Monday, July 30, 2007

Membincangkan Soal Jodoh Dengan Ibu

Steve Buscemi di Paris I Love You

Pagi ini kami bertengkar. Sebuah pertengakaran untuk masalah yang berulang. Mulanya dia mengajak kami_ empat orang anaknya_ berintrospeksi. Ibuku itu terganggu sekali ketika beberapa hari sebelumnya, saat dia kembali meributkan soal perjodohan anak-anaknya, aku bilang padanya: "ibu selama ini terlalu protektif sih sama anak..". Rupanya pernyataanku ini membuatnya tak bisa tidur. Ia berpikir dan seperti biasa, berasumsi tentang: mengapa aku mengatakan hal itu. Dan seperti biasa pula, ia mempercayai asumsinya itu.

Sampai tadi pagi, sesudah selesai mandi, ibuku memanggilku untuk duduk bersama ketiga saudaraku yang lain. Ia mengajak kami berintrospektif tentang persoalan perjodohan ini. Tapi intinya sebeneranya ibunya mengajukan pembelaannya bahwa dia tidak seperti yang aku katakan. Lalu mulailah dia bercerita kisah hidupnya yang dia ulang-ulang dengan nada dan irama yang sama persis. Juga tentang penilaiannya terhadap anak-anaknya, bahwa masalah perjodohan ini karena kami anak-anaknya dia anggap tidak serius meminta pada Tuhan untuk diberi jodoh, sehingga ia merasa sekuat apapun ia meminta pada Tuhan, Tuhan tak jua mengabulkan keinginannya.

Lalu aku merasa sangat muak. Aku mencoba menjelaskan padanya yang kumaksud dia terlalu protektif adalah bahwa selama ini dia tidak sepenuhnya membiarkan kami berproses secara dewasa dalam perjodohan ini. Dia memakai standarnya dan caranya untuk menilai upaya kami untuk mendapatkan pasangan. Pernah suatu hari ia berkata:"hal yang membuatku tidak bahagia adalah karena aku belum menyaksikan kalian menikah.." Tentu saja jawaban itu menimbulkan gugatan-gugatan dalam diriku. Sontak aku balik bertanya padanya: "Bagaimana jika sampai ibu mati, salah satu di antara kami belum juga ada yang menikah, apakah ibu akan merasa mati dengan tidak bahagia?" jawabannya membuatku sangat sedih bukan cuma aku tapi juga saudara-saudaraku lainnya:" Ya kalau bisa kalian sudah ada yang menikah sebelum aku mati.."

Lalu tadi pagi dia mulai menggugat itu kembali. Aku tau penyebabnya, hari minggu kemarin anak perempuan sahabat ibuku menikah dan tentunya ibuku terlibat sebagai panitia. Setelah pesta usai, dia kembali dijangkiti perasaan gelisah. Gelisah memikirkan nasib anak-anaknya yang belum juga menikah. Mulailah dia menilai soal hubungan anak-anaknya dengan Tuhan yang secara tersurat ia anggap sebagai alasan kenapa jodoh itu tak kunjung datang.

Aku yang selama ini menahan diri untuk tak membantah gugatan-gugatan ibuku, semakin merasa muak dan sudah waktunya aku membela diri. Lalu semua yang tertahan itu tak bisa ku bendung lagi: aku menggugatnya yang tak pernah mau mendengarkan kami. Aku menggugatnya yang memaksakan standar 'keimanan dan hubungannya dengan Tuhan' kepada kami semua tanpa mau mengerti bagaimana masing-masing dari kami anak-anaknya berproses menemukan Tuhan. Ketika aku mencoba menjelaskan apa yang kupikirkan tentang sebuah hubungan, dia tak sungguh-sungguh mendengarkan malah balik mengulang kisah hidupnya yang selalu dia ulang dengan nada yang sama. "Ibu terlalu sibuk bicara dengan diri ibu sendiri .."

Lalu mulailah dia mengeluarkan jurus saktinya sebagai ibu, "Lalu aku ini harus bagaimana sebagai ibu, aku bingung menghadapi kalian semua, gini salah gitu salah.. aku selalu menahan diri selama ini.. tapi masa aku ngga boleh berbagi bebanku dengan anak-anakku sendiri.. aku kan selama ini hidup dengan anak.." Dengan kesal tapi serius aku bilang: "Terserah ibu saja.. jalani apa yang ingin ibu lakukan.. aku akan berusaha menerima dan memahaminya.." Saat motor melaju, samar-samar aku mendengar ibuku: " menerima mungkin iya.. tapi kamu tak pernah bisa memahaminya... " Dalam hati aku membalasnya: "terserah apa kata ibu.. kau ibu dan kau akan selalu merasa paling benar..."

***

Yeah..
Persoalan klasik. Aku yakin bukan aku saja yang mengahadapi perbincangan berat seperti ini dengan ibu. Bagi ibuku adalah masalah besar ketika sampai saat ini belum ada satupun anaknya yang menikah. Menurutnya hal ini jadi masalah karena kami tidak melakukan apa yang menjadi 'umumnya orang'. Sementara bagiku mencari jodoh itu adalah proses. Proses mencari bahagia, karena jika aku tidak bahagia dengan pasangan hidupku, aku yang menanggung semuanya. Aku ga bisa menyalahkan orang lain. Bagiku menemukan pasangan hidup adalah menemukan kesadaran bahwa aku mempersilahkan diriku membangun hidup bersama orang lain yang tentunya bukan manusia yang sempurna.

Kakak lelakiku malah bilang pada ibuku, ketika ibuku mempertanyakan kenapa Tuhan sepertinya tak kunjung mengabulkan doanya, tanpa disadari ibuku berusaha masuk ke dalam wilayah keputusan Tuhan. Aku sendiri percaya bahwa Tuhan adalah penguasa hati. Tuhan akan menyatukan hati umatnya yang dia kehendaki. Juga aku percaya sangat bahwa Tuhan sangat sangat apresiatif terhadap proses umatnya. Karena itu yang sangat penting juga adalah proses untuk menyiapkan hatiku secara terbuka menerima hati yang lain, dan ini bukan hal yang mudah.

Sebelum pertengkaran ini, beberapa waktu lalu, aku bertemu seorang teman yang memberiku doa untuk meyakinkan hati bahwa aku memang ingin membangun hidup bersama seseorang yang menurutku spesial. Temanku itu bilang, "Sebelum kamu benar-benar berdoa, meminta pada Tuhan, kami harus tanya dirimu sendiri, apakah kamu memang benar-benar yakin pada perasaanmu?" Dan ternyata setelah aku benar-benar bertanya pada diriku sendiri, aku justru menjadi sangat gelisah. "Benarkah dia yang kuinginkan membangun hidup bersamaku?" Dan untuk menjawabannya butuh waktu dan keberanian untuk menyusun jawabannya. Termasuk juga keberanian menghadapi ibuku yang tak sabar dengan proses menemukan keyakinan itu.

***

Ibuku selalu mengemukakan kata kuncinya sebagai seorang ibu:"nanti juga kamu kalau sudah berumah tangga, sudah punya anak, akan merasakan apa yang ibu rasakan.." dan dengan kengeyelanku atas pandangan hidup kami yang berbeda itu aku berkata pada ibuku: "cobalah melihat hal ini dari sisi yang berbeda, ngga lagi dianggap beban tapi dari sisi yang lebih positif, aku ngga mau melihat ibu semakin tua dengan beban kesedihan yang seolah-olah hanya ibulah yang berhak menanggungnya..., padahal kami yang merasakannya..."

Aceh 56, 14:00

Saturday, July 21, 2007

Melawan Kecanduan, Memulai Aktivitas




Bagi keluarga-keluarga yang hidup di kota besar seperti Bandung, televisi bukan lagi menjadi barang mewah. Televisi senantiasa hadir dan menjadi bagian dari kehidupan keseharian. Aneka program tontonan yang masuk ke ruang-ruang keluarga, kemudian ikut menentukan pola interaksi antar anggota keluarga. Tak jarang pula menonton televisi menjadi saat yang justru menyatukan anggota keluarga.

Apa yang dilakukan keluarga Andar Manik, mungkin tidak banyak dilakukan oleh keluarga lain. Sejak sebulan terakhir ini, keluarganya memutuskan hidup tanpa televisi. Meski sempat mendapat protes dari anak bungsunya, Gilang yang baru berumur 10 tahun dan duduk di bangku kelas 4, bapak tiga anak _ Gita, Bintang dan Gilang_ tetap pada keputusannya untuk memutuskan saluran televisi yang ada di rumahnya. "Bukan karena saya tega sama anak, justru karena saya ngga tega melihat anak saya membeku di depan televisi," jelas suami Marintan Sirait ini. "Yang saya kawatirkan adalah efek dari kecanduannya, ketika ada di depan televisi, dia jadi tersedot dan pasif tidak melakukan apa-apa," ungkap Andar. "Juga yang tak kalah berbahaya, ketika dia percaya kalau apa yang ada di iklan itu adalah suatu kebenaran," tambah Marintan.

Sebagai orang tua, Andar dan Marintan pun harus merelakan diri untuk tidak lagi menonton tayangan yang mereka sukai di televisi. Meskipun demikian, pasangan yang juga mendirikan Jendela Ide_lembaga kreatifitas anak dan remaja ini, cukup sabar menghadapi 'kerungsingan' anak mereka ketika televisi tak lagi bisa di tonton. "Lama-lama dia mulai cari kegiatan lain, memelihara ikan di aquarium, belajar memasak, lagi pula liburan kemarin ada program liburan di Jendela Ide, jadi dia cukup sibuk dengan semua kegiatan itu," kata Andar.

Sementara itu, Sahala, Dosen Fikom Unpad, sempat hidup tanpa televisi ketika anak pertamanya lahir pada tahun 1985. " Keputusan itu saya buat dengan kesadaran, karena saya ingin menanamkan kebiasaan membaca pada anak saya. Malah anak saya yang sulung itu, waktu TK sudah lancar membaca dan itu jadi kebiasaan sempai dia besar," jelas Sahala. Untuk itu Sahala tidak pernah membatasi anggaran untuk membeli buku bagi anak-anaknya. " Sekarang saja setelah mereka besar, mereka bisa beli sendiri," ungkap bapak tiga anak ini.

Namun hidup tanpa televisi, berakhir saat anaknya mendapat ejekan dari teman-teman sekolahnya karena tidak pernah menonton televisi. "Karena itu dia merengek sama ibunya minta di belikan televisi dan ibunya bujuk saya. Jadinya saya tidak tega juga." Meski sekarang televisi hadir kembali hadir kembali dalam kehidupan keluarga Sahala, namun kegiatan menonton televisi hanya menjadi kegiatan selingan. "Anak-anak punya banyak kegiatan di kampus mereka," jelas Sahala. Anak sulungnya, menurut Sahala selain senang membaca, juga ikut kegiatan band dengan teman-teman kampusnya. Sementara anak keduanya aktif di himpunan mahasiswa Matematika ITB dan anak bungsunya bergabung dengan tim paduan suara Unpar,

***
Bukan hal yang mudah untuk lebih selektif memilih program tayangan televisi yang layak ditonton oleh anak-anak. Selama ini tidak banyak program televisi untuk anak-anak yang cukup mendidik. Jika ada kemasannya tidak mampu membuat duduk dan menontonnya. Sementara televisi berlangganan yang menawarkan pilihan-pilihan program yang lebih baik, masih dianggap terlalu mahal biaya berlangganannya.

Menghentikan kebiasaan menonton televisi pada anak-anaki menurut Sahala, butuh keberanian dari orang tua untuk melakukannya. Orang tua tidak bisa begitu saja melarang anaknya menonton televisi tanpa orang tua sendiri bersedia menghentikan kebiasaan itu bagi diri mereka sendiri.

Andar Manik sendiri melihat persoalan kecanduan masyarakat terhadap televisi lebih jauh, sebagai cerminan ketidak mampuan para pengelola pemukiman untuk menyediakan aktivitas di luar rumah bagi warganya. " Apalagi di kompleks-kompleks pemukiman di kota-kota besar, dimana orang lebih senang membiarkan anak-anaknya menonton televisi daripada bermain di luar.

Ketidak mampuan ini juga karena lingkungan sosial saat ini tidak dapat memberikan jaminan rasa aman ketika berinteraksi di luar rumah," jelas Andar. "Perasaan tidak aman dari para orang tua yang akhirnya menjerumuskan anak-anak kepada kebiasaan menonton televisi." Itu sebabnya menurut Andar yang juga aktif di banyak kegiatan sosial dan kemasyarakatan, komunikasi di antara masyarakat sendiri tidak lagi cair. "Kita sekarang lebih bisa berempati pada penderitaan orang-orang yang kita lihat di televisi daripada tetangga sebelah rumah sendiri. Karena ruang-ruang dimana kita dengan tetangga sekitar rumah bisa bertemu dan berkegiatan bersama, semakin tidak ada. Makanya masyarakat kita sekarang mudah tersinggung. Karena ruang-ruang yang bisa mencairkan kebekuan komunikasi itu semakin tidak ada. Kondisi ini yang kemudian dimanfaatkan televisi untuk masuk menggantikan kebutuhan itu."

***

Persoalan kebiasaan menonton televisi ini ternyata bukan semata-mata membatasi tontontan dan dampaknya terhadap anak-anak, namun keberanian untuk membuka sekat-sekat kebuntuan komunikasi dalam lingkungan keluarga, menjadi persoalan yang tidak kalah penting untuk diselesaikan. **

Tulisan ini di muat di Pikiran Rakyat, 20 Juli 2007

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails