Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2007

Beyond Horizon

Frank M. Charles Memorial Park

Sembilan hari (sejak tanggal 21 November 2007) lalu, diriku dipenuhi dengan pertanyaan itu: Ada apa di balik horison? Sebuah berita besar bagi hidupku. Kuterima dengan segenap kebahagiaan. Aku menginginkannya sejak SMA dulu. Lalu berjuang untuk mendapatkan kesempatan itu dan lolos seleksi, sampai akhirnya aku mendapatkannya. Sebuah perjuangan panjang bagiku. Ya, aku sangat menginginkannya: pergi ke jantungnya metropolitan dunia_NYC. Rasanya beberapa waktu lalu, keinginan itu masih terasa sebagai impian. Karena aku tau, aku ga mampu untuk menyengaja pergi piknik kesana. Aku harus memperjuangkan kesempatan untuk membuat mimpi itu jadi kenyataan.

Ketika aku mendapatkan kabar gambira ini, tiba-tiba langkahku begitu lebar. Aku seperti melompat masuk ke dalam lingkaran impianku itu. Kakiku menjejak di dalamnya dan membuktikan bahwa semuanya bukan lagi mimpi, tapi nyata. Tanganku seperti menyentuh horizon NYCku. Merabanya dan merasakannya.

***

Aku ingat perasaan…

Kebahagiaan Satu Meter Persegi

Tuhan Tak Sampai,2005, karya Agus Suwage


"Apakah Tuhan membiarkan hambanya mencapaiNya dengan mengabaikan hambanya yang lain?" Sebuah pertanyaan yang muncul di tengah perbincangan akrab kami_aku dan seseorang yang spesial dan banyak membuatku tersadar 'everyday is a new day'. Ia mengajarkanku bagaimana mengalami kota tempat tinggalku. Ini kali kedua kami sarapan pagi di tempat yang sama-sama kami suka_Warung Kopi Purnama. Tempat dimana interaksi komunitas sangat terasa. Di sana dan kami bisa mengamati setiap pelanggan yang datang dan duduk di tempatnya. Sama seperti kami yang untuk kali kedua duduk di meja yang sama dan dengan posisi duduk yang sama.

Pembicaraan soal spiritualitas di pagi hari, di antara hiruk pikuk Purnama yang ramai dengan pengunjung. "Rasanya umat mayoritas ini merasa insecure, sehingga harus selalu berteriak, terus menerus minta dimengerti dan tidak lagi cukup toleran pada sekelilingnya, atau kah ini cerminan kerinduan spiritual yang dalam da…

Tiga Hari Bertanya Gambang Kromong Punya Siapa?

Altar Arwah Klenteng Keluarga Liem, Pecinan Semarang, Foto by tarlen

Dari Catatan Awal Penggarapan Film Dokumeter Anak Naga Beranak Naga, 2005.Tulisan ini pernah dimuat di Bandung Beyond Magazine, Edisi Chinese ParadeBisa diakses juga di http://anaknagaberanaknaga.com/catatan/index.html.
Di blog ini judulnya aku tambahin. Tulisan ini aku posting untuk mengantarkan tulisan yang sedang kubuat soal pendokumentasian seni tradisi menanggapi tulisan Farida Indriastuti di Kompas, 'Dari Kemitren ke Hollywood'

***

Mencari jawab atas pertanyaan Gambang Kromong punya siapa? Mungkin tak sesederhana ketika menanyakannya. Keragaman pengaruh yang membentuk musik Gambang Kromong, sangat menarik untuk ditelusuri. Itu sebabnya, ketika ditawari Ariani Darmawan untuk telibat dalam proyek penggarapan film dokumenter Anak Naga Beranak Naga, saya begitu exciting. Sebuah film dokumenter mengenai akulturasi kebudayaan Tionghoa dan Betawi yang melahirkan musik Gambang Kromong, tak mungkin saya tolak. Ket…