Wednesday, February 20, 2008

Transformasi Mencari Bentuk

foto by tarlen

Sebut saja Submissive, Tigabelas, Emphaty Lies for Beyond, Empatika, No Compromise, Limbah, Halo Opository, Movement, re-action, Unfold, Rayuan Gombalz, ONe Life Stand, Poster, Setaramata, Ujungberung Update, Crypt from the Abyss, Loud n` Freaks, The Evening Sun, Rottrevore, Minor Bacaan Kecil, Wasted Rocker, menjadi sedikit dari sekian banyak zine yang beredar di komunitas underground pada ’90-an akhir hingga 2005. Media foto copy-an ini menyebar di antara jejaring underground, bukan hanya di Bandung tapi juga di kota-kota lain di Indonesia, bahkan sampai luar negeri.

Tradisi zine sebagai media propaganda, baru dikenal komunitas underground pada pertengahan tahun ’90-an. Saat salah satu anggota komunitas punk, mendapat zine dari jejaring pertemanan mereka di Belanda. Media sederhana dengan teknik fotocopy ini berisi review pertunjukan underground setempat, wawancara dengan personel-personel band, isu-isu seputar musik dan ideologi yang menyertainya. Opini pembuatnya tentang satu persoalan yang berkaitan dengan satu masalah yang sedang hangat di komunitas. Beberapa zine juga membahas isu yang spesifik seperti isu feminisme, lingkungan, fundamentalisme dan semua digarap tanpa perlu teknik jurnalistik yang canggih, modal besar, dan layout yang memukau. Semua serba apa adanya karena semuanya dijalankan dengan semangat Do It Yourself (DIY).

"Waktu itu terasa sekali zine sebagai sebuah kultur serapan. Isinya masih sangat copy-paste, jiplakan beneran dari luar (luar negeri) tapi bahasa Indonesia. Dan kebanyakan memang belum tahu apa yang ingin dikatakan," jelas Pam, pembuat zine Submissive. Tulisan-tulisan dari kolektif CrimethInc (http://www.crimethinc.com/) menjadi langganan yang di terjemahkan dan disebarkan melalui zine seperti Submissive. Melalui zine, komunitas underground mengenal pemikiran-pemikiran Mikhail Bakunin, Emma Goldman dan wacana-wacana ideologis yang menyertai band-band favorit mereka. Hal-hal seperti ini tentunya tidak mungkin ditemui pada media mainstream pada saat itu. Dalam kurun waktu pertengahan hingga akhir ’90-an, media underground seperti zine lebih dominan diwarnai oleh kultur musik yang digemari oleh komunitas pada masa itu. Meskipun situasi sosial, politik, ekonomi pada saat itu turut membentuk karakter komunitas dan apa yang disampaikannya lewat zine. (Baca: Dari Militansi ke Komodifikasi, Tarlen Handayani, "PR" 13/2).

Distribusi zine biasanya dilakukan dengan membuat beberapa master copy untuk disebarkan di jaringan komunitas di dalam dan luar negeri. Setelah itu, jejaring di tiap kota akan menyebarkan zine ke komunitas masing-masing. Jika dijual pun, harganya hanya sebesar ongkos ganti fotocopy. Semangat berbagi dan anti copyright membuat zine-zine underground seperti ini tersebar luas dan bisa digandakan secara bebas.

Beberapa majalah pernah terbit dan mewarnai perkembangan media komunitas underground. Swirl terbit tahun 1994 dan menjadi majalah komunitas skateboard dengan tampilan sederhana cetak hitam putih. Terbit tidak sampai lima edisi dan setelah itu menghilang. Tahun 1999, Ripple terbit pertama kali dengan ukuran saku. Pada awalnya Ripple terbit sebagai katalog produk distro 347 dan berkembang memuat kegiatan tulisan-tulisan komunitas yang berkumpul di distro 347, sampai kemudian berubah menjadi majalah dalam arti yang sesungguhnya. Tahun 2001, majalah Boardriders dan Trolley, ikut mewarnai perkembangan media yang mewakili komunitas anak muda Bandung saat itu.
**

Berubah format, membuat beban pengelolaannya menjadi lebih berat. Majalah-majalah ini menjadi tidak lagi sesederhana zine dalam penggarapannya, termasuk juga biaya produksi yang sangat besar. Pemilik modal menjadi faktor yang menentukan keberlangsungan hidup majalah-majalah seperti ini. "Karena pemilik modalnya nggak paham soal media, kita berhenti terbit," Ungkap Didit E. Aditya, mantan Editor in Chief Boardriders. Sementara Ripple lebih beruntung karena pada awalnya media ini adalah media promosi clothing label 347, sehingga aspek permodalan relatif lebih terjamin. "Awalnya majalah ini kan sebagai fun, tapi ternyata kesininya bisa juga jadi andalan ekonomi," kata Idhar Remadi, Editor In chief Majalah Ripple.

Pertumbuhan bisnis clothing dan distro di Bandung, ternyata memberi dampak yang cukup penting pada perkembangan media-media komunitas underground Bandung. Ketika booming distro tahun 2003 hingga 2005, lahir banyak media gratisan yang terbit untuk kepentingan promosi. Kemampuan distro untuk memproduksi media seperti ini, dalam pengamatan Pam, melibas pertumbuhan zine komunitas. "Mereka bisa membuat media yang lebih menarik secara tampilan dan dibagikan gratis. Tetapi ini juga membuat perubahan di tingkat komunitas dan membaginya jadi dua kubu. Kubu pertama sebagai produsen zine yang masih punya semangat untuk membuat zine dan mencari komunitas lain yang bisa jadi tempat aktualisasi diri yang baru, dan satu lagi yang hanya mengonsumsi saja," ujar Pam. Sementara Kimung, pengelola Minor Bacaan Kecil berpendapat, "Generasi yang sekarang mau aja diseragamin penampilannya maupun isi kepalanya. Padahal, dengan punya media sendiri, bisa menyampaikan manifestasi diri dan mengekspresikan ide-ide lewat bahasa dan tulisan."

Untuk beberapa media yang bertahan seperti majalah Ripple dan Jeune, keberadaan distro dan clothing industri justru menjadi nyawa yang membuat media ini bisa bertahan. "Sembilan puluh sembilan persen nyawa kita ada di pemasang iklan," tutur Idhar. Sampai kini, Ripple telah terbit 59 edisi dan sejak edisi ke 42, Ripple menjadi media gratis dengan jumlah cetak 10.000 eksemplar setiap edisinya. "Salah satu faktornya kenapa kita gratis karena kita ingin memperluas jangkauan distribusi. Kalau distribusinya cukup luas, bisa menarik pemasang iklan lebih banyak lagi.

Senada dengan Idhar, Candra vokalis band Cupumanik yang juga Editor in Chief Majalah Jeune yang terbit 5.000 sampai 7.500 eksemplar (tergantung dari pemasang iklan) sejak tahun 2004 ini, mengemukankan hal yang hampir sama. "Kenapa mereka masih membeli majalah indie atau majalah lokal seperti Jeune atau Ripple, karena memang sudah saatnya kita-kita yang di lokal ini tahu betul dan harusnya yang paling pintar mendokumentasikan apa yang terjadi di lokal trend fashion atau musik apa yang terjadi di lokal," kata Candra.

Keberadaan media-media yang masih bertahan, memunculkan pertanyaan besar dalam benak Pam, "Bisakah konsistensi dan kontinuitas itu terjaga?" Bagi Pam, konsistensi dan kontinuitas itu penting untuk mematangkan komunitas dan juga media yang mewakilinya. "Buat saya, situasi komunitas underground yang berubah cepat kaya sekarang ini sebenarnya bisa dilihat sebagai hal yang wajar. Zine kan sesuatu yang baru, distro juga, banyak hal baru yang menjadi pilihan dan karena ini kultur serapan, proses mencoba menjadi bagian dari pencarian identitas. Konsistensi dan kontinuitas itu justru akan mematangkan pilihan-pilihan itu," tutur Pam.

(Tarlen Handayani, sehari-hari bekerja untuk Tobucil & Klabs) ***

Underground, dalam konteks tulisan ini menjelaskan komunitas yang terbentuk karena minat aliran musik yang sama: hardcore, punk, metal, dan komunitas hobi ekstrem sport yang kebanyakan juga menggemari jenis musik tersbut.

Tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, 18 Februari 2008

Sunday, February 17, 2008

Dari Fotokopi ke "Blog"

Foto by tarlen

Tak bisa dimungkiri bahwa perkembangan teknologi juga menjadi faktor penting dalam pergeseran bentuk dan media ekspresi komunitas underground, selain situasi sosial, politik, ekonomi makro, dan mikro yang memengaruhinya. Lahirnya teknologi blog, membuat media-media komunitas bergeser menjadi lebih personel. Setiap orang dapat menulis apa yang dipikirkannya dalam medium baru ini dengan lebih leluasa tanpa dibebani oleh masalah produksi dan distribusi. Fasilitas blog yang menyediakan macam-macam template dan kemudahan, membuat penggunanya dapat mencoba bermacam-macam jenis blog sekaligus, sesuai dengan kebutuhannya.

Akibatnya, ruang-ruang pertukaran pemikiran, gagasan, ide-ide, lebih banyak bertemu di ruang cyber. Pertemuan di ruang maya membuat meeting point komunitas tidak lagi menjadi tempat pertukaran informasi utama di antara sesama anggota komunitas. Meski begitu, Pam menilai, perpindahan media ekspresi komunitas underground ini ke internet, justru mematangkan anggota komunitas secara individu.

Meski perkembangan internet berdampak besar pada pertumbuhan media-media underground dalam bentuk cetak seperti zine dan majalah, beberapa di antaranya masih mempertahankan keberadaan zine ini. Sebut saja Thremor, pengelola zine Beyond the Barbed Wire meski terbit hampir setahun sekali, ia tetap bertahan untuk menerbitkan zine sejak 2004.

"Kenapa harus terbit, karena saya sendiri masih ingin mengomunikasikan sesuatu meskipun setahun sekali karena saya harus kompromi sama waktu para kontributor," ucap Thremor. Pada edisi pertama, Beyond the Barbed Wire terbit sekitar 40-an halaman dan jumlah halaman itu bertambah menjadi 88 halaman di edisi terakhir.

"Distribusinya sih nyampe di 20 kota. Caranya saya kirimin master-nya ke teman-teman yang ada di 20 kota itu, nanti mereka perbanyak sendiri," katanya. Metode seperti ini memang lazim dilakukan oleh para pembuat zine. Jejaring pertemanan antara komunitas menjadi modal penting yang harus dimiliki.
Hal serupa juga dilakukan Gembi, pengelola newsletter Wasted Rockers. Pada edisi awal yang terbit 2004, Wasted Rockers berbentuk fotokopi zine, namun edisi selanjutnya, Gembi mengubah formatnya menjadi newsletter selembar A4 yang dikopi bolak-balik. "Pertimbangannya kalau newsletter lebih gampang aja ngelolanya. Lebih murah juga dan bisa cepat beres karena layout-nya nggak rumit."

Kini Wasted Rocker memakai format ukuran lebih besar dari sebelumnya A3 dan dicetak hitam putih 1.000 eks. "Setiap edisi saya sebar di 21 kota, jaringan pertemanan saya dan juga record label independen di banyak kota. Karena newsletter ini fokusnya lebih ke musik," ucapnya. Dengan berkembangnya teknologi internet, Gembi justru memanfaatkannya untuk memperluas jangkauan distribusi Wasted Rockers. "Saya bikin juga versi online-nya (http://wastedrockers.50megs.com) di situ juga versi cetak, file PDF-nya bisa di-download juga," ujarnya.

Saling melengkapi antara media cetak dan online ini pun dilakukan oleh Ripple. Di situsnya ( www.ripplemagazine.net) tersedia link untuk men-download edisi sebelumnya secara full.
Namun, perubahan bentuk media ini tidak sepenuhnya nyaman untuk dijalani. Ada "kekosongan" baru yang dirasakan Didi "Decay" ketika pindah ke media online. Bagi Didi "Decay" pengelola zine Emphaty Lies for Beyond dan Empatika yang kini mengelola blog http://bikinsendiri.multiply.com yang hilang perpindahan medium ini adalah suasana pertemuan dan interaksi pada saat proses berlangsung. "Nggak ada lagi pertemuan antarredaktur zine, distribusi pun kita nggak perlu ketemu langsung dan datang ke kota-kota jejaring teman-teman kita. Cukup send e-mail memberi tahu kalau ada update terbaru. Buat saya kemudian jadi ada jarak emosi karena tidak ada pertemuan fisik pada saat interaksi."

Interaksi yang semakin jarang ini, menurut Decay juga dipengaruhi oleh perubahan minat anggota komunitas itu sendiri. "Sekarang saya nggak terlalu nyari sama musik punk. Masih suka, tetapi nggak kaya dulu. Saya sekarang lebih senang menjalani apa yang berhubungan dengan keseharian saya," ujarnya. Minatnya terhadap craft, menjadi bagian dari keseharian Decay saat ini. Baginya, perubahan minat ini di satu sisi membuka pertemuan dengan komunitas lain dan teman-teman baru.

Resmi Setia atau yang akrab dipanggil Tia, peneliti sosial yang intens mengamati perkembangan komunitas underground ini, mengungkapkan bahwa pergeseran bentuk media ini memberi dampak pada bentuk ekspresi komunitas, bentuk fisik media seperti zine dan majalah, menjadi tidak terlalu penting lagi karena aktualisasi diri telah digantikan oleh media baru seperti blog.

Menurut Tia, blog memberi legitimasi pada individu untuk mengekspresikan pengalamannya. Komunalitas kemudian bergeser menjadi individualitas. "Persoalan baru yang justru perlu dicermati adalah persoalan akses terhadap teknologinya itu sendiri," ungkap Tia. (Tarlen Handayani) ***

Zines, Catatan dari Bawah Tanah


foto: Joedith Cristanto


Dalam bukunya yang berjudul `Notes from Underground, Zines and The Politics of Alternative Culture`, Stephen Duncombe, mendefinisikan zine sebagai majalah nonkomersial, nonprofesional dengan sirkulasi yang terbatas, di mana pembuatnya memproduksi, menerbitkan, dan mendistribusikannya sendiri. Dalam sejarah pers alternatif Amerika, zine lahir di era 1930-an dan dimotori para penggemar science fiction. Saat itu, istilah "fanzines" mulai dikenal sebagai media berbagi berbagai cerita science fiction dan komentar kritis dari para penggemar termasuk pula komunikasi antara penggemar.

Empat puluh tahun kemudian, di 1970-an, perkembangan zines modern dipengaruhi para penggemar musik punk rock, yang pada saat itu tidak mendapat tempat di media musik mainstream. Fanzines yang terbit saat itu, lebih banyak berisi tentang musik dan kultur yang berkembang di scene musik tersebut. Baru era 80-an dan 90-an, hal-hal yang bersifat politis kemudian masuk dan memengaruhi perkembangan zines berikutnya.

Duncombe, mengklasifikasikan zines kedalam beberapa kategori. Seperti fanzines, political zines, personal zines, scene zines, network zines, fringe culture zines, religious zines, vacational zines, health zines, sex zines, travel zines, comic zines, literary zines, art zines, dll. Namun, dari semua kategori zines, Duncombe melihat beberapa persoalan yang mengemuka. Persoalan seperti identitas, komunitas, bekerja dan konsumsi, pencarian, kemurnian dan politik budaya alternatif, menjadi persoalan utama yang menjadi isu penting dalam perkembangan zines.

Zines sebagai satu representasi identitas, menjadi media yang mewakili kelompok terpinggir yang selama ini tidak masuk hitungan dalam masyarakat. Di mana, zines memberikan suara kepada mereka yang tersisih, untuk menyatakan aspirasi politiknya dan pandangan serta sikapnya terhadap satu persoalan. Begitu pula saat zines sebagai satu media komunitas, struktur sosial masyarakat yang rigid dan kaku, seringkali membatasi ruang gerak sebagian anggota masyarakat. Zines kemudian menjadi media propaganda dalam upaya membebaskan diri dari aturan sosial dan membuat aturan baru yang disepakati oleh anggota komunitasnya.

Pemaknaan atas kata `bekerja` menjadi persoalan yang seringkali mengemuka. Kerja dan bekerja dalam terminologi komunitas ini adalah keluar dari dikte kepentingan kapitalis. Bekerja atas dasar cinta dan apa yang mereka suka, bukan menjadi budak industri yang digerakan oleh kapital untuk kepentingan eksploitasi. Itu sebabnya, gerakan menyabotase rutinitas dalam kerangka kerja kapitalisme, menjadi wacana yang mengemuka. Sikap kritis terhadap konsumerisme, menjadi isu penting dan bahan propaganda komunitas. Semangat Do It Yourself, mendorong anggota komunitasnya mengambil peran aktif sebagai agen-agen perubahan. Aktivisme menjadi gerakan yang lebih dinikmati dan membentuk gerakan politik komunitasnya sendiri. Pencarian jati diri juga menjadi ciri kuat dalam perkembangan zines. Sebagai media, zines memberikan keleluasaan dalam memediasikannya. Semangat berbagi yang dibawa zines, memungkinkan setiap individu penulisnya, berbagi kisah dan pengalaman dalam proses pencarian identitas. Catatan-catatan personal ini, yang kemudian menginspirasi anggota komunitas lain dalam tanpa disadari membentuk identitas komununal.

Sebagai bentuk budaya alternatif, zines senantiasa berusaha menemukan orisinalitas dan hal-hal yang menjadikannya berbeda dengan kultur utama. Keunikan individu dan bagaimana ekspresi kreativitas ditampilkan secara berbeda, adalah menjadi motor penggerak bagi komunitas ini untuk terus mencari. Meskipun, sesuatu yang berbeda ini pada akhirnya menjadi mainstream, saat banyak orang di luar komunitas menganggapnya sebagai sesuatu yang `cool` dan perlu diikuti.

Dinamika politik yang melingkupi ruang gerak masyarakat, senantiasa membutuhkan imajinasi baru dan pengorganisasian baru, untuk menemukan bentuk-bentuk politik baru. Budaya menjadi ruang di mana cara pandang dan berpikir radikal sekalipun, dapat diekperimentasikan dan dikembangkan. Dalam titik ini, zines memiliki arti untuk menciptakan ruang eksperimentasi tersebut. Zines menjadi media untuk `menagih` ruang-ruang itu. Ruang di mana masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang dapat dimaknai.

Dengan segala keterbatasannya dan hal-hal kontradiktif di dalamnya, zines menawarkan satu hal penting bagi orang-orang ataupun komunitas yang membutuhkannya. Zines menjadi ruang bebas, di mana imajinasi dan eksperimen atas cara berpikir baru terhadap idealisme, berkomunikasi membentuk eksistensi komunitasnya. Sebagai media komunitas, zines menjadi media bagi komunitas untuk mengalami pergulatan pemikiran dalam menciptakan perubahan dunia, seperti yang Eric Rudnick_pembuat zine Aftershock katakan, " To change the world. It may not work but it sure is fun trying." (Tarlen Handayani) ***



Tuesday, February 12, 2008

Dari Militansi ke Komodifikasi


JIKA komunitas underground di Indonesia cukup berpengaruh di Asia (Robby Nugraha, "PR", 12/2), Bandung tentunya memiliki kontribusi penting dalam memberikan pengaruh tersebut. Bila mencermati lebih jauh, apa yang berkembang dalam kurun waktu 14 tahun (1994-2008) dapat menjelaskan pengaruh tersebut.

Era `90-an

Tahun 1994 menjadi tahun penting bagi perkembangan generasi yang lahir di era `70-an dan tumbuh menjalani masa remajanya di era `90-an. Identitas kelompok underground ini sangat dipengaruhi oleh pergolakan sosial, politik, ekonomi baik secara makro maupun mikro.

Beberapa peristiwa penting di tahun 1994 seperti pemberedelan media oleh pemerintah Orde Baru, membawa semangat perlawanan dan gerakan underground (bawah tanah) yang memperjuangkan kemerdekaan berekspresi dan kebebasan berpendapat.

Pada tahun itu, aksi perlawanan muncul dalam bentuk demonstrasi, penerbitan media-media independen, dan pertunjukan-pertunjukan musik. Pada kurun waktu pertengahan `90-an, ruang seperti GOR Saparua menjadi tempat penting bagi pertemuan komunitas underground Bandung (baca: Dari Saparua, Tea Huis, Hingga AACC, Robby Nugraha, "PR", 12/2).

Situasi politik global pada saat itu pun turut mewarnai perkembangan komunitas underground Bandung. Pertemuan pemimpin negara APEC di Bogor tahun 1994 untuk mendeklarasikan dimulainya Perdagangan Bebas tahun 2002, mengundang reaksi perlawanan dari komunitas underground lewat penerbitan zine, media alternatif untuk perlawanan. Zine seperti Submissive dan Tigabelas, menjadi cukup berpengaruh saat itu.

Zine alternatif tersebut menjadi media propaganda komunitas mengenai anarkisme, pacifisme, dan gerakan-gerakan perlawanan terhadap wacana globalisasi yang didukung oleh WTO (World Trade Organization). Lirik lagu dari komunitas ini pun tak kurang menyuarakan hal yang sama.

Lahirnya Partai Rakyat Demokrat (PRD) pada tahun 1996, ikut mewarnai ideologi politik komunitas underground yang berkembang di Bandung (baca makalah: Urban Cartography V.01/Bandung Creative Communities, Editor: Tarlen Handayani, 2006). Ideologi politik ini membawa komunitas underground dalam kurun waktu pertengahan hingga akhir `90-an, terlibat dalam gelombang demonstrasi meruntuhkan rezim Orde Baru. Yel-yel "rakyat bersatu tak bisa dikalahkan...!" tidak hanya bergema pada saat demonstrasi berlangsung, namun juga pada saat konser-konser underground.

Gelombang perlawanan dan perjuangan atas kebebasan berekspresi dan mengemukanan pendapat membuat keragaman atribut penanda identitas komunitas menjadi pemandangan yang justru mengemuka. Atribut komunitas yang mencirikan identitas komunitas punk, hardcore, black metal, ska, brit pop beserta paham yang dianutnya, bisa bertemu tanpa menimbulkan friksi yang berarti. "Anak grunge, brit pop, ska, punk, bisa ngumpul bareng di Purna, Kintam, PI, DU (tempat-tempat meeting point komunitas underground Bandung era `90-an -red.)," jelas Arief `bp`, mantan vokalis Bitch Party, band punk yang eksis di tahun 1997-2002.

Suasana komunalitas dan kekompakan ini pada era `90-an, juga terasa sampai ke komunitas yang berada di pinggiran Bandung seperti Baleendah, Soreang, Dayeuhkolot. "Konser di GOR Soreang, GOR KNPI Baleendah, GOR Handoyo Dayeuhkolot, selalu penuh penonton dan aman-aman saja. Padahal, band-band yang jadi bintang tamu lumayan band-band tarik, Injected, Burgerkill, Keparat. Dulu penonton dan bandnya kerasa lebih kompak, kalau ada perkelahian itu hanya masalah kecil dan bisa diatasi," ungkap Dadang `Uzho` Sumarna, mantan manajer Sub Chaos, band punk paling berpengaruh di wilayah Bandung Selatan pada masa itu.

Suasana komunalitas yang kental membuat warna komunitas underground pada saat itu terasa lebih guyub dengan militansi yang kuat. Keterbatasan fasilitas seperti ruang pertunjukan dan modal untuk membuat acara, bukanlah penghalang. Dengan poster fotokopi dan rekaman yang diproduksi sendiri serta acara yang diselenggarakan dengan biaya kolektif, tanpa sponsor mewarnai semangat komunal. Tempaan situasi politik dan sosial ditingkat makro dan mikro membuat militansi komunitas menjadi karakter yang kuat dan mengemuka pada era `90-an.

Tahun 2000-an

Pergeseran karakter ini mulai terasa saat ruang gerak komunitas mulai dibatasi justru setelah era reformasi. Pertemuan dan konser komunitas underground mulai berkurang, saat akses terhadap ruang seperti GOR Saparua dibatasi dengan cara pengelola meningkatkan harga sewa sehingga tidak terjangkau lagi. Selain itu, faktor penting yang memengaruhi pergeseran karakter ini adalah perkembangan teknologi informasi khususnya akses internet yang semakin luas di akhir tahun `90-an.

Pada tahun 1995 saja, Bandung tercatat sebagai satu dari tiga kota pengguna jasa internet terbesar di Indonesia. Setidaknya dari 14.000 pemakai Internet di Indonesia, Bandung menduduki peringkat ketiga dengan 1.000 pemakai setelah Jakarta (10.000 pemakai) dan Surabaya (3.000 pemakai).

Akses internet kemudian memberi alternatif medium baru pada kelompok underground untuk tetap mengeskpresikan diri. Pergeseran meeting point pada awal tahun 2000-an dari tempat-tempat seperti Purna (Jln. Purnawarman), Kintam (Jln. Ranggamalela), dan DU (Dipati Ukur) ke warnet-warnet mengubah pola relasi sosial komunitas itu. Dari semangat komunalitas dan kolektivitas lambat laun bergeser menjadi lebih individual. Perubahan medium aktualisasi ini membuka peluang-peluang baru yang kemudian digarap secara serius oleh sebagian anggota komunitas.
Krisis ekonomi yang menghantam Indonesia setelah reformasi, pada tahun 1998, menjadi badai yang menguncang, tak terkecuali juga kehidupan komunitas-komunitas underground Bandung.

Musuh besar yang dihadapi bukan lagi kekuasaan tiran, namun kebutuhan hidup yang harus dipenuhi sehari-hari. Pada situasi sulit seperti ini, peluang-peluang baru justru terbuka. Distro dan clothing label justru mulai tumbuh subur di akhir `90-an dan semakin pesat di awal tahun 2000-an hingga pertengahan 2000.
Pada masa ini, pertunjukan musik dan acara-acara komunitas underground justru menyusut tajam dan terasa sampai ke pelosok Bandung seperti wilayah Bandung Selatan. Selain itu, pergesaran tren musik dunia dari era `90-an yang didominasi oleh aliran hard metal, trash metal, grunge, nu-metal, menjadi lebih eksperimental dengan memaksimalkan teknologi.

Perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi baru setelah badai krisis ekonomi yang melanda di akhir `90-an, membuat gelombang konsumerisme global menguat dan merasuk ke seluruh penjuru kehidupan. Identitas komunitas underground terkena pula imbasnya. Booming usaha distro dan clothing label Bandung mengubah atribut dan identitas komunitas menjadi lebih seragam.

Para pelaku bisnis ini yang berasal dari komunitas underground sendiri. Rekan komunitasnya menjadi peluang pasar. Hubungan komunalitas yang militan, kemudian berubah menjadi hubungan mutualisme dan negosiasi ekonomi untuk mempertahankan eksistensi komunal.

Kegiatan komunitas mendapat dukungan sponsor dari kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh anggota komunitas lain yang memilih jalur usaha untuk ditekuni. "Waktu belum banyak distro dan clothing, susah banget cari sponsor buat kegiatan atau promosi band anak-anak," kata Bonde Rizyan, yang sejak pertengahan `90-an malang melintang sebagai manajer dan pengelola event underground di Bandung. "Sekarang lebih mudah mencari sponsor, jadinya bisa saling mendukung antara band dan clothing label."

Pergeseran ini, menurut Bonde bisa dilihat sebagai perpindahan fase dari para pelaku komunitas underground yang ada di Bandung. "Sekarang, peluang untuk band-band indie sukses secara komersial lebih besar karena peluang untuk indie label pun lebih besar," kata Bonde yang juga mendirikan Palu Music Indonesia/Palu Records.

"Generasi sekarang sebetulnya lebih enak karena infrastruktur pendukungnya sudah lebih siap. Sekarang, yang namanya indie tidak lagi dipandang sebelah mata oleh media juga oleh industri. Generasi sebelumnya sering kali lost opportunity karena aksesnya tidak ada," tambah Bonde.

"Musik apa pun punya zamannya masing-masing. Tetapi dipertahankan oleh komunitasnya atau tidak, itu masalah lain," kata Uzho ketika menanggapi vakumnya band-band underground seperti Sub Chaos.
Menurut dia, eksistensi band dan komunitas underground sangat dipengaruhi oleh kepentingan yang ada didalamnya. Peristiwa Sabtu (9/2) di AACC yang menewaskan lebih dari 10 orang seolah menjadi interupsi bagi dinamika pergeseran karakter komunitas underground Bandung.

Peristiwa ini, bukan sekadar persoalan teknis penyelenggaraan acara atau kebutuhan ruang fisik pertunjukan yang memang sudah tidak memadai, namun yang lebih penting untuk direnungkan komunitas underground sendiri adalah bagaimana pergeseran karakter komunitas ini mampu dihadapi oleh komunitasnya tanpa menimbulkan benturan yang memakan korban jiwa. (Tarlen Handayani)***

Tulisan ini di muat di Pikiran Rakyat, 13 Februari 2008

Sunday, February 03, 2008

Mencintai Lelaki Beristri


Foto karya Roy Voragen


Satu hal yang harus kamu pahami, ketika berhubungan dengan lelaki beristri, kamu harus rela. Rela menjadi nomer kesekian. Rela menjadi bukan prioritas. Rela menerima sisihan waktu. Rela menerima label pengganggu rumah tangga orang lain. Rela memberi maaf atas semua alasan yang harus kau terima, saat si lelaki itu tak bisa menepati banyak hal yang ia janjikan padamu. Rela atas banyak hal. Rela atas semua resiko, ketika kau tau, lelaki yang kau cintai adalah lelaki dengan status NOT AVAILABLE alias Suami orang, alias bapaknya anak-anaknya.

Tentunya kau akan dituduh cari gara-gara, cari penyakit, parahnya perempuan ga bener, perempuan gatal, ketika kau lebih memilih mencintai lelaki beristri daripada lelaki lajang untuk kau kencani. Tapi kau juga bisa membela diri, siapa yang bisa melarang perasaan cinta yang datang?

Kerelaan ini, termasuk juga ketidak pahaman lingkungan ketika dalam hubungan itu,ketika kau berusaha keras menjaga dengan susah payah batas terjauh dari hubungan kalian dan tetap menjaganya di wilayah aman. Tetap saja, lingkungan akan menganggapmu sebagai si pelanggar batas. Pelanggar aturan dan norma masyarakat. PIhak ketiga dalam rumah tangga orang lain. Tertuduh utama dari sebuah peristiwa bernama perselingkuhan. Meski kau bersikeras, bahwa kau bisa menjaga batas aman, kau berhasil tidak bersetubuh dengan suami orang lain, tetap saja, kau adalah tertuduh utama. Kau adalah orang yang ketiga yang membuat lelaki beristri mencintai perempuan lain selain istrinya. Kau membuat lelaki itu tak setia pada istrinya.

Pada kenyataannya seringkali bukan kamu yang memulai semua kerumitan ini. Dan kenyataan pula bahwa kesetiaan seringkali bukan berarti memilih untuk tetap pada satu pilihan. Kesetiaan teruji justru saat mengalami beberapa pilihan. Manusia terlalu fana untuk bisa menjadi utuh atas satu hal. Begitu juga para suami. Seringkali si suami sendiri merasa ada bagian dalam dirinya yang kosong yang seringkali tak bisa dipenuhi oleh istrinya di rumah. Ia hanya butuh teman berbagi, teman yang bisa mengisi kekosongan itu. Tidak dengan seks. Cukup dengan sedikit antusiasme. Berbagi cerita atau sedikit berpegangan tangan saja sudah lebih dari cukup. Karena ia butuh teman yang bisa bergulat secara emosional dan pikiran, di tengah situasi rumah tangga yang semakin rutin dan datar. Apa yang salah dengan keinginan mencari teman pengisi kekosongan. Yang seringkali suami cari bukanlah cinta yang sama yang ia berikan pada sang istri, ibu dari anak-anaknya. Suami butuh cinta yang lain, untuk memberinya keyakinan diri bahwa cintanya pada perempuan lain bisa melengkapi dan mengukuhkan cintanya pada sang istri.

Lalu kau, perempuan lajang, penuh dengan semangat dan menawarkan antusiasme itu dan kebaruan-kebaruan dalam mengalami hidup. Selamat, kau terpilih. Kau tak perlu merayunya kau sudah terpilih. Seperti menang hadiah kejutan. Di tengah-tengah kesulitanmu bertemu lelaki yang bisa menjadi teman hidupmu, karena semakin kau membangun kualitasmu, semakin sulit kau menemukan pasangan. Seringkali kualitas pasangan yang kau butuhkan justru ada pada lelaki yang telah beristri. Dan saat kau bersepakat membuka pintu hatimu, kau sadar bahwa mengusir si suami dari ruang hatimu bukanlah hal mudah.

Lalu lelaki beristri datang dengan sejumlah pengertian dan membawa perasaan memahami yang kau cari. Bagaimana mungkin si lelaki tidak paham dan mengerti? dia sudah melewati itu semua. Kehidupan berumah tangga menyadarkannya, ternyata banyak hal yang tidak bisa ia dapatkan dari pasangannya. Kau seperti pasal-pasal tambahan yang belum tercantum dalam kontrak nikah yang dilakukan suami dengan istrinya. Kenyataan ini membuat lelaki beristri menjadi lebih pengertian pada lajang-lajang sepertimu. Siapa yang tak ingin dimengerti? siapa yang tak ingin menerima tawaran pundak, ketika kau lelah menyandang beban kelajanganmu dan ingin punya pundak untuk bersandar. Lalu apakah kau mesti menolak pundak itu sama sekali saat kau merasa begitu lelah? padahal kau bisa menerimanya untuk menyandarkan diri sejenak, mencoba mengerti substansi rasa nyaman yang kau temukan dari pundaknya, tanpa menuntut hal lain selain pundak. Lantas pertemuan seperti ini apakah menjadi pertemuan yang salah dan seharusnya dihindari?


Mungkin persoalannya bukan pada pilihan menghindarinya atau menerimanya, tapi ada pada kerelaanmu saat kau memutuskan bersandar sejenak di pundaknya. Jangan kau bayangkan pertemuanmu dengan lelaki beristri, membuatmu otomatis nyaman ketika bersandar padanya. Kenyamanan itu tergantung dari kerelaanmu padanya. Kerelaan untuk menyadari bahwa kapanpun dia bisa beranjak, mengambil pundaknya kembali ketika istri dan anak-anaknya menginginkannya. Kau tak bisa menuntut pundak itu hanya untukmu. Kau hanya meminjamnya sesekali dari istri dan anak-anaknya. Kau tak bisa menuntut hakmu atasnya, karena dia tak punya kewajiban apa-apa atasmu, kecuali kerelaannya untuk memberikan cinta di ruang kosong hatinya itu untukmu. Kerelaan yang menuntutmu memaknai cinta adalah memberi bukan meminta. Kau memberikan relamu padamu. Kau tidak memintanya, juga mungkin dia. Kalian sama-sama memberi dan membuat kekosongan masing-masing menjadi terisi. Meski sangatlah sulit mengukurnya, sejauh mana kekosongan masing-masing itu telah terisi.

Pada prosesnya, menjadi rela itu kadang terasa seperti kekosongan baru dalam dirimu. Kekosongan yang muncul dari kesadaran bahwa kau dikelilingi pagar yang jelas yang tidak bisa kau langgar. Kau terkurung dalam ruang mencinta yang jelas teritorialnya, tapi seringkali sulit bagimu untuk melihat batas wilayahnya karena hakmu atas rasa cintamu padanya, bertubrukan dengan pergulatan rasionalitas hak dan bukan hak. Apakah mencintaimu menjadi hak yang kau miliki? Juga mengalami cinta dengannya, apakah juga hak yang bisa kau alami? Itu persoalan pelik dan dilematis yang harus kau hadapi. Kerelaan akan menempatakan hakmu dalam tataran pikiran dan menjadikan cintamu itu sebagai sebuah platonisme dalam pergulatan pikiran dan rasa yang intens dan lebih banyak kau pendam sendiri.

Saat kau lelah untuk memendam intensitas itu dan itu membuatmu kemudian nekat menabrak batas itu untuk mendapatkan keintiman fisikal yang nyata dan ekspresif. Lalu kau terjebak pada tuntutan prioritas, waktu yang lebih banyak, kejelasan status, banyak hal yang akhirnya membuat perasaan cinta yang memenuhi ruang kosong itu, habis terkuras, karena kau sibuk dengan masalah teknis, bukan persoalan substansi. Kau kan dihantui persaan takut karena pada akhirnya kau menjadi pamrih dan menuntut. Kau merasa telah memberi lahir dan batin lalu kau berhak menuntut hal yang sama darinya. Padahal sejak awal kau tau, tuntutan itu sering kali sia-sia.

Bertahan pada substansi itu berarti kau rela, menjalani pergulatan pikiran dan rasa tanpa menuntut sensasi fisikal, saat kau sadar kau tidak bisa menyentuhnya dan meraih waktunya kapanpun kau mau. Pada tingkat ini, kau sedang dalam proses memperkaya batinmu. Memperkaya kesadaranmu sebagai lajang atas sebuah hubungan dan memperluas batin dan hatimu atas arti sebuah kerelaan dan ketulusan.

Pada akhirnya, memilih membuka pintu hatimu bagi lelaki beristri, mesti siap dengan semua konsekuensinya. Semua kerumitan dari hubungan itu, akan menempamu untuk bisa berlapang hati dengan semua kerelaan dan ketulusanmu itu. Kau akan menemukan makna mencintai, menemukan cara untuk menjadi fair pada dirimu juga pada dirinya_si suami orang. Setiap kerumitan dan kompleksitasnya, akan membawamu pada kualitas diri yang baru. Tinggal kamu tentukan saja, sejauh mana kualitas itu ingin kamu bangun dari hubungan ini. Kamu yang memutuskan.

Untuk yang mencintai dan dicintai lelaki beristri..

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails