Friday, September 21, 2007

Perjumpaan di Lorong Hati



setiap orang pasti punya lorong panjang dalam hatinya. sebuah lorong yang bisa saja gelap, bisa saja terang benderang, bisa saja berwarna, bisa saja hanya satu warna saja. lorong itu bukanlah tempat yang cukup besar untuk bisa ditapaki oleh siapa saja, karena dia lebih mirip 'sanctuary' bagi setiap orang ketika ingin menjenguk dirinya yang paling dalam.

aku punya lorong itu di hatiku. sebuah tempat dimana aku bisa menengok diriku dan menyapanya dengan banyak rasa dan asa. 'hai diri apakabarmu hari ini?' begitu biasanya aku menyapanya. lorongku itu akan membalasnya dengan gema 'apakabarmu' yang bunyinya memantul dari dinding-dindingnya.

aku biasa mendatangi lorong itu. melepas lelah, penat, kesedihan dan menorehkan bahagiaku. tidak banyak yang pernah datang mengunjunginya dan biasanya mereka tidak lama. hanya satu dua saja, yang menetap cukup lama bahkan membangun lorong itu kembali, saat gempa merubuhkan seluruh bangunannya. dia membangunnya kembali sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa tegak kembali. dia sengaja membangun ruang dalam lorong itu, khusus untuk dirinya. 'masuklah kesana, karena sebagian diriku, kutaruh disana untukmu, manakala kau merindukan aku,' begitu dia berpamitan saat ia harus pergi untuk kehidupannya sendiri. 'aku tidak akan bilang selamat tinggal, karena kita masih akan sering bertemu. datanglah kapanpun kau mau.' begitulah kami masing-masing bersepakat.

beberapa tahun berlalu. hidupku dan hidup orang-orang yang pernah datang ke lorongku, berubah. aku datang sesekali menjenguk diriku, dirinya yang lama-lama melesap dalam kekosongan ruang yang ia bangun untukku. 'aku ingin membangun kembali lorong ini, menatanya dan menjadikannya sancturyku yang lebih nyaman dari sebelumnya.

***

sejak dia membangun kembali sanctuary itu, sulit bagiku menemukan orang lain yang bisa menatanya kembali. bangunannya sedemikian khas. perlu orang mengerti dia, untuk menata ulang, tanpa menghilangkan jejaknya dalam rongga-rongga dindingnya. tanpa sengaja, kutemukan ia di ruang terbuka, di antara hiruk pikuk keramaian. seorang yang tak pernah mengaku lurus, saat ia memilih untuk hidup dengan kelurusannya dan belajar iklas atas apa yang harus hilang saat dia berusaha untuk terus yakin pada pilihannya. aku menghampirinya saat ia duduk kelelahan. 'jangan lupa istirahat, nanti sakit,' begitu aku menyapanya. ia tersenyum. menggeser duduknya dan memberikan sedikit tempat untukku duduk di sampingnya. kami saling diam dan lebih banyak diam menikmati kehiruk pikukan itu. 'kamu lihat, gedung pencakar langit itu,' katanya sambil menunjuk sebuah gedung pecakar langit yang dinding-dindingnya memantulkan apa yang bisa ia pantulkan.'gedung itu seperti seseorang yang berusaha mencapai langit, mencari dan mencoba menemukan kerinduan spiritualnya,' suaranya yang merdu dan lirih itu menyapa keheningan di antara kami.

sesekali kami bercakap. memperbincangkan hal-hal yang ringan,.. me, and you, and everyone we know.. tanpa perlu menakar, baik aku maupun dirinya sama-sama tau kalau kami dua orang yang kelelahan. begitulah. setiap kali bertemu dengannya di tengah hiruk pikuk itu, selalu ada hal baru yang bisa aku bawa ke lorongku. begitu pula dengan kelelahannya. aku tak lagi menyapanya dengan kata-kata ,'jangan lupa istrirahat nanti sakit, aku cukup menyapanya dengan diriku dalam perjumpaan-perjumpaan di keramaian itu dan itu cukup membuat secercah keceriaan memancar pada dirinya yang lelah.

'rasanya aku telah jatuh cinta padanya. jatuh cinta dengan berani padanya.' kusadari itu saat aku kembali ke lorongku lagi dan menemukan diriku yang lain. sampai satu saat, dia, si pembangun sanctuaryku itu datang dan berkata: 'biarkan ia masuk dan beristirahat dalam ruangku. ia bisa memakainya kapanpun ia mau. aku akan baik-baik saja. ruang itu kurelakan untuknya.' ku tau itu bukan hal mudah bagi orang yang telah bersusah payah membangun dan setelah selesai, dia justru membiarkan orang lain masuk dan mengisi ruang yang selama ini dia bangun untukku.

dalam beberapa kali pertemuan dengannya aku mengundangnya masuk. 'silahkan beristirahat di dalam lorongku. lebih nyaman, meski bau penghuni lama masih begitu kuat,' undangku padanya. 'tidak sekarang, aku masih belum terlalu lelah,' ia mengaku padaku 'lagipula aku menemukan diriku dan kamu disini, dan orang-orang yang kita tau, di tengah hiruk pikuk ini. terima kasih untuk tawaranmu,' katanya sopan. 'kapanpun kamu mau masuk, masuklah. ruang itu telah ku siapkan untukmu,' balasku. aku menghargai keputusannya. lagi pula darinya aku belajar untuk tidak selalu menyembunyikan diriku dalam sanctuary itu. ia mengajakku keluar, menemukan harmoni dalam keriuhan. ia justru mengajakku melihat banyak keindahan dari banyak hal yang selama ini kulewati sehari-hari. semakin sering perjumpaanku dengannya, semakin banyak keseharian kusadari sebagai hal baru.

***

sampai baru-baru ini, seseorang datang tak terduga, menginterupsi keseharian dan kebaruan-kebaruanku. dia datang langsung mengetuk lorong hatiku. permisi karena ingin masuk kedalamnya. aku menyambutnya seperti layaknya tuan rumah menyambut tamu.

'bolehkah aku masuk?' tamuku berkata. 'aku ingin menemanimu berjalan menjenguk dirimu,' ungkapnya berterus terang. aku menatapnya curiga. siapakah gerangan dia, tiba-tiba datang dan ingin menjenguk diriku. 'boleh-boleh aja,' jawabku. 'tapi kau tengok dulu lah sebentar, sebelum kau menyusurinya. aku tak mau kau masuk lalu merasa terjebak di dalamnya,' aku menakarnya.tamuku itu kemudian masuk, menengok lorongku dan kemudian menakar akan seperti apa perjalanan menyusurinya. 'kurasa aku akan menemukan banyak hal dari perjalanan ini.' katanya padaku. 'bagaimana jika tidak?' aku tidak sedang mematahkan keyakinannya, tapi memberinya peringatan. 'kurasa jika pun tidak ada yang kutemukan aku akan tetap menemanimu,' jawabnya yakin.

seorang teman di lorong ini, Mmm.. mengapa tidak? seorang teman mungkin bisa mengusir rasa kosong yang kadang membuat ngilu. lagi pula aku merasa bisa mempercayainya. 'kalau begitu, sering-seringlah datang kemari, bercakap-cakaplah dulu denganku sebelum memutuskan benar-benar berjalan menemaniku,' saranku padanya.

lalu, tamuku itu datang dan datang. setiap hari. mencoba bercakap dan menggali perjalanan seperti apakah yang akan di hadapi. dia membayangkan bahwa dia sanggup. meski di luar sana, ada kehidupan nyata yang dia jalani. bagiku, tak ada salahnya memberinya kesempatan padanya. dalam waktu yang singkat kami bercakap banyak. aku menjawab apa yang ingin dia tau, begitu pula sebaliknya. apakah itu berarti aku telah mengenalnya? atau dia juga menjadi mengenalku? jangan-jangan tidak.

sampai suatu hari, ketika kami duduk dan berbincang di depan altar bapakku, dia membuat pengakuan. 'sebenarnya aku sedang berjalan di lorong lain, bisakah aku menjalaninya bersama sekaligus dengan perjalanan menyusuri lorongmu?' tanyanya kemudian. aku terdiam, berpikir, lalu balik bertanya padanya: 'sejauh mana perjalanan yang telah kau lakukan di lorong yang lain itu?'
'jauh, sudah sangat jauh,' jawabnya. 'bisakah aku berjalan dilorongmu juga?' tanyanya lagi.'apa yang kau cari di lorongku? jika ternyata kau telah sedemikian jauh berjalan di lorong lain?' aku tidak menjawabnya, tapi kembali bertanya padanya. 'aku hanya ingin menemanimu..' jawabnya

aku menatapnya, mencoba memeriksa kembali keyakinannya. 'mungkin dia bisa jadi teman bergandengan tangan, tapi bagaimana mungkin dia bisa bergandegan dengan dua orang di dua tempat yang berbeda dengan jarak perjalanan yang berbeda pula?' tanyaku dalam hati dan mulai menyangsikan keinginannya menemaniku. aku mencoba memeriksa kembali.
'bagaimana dengan lorongmu yang lain, jika kau masuk kedalam lorongku menemaniku, tapi pada saat yang sama, kau juga menapaki lorong yang lain lorong yang sebelumnya sudah sedemikian intim denganmu dan telah jauh kau telusuri, kau tak mungkin berjalan di dua tempat sekaligus kan?' aku berharap menemukan keyakinannya disana.
'aku hanya ingin menemanimu..' jawabnya. ' terserah kamu, apakah aku diizinkan masuk atau tidak. aku hanya ingin menemanimu,' katanya lagi.

aku berpikir lama. menatapnya berulang. aku tak perlu membuatnya memilih. karena keinginan untuk memilih itu adalah hak dia sepenuhnya, bukan karena aku yang memaksa. namun aku pun tak bisa mengusir pertanyaanku 'bagaimana bisa ia menjalani keduanya sekaligus? lorong yang terpisah jarak dan waktu. pasti ada yang ditinggalkan dan meninggalkan dan jika dia ingin menemaniku, aku tak suka saat dia harus meninggalkanku untuk menjenguk lorong yang lain yang lebih intim itu. jika aku sepenuhnya mengizinkan dia masuk. aku pasti akan memberikan ruang satu-satunya yang telah kusiapkan untuk yang lain. sekuat apa keinginannya? lagipula aku ga mau mendengar penyesalannya, saat ternyata dia tidak menemukan apa yang ingin dia temukan di dalam perjalanan itu nanti, lalu diam-diam pergi ke lorong yang lain, meneruskan perjalanan panjangnya disana. aku akan merasa di khianati nantinya dan aku sulit memaafkan jika merasa di khianati. Tapi, apakah adil menempatkannya pada situasi harus memilih? jika ternyata dia sudah sedemikian jauh di lorongnya sedangkan di lorongku, dia baru saja masuk. sama dengan rasa keadilan seperti apa, jika aku membiarkan dia masuk, lalu seseorang di lorong yang lain menunggunya dan mungkin juga akan merasa di khianati, karena dia pergi diam-diam ke lorongku.

'cukup sampai disini saja ya. aku tak bisa membiarkanmu masuk lebih jauh lagi. lebih baik, kau kembali ke lorong yang lain itu,' kataku padanya. 'selesaikan apa yang seharusnya diselesaikan, jangan mulai denganku, jika yang lain belum selesai,' tambahku dalam hati. kami saling bertatapan. ' baiklah jika itu keputusanmu, katanya. 'senang bisa berjumpa dengamu, meski aku belum lagi mengenalmu. selamat tinggal' katanya lagi. 'aku pun senang bisa bertemu denganmu' balasku. 'selamat tinggal. terima kasih sudah datang,' bisikku dalam hati.

***

saat bangun di keesokan harinya, ternyata aku masih bangun di lorong yang sama. lorong yang menyisakan ruang khusus untuk lelaki kelelahan itu yang selama ini selalu kuisi dengan doaku untuknya setiap hari.'Ya Tuhan, berilah dirinya kekuatan dan mudahkanlah jalannya'. sesekali ditengah doa, bau si pembangun sanctuaryku mengambang disana. jejak-jejak tamuku yang baru saja pergi itu juga masih ada disitu, belum lagi kering apalagi kubereskan. apa yang terjadi kemarin? siapa dia bagiku? siapa aku baginya? siapa yang seharusnya memutuskan? apa ada kesedihan? apa ada kekecewaan? apa ada kelegaan? apa ada luka yang baru? apa ada apa? apanya yang selamat tinggal? perjumpaan singkat itu menyisakan banyak tanya. haruskah kucari jawabnya? itupun sebuah tanya..

***

lalu selalu ada pertemuan kembali dengan si pembangun sanctuaryku, yah..untuk sekedar bertukar kabar masing-masing...
saat menjenguk ke keramaian, si lelaki itu masih ada di tempatnya dan sedikit ruang masih ia sisakan untukku duduk, ia menungguku disana..

mmm.. yang kemudian bisa kulakukan adalah kembali menyapa diriku. 'hai diri, apakabarmu hari ini?'

Gudang selatan - aceh 56, 22 september 2007

buat kamu, kamu dan kamu..

Wednesday, September 19, 2007

Kota Kreatif, Bukan Jargon

WACANA industri kreatif yang ramai akhir-akhir ini dibicarakan, membawa Bandung pada posisi penting dalam pembicaraan ini. Sebagai kota kosmopolit berpenduduk sekitar 2,5 juta jiwa ini, Bandung dikenal memiliki potensi kreatif yang besar. Mulai dari produk-produk penunjang gaya hidup kaum muda, makanan sampai teknologi informasi yang muncul dari Bandung dan menyebar ke seluruh Indonesia. Wacana industri kreatif sendiri mulai mengemuka di tingkat global dalam lima tahun terakhir ini, ketika negara-negara seperti Inggris mulai mencari sumber-sumber perekonomian baru untuk menggantikan sektor industri manufaktur. Pengembangan industri kreatif ini dianggap menjadi pilihan yang bisa mengakomodasi hak intelektual setiap individu berdasarkan kreativitasnya.

UNESCO tahun 2003, mengeluarkan rilis resmi mengenai definisi industri kreatif ini sebagai suatu kegiatan yang menciptakan pengetahuan, produk dan jasa yang orisinal, berupa hasil karya sendiri. Nilai ekonomis dari hasil penciptaan ini menjadi berlipat ganda ketika diadopsi dan dikomersialisasikan oleh industri jasa dan pabrik. Demikian pula dengan definisi yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris bahwa industri kreatif adalah industri yang berbasis kreativitas, keterampilan dan bakat individual.


Industri tersebut juga memiliki potensi untuk menciptakan kesejahteraan dan pekerjaan melalui pengembangan dan eksploitasi intelektual. Melalui British Council, pemerintah Inggris gencar melakukan pemetaan pontensi kreatif di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia. Sektor industri yang termasuk ke dalam wilayah industri kreatif ini adalah advertising, arsitektur, craft, desain/desain komunikasi, fashion, film/video, software, musik, visual art, seni pertunjukan, penerbitan, media (televisi/radio/web/cetak).


Bandung termasuk salah satu kota di Indonesia yang masuk dalam pemetaan potensi industri kreatif tersebut. Hal ini disambut baik oleh banyak kalangan. Beberapa sektor industri yang selama ini sudah berjalan dan memberi kontribusi ekonomi, kemudian di telisik kembali apakah ini termasuk industri kreatif atau bukan. Pemilahan pun tak dapat dihindari untuk menemukan definisi yang sesuai dengan situasi dan potensi Bandung. Upaya pemetaan ini, semakin serius dilakukan, salah satunya yang dilakukan oleh Pusat Studi Urban Desain ITB ketika menyelenggarakan Artepolis yang mengangkat tema "Creative Culture and The Making of Place", tahun 2006 yang lalu.


"Saat itu kita masih malu-malu dalam mendefinisikan apa itu industri kreatif, karena itu kita mulai dari pemetaan budaya kreatifnya dulu, " jelas Dr. Woerjantari Soedarsono yang akrab disapa Ririn, ketua penyelenggara Artepolis dan juga staf pengajar di jurusan Arsitektur ITB. "Setahun setelah Artepolis pertama, terjadi perkembangan wacana yang cukup pesat. Di ITB sendiri selama ini banyak orang menganggap bahwa kekuatan ITB ada pada sains dan teknologi, padahal ITB juga punya kekuatan desain dan desain ini bukan hanya sebatas desain yang berhubungan dengan seni rupa, tapi juga ITnya juga. Setahun terakhir ini banyak penelitian-penelitan yang mengarah ke industri kreatif itu," tambah Ririn.


Jika dibandingkan dengan tempat lain, Indonesia termasuk yang terlambat menyadari potensi ini. Meskipun dalam beberapa kesempatan pemerintah pusat mulai memberi perhatian yang serius pada sektor industri kreatif ini. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat melalui Deperindag mulai melakukan strategi pengembangan industri kreatif ini. Dari data yang dikeluarkan oleh BPS, 2006, dari 41 juta penduduk Jawa Barat, 54,8% berusia 15 sampai 45 tahun dan 7% nya berpendidikan minimal D-1. Dari jumlah ini dapat diindikasikan bahwa potensi tenaga kerja kreatif di Jawa Barat cukup memadai. Pada tahun 2004 di Jawa Barat, industri desain ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 2% atau sekitar 344.244 orang dan menyumbang pendapatan daerah sebesar 11%, sedangkan industri kreatif lainnya yaitu industri penerbitan, percetakan, produksi media rekaman, radio, dan televisi menyerap tenaga kerja sebesar 43.775 orang dan dapat menyumbang pendapatan daerah sebesar 12%. Potensi ini menjadi modal utama dari pengembangan industri kreatif yang dapat memberi kontribusi besar dalam meningkatkan indeks pembangunan manusia Jawa Barat. Meskipun nilai ekonomi yang dihasilkan oleh industri kreatif ini belum dapat dihitung dengan pasti.


Batu sandungan yang dirasakan oleh para pelaku industri kreatif, selama ini justru datang dari pemerintah kota. Selama ini pemerintah kota masih melihat potensi industri kreatif ini dalam kaca mata pengembangan pariwisata. "Padahal kalau pemerintah kota bisa membenahi sektor industri ini, sisi pariwisatanya otomatis akan terangkat," lanjut Ririn.


Hal lain yang dilihat oleh Ridwan Kamil, urban designer yang juga pendiri biro arsitektur urbane dan pemenang International Young Creative Entrepreneur of the Year (IYCEY) British Council, 2006 mengatakan "Kalau image Bandung cuma sebatas kota seni budaya saja, itu rawan. Bandung punya banyak saingan." Menurut Ridwan, Bandung memenuhi syarat sebagai sebuah kota kreatif Indonesia. Sebagai kota yang kosmopolitan, Bandung memiliki stabilitas sosial politik. Jumlah perguruan tinggi di Bandung cukup banyak. 

Dua hal ini cukup kondusif bagi iklim kreativitas di Bandung. "Bedanya Bandung dengan Yogja, kreativitas Bandung ini lebih bisa diserap oleh global. Sehingga banyak orang-orangnya yang dapat bertahan tanpa mengandalkan bantuan pemerintah," papar Ridwan.

Menurut Ridwan, Bandung mempromosikan dirinya sebagai kota kreatif di Indonesia, bahkan di dunia internasional. "Dukungan yang kita perlukan dari pemerintah kota support perizinan, support ideologis bahwa mereka sepakat dengan ide ini, karena ide-ide yang bisa memunculkan potensi ekonomi itu bisa kita bantu. Tapi kan semua itu perlu support dari pengelola kotanya," lanjut Ridwan. Namun selama ini, dukungan itu sulit didapat, karena pemerintah kota seperti sulit diajak berkomunikasi. "Terus terang, kita ini sulit mengakses pemerintah kota untuk mensosialisasikan hal ini. Selama ini kita masih sulit ngobrol dengan pengelola kota. Ngobrolnya masih underground, masih sesama kita saja. Susah sekali ngobrol dengan pemda," jelas Ridwan.

Sulitnya berkomunikasi dengan pengelola kota, membuat banyak persoalan yang dihadapi para pelaku industri ini jauh dari sentuhan regulasi yang mendukung perkembangannya. Karenanya, pemetaan potensi kreatif Bandung pun selama ini, masih didasarkan pada kesiapan organik dari setiap sektor yang termasuk dalam industri ini. Karena itu dari hasil pemetaan sementara sektor industri kreatif Bandung yang dianggap lebih siap adalah sektor fashion yang diwakili oleh clothing distro, musik dan IT. Dari ketiga sektor unggulan ini industri clothing jauh lebih terekspose sehingga lebih terlihat. Sementara sektor industri kreatif lain perlu diindentifikasi lebih jelas lagi karena selama ini berada di bawah permukaan dan sering kali tidak mendapat perhatian yang cukup.


Kontribusi kalangan akademisi dalam hal ini menjadi penting untuk melakukan pemetaan yang lebih cermat mengenai siapa dan apa yang termasuk ke dalam sektor industri kreatif ini. Artepolis II yang akan diselenggarakan tahun 2008, sebagai event internasional akan berfokus pada tema Industri Kreatif dan Pembangunan Komunitas. Diharapkan melalui hal kegiatan ini, rekomendasi riset dari kalangan akademisi dapat membantu pihak-pihak terkait dalam hal ini pemerintah kota, untuk menyusun strategi pengembangan yang tepat. (Tarlen Handayani)***

Tulisan ini bagian dari suplemen Selisik, Pikiran Rakyat 16 September 2007

Ridwan Kamil: "Potensi, Reputasi, & Kompetensi Sudah Tinggi"


Ridwan Kamil, Foto atas kebaikan Islaminur Pempasa

DI taman belakang "kantor"-nya, Ridwan Kamil bersama beberapa rekannya tampak asyik berdiskusi. Dari kantor yang lebih mirip rumah di kawasan Sumur Bandung, Urbane Indonesia, sebuah agensi arsitektur menangani berbagai projek arsitektur bernilai triliun di Dubai, Cina, dan selain kota-kota besar di Indonesia. Emil --panggilan akrabnya-- belum lama ini mendapatkan juara dalam perancangan museum tsunami di Aceh dan mendapat International Young Creative Entrepreneur of the Year (IYCEY) British Council, 2006. Berkaitan dengan wacana kota kreatif, Tarlen Handayani dan Wartawan "PR" Islaminur Pempasa mewawancarainya, Sabtu (15/9). Berikut petikannya.

Kenapa Bandung yang dipilih sebagai kota kreatif?

Ini Bandung banget, ini contoh (Emil menunjuk suasana taman yang menjadi tempat diskusi bersama rekan-rekannya). Ini tidak didapat di kota lain. Di Bandung itu lebih inspiratif, suasana intelektualitas tinggi. Ini di Jakarta nggak dapet. Kantor kita walaupun di Bandung, 30 persen projeknya di luar negeri. Kemarin kita (mendapat projek) di Dubai Timur Tengah, dan Cina. Yang begini itu, cukup banyak (di Bandung), tetapi tidak terlalu terekspose. Saya punya teman, di (Universitas) Maranatha, di sana projeknya di Malaysia dan India. Itu baru satu bidang, arsitektur. Padahal, definisi industri kreatif itu adalah industri atau ekonomi yang lahir dari pemikiran yang menghasilkan intellectual property. Jadi dunia desain, baju kayak distro, sepatu, furnitur, grafis, interior, arsitek, media, musik, new media, art and craft, macam-macam. Kemudian software, IT, itu kan dari berpikir menghasilkan. Seperti BHTV (Bandung High Tech Valley). Itu satu. Kedua, ciri-ciri kota kreatif itu, kotanya kosmopolitan. Bandung memenuhi syarat kita. Kotanya kosmopolitan, zaman yang lain rusuh, kita kan stabil secara sosial. Di sini pembauran sangat kencang, itu bagusnya. Jumlah universitas pun lebih dari 30. Jadi dari rumusnya sendiri statusnya sudah dapet. Dengan banyaknya tempat pendidikan, kreatif dan seni berkembang. Kota yang mirip kita, misalnya Yogya. Bedanya di Bandung kreatifnya itu lebih mengglobal sehingga banyak dari mereka hidup dan sukses atau survive. Maksud saya sudah saatnya kita mengonsolidasi semua yang berserakan itu. Berkumpul. Menjual image kita ke luar negeri sebagai kota apa. Ga bisa lagi pake kata berhiber, itu terlalu politis, bukan strength ekonomi. Baiknya profesinya dulu. Kreatifnya dulu. Harus spesifik.

Tagline kota kreatif ini berarti strategi "branding" internasional?

Goal-nya itu internasional. Saya kemarin agak khawatir, kan mau dicanangkan sebagai kota seni budaya. Seni budaya itu kita bisa kalah oleh Bali. Bisa kalah oleh Yogya. Kalau kreatif itu mencakup dunia IT, fashion, yang kota lain ga punya. Makanya kalo bisa "PR" jadi partner kita dalam mengampanyekan. Kenapa berkampanye, karena tahun depan, mau ada acara internasional yang digiring ke Bandung.

Bagaimana dukungan pihak-pihak yang sebenarnya berkepentingan terhadap Bandung sebagai kota kreatif?

Masalahnya kita belum banyak ngobrol. Ngobrolnya baru underground, sesama kita, susah ngakses ke pemda. Sebenarnya, "PR" bisa menjembatani itu.

Dukungan yang paling penting yang bisa didapat dari pemda?

Sebenernya support perizinan, support secara ideologis bahwa kita sepakat. Lain-lain mereka bisa survive sendiri. Kalau ide-ide sih ga usah, ide-ide kita banyak, yang aplikatif, yang menghasilkan ekonomi. Misalnya ke mana-mana kalau ngomong kreatif Indonesia itu Bandung yang harus dibicarakan. Saya sudah bawa Bandung ini ke Jepang, ada konferensi kota kreatif se-Asia. Jadi kita sudah berteman dengan Singapura, Kuala Lumpur, Auckland Selandia Baru, Hong Kong, Taipei, Brisbane, dan Manila. Bandung yang dipilih.

Apakah belum ketemu bahasanya atau ada agenda lain?

Kesulitannya sejauh ini adalah akses. Jadi banyak gerakan-gerakan yang tidak terorganisasi, BHTV (Bandung High Tech Valley) satu hal, BHTV masih satu keluarga, anak dari namanya industri kreatif. Arsitektur-desain anak dari industri kreatif. Nah, alangkah menariknya semua berkumpul sepakat. Wah itu bisa powerfull. Nanti aplikasinya si masyarakat internasional yang kreatif Asia itu sudah menggandeng Bandung, itu bisa membuka pasar. Itu dari segi bisnis ya. Dari event, misalnya kita bisa buat, Februari forum desain se-Asia Tenggara di Bandung, bulan lainnya forum fashion atau distro. Bayangkan kita tiap bulan ada kegiatan penuh. Tiap bulan tiap anak dari industri kreatif ini mengisi kegiatan. Seru tuh. Ini yang belum ketemu.

Dari pemetaan sektor-sektor industri kreatif, yang mana yang sudah siap?

Yang paling terdata yang baik adalah kelompok fashion-distro. Itu seru, berapa permodalannya, berapa jumlah karyawan, market ke mana aja. Poin saya itu baru seperdelapan dari kelompok lain kalau sisa yang tujuh ini bergabung sekuat distro, terorganisasi, ga ada yang bisa mengalahkan kita se-Indonesia. Kita paling lengkap dan paling kuat.

Dari segi arsitektur sendiri?

Arsitektur juga sama, kita ini paling kreatif. Tapi nadanya jangan terdengar sombong. Maksudnya gini, prestasi arsitektur itu diukur dari kualitas desain. Kualitas desain di dunia itu diukur dari sayembara. Sayembara itu kan open semua ikutan. Kalau saya punya projek, orang lain bisa lebih keren, tetapi tidak dapat projeknya sehingga tidak bisa membuktikan. Nah sayembara kan umum, dari 20-an sekian sayembara, 80 persen orang Bandung terus (pemenangnya). Itu nasional lho. Yang menang dari Bandung terus, kenapa, karena suasana kita itu, lebih open terhadap wacana, lebih kosmopolitan, lebih mendiskusikan hal-hal filosofi, budaya, jadi tidak kacamata kuda, melihat arsitektur hanya bangunan. Kedua, British Council menyelenggarakan design entrepreneur yang menyeleksi seluruh potensi-potensi dalam bidang desain, seluruh Indonesia. Saya menang 2006, Gustaff (H. Iskandar) 2007, dua kali dan dua-duanya dari Bandung. Levelnya sudah di nasional nih. Jadi dari segi potensi, reputasi, kompetensi Bandung sudah tinggi. Hanya forumnya (belum ada).

Apa yang harus dibangun Bandung sebagai kota kreatif?

Ya, infrastruktur kota harus diperbaiki, diperbanyak galeri seni, dan galeri desain. Ada ruang terbuka, tempat orang mengekspresikan puisi, pameran patung. Perlu banyak ruang terbuka. Kedua, memotivasi industri ini dengan kredit dari bank yang mudah didapat. Juga perlu ada satu tempat khusus. Di Inggris pemerintahnya siap ada badannya, creative council, kumpulan profesor yang memberi advice. Kamu butuh pabriknya, ini nih buku kuningnya. Di Thailand sudah ada, namanya Thailand Design Centre. Orang datang ke sana, mau belajar sejarah, mau ke perpustakaan, mau pinjem tempat buat pameran. Kita tidak ada. Idealnya kan ada tempat begitu; duh saya ga punya duit, tapi butuh meeting dengan calon klien saya, ada tempat yang murah. Saya mau cari inspirasi, ada perpustakan. Ah saya mau pameran, ada tempatnya. Nah, kalau bisa pemerintah itu men-support itu dengan satu pusat kreatif, yang ujung-ujungnya menghasilkan ekonomi juga. Di negara lain disediakan. Di kita belum.

Jika dibuat skala persoalan, untuk menuju Bandung kota kreatif itu, mana dulu yang harus diselesaikan?

Persoalan dulu lebih ke politis, disepakati bahwa Bandung kota kreatif oleh pemda dan komunitas. Kalau itu sudah ada, komunitas itu punya legitimasi untuk melobi internasional untuk ke sini, karena klaim kota kreatif ini didukung oleh pemda. Sekarang saya ke Jepang (dan menyatakan) Bandung is very creative city, tapi saya 10 persen tidak pede, karena si pemdanya mungkin tidak 100 persen di belakang saya.

Jadi ini juga adalah upaya agar pemerintah untuk mendukung secara politis?

Melihatnya begini, dunia itu adalah penuh persaingan, itu termasuk kota. Apa yang harus dibawa? Kita ingin menonjolkan Bandung kota kreatif, kan memang kreatif. Indikatornya ada dan menghasilkan uang.***

Tulisan ini bagian dari suplemen Selisik, Pikiran Rakyat, 16 September 2007


Persaingan, Pembajakan, Hingga ”Copy-Paste”

”We are the original one,” ujar Fiki C. Satari, Direktur Airplane sekaligus ketua KICK (Kreative Independent Clothing Kommunity) yang merupakan organisasi pengusaha clothing Bandung yang berdiri tahun 2006. Potensi usaha clothing mulai dilirik oleh pemerintah daerah sebagai sumber pendapatan daerah. Pencanangan pondasi ekonomi kreatif Jawa Barat tahun 2008-2012, diakui Fiki memberi dampak pengakuan terhadap para pelaku industri clothing dan menempatkan sektor ini sebagai salah satu primadona andalan dalam pengembangan pondasi ekonomi kreatif Bandung.


Namun jika ditelisik lebih jauh, perkembangan beberapa sektor industri kreatif di Bandung bukan tanpa masalah. Persoalan yang dihadapi oleh para pelakunya seperti gunung es. Sektor industri fashion misalnya. Selama ini perkembangannya masih dilihat secara parsial. Perkembangannya seringkali tidak dilihat secara utuh dari hulu ke hilir, sebagai satu siklus perkembangan yang saling terkait.


Sebagai contoh, industri clothing Bandung atau lebih dikenal sebagai distro yang merupakan bagian dari industri fashion ini secara keseluruhan, berkembang secara sporadis. Sebagian distro yang muncul dimulai dari aktivitas kultural yang menjadi gaya hidup anak muda Bandung, kemudian melahirkan produk-produk penunjang aktivitas tersebut untuk komunitasnya sendiri. Namun lambat laun, saat produk-produk tersebut dapat diserap oleh pasar, pelaku-pelaku baru bermunculan dengan motivasi bisnis dan kesiapan modal yang lebih jelas. Hal ini menimbulkan banyak ketegangan saat memperebutkan pasar yang sama.


”Selama ini banyak pengusaha yang besar-besar, bikin clothing juga, ini kan bisa bikin pasar jadi jenuh dan mereka mampu membuat mass product secara kuantitas, itu kan bisa bikin pasar jenuh. Masalah kayak gitu yang kita hadapi sehari-hari,” Fiki menambahkan.


Pada mulanya, usaha clothing yang berkembang di kalangan anak muda ini, memang tidak memperhitungan ekspansi pasar melalui kuantitas produk yang besar. Mereka memilih mempertahankan ekslusivitas produk, melalui jumlah produk yang terbatas dan tawaran desain yang beragam. Namun, ketika masuk pada wilayah industri dengan persaingan pasar yang cukup ketat, mereka bersaing dengan pemain-pemain besar dengan modal yang jauh lebih besar. ”Padahal kalau kita bicara industri, kita berada di sektor yang sama,” tambah Fiki.


Kesenjangan pun dirasakan di tingkat vendor produksi clothing. Pada mulanya, produksi clothing ini dilakukan oleh lingkaran teman-teman sendiri. Namun ketika industrinya mulai berjalan, terjadi kesenjangan antara vendor produksi dan distro itu sendiri. Eka Permadi, salah satu vendor produksi untuk beberapa distro di Bandung menjelaskan, bahwa selisih margin keuntungan bisa sangat jauh. ”Kita ditekan untuk tidak lebih dari 20 persen, sementara distro bisa ambil untung sampai 300 persen.”


Hal ini dibenarkan Fiki, ”yang 200 persen itu harga kreativitasnya, harga desain, promosi, dan kemasan.”

Eka memaparkan bahwa persoalan yang yang sering dihadapi oleh vendor produksi seperti dirinya adalah perputaran uang yang lambat. Hal ini karena distro melakukan pembayaran mundur dan harga produksi yang ditekan serendah mungkin. ”Semua bahan baku selama ini masih impor dan harganya enggak stabil. Otomatis itu kan berpengaruh pada pada biaya produksi. Sementara sistem pembayaran dari klien distro, pakai giro dan bisa mundur sampai 3 bulan, kita yang pusing memutar modal untuk memenuhi pesanan itu. Akhirnya saya enggak bisa terima semua pesanan,” jelas Eka.


Tidak adanya standardisasi harga di antara sesama vendor produksi, membuat persaingan menjadi tidak sehat. Setiap vendor bisa menentukan sendiri harga mereka sesuai dengan kekuatan modal yang mereka miliki. Pabrik atau distributor bahan baku, tentunya akan mampu membeli bahan dalam jumlah yang lebih banyak. Sementara vendor produksi skala kecil yang tidak mampu membeli bahan lebih banyak, akan mendapat harga bahan yang jauh lebih mahal. Padahal harga jual kepada distro, baik pemodal kecil dan besar dituntut untuk bisa serendah mungkin.


Ketidakjelasan aturan pemerintah dalam pengembangan sektor usaha kecil dan menengah ini, membuat para pelakuknya harus mencari caranya sendiri untuk bertahan hidup. ”Makanya banyak terjadi jual beli PO (surat pesanan) dari klien, karena vendor tidak punya cukup modal untuk memenuhi pesanan klien. Margin keuntungan yang kecil itu, akhirnya mau enggak mau harus dibagi lagi dengan pembeli PO yang menalangi modal pesanan klien,” ungkap Eka.

Selain itu, margin keuntungan yang tipis tersebut, membuat para pekerja di vendor produksi ini, masih jauh dari upah yang layak. Sistem kerja yang kemudian diterapkan adalah borongan di mana pekerja dituntut bekerja siang malam untuk memenuhi pesanan klien. ”Jangankan asuransi kesehatan, bisa bayar gaji karyawan setiap bulan dengan lancar saja, sudah Alhamdulillah,” jelas Eka.

Persoalan lain yang seringkali mengemuka adalah pembajakan dan penjiplakan desain. Sebagai vendor produksi, Eka mengakui dirinya seringkali merasa serbasalah, saat ada kliennya yang memesan padanya, dengan desain yang sama persis dengan kliennya yang lain. ”Mau ditolak harus mengejar setoran, mau diterima enggak enak sama klien yang lain, akhirnya saya bersikap sebagai produsen saja dan enggak bertanggung jawab pada materi yang dipesan,” jelas Eka.


Fiki juga mengaku bahwa kini produknya juga dijiplak dan diproduksi dengan harga murah. ”Tapi saya sudah punya bukti-buktinya, dan mau mencoba memproses lewat jalur hukum, tapi saya sadar sih, prosesnya akan panjang,” kata Fiki.


Masalah pembajakan ini diakui pula oleh Andry Moch yang lebih suka menyebut dirinya kuli visual di label dan distro Firebolt. ”Banyak juga desainer clothing di sini yang asal comot dari internet terus tinggal dikasih merek sendiri. Memang kelihatan sih, mana distro yang desainnya matang, mana yang enggak. Ada juga yang membajak dari sesama distro,” papar Andry.


Sebagai desainer clothing, Andry termasuk yang mendapat gaji bulanan. Dilabel tempat dia bekerja, sebulan target rata-rata 30 desain yang harus di hasilkannya. Untuk itu ia mendapat gaji 1,7 juta per bulan. ”Tapi rata-rata harga per desain yang berlaku Rp 50.000,00 per desain, itu tuh, mau tiap desain dibikin 1 kaos, atau 1 juta kaos, harganya sama Rp 50.000,00. Pengennya sih ada sistem royalti, misalnya untuk setiap desain kalau dia bisa terjual melebihi jumlah tertentu, desainernya dapat royalti dari situ, tapi belum ada sih distro yang menerapkan itu”. (Tarlen Handayani)***

Tulisan ini bagian dari suplemen, Selisik, Pikiran Rakyat, 16 September 2007

Kreativitas Sebaiknya tak Distrukturkan

SUDAH setahun terakhir, Center for Innovation, Enterpreneurship & Leadership (CIEL) yang merupakan bagian dari Sekolah Bisnis Manajemen ITB, melakukan pemetaan terhadap industri kreatif. Lembaga ini bekerja sama dengan Deperindag Provinsi Jawa Barat untuk merancang stategi pengembangan industri kreatif di Jawa Barat.


”Kalau melihat karakter secara umum dari usaha kecil ini, sebenarnya kan lebih ke bagaimana mereka survive, bagaimana hidup hari ini sehingga tidak banyak pengembangan dari sisi kreativitasnya dalam rangka mengembangkan produk-produk yang unik dan bisnisnya,” tambah Direktur CIEL, Dwi Larso.


Salah satu upaya yang dilakukan CIEL dalam mengatasi persoalan mendasar ini adalah menggagas pusat pengembangan desain untuk membantu para pelaku industri kecil mengembangkan produk-produknya. ”Cuma yang masih belum jelas metodenya adalah bagaimana transfer pengetahuannya kepada para pelaku ini,” ungkap Dwi Larso.


Bagian Research dan Services CIEL, Leo Aldianto memandang ada dua kondisi berbeda dalam bidang ini. ”Apa yang kita teliti belakangan ini justru ekstrem satunya, yaitu industri yang dikembangkan oleh anak-anak muda Bandung yang justru tidak kekurangan kreativitasnya, semangat itu yang kita lihat dari anak-anak muda itu,” ujarnya.


Dwi Larso juga menambahkan, ”Untuk teman-teman yang indie ini kalau menurut saya tidak perlu direcoki. Tinggal bagaimana memikirkan caranya bersinergi apa yang bisa saling membantu, tapi kalau kreativitasnya jangan sampai distrukturkan, karena begitu distrukturkan nanti akan repot.”


”Sebenarnya untuk kondisi Bandung saya tidak ragu. Karena yang penting adalah bagaimana para pelaku-pelaku ini terkait dan pemerintah bisa memberikan keleluasaan untuk ruang gerak mereka juga,” kata Dwi Larso. ”Yang tidak kalah penting juga, bagaimana kreativitas itu dipertahankan, karena faktor-faktor seperti manajemen itu sebenarnya mengikuti. Manajemen diperlukan ketika usaha itu akan dikembangkan,” tambah Dwi.


Berdasarkan pengukuran daya saing Jawa Barat yang dilakukan oleh CIEL SBM-Institut Teknologi Bandung (ITB), bekerja sama dengan Dinas Perindag Jabar dan Senada-USAID 2006, ternyata peringkat daya saing Provinsi Jabar (bila menjadi sebuah negara tersendiri) berada di urutan ke-85 dari 118 negara.


Indonesia saja yang dirasa tingkat korupsinya masih tinggi, daya saingnya berdasarkan WEF ada di urutan ke-50 dari 125 negara. Bila melihat ”negara” Provinsi Jawa Barat yang berada di urutan 85, menunjukkan betapa tidak kompetitifnya iklim usaha di Jabar. Karena itu studi ini dirancang untuk mengambil foto atas kondisi daya saing Jabar.


Hal yang menurut Leo Aldianto perlu disepakati bersama dalam pengembangan industri kreatif ini adalah kreativitas sebagai modal utamanya. ”Kreativitas ini penting kalau kita mau bersaing dengan negara-negara yang sudah lebih dulu bergerak di industri kreatif. Berapa jauh kita harus menyusul kalau kita ingin bersaing di bidang teknologi, rasanya masih jauh. Tapi kalau bersaing dalam hal seni atau kerajinan, Asia atau Indonesia kan punya kekuatan itu, jadi sekarang ini kesempatan bagi kita untuk bisa menunjukkan kekuatan itu.” (Tarlen Handayani)***

tulisan ini bagian dari suplemen Selisik, Pikiran Rakyat, 16 september 2007

Sunday, September 16, 2007

Menunggu Keseriusan Membangun Infrastruktur

Saat Artepolis I tahun lalu, program kegiatan ”Workshop Artepolis” melalui kegiatan online conference dengan beberapa pelaku komunitas Bandung, Artepolis sempat memetakan beberapa persoalan yang selama ini dihadapi oleh industri kreatif Bandung secara garis besar. Berikut beberapa persoalan yang mengemuka.


Persoalan internal

Tidak semua pelaku memiliki visi, misi dan strategi bisnis yang jelas. Selama ini pengembangannya lebih bersifat intuitif dan tidak didasarkan pada riset dan pengembangan yang jelas, karena itu manajerial belum sepenuhnya terkelola dengan manajemen yang baik.


Persoalan eksternal

- Regulasi pemerintah yang tak jelas dalam pengembangan industri kreatif sebagai salah satu potensi ekonomi kota. Hal ini dapat dilihat dari ketidakjelasan pajak yang di kenakan dan subsidi yang dilakukan atas pajak tersebut. Selain itu juga tidak ada peraturan pemerintah yang jelas mengenai regulasi sektor industri kreatif. Selain itu pemerintah kota juga tidak memiliki strategi pengembangan industri kreatif sebagai salah satu sumber pendapatan daerah.


- Tidak tersedianya infrastruktur yang memadai dari pemerintah kota untuk mendukung aktivitas kreatif di Bandung. Hal ini tercermin dari minimnya ketersediaan lahan yang dapat dimanfaatkan komunitas kreatif ini untuk berkegiatan yang didesain dengan baik sesuai dengan kebutuhan. Misalnya saja, selama ini komunitas musik sering kali kesulitan mencari gedung-gedung pertunjukan yang layak untuk menyelenggarkan konser skala internasional. Ruang-ruang komunitas selama ini dibuka atas inisiatif individu dan kelompok. Akibatnya banyak komunitas bertahan hanya sebatas waktu sewa tempat yang sanggup ditanggung oleh individu atau kelompok tersebut.


- Tidak ada pengaturan penggunaan lahan yang terintegrasi dengan perencanaan kota secara menyeluruh untuk pengembangan industri kreatif Bandung. Akibat tidak adanya pengaturan ini, menyebabkan nilai ekonomi lahan yang digunakan oleh komunitas kreatif ini semakin tidak terjangkau.


Mediasi

Mediasi kegiatan kreatif di Bandung, selama ini dilakukan secara parsial dan hanya sebatas reportase event atau katalog. Hal ini disebabkan tidak adanya reviewer, kritikus, pengamat yang secara intens dan mencatat dan memediasikannya secara luas, sehingga menjadi acuan atau penanda perkembangan dari aktivitas kreatif yang ada di Bandung. Sehingga mediasi yang ada tidak menjadi bagian dari strategi marketing yang tepat bagi kepentingan membuka pasar yang lebih luas. Selama ini, mediasi dilakukan secara masing-masing dan tidak terintegrasi satu sama lain.


Persoalan di bidang pertunjukan

Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh komunitas kreatif ketika menyelenggarakan sebuah event di Bandung.


- Bandung tidak punya concert hall/tempat yang memadai untuk penyelenggaraan event besar dan regular.


- Kebijakan pariwisata pemerintah lokal yang tak jelas, membuat setiap acara-acara yang berlangsung berjalan sendiri-sendiri dan tak memiliki nilai ekonomis yang jelas untuk mendukung kegiatan pariwisata daerah.


- Pajak pemerintah untuk kegiatan-kegiatan, seperti: pajak keramaian, tiket, keamanan, visa, tak jelas larinya ke mana, dan tidak berdampak terhadap pengembangan kegitan kreatif itu sendiri.


- Dari sisi intern komunitas, manajemen dan kreativitas penyelenggaran event, tidak banyak menawarkan konsep baru.


- Sulitnya mendapat sponsor (skala besar) untuk penyelenggaraan kegiatan. Ketika mendapat sponsor besar, sulit mencari titik temu, karena sponsor sibuk dengan branding produk, sementara penyelenggara sibuk dengan konsep acara dan idealismenya. Dalam konteks ini, kompromi sering kali sulit dilakukan.


- Siasat yang bisa dilakukan untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang ada, bisa dibikin program reguler/tahunan, dengan melibatkan banyak komunitas kreatif yang ada. Misalnya dengan menyelenggarakan program-program satelit di banyak tempat sekaligus dengan satu acara besar yang menjadi high light dari program reguler/tahunan.


- Eksplorasi lebih banyak dilakukan oleh komunitas. Tapi komunitas kurang fasilitas, jadi ekplorasi tidak bisa maksimal. Komunitas tanpa fasilitas jadinya cuma nongkrong.


- Banyak promotor yang kurang punya visi akhirnya, pertunjukan musik banyak terjebak pada template yang sudah ada.


- Mediasi event, selama ini masih sangat dipengaruhi oleh anggaran promosi.


- Sponsor selama ini masih menjadikan Jakarta sebagai patokan. Karena sponsor selalu menghubungkan event dengan sales.


- Dalam konteks Bandung, pelaku industri musik seperti FFWD lebih memikirkan investasi sosial daripada faktor bisnis meskipun modal usaha mereka terbatas. Dalam artian mereka lebih mengeksplotasi tuntutan publik untuk memberikan pilihan-pilihan yang berbeda dalam musik. Untuk saat ini mereka belum ada saingan.


Persoalan-persoalan yang dihadapi industri ”clothing distro”

- Jika Bandung dikatakan sebagai trend setter perkembangan fashion, sebenarnya tidak ada high light yang menandai setiap perkembangan dan event yang memantau perkembangan itu.


- Bisnis clothing di Bandung terlalu intuitif. Tidak didasarkan pada riset dan development yang jelas. Jika ada hanya dilakukan secara parsial. Karena itu, antara harga, kualitas dan desain, hanya mengulang-ulang dan tidak kompetitif. Akhirnya bisnis clothing yang bisa bertahan adalah yang punya dan bisa membangun style-nya sendiri.


- Fashion event reguler bisa membantu memonitor perkembangan, evaluasi, prediksi trend.


- Street fashion yang berkembang di Bandung, selama ini berkembang sesuai dengan scene komunitasnya. Perkembangan scene musik di Bandung, punya pengaruh yang cukup penting dalam perkembangan steet fashion di Bandung. - Peran media dalam perkembangan fashion di Bandung, selama ini hanya berperan sebatas katalog. Tidak ada yang mencermati perkembangan fashion di Bandung secara kritis. Salah satu sebabnya adalah tidak adanya penulis kritik. Juga tradisi kritik yang rendah.


- Penting bagi media lokal untuk membicarakan potensi industri kreatif di Bandung. Selama ini yang sering dibicarakan lebih ke persoalan aspek komersialnya saja, bukan dari sisi business sustainibility-nya.


- Industri clothing dalam skala tertentu, bisa membantu mengurangi masalah pengangguran. Rata-rata setiap clothing bisa merekrut 10-30 tenaga kerja. Selain itu pula, dalam skala tertentu bisa melawan banjirnya produk Cina.


- Acara-acara seperti Pasar ITB semestinya bisa jadi barometer perkembangan komunitas kreatif di Bandung.


- High fashion untuk sementara, kurang berkembang di Bandung dan masih berpusat di Jakarta.


- Persoalan pasokan bahan baku jadi masalah. Sampai saat ini, belum ada clothing lokal yang mengembangkan bahan tekstil (baca: bahan untuk kebutuhan sendiri).


- Produk fashion Bandung harus diorientasikan untuk diserap pasar dunia. Namun ekspansi ini perlu didukung oleh platform policy yang jelas untuk menghindari keuntungan sepihak dari para broker Internasional. Konsistensi menjadi penting, karena pasar global selalu menuntut kepastian.


- Penguatan komunitas menjadi penting, untuk pembenahan ke dalam. Ada yang mulai mencatat perkembangan, ada yang mulai membenahi manajemen pengelolaan usaha. 

(Tarlen Handayani/diolah dari hasil Workshop Artepolis I, Creative Culture and The Making of Space)***

Tulisan ini di muat di Selisik, Pikiran Rakyat, 17 September 2007

Saturday, September 08, 2007

Menjual Identitas Bandung*

"Anak Bandung itu jago menyerap desain arsitektur global, dibanding dengan anak muda di kota lain. Apa yang terjadi di tingkat global, bisa diterjemahkan dan disiasati oleh mereka dan dijadikan komoditas gaya hidup baru dan menjadi tren. Mereka mendefinisikan kembali coolness yang sesuai dengan konteks mereka. Selain itu juga ada pasar yang menyerap komoditas baru itu," Jawab Hikmat Budiman, penulis buku Lubang Hitam Kebudayaan, ketika dimintai komentar tentang kreativitas anak muda Bandung.

Tahun 2003-2004, pertumbuhan clothing store di Bandung memang gila-gilaan. Hampir 200 clothing store bermunculan. Belum lagi ratusan clothing label yang memproduksi produk fashion anak muda. Booming ini dipicu oleh pemberitaan yang cukup gencar di media massa mengenai nilai ekonomi dari bisnis ini.

Siapa yang tak tergiur ketika omzet setiap bulannya bisa mencapai puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah menjelang hari raya. Meskipun pada tahun 2005-2007, industri clothing yang ada mengalami proses seleksi. Kekuatan modal menjadi faktor penentu untuk bertahan hidup. Namun, hal yang seringkali dilupakan oleh banyak orang mengenai bisnis ini adalah bagaimana pada awalnya, para pelaku membangun usaha ini dengan modal kultural awalnya.

Selama ini, sektor industri kreatif yang digerakan anak muda Bandung dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir ini, diklaim sebagai gerakan kultural yang lahir dari perlawanan dan semangat independen atau kemandirian.

Bermula dari hobi

Siapa sangka, dari sebuah skatepark kecil di salah satu sudut Taman Lalu Lintas Bandung (Taman Ade Irma Suryani), di awal tahun 1990-an, menjadi tempat bersejarah yang melatar belakangi perkembangan fashion anak muda Bandung dalam satu dekade terakhir ini. Skateboard kemudian menjadi benang merah yang menjadi ciri dan eksplorasi fashion dan lifestyle yang dielaborasi oleh para pelakunya.

Pertemuan di Taman Lalu Lintas membuat Didit atau dikenal dengan nama Dxxxt, Helvi, dan Richard Mutter (mantan drumer Pas Band), kemudian bersepakat mengelola sebuah ruang bersama di Jalan Sukasenang Bandung. Ruang ini kemudian dikenal sebagai cikal bakal yang munculnya bisnis clothing lokal. "Kenapa ya, si Cihampelas itu enggak bikin produk-produk dengan merek-merek sendiri, kenapa mereka bikin mereknya Reply lah, Armani lah.. kenapa enggak bikin sendiri, Reverse misalnya.. terus Helvi bilang nama itu bagus. Ya udah akhirnya dipakai buat nama toko."

Tahun 1994, mereka membangun studio musik dan toko yang menjual CD, kaset poster, T-shirt, majalah, poster, dan asesori band yang diimpor langsung dari luar negeri. Reverse pada saat itu menjadi tempat berkumpulnya komunitas-komunitas dari scene yang berbeda. Punk, hardcore, pop, surf, bmx, skateboard, rock, grunge, semua bisa bertemu di tempat itu. PAS dan Puppen adalah beberapa band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse.

Hobi dan semangat kolektivisme terasa sangat kuat mewarnai kemunculan clothing label dan clothing store pada masa itu. Masih di tahun 1996, Dadan Ketu bersama delapan orang temannya yang lain membentuk sebuah kolektif yang diberi nama Riotic. Kesamaan minat akan ideologi punk, menyatukan ia dan teman-temannya. Riotic menjadi label kolektif yang memproduksi sendiri rilisan musik-musik yang dimainkan oleh komunitas mereka, menerbitkan Zines, dan membuka sebuah toko kecil yang menjadi distribusi outlet produk kolektif yang mereka hasilkan.

Generasi Global

Jika dicermati lebih jauh, apa yang terjadi di bandung pada dekade '90-an, memang tak bisa lepas dari kecenderungan global pada saat itu. Musik dan gaya hidup, sebagai dua hal yang tak terpisahkan, memberi pengaruh sangat besar dalam perkembangan fashion anak muda Bandung. Sejak generasi Aktuil di tahun '70-an, Bandung dikenal sangat adaptif pada perkembangan musik dunia. Ketika merunut aliran musik apa saja yang berkembang dalam dekade '90-an, kita bisa melihat bagaimana perkembangan musik itu memengaruhi eksplorasi anak muda Bandung di bidang fashion. Termasuk juga masuknya MTV ke Indonesia yang memperkenalkan life style. Perbedaan menjadi komoditas yang dirayakan bersama-sama.

"Kita emang banyak dipengaruhi oleh musik yang kita sukai, dari label-label skateboard yang kita pakai dulunya, karena kita besarnya, growing up-nya di situ. Karena musik ini kan sangat terkait dengan fashion," Helvi yang juga Creative Director Airplane, mengakui hal itu.

Pendapat Helvi diperkuat Arian tigabelas, mantan vokalis Puppen dan kini menjadi vokalis band Seringai "Ada fenomena yang menarik ceuk urang mah, dulu Bandung terkenal dengan band-band yang keren-keren tapi waktu berlalu dan rupanya band enggak terlalu menghasilkan/menghidupi, dan kini para pelaku band tersebut pindah ke clothing."

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dalam dekade '90-an, menjadi faktor penting dalam proses yang disebut Hikmat Budiman sebagai penyerapan desain arsitektur global. Ketika tahun 1995 bisnis internet service provider (ISP) mulai berkembang di Jakarta, menurut catatan sebuah media nasional, Bandung menjadi salah satu dari tiga kota pengguna jasa internet terbesar. Jika saat itu tercatat ada sekitar 14 ribu pemakai internet di Indonesia, Bandung menjadi kota pengguna internet terbesar ketiga (1.000 pengguna), setelah Jakarta (10.000 pengguna) dan Surabaya (3.000 pengguna). Bagaimana kemudian perkembangan teknologi informasi ini diserap dalam waktu yang hampir bersamaan di Bandung. Belanja on line dilakukan Reverse untuk memperoleh produk-produk impor yang mereka jual kembali di Bandung. Juga yang dilakukan Anonim yang muncul tahun 1999, mengikuti jejak pendahulunya dengan menjual t-shirt import merchandise band yang dipesannya melalui internet.

Ketika masa kekuasaan Orde Baru berakhir, kehidupan sosial politik Indonesia mengalami banyak perubahan di era reformasi. Warga Bandung memperlihatkan pola relasi yang baru dengan ruang-ruang publik yang ada di Kota Bandung. Beragam aktivitas dan perayaan dilakukan di jalan. Jalanan seperti Dago, menjadi catwalk publik. Individu kemudian mendapat ruang untuk mengekspresikan diri. Saat itu, banyak pertunjukan-pertunjukan musik yang kemudian disponsori oleh clothing company yang mulai memiliki kemampuan ekonomi.

Disadari atau tidak, clothing industry yang muncul dan berkembang di Bandung ini, justru memicu perkembangan industri-industri kecil baru yang juga berbasis kreativitas. Secara organik, infrastruktur pendukungnya, bermunculan satu per satu. "Waktu itu lagi booming-booming-nya clothing, terus gue pikir, ngapain juga ikut-ikutan bikin clothing, mendingan gue bikin usaha lain yang bisa mendukung usaha mereka... Kalau mereka berbisnis ya harus berpromosi, mereka punya produk yang bagus, buat apa kalau enggak berpromosi," ungkap Uchunk, salah satu pendiri Suave, Free Catalogue Magazine. Suave awalnya dicetak sebanyak 3000 eksemplar dengan modal sebuah komputer pribadi. Kini tirasnya mencapai 8.000 eksemplar dengan 90 halaman full color. Selain didesain dengan tampilan yang menurut Uchunk, terlihat mainstream, jauh dari kesan indie dan underground, Uchunk juga memberi halaman galeri bagi siapa pun yang ingin memamerkan karya grafisnya di satu halaman Suave.

Menurut Uchunk, saat ini banyak clothing company yang kemudian menggunakan jasa desainer grafis, fotografer, dan biro iklan untuk menggarap materi promosi produk yang bersangkutan. Baginya kondisi ini sangat menggembirakan karena bidang industri kreatif lainnya kemudian bermunculan. Helvi menambahkan, "Waktu kita bikin ini, enggak kepikiran kalau di depan ternyata akan berhubungan dengan segala macam. Fotografer, advertising, itu kan seru jadinya. Jadi kayak punya dunia sendiri, infrastrukturnya jadi ke bentuk dan ini adalah wilayahnya anak muda. Yang paling keren menurut gua adalah, di mana sekarang anak-anak muda enggak gengsi dan malu lagi pake produk lokal. Dan kita juga seneng, karya kita dihargai orang dari mulai yang naik angkot sampai mobil mewah, pake kaos lokal." Helvi mengatakan itu dengan mata-mata berbinar-binar lega.

Masa depan bisnis ini, kata Fiki C. Satari yang kini menjabat sebagai Direktur Airplane tetap akan seperti itu. "Ini akan tetap jadi bisnis anak muda, sepuluh tahun ke depan tetap akan seperti itu. Kita mungkin akan mundur, dan memberikan tempat bagi anak muda," katanya.

Dan, Bandung menjadi kata kunci. ”Di produk dibuat made in Bandung. Dalam melakukan ekspansi pun, Bandung sebagai identitas ini yang tetap dijaga.”

* (Tarlen Handayani/dirangkum dari tulisan "Rethinking Cool, Gaya Anak Muda Bandung" yang di muat di blog penulis)***

Tulisan ini bagian dari suplemen Selisik, Pikiran Rakyat, 16 September 2007

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails