Sunday, December 28, 2008

Hidup di Bandung Dasawarsa 80an - 90an

'Burako alm. jegger bonpis' foto by bapakku

Tiba-tiba saja, Bebeng bertanya: "Hey Len, maneh teh lainna budak SMP 20? Atuh gudang beas?" (hey len, bukankah kamu anak SMP 20? Gudang beras ya?). Aku yang ditanya begitu langsung balik menuding Bebeng " Hah? maneh teh budak 20 oge?" tawaku dan tawa Bebeng meledak. Tiba-tiba saja, aku dan Bebeng (yang setiap hari nongkrong di kantor AJI Bandung alias tetangga kamar tobucil) punya kesamaan sejarah, karena bersekolah di SMP yang sama. SMP yang sama sekali bukan SMP favorit (biasanya SMPN 4 tetangga kami, meledek anak-anak SMPN 20 dengan sebuatan sekolah gudang beras. SMPN 20 ini terletak persis di stasiun Cikudapateh).

Kenangan kami, ternyata ga jauh beda. Tentang: betapa 'beling'nya daerah kami di jaman remaja dulu. Anak-anak SMPN 20 Bandung (Jl. Centeh, Bandung) pasti ga asing dengan daerah-daerah di sekitarnya: Cinta Asih, Samoja, Gang Warta, Cicadas, Cibangkong, Karees, Cibunut, Alani, Kosambi, Babakan Garut), kosambi, Cikaso, daerah-daerah 'bronx' yang sarat dengan urban legend yang kami bawa setiap hari ke sekolah. Membanding-bandingkan kehebatan preman di daerah masing-masing adalah pembicaraan sehari-hari, termasuk juga bagaimana modus operasi preman-preman itu dan gaya mabuknya yang seringkali mengundang tawa saat menjadi bahan cerita. Perkelahian antar kampung yang seringkali lebih heboh saat diceritakan daripada kejadian sebenarnya. Dongeng-dongeng hantu setempat yang bergentayangan di kampung kami masing-masing

Hidup di gang kampung kota seperti yang aku dan Bebeng alami, selalu menyisakan banyak cerita. Ada memori kolektif yang ternyata mewarnai kehidupan komunal di daerah kami masing-masing dan itu tak lepas dipengaruhi semangat zamannya. "Jangan-jangan Persib kalah terus karena sekarang udah ga ada lagi yang namanya Domba Cup. Padahal ceuk urang mah, Domba Cup aya hubungan nana jeung pembinaan sepak bola sejak dini," Bebeng menganalisis. Mungkin saja. Aku ingat, bagaimana antusiasme warga di tiap RW, setiap musim Domba Cup tiba. Karena RW yang menang nanti, bisa mewakili lomba sepak bola di tingkat yang lebih besar lagi dengan trophy walikota dan Domba yang lebih montok. Saat musim Domba Cup tiba, yang bertanding secara fair bukan hanya tim kesebelasan yang bertanding, namun juga warga sebagai supporternya juga belajar fair untuk merima kekalahan tim mereka. Meskipun perkelahian antar kampung seringkali tak bisa di hindari juga. Apalagi jika kedua belah pihak tak sepakat dengan hasilnya.

Pada saat itu, cerita kekerasan yang menjadi bagian dari kehidupan di kampung kota seperti tempat tinggal kami, justru bukan sesuatu yang dianggap mengakhawatirkan, namun lebih menjadi bagian dari dinamika kehidupan sehari-hari. Bumbu yang membuat hidup di kampung kota seperti kebon pisang atau babakan garut menjadi sedap dan meninggalkan kesan rasa di lidah. Ada sistem sosial dalam masyarakat yang mengotrol sampai sejauh mana kekerasan itu dapat di tolerir. Dan pada masa-masa itu peran militer (daerahku sangat dekat dengan KODIM III Siliwangi dan daerah Bebeng dekat dengan SESKOAD) terasa kuat dalam mengontrol stabilitas keamanan warga. Saat itu, nasib maling jemuran di kampungku, berakhir di tangan tentara piket di KODIM III Siliwangi. Sesekali juga warga asrama Polisi (di sebelah kebon pisang yang sekarang jadi ITC Kosambi) tawur dengan warga asrama ARHANUDRI (jalan Menado), namun semua itu masih dalam kendali dan tidak menimbulkan riot.

Ada toleransi dan ada kesadaran untuk saling menjaga pada dasawarsa itu. Entahlah, apa ini bisa dibilang sisi positif rezim Orde Baru? atau karena masyarakatnya lebih dewasa pada saat itu. Dan semakin kesini (tahun 2000-an) masyarakat semakin paranoid dan mudah panik. Aneh juga. Rasanya iklim kebebasan paska reformasi malah berbanding terbalik dengan kemapuan warga untuk bertoleransi pada dinamika kehidupan keseharian.

Lomba kebersihan antar kampung atau jumat bersih dimana warga bersama-sama kerja bakti membersihkan lingkungannya, kukira sekarang jadi hal yang sangat langka terjadi di Bandung. Kemampuan hidup berkomunitas dalam lingkungan rukun tetangga atau rukun warga, semakin lama, terasa semakin tumpul. Selain semangat zaman yang melunturkan semangat kebersamaan warga, krisis kepemimpinan di tingkat lokal, itu juga jadi persoalan serius. Tumbangnya Orde Baru ternyata juga ga membuat para pemimpin lokal tanggap menyikapi perubahan ini.

Rasanya hanya beberapa hari lagi 2009 menjelang dan waktunya untuk memilih para pemimpin baru kan tiba. Kehidupan seperti apa yang akan mereka tawarkan lima tahun mendatang? kita tak pernah tau, karena semua slogan yang menjadi sampah visual kota Bandung itu, kebanyakan juga hanya menipu. Percuma saja MUI akan mengharamkan golput, karena apa yang bisa di harapkan dari para pemimpin yang tidak tau siapa yang dipimpin dan kehilangan kemampuan untuk bertoleransi pada perbedaan dan dinamika warganya. Maka obrolan mengenang masa lalu (20 tahun lalu itu) menjadi obrolan menghibur yang setidaknya (semoga) bisa mencegah skeptisisme warga Bandung terhadap para pemimpinnya.

Gudang Selatan, 20:44

Saturday, December 27, 2008

Langit Usai Gudang Selatan

Foto by tarlen

Setiap senja yang tenggelam,
selalu membawa rasa yang berbeda
tentang hari ini, apa yang akan usai
dan dimulai kembali esok pagi..

gudang selatan, 26 Desember 2008

Friday, December 12, 2008

Langitnya, Masih Langit yang Sama

Foto by tarlen

Suatu hari, teman baikku menenangkanku saat aku panik berat karena akan menempuh perjalanan penting dalam hidupku. "Tenang saja, langitnya masih langit yang sama, Tuhannya juga masih Tuhan yang sama, bilang saja pada langit, pada angin kalo kamu butuh ditemani, maka saya akan datang padamu lewat langit, lewat angin, lewat dedaunan..."

Seketika saja, semua kepanikan menguap entah kemana. Dan benar saja, di tempat asing itu, saat aku merasa sendirian, aku memandangi langit. "Hey langit, apakabarmu? Aku rindu rumah, aku rindu teman-temanku, sampaikan salamku pada mereka ya.." Begitu pula pada angin "Angin, kirimkan bau bunga sakura di musim semi ini pada ibuku, pada orang-orang yang kucintai, aku ingin mereka merasakan keindahannya dan harumnya.."

Sejak itu, aku meyakini, semesta selalu hadir dan ada. Dia terhubung dengan hidup dan kehidupan yang kujalani. Dia ada menaungi perjalananku. Meski manusia seringkali mencoba memutuskan keterhubungan itu, tapi semesta selalu setia menemani.

Pada langit malam gudang selatan, dan bulan yang termaram terbalut awan, aku menitipkan pesanku "sampaikan pada resah tidurnya.. aku berdoa untuk kebahagiaanmu selalu..pada semesta kuminta, nyenyakkan tidurmu, selimuti dengan mimpi yang indah.. langitmu, masih langit yang sama denganku.. saat kita berpisah dan saat kita bertemu lagi, nanti..."

gudang selatan, 23:25

Sunday, November 30, 2008

Hatiku Di Antara Si Pembawa Rasa Nyaman Vs Si Roller Coaster

Foto by tarlen

Mana yang sebaiknya di pilih? lelaki yang memberikan rasa nyaman dengan gairah yang statis, atau lelaki yang menawarkan banyak petualangan mengairahkan, tapi bikin hidup berjalan seperti roller coaster? Pertanyaan ini, kerap kali muncul di usia tiga puluh sekian seperti yang aku rasakan sekarang, ketika akan menentukan pasangan hidup seperti apa yang cocok untuk hidupku. Kalau pertanyaan ini adalah sebuah pilihan, tentunya ini bukan pilihan yang mudah. Sulit. Bahkan teramat sulit. Karena pilihan ini berhubungan dengan karakter calon pasangan yang tentunya akan berubah di kemudian hari.

Bagi perempuan lajang yang intens dalam pencarian makna hidup, punya pasangan yang memberi rasa nyaman itu, penting artinya. Nyaman dengan dirinya, nyaman dengan pencapaiannya, secara psikologis dia adalah pribadi yang matang dan sudah bisa berdamai dengan banyak hal dalam hidupnya, bahkan berdamai dengan hal yang paling sulit untuk diterima sekalipun. Baginya, berdamai itu sama dengan menyadari bahwa berfokus pada sesuatu yang tak mungkin dia dapatkan dalam hidupnya adalah hal yang sia-sia, lebih baik dia menerima dan menikmati hal-hal yang bisa dia dapatkan dalam hidup. Lelaki seperti ini telah menemukan kebijaksanaan atas dirinya.

Mengapa lelaki seperti ini penting bagi perempuan sepertiku? karena dengan lelaki seperti ini, aku ga akan dipusingkan dengan persoalan-persoalan yang muncul akibat persaingan eksistensi. Dia menyadari betul eksistensinya dan nyaman dengan itu. Sehingga ketika aku membangun eksistensiku (apakah eksistensi itu sejajar dengannya ataupun dianggap melebihi dirinya), dia tidak akan merasa terganggu, malah biasanya tanggapannya cukup positif terhadap apa pencapaianku. Karenanya, lelaki seperti ini memberikan rasa nyaman yang merupakan pijakan penting untuk terus berkarya dan berprestasi.

Lelaki pembawa rasa nyaman ini karena memiliki kematangan emosional, biasanya tidak lagi terlihat mengebu-gebu. Dia bisa terlihat sangat tenang dan dewasa dalam banyak masalah. Kemapanan emosi dan eksistensinya membuat gairah atau antusiasmenya terhadap banyak hal, terlihat datar-datar saja. Buatnya, gairah yang menggebu-gebu, sudah bukan lagi masanya. Fokus menjadikan dia ga mudah, 'tergoda' atau meledak-ledak pada hal-hal baru. Baginya mempertahankan fokus jauh lebih penting, ketimbang menampilkan kegairahan pada hal baru yang beresiko mengganggu fokusnya.

Ketenangan dan disiplin untuk tetap fokus seperti ini, kadang malah menjadi pemicu masalah. Perempuan sepertiku, lebih senang dengan antusiasme dan gairah yang menunjukkan semangat eksplorasi dia pada hal-hal baru. 'Ketidak antusiasannya' itu seringkali membuat aku berpikir bahwa dia tidak punya 'frekuensi semangat' yang sama. Bahkan sikap seperti ini seringkali menimbulkan penafsiran bahwa dia 'tidak memahami' semangatku dan cenderung dingin pada kegairahanku terhadap hal-hal baru. Padahal aku berharap mendapat sambutan hangat terhadap hal-hal yang menjadi minat dan antusiasku.

Berhubungan dengan lelaki seperti ini bagi perempuan sepertiku, terasa nyaman-nyaman saja, tapi juga tidak banyak tantangan yang berarti. Karena persoalan yang muncul lebih banyak dari pihakku daripada pihaknya. Jalannya hubungan seperti perjalanan di jalan tol dengan kendaraan yang nyaman. Aku cenderung merasa bosan. Kebosanan yang disebabkan karena aku merasa hidup menjadi tidak lagi penuh tantangan dan antusiasme. Semuanya terasa berjalan lancar, tapi juga dalam emosi yang datar. Rasa bosan yang juga muncul saat dia dengan mudah mengerti dan memahami apa yang dilakukan olehku 'tanpa perjuangan'. Hidupku jadi terasa begitu mudah. Aku bagi lelaki seperti ini, seperti perempuan yang ga tau berterima kasih karena ga bersyukur dengan semua kebaikan dan pengertian lelaki seperti ini. Kefrustasian yang muncul dalam diriku justru karena alasan yang menurut banyak orang ga masuk akal: "Karena dia terlalu baik" dan membuat aku mati kutu, ga menemukan alasan untuk berargumen dengannya.

***

Bagaimana dengan si lelaki roller coaster? Bagiku, lelaki ini cukup menggairahkan, karena dia kuanggap mempunyai antusiasme yang sama. Dan sama-sama dalam masa-masa pencarian yang menggelisahkan. Dia belum sepenuhnya yakin dengen pencapaiannya dan yakin benar dengan eksistensinya. Lelaki seperti ini adalah lelaki yang merasa belum menemukan definisi dirinya. Masih berada dalam fase mempertanyakan banyak hal bahkan mempertentangkan sisi baik dan buruk dari dirinya sendiri. Daya tarik utama lelaki seperti ini bagiku ada pada gairah pencariannya tentang makna hidupnya. Dia merasa belum selesai dan belum menemukan damai dengan dirinya sendiri. Pertemuannya dengan perempuan sepertiku menjadi penting untuknya untuk merasa bahwa dia tidak sendirian. Bahwa ada orang yang dia harapkan bisa mengerti dengan proses pencariannya yang sulit dan menggelisahkan ini. Begitu juga aku, merasakan hal yang sama. Secara emosional, kami ada pada frekuensi diri yang sama.

Baginya hidup adalah sesuatu yang mesti dia taklukan. Berdamai adalah hal yang masih jauh darinya, berdamai pada saat-saat seperti ini berarti juga menyerah terlalu cepat. Jika ada jalan yang lebih menantang dan lebih sulit, mengapa memilih jalan yang mudah. Berjalan bersamanya, seperti menaiki roller coaster terpanjang di dunia. Butuh kesiapan dan ketahanan yang besar, karena masing-masing baik aku dan dia sama-sama penuh dengan kejutan. Pengembaraan pikiran bisa sangat sangat jauh dan tak terbatas, bahkan sampai pada kemungkinan-kemungkinan pemikiran tentang hidup yang enggan di rambah oleh kebanyakan orang.

Meski menjanjikan gairah petualangan hidup yang tak terlupakan, lelaki seperti ini membutuhkan toleransi yang sangat-sangat besar. Jika pada si pemberi kenyamanan, aku tak perlu susah payah meminta untuk dimengerti, pada si roller coaster, justru sebaliknya, dimengerti adalah sebuah perjuangan. Masing-masing baik aku dan dia bisa sama-sama bersikukuh pada cara pandang pencarian yang berbeda, meski tujuannya sama. Kecenderungan untuk mau memang sendiri, terjadi bukan hanya dari pihaknya, tapi dari pihakku juga. Bagi kami, perjalanan bersama ini seperti sebuah petualangan bersama yang sering kali juga terasa sangat kompetitif. Masing-masing berusaha mengumpulkan pemahamanan sebanyak-banyaknya, tapi seringkali lupa untuk berkompromi, bahwa pencarian ini pada awalnya sepakat dilakukan bersama-sama, meskipun kedua belah pihak mengumpulkan kepingan-kepingan yang berbeda.

Persoalan yang seringkali muncul berhubungan juga dengan semangat dan mood yang muncul pada waktu yang berbeda. Masing-masing seringkali ga sabar, untuk menunggu satu dengan yang lain. Perasaan meninggalkan dan ditinggalkan, muncul atas alasan dan kekawatiran yang berlebihan.

Masing-masing tahu, bahwa perjalanan bersama ini adalah perjalanan yang sangat istimewa. Tidak mudah menemukan orang yang mau berjalan bersama dalam fase pencarian definisi diri yang menggelisahkan dan berat. Sehingga kecenderungan untuk menjadi posesif menjadi lebih besar, karena kawatir kehilangan salah satu. Baik aku maupun dia seperti sedang menjalani sebuah ujian bersama yang sulit dan berat. Pertaruhannya besar. Lulus atau gagal bersama-sama, atau lulus dan gagal salah satu dan satunya harus siap di tinggalkan, karena perjalanan pencarian tidak banyak memberi waktu untuk saling menunggu. Hidup bergerak pada porosnya masing-masing.

Akan sangat menyenangkan, jika bisa lulus bersama-sama, karena baik aku dan dia bisa merasakan pencapaian bersama. Seperti dua orang semi finalis yang masuk final bareng-bareng dalam kompetisi mengatasi tantangan dan rintangan. Yang menyulitkan adalah justru perbedaan cara yang sejak awal sebenernya sudah disadari. Tujuan yang sama, seringkali membuat lupa, bahwa cara yang berbeda justru memperkaya hasil yang dikumpulkan dari pencarian itu.

***

Di tengah menyelesaikan tulisan ini, sahabatku menyela: "tapi kan, si pembawa aman juga dulunya si roller coaster". Oh iya ya.. Aku hampir lupa itu. Saat lelaki roller coaster menemukan batas ketahanan dari daya pencariannya, dia akan sampai pada titik berdamai pada apa yang telah ia dapatkan dan menerima bahwa tidak semua hal yang ingin dia temukan, bisa dia temukan. Pada usia dan kematangan tertentu, si roller coaster yang penuh dengan gairah dan kegelisahan itu, akan menjadi arif dan bijak terhadap dirinya sendiri. Dan mungkin aku pun yang sebelumnya suka merasakan roller coaster, suatu saat akan lebih memilih perjalanan yang nyaman. Bukan karena lelah, tapi karena ingin bisa berkhidmat pada apa yang telah didapatkan dari pencarian selama ini. Mungkin pada saat itulah, aku sendiri menemukan fokus dalam hidupku.

Kapan saat itu akan tiba? Kurasa hatiku yang akan mengatakannya, "ini saatnya untuk fokus pada apa yang telah aku dapatkan dalam proses pencarian itu dan mengkhidmatinya." Hatiku itu, meski dia kerap kali kesakitan, kelelahan, kebingungan dan sejuta rasa yang lain, karena semua perjalanan ini, tapi dia (hatiku) itu menjadi kaya dengan rasa. Hatiku itu belajar jauh lebih cepat daripada kemampuan pikiranku dalam mencernanya. Ku yakin, saat hatiku mengatakan ini saatnya, hatiku juga yang akan memutuskan siapa yang akan kupilih sebagai teman hidupku. Si pemberi rasa aman atau si roller coaster? Jika dikemudian hari pikiranku menganggap pilihanku bukanlah keputusan yang tepat, hatiku selalu siap menerima apapun rasa yang ditimbulkannya. Karena hatiku adalah rasa nyaman dan rasa roller coaster itu sendiri.

***

Hai hati, apakabarmu hari ini? Jadi siapa yang kau pilih untuk diriku hari ini?

Thursday, November 06, 2008

We Are Also What We Have Lost

Foto by tarlen

Alejandro Gonzales Innarittu menulis kalimat tadi dia akhir film pertama dia, Amores Perros yang menang di banyak festival. Sebuat kutipan yang Innarittu tujukan bagi anaknya yang meninggal sebelum film itu membawa perubahan besar dalam hidup Innarittu, sebagai sutradara yang patut diperhitungkan dalam pentas perfilman dunia. Itu Inarrittu.

Kehilangan besar dan perubahan besar (kalau tidak besar, sebut saja penting) dalam hidup, juga aku alami. Aku ingat, kelas 3 SD adalah masa terindah dalam rentang 6 tahun pendidikan dasar yang kutempuh. Di kelas 3 SD itu, aku punya guru yang menyadarkan aku pertama kalinya bahwa aku punya bakat dibidang seni. Dia selalu memberikan apresiasi yang positif terhadap karya-karyaku. Begitu pula teman sebangkuku. Aku ingat namanya Ranti. Aku merasa punya teman yang mengerti dan bisa berbagi keceriaan masa-masa terindah di kelas 3 SD itu. Namun, semua ga berlangsung lama, karena di semester kedua, Ranti pindah sekolah dan aku ga pernah tau lagi bagaimana kabarnya sampai detik ini. Begitu pula guruku itu yang kemudian pindah mengajar di sekolah lain. Setelah itu, masa SDku ku jalani biasa saja. Tapi persaan kehilangan itu ga pernah aku lupakan. Dia membawa kenangan indah tentang masa sekolah dasar sekaligus kesedihan.

Setelah itu, kehilangan besar, paling besar dalam hidupku datang di usia 18th. Peralihan masa SMA ke masa kuliah, ga bisa menerima dengan mudah lingkungan kampus yang menurutku saat itu ga kondusif buat perkembanganku. Saat itu, aku merasa satu-satunya orang yang bisa mengerti dan menjadi sahabat baikku adalah bapakku. Tapi, toh dia juga harus pergi menghadap Tuhan. Dan kehilangan ini pula yang membentukku sedemikian rupa. Mendeformasi karakterku dan diriku sampai pergulatan berdamai dengan kehilangan ini, akhirnya membentuk diriku yang baru. Begitu juga dengan perjalanan menggenapi mimpi terbesar masa remajaku, saat kembali dengan lingkaran diriku utuh, ada yang harus aku lepaskan karena memaksanya mengerti adalah tindakan yang sia-sia belaka. Meski sedih, tapi untuk bisa melanjutkan perjalanan yang masih panjang itu, ada yang harus di relakan untuk lepas, dibiarkan bebas karena aku tak bisa memaksanya berjalan bersama senantiasa.

Dalam sejarah tobucil pun, perubahan besar di tobucil, selalu disertai dengan kehilangan. Perpindahan dari Trimatra Center ke Kyai Gede utama juga disertai kehilangan. Gitu juga dari Kyai Gede Utama ke jalan Aceh, kehilangan menyertai perpindahan itu.

***

Kehilangan dan perubahan yang sepertinya berulang terjadi dalam hidupku, membuatku merenung. Kenapa harus kehilangan yang menyertai setiap perubahan? Apa tidak cukup hanya perubahan saja? Kenapa mesti dengan kehilangan? Pertanyaan setengah menggugat seringkali muncul dan menggangguku. Setiap kehilngan itu berhadapan denganku, setiap kali juga aku sesuatu tumbuh dalam diriku, seperti menggenapi dan mengisi lubang yang ditinggalkan dari rasa kehilangan itu.

Sesuatu yang tumbuh yang kemudian beberapa waktu terakhir ini, aku sadari sebagai diriku yang menjadi utuh. Aku ada karena kehilangan itu. Ketika harus melepaskan seseorang yang kucintai karena aku harus berbuat benar pada diriku sendiri, kesedihan yang ada justru memunculkan kelegaan karena aku berani berbuat benar pada diriku sendiri, berbuat adil pada hidupku dan hidup orang yang kulepaskan. Tanpa sadar, aku mengukuhkan diriku, mengukuhkan keyakinan atas diriku sendiri. Tidak setiap hari keberanian untuk berbuat benar pada diri sendiri ditemukan, dan ketika keberanian itu datang, rasanya bodoh saja jika harus menghindarinya.

Seringkali apa yang sebelumnya ada dan mungkin dimiliki terasa berharga, justru ketika semua itu hilang dan lepas. Itu sebabnya, setiap moment kehilangan, selalu mengajarkan bagaimana menghargai dan berterima kasih pada apa yang ada di hadapanku dan disekelilingku saat ini. Tak ada lagi alasan untuk menyia-nyiakannya, tidak mengapresiasi atau berterima kasih karena keberadaannya. Kehilangan membuatku menyadari apa yang kemudian melengkapi keberadaanku sebagai individu. Meski yang terpenting adalah membuatku menyadari siapa aku, mengapa aku ada untuk diriku sendiri dan orang lain dan apa yang menjadi tugasku sebagai manusia. Kehilangan membuatku menghargai setiap detik demi detik yang mengantarkan kesempatan untuk membangun keutuhanku sebagai individu.

Kesadaran lain yang kemudian membesarkan hati, bahwa sebenernya aku ga sungguh-sungguh kehilangan. Kekecewaan yang kurasakan atas kehilangan itu, hanyalah sementara. Setiap perjumpaan dan perpisahan, seperti sebuah putaran etape pada lomba lari. Setiap orang yang bertemu pada setiap perjumpaan itu, punya tugas masing-masing sesuai dengan fase hidup yang kuhadapi. Mereka masing-masing datang dengan membawa pesan dan tugas untukku. Tidak ada yang sungguh-sungguh hilang atau pergi, mereka akan selalu kembali dalam wujud, bentuk dan pesan yang berbeda. Tugasku adalah merangkai pesan-pesan itu untuk menjawab siapa aku dan untuk apa diriku mengada.

Wednesday, September 17, 2008

Kacamata Baru

Foto by tarlen

Rasanya kaya baru ganti kacamata baru, karena ukurannya berubah. Biasanya beberapa hari akan terasa 'kleyeng-kleyeng' kaya juling, karena mata perlu membiasakan diri dengan ukuran baru untuk bisa melihat dengan jelas dan nyaman. Apalagi kalo ada lonjakan ukuran, misal dari minus 1 langsung loncat jadi minus 3 dan pake tambahan silindris lagi..butuh penyesuaian yang rada lama sampai mata bisa nyaman dengan kacamata baru itu.

Memang yang dilihat jadi berubah ya? mungkin objek yang terlihat sebenernya sama aja. Cuma karena kacamatanya ukuran baru, hal-hal yang dulu ga terlihat jadi kelihatan dan jadi lebih jelas juga fokus. Cara ngeliatnya yang berubah dan ternyata untuk bisa mensinkronkan dengan pikiran juga butuh waktu. Semua objek yang kemudian jadi terlihat atau menjadi lebih jelas, butuh waktu buat pikiran mencernanya. Pertanyaan menjadi datang bertubi-tubi sebagai bagian dari mengenali lagi objek2 yang ga terlihat itu atau ga fokus sebelumnya. Kenapa gini, kenapa gitu? Kok dia disini ya? kok berantakan banget ya keliatannya? Kok langit jadi lebih indah ya? kok..? kok..? sampai akhirnya semua pertanyaan itu menghilang dengan sendirinya seiring dengan perasaan mata yang mulai nyaman dengan ukuran kacamata yang baru yang dan pikiran pun telah menyesuaikan dengan perubahan pengelihatan itu.

***

Setiap kepulangan dari sebuah perjalanan jauh dan penting, rasanya seperti memakai kacamata dengan ukuran yang baru itu. Semua terlihat berbeda. Bukan objeknya yang berubah, tapi kejelasan, kejernihan, ketajamanan dan fokus pengelihatan yang berubah. Butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan cara melihat yang baru itu. Jika kacamata berukuran baru itu menjadi ukuran yang tepat dengan kondisi mata kita sekarang, penyesuaian itu ga btutuh waktu yang terlalu lama. Merasa juling sebentar, kemudian setelah mata dan pikiran sinkron, perasaan nyaman segera muncul.

Namun ketika pengalaman perjalanan justru memberi kita ukuran kaca mata yang ga tepat dengan kondisi mata kita sekarang, bukan cuma merasa juling yang kita rasakan, tapi juga ketidak sinkronan yang cukup parah karena disertai dengan pusing dan mual. Rasanya ada yang mengganjal di mata. Semua yang dilihat jadi terasa ga nyaman terus menerus.

Makanya 'menemukan sebuah ukuran baru yang tepat untuk mata kita' setelah kepulangan menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Semua pertanyaan yang muncul untuk membantu mengenali lagi objek dari cara pandang yang baru itu, menjadi panduan yang fleksibel sebagai proses sinkronisasi antara ukuran dan kondisi pengelihatan yang baru.

Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu memang ga butuh jawaban yang sama sekali baru, karena pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan sama yang pernah kita tanyakan sebelumnya. Mungkin memang bukan jawaban yang kita cari, tapi hanya rasa yang berbeda ketika melihat kembali jawaban-jawaban yang sudah ada itu lewat kacamata berukuran baru itu. Lalu rasa itulah kemudian memperkaya rasa yang sudah ada.

Setelah sebulan kembali ke rumah..
terima kasih untukmu yang telah bersabar dengan semua hiruk pikuk kejulingan sementara setelah memakai kaca mata baru itu.. meski aku melihatmu berbeda sekarang, tapi itu tak mengubah perasaanku sama kamu... you're always special...:*

Thursday, August 21, 2008

Kembali Pulang

photo by tarlen


"Everything change, but nothing really lost." -Morpheus-


Ada kelegaan ketika perjalanan panjang usai dan aku kembali pulang ke rumah. Pulang ke Bandung. Pulang ke Tobucil. Pulang kembali pada teman-teman, pada keluarga, pada orang yang kucintai. Kembali pada meja kerja, pada urusan-urusan yang sama, pada rutinitas, pada situasi emosional yang kurang lebih sama.. pada semua yang sama yang kutinggalkan 4 bulan lalu. Ketika menginjakan kaki kembali ke rumah, berharap semua masih ada di tempat yang sama

Tapi nyatanya, semua jadi terlihat berbeda. Semua berubah di mataku. Bukan hanya Bandung yang terasa bertambah gersang dan semrawut, tapi keluarga, teman-teman, kamu (tambah ganteng aja, meski kerutan bertambah :P), meja kerja, tobucil, keluargaku, emosiku, semuanya terlihat bebeda. Sebuah perjalanan menambahakan satu lingkaran kehidupan, membuat kepulangan, terasa berbeda. Tak ada yang hilang, hanya komposisinya saja yang berubah dan membuat rasanya menjadi bebeda. Seperti matahari yang ga pernah berputar pada poros yang sama karena selalu bergeser dan membawa kehangatan berbeda setiap harinya lewat jendela kamarku yang masih tetap di tempatnya.

Kembali pulang setelah perjalanan, rasanya seperti memakan sayur daun singkong yang sudah berkali-kali di panaskan. Rasanya jauh lebih nikmat saat pertama kali makan ketika sayur itu baru saja matang. Kembali pulang juga seperti pelari yang berhasil menyelesaikan putaran, menyadari kekuatannya, istirahat sejenak dan bersiap-siap kembali dengan putaran baru, putaran yang jaraknya lebih jauh dari sebelumnya. Begitulah. Pulang selalu penting untuk memulai lagi lingkaran pohon baru yang membesar dan terus membesar, menandai putaran waktu dan menambahkan kekayaan rasa pada batang, daun, akar, bunga, buah, dan keteduhan baru.

Hai diri, selamat kembali pulang..


Sunday, June 01, 2008

Rumput di Rumah Tetangga

Photo by tarlen

Dalam waktu yang hampir bersamaan, dua orang teman di Yahoo Messanger mengatakan hal persoalan yang sama dalam nada yang berbeda. Yang satu mengatakan bahwa aku beruntung ada di negeri orang saat harga BBM melambung tinggi karena pemerintah mencabut subsidinya. Demo setiap hari tapi para wakil rakyat malah sibuk jual pesona karena pemilu akan datang sebentar lagi. Temanku itu bilang, aku beruntung karena tidak mengalami Indonesia yang makin hari makin kacau. Sementara, temanku yang satu lagi, dia sedang ada di Washington DC sekarang sampai satu bulan ke depan. Ia mengeluh, sebagai seorang dokumenter, dia kehilangan banyak moment 'kekacauan Indonesia' itu.. menurutnya moment kekacauan seperti itu sangat sayang kalau ga diabadikan lewat video.

Aku ga tau apakah aku merasa beruntung atau tidak, karena terhindar dari kekacauan Indonesia setidaknya sampai hari kemerdekaan nanti (aku akan sampai di Indonesia lagi pada tanggal 17 Agustus 2008). Rasanya memang melegakan, terlepas dari kepenatan hidup di Indonesia yang membuat harapan seperti kehilangan arah. Merasakan tempat baru meski hanya 4 bulan saja, seperti mendapat udara segar setalah penat dengan kepengapan. Rasanya aku ini seperti duduk di central park sambil nonton dokumenter tentang Indonesia. Aku kenal betul setiap tempat yang ada di film itu. Aku tau bagaimana rasanya udara saat orang-orang sibuk mengantri bantuan atau panik ngantri BBM sebelum harganya di naikan. Tapi semuanya seperti bisu. Aku seperti nonton film bisu, ga denger suara apa-apa dari sini. Yang terdengar suara angin dan orang-orang yang riang menikmati hari-hari indah di awal musim panas. Di subway situasinya lebih berbeda. Aku melihat kilasan film bisu tentang Indonesia di setiap jendela subway yang aku tumpangi. Namun sesekali kudengar suara yang hampir sama. Suara para imigran yang mencari mimpinya di sini dan merasakan kehidupan yang kian hari kian sulit saja. Yang gagal menemukan mimpi itu, dia terlepar ke jalan. Homeless. Susah payah menggeret koper-kopernya setiap hari sambil berusaha keras menjaga harapan hidupnya tetap menyala. Yang berhasil meraba impian itu dengan susah payah, berusaha berjalan dengan tegak di antara hiruk pikuk Mahanttan.

Rasanya pemandangan tiga demensional yang kurasa dan kudengar di sini, dengan pemandangan dua dimensional Indonesia, sama-sama bukan hal yang menyenangkan. Semua memberi rasa pahit karena kenyataan hidup membuat harapan kehilangan tujuannya. Mana yang lebih baik dari semua kepahitan itu? Ku kira bukan hal mudah juga untuk mentukannya. Rumput tetangga seringkali terlihat lebih hijau dari pada rumput di halaman sendiri, tapi siapa yang tau di balik warna hijau yang terlihat lebih itu, ternyata lebih rapuh dan high maintenance, menguras lebih banyak air.. daripada rumput liar yang tumbuh di halaman rumah sendiri.

Aku sengaja tidak terlalu mengupdate diri dengan kondisi Indonesia sekarang. Aku hanya ingin absen sebentar. Melihat hidup yang lain. Menikmati momentum selama tinggal disini. Memberi keyakinan pada diri sendiri, bahwa pintu-pintu lain ternyata masih ada, di sana mungkin tersimpan harapan yang lebih baik. Setidaknya itu akan membantuku melihat kehidupan tiga dimensi Indonesia saat aku kembali pulang nanti. Melihatnya dengan lebih ajeg, karena yakin bahwa harapan tidak pernah mati bahwa aku sendiri yang menentukan tujuan harapan itu, mau menuju kemana ia.

Saturday, April 26, 2008

Karena Aku Menginginkannya


Smith Street, Brooklyn foto by tarlen

Ga terasa, sudah sepuluh hari aku tinggal di New York. Aku mulai terbiasa dengan dinginnya, dengan ketergesaannya, dengan bau apartemenku. Aku ga lagi panik saat tersesat gara-gara salah naik subway atau naik bis. Dan sejauh ini, aku bisa menikmati setiap jengkal kota ini.

Aku belum punya banyak teman baru disini. Karena bertemu orang bukan hal mudah. Selalu harus ada janji terlebih dahulu. Setiap orang sibuk. Bahkan saat di subway atau bis, setiap orang seperti diskonek dengan sekelilingnya. Setiap orang seperti menghindari kontak mata dengan orang lain. Mungkin ini salah satu cara bertahan hidup di kota seperti New york.

Terbayang semua kepanikan yang aku rasakan beberapa waktu sebelum pergi. Aku yang jadi sensitif berat karena kemanjaanku dan ketakutan-ketakutan tak beralasanku menjelang kepergiaan. Mungkin karena ini kali pertama aku harus pergi jauh dari Bandung, dari tobucil dari semua orang yang aku sayangi dan menyangiku dalam waktu yang cukup lama. Bandung yang chaotic itu, seringkali membuatku posesif dan enggan untuk meninggalkan semua kenyaman dalam kecarut marutannya. Ya pergi dan berjarak dari rasa nyaman, seringkali membuat jiwa dan diri tumbuh mengisi buana yang terjelajahi olehnya. Itu sebabnya meski berat di langkah pertama, tapi aku selalu menyukai perjalanan. Moment selamat jalan dengan orang-orang tercinta, selalu terasa sentimentil dan romantis. Seperti bekal selimut hangat saat rasa dingin dan sepi hinggap di tengah jalan. Mengingat wajah-wajahnya, mengingat tatapannya, mengingat jabat tangannya, mengingat pelukannya.. mengingat ciumannya, memberi keyakinan untuk pulang dengan sejuta cerita.

Saat aku muntah di pesawat ketika landing di Newark rasanya seperti melepaskan semua kepanikan dan kegelisahan serta kekawatiran yang ga perlu. Membuang sisa-sisanya, sebelum menapak tanah buanaku yang baru. Aku memasrahkan diri pada perjalanan. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Dan saat kena cekal imigrasi Amerika karena Kedubes AS di Jakarta salah memberiku passport, aku bisa sangat tenang menghadapinya. Ini bagian dari perjalanan. Toh, petugas imigrasi memperlakukan aku dengan baik sampai mereka melepaskan aku.

Supir yang membawaku, orang Sikh, mengantarku memasuki New York. Rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan atau kenyataan yang seperti mimpi. Kadang ketika kita sejak lama memimpikan sesuatu, ketika sesuatu itu jadi kenyataan, rasanya tidak benar-benar seperti nyata. Karena ketika memimpikannya kita membayangkan segala kemungkinan, dan seringkali yang terjadi memang tidak jauh dari apa yang kita bayangkan. Kenyataan dibangun dari impian-impian itu: yang terbaik maupun yang terburuknya.

Saat bangun dari tidur (bahkan sampai saat ini) tetep aja ga percaya. Selalu ada pertanyaan, ini nyata ga sih? sama saat aku melakukan perjalan ke pedalaman Kalimantan 2005 lalu. Ketika sadar ini nyata, pertanyaan berikutnya: Kok aku udah disini lagi ya? ketika ada di jalanan Manhattan yang sibuk, terselip di antara banyak orang, aku berkata pada diriku sendiri: 'rasanya baru kemarin aku menginginkan ini, eh hari ini aku udah mendapatkannya, merasakannya.' Dan itu memberiku keyakinan, ga ada yang ga mungkin, selama aku bersetia pada keinginanku dan terus menerus mengatakan pada diriku, pada mimpiku, pada malam, pada siang, pada langit, pada hujan, pada buana: aku menginginkan ini.

Wednesday, April 02, 2008

Rasa Keadilan

foto by tarlen

Aku baru menyadari jika keadilan itu punya rasa, setelah riset soal pemberdayaan hukum beberapa waktu lalu. Dan beberapa hari ini aku kembali memikirkannya. Rasa keadilan terdengar sangat subjektif, sangat relatif. Meskipun ada hukum dan aturan yang menjadi panduannya. Rasa keadilan dalam kasus-kasus hukum, lebih pada sikap 'korban' menerima peristiwa yang menimpanya. Apakah korban merasa 'puas' hukuman yang diterima oleh pelaku, apakah proses dan prosedur hukum yang dijalani, berpihak pada korban. Semua ditentukan oleh korban. Rasa keadilan itu, korbanlah yang menentukan.

Dari proses wawancara panjang dengan banyak korban saat penelitian lalu, jawaban korban tidak ada yang merasa benar-benar puas dengan hukuman yang diterima oleh pelaku. "Saya inginnya pelaku di hukum mati saja.." begitu jawaban salah satu keluarga korban kekerasan seksual yang dialami oleh anak retarded di bawah umur. Padahal hakim mengetuk palu hukuman maksimal 14 tahun penjara. Sesuai dengan UU perlindungan anak tahun 2003. "Saya tidak pernah kasih tuntutan yang meringankan untuk para pelaku kekerasan seksual apalagi pada anak di bawah umur. Saya juga punya anak mba, jadi saya bisa merasakan bagaimana rasanya jika peristiwa itu menimpa anak saya," jelas jaksa penuntut dalam kasus itu. Sementara hakim tak kalah berpihak pada korban, " Kita vonis pelaku dengan hukuman maksimal dengan pertimbangan, jika pelaku keluar dari penjara, korban sudah cukup dewasa untuk hidup mandiri di tengah masyarakat," jelas hakim. "Kalau ingat, apa yang pelaku lakukan sama anak saya, rasanya saya ingin bunuh dia pake tangan saya sendiri," ungkap ibu korban sambil terisak.

Bahkan saat hukum berpihak kepada korban, rasa keadilan itu menjadi sangat sulit untuk di 'rasakan'. Korban selalu menjadi pihak yang paling dirugikan, moril maupun materil. Adakah hukuman yang setimpal yang bisa menebus sesuatu yang direngut paksa darinya? Dimanakah rasa keadilannya?

Memang pada akhirnya keluarga korban menerima putusan hakim, dan penelitian ini mengindikasikan bahwa keluarga korban cukup puas dengan prosedur hukum yang dirasakan cukup berpihak pada korban, namun soal rasa keadilan, pelitian ini tak berhasil menakarnya. Hanya identifikasi dan gejala-gejala rasa dari keadilan itu yang berhasil dikenali. Tapi menakarnya tidak semudah yang bayangkan karena setiap korban punya takarannya masing-masing. Setiap korban punya cara menakar dan menerima takaran rasa itu.

***

Rasa keadilan ternyata tidak melulu hanya pada persoalan hukum. Kehidupan yang aku jalani setiap hari, adalah juga persoalan menemukan takaran rasa atas keadilan kehidupan yang aku jalani. Ketika mencintai seseorang, dalam cinta itu juga ada rasa keadilan. Ketika aku meyakini bahwa mencintai itu membebaskan, dan dicintai itu berarti juga menjaga apa yang mencintai dan kita cintai. Rasa keadilan menjadi lebih rumit dibanding dengan rasa keadilan korban kejahatan. Pada kejahatan, pelaku sepertinya kehilangan hak untuk membela diri, apalagi bila jelas-jelas ia terbukti. Namun dalam mencinta, seringkali sulit melihat mana korban mana pelaku, karena cinta bukan juga persoalan itu. Cinta berangkat dari soal kesepakatan. Serumit apapun situasinya. Menyepakati rasa antara dua pihak dan menjalani kesepakatan itu dengan rasa cinta dan rasa keadilan di dalamnya, tentunya juga bukan hal yang mudah. Tidak ada KUHP atau Undang-undang Hukum Perdata dalam urusan kesepakatan mencinta. Karena cinta tak pernah salah yang bisa salah adalah sikap yang mengejawantahkan cinta dan mengekpresikan rasa cinta itu.

Ketika mengaku menjadi korban ketidakadilan cinta, bagaimana menakar rasa keadilannya? Saat semua menjadi atas nama cinta, semua bisa jadi dilakukan atas dasar itikad baik. Bahkan kekejaman-kekejaman yang terjadi dimuka bumi ini ketika dia dilakukan atas nama cinta menjadi rumit. Kekejaman sebagai tindakan kemudian mempunyai takaran baik buruk, benar salahnya sendiri, tapi cinta sebagai latar belakang tindakannya, adakah takaran nilainya?

Kesepakatan mencinta juga bukanlah kesepakatan baku yang tertulis hitam di atas putih. Meski ada 'pasal-pasal' tidak tertulis dalam kesepakatan itu, namun toleransi membuat pasal-pasal itu bisa lentur elastis, memuai seperti karet dan bergerak menjelajahi ruang toleransinya. Seperti juga karet, bukan berarti dia tidak bisa putus. Karet akan putus, saat dia tak sanggup menahan beban pemuaiannya. Ketika melewati batas maksimum dari kelenturnya, karet akan putus, atau jika dia mampu bertahan, dia akan kehilangan daya elastisitasnya.

Untuk saat ini, analogi karet itu yang bisa kubayangkan untuk menjelaskan pada diriku sendiri persoalan rasa keadilan dalam mencinta. Pertanyaan untuk diriku kemudian adalah karet jenis apakah aku ini? Sejauh mana aku bisa melentur dan elastis saat menjalani 'pasal-pasal karet' itu? Sebesar apakah ruang toleransi yang mewadahi rasa cinta dan rasa keadilan yang berbaur didalamnya? Bagaimana dengan sangsi pelanggaran 'pasal-pasal karet' itu? Siapa yang menuntut dan siapa yang tertuntut? siapa pula yang terhukum dan yang menghukum? ....

.... pada kerumitan ini, memaafkan menjadi menjadi begitu melegakan.....

Aceh 56, 10:20

Wednesday, March 05, 2008

Penyelenggaraan Siaran Komunitas, Terganjal Birokrasi Perizinan

Foto by tarlen

"Tahun 2005, kami mengajukan izin tapi sampai sekarang IPP (Izin Penyelenggaraan Penyiarannya) belum juga turun," demikian diungkapkan Akhfiyan Qoyyum, editor TV Rajawali, sebuah TV Komunitas di daerah Rajawali, Bandung. Masalah perizinan TV komunitas ini ternyata menjadi persoalan yang mengemuka dan dihadapi banyak TV komunitas.

Birokrasi perizinan yang panjang dan rumit ini, mengacu pada UU Penyiaran No. 32 tahun 2002 yang diatur dalam pasal 33 dan 34 dan PP No. 51 th 2005 . Dalam pasal 33 di tegaskan bahwa sebelum menyelenggarakan kegiatannya lembaga penyiaran wajib memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran.

Ganesha TV (GTV), televisi komunitas yang digagas oleh Unit Kegitaan Mahasiswa LFM dan Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro ITB, mengalami nasib yang sama. "Kita sempat di 'bredel' karena tidak punya izin," jelas Tomy Rusmansjah, Advisor GTV. "Waktu sekitar tahun 2002 dan UU Penyiarannya belum selesai disusun, Selain itu juga ada pengaruh dari aturan normalisasi kehidupan kampus dan pemilihan rektor, jadi kegiatan mahasiswa juga di batasi," tambah Tomy.

Soal perizinan ini menjadi prosedur yang panjang dan rumit. Dari penjelasan yang berikan Zen Faqih, anggota KPID Jawa Barat, ada beberapa tahapan pengajuan izin TV komunitas yang harus di lalui. Pertama, mengajukan permohonan dengan memenuhi persyaratan administrasi. Kedua, pihak KPID akan melakukan pengecekan syarat administrasi apakah dokumen-dokumen tersebut sah. Ketiga, KPID melakukan verifikasi faktual dengan mencocokan proposal permohonan tersebut dengan kenyataan yang ada di lapangan. Keempat, forum dengar pendapat yang melibatkan KPID dengan unsur masyarakat, setelah itu KPID akan mengeluarkan surat rekomendasi untuk dibawa ke forum rapat antara pemerintah dan KPI pusat untuk menentukan alokasi frekuensi. Setelah empat tahapan ini dilalui, maka televisi komunitas yang mengajukan izin tinggal menunggu IPP.

"Prosesnya sebentar kok, ya kurang lebih setahun lah..." kata Zen Faqih. " Untuk televisi atau radio komunitas yang berlum berizin, KPID berkoordinasi dengan pihak pemerintah dalam hal ini Balai Monitoring untuk melakukan penertiban, beberapa diantaranya malah ada yang di bawa ke pengadilan," ungkap Zen menegaskan.

Panjangnya rantai birokrasi perizinan membuat televisi komunitas seperti GTV, lebih memilih menggunakan media online untuk siarannya. GTV yang memulai kegiatannya pada tanggal 31 Agustus 1999 ini awalnya dari mengerjakan proyek-proyek untuk TV on Cable dengan memberikan informasi kegiatan seputar kampus. " Tahun 2002, kita sudah mulai online, duluan kita daripada LIputan 6 streaming. Lagi pula belum ada UU yang mengatur penyiaran lewat internet jadi kita lebih leluasa." kata Tomy lagi.

Sementara Zen Faqih menganggap belum diaturnya penyiaran lewat internet, menjadi kelemahan UU penyiaran." Hal itu belum di atur jadi memang menyulitkan untuk menggunakan instrumen hukum apa yang bisa mengatur itu.."

Berbeda dengan GTV, Rajawali TV tidak memilih beralih ke internet untuk menyiasati perizinan ini karena menilai akses internet masih terlalu mahal dan belum memadai. "Belum tentu semua warga mampu berlangganan internet karena harganya masih mahal. Lagi pula koneksinya juga masih belum memadai untuk siaran televisi lewat internet, jelas Ian.

Tomy mengakui bahwa peralihan medium ke internet ini membutuhkan penyesuaian karena perbedaan karakter media penyiaran. "Budaya online di ITB sudah sangat tinggi dan dewasa, tapi tetap perlu transformasi bagaimana orang-orang menyikapi TV di sebuah komputer." Karena itu, GTV sendiri sejak tahun 2006 mulai memfokuskan program siarannya pada e-learning untuk program kuliah jarak jauh. Program ini juga mendapat dukungan dari SOI (School of Internet Asia).

Meski IPP belum didapat namun Rajawali TV, telah mengudara antara 1-2 jam perharinya, sejak tahun 2004 di saluran VHF kanal 8. "Karena izin masih dalam proses, pihak KPID memperbolehkan kita siaran dengan surat rekomendasi sementara," ujar Akhfiyan Qoyyum atau yang akrab dipanggil Ian. Alumni Jurnalistik Unpad angkatan 2002 ini menambahkan bahwa pada awalnya Rajawali TV, tidak dimaksudkan sebagai televisi dakwah. "Visi misi kita dari awal ingin menjadikan Rajawali TV ini, sebagai TV yang prural dan bisa mewakili keragaman warga, tapi justru saat mengajukan izin, pihak KPID meminta kita lebih spesifik dan saat dengar pendapatpun, mengarahkan kita untuk menjadi media dakwah. Kita akhirnya ikuti, biar perizinannya lebih mudah. Awal siaran kita, programnya banyak program dakwah, tapi sekarang udah lebih beragam karena KPID tidak lagi terlalu mengawasi program siaran yang kita buat. Jadi kita kembali ke misi pluralisme yang dari awal ingin kita angkat" papar Ian.

Dalam kaitannya dengan program, KPI melalui KPID memiliki tugas untuk memantau dan mengawasi penyiaran komunitas. Hal ini menurut Zen Faqih sesuai dengan area tugas pengawasan yang meliputi: Lembaga penyiaran swasta baik TV maupun radio, radio publik yaitu radio yang dibiayai oleh negara namun bukan milik pemerintah, tv dan radio komunitas juga tv dan radio berlangganan. Untuk mengatur program penyiaran ini, KPI menerbikan Pedoman Perilaku Penyaran dan Standar Program Penyiaran tahun 2007. Anehnya, ketika awal Pedoman Perilaku Penyiaran ini di terbitkan, pihak industri media menggugatnya sampai ke Mahkamah Agung dan justru dalam hal ini, Mahkamah Agung memenangkan gugatan pihak industri sehingga KPI merevisi Pedoman Perilaku Penyiaran.

Zen sendiri menilai secara isi atau konten, antara lembaga penyiaran komersil dan komunitas, tidak jauh berbeda. karenanya KPI tidak membuat aturan yang lebih teknis dan spesifik, namun lebih ke aturan umum dan normatif. Padahal jika dicermati lebih jauh, kebutuhan media komunitas disetiap daerah tentunya sangat organik dan spesifik dan tidak dapat diseragamkan. Aturan yang dibuat semestinya bisa lebih leluasa dan fleksibel dalam mengakomodasi kebutuhan komunitas yang berbeda.

Sebagai pengelola, Ian merasakan keberadaan Rajawali TV setelah hampir 3 tahun, membuat warga jadi lebih mengenal satu sama lain. "Persoalan warga di daerah saya adalah bahwa mereka jarang berkomunikasi satu sama lain. Setelah ada Rajawali TV, mereka jadi punya media komunikasinya sendiri. Memang tidak mudah menumbuhkan hal itu, tapi lama-lama mereka sendiri yang merasakan televisi komunitas ini sebagai kebutuhan. Dan manfaat terbesar yang kami rasakan dari keberadaan televisi komunitas ini masalah-masalah warga yang di komunikasikan di tv ini, bisa mendapat penyelesaian yang kongkrit, " jelas Ian.

Keberpihakan pemerintah yang diwakili oleh KPI dan KPID di daerah masih dirasakan oleh belum berpihak kepada komunitas. M.B. Wicaksana, aktivis media memandang persoalan terpenting dari media komunitas adalah perluasan akses. "Media komunitas ini muncul karena ada persoalan ketidak terwakilan sebagian masyarakat di media yang sudah ada. Ada pihak-pihak yang di kecualikan, sehingga sulit mendapatkan akses ini. Perizinan yang berbelit-belit adalah salah satu perjuangan komunitas untuk mendapatkan haknya memproduksi dan mendistribusikan informasinya sendiri. Namun perjuangan hak masyarakat atau komunitas untuk memperoleh informasi, masih sangat panjang," tandas M.B. Wicaksana. ***

Tulisan ini untuk buletin Kombinasi, Combine Research International.

Wednesday, February 20, 2008

Transformasi Mencari Bentuk

foto by tarlen

Sebut saja Submissive, Tigabelas, Emphaty Lies for Beyond, Empatika, No Compromise, Limbah, Halo Opository, Movement, re-action, Unfold, Rayuan Gombalz, ONe Life Stand, Poster, Setaramata, Ujungberung Update, Crypt from the Abyss, Loud n` Freaks, The Evening Sun, Rottrevore, Minor Bacaan Kecil, Wasted Rocker, menjadi sedikit dari sekian banyak zine yang beredar di komunitas underground pada ’90-an akhir hingga 2005. Media foto copy-an ini menyebar di antara jejaring underground, bukan hanya di Bandung tapi juga di kota-kota lain di Indonesia, bahkan sampai luar negeri.

Tradisi zine sebagai media propaganda, baru dikenal komunitas underground pada pertengahan tahun ’90-an. Saat salah satu anggota komunitas punk, mendapat zine dari jejaring pertemanan mereka di Belanda. Media sederhana dengan teknik fotocopy ini berisi review pertunjukan underground setempat, wawancara dengan personel-personel band, isu-isu seputar musik dan ideologi yang menyertainya. Opini pembuatnya tentang satu persoalan yang berkaitan dengan satu masalah yang sedang hangat di komunitas. Beberapa zine juga membahas isu yang spesifik seperti isu feminisme, lingkungan, fundamentalisme dan semua digarap tanpa perlu teknik jurnalistik yang canggih, modal besar, dan layout yang memukau. Semua serba apa adanya karena semuanya dijalankan dengan semangat Do It Yourself (DIY).

"Waktu itu terasa sekali zine sebagai sebuah kultur serapan. Isinya masih sangat copy-paste, jiplakan beneran dari luar (luar negeri) tapi bahasa Indonesia. Dan kebanyakan memang belum tahu apa yang ingin dikatakan," jelas Pam, pembuat zine Submissive. Tulisan-tulisan dari kolektif CrimethInc (http://www.crimethinc.com/) menjadi langganan yang di terjemahkan dan disebarkan melalui zine seperti Submissive. Melalui zine, komunitas underground mengenal pemikiran-pemikiran Mikhail Bakunin, Emma Goldman dan wacana-wacana ideologis yang menyertai band-band favorit mereka. Hal-hal seperti ini tentunya tidak mungkin ditemui pada media mainstream pada saat itu. Dalam kurun waktu pertengahan hingga akhir ’90-an, media underground seperti zine lebih dominan diwarnai oleh kultur musik yang digemari oleh komunitas pada masa itu. Meskipun situasi sosial, politik, ekonomi pada saat itu turut membentuk karakter komunitas dan apa yang disampaikannya lewat zine. (Baca: Dari Militansi ke Komodifikasi, Tarlen Handayani, "PR" 13/2).

Distribusi zine biasanya dilakukan dengan membuat beberapa master copy untuk disebarkan di jaringan komunitas di dalam dan luar negeri. Setelah itu, jejaring di tiap kota akan menyebarkan zine ke komunitas masing-masing. Jika dijual pun, harganya hanya sebesar ongkos ganti fotocopy. Semangat berbagi dan anti copyright membuat zine-zine underground seperti ini tersebar luas dan bisa digandakan secara bebas.

Beberapa majalah pernah terbit dan mewarnai perkembangan media komunitas underground. Swirl terbit tahun 1994 dan menjadi majalah komunitas skateboard dengan tampilan sederhana cetak hitam putih. Terbit tidak sampai lima edisi dan setelah itu menghilang. Tahun 1999, Ripple terbit pertama kali dengan ukuran saku. Pada awalnya Ripple terbit sebagai katalog produk distro 347 dan berkembang memuat kegiatan tulisan-tulisan komunitas yang berkumpul di distro 347, sampai kemudian berubah menjadi majalah dalam arti yang sesungguhnya. Tahun 2001, majalah Boardriders dan Trolley, ikut mewarnai perkembangan media yang mewakili komunitas anak muda Bandung saat itu.
**

Berubah format, membuat beban pengelolaannya menjadi lebih berat. Majalah-majalah ini menjadi tidak lagi sesederhana zine dalam penggarapannya, termasuk juga biaya produksi yang sangat besar. Pemilik modal menjadi faktor yang menentukan keberlangsungan hidup majalah-majalah seperti ini. "Karena pemilik modalnya nggak paham soal media, kita berhenti terbit," Ungkap Didit E. Aditya, mantan Editor in Chief Boardriders. Sementara Ripple lebih beruntung karena pada awalnya media ini adalah media promosi clothing label 347, sehingga aspek permodalan relatif lebih terjamin. "Awalnya majalah ini kan sebagai fun, tapi ternyata kesininya bisa juga jadi andalan ekonomi," kata Idhar Remadi, Editor In chief Majalah Ripple.

Pertumbuhan bisnis clothing dan distro di Bandung, ternyata memberi dampak yang cukup penting pada perkembangan media-media komunitas underground Bandung. Ketika booming distro tahun 2003 hingga 2005, lahir banyak media gratisan yang terbit untuk kepentingan promosi. Kemampuan distro untuk memproduksi media seperti ini, dalam pengamatan Pam, melibas pertumbuhan zine komunitas. "Mereka bisa membuat media yang lebih menarik secara tampilan dan dibagikan gratis. Tetapi ini juga membuat perubahan di tingkat komunitas dan membaginya jadi dua kubu. Kubu pertama sebagai produsen zine yang masih punya semangat untuk membuat zine dan mencari komunitas lain yang bisa jadi tempat aktualisasi diri yang baru, dan satu lagi yang hanya mengonsumsi saja," ujar Pam. Sementara Kimung, pengelola Minor Bacaan Kecil berpendapat, "Generasi yang sekarang mau aja diseragamin penampilannya maupun isi kepalanya. Padahal, dengan punya media sendiri, bisa menyampaikan manifestasi diri dan mengekspresikan ide-ide lewat bahasa dan tulisan."

Untuk beberapa media yang bertahan seperti majalah Ripple dan Jeune, keberadaan distro dan clothing industri justru menjadi nyawa yang membuat media ini bisa bertahan. "Sembilan puluh sembilan persen nyawa kita ada di pemasang iklan," tutur Idhar. Sampai kini, Ripple telah terbit 59 edisi dan sejak edisi ke 42, Ripple menjadi media gratis dengan jumlah cetak 10.000 eksemplar setiap edisinya. "Salah satu faktornya kenapa kita gratis karena kita ingin memperluas jangkauan distribusi. Kalau distribusinya cukup luas, bisa menarik pemasang iklan lebih banyak lagi.

Senada dengan Idhar, Candra vokalis band Cupumanik yang juga Editor in Chief Majalah Jeune yang terbit 5.000 sampai 7.500 eksemplar (tergantung dari pemasang iklan) sejak tahun 2004 ini, mengemukankan hal yang hampir sama. "Kenapa mereka masih membeli majalah indie atau majalah lokal seperti Jeune atau Ripple, karena memang sudah saatnya kita-kita yang di lokal ini tahu betul dan harusnya yang paling pintar mendokumentasikan apa yang terjadi di lokal trend fashion atau musik apa yang terjadi di lokal," kata Candra.

Keberadaan media-media yang masih bertahan, memunculkan pertanyaan besar dalam benak Pam, "Bisakah konsistensi dan kontinuitas itu terjaga?" Bagi Pam, konsistensi dan kontinuitas itu penting untuk mematangkan komunitas dan juga media yang mewakilinya. "Buat saya, situasi komunitas underground yang berubah cepat kaya sekarang ini sebenarnya bisa dilihat sebagai hal yang wajar. Zine kan sesuatu yang baru, distro juga, banyak hal baru yang menjadi pilihan dan karena ini kultur serapan, proses mencoba menjadi bagian dari pencarian identitas. Konsistensi dan kontinuitas itu justru akan mematangkan pilihan-pilihan itu," tutur Pam.

(Tarlen Handayani, sehari-hari bekerja untuk Tobucil & Klabs) ***

Underground, dalam konteks tulisan ini menjelaskan komunitas yang terbentuk karena minat aliran musik yang sama: hardcore, punk, metal, dan komunitas hobi ekstrem sport yang kebanyakan juga menggemari jenis musik tersbut.

Tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, 18 Februari 2008

Sunday, February 17, 2008

Dari Fotokopi ke "Blog"

Foto by tarlen

Tak bisa dimungkiri bahwa perkembangan teknologi juga menjadi faktor penting dalam pergeseran bentuk dan media ekspresi komunitas underground, selain situasi sosial, politik, ekonomi makro, dan mikro yang memengaruhinya. Lahirnya teknologi blog, membuat media-media komunitas bergeser menjadi lebih personel. Setiap orang dapat menulis apa yang dipikirkannya dalam medium baru ini dengan lebih leluasa tanpa dibebani oleh masalah produksi dan distribusi. Fasilitas blog yang menyediakan macam-macam template dan kemudahan, membuat penggunanya dapat mencoba bermacam-macam jenis blog sekaligus, sesuai dengan kebutuhannya.

Akibatnya, ruang-ruang pertukaran pemikiran, gagasan, ide-ide, lebih banyak bertemu di ruang cyber. Pertemuan di ruang maya membuat meeting point komunitas tidak lagi menjadi tempat pertukaran informasi utama di antara sesama anggota komunitas. Meski begitu, Pam menilai, perpindahan media ekspresi komunitas underground ini ke internet, justru mematangkan anggota komunitas secara individu.

Meski perkembangan internet berdampak besar pada pertumbuhan media-media underground dalam bentuk cetak seperti zine dan majalah, beberapa di antaranya masih mempertahankan keberadaan zine ini. Sebut saja Thremor, pengelola zine Beyond the Barbed Wire meski terbit hampir setahun sekali, ia tetap bertahan untuk menerbitkan zine sejak 2004.

"Kenapa harus terbit, karena saya sendiri masih ingin mengomunikasikan sesuatu meskipun setahun sekali karena saya harus kompromi sama waktu para kontributor," ucap Thremor. Pada edisi pertama, Beyond the Barbed Wire terbit sekitar 40-an halaman dan jumlah halaman itu bertambah menjadi 88 halaman di edisi terakhir.

"Distribusinya sih nyampe di 20 kota. Caranya saya kirimin master-nya ke teman-teman yang ada di 20 kota itu, nanti mereka perbanyak sendiri," katanya. Metode seperti ini memang lazim dilakukan oleh para pembuat zine. Jejaring pertemanan antara komunitas menjadi modal penting yang harus dimiliki.
Hal serupa juga dilakukan Gembi, pengelola newsletter Wasted Rockers. Pada edisi awal yang terbit 2004, Wasted Rockers berbentuk fotokopi zine, namun edisi selanjutnya, Gembi mengubah formatnya menjadi newsletter selembar A4 yang dikopi bolak-balik. "Pertimbangannya kalau newsletter lebih gampang aja ngelolanya. Lebih murah juga dan bisa cepat beres karena layout-nya nggak rumit."

Kini Wasted Rocker memakai format ukuran lebih besar dari sebelumnya A3 dan dicetak hitam putih 1.000 eks. "Setiap edisi saya sebar di 21 kota, jaringan pertemanan saya dan juga record label independen di banyak kota. Karena newsletter ini fokusnya lebih ke musik," ucapnya. Dengan berkembangnya teknologi internet, Gembi justru memanfaatkannya untuk memperluas jangkauan distribusi Wasted Rockers. "Saya bikin juga versi online-nya (http://wastedrockers.50megs.com) di situ juga versi cetak, file PDF-nya bisa di-download juga," ujarnya.

Saling melengkapi antara media cetak dan online ini pun dilakukan oleh Ripple. Di situsnya ( www.ripplemagazine.net) tersedia link untuk men-download edisi sebelumnya secara full.
Namun, perubahan bentuk media ini tidak sepenuhnya nyaman untuk dijalani. Ada "kekosongan" baru yang dirasakan Didi "Decay" ketika pindah ke media online. Bagi Didi "Decay" pengelola zine Emphaty Lies for Beyond dan Empatika yang kini mengelola blog http://bikinsendiri.multiply.com yang hilang perpindahan medium ini adalah suasana pertemuan dan interaksi pada saat proses berlangsung. "Nggak ada lagi pertemuan antarredaktur zine, distribusi pun kita nggak perlu ketemu langsung dan datang ke kota-kota jejaring teman-teman kita. Cukup send e-mail memberi tahu kalau ada update terbaru. Buat saya kemudian jadi ada jarak emosi karena tidak ada pertemuan fisik pada saat interaksi."

Interaksi yang semakin jarang ini, menurut Decay juga dipengaruhi oleh perubahan minat anggota komunitas itu sendiri. "Sekarang saya nggak terlalu nyari sama musik punk. Masih suka, tetapi nggak kaya dulu. Saya sekarang lebih senang menjalani apa yang berhubungan dengan keseharian saya," ujarnya. Minatnya terhadap craft, menjadi bagian dari keseharian Decay saat ini. Baginya, perubahan minat ini di satu sisi membuka pertemuan dengan komunitas lain dan teman-teman baru.

Resmi Setia atau yang akrab dipanggil Tia, peneliti sosial yang intens mengamati perkembangan komunitas underground ini, mengungkapkan bahwa pergeseran bentuk media ini memberi dampak pada bentuk ekspresi komunitas, bentuk fisik media seperti zine dan majalah, menjadi tidak terlalu penting lagi karena aktualisasi diri telah digantikan oleh media baru seperti blog.

Menurut Tia, blog memberi legitimasi pada individu untuk mengekspresikan pengalamannya. Komunalitas kemudian bergeser menjadi individualitas. "Persoalan baru yang justru perlu dicermati adalah persoalan akses terhadap teknologinya itu sendiri," ungkap Tia. (Tarlen Handayani) ***

Zines, Catatan dari Bawah Tanah


foto: Joedith Cristanto


Dalam bukunya yang berjudul `Notes from Underground, Zines and The Politics of Alternative Culture`, Stephen Duncombe, mendefinisikan zine sebagai majalah nonkomersial, nonprofesional dengan sirkulasi yang terbatas, di mana pembuatnya memproduksi, menerbitkan, dan mendistribusikannya sendiri. Dalam sejarah pers alternatif Amerika, zine lahir di era 1930-an dan dimotori para penggemar science fiction. Saat itu, istilah "fanzines" mulai dikenal sebagai media berbagi berbagai cerita science fiction dan komentar kritis dari para penggemar termasuk pula komunikasi antara penggemar.

Empat puluh tahun kemudian, di 1970-an, perkembangan zines modern dipengaruhi para penggemar musik punk rock, yang pada saat itu tidak mendapat tempat di media musik mainstream. Fanzines yang terbit saat itu, lebih banyak berisi tentang musik dan kultur yang berkembang di scene musik tersebut. Baru era 80-an dan 90-an, hal-hal yang bersifat politis kemudian masuk dan memengaruhi perkembangan zines berikutnya.

Duncombe, mengklasifikasikan zines kedalam beberapa kategori. Seperti fanzines, political zines, personal zines, scene zines, network zines, fringe culture zines, religious zines, vacational zines, health zines, sex zines, travel zines, comic zines, literary zines, art zines, dll. Namun, dari semua kategori zines, Duncombe melihat beberapa persoalan yang mengemuka. Persoalan seperti identitas, komunitas, bekerja dan konsumsi, pencarian, kemurnian dan politik budaya alternatif, menjadi persoalan utama yang menjadi isu penting dalam perkembangan zines.

Zines sebagai satu representasi identitas, menjadi media yang mewakili kelompok terpinggir yang selama ini tidak masuk hitungan dalam masyarakat. Di mana, zines memberikan suara kepada mereka yang tersisih, untuk menyatakan aspirasi politiknya dan pandangan serta sikapnya terhadap satu persoalan. Begitu pula saat zines sebagai satu media komunitas, struktur sosial masyarakat yang rigid dan kaku, seringkali membatasi ruang gerak sebagian anggota masyarakat. Zines kemudian menjadi media propaganda dalam upaya membebaskan diri dari aturan sosial dan membuat aturan baru yang disepakati oleh anggota komunitasnya.

Pemaknaan atas kata `bekerja` menjadi persoalan yang seringkali mengemuka. Kerja dan bekerja dalam terminologi komunitas ini adalah keluar dari dikte kepentingan kapitalis. Bekerja atas dasar cinta dan apa yang mereka suka, bukan menjadi budak industri yang digerakan oleh kapital untuk kepentingan eksploitasi. Itu sebabnya, gerakan menyabotase rutinitas dalam kerangka kerja kapitalisme, menjadi wacana yang mengemuka. Sikap kritis terhadap konsumerisme, menjadi isu penting dan bahan propaganda komunitas. Semangat Do It Yourself, mendorong anggota komunitasnya mengambil peran aktif sebagai agen-agen perubahan. Aktivisme menjadi gerakan yang lebih dinikmati dan membentuk gerakan politik komunitasnya sendiri. Pencarian jati diri juga menjadi ciri kuat dalam perkembangan zines. Sebagai media, zines memberikan keleluasaan dalam memediasikannya. Semangat berbagi yang dibawa zines, memungkinkan setiap individu penulisnya, berbagi kisah dan pengalaman dalam proses pencarian identitas. Catatan-catatan personal ini, yang kemudian menginspirasi anggota komunitas lain dalam tanpa disadari membentuk identitas komununal.

Sebagai bentuk budaya alternatif, zines senantiasa berusaha menemukan orisinalitas dan hal-hal yang menjadikannya berbeda dengan kultur utama. Keunikan individu dan bagaimana ekspresi kreativitas ditampilkan secara berbeda, adalah menjadi motor penggerak bagi komunitas ini untuk terus mencari. Meskipun, sesuatu yang berbeda ini pada akhirnya menjadi mainstream, saat banyak orang di luar komunitas menganggapnya sebagai sesuatu yang `cool` dan perlu diikuti.

Dinamika politik yang melingkupi ruang gerak masyarakat, senantiasa membutuhkan imajinasi baru dan pengorganisasian baru, untuk menemukan bentuk-bentuk politik baru. Budaya menjadi ruang di mana cara pandang dan berpikir radikal sekalipun, dapat diekperimentasikan dan dikembangkan. Dalam titik ini, zines memiliki arti untuk menciptakan ruang eksperimentasi tersebut. Zines menjadi media untuk `menagih` ruang-ruang itu. Ruang di mana masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang dapat dimaknai.

Dengan segala keterbatasannya dan hal-hal kontradiktif di dalamnya, zines menawarkan satu hal penting bagi orang-orang ataupun komunitas yang membutuhkannya. Zines menjadi ruang bebas, di mana imajinasi dan eksperimen atas cara berpikir baru terhadap idealisme, berkomunikasi membentuk eksistensi komunitasnya. Sebagai media komunitas, zines menjadi media bagi komunitas untuk mengalami pergulatan pemikiran dalam menciptakan perubahan dunia, seperti yang Eric Rudnick_pembuat zine Aftershock katakan, " To change the world. It may not work but it sure is fun trying." (Tarlen Handayani) ***



Tuesday, February 12, 2008

Dari Militansi ke Komodifikasi


JIKA komunitas underground di Indonesia cukup berpengaruh di Asia (Robby Nugraha, "PR", 12/2), Bandung tentunya memiliki kontribusi penting dalam memberikan pengaruh tersebut. Bila mencermati lebih jauh, apa yang berkembang dalam kurun waktu 14 tahun (1994-2008) dapat menjelaskan pengaruh tersebut.

Era `90-an

Tahun 1994 menjadi tahun penting bagi perkembangan generasi yang lahir di era `70-an dan tumbuh menjalani masa remajanya di era `90-an. Identitas kelompok underground ini sangat dipengaruhi oleh pergolakan sosial, politik, ekonomi baik secara makro maupun mikro.

Beberapa peristiwa penting di tahun 1994 seperti pemberedelan media oleh pemerintah Orde Baru, membawa semangat perlawanan dan gerakan underground (bawah tanah) yang memperjuangkan kemerdekaan berekspresi dan kebebasan berpendapat.

Pada tahun itu, aksi perlawanan muncul dalam bentuk demonstrasi, penerbitan media-media independen, dan pertunjukan-pertunjukan musik. Pada kurun waktu pertengahan `90-an, ruang seperti GOR Saparua menjadi tempat penting bagi pertemuan komunitas underground Bandung (baca: Dari Saparua, Tea Huis, Hingga AACC, Robby Nugraha, "PR", 12/2).

Situasi politik global pada saat itu pun turut mewarnai perkembangan komunitas underground Bandung. Pertemuan pemimpin negara APEC di Bogor tahun 1994 untuk mendeklarasikan dimulainya Perdagangan Bebas tahun 2002, mengundang reaksi perlawanan dari komunitas underground lewat penerbitan zine, media alternatif untuk perlawanan. Zine seperti Submissive dan Tigabelas, menjadi cukup berpengaruh saat itu.

Zine alternatif tersebut menjadi media propaganda komunitas mengenai anarkisme, pacifisme, dan gerakan-gerakan perlawanan terhadap wacana globalisasi yang didukung oleh WTO (World Trade Organization). Lirik lagu dari komunitas ini pun tak kurang menyuarakan hal yang sama.

Lahirnya Partai Rakyat Demokrat (PRD) pada tahun 1996, ikut mewarnai ideologi politik komunitas underground yang berkembang di Bandung (baca makalah: Urban Cartography V.01/Bandung Creative Communities, Editor: Tarlen Handayani, 2006). Ideologi politik ini membawa komunitas underground dalam kurun waktu pertengahan hingga akhir `90-an, terlibat dalam gelombang demonstrasi meruntuhkan rezim Orde Baru. Yel-yel "rakyat bersatu tak bisa dikalahkan...!" tidak hanya bergema pada saat demonstrasi berlangsung, namun juga pada saat konser-konser underground.

Gelombang perlawanan dan perjuangan atas kebebasan berekspresi dan mengemukanan pendapat membuat keragaman atribut penanda identitas komunitas menjadi pemandangan yang justru mengemuka. Atribut komunitas yang mencirikan identitas komunitas punk, hardcore, black metal, ska, brit pop beserta paham yang dianutnya, bisa bertemu tanpa menimbulkan friksi yang berarti. "Anak grunge, brit pop, ska, punk, bisa ngumpul bareng di Purna, Kintam, PI, DU (tempat-tempat meeting point komunitas underground Bandung era `90-an -red.)," jelas Arief `bp`, mantan vokalis Bitch Party, band punk yang eksis di tahun 1997-2002.

Suasana komunalitas dan kekompakan ini pada era `90-an, juga terasa sampai ke komunitas yang berada di pinggiran Bandung seperti Baleendah, Soreang, Dayeuhkolot. "Konser di GOR Soreang, GOR KNPI Baleendah, GOR Handoyo Dayeuhkolot, selalu penuh penonton dan aman-aman saja. Padahal, band-band yang jadi bintang tamu lumayan band-band tarik, Injected, Burgerkill, Keparat. Dulu penonton dan bandnya kerasa lebih kompak, kalau ada perkelahian itu hanya masalah kecil dan bisa diatasi," ungkap Dadang `Uzho` Sumarna, mantan manajer Sub Chaos, band punk paling berpengaruh di wilayah Bandung Selatan pada masa itu.

Suasana komunalitas yang kental membuat warna komunitas underground pada saat itu terasa lebih guyub dengan militansi yang kuat. Keterbatasan fasilitas seperti ruang pertunjukan dan modal untuk membuat acara, bukanlah penghalang. Dengan poster fotokopi dan rekaman yang diproduksi sendiri serta acara yang diselenggarakan dengan biaya kolektif, tanpa sponsor mewarnai semangat komunal. Tempaan situasi politik dan sosial ditingkat makro dan mikro membuat militansi komunitas menjadi karakter yang kuat dan mengemuka pada era `90-an.

Tahun 2000-an

Pergeseran karakter ini mulai terasa saat ruang gerak komunitas mulai dibatasi justru setelah era reformasi. Pertemuan dan konser komunitas underground mulai berkurang, saat akses terhadap ruang seperti GOR Saparua dibatasi dengan cara pengelola meningkatkan harga sewa sehingga tidak terjangkau lagi. Selain itu, faktor penting yang memengaruhi pergeseran karakter ini adalah perkembangan teknologi informasi khususnya akses internet yang semakin luas di akhir tahun `90-an.

Pada tahun 1995 saja, Bandung tercatat sebagai satu dari tiga kota pengguna jasa internet terbesar di Indonesia. Setidaknya dari 14.000 pemakai Internet di Indonesia, Bandung menduduki peringkat ketiga dengan 1.000 pemakai setelah Jakarta (10.000 pemakai) dan Surabaya (3.000 pemakai).

Akses internet kemudian memberi alternatif medium baru pada kelompok underground untuk tetap mengeskpresikan diri. Pergeseran meeting point pada awal tahun 2000-an dari tempat-tempat seperti Purna (Jln. Purnawarman), Kintam (Jln. Ranggamalela), dan DU (Dipati Ukur) ke warnet-warnet mengubah pola relasi sosial komunitas itu. Dari semangat komunalitas dan kolektivitas lambat laun bergeser menjadi lebih individual. Perubahan medium aktualisasi ini membuka peluang-peluang baru yang kemudian digarap secara serius oleh sebagian anggota komunitas.
Krisis ekonomi yang menghantam Indonesia setelah reformasi, pada tahun 1998, menjadi badai yang menguncang, tak terkecuali juga kehidupan komunitas-komunitas underground Bandung.

Musuh besar yang dihadapi bukan lagi kekuasaan tiran, namun kebutuhan hidup yang harus dipenuhi sehari-hari. Pada situasi sulit seperti ini, peluang-peluang baru justru terbuka. Distro dan clothing label justru mulai tumbuh subur di akhir `90-an dan semakin pesat di awal tahun 2000-an hingga pertengahan 2000.
Pada masa ini, pertunjukan musik dan acara-acara komunitas underground justru menyusut tajam dan terasa sampai ke pelosok Bandung seperti wilayah Bandung Selatan. Selain itu, pergesaran tren musik dunia dari era `90-an yang didominasi oleh aliran hard metal, trash metal, grunge, nu-metal, menjadi lebih eksperimental dengan memaksimalkan teknologi.

Perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi baru setelah badai krisis ekonomi yang melanda di akhir `90-an, membuat gelombang konsumerisme global menguat dan merasuk ke seluruh penjuru kehidupan. Identitas komunitas underground terkena pula imbasnya. Booming usaha distro dan clothing label Bandung mengubah atribut dan identitas komunitas menjadi lebih seragam.

Para pelaku bisnis ini yang berasal dari komunitas underground sendiri. Rekan komunitasnya menjadi peluang pasar. Hubungan komunalitas yang militan, kemudian berubah menjadi hubungan mutualisme dan negosiasi ekonomi untuk mempertahankan eksistensi komunal.

Kegiatan komunitas mendapat dukungan sponsor dari kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh anggota komunitas lain yang memilih jalur usaha untuk ditekuni. "Waktu belum banyak distro dan clothing, susah banget cari sponsor buat kegiatan atau promosi band anak-anak," kata Bonde Rizyan, yang sejak pertengahan `90-an malang melintang sebagai manajer dan pengelola event underground di Bandung. "Sekarang lebih mudah mencari sponsor, jadinya bisa saling mendukung antara band dan clothing label."

Pergeseran ini, menurut Bonde bisa dilihat sebagai perpindahan fase dari para pelaku komunitas underground yang ada di Bandung. "Sekarang, peluang untuk band-band indie sukses secara komersial lebih besar karena peluang untuk indie label pun lebih besar," kata Bonde yang juga mendirikan Palu Music Indonesia/Palu Records.

"Generasi sekarang sebetulnya lebih enak karena infrastruktur pendukungnya sudah lebih siap. Sekarang, yang namanya indie tidak lagi dipandang sebelah mata oleh media juga oleh industri. Generasi sebelumnya sering kali lost opportunity karena aksesnya tidak ada," tambah Bonde.

"Musik apa pun punya zamannya masing-masing. Tetapi dipertahankan oleh komunitasnya atau tidak, itu masalah lain," kata Uzho ketika menanggapi vakumnya band-band underground seperti Sub Chaos.
Menurut dia, eksistensi band dan komunitas underground sangat dipengaruhi oleh kepentingan yang ada didalamnya. Peristiwa Sabtu (9/2) di AACC yang menewaskan lebih dari 10 orang seolah menjadi interupsi bagi dinamika pergeseran karakter komunitas underground Bandung.

Peristiwa ini, bukan sekadar persoalan teknis penyelenggaraan acara atau kebutuhan ruang fisik pertunjukan yang memang sudah tidak memadai, namun yang lebih penting untuk direnungkan komunitas underground sendiri adalah bagaimana pergeseran karakter komunitas ini mampu dihadapi oleh komunitasnya tanpa menimbulkan benturan yang memakan korban jiwa. (Tarlen Handayani)***

Tulisan ini di muat di Pikiran Rakyat, 13 Februari 2008

Sunday, February 03, 2008

Mencintai Lelaki Beristri


Foto karya Roy Voragen


Satu hal yang harus kamu pahami, ketika berhubungan dengan lelaki beristri, kamu harus rela. Rela menjadi nomer kesekian. Rela menjadi bukan prioritas. Rela menerima sisihan waktu. Rela menerima label pengganggu rumah tangga orang lain. Rela memberi maaf atas semua alasan yang harus kau terima, saat si lelaki itu tak bisa menepati banyak hal yang ia janjikan padamu. Rela atas banyak hal. Rela atas semua resiko, ketika kau tau, lelaki yang kau cintai adalah lelaki dengan status NOT AVAILABLE alias Suami orang, alias bapaknya anak-anaknya.

Tentunya kau akan dituduh cari gara-gara, cari penyakit, parahnya perempuan ga bener, perempuan gatal, ketika kau lebih memilih mencintai lelaki beristri daripada lelaki lajang untuk kau kencani. Tapi kau juga bisa membela diri, siapa yang bisa melarang perasaan cinta yang datang?

Kerelaan ini, termasuk juga ketidak pahaman lingkungan ketika dalam hubungan itu,ketika kau berusaha keras menjaga dengan susah payah batas terjauh dari hubungan kalian dan tetap menjaganya di wilayah aman. Tetap saja, lingkungan akan menganggapmu sebagai si pelanggar batas. Pelanggar aturan dan norma masyarakat. PIhak ketiga dalam rumah tangga orang lain. Tertuduh utama dari sebuah peristiwa bernama perselingkuhan. Meski kau bersikeras, bahwa kau bisa menjaga batas aman, kau berhasil tidak bersetubuh dengan suami orang lain, tetap saja, kau adalah tertuduh utama. Kau adalah orang yang ketiga yang membuat lelaki beristri mencintai perempuan lain selain istrinya. Kau membuat lelaki itu tak setia pada istrinya.

Pada kenyataannya seringkali bukan kamu yang memulai semua kerumitan ini. Dan kenyataan pula bahwa kesetiaan seringkali bukan berarti memilih untuk tetap pada satu pilihan. Kesetiaan teruji justru saat mengalami beberapa pilihan. Manusia terlalu fana untuk bisa menjadi utuh atas satu hal. Begitu juga para suami. Seringkali si suami sendiri merasa ada bagian dalam dirinya yang kosong yang seringkali tak bisa dipenuhi oleh istrinya di rumah. Ia hanya butuh teman berbagi, teman yang bisa mengisi kekosongan itu. Tidak dengan seks. Cukup dengan sedikit antusiasme. Berbagi cerita atau sedikit berpegangan tangan saja sudah lebih dari cukup. Karena ia butuh teman yang bisa bergulat secara emosional dan pikiran, di tengah situasi rumah tangga yang semakin rutin dan datar. Apa yang salah dengan keinginan mencari teman pengisi kekosongan. Yang seringkali suami cari bukanlah cinta yang sama yang ia berikan pada sang istri, ibu dari anak-anaknya. Suami butuh cinta yang lain, untuk memberinya keyakinan diri bahwa cintanya pada perempuan lain bisa melengkapi dan mengukuhkan cintanya pada sang istri.

Lalu kau, perempuan lajang, penuh dengan semangat dan menawarkan antusiasme itu dan kebaruan-kebaruan dalam mengalami hidup. Selamat, kau terpilih. Kau tak perlu merayunya kau sudah terpilih. Seperti menang hadiah kejutan. Di tengah-tengah kesulitanmu bertemu lelaki yang bisa menjadi teman hidupmu, karena semakin kau membangun kualitasmu, semakin sulit kau menemukan pasangan. Seringkali kualitas pasangan yang kau butuhkan justru ada pada lelaki yang telah beristri. Dan saat kau bersepakat membuka pintu hatimu, kau sadar bahwa mengusir si suami dari ruang hatimu bukanlah hal mudah.

Lalu lelaki beristri datang dengan sejumlah pengertian dan membawa perasaan memahami yang kau cari. Bagaimana mungkin si lelaki tidak paham dan mengerti? dia sudah melewati itu semua. Kehidupan berumah tangga menyadarkannya, ternyata banyak hal yang tidak bisa ia dapatkan dari pasangannya. Kau seperti pasal-pasal tambahan yang belum tercantum dalam kontrak nikah yang dilakukan suami dengan istrinya. Kenyataan ini membuat lelaki beristri menjadi lebih pengertian pada lajang-lajang sepertimu. Siapa yang tak ingin dimengerti? siapa yang tak ingin menerima tawaran pundak, ketika kau lelah menyandang beban kelajanganmu dan ingin punya pundak untuk bersandar. Lalu apakah kau mesti menolak pundak itu sama sekali saat kau merasa begitu lelah? padahal kau bisa menerimanya untuk menyandarkan diri sejenak, mencoba mengerti substansi rasa nyaman yang kau temukan dari pundaknya, tanpa menuntut hal lain selain pundak. Lantas pertemuan seperti ini apakah menjadi pertemuan yang salah dan seharusnya dihindari?


Mungkin persoalannya bukan pada pilihan menghindarinya atau menerimanya, tapi ada pada kerelaanmu saat kau memutuskan bersandar sejenak di pundaknya. Jangan kau bayangkan pertemuanmu dengan lelaki beristri, membuatmu otomatis nyaman ketika bersandar padanya. Kenyamanan itu tergantung dari kerelaanmu padanya. Kerelaan untuk menyadari bahwa kapanpun dia bisa beranjak, mengambil pundaknya kembali ketika istri dan anak-anaknya menginginkannya. Kau tak bisa menuntut pundak itu hanya untukmu. Kau hanya meminjamnya sesekali dari istri dan anak-anaknya. Kau tak bisa menuntut hakmu atasnya, karena dia tak punya kewajiban apa-apa atasmu, kecuali kerelaannya untuk memberikan cinta di ruang kosong hatinya itu untukmu. Kerelaan yang menuntutmu memaknai cinta adalah memberi bukan meminta. Kau memberikan relamu padamu. Kau tidak memintanya, juga mungkin dia. Kalian sama-sama memberi dan membuat kekosongan masing-masing menjadi terisi. Meski sangatlah sulit mengukurnya, sejauh mana kekosongan masing-masing itu telah terisi.

Pada prosesnya, menjadi rela itu kadang terasa seperti kekosongan baru dalam dirimu. Kekosongan yang muncul dari kesadaran bahwa kau dikelilingi pagar yang jelas yang tidak bisa kau langgar. Kau terkurung dalam ruang mencinta yang jelas teritorialnya, tapi seringkali sulit bagimu untuk melihat batas wilayahnya karena hakmu atas rasa cintamu padanya, bertubrukan dengan pergulatan rasionalitas hak dan bukan hak. Apakah mencintaimu menjadi hak yang kau miliki? Juga mengalami cinta dengannya, apakah juga hak yang bisa kau alami? Itu persoalan pelik dan dilematis yang harus kau hadapi. Kerelaan akan menempatakan hakmu dalam tataran pikiran dan menjadikan cintamu itu sebagai sebuah platonisme dalam pergulatan pikiran dan rasa yang intens dan lebih banyak kau pendam sendiri.

Saat kau lelah untuk memendam intensitas itu dan itu membuatmu kemudian nekat menabrak batas itu untuk mendapatkan keintiman fisikal yang nyata dan ekspresif. Lalu kau terjebak pada tuntutan prioritas, waktu yang lebih banyak, kejelasan status, banyak hal yang akhirnya membuat perasaan cinta yang memenuhi ruang kosong itu, habis terkuras, karena kau sibuk dengan masalah teknis, bukan persoalan substansi. Kau kan dihantui persaan takut karena pada akhirnya kau menjadi pamrih dan menuntut. Kau merasa telah memberi lahir dan batin lalu kau berhak menuntut hal yang sama darinya. Padahal sejak awal kau tau, tuntutan itu sering kali sia-sia.

Bertahan pada substansi itu berarti kau rela, menjalani pergulatan pikiran dan rasa tanpa menuntut sensasi fisikal, saat kau sadar kau tidak bisa menyentuhnya dan meraih waktunya kapanpun kau mau. Pada tingkat ini, kau sedang dalam proses memperkaya batinmu. Memperkaya kesadaranmu sebagai lajang atas sebuah hubungan dan memperluas batin dan hatimu atas arti sebuah kerelaan dan ketulusan.

Pada akhirnya, memilih membuka pintu hatimu bagi lelaki beristri, mesti siap dengan semua konsekuensinya. Semua kerumitan dari hubungan itu, akan menempamu untuk bisa berlapang hati dengan semua kerelaan dan ketulusanmu itu. Kau akan menemukan makna mencintai, menemukan cara untuk menjadi fair pada dirimu juga pada dirinya_si suami orang. Setiap kerumitan dan kompleksitasnya, akan membawamu pada kualitas diri yang baru. Tinggal kamu tentukan saja, sejauh mana kualitas itu ingin kamu bangun dari hubungan ini. Kamu yang memutuskan.

Untuk yang mencintai dan dicintai lelaki beristri..

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails