Skip to main content

Kebahagiaan Satu Meter Persegi

Tuhan Tak Sampai,2005, karya Agus Suwage


"Apakah Tuhan membiarkan hambanya mencapaiNya dengan mengabaikan hambanya yang lain?" Sebuah pertanyaan yang muncul di tengah perbincangan akrab kami_aku dan seseorang yang spesial dan banyak membuatku tersadar 'everyday is a new day'. Ia mengajarkanku bagaimana mengalami kota tempat tinggalku. Ini kali kedua kami sarapan pagi di tempat yang sama-sama kami suka_Warung Kopi Purnama. Tempat dimana interaksi komunitas sangat terasa. Di sana dan kami bisa mengamati setiap pelanggan yang datang dan duduk di tempatnya. Sama seperti kami yang untuk kali kedua duduk di meja yang sama dan dengan posisi duduk yang sama.

Pembicaraan soal spiritualitas di pagi hari, di antara hiruk pikuk Purnama yang ramai dengan pengunjung. "Rasanya umat mayoritas ini merasa insecure, sehingga harus selalu berteriak, terus menerus minta dimengerti dan tidak lagi cukup toleran pada sekelilingnya, atau kah ini cerminan kerinduan spiritual yang dalam dan tak tergapai?" lontarnya di tengah seruputan kopi dan telur setengah matang. "Ya, sangking keterlaluan rindunya sampai ga tau gimana menggapai Tuhan, akhirnya frustasi, marah-marah dan menyalahkan semua orang," aku menimpalinya. Kami memang sama-sama terganggu dengan situasi ini, dimana beragama menjadi sesuatu yang mengerikan dan penuh ketegangan. Kami merindukan semangat cinta kasih dan besar hati untuk toleran pada perbedaan itu.

"Keseharian itu penting, kualitas keimanan seseorang menurutku diukur dari bagaimana keseharian itu dijalani," katanya lagi. Kami berdua sama-sama percaya pada keseharian yang dijalani dengan kebaruan. "Jika untuk mencapai Tuhan, aku mesti mengorbankan saudaraku sendiri (dengan mengabaikannya), aku lebih baik tidak sampai kesana," mimiknya tampak sungguh-sungguh. Aku tersenyum. "Kayanya Tuhan ga seegois itu deh, hanya karena Ia ingin didekati hambaNya, terus memperbolehkan hambanya dengan berbagai macam cara.." Giliran dia yang tersenyum... "Iya.. aku percaya itu.."

Seruput- seruput. Aku susu murni. Dia kopi. Sisa-sisa telur setengah matang dan roti telur mata sapi masih ada. Kami kembali menelusuri sekeliling. Seperti mengabsen para pelanggan yang biasa muncul di minggu pagi. Ada beberapa yang baru kami lihat minggu ini dan tidak di minggu lalu.

"Apa artinya atribut penanda identitas, jika itu hanya menciptakan jarak dan menjadi pembeda bahwa yang satu lebih beriman daripada yang lain? jangan-jangan itu cerminan krisis identitas," kegelisahannya kembali muncul. "Apakah aku yang berpenampilan seperti ini.." katanya sambil menunjuk pada polo shirt E-Sprit dan sweater coklat Lacoste yang dia pakai, ".. menjadi kurang beriman, di banding dengan semua yang bersorban itu?" Sebuah pertanyaan yang menyadarkan adanya jarak saat keyakinan kami kemudian dibedakan oleh atribut dan perbedaan pemahaman ritual. Bagi kami, ritual adalah upaya pendisiplinan dan bukan tujuan akhir yang bisa beranak pinak menjadi tujuh kali lipat imbalannya. Pendisiplan diri untuk sadar dan rela atas keyakinan yang kami anut. Kerelaan dan kesadaran itulah yang membuat kami nyaman dan feel secure dengan jalan spiritualitas kami.

"Kenapa keyakinan itu tidak termanifestasikan dalam kepedulian pada hal-hal kecil dan sehari-hari? bagaimana dalam keseharian memperlakukan sampah, berkontribusi pada hal-hal kecil disekitarnya.." dia terlihat semakin semangat dengan persoalan keseharian ini. "mungkin dalam benak banyak umat, manifestasi keimanan itu harus sesuatu yang besar dan heroik, angkat senjata, hancurkan yang berbeda. Semua hal besar yang dikiranya itulah yang bakal mengesankan di mata Tuhan, padahal mungkin itu hanya mengesankan buat sesama manusia aja... heroisme itu.." timpalku mengomporinya. "itu mengerikan..." katanya kehilangan kata-kata.

Kami diam dan berpikir. Banyak yang muncul dibenakku dan mungkin juga dibenaknya. "Hey, aku ingat apa yang greenpeace bilang waktu ada yang bertanya, bagaimana caranya menjadi aktivis lingkungan. Kamu pasti ga menduga jawabannya," aku mengiterupsinya. Dia memandangku ingin tau. "Katanya jika ingin menjadi pahlawan bagi planet bumi ini, pastikan bahwa setiap hari dalam jarak 1 meter persegi di sekelilingmu, kamu menyebarkan kebahagiaan untuk orang lain.. hanya satu meter persegi saja setiap hari.. mulai dulu dengan itu.." kataku lagi. Dia menatapku. Senyuman mengembang dari wajahnya. "Ya, indah sekali. kebahagiaan satu meter persegi itu. Seandainya semua orang memulainya dari itu..." dia terdiam sejenak. "Satu meter persegi itu bukan hal yang mudah.. tapi itu paling realistis dan mungkin.. " ia seperti bergumam pada dirinya sendiri. Kami kembali terdiam memikirkan kebahagiaan satu meter persegi kami sendiri yang jelas pada detik itupun kami bahagia saat bisa membincangkan kegelisahan spiritual seperti ini dengan hati dan pikiran terbuka.

Lalu sisa-sisa susu murni, roti telur mata sapi, kopi, telur setengah matang, dan sebatang rokok mild yang belum habis setengah, mengakhiri perjumpaan kami. "yukk.. nampaknya banyak yang antri untuk makan.." dia mengajakku beranjak setelah hampir 2.5 jam duduk di situ.

"Jadi kapan kita ngobrol serius lagi?" tanyanya sebelum kami berpisah menuju kendaraan kami masing-masing.
"Pada sarapan berikutnya ya.." kataku renyah.
Dia mengangguk.."kontak-kontak aja.."

Bandung, 11 November 2007

(Percakapan di tulisan ini adalah hasil rekonstruksi dari hasil obrolan yang sesungguhnya)

Comments

Anonymous said…
awal yang baik

Popular posts from this blog

Notes on a Scandal (2006)

* * * 1/2

Judi Dench memang tidak perlu di ragukan lagi aktingnya. Berperan sebagai seorang guru, perawan tua, bernama Barbara Covett. Kesepian, hidup dengan seekor kucing dan punya kecenderungan lesbian yang tak berani dia ekspresikan secara terbuka. Kisahnya dimulai saat Sheba Hart (Cate Blanchett), guru kesenian bergabung dengan sekolah tempat Barbara bekerja.

Dalam sekejap, pesona Sheba memikat Barbara, rekan gurunya yang lain dan seorang murid berusia lima belas tahun bernama Steven Connolly (Andrew Simpson). Dengan mudah Steven memanipulasi Sheba dengan cerita-cerita tentang dirinya yang mengundang simpati. Skandal guru dan murid pun tak bisa dihindari. Barbara yang mengetahui skandal ini, merasa bertanggung jawab melindungi Sheba supaya rahasia skandal itu tak terbongkar. Namun, diam-diam Barbara memanfaatkan Sheba untuk mengisi kekosongan dan kesepiannya selama ini. Barbara mencatat skandal tersebut dalam buku hariannya dan fantasi tentang kedekatannya dengan Sheba. Sampai akhir…

Hidup di Bandung Dasawarsa 80an - 90an

'Burako alm. jegger bonpis' foto by bapakku
Tiba-tiba saja, Bebeng bertanya: "Hey Len, maneh teh lainna budak SMP 20? Atuh gudang beas?" (hey len, bukankah kamu anak SMP 20? Gudang beras ya?). Aku yang ditanya begitu langsung balik menuding Bebeng " Hah? maneh teh budak 20 oge?" tawaku dan tawa Bebeng meledak. Tiba-tiba saja, aku dan Bebeng (yang setiap hari nongkrong di kantor AJI Bandung alias tetangga kamar tobucil) punya kesamaan sejarah, karena bersekolah di SMP yang sama. SMP yang sama sekali bukan SMP favorit (biasanya SMPN 4 tetangga kami, meledek anak-anak SMPN 20 dengan sebuatan sekolah gudang beras. SMPN 20 ini terletak persis di stasiun Cikudapateh).
Kenangan kami, ternyata ga jauh beda. Tentang: betapa 'beling'nya daerah kami di jaman remaja dulu. Anak-anak SMPN 20 Bandung (Jl. Centeh, Bandung) pasti ga asing dengan daerah-daerah di sekitarnya: Cinta Asih, Samoja, Gang Warta, Cicadas, Cibangkong, Karees, Cibunut, Alani, Kosambi, Babaka…

Anatomy of Hell (2004)

* * *

Nampaknya aku perlu memahami dan mengerti bagaimana orang Perancis bercerita. Seringkali, aku ga mudeng sama konsep, cerita, dan bahasa visual mereka, karena aku merasa seperti ga ada klimaksnya. Kejutan ada, tapi seringkali datang tiba-tiba dan bikin kening berkerut, karena.. "bentar, jadi sebenernya film ini tentang apa ya?"

Ya begitu juga aku merasakan Anatomy of Hell. Film yang digarap oleh sutradara kontroversialm, Catherine Breillat. Di Film ini, Catherine secara frontal dan vulgar mencoba menjelaskan tentang sisi keperempuanan yang selama ini seringkali tak dipahami oleh laki-laki dalam relasi seksual. Dibintangi oleh ex bintang porno Rocco Siffredi serta model Chanel dan Gaultier, Amira Casar, bagiku terasa sangat teatrikal. Dialognya, adegannya. Bahkan dalam adegan-adegan sex yang begitu vulgar. Jangan bayangkan, kalo film ini sekedar film tripel x. Bagiku, apa yagn ingin disampaikan Breillat sebenernya sesuatu yang menjadi keseharian dan begitu privat bagi pere…