Thursday, January 17, 2008

Berumur Tigapuluh Sekian


Biasanya memasuki umur 30 untuk seorang perempuan lajang akan menghadapi kepanikan-kepanikan ga perlu. Kalaupun kepanikan itu datangnya bukan dari perempuan yang bersangkutan, datangnya dari linkungan sekitarnya: keluarga, teman-teman, tempat kerja. Apalagi yang bisa membuat panik selain soal pasangan. Lingkungan sosial biasanya memang lebih mengkawatirkan soal pasangan ini daripada masalah kontribusi sosial sang perempuan terhadap lingkungannya. Ga punya karir yang jelas juga ga papa yang penting kamu punya pasangan. Dan setelah menemukannya, segeralah menikah.

Begitulah nasib sebagian (besar) perempuan yang memasuki dan menjalani usia 30 sekian ini. Seorang baru-baru ini disinisi keluarganya ketika ia menolak lamaran seorang pria. Usia temanku, 34 tahun dan menjomblo beberapa tahun terakhir setelah putus dari pacarnya. "Udah 34 tahun kok masih bisa nolak cowo," begitu kira-kira komentar sinis keluarganya yang lebih panik daripada temanku sendiri. Sementara alasan temanku itu menolak si cowo, pertama, karena cowo itu ga suka seni dan ga nyambung diajak ngobrol seni. Sementara temanku sehari-hari berurusan dengan dunia seni, karena dia bekerja di sebuah galeri ternama di Bandung. "Nanti gue mau ngobrol apa sama dia?" begitulah pertanyaan besar temanku ketika membicarakan ini denganku. Kedua, temanku ini baru kenal dan itupun atas inisiatif sodaranya yang juga ikut-ikutan panik dengan kelajangannya.

Bagi keluarganya, urusan 'nanti ngobrol apa' bukanlah hal prinsip, karena mereka mereka berkeyakinan obrolan itu selalu bisa di cari. Sementara bagi temanku, wawasan pasangan adalah hal prinsip yang bisa menentukan seseorang layak menjadi pasangannya atau tidak.

Dalam kondisi yang berbeda, temanku yang lain putus dengan pacarnya_ bukan karena pacarnya itu kurang wawasan. Mereka ada pada level keilmuan dan profesi yang sama. Namun, persoalan lain yang menurut temanku yang satu ini cukup prinsip dan sering kali jadi perkara buatku dan teman-temanku adalah masalah akselerasi "passion". "Dia ga bisa ngimbangin semangatku," begitulah keluhan klasik yang seringku dengar diantara teman-teman sebayaku yang mengedepankan passion saat mengerjakan banyak hal: karir, percintaan, hobi, dan hal lain yang bisa mengisi hidupnya. Ternyata wawasan yang seimbang pun belum tentu menjamin passion yang sama.

Mmm.. dari dua hal ini aja, kepanikan lingkungan sosial bertambah lagi dengan kebingungan atas pertanyaan: 'apasih maunya perempuan-perempuan ini? passion pasangan aja jadi masalah prinsip, Duh..! yang jadi orang tua udah jelas bingung. Jaman mereka dulu, hitung-hitungan passion ga ada dalam syarat bagi pasangan. Dan bagaimana mungkin anak-anak mereka lebih mementingkan passion dan rela menjomblo, daripada mendapat pasangan yang ga punya semangat dan passion.

Lagi-lagi hal ini bukan generalisasi atas kondisi dan problema para perempuan lajang tiga puluh sekian itu. Banyak juga yang bisa hidup bahagia dengan pasangan yang ga nyambung passion dan wawasannya. Sebagai individu yang butuh aktualisasi diri, kesempatan yang datang lewat pendidikan, lingkungan sosial yang luas, akses yang berlebih, pertimbangan memilih pasangan menjadi tidak sesederhana yang dipikirkan generasi orangtuanya. Berpasangan tidak lagi persoalan hidup bersama lalu salah satu melebur dalam hidup pasangannya. Berpasangan kemudian juga menjadi persoalan bagaimana kehidupan bersama adalah tempat aktualisasi bersama dimana masing-masing bisa tumbuh dan berkembang sesuai potensinya masing-masing tanpa merasa saling mengancam dan terancam. Itu sebabnya wawasan menjadi penting, passion dan semangat menjadi pertimbangan.

Silahkan saja jika tidak sepakat dengan hal ini. Mari kita bicarakan bersama. Semakin bertambah umur, ternyata semakin sulit menemukan teman bicara untuk hal-hal seperti ini.

:)
untuk sahabatku yang berjuang mendapatkan hidupnya kembali..

Tuesday, January 01, 2008

Tak Ada yang Hilang, Semuanya Hanya Berubah..


Drawing karya R.E. Hartanto

"Aku bagian dari alam semesta, dan rumah jiwaku adalah bagian terkecil dari semesta itu sendiri. Ketika menyadari aku bagian dari yang lain, hidupku mulai saat ini adalah persoalan bagaimana aku membaginya pada yang lain. Apakah ini akan jadi kebohonganku yang berikutnya? Jika ternyata aku gagal menepatinya, yang jelas aku ga akan menyangkalnya."

Aku menulis ini pada 1 Januari 2007. Saat itu, aku merasa diriku ini seringkali berbohong dengan sederet resolusi di awal tahun yang seringkali ga kupatuhi. Saat itu, aku akhirnya menulis penanda perjalanan hidupku yang pada tahun 2007 lalu genap 30 tahun dimana aku mulai membangun rumah jiwaku yang baru,

Tanpa terasa, aku genap memutari waktu. Kembali bertemu tanggal 1 Januari 2008. Lingkar tahun usiaku bertambah satu. Melihat lagi apa yang terjadi dalam lingkaran waktu satu tahun lalu, rasanya menjadi luar biasa. Tahun 2007 adalah tahun perubahan. Seperti quote favoriteku dari Morpheus Lord of Dream, "everything change, but nothing really lost". Banyak hal tak terduga terjadi di tahun 2007 dan itu beneran mengubah arah dan tujuan hidupku.

***

Peristiwa besar yang tak kuduga-duga adalah kepindahan tobucil dari kyai gede utama juga common room yang tidak lagi menjadi bagian dari hidupku. Kepindahan dan perpisahan ini, membawa ku pada jalan baru, tempat baru, tujuan baru, arah baru, tantangan baru dan kesadaran tentang pentingnya menjadi diri sendiri. Mendefinisian apa itu tujuan bersama, cita-cita bersama, komitmen bersama, negosiasi, memanfaatkan dan dimanfaatkan, menjadi oportunis atau memilih jalan sendiri dan menjadi diri sendiri, bersetia pada keyakinan, bersabar pada proses.. banyak.. banyak sekali pelajaran berharga dari pengalaman ini.

Dan tempat baru juga berarti memulai kehidupan baru, seperti merestart semuanya dari awal lagi, namun semuanya ternyata tak seberat yang kukira. Keyakinan bahwa pintu baru selalu membawa jalannya sendiri, menuntunku pada banyak jalan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Semua seperti menunjukan pada keyakinan, bahwa apa yang kuputuskan sebagai hidup baru di tempat baru adalah jalan yang tepat. Banyak kemudahan, pertolongan dan ketulusan yang membuat jalan itu mudah untuk ditempuh.

Sehingga kemudahan dan ketulusan yang hadir, membuat semua kemarahan, kesedihan dan kekecewaan yang kurasakan atas pengalaman ini, menjadi tak ada artinya. Tidak ada yang hilang sesungguhnya, semua hanya berubah dan aku menemukannya kembali dalam rasa yang berbeda.

***
Lalu, aku sempat berjarak sebentar dari Bandung, kembali pada sahabat dan menemukan ketulusan darinya. Menyadari sisi diriku yang lain sebagai tante dari bocah-bocah yang sudah kuanggap sebagai keponakanku sendiri. Aku belajar melayani mereka dengan tulus, menemukan kembali keberanian untuk percaya dan bersabar. Kehangatan persahabatan, kehangatan kasih sayang yang tulus yang menganggapku tante kesayangan mereka, menepis semua rasa takut saat jalan baru dan pintu-pintu baru itu harus ku tempuh. Aku merasa beruntung menemukannya. Aku merasa diriku menjadi penuh dengan cara yang berbeda.

***

Begitulah, ada perpisahan, namun ada pula perjumpaan. Perjumpaan dengan orang-orang yang tak pernah kukenal sebelumnya, atau bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah berpapasan, dan kini berpapasan kembali dalam situasi dan rasa yang berbeda. Dan setiap perjumpaan selalu membawa pesannya sendiri. Membawa hal baru yang memberi kontribusi pada perubahan itu. Beberapa perjumpaan memberi kesan mendalam pada hidupku. Perjumpaaan di lorong hati , ketika sadar ada saat dimana diri tak sanggup menjalaninya sendirian. Perlu tangan lain untuk saling berpegangan, perlu diri lain untuk saling berpelukan saat menelisik bagian diri yang selama ini sering terabaikan dan enggan untuk dijenguk..

Terima kasih untuk berjalan bersama menyusuri lorong hati ..
Terima kasih untuk semua waktu sarapan yang susah payah kita temukan..
Terima kasih telah mengajarkan aku bagaimana menjadi fair pada hidupmu, hidupku, pada setiap kesalahan yang pernah kita buat.. dan memaafkannya..
.....


***

Dan setiap perubahan selalu membawa lompatannya sendiri. Semua perubahan yang terjadi mengantarku pada satu lompatan besar dalam hidupku. Kesempatan besar datang, menutup tahun 2007 dan mengantarku memasuki tahun 2008, dengan kebaruan-kebaruan hidup yang telah menunggu di depan sana.

Setiap hari adalah hari baru, dimana jiwaku ini, membangun rumahnya yang baru dari bongkahan-bongkahan pengalaman baru setiap harinya. Setiap hari adalah kesempatan untuk menyusunnya menjadi rumah yang nyaman dan hangat bagi jiwaku juga bagi jiwa-jiwa lain yang berbagi hidup didalamnya...

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails