Thursday, May 31, 2007

Ruang Alternatif atau Alternatif Ruangan?


'Stairs of Valentine Willy Gallery, KL, MY' pic by tarlen 2007

Refleksiku tentang impian bersama atau kepentingan bersama, membawaku pada diskusi menarik dengan banyak teman tentang ruang alternatif. Diskusi tentang ruang alternatif ini sebenarnya telah berlangsung sejak setahun lalu saat alumni workshop kuratorial membuat gulali project yang banyak mendiskusikan tentang situasi dan kondisi ruang alternatif di beberapa kota terutama Bandung, Yogja, Jakarta. Malahan pas artepolis, kami sempat berdiskusi dengan mba ririn dan mas apep (keduanya adalah profesional urban desainer) tentang masalah ini.

Saat itu, masalah yang mencuat adalah persoalan manajemen operasional yang menjamin kelangsungan hidup dan juga tentang persoalan harga ruang yang sangat mahal seperti yang dialami beberapa teman di Bandung. Namun dengan apa yang kualami beberapa waktu yang lalu, persoalan ini kemudian menjadi persoalan yang bagiku perlu di kaji kembali. Pertemuanku dengan, Iwang CYS, Sujud D., Elida, Goro, OQ, membuka kesadaran baru tentang persoalan ruang alternatif ini. Dan kesadaran itu menurutku dan juga banyak teman, sebenarnya sangat mendasar.

Apakah yang disebut sebagai ruang alternatif itu benar-benar sebuah alternatif? Dalam artian sebagai alternatif wilayah bermain baru yang lahir dari keterbukaan atas perspektif yang berbeda dan interaksi yang intens untuk kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran yang baru dan karya-karya yang berbeda? Seperti halnya sebuah akulturasi budaya yang kemudian melahirkan produk kebudayaan yang sama sekali baru namun tetap 'alternatif' dalam arti dia bukan counter hegemoni karena tak akan pernah menghegemoni, namun keberadaannya menjadi penting sebagai jejak pemikiran dan karya (Gambang Kromong misalnya). Ataukah alternatif disini menjadi sekedar 'alternatif ruangan' ketika ruangan lama sudah sedemikian sesak, kemudian pindah keruangan baru untuk meneruskan pola-pola interaksi dan pemikiran yang sudah ada? Gejala ini kalau kuamati sering terjadi saat proses counter hegemoni dilakukan, malah berubah menjadi hegemoni baru.

***

Mari kita mulai membahasnya dari sisi ruang alternatif sebagai wilayah multidisplin. Dan mari kita lihat lebih jauh lagi wilayah multidisiplin dari perspektif ruang alternatif sebagai counter hegemoni yang melahirkan hegemoni baru. Persoalan yang kemudian disoroti dari perspektif ini adalah latar belakang disiplin ilmu setiap orang yang menjadi elemen dari wilayah multidisiplin tersebut. Mengapa hal ini jadi persoalan? Selama ini, setiap disiplin ilmu terkurung begitu kuat dalam sekat dan kotaknya masing-masing. Interaksi lintas bidang kemudian menjadi hal yang tidak mudah untuk dilakukan (meskipun bukan pula hal yang mustahil). Sebagai contoh, aku dibesarkan dan di disiplinkan pikiran dan tindakanku dalam disiplin ilmu komunikasi. Ketika aku membuat sebuah program atau interaksi dengan orang lain. Secara tidak sadar (karena itu telah melekat), aku akan didisiplinkan dengan persoalan elemen mendasar dari komunikasi: pesan, komunikator, audience, feedback, medium. Karena yang paling penting dan mendasar dari disiplin komunikasi adalah bagaimana kamu menyampaikan pesan tersebut. Komunikasi dianggap tidak berhasil ketika pesan tidak berhasil aku sampaikan. Karena komunikasi kemudian mendisiplinkan aku dan membentuk perilakuku, ketika membuat apapun sebagai sebuah proses komunikasi. Aku akan menghitung siapa yang aku ajak bicara, bagaimana pesan itu harus disampaikan dan di kemas, feedback seperti apa yang aku harapakan dari orang yang aku ajak bicara, ketika aku membuat program di ruang yang alternatif itu. Karena program yang merupakan penjabaran dari visi dan misi itu adalah pesan yang harus kukomunikasikan dengan target audience. Sementara itu, komunikasi sebagai salah satu disiplin ilmu sosial memiliki karakter yang cair dan dibangun oleh koneksinya dengan disiplin ilmu sosial yang lain. Itu sebabnya ilmu komunikasi memiliki sifat yang general dan bisa menyusup kedalam disiplin ilmu apapun.

Sementara dalam ruang alternatif, disiplin komunikasiku itu akan bertemu dengan disiplin lain yang lebih rigid. Seni atau sains (mengacu pada sistem pendidikan kedua disiplin tersebut di Indonesia) misalnya, yang mendisiplikan orang-orang yang memilihnya dengan cara yang berbeda dengan cara komunikasi yang mendisiplinkanku. Pertemuan ini yang awalnya dimaksudkan untuk membuka sekat antar disiplin dan memperluas koneksi antar disiplin, seringkali malah menjadi medan pertempuran antar disiplin itu. Mengapa medan pertempuran? karena ruang alternatif seringkali dimaksudkan sebagai counter hegemoni yang bertempur untuk menjadi hegemoni baru. Alih-alih sekat-sekat terbuka dan koneksi antar bidang terjadi, malahan disiplin yang satu memperlakukan disiplin yang lain sebagai koloni-koloni yang harus ditaklukan. Karena penaklukan itu menjadi syarat untuk melahirkan hegemoni baru. Selama ini, menjadi alternatif seringkali tidak diikuti dengan mencari makna dan definisi baru dari pertemuan multidisiplin itu. Definisi yang lahir seringkali ditentukan oleh pihak yang mendominasi dengan menghapuskan identitas disiplin lain yang didominasi atau dikuasainya. Karena disiplin ilmu yang rigid ini dikondisikan oleh sistem pendidikan di Indonesia sebagai disiplin yang kaku dan menutup diri pada interaksi dengan disiplin ilmu yang lain. Ketika dua karakter disiplin ilmu ini bertemu (yang satu rigid dan yang satu sangat cair), benturan dan persoalan muncul. Pola interaksi yang muncul adalah menguasai dan dikuasai seperti koloni-koloni yang harus tunduk pada satu kontrol politik yang mendominasi. Akhirnya ruang yang semestinya melahirkan 'alternatif baru' hanya berfungsi sebagai ruangan baru dengan konten lama.

Sementara jika kita melihat wilayah multidisiplin dari perspektif ruang alternatif sebagai wilayah baru yang menjadi persemaian, lahirnya varietas baru atau bisa juga dibaca sebagai lahirnya definisi baru yang dibesarkan dan dibangun oleh multidisiplin itu. Perspektif ini menurutku cukup ideal untuk mewakili sebagai sebuah konsep alternatif. Namun konsekuensi logisnya adalah definisi baru harus lahir secara organik dan muncul atas kesadaran bahwa ada kepentingan bersama yang diperjuangankan. Kesadaran ini mengandung konsekuensi pula bahwa butuh ruang yang besar juga untuk toleransi pada waktu, perbedaan karakter dari setiap multidisiplin, juga ruang untuk kesalahan ketika hipotesa itu perlu diperbaiki karena tidak sesuai dengan apa yang kita temukan di lapangan, serta garis demarkasi yang jelas antara wilayah yang baru dan yang lama.

Ruang alternatif dalam perspektif ini seperti laboratorium uji coba untuk menemukan hal baru. Semua multidisiplin berbagi kekuasaan atas egonya berdasarkan kapasitasnya masing-masing. untuk melakukan uji coba bersama sesuai dengan disiplin ilmu yang membesarkannya dalam rangka mencapai tujuan yang pada telah disepakati bersama. Dalam perspektif ini pula, tujuan bukanlah harga mati yang tak bisa ditawar, karena bobot nilai dari tujuan itu senantiasa berubah dan sangat tergantung pada proses yang berlangsung. Seperti sebuah cerita berantai yang disusun oleh semua yang terlibat paragraf per paragraf. Semua mendapat giliran. Namun giliran pertama sulit untuk menebak akan jadi seperti apa cerita di paragraf terakhir. Barulah setelah sepakat selesai, cerita bisa dibaca secara utuh. Seperti menggabarkan kepribadian seseorang setelah kematiannya. Bisa lebih lengkap karena hidupnya telah selesai.

***

Ku pikir, perspektif memandang ruang inilah yang kemudian menentukan, ruang ini kemudian akan dijalankan dengan sistem seperti apa dan pemimpin seperti apa yang dibutuhkan kemudian. Bagaimana persoalan-persoalan pragmatis organisasi yang mengisi dan mengelola ruang tersebut diselesaikan, sangat ditentukan oleh perspektif ini.

Perspektif ruang alternatif sebagai kumpulan koloni yang dikuasai, tentunya akan menuntut sebuah sistem yang kaku, sentralistik dan rigid. Pemimpin kelompok menjadi figur yang paling menonjol dan menentukan hidup matinya ruang tersebut. Gaya kepemimpinan seperti ini cenderung melahirkan pemimpin yang one man show, high profile dan tidak merakyat. Karena jarak psikologis antar individu menjadi penting untuk mempertahankan praktek dominasi. Ruang Alternatif itu kemudian akan didefinisikan sesuai dengan figur pemimpinnya. Meski inisiatif masih bisa di akomodasi, namun inisiatif mana yang kemudian direspon dan didukung ruang sangat ditentukan oleh selera dari si pemimpin. Tugas dan tanggung jawab dalam ruang berprespektif seperti ini, seperti tuan tanah dan petani penggarap. Apapun yang ditugaskan oleh tuan tanah hendaknya dilaksanakan oleh petani penggarap. Rasa memiliki menjadi rendah, karena kesuksesan kerja cenderung dinikmati oleh pihak yang dominan daripada yang didominasi. Kelangsungan hidup pada akhirnya jadi sangat bergantung pada selama apa dominasi itu bertahan. Jika ada proses pergantian kekuasaanpun, pola yang sama akan kembali berulang dan pada akhirnya menjadi siklus yang berulang.

Pada perspektif ruang alternatif sebagai ruang eksperimentasi bersama, justru menuntut sistem pengelolaan yang cair dan peka pada perubahan. Semua individu yang terlibat memiliki pengaruh dan suara yang sama besarnya sesuai dengan minat dan keahliannya masing-masing. Pemimpin yang dibutuhkan adalah yang dapat berperan sebagai fasilitator dan jembatan yang dapat menyambung-nyambungkan berbagai kepentingan yang ada di dalamnya. Pastinya pemimpin seperti ini, haruslah sosok yang sangat membumi, mudah di jangkau, bijaksana dan memiliki kemampuan zoom in zoom out ketika menghadapi persoalan. Pemimpin seperti ini adalah negosiator ulung yang mampu membuat setiap orang yang diwakilinya terlayani kepentingannya dan sadar akan komitmen serta tanggung jawabnya. Pastinya pemimpin seperti ini, rela berada dibelakang layar dan muncul terakhir ketika pertunjukan usai. Pergantian kekuasaan menjadi hal biasa, karena setiap individu yang terlibat di dalamnya kemudian memiliki hak dan kesempatan yang sama besar untuk menjadi pemimpin. Warna Ruang kemudian menjadi colorful karena setiap orang bisa menampilkan warnyanya. Harmoni dan komposisi menjadi proses yang dipelajari bersama. Karena harmoni dan komposis kemudian menyangkut rasa keadilan yang dirasakan bersama.

***

Bagiku proses perenungan ini penting sekali untuk dicatat. Setiap moment reflektif yang melahirkan kesadaran baru seperti menambahkan halaman baru pada buku besar kehidupan yang tengah kujalani. Yang jelas ketika memimpin diriku sendiri dan menjadikan diriku sebuah alternatif yang berwarna, aku ingin jadi orang yang rela lebih banyak di belakang layar dan muncul belakangan jika diperlukan.

Aku mencatat ini karena jika aku lupa, aku akan membuka catatan ini kembali.

Ngadinegaran, YK, 31 mei 2007

Tuesday, May 22, 2007

Mengisahkan Tita Dalam Kesan


Tita Rubi, Pic by tarlen

Saya sering mendengar namanya dibicarakan banyak teman-teman di Bandung karena militansi dan semangatnya pada dunia seni yang dicintainya. Saat itu, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya apalagi mengenalnya. Namun, enam tahun yang lalu, saat pertama kali saya berkenalan dengannya di rumahnya di Yogjakarta, saya menemukan militansi dan semangat itu.

Sekilas, saya melihat tita, seperti melihat sahabat SMA saya dulu. Selain mirip secara fisik, dua-duanya sama-sama orang yang keras terhadap dirinya sendiri dan pada semua hal yang dianggap benar. Sebagai perupa yang digembleng pada masa represi Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK) FSRD ITB, proses berkarya Tita sangat terasa dipenuhi oleh samangat perlawanan dan pembebasan. Kegelisahannya adalah kegelisahan untuk melawan segala bentuk represi. Ada saat dimana tita memposisikan diri sebagai korban yang ditindas oleh sistem. Namun dikaryanya yang sekarang saya melihat, si korban tengah memperlihatkan kebangkitannya sebagai seorang survivor, orang yang mampu bertahan dalam represi sistem dan bukan sekedar bertahan, namun mampu bangkit kembali dan mewujud dalam jati dirinya yang baru.

***

Melihat tita sebagai perupa, tak bisa lepas dari semua kisah keterlibatannya pada kerja kolektif seni maupun kemanusiaan. Karena kesenian bagi tita adalah proses menjalani kehidupan itu sendiri. Tentunya belum lepas dari ingatan saya dan mungkin teman-temannya yang lain, bagaimana tita bekerja untuk kemanusiaan, pada saat gempa Yogja terjadi. Totalitas, itulah kata yang kemudian saya garis bawahi dari teman seperti tita.

Totalitasnya pada banyak hal, sering membuat saya terkagum-kagum, meskipun saya seringkali melihat tita harus menjadi lilin yang menerangi banyak orang namun membiarkan dirinya habis terbakar. Semangat perlawanan dan pembebasan, seringkali membuat tita membiarkan dirinya menjadi martir bagi orang lain. Totalitas itu pula yang membuatnya lebih sering berada di belakang layar, ketimbang muncul sebagai bintang di atas panggung atas semua kerja-kerja kesenian dan kemanusiaannya.

Bagaimanapun, sebagai perupa perempuan yang hidup dalam kultur yang sangat patriarkal, tidaklah mudah untuk membangun karir sebagai seorang perupa, sekaligus menjadi istri dan ibu. Tita harus berkerja berkali-kali lipat lebih keras untuk menjalankan semua peran itu dan berjuang untuk mempertahankan identitas dan jati dirinya. Namun ada kalanya, ia biarkan dirinya lepas begitu saja dan memberi ruang bagi orang lain untuk melihatnya secara berbeda. Saat dimana saya melihat dirinya yang suatu saat bisa lelah, tak berdaya dan secara intens lebih banyak lirih bicara pada dirinya sendiri.

Sebagai teman, saya belum pernah melihatnya menangis, namun berkali-kali saya dibuatnya menangis haru, saat sosoknya yang keras itu memperlihatkan sisi kesabaran dan ketabahannya sebagai seorang istri juga kelembutan dan kasih sayangnya sebagai seorang ibu bagi dua gadis ciliknya, Carkultera Wage Sae Gendis Genclang Hatena Wage Sae; serta kerelaannya sebagai seorang sahabat.

Tita yang saya kenal tak bisa duduk tenang jika ada pekerjaan yang belum ia selesaikan, apapun itu pekerjaannya. Mulai dari pekerjaan rumah sampai advokasi untuk kebebasan berekpresi dan mengemukakan pendapat. Kadang Akum putri sulungnya mengeluh,"ibu ini sibuk terus sih.." Namun begitulah cara tita menjaga semangatnya.

Dalam 'Kisah Tanpa Narasi', saya mengenali Tita yang sedang berubah. Tita yang bertransformasi menjadi survivor untuk menapaki jalan menuju garis horizonnya. Kadang horizon itu baginya seperti kisah tanpa narasi, tak terlalu penting apapun narasinya yang paling penting baginya adalah bersetia kisahnya pada harapannya, karena itu yang senantiasa membuatnya terus melangkah, menapaki proses kekaryaan dan kehidupannya.


she's on the horizon... i go two steps, she moves two steps away. i walk ten steps and the horizon run ten step ahead. no matter how much i walk, i'll never reach her. what good is utopia? thats what: it's good for walking

- Eduardo Galieno-

***
Tarlen Handayani, tantenya akum dan gendis..

Tulisan ini untuk postkatalog pameran tunggal Titarubi 'Kisah Tanpa Narasi',
Cemeti Art House Yogjakarta, Mei 2007

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails