Saturday, August 25, 2007

Vitalogy Health Club: Sembuh atau Ngga Mau Sembuh?


Foto by tarlen, Pantai Sundak 2005


Sebuah chatting yang cukup intens terjadi semalam, bersama temanku seorang mantan redaktur. Aku berhasil menahannya di kantor sampai hampir pukul 22.30, padahal biasanya pk. 17.00 dia udah pamitan pulang. Tiba-tiba saja kami jadi dekat. Di dekatkan oleh Yahoo Messanger, karena jika dia datang ke tempatku, dia lebih memilih diam dan berbincang dengan buku-buku yang ada di tobucil daripada berbincang denganku. "Dalam diam pun, masing-masing kita sudah bicara banyak," begitu alasannya.

Bukan dia yang akan kubicarakan disini, tapi apa yang berusaha dia katakan dan aku baru mulai memahaminya. Setiap kali aku membicarakan bapak, temanku itu pasti langsung bilang: "nah.. nah.. mulai lagi.. kamu belum sembuh rupanya." Dan dengan kengeyelanku itu akau akan bersikeras bilang: "Aku udah sembuh!" padahal pada saat yang sama hatiku sendiri bertanya: 'Iya gitu udah sembuh?'. Ketika aku masih membicarakannya berarti aku belum sembuh, masih berproses menuju sembuh. Sementara aku membantahnya "Justru dengan membicarakannya aku bisa terbantu untuk sembuh, karena aku butuh orang lain untuk melihatnya dari perspektif berbeda" (Setidaknya itu yang kudapat dari menonton Oprah, banyak orang yang mengira ketika kehilangan, bisa sembuh dengan sendirinya dengan tidak membicarakannya, padahal dengan membicarakannya ada beban yang dia bisa lepaskan).

Ya mungkin dia sepakat dengan apa Oprah, tapi yang dia pertanyakan padaku adalah 'mengapa aku justru terkesan selalu berusaha membicarakannya jika memang aku sudah sembuh?' Mmmm.. pertanyaan yang sama kemudian menggema dalam diriku 'Iya mengapa aku seperti selalu berusaha membicarakannya? Apa yang belum kupahami dari rasa ini?'

Setelah bertahun-tahun memikul rasa sakit atas kehilangan atau apapun itu, memang ga mudah bagi seseorang termasuk juga aku untuk sembuh. Mungkin aku memang udah beneran sembuh. Tapi untuk menyadari hal itu bukan hal yang mudah. Karena seringkali aku justru ga mau kehilangan rasa sakit itu. Rasa sakit yang sudah sekian lama menjadi bagian dari hidupku. Rasa sakit yang selama ini hidup bersama dalam diriku, trus tiba-tiba aku harus menerima kenyataan bahwa rasa sakitnya ternyata sudah hilang. Aku ga tau apa sindrom seperti ini juga terjadi pada orang-orang yang memang sakit fisik menahun, kanker misalnya.

Aku jadi ingat kisah pedagang kristal di Sang Alkemis. Cita-cita terbesarnya adalah pergi ke tanah suci. Ia bekerja keras siang dan malam untuk itu, namun ketika kemampuan itu ada, ia tak kunjung pergi. Ketika orang bertanya padanya mengapa ia tak kunjung pergi, ia menjawab bahwa ia tak ingin kehilangan impiannya pergi ke tanah suci. Karena ia takut setelah impian itu tercapai, setelah itu ia akan akan kehilangan semangat untuk bekerja. Jadi bagi di pedagang kristal memelihara impian jauh lebih penting daripada mewujudkannya. Jangan-jangan untuk para penderita hati yang sakit ini, menjaga hatinya tetap sakit juga menjadi lebih penting, karena ketika sakit hatinya itu sembuh, banyak hal hilang. Kesembuhan kemudian ditakuti sebagai hantu kehilangan baru. Mmm...

***

Setiap orang memang punya beragam cara untuk sembuh. Ada yang memilih tidak mau membicarakannya, atau justru tidak membicarakannya. Baru hampir 3 tahun terakhir ini akhirnya aku mau membuka diri untuk bicara. Mencari teman yang bisa memberikan pandangan berbeda bahkan memberi perhatian untuk sembuh. Dan itu kurasakan sangat-sangat membantu. Di bandingkan dengan 10 tahun sebelumnya dimana aku lebih memilih menyimpannya sendiri karena berpikir, nanti juga luka itu akan sembuh dengan sendirinya. Tapi ternyata engga. Seperti bisul, nanahnya harus di keluarin, di bongkar lukanya trus di obatin, biar ga busuk. Dan itu yang kulakukan 3 tahun saat membuka diri. Rasanya seperti membongkar luka dan memberinya obat setelah itu membiarkan jaringan sel baru menyembuhkannya. Seringkali ketika luka itu telah sembuh dan tertutup kulit baru, aku ga menyadarinya. Yang tertanam dalam benakku, aku masih sakit. Pahadal rasa sakitnya seperti apa, aku sendiri sudah lupa.

Aku jadi memikirkan apa yang temanku bilang, mungkin memang sekarang saatnya untuk berhenti membicarakannya. Karena waktu kutengok, luka itu telah sembuh. Ada sih bekasnya, tapi tak lagi terasa sakit. Ketika membicarakannya kembali pun aku telah kehilangan emosi dari rasa sakit itu. Rasa sakit yang kubicarakan itu maknanya pun telah berubah karena caraku memandangnya tak lagi sama.

Lalu bagaimana kemudian merasakan sembuh itu dengan perasaan yang benar-benar sembuh? Akibat sakit menahun itu mungkin aku sendiri udah lupa rasanya sembuh. Perlu diindentifikasi kembali bagaimana rasanya sembuh dan mungkin di definisikan kembali. Sembuh yang dulu pasti beda sama sembuh yang sekarang. Seperti juga kesadaran untuk merasakan bahagia yang tidak pernah sama karena bahagia selalu datang dengan cara dan rasa yang bebeda. Mungkin begitu juga halnya dengan sembuh.

Ya, semoga mau sembuh..

Friday, August 10, 2007

Heart Sweet Heart My New Heart


Christina's World, by Andrew Wyeth

Jika diumpakan, hatiku ini seperti sebuah rumah berkamar-kamar. Ada kamar utama, kamar tamu, kamar mandi, dapur, teras belakang, halaman depan, tempat kerja dan ruang-ruang lain yang fungsinya masih belum terdefinisikan dengan jelas. Sebagai sebuah rumah, tentunya rumah itu butuh pondasi yang kuat, bentuk yang artistik, serta pembagian ruang yang sistematis bergantung kebutuhan. Tujuannya tentu saja untuk membuat penghuninya merasa nyaman tinggal di dalamnya.

Sebagai sebuah rumah, ku bayangkan hatiku itu seperti Little House on the Prairie, kecil di tengah padang rumput yang luas. Leluasa untuk bergerak, namun hangat dan nyaman untuk berlindung saat badai menerjang. Aku tak suka rumah yang besar dan megah. Karena kemegahan sering kali tak mencerminkan kehangatan. Aku lebih memilih rumah mungil, tidak besar, dengan barang-barang yang sederhana saja tapi fungsional, ada sentuhan kerajinan tanganku pada setiap detail ruangnya karena aku senang memberikan sentuhan personal pada ruang yang kutempati. Dari rumah mungilku itu, ada satu bagian ruang tempatku menyendiri, tempat dimana aku bisa merenungi diriku, hidupku, asaku, sedihku, lukaku, seperti sudut lemari di masa kecilku, tempatku bersembunyi saat sedih dan gundah.

***

Pada kenyataannya, hatiku yang mungil, sederhana dan fungsional itu, tidak dihanya dihuni oleh diriku sendiri. Aku harus berbagi ruang dengan orang-orang yang melengkapi hidupku sesuai dengan fungsinya. Aku sempat membahas ini dengan beberapa temanku tentang pembagaian ruang hati. Bisakah hati itu dibagi, di kavling-kavling? Bagaimana menentukan ruang yang kemudian paling spesial dan biasa-biasa saja dalam hatiku? Siapa pula yang bisa jadi permanen residen atau penghuni sambil lalu?

Aku mulai berpikir tentang hati yang berkavling-kavling ini saat aku menyadari, bahwa dalam hidup ini aku tak bisa merasa sebagai satunya pemilik atas apapun di dunia ini. Aku mesti bisa merelakan ketika yang kupikir aku miliki itu hilang pergi dari diriku dan memaknai apa yang masih ada dalam diriku. Hatiku itu sesungguhnya perlu terus menerus mengalami revitalisasi fungsi, seperti sebuah bangungan bersejarah yang fungsinya perlu terus menerus di perbaharui untuk mengikuti pergerakan waktu, tanpa kehilangan karakter dan kepribadiannya.

Untuk sampai pada kesadaran itu, aku pernah sangat sibuk menjaga kamar-kamar hatiku yang telah kosong itu untuk tidak dimasuki oleh yang lain. Karena aku tak ingin jejak penghuni lamanya hilang begitu saja. Seolah-olah aku tak mau mengubah posisi apapun dalam ruang itu karena aku tak ingin jejak penghuni lamanya hilang. Sampai akhirnya aku membiarkan kamar itu kosong, berdebu, penuh sawang dan akhirnya berhantu. Karena ternyata untuk merawat ruang kosong itu seperti layaknya sebuah museum, aku juga ga punya cukup sumber daya.

Akhirnya penghuni lama lantas tak hanya saja menyimpan jejak dirinya dalam kenangannya disitu, tapi kemudian jejaknya kubiarkan menjadi hantu dalam hidupku. Lalu aku menjadi sibuk bergelut dengan ketakutan-ketakutanku menghadapi hantu-hantu kamar penghuni kavling-kavling hatiku itu. Parahnya lagi, kesibukan dengan para hantu kamar itu, membuatku lupa pada para penghuni lain yang masih tinggal atau penghuni baru yang membutuhkan ruang di hatiku yang sesungguhnya bisa ku persilahkan masuk.

Ketika sampai pada kesadaran bahwa hantu-hantu itu tak bisa selamanya mengganggu hidupku, kamar-kamar kosong itu mesti ku bereskan dan kutata ulang. Difungsikan kembali sesuai dengan konteks dan kebutuhan, berusaha membuat nyaman penghuni-penghuni lain yang selama ini tinggal dan juga membuka kemungkinan bagi penghuni baru untuk masuk.

Lantas hantu-hantu itu mungkin tidak sepenuhnya pergi. Ia menetap di ruangnya, melesap dalam pori-pori tembok kamar hatiku. Memberi aura dan menciptakan ambiance yang khas ketika penghuni baru masuk dalam kamar itu. Hawa penghuni lama yang lambat laun akan bercampur dengan hawa penghuni baru, karena tak ada hawa yang benar-benar steril. Yang menyesuaikan diri bukan cuma aku si pemilik hati, tapi juga para penghuninya tentu saja. Meski ruangannya di tata ulang, tapi biasakan jika ada foto-foto penghuni lama masih tergantung di didingnya. Foto yang kadang sengaja dipajang untuk menyimpan jejak bahwa sebelumnya ruang itu pernah ada penghuninya. Seperti menghuni bangungan tua yang menyimpan banyak cerita dan kisah, mesti siap menerima kesejarahan termasuk juga hantu-hantunya.

***

Dan sekarang rumah hatiku itu sedang mengalami revitalisasi. Ada gempa beberapa waktu lalu yang membuat bangun hatiku berantakan. Proses rekronstruksi di atas pondasi baru telah dilakukan. Rumah baruku itu sudah selesai dibangun. Namun aku merasa rumah baruku itu kering dan sepi. Banyak jejak yang kemudian terhapus. Aku butuh kisah baru, lembar baru dan chapter baru di rumah baru. Biar rongga pori-porinya terisi oleh hawa penghuni baru di antara hawa-hawa penghuni lama yang samar-samar tersisa. Jejak foto-foto lama yang tersisa yang terkais dari reruntuhan bekas gempa lalu tentunya tetap kan kupajang dengan bingkai yang baru, karena bingkai lama sudah tak sesuai lagi dengan betuk bangunan baru.

Semua kemudian terasa baru..
hatiku itu...
caraku melihatnya..
caraku merasakannya..
caraku memaknainya..
caraku dengan para penghuninya..
hati baru.. cara baru..
semoga ada kenyamanan baru di dalamnya..
selamat datang hatiku yang baru..

aceh 56

Thursday, August 02, 2007

Surat Buat Ibu

karya titarubi

Ibu,
setelah kejadian kemarin, sulit bagi saya untuk bisa menerimanya begitu saja. karena bagi saya, kejadian kemarin itu mematahkan diri saya..
Begini ibu, terserah ibu apakah ibu menganggap saya memahami hidup ibu atau tidak. tapi yang jelas saya ingin ibu tau sejelas-jelasnya.. saya sudah ngga tahan lagi dengan sikap ibu yang selalu keras pada diri ibu sendiri. sikap ibu yang selalu merasa hidup sendiri, sikap ibu yang menganggap semua beban kehidupan ini, ibulah yang paling berat menanggungnya. saya sudah bosan dengan sikap ibu yang seperti itu. menyakitkan ya mendengar saya bicara seperti ini pada ibu? maaf kan saya.. tapi saya pada akhirnya terpaksa bersikap keras pada ibu untuk membuat ibu menyadari hal itu.

Ibu tau, sikap keras ibu itu bukan hanya melukai diri ibu sendiri.. tapi juga anak-anak ibu.. terutama saya bu... sikap ibu yang keras itu membuat ibu sulit saya raih bu... ibu ada di dekat saya.. tapi mengapa begitu sulit bagi saya untuk menjangkaunya... kenapa hidup terasa begitu sulit buat ibu? apa karena ibu belum bisa berdamai dengan masa lalu yang sulit itu? setiap orang bahkan saya setiap hari berjuang berdamai dengan masa lalu... berdamai dengan hal-hal yang mengecewakan dalam hidup saya.. karena saya sadar dari 1000 hal yang membuat kecewa ada berjuta-juta hal yang membuat saya merasa bahagia..
mengapa harus terus menerus meratapi hal-hal yang membebani ibu, sementara banyak hal-hal yang menyenangkan terabaikan... cobalah melihat lebih banyak hal-hal yang membuat ibu gembira daripada terus menerus berkubang dalam hal-hal yang membuat ibu sedih..

keinginan terbesar saya pada ibu adalah ketika ibu mati, ibu merasa bahagia dengan hidup ibu, meskipun ibu belum pergi haji... meskipun anak-anak ibu belum menikah... karena toh kami meski belum menikah tetap saja bisa merasakan bahagia...
ibu temukan bahagia itu dalam diri ibu, hanya ibu yang bisa memutuskan apakah ibu bahagia atau tidak. kebahagiaan ibu tidak bergantung pada kami anak-anak ibu. kebahagiaan ibu tidak bergantung pada teman-teman ibu yang menilai hidup ibu berhasil atau tidak... kebahagiaan ibu tidak bergantung pada puja-puji anggota pengajian kepada ibu... sekali lagi maaf kalau saya terlalu sinis mengatakan ini.. kebahagiaan ibu sangat bergantung pada bagaimana cara ibu sendiri memandang kami, anak-anak ibu dan kehidupan ibu sendiri. susah senang dalam hidup ini sesungguhnya sangat bergantung bagaimana cara kita memandangnya dan menerimanya... bukankah dengan demikian kita bisa menemukan arti syukur yang sesungguhnya...

saya menyesal mengapa harus dengan cara seperti ini hal ini kita bicarakan.. tapi mungkin memang ini cara bicara yang kita kenal... karena tanpa kita sadari masing-masing dari kita pada akhirnya memang sangat keras pada diri sendiri.. tanpa sadar bahwa sikap itu melukai banyak orang...
saya tidak menuntut ibu lebih dari apa yang telah ibu beri pada saya.. tapi atas nama kasih sayang saya pada ibu, saya memohon ibu bisa lebih lunak pada diri ibu sendiri agar ibu menemukan bahagia yang bersumber dalam diri ibu sendiri...bukan pada orang lain yang menilai hidup kita... Ibu telah memberi saya kekuatan untuk menemukan diri saya sendiri.. menjadi diri sendiri, ibu telah memberi saya, dan saudara-saudara saya yang lain untuk hidup tidak didikte oleh orang lain.. tidak ngikutin umumnya orang... jadi mengapa sekarang ketika kami berhasil menjadi diri sendiri dan terlihat berbeda dari orang lain, ibu merasa gelisah...? tidak semua orang tua berani membiarkan anak-anaknya menjadi dirinya sendiri dan menjadi berbeda.. dan saya sangat sangat bersyukur karena saya punya ibu yang berani melakukan itu...

tak ada kehidupan yang sempurna.. tak ada manusia yang sempurna begitu ibu selalu mengatakan itu kepada saya.. bagi saya ibu adalah ibu yang terbaik yang saya dapatkan meski ibu jauh dari sempurna.. dan saya sangat bersyukur lahir dari ibu seperti ibu... dan saya yakin ibu telah memberikan yang terbaik kepada anak-anak ibu.. masalah tanggung jawab ibu atas anak-anak kepada Allah ada porsinya... Ibu telah berusaha yang terbaik dan Allah tahu itu bu... biarkan kami anak-anak mulai belajar bertanggung jawab terhadap hidup kami baik kepada ibu, keluarga, lingkungan sosial dan juga kepada Allah dengan demikian ibu mengajarkan kepada kami untuk menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab...

saya yakin ibu juga pasti bisa menemukan kebahagiaan sejati dalam diri ibu... bukan kebahagiaan yang ditentukan kerana ibu telah menyandang predikat haji atau anak-anak bekerja secara mapan atau kerena anak-anak semua sudah menikah... bukan itu bu... tapi ibu bahagia dengan apa yang telah ibu jalani dalam hidup ini.. kebahagiaan yang bukan berdasarkan standar duniawi... (seperti yang selalu ibu katakan tentang kebagiaan dunia akhirat)... apa artinya bahagia di akhirat, jika kita tak bisa menemukan makna kehidupan yang kita jalani selama di dunia...sesudah kesulitan pasti ada kemudahan sesudah kesedihan pasti ada kebahagiaan.. itu janji Allah pada kita umatnya.. dan saya percaya itu... dengan semua kesulitan hidup yang pernah ibu rasakan dan jalani... ada kebahagiaan besar dalam diri ibu yang mungkin belum sepenuhnya ibu sadari... temukan itu bu.. sebelum selesai kehidupan ini...


kesadaran inilah yang membuat saya terus berjuang untuk menemukan kebahagiaan itu meski harus melalui banyak rintangan... saya hanya bisa berjuang menemukannya... soal kebahagiaan seperti apa yang bisa saya temukan, sepenuhnya adalah hak Allah... karena kebahagiaan itu seringkali datang dengan cara yang tidak disangka-sangka.. penuh kejutan dengan bentuk yang berbeda-beda... kadang kita tidak mengenalinya... justru saya kira tugas kita sebagai manusia di dunia ini adalah menyadari kebahagiaan yang berbeda-beda itu.. dengan demikian kita bisa senantiasa selalu bersyukur.. karena dalam kesusahan seberat apapun pasti ada bahagia..

Allah sangat menyukai orang-orang yang bahagia bu.. karena itu, Allah memberi kebebasan kepada kita untuk mencari jalan menemukanNya..
apapun pandangan ibu tentang saya setelah membaca surat ini, saya akan menerimanya dengan hati terbuka..sebaik dan seburuk apapun itu... saya berusaha mengungkapkan perasaan saya dengan jujur.. saya tidak mau menyembunyikannya dari ibu.. saya justru lega bisa mengatakan ini pada ibu.. siapa tau saya yang lebih dulu dipanggil oleh Allah... jika saya mati lebih dulu saya ingin mati tanpa penyesalan dan dengan bahagia ...salah satu yang membuat saya bahagia adalah ketika saya bisa jujur pada diri saya sendiri...

dan jangan pernah lagi mengatakan bahwa saya bisa hidup tanpa ibu... jangan pernah bu.. karena itu menyakiti hati saya...


salam sayang,
t

****

Lalu ibuku memelukku, berkata "jangan tinggalkan Ibu... Ibu akan berusaha memahamimu... Jangan tinggalkan ibu.. "
Aku mendekapnya.. dan bilang "ngga bu, aku ngga akan pernah ninggalin ibu.."
dalam hati aku berbisik lirih padanya: "aku hanya ingin meraihmu bu.. dan mengisi hatiku dengan hatimu..."

Untuk ibu tempat sauhku berlabuh..

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails