Sunday, November 30, 2008

Hatiku Di Antara Si Pembawa Rasa Nyaman Vs Si Roller Coaster

Foto by tarlen

Mana yang sebaiknya di pilih? lelaki yang memberikan rasa nyaman dengan gairah yang statis, atau lelaki yang menawarkan banyak petualangan mengairahkan, tapi bikin hidup berjalan seperti roller coaster? Pertanyaan ini, kerap kali muncul di usia tiga puluh sekian seperti yang aku rasakan sekarang, ketika akan menentukan pasangan hidup seperti apa yang cocok untuk hidupku. Kalau pertanyaan ini adalah sebuah pilihan, tentunya ini bukan pilihan yang mudah. Sulit. Bahkan teramat sulit. Karena pilihan ini berhubungan dengan karakter calon pasangan yang tentunya akan berubah di kemudian hari.

Bagi perempuan lajang yang intens dalam pencarian makna hidup, punya pasangan yang memberi rasa nyaman itu, penting artinya. Nyaman dengan dirinya, nyaman dengan pencapaiannya, secara psikologis dia adalah pribadi yang matang dan sudah bisa berdamai dengan banyak hal dalam hidupnya, bahkan berdamai dengan hal yang paling sulit untuk diterima sekalipun. Baginya, berdamai itu sama dengan menyadari bahwa berfokus pada sesuatu yang tak mungkin dia dapatkan dalam hidupnya adalah hal yang sia-sia, lebih baik dia menerima dan menikmati hal-hal yang bisa dia dapatkan dalam hidup. Lelaki seperti ini telah menemukan kebijaksanaan atas dirinya.

Mengapa lelaki seperti ini penting bagi perempuan sepertiku? karena dengan lelaki seperti ini, aku ga akan dipusingkan dengan persoalan-persoalan yang muncul akibat persaingan eksistensi. Dia menyadari betul eksistensinya dan nyaman dengan itu. Sehingga ketika aku membangun eksistensiku (apakah eksistensi itu sejajar dengannya ataupun dianggap melebihi dirinya), dia tidak akan merasa terganggu, malah biasanya tanggapannya cukup positif terhadap apa pencapaianku. Karenanya, lelaki seperti ini memberikan rasa nyaman yang merupakan pijakan penting untuk terus berkarya dan berprestasi.

Lelaki pembawa rasa nyaman ini karena memiliki kematangan emosional, biasanya tidak lagi terlihat mengebu-gebu. Dia bisa terlihat sangat tenang dan dewasa dalam banyak masalah. Kemapanan emosi dan eksistensinya membuat gairah atau antusiasmenya terhadap banyak hal, terlihat datar-datar saja. Buatnya, gairah yang menggebu-gebu, sudah bukan lagi masanya. Fokus menjadikan dia ga mudah, 'tergoda' atau meledak-ledak pada hal-hal baru. Baginya mempertahankan fokus jauh lebih penting, ketimbang menampilkan kegairahan pada hal baru yang beresiko mengganggu fokusnya.

Ketenangan dan disiplin untuk tetap fokus seperti ini, kadang malah menjadi pemicu masalah. Perempuan sepertiku, lebih senang dengan antusiasme dan gairah yang menunjukkan semangat eksplorasi dia pada hal-hal baru. 'Ketidak antusiasannya' itu seringkali membuat aku berpikir bahwa dia tidak punya 'frekuensi semangat' yang sama. Bahkan sikap seperti ini seringkali menimbulkan penafsiran bahwa dia 'tidak memahami' semangatku dan cenderung dingin pada kegairahanku terhadap hal-hal baru. Padahal aku berharap mendapat sambutan hangat terhadap hal-hal yang menjadi minat dan antusiasku.

Berhubungan dengan lelaki seperti ini bagi perempuan sepertiku, terasa nyaman-nyaman saja, tapi juga tidak banyak tantangan yang berarti. Karena persoalan yang muncul lebih banyak dari pihakku daripada pihaknya. Jalannya hubungan seperti perjalanan di jalan tol dengan kendaraan yang nyaman. Aku cenderung merasa bosan. Kebosanan yang disebabkan karena aku merasa hidup menjadi tidak lagi penuh tantangan dan antusiasme. Semuanya terasa berjalan lancar, tapi juga dalam emosi yang datar. Rasa bosan yang juga muncul saat dia dengan mudah mengerti dan memahami apa yang dilakukan olehku 'tanpa perjuangan'. Hidupku jadi terasa begitu mudah. Aku bagi lelaki seperti ini, seperti perempuan yang ga tau berterima kasih karena ga bersyukur dengan semua kebaikan dan pengertian lelaki seperti ini. Kefrustasian yang muncul dalam diriku justru karena alasan yang menurut banyak orang ga masuk akal: "Karena dia terlalu baik" dan membuat aku mati kutu, ga menemukan alasan untuk berargumen dengannya.

***

Bagaimana dengan si lelaki roller coaster? Bagiku, lelaki ini cukup menggairahkan, karena dia kuanggap mempunyai antusiasme yang sama. Dan sama-sama dalam masa-masa pencarian yang menggelisahkan. Dia belum sepenuhnya yakin dengen pencapaiannya dan yakin benar dengan eksistensinya. Lelaki seperti ini adalah lelaki yang merasa belum menemukan definisi dirinya. Masih berada dalam fase mempertanyakan banyak hal bahkan mempertentangkan sisi baik dan buruk dari dirinya sendiri. Daya tarik utama lelaki seperti ini bagiku ada pada gairah pencariannya tentang makna hidupnya. Dia merasa belum selesai dan belum menemukan damai dengan dirinya sendiri. Pertemuannya dengan perempuan sepertiku menjadi penting untuknya untuk merasa bahwa dia tidak sendirian. Bahwa ada orang yang dia harapkan bisa mengerti dengan proses pencariannya yang sulit dan menggelisahkan ini. Begitu juga aku, merasakan hal yang sama. Secara emosional, kami ada pada frekuensi diri yang sama.

Baginya hidup adalah sesuatu yang mesti dia taklukan. Berdamai adalah hal yang masih jauh darinya, berdamai pada saat-saat seperti ini berarti juga menyerah terlalu cepat. Jika ada jalan yang lebih menantang dan lebih sulit, mengapa memilih jalan yang mudah. Berjalan bersamanya, seperti menaiki roller coaster terpanjang di dunia. Butuh kesiapan dan ketahanan yang besar, karena masing-masing baik aku dan dia sama-sama penuh dengan kejutan. Pengembaraan pikiran bisa sangat sangat jauh dan tak terbatas, bahkan sampai pada kemungkinan-kemungkinan pemikiran tentang hidup yang enggan di rambah oleh kebanyakan orang.

Meski menjanjikan gairah petualangan hidup yang tak terlupakan, lelaki seperti ini membutuhkan toleransi yang sangat-sangat besar. Jika pada si pemberi kenyamanan, aku tak perlu susah payah meminta untuk dimengerti, pada si roller coaster, justru sebaliknya, dimengerti adalah sebuah perjuangan. Masing-masing baik aku dan dia bisa sama-sama bersikukuh pada cara pandang pencarian yang berbeda, meski tujuannya sama. Kecenderungan untuk mau memang sendiri, terjadi bukan hanya dari pihaknya, tapi dari pihakku juga. Bagi kami, perjalanan bersama ini seperti sebuah petualangan bersama yang sering kali juga terasa sangat kompetitif. Masing-masing berusaha mengumpulkan pemahamanan sebanyak-banyaknya, tapi seringkali lupa untuk berkompromi, bahwa pencarian ini pada awalnya sepakat dilakukan bersama-sama, meskipun kedua belah pihak mengumpulkan kepingan-kepingan yang berbeda.

Persoalan yang seringkali muncul berhubungan juga dengan semangat dan mood yang muncul pada waktu yang berbeda. Masing-masing seringkali ga sabar, untuk menunggu satu dengan yang lain. Perasaan meninggalkan dan ditinggalkan, muncul atas alasan dan kekawatiran yang berlebihan.

Masing-masing tahu, bahwa perjalanan bersama ini adalah perjalanan yang sangat istimewa. Tidak mudah menemukan orang yang mau berjalan bersama dalam fase pencarian definisi diri yang menggelisahkan dan berat. Sehingga kecenderungan untuk menjadi posesif menjadi lebih besar, karena kawatir kehilangan salah satu. Baik aku maupun dia seperti sedang menjalani sebuah ujian bersama yang sulit dan berat. Pertaruhannya besar. Lulus atau gagal bersama-sama, atau lulus dan gagal salah satu dan satunya harus siap di tinggalkan, karena perjalanan pencarian tidak banyak memberi waktu untuk saling menunggu. Hidup bergerak pada porosnya masing-masing.

Akan sangat menyenangkan, jika bisa lulus bersama-sama, karena baik aku dan dia bisa merasakan pencapaian bersama. Seperti dua orang semi finalis yang masuk final bareng-bareng dalam kompetisi mengatasi tantangan dan rintangan. Yang menyulitkan adalah justru perbedaan cara yang sejak awal sebenernya sudah disadari. Tujuan yang sama, seringkali membuat lupa, bahwa cara yang berbeda justru memperkaya hasil yang dikumpulkan dari pencarian itu.

***

Di tengah menyelesaikan tulisan ini, sahabatku menyela: "tapi kan, si pembawa aman juga dulunya si roller coaster". Oh iya ya.. Aku hampir lupa itu. Saat lelaki roller coaster menemukan batas ketahanan dari daya pencariannya, dia akan sampai pada titik berdamai pada apa yang telah ia dapatkan dan menerima bahwa tidak semua hal yang ingin dia temukan, bisa dia temukan. Pada usia dan kematangan tertentu, si roller coaster yang penuh dengan gairah dan kegelisahan itu, akan menjadi arif dan bijak terhadap dirinya sendiri. Dan mungkin aku pun yang sebelumnya suka merasakan roller coaster, suatu saat akan lebih memilih perjalanan yang nyaman. Bukan karena lelah, tapi karena ingin bisa berkhidmat pada apa yang telah didapatkan dari pencarian selama ini. Mungkin pada saat itulah, aku sendiri menemukan fokus dalam hidupku.

Kapan saat itu akan tiba? Kurasa hatiku yang akan mengatakannya, "ini saatnya untuk fokus pada apa yang telah aku dapatkan dalam proses pencarian itu dan mengkhidmatinya." Hatiku itu, meski dia kerap kali kesakitan, kelelahan, kebingungan dan sejuta rasa yang lain, karena semua perjalanan ini, tapi dia (hatiku) itu menjadi kaya dengan rasa. Hatiku itu belajar jauh lebih cepat daripada kemampuan pikiranku dalam mencernanya. Ku yakin, saat hatiku mengatakan ini saatnya, hatiku juga yang akan memutuskan siapa yang akan kupilih sebagai teman hidupku. Si pemberi rasa aman atau si roller coaster? Jika dikemudian hari pikiranku menganggap pilihanku bukanlah keputusan yang tepat, hatiku selalu siap menerima apapun rasa yang ditimbulkannya. Karena hatiku adalah rasa nyaman dan rasa roller coaster itu sendiri.

***

Hai hati, apakabarmu hari ini? Jadi siapa yang kau pilih untuk diriku hari ini?

Thursday, November 06, 2008

We Are Also What We Have Lost

Foto by tarlen

Alejandro Gonzales Innarittu menulis kalimat tadi dia akhir film pertama dia, Amores Perros yang menang di banyak festival. Sebuat kutipan yang Innarittu tujukan bagi anaknya yang meninggal sebelum film itu membawa perubahan besar dalam hidup Innarittu, sebagai sutradara yang patut diperhitungkan dalam pentas perfilman dunia. Itu Inarrittu.

Kehilangan besar dan perubahan besar (kalau tidak besar, sebut saja penting) dalam hidup, juga aku alami. Aku ingat, kelas 3 SD adalah masa terindah dalam rentang 6 tahun pendidikan dasar yang kutempuh. Di kelas 3 SD itu, aku punya guru yang menyadarkan aku pertama kalinya bahwa aku punya bakat dibidang seni. Dia selalu memberikan apresiasi yang positif terhadap karya-karyaku. Begitu pula teman sebangkuku. Aku ingat namanya Ranti. Aku merasa punya teman yang mengerti dan bisa berbagi keceriaan masa-masa terindah di kelas 3 SD itu. Namun, semua ga berlangsung lama, karena di semester kedua, Ranti pindah sekolah dan aku ga pernah tau lagi bagaimana kabarnya sampai detik ini. Begitu pula guruku itu yang kemudian pindah mengajar di sekolah lain. Setelah itu, masa SDku ku jalani biasa saja. Tapi persaan kehilangan itu ga pernah aku lupakan. Dia membawa kenangan indah tentang masa sekolah dasar sekaligus kesedihan.

Setelah itu, kehilangan besar, paling besar dalam hidupku datang di usia 18th. Peralihan masa SMA ke masa kuliah, ga bisa menerima dengan mudah lingkungan kampus yang menurutku saat itu ga kondusif buat perkembanganku. Saat itu, aku merasa satu-satunya orang yang bisa mengerti dan menjadi sahabat baikku adalah bapakku. Tapi, toh dia juga harus pergi menghadap Tuhan. Dan kehilangan ini pula yang membentukku sedemikian rupa. Mendeformasi karakterku dan diriku sampai pergulatan berdamai dengan kehilangan ini, akhirnya membentuk diriku yang baru. Begitu juga dengan perjalanan menggenapi mimpi terbesar masa remajaku, saat kembali dengan lingkaran diriku utuh, ada yang harus aku lepaskan karena memaksanya mengerti adalah tindakan yang sia-sia belaka. Meski sedih, tapi untuk bisa melanjutkan perjalanan yang masih panjang itu, ada yang harus di relakan untuk lepas, dibiarkan bebas karena aku tak bisa memaksanya berjalan bersama senantiasa.

Dalam sejarah tobucil pun, perubahan besar di tobucil, selalu disertai dengan kehilangan. Perpindahan dari Trimatra Center ke Kyai Gede utama juga disertai kehilangan. Gitu juga dari Kyai Gede Utama ke jalan Aceh, kehilangan menyertai perpindahan itu.

***

Kehilangan dan perubahan yang sepertinya berulang terjadi dalam hidupku, membuatku merenung. Kenapa harus kehilangan yang menyertai setiap perubahan? Apa tidak cukup hanya perubahan saja? Kenapa mesti dengan kehilangan? Pertanyaan setengah menggugat seringkali muncul dan menggangguku. Setiap kehilngan itu berhadapan denganku, setiap kali juga aku sesuatu tumbuh dalam diriku, seperti menggenapi dan mengisi lubang yang ditinggalkan dari rasa kehilangan itu.

Sesuatu yang tumbuh yang kemudian beberapa waktu terakhir ini, aku sadari sebagai diriku yang menjadi utuh. Aku ada karena kehilangan itu. Ketika harus melepaskan seseorang yang kucintai karena aku harus berbuat benar pada diriku sendiri, kesedihan yang ada justru memunculkan kelegaan karena aku berani berbuat benar pada diriku sendiri, berbuat adil pada hidupku dan hidup orang yang kulepaskan. Tanpa sadar, aku mengukuhkan diriku, mengukuhkan keyakinan atas diriku sendiri. Tidak setiap hari keberanian untuk berbuat benar pada diri sendiri ditemukan, dan ketika keberanian itu datang, rasanya bodoh saja jika harus menghindarinya.

Seringkali apa yang sebelumnya ada dan mungkin dimiliki terasa berharga, justru ketika semua itu hilang dan lepas. Itu sebabnya, setiap moment kehilangan, selalu mengajarkan bagaimana menghargai dan berterima kasih pada apa yang ada di hadapanku dan disekelilingku saat ini. Tak ada lagi alasan untuk menyia-nyiakannya, tidak mengapresiasi atau berterima kasih karena keberadaannya. Kehilangan membuatku menyadari apa yang kemudian melengkapi keberadaanku sebagai individu. Meski yang terpenting adalah membuatku menyadari siapa aku, mengapa aku ada untuk diriku sendiri dan orang lain dan apa yang menjadi tugasku sebagai manusia. Kehilangan membuatku menghargai setiap detik demi detik yang mengantarkan kesempatan untuk membangun keutuhanku sebagai individu.

Kesadaran lain yang kemudian membesarkan hati, bahwa sebenernya aku ga sungguh-sungguh kehilangan. Kekecewaan yang kurasakan atas kehilangan itu, hanyalah sementara. Setiap perjumpaan dan perpisahan, seperti sebuah putaran etape pada lomba lari. Setiap orang yang bertemu pada setiap perjumpaan itu, punya tugas masing-masing sesuai dengan fase hidup yang kuhadapi. Mereka masing-masing datang dengan membawa pesan dan tugas untukku. Tidak ada yang sungguh-sungguh hilang atau pergi, mereka akan selalu kembali dalam wujud, bentuk dan pesan yang berbeda. Tugasku adalah merangkai pesan-pesan itu untuk menjawab siapa aku dan untuk apa diriku mengada.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails