tafsir Al Mishbah menjelaskan bahwa, tidak mungkin ajaran agama itu tidak masuk diakal. Setiap ajaran agama itu dapat dijelaskan dengan akal. Hanya saja perlu diketahui bahwa untuk mencapai penalaran atas agama, tidak semua orang punya bekal yang cukup. Shihab mencontohkan: Jika kita pergi ke sebuah pedalaman, dimana masyarakatnya belum mengenal televisi sama sekali, lalu kita menjelaskan soal televisi, apakah mereka bisa mengerti? buat masyarakat pedalaman itu, mungkin televisi terdengar sebagai alat yang tidak masuk dalam akal mereka, tapi dalam konteks ini, televisi bukanlah sesuatu yang tidak masuk di akal.

Shihab juga mengingatkan, bahwa ketika sesuatu itu terasa tidak masuk di akal atau menurut kita tidak dapat di nalar oleh rasio, kita seringkali lupa bahwa ada alat lain untuk bisa membuat kita mengerti: Perasaan/hati dan jiwa/keimanan dan keyakinan. Shihab mencontohkan kembali: jika ada seorang ibu yang memiliki anak yang bodoh dan buruk rupa, lalu datang orang menawarkan seorang anak yang gagah dan sangat pintar untuk di tukar dengan anak yang bodoh itu. Tentu si Ibu akan lebih memilih anak yang bodoh dan buruk rupa karena pertimbangan perasaan karena itu adalah darah dagingnya sendiri.

***

Penjelasan soal memahami agama bukan hanya dengan akal semata tapi juga dengan perasaan dan keyakinan ini, mengingatkanku pada seorang teman yang begitu mengedepankan rasio untuk memahami bukan cuma agama tapi juga dirinya sendiri. Hasilnya, semakin besar ia berusaha merasiokan semuanya, semakin besar pula kekosongan yang ditimbulkannya karena ternyata semakin banyak hal yang tidak bisa dia pahami.

Aku sempat mengalami fase seperti itu. Dimana semua hal yang tidak aku mengerti aku kejar dengan pertanyaan yang menuntut untuk terjawab. Tapi hasilnya, semakin menemukan jawaban, semakin tidak memuaskan jawaban itu. Temanku yang satu lagi mengatakan, cobalah menemukannya dengan hati dengan rasa, menurut temanku dengan begitu aku akan menemukan keyakinanku kembali. Hal sederhana yang dia contohkan mulai belajar merasakan adalah dengan memperbanyak kontak dengan alam semesta. Dengan langit, dengan angin, dedaunan, burung-burung, rasakan kehadiran mereka di sekelilingku. Bicara pada mereka bahwa kamu menyadari mereka hadir dan aku merasakannya. Justru empat bulan di Amerika setahun lalu, aku mendapatkan kepekaan untuk merasa. Karena aku sendirian di tempat yang asing. Cara untuk bertahan hidup bukan sekedar dengan rasio dan akal saja, tapi juga dengan rasa. Ketika berpapasan dengan orang-orang di taman, subway, keramaian, tanpa memiliki kemampuan untuk merasa bahwa aku adalah bagian dari semesta dan semesta yang menaungiku terhubung denganku, aku akan sulit mendapatkan keyakinan bahwa aku bisa bertahan hidup di tempat yang sangat asing ini. Saat itu justru aku menyakini bahwa orang-orang yang kutemui adalah orang-orang yang baik yang membawa kebaikan untukku. Alhamdulillah. Empat bulan, meski perasaan kesepian karena terpisah dari sesuatu yang aku kenal selama ini, tidak membuatku kehilangan diriku. Aku justru menemukan diriku yang lain. Diriku yang punya kemampuan untuk merasa dan meyakini sesuatu. Itu sebabnya, bagiku setiap perjalanan kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritualku.

Saat pergi ke Sembakung Januari lalu, aku bener-bener ga tau sama sekali soal Sembakung. Persis seperti contoh orang pedalaman yang tidak kebayang bagaimana televisi itu. Tapi perasaanku membimbingku untuk sampai pada keyakinan, aku akan menemukan jalan untuk bukan hanya sampai di Sembakung, tapi juga bisa bertahan hidup sampai satu bulan di sana. Aku meyakini kebaikan yang menurut perasaanku akan kutemukan disana. Dan ternyata aku bukan hanya menemukan pemahaman baru dari pengetahuan bernama Hak-Hak Minoritas, tapi juga aku mendapatkan keluarga baru yang menerimaku dengan tulus. Mereka mungkin tidak bisa mengerti seperti apa hidup yang kujalani di luar Sembakung, tapi mereka merasa aku terhubung dengan mereka.

***

Merasakan semesta, membuat Tuhan terasa hadir dimanapun aku berada. Aku bisa merasakannya kapanpun aku mau. Aku menalarnya setiap saat bersamaan dengan aku merasakan dan meyakininya setiap saat. Ketika hanya nalar yang mendominasi caraku mengharirkan Tuhan, aku hanya akan mengalami banyak kekecewaan, karena yang terjadi kehadiranNya mesti sesuai dengan kalkulasi pikiranku. Padahal, aku sendiri tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengenalnya. Akan banyak hal yang tak terduka dan di luar prediksiku sama sekali. Kemampuan merasakanNya, akan membawaku pada kesiapan diri untuk menerima kemungkinan-kemungkinan di luar perkiraan nalarku. Dan keyakinan memberikan keteguhan hati untuk menghilangankan keraguan atas kehadiranNya.

Memang, seringkali nalar membawaku pada jebakan-jebakan yang justru menghilangkan kemampuanku untuk merasakannya. Karena seringkali mengerti dalam tataran nalar saja sepertinya sudah cukup. Jika aku berhenti pada tingkat ini saja, itu seperti aku buru-buru mengimani sebuah hubungan virtual saja. Hubungan itu hanya ada dalam pikiran, abstrak, semu, karena aku tidak merasakan kehadirannya yang nyata. Dan keyakinan yang hanya sebatas nalar saja, dengan mudah bisa digoyahkan. Karena itu tadi, perjalanan pikiran itu seperti sebuah labirin yang membingungkan dan penuh dengan jebakan kebuntuan. Rasalah yang kemudian menghadirkan pengalaman nyata. Pengalaman yang bisa teraba. Bukan hanya pikiran yang mengalaminya, tapi juga tubuh yang menjadi satu kesatuan dengan pikiran. Dan pengalaman itu menjadi utuh saat jiwa meyakininya bahwa aku benar-benar mengalaminya, dengan pikiran, rasa dan keyakinan.

Tuesday, September 15, 2009

Perjalanan Memaafkan

foto by tarlen


Hanya tinggal beberapa hari saja, rutinitas tahunan: berkirim sms maaf lahir dan batin, akan terulang lagi. Rutinitas kata 'maaf' yang hadir dengan redaksional yang begitu di pikirkan, puitis, lucu, atau ala kadarnya. Semuanya dengan maksud ucapan meminta maaf. Begitulah setiap tahun. Dan tentu saja provider seluler yang paling di untungkan dalam hal ini.

Maaf. Maaf Lahir dan Batin. Sebuah kata yang sedemikian mudah di ucapkan, tapi sulit memaknainya. Karena kata yang sama akan kembali berulang di Idul Fitri berikutnya dan seterusnya dan seterusnya. Namun apa sesungguhnya maaf itu? Beberapa tahun terakhir ini, kata maaf justru menggangguku. Mengusik bahkan menggugat banyak hal dalam diriku. Apa artinya, ketika aku mengatakan: 'Aku memaafkanmu' tapi setiap kali teringat rasa sakit yang ditimbulkan oleh ketidak mengertian seseorang yang muncul adalah rasa ngilu di hati yang entah sebelah mana. Apa juga artinya, berjabatan tangan, berpelukan, bertangis-tangisan saat bermaaf-maafan, jika yang setiap kali menghadapi hal-hal yang mengesalkan dari orang lain yang ada adalah marah dan benci di hati.

Lalu seperti apa maaf itu sesungguhnya? apa tindakan yang semestinya menyertai kata itu setelah di ucapkan pada orang lain? apakah setelah aku bilang: 'aku memaafkanmu', aku mendiskonek seluruh hubunganku dengan'mu' karena mengingatmu begitu menyakiti jiwa dan ragaku (setidaknya aku bisa tiba-tiba batuk-batuk atau gatal-gatal karena alergi ketika hal yang menyebalkan darimu muncul di kepalaku?) atau ketika aku bilang: 'mohon maaf lahir dan batin' itu berarti aku mesti memberi kesempatan lain bagi orang-orang yang sudah membuatku kecewa. Entah kesempatan itu untuk memperbaiki diri atau mengulangi kesalahan yang sama dan menambah kadar kekecewaanku padanya?

Mungkin selama ini aku bukan orang yang cukup pandai memberi maaf pada orang lain. Ketika orang yang begitu menyakiti hatiku meminta maaf, aku cenderung menerima maafnya dengan mengosongkan hatiku dari jejak apapun yang pernah ditinggalkan orang itu padaku. Bahkan aku menihilkan kehadiran dan keterhubungannya dengan diriku. Jika orang itu sungguh-sungguh meminta maaf atas segala kesalahannya dia bisa memulai kembali berhubungan denganku dari awal. Menorehkan kembali jejaknya dalam diriku, tapi jangan berharap dia akan menuliskannya di atas lembaran kertas putih bersih. Memang aku akan menyodorkan kembali kertas kosong padanya, tapi kertas itu meninggalkan jejak hapusan yang mungkin saja tidak sepenuhnya bersih. Bagaimanapun, jejak-jejak itu tersimpan dalam kekosongan yang baru. Seperti menulis diatas kertas dengan bolpen tanpa tinta. Tidak terlihat tulisannya, tapi tekanannya terekam di situ. Kamu hanya tinggal mengarsir tekanannya dengan pensil, maka muncullah kembali jejak-jejak itu. Atau, timpa saja dengan tulisan baru. Toh mungkin masih bisa di hapus juga. Meski jika sering di hapus, kertasnya bisa benar-benar sobek dan rusak.

Sejauh ini, aku memilih cara itu dalam menjalani kata: maaf dan memaafkan. Hapus, di tip-ex juga boleh, tapi jangan harap mendapatkan kertas yang benar-benar baru di kesempatan berikutnya. Setiap orang, termasuk juga aku hanya bisa mendapatkan selembar kertas saja. Besar kecil ruangnya, tergantung kita yang mengelola isinya. Persis seperti logika menulis atau menggambari selembar kertas A4. Mau di tulis dengan pensil, bolpen, spidol, itu semua kita yang memutuskan. Tapi kertasnya hanya selembar saja, karena di dunia ini, tidak banyak orang-orang yang mendapatkan kesempatan hidup kedua setelah mengalami pengalaman 'near death experience'.

Sejauh ini, baru sampai situ perjalanan maaf dan memaafkan yang bisa kulakukan. Aku bukan orang yang senang membalas kesalahan orang lain. Daripada membalas, aku lebih memilih untuk mencoba untuk mengerti posisi diriku dalam tindakan yang orang lain lakukan kepadaku dan setelah itu aku akan berusaha untuk menghapusnya dan menjadikannya lembaran kosong kembali. Hal ini pun belum tentu merupakan perjalanan maaf yang tepat dengan tujuan kebaikan dari maaf itu sendiri.

Jadi sampai dimana perjalanan maaf dan memafkanku ini akan menuju? entah lah.. jangan-jangan perjalanan maaf itu seperti menuju garis cakrawala. Tidak akan benar-benar sampai pada maaf itu sendiri, kecuali mendekatinya..


LinkWithin

Related Posts with Thumbnails