Thursday, November 29, 2007

Beyond Horizon


Sembilan hari (sejak tanggal 21 November 2007) lalu, diriku dipenuhi dengan pertanyaan itu: Ada apa di balik horison? Sebuah berita besar bagi hidupku. Kuterima dengan segenap kebahagiaan. Aku menginginkannya sejak SMA dulu. Lalu berjuang untuk mendapatkan kesempatan itu dan lolos seleksi, sampai akhirnya aku mendapatkannya. Sebuah perjuangan panjang bagiku. Ya, aku sangat menginginkannya: pergi ke jantungnya metropolitan dunia_NYC. Rasanya beberapa waktu lalu, keinginan itu masih terasa sebagai impian. Karena aku tau, aku ga mampu untuk menyengaja pergi piknik kesana. Aku harus memperjuangkan kesempatan untuk membuat mimpi itu jadi kenyataan.

Ketika aku mendapatkan kabar gambira ini, tiba-tiba langkahku begitu lebar. Aku seperti melompat masuk ke dalam lingkaran impianku itu. Kakiku menjejak di dalamnya dan membuktikan bahwa semuanya bukan lagi mimpi, tapi nyata. Tanganku seperti menyentuh horizon NYCku. Merabanya dan merasakannya.

***

Aku ingat perasaan seperti itu pernah ku rasakan saat menjejakkan kakiku di sebuah kapal bernama Mirad dan kapal perlahan melaju, membawaku menyusuri sungai Mahakam. Membelah arusnya. Menyongsong anginnya. Dan aku merasakannya. Semua impian masa kecilku tentang perjalanan ke pedalaman Kalimantan, menjejak nyata bersama deru mesin kapal. Ada perasaan yang mengembang dan melebar, seperti sebuah garis yang perlahan bergerak menghubungkan satu titik dengan titik yang lain. Rasanya seperti menyelam ke dalam setiap halaman buku River of Gems_buku yang menceritakan tentang perjalanan Lorne Blair dan Rio Helmi mengupas belantara Kalimantan. Buku itu kubeli 12 tahun lalu dengan jerih payahku berdagang kartu nama, karena aku ingin memancang mimpiku pada setiap foto-foto Rio Helmi sambil berjanji pada diriku sendiri: Aku akan sampai di tempat-tempat ini suatu hari nanti. Sebelas tahun kemudian, ternyata aku sampai pada horizonku. Menelusurinya, merasakannya dari setiap belaian angin sungai Mahakam, kemilau perak airnya dan gumpalan awan yang menari-nari seperti formasi tarian yang berubah setiap 15 menit sekali. Menatap langsung gunung batu karang dan mengagumi langitnya. Aku menikmatinya. Sangat. Setiap jengkal penelusuranku atas garis horizon Mahakamku saat itu.

Ku kirimkan pesan pada bapakku di surga, "Pak, aku sudah sampai disini. Di tempat yang pernah sama-sama kita hayalkan. Lewat cerita-ceritamu di masa kecilku dulu. Aku sampai dan menjejakan diriku disini meski tidak denganmu, tapi aku sudah sampai disini." Enam hariku menyusuri Mahakam dan anak sungainya, mengunjungi perkampungan Dayak, bersalaman dengan kepala suku Dayak untuk pertama kalinya, menjumpai dukun Dayak dan kehidupan mereka, seperti meraba tekstur mimpiku yang kemudian nyata berwujud. Saat kapal Mirad membawaku kembali ke Balikpapan untuk kembali pulang, Aku bilang pada diriku sendiri. Horizon Mahakamku telah ku lampaui. Setelah ini lalu apa? Apa yang kurasakan setelah menggapainya dan melewatinya?


***
Aku membayangkan seandainya aku yang duduk di bangku Central Park, menunggu Sihar yang berjanji pada Laila menemuinya di New York, seperti yang Ayu Utami tulis di kisah Saman. Atau membayangkan seandainya akulah si Carrie Bradshaw di Sex n The City, menulis kolom tentang lika liku hubungan dari pengalaman kesehariannya sebagai New Yorker. Atau membayangkan, seandainya aku saat 9/11, aku ada disana. Menyaksikan bagaimana gedung kembar itu hancur bersama dengan hancurnya hati orang-orang yang terpaksa kehilangan rasa nyaman pada kotanya. Aku tentunya sering sekali membayangkan bisa menonton konsernya Pearl Jam atau Tom Waits di kota ini. Membayangkan berpapasan dengan Steve Buscemi di Subway Brooklyn atau papasan di jalanan Manhattan dengan Daniel Day Lewis. Banyak.. banyak sekali yang kubayangkan tentang kota ini.

"Kamu harus pergi kesana. Nikmati cafe-cafe kecil pinggir jalan, sambil rasakan interaksimu dengan kota itu, dengan penghuninya, dengan hiruk pikuknya. Kau akan mengalami kegairahan ketika mengalami New York, aku yakin kamu akan sangat menyukainya", matanya berbinar-binar penuh semangat, mengenang kembali pengalamannya sendiri ketika berinteraksi dengan kota itu. Saat itu, tepatnya empat bulan lalu, ketika aku mengabarkan padanya aku masuk 4 besar kandidat yang tepilih untuk berangkat kesana. Menjelang akhir perjumpaan kami , dia menatapku optimis "Kamu pasti berangkat," katanya yakin.

Sampai tanggal 21 Nov 2007 lalu, aku meneleponnya sebagai orang pertama yang kuberi tau..
"... aku jadi pergi.. aku hepi banget.."

***

Satu persatu apa yang pernah ku impikan di masa kecil menjelma nyata. Tuhan selalu mengabulkannya meski tidak langsung pada saat keinginan itu muncul. Semua keinginan itu ada waktunya sendiri untuk bisa terwujud, karena setiap keinginan membutuhkan waktu untuk membangun jalannya sendiri untuk sampai pada kesiapannya mewujud jadi nyata. Tugasku adalah menjaga keinginan itu dengan keyakinanku. Bersetia padanya. Keyakinan dan kesetiaan itu yang membukakan jalan dan mengantar keinginan sampai pada horisonnya dan wujud nyatanya, juga mengantarku menemukan kesiapan diri ketika sampai untuk meraihnya.

Lalu apa setelah sampai dan mencapai horison keinginan itu? selesaikah semua mimpi itu? Yang kemudian kurasakan setelah satu persatu horizon itu ku gapai, duniaku melebar. Di balik horison itu ternyata ada horison lain yang menungguku untuk sampai dan menggapainya. Seperti juga langit yang bertingkat-tingkat. Apakah ini semata-mata gambaran ketidak puasan manusia dengan segala keinginannya? Aku tidak sepenuhnya setuju. Ketidakpuasan mendorong manusia untuk terus mencari. Dan setiap hidup manusia adalah proses pencarian itu sendiri. Mencari sesuatu yang bisa di gapai.

Aku percaya, perjalanan menggapai horisonku adalah bagian dari proses diriku membangun kosmologiku sendiri. Ruang yang melingkupi diri dan kehidupanku. Kesetiaanku dan keyakinanku pada impianlah yang menentukan seluas apa kosmosku. Perjalanan hidup berarti juga perjalanan membangun kosmos itu terus menerus. Menyambungkan satu horison dengan horison yang lain, membentang seluas keinginan yang tumbuh dan berkembang dalam diriku.

Aku ingin membangun kosmosku seluas dan selebar yang aku mampu. Seperti payung yang lebar. Bukan hanya menaungi diriku, tapi juga bisa menaungi siapapun yang ingin masuk kedalamnya.

terima kasih untuk pemberi hidup
terima kasih untuk semua yang menemaniku menggapai horison itu.
terima kasih untuk kamu, kamu dan kamu..
terima kasih.

Saturday, November 10, 2007

Kebahagiaan Satu Meter Persegi

Tuhan Tak Sampai,2005, karya Agus Suwage


"Apakah Tuhan membiarkan hambanya mencapaiNya dengan mengabaikan hambanya yang lain?" Sebuah pertanyaan yang muncul di tengah perbincangan akrab kami_aku dan seseorang yang spesial dan banyak membuatku tersadar 'everyday is a new day'. Ia mengajarkanku bagaimana mengalami kota tempat tinggalku. Ini kali kedua kami sarapan pagi di tempat yang sama-sama kami suka_Warung Kopi Purnama. Tempat dimana interaksi komunitas sangat terasa. Di sana dan kami bisa mengamati setiap pelanggan yang datang dan duduk di tempatnya. Sama seperti kami yang untuk kali kedua duduk di meja yang sama dan dengan posisi duduk yang sama.

Pembicaraan soal spiritualitas di pagi hari, di antara hiruk pikuk Purnama yang ramai dengan pengunjung. "Rasanya umat mayoritas ini merasa insecure, sehingga harus selalu berteriak, terus menerus minta dimengerti dan tidak lagi cukup toleran pada sekelilingnya, atau kah ini cerminan kerinduan spiritual yang dalam dan tak tergapai?" lontarnya di tengah seruputan kopi dan telur setengah matang. "Ya, sangking keterlaluan rindunya sampai ga tau gimana menggapai Tuhan, akhirnya frustasi, marah-marah dan menyalahkan semua orang," aku menimpalinya. Kami memang sama-sama terganggu dengan situasi ini, dimana beragama menjadi sesuatu yang mengerikan dan penuh ketegangan. Kami merindukan semangat cinta kasih dan besar hati untuk toleran pada perbedaan itu.

"Keseharian itu penting, kualitas keimanan seseorang menurutku diukur dari bagaimana keseharian itu dijalani," katanya lagi. Kami berdua sama-sama percaya pada keseharian yang dijalani dengan kebaruan. "Jika untuk mencapai Tuhan, aku mesti mengorbankan saudaraku sendiri (dengan mengabaikannya), aku lebih baik tidak sampai kesana," mimiknya tampak sungguh-sungguh. Aku tersenyum. "Kayanya Tuhan ga seegois itu deh, hanya karena Ia ingin didekati hambaNya, terus memperbolehkan hambanya dengan berbagai macam cara.." Giliran dia yang tersenyum... "Iya.. aku percaya itu.."

Seruput- seruput. Aku susu murni. Dia kopi. Sisa-sisa telur setengah matang dan roti telur mata sapi masih ada. Kami kembali menelusuri sekeliling. Seperti mengabsen para pelanggan yang biasa muncul di minggu pagi. Ada beberapa yang baru kami lihat minggu ini dan tidak di minggu lalu.

"Apa artinya atribut penanda identitas, jika itu hanya menciptakan jarak dan menjadi pembeda bahwa yang satu lebih beriman daripada yang lain? jangan-jangan itu cerminan krisis identitas," kegelisahannya kembali muncul. "Apakah aku yang berpenampilan seperti ini.." katanya sambil menunjuk pada polo shirt E-Sprit dan sweater coklat Lacoste yang dia pakai, ".. menjadi kurang beriman, di banding dengan semua yang bersorban itu?" Sebuah pertanyaan yang menyadarkan adanya jarak saat keyakinan kami kemudian dibedakan oleh atribut dan perbedaan pemahaman ritual. Bagi kami, ritual adalah upaya pendisiplinan dan bukan tujuan akhir yang bisa beranak pinak menjadi tujuh kali lipat imbalannya. Pendisiplan diri untuk sadar dan rela atas keyakinan yang kami anut. Kerelaan dan kesadaran itulah yang membuat kami nyaman dan feel secure dengan jalan spiritualitas kami.

"Kenapa keyakinan itu tidak termanifestasikan dalam kepedulian pada hal-hal kecil dan sehari-hari? bagaimana dalam keseharian memperlakukan sampah, berkontribusi pada hal-hal kecil disekitarnya.." dia terlihat semakin semangat dengan persoalan keseharian ini. "mungkin dalam benak banyak umat, manifestasi keimanan itu harus sesuatu yang besar dan heroik, angkat senjata, hancurkan yang berbeda. Semua hal besar yang dikiranya itulah yang bakal mengesankan di mata Tuhan, padahal mungkin itu hanya mengesankan buat sesama manusia aja... heroisme itu.." timpalku mengomporinya. "itu mengerikan..." katanya kehilangan kata-kata.

Kami diam dan berpikir. Banyak yang muncul dibenakku dan mungkin juga dibenaknya. "Hey, aku ingat apa yang greenpeace bilang waktu ada yang bertanya, bagaimana caranya menjadi aktivis lingkungan. Kamu pasti ga menduga jawabannya," aku mengiterupsinya. Dia memandangku ingin tau. "Katanya jika ingin menjadi pahlawan bagi planet bumi ini, pastikan bahwa setiap hari dalam jarak 1 meter persegi di sekelilingmu, kamu menyebarkan kebahagiaan untuk orang lain.. hanya satu meter persegi saja setiap hari.. mulai dulu dengan itu.." kataku lagi. Dia menatapku. Senyuman mengembang dari wajahnya. "Ya, indah sekali. kebahagiaan satu meter persegi itu. Seandainya semua orang memulainya dari itu..." dia terdiam sejenak. "Satu meter persegi itu bukan hal yang mudah.. tapi itu paling realistis dan mungkin.. " ia seperti bergumam pada dirinya sendiri. Kami kembali terdiam memikirkan kebahagiaan satu meter persegi kami sendiri yang jelas pada detik itupun kami bahagia saat bisa membincangkan kegelisahan spiritual seperti ini dengan hati dan pikiran terbuka.

Lalu sisa-sisa susu murni, roti telur mata sapi, kopi, telur setengah matang, dan sebatang rokok mild yang belum habis setengah, mengakhiri perjumpaan kami. "yukk.. nampaknya banyak yang antri untuk makan.." dia mengajakku beranjak setelah hampir 2.5 jam duduk di situ.

"Jadi kapan kita ngobrol serius lagi?" tanyanya sebelum kami berpisah menuju kendaraan kami masing-masing.
"Pada sarapan berikutnya ya.." kataku renyah.
Dia mengangguk.."kontak-kontak aja.."

Bandung, 11 November 2007

(Percakapan di tulisan ini adalah hasil rekonstruksi dari hasil obrolan yang sesungguhnya)

Monday, November 05, 2007

Tiga Hari Bertanya Gambang Kromong Punya Siapa?

Altar Arwah Klenteng Keluarga Liem, Pecinan Semarang, Foto by tarlen

Dari Catatan Awal Penggarapan Film Dokumeter Anak Naga Beranak Naga, 2005. Tulisan ini pernah dimuat di Bandung Beyond Magazine, Edisi Chinese Parade Bisa diakses juga di http://anaknagaberanaknaga.com/catatan/index.html.
Di blog ini judulnya aku tambahin. Tulisan ini aku posting untuk mengantarkan tulisan yang sedang kubuat soal pendokumentasian seni tradisi menanggapi tulisan Farida Indriastuti di Kompas, 'Dari Kemitren ke Hollywood'


***

Mencari jawab atas pertanyaan Gambang Kromong punya siapa? Mungkin tak sesederhana ketika menanyakannya. Keragaman pengaruh yang membentuk musik Gambang Kromong, sangat menarik untuk ditelusuri. Itu sebabnya, ketika ditawari Ariani Darmawan untuk telibat dalam proyek penggarapan film dokumenter Anak Naga Beranak Naga, saya begitu exciting. Sebuah film dokumenter mengenai akulturasi kebudayaan Tionghoa dan Betawi yang melahirkan musik Gambang Kromong, tak mungkin saya tolak. Ketertarikan saya terhadap budaya Tionghoa dan bagaimana bentuk-bentuk kebudayaan yang berbeda bisa saling mempengaruhi satu sama lain, telah menarik perhatian saya sejak guru SD mengatakan nenek moyang kita berasal dari Cina Selatan. Selama ini saya mengenal Gambang Kromong identik dengan Lenong dan budaya Betawi.

Dari wawancara awal dengan Tan Deh Seng, seorang musikolog yang menetap di Bandung, saya mengetahui, bahwa Gambang Kromong pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang merantau ke Betawi sekitar abad ke 18. Titilaras yang kemudian dikenal dengan sebutan salendro Cina, kemudian menjadi pakem utama musik Gambang Kromong, bercampur dengan pengaruh kebudayaan Jawa, Sunda, Melayu, Deli yang akhirnya membentuk karakter yang khas dari musik Gambang Kromong itu sendiri. Keragaman unsur dan bagaimana akulturasi berbagai macam bentuk kebudayaan bisa melahirkan musik Gambang Kromong, tak urung membuat saya terpukau. Namun, ketika menyaksikan langsung bagaimana proses akulturasi itu secara langsung, menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

23 April 2005,
Yang saya lakukan dua hari ini bersama Ariani atau biasa saya panggil Cik Rani dan teman saya Peter, seorang arsitek, cukup menarik. Survey Gambang Kromong ke Tanggerang. menemui Ang kang lan di belakang Kota Fantasi Bumi Serpong Damai, di desa bernama Jelupang. Ang kang lan, Cina Peranakan keling, hidup di antara benteng yang membatasi Kota Fantasi dan desa-desa yang semakin tergusur. Lahir dan berkembang sebagai Cina Betawi peranakan, semula nampak ragu untuk membuka diri, tapi setelah menyadari kami bukan ancaman, dia mulai menerima kami dengan baik. Ia menunjukkan VCD yang sengaja direkam dari pertunjukan Gambang Kromong ketika Ang Kang Lan mengawinkan anaknya. VCD sederhana tapi cukup bisa diniknmati. Kesadaran mendokumentasikannya yang sebenarnya patut dipuji meski untuk alasan yang sederhana.

Saat bertemu Ang Kang Lan, saya belum 'ngeh' dengan apa dan bagaimana Gambang Kromong itu. Apalagi untuk menarik benang merah antara wacana mengenai Gambang Kromong dan para pelakunya yang salah satunya tersembunyi di balik Kota Wisata seperti Bumi Serpong Damai. Ang Kang Lan, gambang kromong, meja sembah, juga kota fantasi yang di bangun di tengah-tengah native people yang lebih dulu tinggal dan menetap membangun cara hidupnya sendiri. Mungkin dari titik ini saya bisa menemukan pemahaman tentang apa dan bagaimana gambang kromong dari dulu hingga kini, dari kontras itu.

Dari desa Jelupang, perjalanan berlanjut ke Teluk Naga. Saya menemukan situasi sureal yang sulit dideskripsikan. Apakah ini mimpi atau realitas yang berlebihan? Rani, Peter dan saya mengunjungi lokasi survey kami berikutnya, melihat Gambang Kromong yang dimainkan di rumah kawin. Begitu masuk dan menjura memberi hormat pada tuan rumah yang punya hajat, kami bertiga langsung di sodori piring dan memilih makanan Tionghoa atau Betawi. yang membedakan keduanya adalah daging babi di masakan Tionghoa dan daging sapi di masakan betawi. Kesan sureal saya peroleh bukan karena saat itu adalah kali pertama saya melihat secara langsung Gambang Kromong yang dimainkan lengkap bersama cokek-cokeknya, tapi suasana keseluruhan. Rumah kawin membawa saya ke suasana kehidupan Cina peranakan tahun 30-an, encim-encim yang masih bersarung dan berkebaya nyonya dengan rokok kretek klepas klepus dari mulutnya. Cokek-cokek yang bergoyang mesra dengan encek-encek Cina Betawi. Suasana bener-bener seperti mimpi.

Petang menjelang. Kami telah kembali di ibukota. Memilih makan malam sate ayam dan otak-otak di Toko Es Krim Ragusa. Belum cukup merasai jejak masa lalu, kami bertiga nongkrong dan minum kopi di Bakoel Koffie Cikini. Dari obrolan ngalor ngidul sampe pembahasan serius tentang benturan nilai dan siapa yang berhak menentukan nilai-nilai itu baik atau buruk, lebih tinggi atau lebih rendah. Sangat filosofis. Apakah ini seperti de javu? suasana seperti saat meneer-meneer minum kopi sambil ngobrol soal-soal inlander dan kehidoepan kaoem boemi poetra. Kami memperbincangkan Ang Kang Lan, Rumah Kawin, Cina Betawi peranakan dan pandangan tentang apa yang disebut seni tradisi atau bukan. Mungkin kami tak ada bedanya dengan meneer-meneer itu dulu. Membicarakan the other. Sesuatu yang berada di luar diri kami, sambil mencoba mencari jarak pandang dan cara pandang yang pas untuk melihat yang lain itu tanpa terjebak pada cara pandang yang eksotis. Mungkin kami sedang berusaha untuk tidak berlebihan memandang kenyataan, tapi tanpa sadar menciptakan hiperealitas yang lain, mengulangi de javu yang seabad lalu tak mungkin dilakukan oleh kami yang pribumi dan cina peranakan ini.

24-25 April 2005
Kembali ke Serpong. Menyambangi Ang Kang Lan dan grup Gambang Kromongnya dalam sebuah pesta pernikahan Cina Betawi peranakan di Bonang Dasana Indah, sebuah kompleks perumahan baru di daerah Serpong. Segan mendekat, karena merasa tak kenal dengan keluarga pengantin. Akhirnya kami cuma memandangi dari jarak jauh. Sambil memperbincangkan perpaduan perkawinan moderen dan Gambang Kromong. Pikiran saya campur aduk. Tiba-tiba Gambang Kromong, menjadi isu yang penting buat hidup saya akhir-akhir ini. Sementara di satu sisi, perkenalan saya dengan Gambang Kromong, baru saja terjadi. Semua informasi, referensi dan fakta yang saya saksikan tentang Gambang Kromong, seperti kepingan puzzle yang harus saya susun untuk menjawab pertanyaan besar yang menggembung semakin besar: Gambang Kromong punya siapa?

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails